… dan Memberimu Kesempatan Meraih Skor IELTS Lumayan pada Kesempatan Pertama

Judulnya panjang amat, sih? Hehehe, ceritanya postingan ini kelanjutan dari postingan terdahulu tentang nilai TOEFL. Jadi ceritanya awal tahun ini (lama banget baru sempat pegang komputer buat nulis ini) saya berkesempatan mencicipi tes IELTS. Gratis, karena sebetulnya merupakan rangkaian tes beasiswa AAS. Ini pertama kalinya saya ikut tes IETS, jadi saya mencari gambaran dulu tesnya seperti apa. Minimal biar tahu bentuk-bentuknya, karena sebelumnya pengetahuan saya tentang IELTS sangat minim.

Oke… jadi IELTS ini ada tes speaking (harinya waktu itu dipisah), listening, reading, dan writing. Waduh, speaking saya kan lumayan… lumayan ancur maksudnya. Lebih karena tidak terbiasa sih sebetulnya. Kemudian writing, nah ini dia, tulisan bahasa Inggris saya masih cenderung berupa terjemahan dari bahasa Indonesia, kaku dan seringkali tidak taat struktur. Tapi karena satu dan lain hal, saya tak menarget dapat nilai sekian. Maka saya juga belajar seadanya, cukup tahu kira-kira apa sih yang diharapkan dari tes ini, perintah apa yang biasanya muncul, pembobotan nilainya bagaimana (tapi tak sampai betulan mencoba mengerjakan latihan soal lalu mengkalkulasi perkiraan nilainya), dan waktu yang tersedia.

Tes speaking dengan native speaker saya lalui dengan terbata-bata, dan seperti sudah saya duga saya ditegur tentang volume suara :-D. Untuk tiga tes lainnya yang dilaksanakan berturutan, seperti biasa saya panik di beberapa bagian listening, lalu kesulitan pula mencari padanan kata yang variatif agar esai saya tak monoton.

Beberapa hari kemudian, hasil IELTS keluar. Nilai speaking dan writing saya pas-pasan, tapi nilai rata-rata dari keempat band tersebut masih 7. Alhamdulillah — walaupun tidak ngaruh juga ke penerimaan beasiswanya karena saya tidak lulus wawancara. Jadi sekali lagi, semoga menjadi motivasi bagi rekan-rekan yang lain juga, tidak wajib kok ikutan kursus ini-itu demi meraih skor impian. Jika ada fasilitas dan dananya, tentu bagus dimanfaatkan. Biar lebih fokus dan terarah belajarnya, kan. Namun, kalau kebetulan tidak ada (seperti cerita beberapa teman yang sedang penempatan di daerah), masih banyak jalan kok. Memang kalau untuk tes resminya tetap harus usaha lebih ya (ke kota yang ada penyelenggaranya dan seringkali menunggu kuota penuh pula, menabung untuk biaya tes dan akomodasi, dll), tapi untuk persiapan dan membekali diri, ada cara-cara lain yang bisa ditempuh. Membeli buku atau mengunduh kumpulan soal-soal latihan misalnya. Atau seperti saya sebutkan di tulisan terdahulu, gunakan setiap kesempatan untuk belajar. Saya tak mengkhususkan diri belajar bahasa Inggris, tapi membaca artikel-artikel kesehatan keluarga, tips menata rumah, aneka permainan anak, dan sejenisnya dalam bahasa Inggris ternyata bisa juga menambah perbendaharaan kata dan membiasakan mengenali struktur yang ‘aneh’.

Memulai Blog Lagi

Dulu saya ngeblog di Multiply, penyedia layanan perpaduan antara blogging dan jejaring sosial yang akhirnya ditutup tahun lalu. Saya mulai ngeblog tahun 2006, untuk melampiaskan hobi menulis, juga sebagai sarana untuk mengabadikan memori. Saya dapat banyak teman baru yang asyik, bisa menjaga silaturahim dengan teman lama, juga beroleh beberapa kesempatan menulis di media lewat Multiply ini. Sekitar empat tahun kemudian saya mulai jarang posting. Keterbatasan waktu menjadi alasannya, karena kesibukan kerja semakin bertambah, juga saya kemudian hamil, melahirkan, dan mutasi ke Jakarta yang beban kerjanya lebih ‘wow’. Kebetulan di saat yang hampir bersamaan terjadi gonjang-ganjing di Multiply sendiri yang berujung beralihnya fungsi Multiply menjadi pasar online, sampai akhirnya resmi berhenti beroperasi.

Setelah punya anak, sebetulnya banyak yang ingin saya tulis. Hanya saja, apa nanti pembacanya tidak bosan, ya? Saya juga sempat dihantui ketakutan kalau akan terjadi kasus seperti yang dialami oleh salah satu kontak Multiply saya. Foto-foto keluarga di blognya diambil oleh orang tak bertanggung jawab dan digunakan sebagai kedok. Maksudnya, foto-foto itu diunggah ke akun facebook pribadi orang tersebut untuk mengesankan punya latas belakang yang jelas, sementara akun tersebut lantas digunakan untuk penipuan. Serem, kan? Pemanfaatan data pribadi kita untuk keuntungan atau bahkan sekadar keisengan oknum-oknum jahat seperti ini adalah salah satu risiko mencantumkan hal-hal yang bersifat pribadi di dunia maya. Memang bisa dibatasi sebagai langkah antisipasi, tapi tetap saja kita tidak pernah tahu jalan pikiran orang-orang iseng itu. Saya sendiri pernah mengalami dampak dari tersebarnya data di internet, bahkan akibatnya masih terasa sampai tujuh tahun kemudian… dengan cara yang cukup menyakitkan. Namun, kalau terus-menerus takut, susah juga, ya. Sementara teman-teman lain sudah move on ke blog barunya, ada yang kemudian sudah dapat kesempatan bisnis atau menulis buku dari situ, menang kontes ini-itu, punya dokumentasi yang rapi dan menarik tentang tumbuh kembang anaknya, bisa berbagi pengalaman, pengetahuan atau tips untuk membantu yang lain, saya masih begini-begini saja.

