Aktivitas Menyusui Yang Membuka Cakrawala Baru

Saya kira saya sudah siap dan paham mengenai dunia ASI dan menyusui ketika saya melahirkan anak pertama. Saya sudah bergabung dengan milis ibu menyusui lima tahun sebelum hamil, beberapa teman kantor pun telah menjadi contoh langsung bagi saya tentang bagaimana mengelola ASI perah sebagai ibu bekerja. Buku-buku referensi yang membahas ASI juga telah saya koleksi. Di usia enam tahun saya bahkan bisa memberi saran pada mama (waktu itu saya baru punya adik) soal mengatasi bayi ‘ngempeng’ tapi tidak aktif menyusu, berkat majalah langganan mama. Lagipula, menyusui adalah hal yang alamiah, bukan?

Ternyata urusan ASI dan menyusui tidaklah sesederhana itu. Bahwa bayi bisa bertahan dengan cadangan makannya dan kalaupun butuh ASI masih sangat sedikit di tiga hari pertama pascapersalinan, itu saya tahu. Pihak rumah sakit tempat saya melahirkan juga alhamdulillah cukup mendukung ASI, termasuk dengan memberikan kelas breast care yang di antaranya mencakup pula praktik posisi menyusui yang tepat. Ketika putri mungil saya menangis terus di hari-hari pertamanya di rumah akibat tak bisa melekat dengan baik, saya masih bisa menenangkan diri bahwa ‘semua akan berlalu pada waktunya’, sehingga tak berlanjut ke kepanikan akan kecukupan (ketidakcukupan, lebih tepatnya) ASI. Sewaktu tetangga datang menjenguk dan bilang hati-hati kalau pipi bayi terciprat ASI bisa merah-merah karena ASI itu keras, saya menanggapi dengan senyuman karena pernah membaca bahwa itu hanyalah mitos. Namun, sekitar seminggu setelah saya resmi berstatus sebagai ibu, seorang teman memasukkan saya ke grup pendukung ASI di facebook. Dan tercenganglah saya membaca mengenai korelasi menyusui dengan pola haid, bahwa ASI perah tidak boleh dikocok (karena akan merusak rangkaian proteinnya), bahwa metode FIFO (first in first out) bukanlah yang terbaik untuk menyimpan ASI perah, bahwa sebagian ibu karena satu dan lain hal memilih untuk e-ping (exclusively pumping atau tidak menyusui secara langsung), bahwa ada ibu adopsi yang bisa menyusui anak angkatnya melalui mekanisme induksi laktasi, serta bahwa ada yang diistilahkan dengan ‘menyapih dengan cinta’.

Deretan informasi ‘baru’ di atas masih terus bertambah hingga hari ini. Saya kemudian belajar bahwa ada yang namanya tongue tie dan lip tie, ada kondisi yang disebut vasopasma puting, bahwa beberapa media penyimpanan maupun penyajian ASI perah sebetulnya tidak disarankan untuk digunakan, bahwa kurva pertumbuhan WHO didasarkan pada pertumbuhan optimal bayi yang disusui, bahwa pendonoran ASI harus mempertimbangkan  hukum Islam dan juga faktor kesehatan (bahkan meskipun secara tampilan luar si pendonor tampak sehat dan jarang sakit), juga bahwa mendukung pemberian ASI tidak seharusnya membuat kita menutup mata akan adanya kondisi khusus yang menuntut pemberian suplementasi (misalnya susu formula). Tidak hanya mengenai ASI secara khusus, dari grup juga saya pun jadi tahu mengenai Pedoman Umum Gizi Seimbang, prinsip-prinsip pemberian MPASI WHO terbaru, hingga pemakaian Kuesioner Praksrining Perkembangan Anak. Bukan semuanya hal baru, hanya saja terkadang cakrawala pengetahuan baru terbuka saat kita ‘bersentuhan’ dengan hal-hal tersebut. Sebagian yang lain memang merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dinamis dan selalu mengalami pembaruan. Tak harus mengalami, dengan menyimak diskusi di grup pun kita bisa menambah ilmu mengenai hal yang mungkin belum terbayang sebelumnya. Dan dari situlah saya kemudian belajar mencari informasi dari sumber tepercaya.

Salah satu tantangan dalam menyusui selain faktor ibu dan anak sendiri adalah adanya banyak info yang berseliweran di sana-sini. Di dunia dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat, siapa saja bisa mencari maupun menuliskan informasi yang terjaring oleh mesin pencari. Ketimbang membuka text book (yang belum tentu dimiliki), mengecek dokumen grup (yang kadang harus menyisir satu-persatu judul dan dianggap ribet) atau pergi ke tenaga kesehatan terdekat hanya untuk bertanya, bagi sebagian orang tentu jauh lebih mudah ‘bertanya ke paman google‘. Sebagai contoh, postingan saya di blog dengan klik terbanyak adalah mengenai menyusui sambil tiduran, yang diperoleh pembaca lewat mesin pencari. Saya memang jadi mengumpulkan (kadang menerjemahkan) beberapa pengetahuan yang saya peroleh di sana-sini di blog, dengan mencantumkan sumber yang in sya Allah kredibel, dengan tujuan semoga yang membutuhkan jadi tidak terlalu sulit mencari. Informasi yang valid sebetulnya banyak tersedia, hanya saja menyaringnya terkadang bukan perkara mudah. Bahkan kadang ada yang bertentangan satu sama lain. Saya sendiri menikmati proses pencarian informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, hingga oleh beberapa teman sesama anggota saya dibilang miss link link (meskipun ada kalanya terpeleset juga dengan informasi yang sudah ada update terbarunya atau dari sumber yang ternyata punya konflik kepentingan). Saya harap apa yang saya sampaikan, termasuk di blog, bisa sedikit meredakan kebingungan ibu-ibu baru yang punya keterbatasan waktu. Semoga sih dengan menyertakan sumber dan tautan aslinya, yang membaca jadi tertarik mencari tahu lebih jauh.

Hingga akhirnya saya ikut aktif sebagai salah satu admin grup dukungan menyusui tersebut. Terkadang ada anggota yang memprotes karena saran berbasis pengalaman yang mereka berikan (membersihkan sisa ASI di lidah bayi dengan popok bekas pakai, mengolesi putih-putih ‘bekas ASI’ di wajah bayi –yang sebenarnya bisa jadi dermatitis atopik– dengan ludah bangun tidur, atau menyarankan konsumsi booster ASI tertentu) saya timpali dengan masukan berbeda. Begitu kuatnya cengkeraman mitos dan info yang kurang tepat, ya. Tidak bisa langsung disalahkan juga karena mungkin bagi mereka hal tersebut terbukti berhasil dan aman, dan maksudnya juga sama baik: menolong anggota lain yang butuh jawaban. Ya, hal penting lain yang saya pelajari selama berinteraksi di grup adalah perlunya komunikasi yang baik. Seorang teman pernah menyebutkan bahwa materi komunikasi ini juga diajarkan di kelas konselor laktasi, pertanda bahwa penyampaian yang baik memang menjadi salah satu kunci keberhasilan pendukung ibu menyusui.

Dengan dukungan keluarga dan izin Allah tentunya, saya bisa menyusui anak pertama hingga 26 bulan dan kini saya masih menyusui anak kedua yang berusia 20 bulan. Mudahkah jalan yang saya lalui dengan kondisi kesehatan kami yang cukup baik, sokongan orang-orang terdekat, kemudahan di lingkungan kerja, support dari teman-teman grup, juga suplai informasi yang melimpah? Saya pernah terpikir kalau ditanya apakah menyusui itu mudah atau sulit, sebetulnya jawabannya bisa bervariasi tergantung pengalaman masing-masing orang.

mudahsulit.jpg

Menyusui itu mudah karena itulah jalan yang ditakdirkan Allah untuk memenuhi nutrisi bayi. Allah tidak akan membebani di luar kemampuan hamba-Nya, bukan? Menyusui pun ada baiknya dianggap mudah karena produksi ASI juga dipemgaruhi oleh pemikiran ibu. Jika belum-belum sudah takut ASI sedikit, kecemasan yang muncul akan mengirimkan sinyal yang berpotensi menghambat produksi ASI.