Maka, bismillah, saya membuat akun di wordpress ini. Ternyata memulai lagi ngeblog itu rumit juga, ya. Saya sampai berbulan-bulan membiarkan ‘rumah’ ini ‘lumutan’ karena bingung mau nulis apa. Mau cerita tentang Fathia buat kenang-kenangan kelak, bikin kliping artikel-artikel menarik biar gampang kalau sewaktu-waktu cari atau link aslinya sudah mati, berbagi tentang bacaan meskipun sekarang saya lagi agak jarang bisa punya waktu untuk baca serius, mencatat resep biar saya lebih rajin masak, nulis-nulis buat ikutan lomba/kontes/giveaway, atau apa? Terus, mau fokus di satu tema alias masing-masing bahasan ada blognya sendiri, atau dicampur aja daripada nanti bingung mengelolanya? Belum lagi perkara ide tulisan yang suka muncul tiba-tiba, tapi eksekusinya melempem, gara-gara sibuk mikirin harus ada foto ilustrasi yang pas, nunggu sempat mindahin foto dari kamera dulu, belum ketemu tautan rujukan yang sahih, dan seterusnya. Nah, kebetulan sekali, beberapa waktu yang lalu sepupu saya menuliskan tips memulai blog di blog pribadinya. Yah, coba dari dulu, Mbak, kan saya nggak usah kelamaan ragu dan bimbang begini, hihihi. Jadi pengin mengulas nih, langkah-langkah mana yang sudah dan mana yang belum saya lakukan.

  1. Target Pembaca. Tentukan target pembaca utama blog kamu. Laki-laki atau perempuan? Berapa range usianya? Tinggal di mana? Apa hobi dan minatnya? —> Nah, ini saya juga bingung. Dari pengalaman sih, saya suka blog yang bisa memberi manfaat bagi pembaca. Yang kalau kita lagi bingung trus googling lalu merasa ‘aha!’ gitu begitu nemu tulisan yang membantu. Jadinya ya saya mulai dari hal-hal yang menarik minat saya dulu, dan apa yang menarik untuk saya biasanya akan menarik pula bagi…. sesama ibu muda, mungkin, ya?
  2. Nama. Nama blog ini susah-susah-gampang. Kecuali kalau kamu memang mau memakai nama kamu sendiri, coba cari nama blog yang benar-benar merepresentasikan konten blog sekaligus memberi “perasaan” tertentu. Kalau namanya pakai bahasa asing, usahakan jangan yang sulit ya.(….) Kalau sudah ketemu, langsung periksa apakah nama tersebut sudah dipakai orang lain. (…). –> awalnya saya mendaftarkan diri ke wordpress dengan nama diri, tapi kemudian kepengin nama yang lebih anonim, atau lebih mencerminkan isi…. dan berakhir dengan menjatuhkan pilihan ke nama ceritaleila. Sederhana, gampang diingat, terkesan mentok.
  3. Konten. Buat mapping konten blog kamu dengan menulis apa saja topik yang ingin kamu tulis nanti. (…) Membuat mapping seperti ini akan terasa banget manfaatnya saat nanti blog sudah berjalan dan kehabisan ide. Kita tinggal cek mapping yang sudah kita buat, dan biasanya nih baru sadar kalau ternyata kita sudah jarang membahas 2-3 topik tertentu. –> Iya juga, ya…. baiklah, akan mulai dibikin pemetaannya, mengingat saya juga sudah memutuskan blog ini bakalan ‘gado-gado’ isinya, sekalian biar rapi dan mempermudah pencarian (tapi terus terang nggak terpikir lho sebelumnya bahwa akan bisa digunakan juga untuk mencari ide).
  4. Hosting. (…) Berdasarkan pengalaman pribadi, saya lebih suka menggunakan blog hosting yang sudah ada daripada membangun sendiri (self hosted blog). Kenapa? Karena saya sudah nyaman dengan blog hosting tertentu dan saya mau memastikan kalau saya masih tetap bisa menjalankan blog saya meski web developer saya berhalangan. Blog hosting yang sudah ada, seperti WordPress, juga memudahkan saya untuk update melalui mobile. Selain itu, biasanya persiapannya pun jadi lebih singkat. :) –> alhamdulillah, pilihan saya ternyata tidak salah :D.
  5. Survey. Lakukan survey kecil-kecilan. Tanya teman-temanmu yang kamu tahu suka banget browsing blog dan punya minat yang sejalan dengan konten blog kamu. (….) Lebih bagus lagi kalau ada blog lokal yang punya benang merah dengan konten blog-mu. Selain untuk dipelajari, bisa juga buat diajak kolaborasi suatu hari nanti. –> Rasanya belum sejauh ini sih, tapi menarik juga buat dipertimbangkan ke depannya.
  6. Tampilan. Urusan tampilan ini penting sekali, karena sering jadi kunci orang akan tetap tinggal untuk terus membaca blog-mu atau memilih untuk segera keluar. Pikirkan warna-warna apa saja yang akan dominan. Seperti apa penempatan menu dan konten. Kalau bisa sih jangan terlalu sering mengganti tampilan blog supaya pembaca nggak bingung. Lebih baik urusan tampilan ini memakan waktu berminggu-minggu daripada buru-buru diluncurkan tapi dua bulan kemudian sudah ganti layout/scheme lagi. Oya, jangan lupa pikirkan tampilan di mobile, karena saat ini lebih banyak orang mengakses via mobile/tablet daripada PC. Nah, ini (lagi-lagi) kenapa saya lebih memilih blog hosting yang sudah ada daripada membangun dari awal. :) –> Idem, saya juga pengin sih yang cakep-cakep, yang canggih dan rapi juga menunya, tapi sementara ini yang simpel dulu aja deh. Soalnya saya lebih sering mengakses internet dengan ponsel, dan bete kalau ada blog yang ingin dibaca tapi tampilannya jadi berantakan, atau berat loadingnya, atau navigasinya membingungkan untuk tampilan mobile. Dan, tetep ya, pilih warna ungu :D. Harusnya lebih meluangkan waktu untuk personalisasi juga, ya. Biar tambah cakep hehehe.
  7. HOLD IT! Kalau semuanya sudah siap, saatnya mengisi blog, deh. Saran saya, lebih baik isi blog dengan beberapa post dulu baru luncurkan secara resmi, daripada hanya menulis 1 post “hello everyone” kemudian langsung cerita ke banyak orang kalau punya blog baru. 5-7 post sudah cukup untuk memberi gambaran akan seperti apa konten blog kamu selanjutnya. –> Saya juga sampai sekarang menahan diri dari mempublikasikan link blog bahkan di facebook/twitter sendiri. Paling-paling kasih link untuk syarat ikutan lomba :D. Alasannya lebih kurang sama, penginnya sih ada isinya dulu yang cukup memadai, pasang hiasan-hiasan apa kek, ngepel-ngepel dulu, rapiin barang-barang di rak sebelum membuka pintu buat tamu.
  8. Sebarkan. Nah, kalau sudah punya konten yang cukup, sudah mantap sama tampilan dan sisi teknisnya juga sudah beres semua, berarti sudah waktunya blog kamu disebarkan ke teman-teman dan khalayak luas. Caranya bisa macam-macam. Mulai dari yang simpel seperti memberi tahu lewat social media atau e-mail, sampai mengirim paket ke orang-orang tertentu yang kamu rasa cocok dengan blog-mu. Be creative! ;) —> Siap! Eh, tapi, nanti dulu kali ya, hehehe *mendadak minder*.

Dongeng Antibiotik (dan Antiseptik)

Copas dari Milis Sehat, antara lain untuk menjawab pertanyaan “Haruskah konsumsi antibiotik yang sudah telanjur diminum (kemudian sadar sebetulnya tidak perlu) tetap diteruskan?”. Memang, jika sudah diresepkan dan tepat diagnosis, antibiotik yang diresepkan harus dihabiskan. Namun, sepertinya ada semacam salah kaprah bahwa yang nantinya kebal dengan antibiotik tersebut kelak (jika minum antibiotiknya tidak dihabiskan) adalah orangnya. padahal yang dikhawatirkan kebal adalah bakterinya. Selengkapnya bisa berkunjung ke situs http://react-yop.or.id. Yang dikampanyekan oleh ReACT ini bukanlah anti-antibiotik, melainkan pemakaian antibiotik secara tepat guna, untuk ‘menyelamatkan’ antibiotik itu sendiri.

Bayangkan tubuh kita adalah suatu negara yang memiliki pertahanan sipil (bakteri baik/flora alami) dan pertahanan militer (antibodi/imun tubuh). Jika tubuh kemasukan pendatang baru/benda asing/musuh (bisa alergen, virus, cendawan, maupun bakteri), maka bakteri baik kita (pertahanan sipil) yang pertama-tama akan melawan pendatang baru tersebut. Jika pertahanan sipil tidak mampu melawan, maka pertahanan militer (sel darah putih) akan datang ke area tersebut untuk melawan musuh. Jika militer kita tidak sanggup melawan, maka perlu bantuan tentara luar untuk berperang melawan musuh tersebut. Nah, tentara luar inilah yang kita sebut antibiotik. Namun, satu hal yang harus dipahami, tentara luar alias antibiotik tersebut tidak mampu untuk melawan virus maupun alergen. Mengapa? Karena sejatinya tentara luar tersebut hanya bisa mendeteksi dan membunuh makhluk hidup, sedangkan virus maupun alergen bukan merupakan makhluk hidup, sehingga tidak terdeteksi dan tidak terbunuh oleh tentara luar tersebut (seperti rudal dengan sensor panas hanya akan menyerang target tertentu).Apa efeknya jika penyakit karena virus atau alergen diobati dengan antibiotik?
1. Tentara luar tersebut mendeteksi dan membunuh mahluk hidup tanpa pandang bulu. Jika tidak ada penyusup/musuh yang diserang, maka yang jadi korban adalah rakyat sipil kita (flora alami). Akibatnya flora alami jadi berkurang dan pertahanan sipil jadi lemah. Kalau pertahanan sipil melemah, maka akan lebih mudah diserang oleh musuh. Tubuh jadi makin gampang sakit.
2. Jika rakyat sipil kita terus-menerus diserang oleh tentara luar, maka suatu saat akan muncul rakyat sipil yang memberontak (mutasi bakteri dari bakteri baik menjadi bakteri jahat).Apa yang terjadi jika konsumsi antibiotik tidak sesuai/di bawah dosis yang dibutuhkan?
Tidak semua musuh musnah, akan ada bakteri jahat/musuh yang bersembunyi dan menyusun strategi pertahanan yang baru (mutasi).Sedikit tambahan, sebenarnya demam itu berfungsi seperti alarm untuk memanggil tentara kita (sel darah putih) untuk datang ke medan perang. Itu sebabnya demam sebenarnya sangat berguna dan tidak seharusnya dibasmi kecuali sudah benar-benar membuat anak tidak nyaman dan tidak bisa istirahat.
Bayangkan tubuh Anda adalah sebuah negara. Flora alami/bakteri baik dalam tubuh sebagai penduduk sipilnya. Imunitas tubuh sebagai tentaranya. Bakteri jahat sebagai musuhnya. Jika ada musuh menyusup, mereka tidak bisa dengan mudahnya menduduki wilayah tersebut karena sudah ada penduduk sipil yang siap siaga untuk melawan pendatang baru yang mau macam-macam. Jika musuh yang datang cukup banyak dan mulai menginvasi suatu wilayah, maka terjadi demam untuk memanggil si tentara ke wilayah tersebut. Jika tentara Anda dalam kondisi lemah dan tidak dpt memberi perlawanan maksimal, maka perlu bala bantuan/tentara dari luar untuk membantu mengalahkan musuh Anda tersebut. Nah, tentara dari luar inilah yang biasa kita sebut dengan antibiotik. Masalahnya tentara AB ini spesifik untuk membasmi bakteri dan fungi saja. Bukan untuk virus. Dalam kasus antibiotik yg dibutuhkan tidak dihabiskan, kejadiannya si tentara luar ini sudah membantu melawan musuh hingga musuhnya klenger, tapi belum musnah semua. Ada beberapa musuh yang masih bersembunyi dan berlindung. Jika hal itu terjadi 1-2 kali mungkin penduduk sipil kita masih bisa menekan musuh tersebut hingga habis seluruhnya. Namun, dalam hal penggunaan AB sembarangan (sering dilakukan) si musuh yang bersembunyi tersebut akan semakin banyak dan pada akhirnya mereka akan mampu membangun kekuatan yang bisa melawan tentara luar tersebut.Inilah yang disebut resistensi antibiotik. Dalam hal penyakit yang disebabkan oleh virus dan diberi AB kejadiannya si tentara luar tidak menemukan musuh untuk dibasmi, akhirnya mereka memakan/memusnahkan penduduk sipil kita sehingga jika ada musuh benaran yang datang, tidak ada lagi penduduk sipil yang melindungi wilayah tersebut. Makanya tubuh jadi gampang sakit. Efek lain dari penyerangan yang salah sasaran tersebut, penduduk sipil jadi merasa ditekan terus menerus hingga akhirnya terjadi pemberontakan (bakteri baik berubah menjadi bakteri jahat). Itulah akibatnya jika penyakit karena virus diobati terus dengan AB, kita menciptakan pemberontakan dalam negara kita sendiri.

Yang ini dongeng dari dokter Fathia ketika beliau mengadakan acara sharing mengenai kesehatan:

Bayangkan kita hidup bertetangga. Ada tetangga yang selama ini hubungannya baik-baik saja, dalam arti tidak saling mengganggu, tapi nggak akrab-akrab banget juga. Nah, suatu hari tetangga ini tiba-tiba mengancam kita dengan senjata. Makin hari makin jadi. Apa reaksi kita? Kemungkinan besar reaksi spontan pertama kali adalah mempertahankan diri, kalau perlu mempersenjatai diri juga karena ancamannya tidak main-main dan cenderung membahayakan.Inilah yang terjadi jika kita terlalu sering memakai sabun antiseptik. Pemakaian yang tepat guna tentu bermanfaat, tetapi untuk keperluan sehari-hari sebetulnya kita hanya memerlukan sabun biasa. Sabun antiseptik idealnya hanya dipakai di kasus ataupun lingkungan khusus. Sebab walaupun hanya dipakai di kulit, sabun antiseptik tetap bisa memicu resistensi terhadap antibiotik.

Belakangan saya membaca bahwa yang diduga memicu kekebalan bakteri bukan hanya sabun mandi ternyata. Produk lain seperti cairan pel, sabun cuci, peralatan rumah tangga (setahu saya ada produk penyimpanan makanan yang mengklaim punya manfaat antimikrobial) juga punya potensi serupa. Lebih lengkap antara lain bisa dibaca di sini.

Bulan lalu, muncul pula pernyataan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat sbb, sebagaimana dimuat di Kompas:

WASHINGTON, KOMPAS.com – Penelitian meragukan keampuhan sabun antiseptik membunuh bakteri. Bahkan kandungan zat kimia dalam sabun antiseptik tersebut dinilai berisiko mengganggu hormon dan memicu bakteri yang resisten terhadap obat. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan hasil penelitian yang sudah dilakukan selama 40 tahun atas bahan kimia anti-bakteri yang sering dipakai sebagai komposisi sabun antiseptik dan sabun pembasuh badan, Senin (16/12/2013).Penelitian juga mendapatkan peningkatan risiko yang muncul dari penggunaan bahan kimia untuk sabun itu. Food and Drug Administration (FDA) mengatakan, saat ini mereka sedang meninjau kembali keamanan penggunaan bahan kimia semacam triclosan untuk sabun. Berdasarkan penelitian terbaru, zat-zat kimia itu justru mengganggu kadar hormon pemakainya dan memicu pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap obat. Pernyataan awal FDA adalah mendukung hasil penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan zat antiseptik -kemungkinan terbaiknya- tidak efektif dan -kemungkinan terburuknya- mengancam kesehatan masyarakat. (selengkapnya di sini)

Nah, soal apakah antibiotik harus ‘dihabiskan’ ini ternyata juga bisa beda-beda persepsi. Saya baru ‘ngeh’ soal ini ketika ada yang menanyakan mengenai haruskan antibiotik dihabiskan dan yang dimaksud ternyata adalah sebotol antibiotik sirup, haruskah diminum sampai isi botol habis atau mengikuti petunjuk dokter terkait lamanya meminum? Jawabannya ada di sini.

Kapan Antibiotik Harus Dihabiskan dan Tidak Dihabiskan?
Oleh Aditya Eka Prawira

Dikatakan dr. Fransisca Handy, Sp.A., IBCLC, perwakilan dari komunitas Milis Sehat, dalam sebuah talkshow yang diadakan di Social Media Festival 2013, bahwa dalam pemberian antibiotik kepada anak, orangtua harus mengetahui terlebih dulu indikasi apa yang dialami anaknya tersebut. Jika sudah tahu indikasinya, maka orangtua akan paham apakah antibiotik harus dihabiskan atau tidak.Misalnya saja penyakit infeksi saluran kencing. Menurut dr. Fransisca, pada anak yang menderita penyakit ini minimal orangtua memberikan antibiotik selama tujuh hari. Dan biasanya, dokter akan memberikan antibiotik dalam bentuk sirup. Bila dalam empat hari sirup sudah habis, maka harus segera dibeli yang baru lagi.”Sirup itu umumnya cukup untuk empat hari. Karena pemberian antibiotik pada anak yang menderita penyakit infeksi saluran kencing selama tujuh hari, ya orangtua harus membelinya lagi, biar genap tujuh hari. Jika sudah genap tujuh hari antibiotik masih bersisa, biarkan saja,” kata wanita yang juga bertugas di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK-UPH), di fX Sudirman, Jakarta, ditulis Selasa (15/10/2013).Begitu juga bila si anak menderita Pneumonia ringan. Biasanya, antibiotik akan dijadikan tata laksana pada anak yang terserang penyakit ini. Dan umumnya, antibiotik yang diberikan cukup untuk tiga hari saja.”Sirup antibiotik biasanya untuk lima hari. Bila sudah tiga hari, hentikan, jangan sampai habis. Harus sesuai dengan durasi yang dianjurkan oleh dokter,” kata Fransisca.Pneumonia disebabkan berbagai mikroorganisme, dan penyebab terseringnya adalah bakteri (S.pneumonia, H.influenza, S.aureus, P.aeruginosa, M.tuberculosis, M.kansasii, dsb), namun dapat juga disebabkan oleh jamur (P.carinii, C.neoformans, H.capsulatum, C.immitis, A.fumigatus,dsb), protozoa (toksoplasma) serta virus (CMV, herpes simpleks)http://health.liputan6.com/read/719631/kapan-antibiotik-harus-dihabiskan-dan-tidak-dihabiskan/?related=pbr&channel=h

Kakak Mia

Fathia termasuk pelanggan setia odong-odong yang lewat di depan rumah. Odong-odong yang biasa Fathia naiki bentuknya standar, berbentuk boneka hewan di baris depan dan kursi bersandaran di baris belakang. Baru belakangan saya tahu ada yang berbentuk roda juga, tapi jarang lewat di gang kami. Biasanya sih Fathia naik odong-odong bersama teman-temannya, alias tetangga satu gang, ditemani ibu atau pengasuh masing-masing. Ada masanya Fathia sampai nangis-nangis ketika odong-odong keburu berlalu dan ia tak sempat naik (biasanya karena sedang berada di dalam rumah), tapi kadang-kadang juga Fathia melengos begitu saja menanggapi lewatnya bapak operator odong-odong di depan mata.

Serius amat, Nak :D

Serius amat, Nak :D

Di hari libur, Fathia jarang naik odong-odong karena saya dan suami suka mengajaknya jalan-jalan (entah ke taman atau sekadar ke pasar) pada jam lewatnya odong-odong. Bukan sengaja menghindari sih, hanya kebetulan jamnya kan pas tuh, belum panas-panas banget. Nah, ketika suatu hari saya cuti karena pengasuh Fathia belum kembali, saya berkesempatan menemani Fathia naik odong-odong. Selama odong-odong bergerak, musik pun mengiringi. Alhamdulillah bapak yang biasa lewat ini memutar lagu anak-anak, karena saya pernah dengar ada pula yang menyetel lagu dewasa populer dengan lirik lagu eksplisit. Sekali naik sama dengan dua lagu, cukup dengan membayar dua ribu rupiah perorang.

Sambil senyum-senyum menyaksikan tingkah laku lucu Fathia dan teman-temannya di atas odong-odong, saya menyimak lagu yang diperdengarkan. Salah satu lagunya agak asing di telinga saya, dan saya agak berjengit ketika menyimak lebih saksama.

“Kakak Mia, kakak Mia
Minta anak barang seorang
Kalau dapat, kalau dapat
Hendak saya suruh berdagang

Anak yang mana akan kaupilih?
Anak yang mana akan kaupilih?
Itu, yang gemuk yang saya pilih
Bolehlah ia berjual sirih
Sirih! Sirih! Siapa beli?
Sirih! Sirih! Siapa beli?

Kakak Mia, Kakak Mia
Minta anak barang seorang
Kalau dapat, kalau dapat
Hendak saya suruh berdagang

Anak yang mana akan kauambil?
Anak yang mana akan kauambil?

Itu, yang kurus yang saya ambil
Bolehlah ia jual kerambil
Krambil! Krambil! Siapa beli?
Krambil! Krambil! Siapa beli?”

Minta anak? Buat disuruh jualan? Ini… trafficking-kah? Setelah googling, ternyata tak hanya saya yang berpikir seperti itu yang artinya saya aja yang telat, termasuk penulis keren Sundea yang tentunya menuliskan hal ini dengan lebih baik. Ya, kalau mau berpikir positif sih, lagu yang aslinya konon punya judul ‘Bermain’ dan diciptakan oleh Ibu Sud ini barangkali hendak mengajarkan wirausaha sejak dini. Tapi kenapa harus minta anak ke orang lain segala, ya? Sampai ada blogger yang berpendapat Kakak Mia ini entah penyalur anak untuk dikaryakan atau pengurus panti asuhan. Oya, ternyata ada juga organisasi yang berkecimpung di bidang HAM yang menggunakan lagu ini untuk permainan anak dengan tujuan edukasi, dengan sedikit modifikasi lirik. Dalam materinya antara lain disebutkan “Adakalanya seorang anak harus bekerja, namun demikian anak tetap harus terlindungi hak-haknya dan pihak berwajib harus memastikan bahwa anak terhindar dari eksploitasi maupun trafficking.” (ada modul yang bisa diunduh melalui google, tapi tidak berhasil dicari tautan aslinya di situs yang bersangkutan).

Si Gurih Renyah Keritcu

kritcu-4kritcu-1kritcu-3

 

Ini salah satu hasil penugasan saat KKN di STIE Pertiba Pangkalpinang tahun 2009. Daripada hilang bersama dengan dihapusnya blog lama, dimuat kembali di sini saja. Kebetulan lagi kangen juga makan keripik nan renyah dan gurih ini.

Bp. Djunaidi Sarimin (67 tahun) merintis usaha keripik telur cumi atau keritcu/kritcu ini pada tahun 1998. Saat itu Bp. Djunaidi yang seorang pensiunan PT Timah, Tbk. menangkap adanya peluang, karena jenis makanan kecil ini memang belum ada yang menjual. Awalnya Bp. Djunaidi melakukan survei terlebih dahulu di toko-toko untuk menentukan bentuk dan kemasan seperti apa yang diminati masyarakat khususnya anak-anak. Ditemukanlah bentuk mirip stik kecil-kecil. Kemudian penjajakan bahan baku dilakukan pula dengan cara mendatangi pabrik pengolahan cumi-cumi di kawasan Pangkalbalam. Di sana cumi-cumi diolah untuk kepentingan ekspor, sedangkan telurnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Tambahan modal diperoleh dari pinjaman BUMN.

Saat itu harga satu kilo telur cumi hanya seribu rupiah, dan Bp. Djunaidi membeli 5 kilogram. Hasil jadinya dijual seharga Rp 12.000,00 dan dipasarkan dengan sistem titipan ke toko-toko oleh-oleh yang ada di kota Pangkalpinang. Rasalina dipilih sebagai merk dagang, yang merupakan akronim dari Rasa Lautan Indonesia (sekaligus mendekati nama istri Bp. Djunaidi). Pekerjaan menjemput bahan baku dan mengolah keritcu ini masih ditangani langsung oleh Bp. Djunaidi berdua istri, dengan basis tempat tinggal mereka di Jl. Adyaksa No. 180 Kacangpedang Pangkalpinang. Penambahan pekerja musiman untuk membantu hanya dilakukan apabila benar-benar diperlukan.

Hambatan yang ditemui dalam perkembangannya antara lain bahan baku telur cumi tidak selalu tersedia, karena sangat tergantung dengan kondisi laut. Tsunami tahun 2004 yang lalu membuat nelayan tidak lagi terlalu berani mengambil risiko melaut di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Ini membuat pelebaran sayap untuk dikirim ke daerah lain dalam jumlah besar yang pernah dilakukan pada tahun 2000-an terpaksa terhenti. Daya tahan produk sendiri tak sampai dua bulan untuk kualitas terbaik. Kemudian harga bahan-bahan lain seperti tepung tapioka dan minyak goreng, juga bahan bakar untuk memasak semakin menanjak. Di sisi lain, jika harga jual ikut dinaikkan berarti akan mengurangi daya saing di pasaran. Apalagi kini sudah banyak sekali produsen makanan serupa yang berlomba-lomba menempatkan produknya di toko.

Kemasan produk keritcu sudah mengalami lima kali perubahan. Pada tahun 2001, keritcu Rasalina memenangkan lomba pengemasan UKM se-Sumatra Selatan. Saat ini ada beberapa jenis kemasan dari plastik hingga kotak. Walaupun harga bahan kemasan berbeda-beda, tetapi harga jualnya sendiri tetap sama dengan kemasan apa pun. Yang membedakan adalah daerah pemasaran. Untuk dititipkan di warung-warung misalnya, kemasan plastik biasa terbukti lebih menarik karena orang yang hendak membeli bisa melihat langsung isinya. Sedangkan untuk keperluan pameran dan toko tertentu dipakai kotak dengan ‘jendela’ plastik bening di depannya.

Desain dan beberapa kemasan awal merupakan bantuan dari pemerintah, bersama alat untuk menutup kemasan (awalnya masih manual menggunakan lilin). Setelah kemasan bantuan habis, Bp. Djunaidi harus memesan sendiri kemasan dengan desain yang sudah ada. Pada bungkus, selain merk dicantumkan pula bahan-bahan pembuatan keritcu, logo halal, alamat yang bisa dihubungi, juga versi bahasa Inggris keterangan tersebut dengan tujuan agar lebih dikenal dan dipercaya konsumen.

Sekarang keritcu Rasalina sudah semakin berkembang. Harga untuk kemasan ukuran 250 gram adalah 15 ribu rupiah. Perputarannya di toko termasuk cepat dan termasuk salah satu merk favorit pembeli. Bahkan sudah merambah juga ke kota-kota lain seperti Palembang, Jambi, Batam, dan Jakarta walaupun tidak dikirim sendiri melainkan dibawa oleh pembeli dalam jumlah banyak.

Salah satu kelebihan lain adalah tempat pembuatannya yang strategis dan mudah dikunjungi oleh umum. Sehingga pelanggan yang berminat bisa langsung datang untuk membeli tanpa melalui toko dan pihak-pihak yang ingin mengadakan penelitian, studi banding atau sejenisnya juga bisa mencapainya dengan mudah. Bp. Djunaidi memang mengaku tidak ada rahasia dalam usahanya, setiap orang boleh saja datang untuk menimba ilmu. Rombongan dari Dinas Perindustrian Maluku pernah berkunjung untuk mempelajari pengolahan telur cumi.

Penghargaan dan berbagai sertifikat pengakuan berhasil diperoleh, termasuk liputan di berbagai media. Dalam wawancara dengan tabloid bisnis nasional ‘Kontan’ bulan April lalu, Bp. Djunaidi menyatakan bahwa omzetnya sekitar 12 juta rupiah perbulan. Satu cabang usaha keritcu Rasalina telah dibuka di Sungailiat (Kab. Bangka), dikelola oleh putra Bp. Djunaidi.

Menurut Bp. Djunaidi, dirinya tetap optimis bahwa usaha keritcu Rasalina akan tetap bertahan. Sebab, yang diutamakannya adalah kualitas. Selain itu keritcu sudah menjadi komoditas unggulan kota Pangkalpinang dan tidak ada duanya di daerah lain sehingga akan selalu ada pembeli khususnya untuk oleh-oleh maupun cemilan di rumah. Pelanggan pun sudah bisa membedakan mana keritcu yang benar-benar bermutu dengan yang terlalu banyak memakai bumbu penyedap. Produksi keritcu pun tergolong kontinyu, tidak musiman seperti beberapa merk lain sehingga memudahkan dalam membentuk pasar pelanggan setia. Walaupun ada keterbatasan bahan baku sehingga produksi pun tidak bisa dilakukan setiap hari (maksimal hanya tiga hari sepekan), tetapi ini justru dianggap sebuah efisiensi. Antara lain karena tidak perlu menambah pekerja yang tentunya memerlukan upah lebih banyak. Sebagai usaha tambahan, Bp. Djunaidi juga memproduksi kemplang, tetapi tidak dalam jumlah besar dan tidak tentu waktunya.

Saking semangatnya motret aktivitas sampai lupa ambil foto keritcunya sendiri. Nah, ini dia nih yang namanya keritcu (tapi merk lain hehehe).

.SAMSUNG DIGIMAX A403kritcu-5

MPASI Perdana, Apa, Ya?

Ngumpulin beberapa artikel dari berbagai sumber, buat ditengok sewaktu-waktu perlu informasi mengenai MPASI awal.

Yang ini dari milis MPASI Rumahan (mengacu pada brosur complementary feeding dari WHO).

Brosur MPASI Alih bahasa (unicef)(1)-page-001 Brosur MPASI Alih bahasa (unicef)(1)-page-002

Brosur Apakah MPASI itu-page-001Brosur Apakah MPASI itu-page-002

Yang ini kultwit dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggenai MPASI, diterjemahkan dari IYCF WHO 2010.

Apa sih poin-poin penting MPASI atau Infant and Young Child Feeding?

Poin-poin penting MPASI antara lain: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Disingkat menjadi AFATVAH.

AGE
Artinya, MPASI diberikan pada saat yang tepat, yaitu usia 6 bulan (180 hari). Kalo telat, risikonya: bayi tidak dapat cukup nutrisi untuk pertumbuhan, tumbuh kembangnya lebih lambat, malnutrisi & defisiensi gizi seperti zat besi dll.

FREQUENCY
Perhatikan frekuensi pemberian MPASI. Di awal mulai makan (umur 6 bln), 1-2x/hari. Lalu tambah jadi 2-3x plus 1-2x makanan ringan. Sejak umur 9 bulan, berikan 3x makan dan 2x selingan makanan ringan. Umur 1 tahun ke atas, kasih 3-4x makan dan 2x selingan.

AMOUNT
Jumlah makanan tentu harus diperhatiin ya. Pas baru mulai makan, mulai dengan sesuai selera bayi, lalu tingkatkan secara bertahap. Umur 6bln (awal) mulai dengan 2-3 sdm setiap kali makan. Notice your baby’s cues :). Tingkatkan secara bertahap sampai setengah mangkok ukuran 250ml utk usia 6-9 bln. MPASI Setelah umur 9-12bln, diharapkan udah mulai makan setengah-tiga perempat mangkok ukuran 250ml. Setelah umur 1thn, porsi rata-rata 1 mangkok ukuran 250ml.

TEXTURE
Tekstur makanan sangaaaat penting. Anak kan lagi belajar makan, jadi harus bertahap teksturnya sampai bisa jago makan kayak emaknya :D.

Tahapan tekstur ini jangan terlalu cepet, tapi jangan terlalu lambat juga. Waktu mulai makan umur 6 bulan, kasih bubur kental atau puree. Jangan terlalu encer atau terlalu kental. Patokannya? Kalau MPASI-nya ditaro di sendok, sendoknya dimiringin, itu puree/bubur gak langsung tumpah.

Setelah mulai makan beberapa minggu, sampai umur 9 bulan kasih bubur yang lebih kental atau bubur saring. Mulai umur 9 bulan udah bisa dikasih makanan cincang halus, yang penting tidak keras, dan mudah dijumput anak. bagian2 yg sulit dikunyah seperti daging sapi.

VARIETY
Keberagaman makanan adalah kunci gizi seimbang. Karena gak ada satu pun bahan makanan yang mengandung semua gizi. MPASI boleh dimulai dgn bubur serealia atau puree buah. Gak usah berantem cuma bahas ginian, yang penting, secepatnya kenalkan bahan makanan yang bervariasi. Inget, kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat terus, sedangkan cadangan zat besi menurun drastis di usia 6bln.

Sejak umur 6bln mulai kenalkan semua variasi makanan: pangan pokok (serealia, ubi2an), buah, sayuran, kacang-kacangan, dan sumber hewani. Jadi, variasi sama di semua umur (alias sevariatif mungkin), yang berubah cuman tekstur dan jumlah+frekuensi yg meningkat.

ACTIVE/RESPONSIVE
Pemberian makan secara aktif dan responsif terhadap bayi/anak. Gak ada lagi yaaaa cerita nyalain tv atau jalan keliling komplek biar anak tinggal mangap dan glek. Respon anak dengan senyum, jaga eye contact, kata-kata positif yang menyemangati. Suapin pelan-pelan, sabar, ceria, penuh humor. Biar asik gitu loh.

Kasih makanan yang bisa dia pegang (seukuran jari, lunak) jadi dia akan ikut makan sendiri. Lah mainan aja masuk mulut apalagi makanan :P. Jangan ada distraction ya. Biar anak tetap tertarik sama makanannya. Boleh dipangku kalo dia lebih nyaman, tapi jangan gendong jalan-jalan ya :)

Poin penting MPASI terakhir tapi juga yang utama: HYGIENE alias higienis. Pastikan makanan bebas patogen (cuci tangan, pilih makanan segar, simpan dan masak dengan baik). pastikan juga MPASI bebas toksin/racun, tidak ada bahan kimia berbahaya, tidak ada tulang atau bagian keras yang bisa bikin keselek, tidak panas mendidih.

Panduan selengkapnya dari UNICEF 2012 (terbaru saat ini) bisa diunduh lewat sini http://www.unicef.org/nutrition/index_58362.html.

List ex-Blogger MP yang kini Blogger WP

leilaniwanda:

Ke mana saja saya, ya… kok ya baru nemu :D (dulu bacanya hanya di grup fb, ternyata mas Iwan berbaik hati membuatkan daftarnya).

Originally posted on Fight For Freedom:

Di bawah ini adalah alamat resmi kawan – kawan blogger Multiply yang sudah menjadi blogger WordPress pasca ditutupnya fitur blog Multiply per 1 Desember 2012 (Resmi ditutup fitur blog pada tanggal 20 Maret 2013, dan murni berganti platform menjadi murni e-commercee, namun ternyata kemudian situs tersebut DITUTUP SELAMANYA pada tanggal 6 Mei 2013).

Update terakhir: 15 Desember 2013, 17.15 WIB
Jumlah: Lebih dari 400 WPers ex-MPer.

Semoga Anda menemukan kembali kawan – kawanmu di sini, dan kemudian saling memfollow mereka sebagai bagian dari upaya mempererat jalinan silaturahim.

View original 1,521 more words