Namun, jangan lantas memandang aktivitas menyusui sebagai sesuatu yang ‘gitu aja kok’, remeh, atau sepele. Menyusui tidaklah gampang karena seperti yang sudah saya sebutkan di atas, perlu ilmu dan informasi yang tepat, terkadang bahkan harus didampingi oleh ahlinya pada kasus-kasus khusus. Lebih-lebih lagi, menyusui itu sulit bagi yang menghadapi tantangan secara langsung. Misalnya anatomi khusus baik ibu maupun bayi yang membuat proses menyusui ‘berdarah-darah’ (terkadang secara harfiah karena melibatkan luka dan/atau tindakan bedah–putri kedua saya ada lip tie tapi tidak sampai perlu tindakan insisi, masih bisa diakali dengan pemosisian yang pas), tempat kerja yang jauh atau jam kerja yang amat padat, kolega yang memandang sinis perjuangan menenteng cooler bag berisi perlengkapan ASIP ke mana-mana, keluarga yang menganggap pemberian susu formula adalah sebuah keharusan bahkan ketika ASI ibunya mencukupi secara kuantitas (“biar nanti terbiasa kalau sudah disapih”), munculnya stres karena masalah rumah tangga yang memicu produksi ASI terhambat, dan sebagainya.

Salah satu masa sulit saya adalah ketika harus merelakan 4,5 liter ASIP mencair semua saat kabel freezer secara tak sengaja dicabut oleh ART tetangga yang kami mintai tolong mengecek kondisi rumah selama kami mudik. Beberapa teman yang tahu cerita saya menawari donor ASIP, tapi saya menyatakan hendak berjuang dulu. Syukurlah, saya bisa menyempatkan memompa ASI di tengah kesibukan acara keluarga di kampung halaman suami, dan pelan-pelan freezer mulai terisi lagi. Hasil perah saya sendiri dari dulu tergolong pas-pasan sebenarnya (kalau sedang memerah bersama beberapa teman di kantor kadang-kadang minder juga), tapi alhamdulillah Allah cukupkan yang tak melimpah itu bagi tumbuh kembang anak-anak, bahkan sempat berbagi dengan sahabat yang memerlukan.

Karena pernak-pernik menyusui yang walaupun merupakan aktivitas alamiah tapi kurang tepat juga kalau dibilang sederhana itulah, saya mendukung adanya momen khusus seperti Pekan ASI Dunia yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 1 hingga 7 Agustus. Sebab, kepedulian masyarakat perlu terus ditingkatkan. Memang ada yang mengatakan bahwa pada akhirnya daya juang seorang ibulah yang menentukan, contohnya pada kisah-kisah pemberian MPASI dini (padahal bayi masih dalam usia ASI eksklusif yaitu di bawah 6 bulan) karena tekanan keluarga, tetapi jika makin banyak pihak yang paham, tentu akan lebih baik, kan? Jadi energi ibu tak habis hanya untuk beradu pendapat dengan orang-orang yang padahal disayanginya juga. Momen Pekan ASI Dunia biasanya diisi dengan kegiatan edukasi yang semoga menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, baik awam yang seringkali terpapar mitos turun-temurun maupun tenaga kesehatan yang banyak menjadi tumpuan harapan tetapi pada praktiknya masih ada yang belum update. Media massa termasuk portal berita lalu ramai mengulas acara-acara tersebut bahkan membuat bahasan khusus hingga pembaca yang mungkin sebelumnya tidak tertarik akan topik ASI jadi ikut belajar. Pada akhirnya, upaya sekecil apa pun akan begitu berharga. Mari dukung hak bayi untuk memperoleh ASI dan hak ibu untuk memberikan ASI-nya dan mendapatkan informasi tepat seputar menyusui, dengan apa yang kita bisa🙂.

Give-Away-ASI-dan-Segala-Cerita-Tentangnya-Dunia-Biza

Demi Oleh-oleh ASIP untuk Anak Tercinta

Tema besar World Breastfeeding Week alias Pekan ASI Dunia tahun lalu adalah “Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work!“. Kenapa sampai ditekankan soal ibu bekerja? Karena menyusui dengan status sebagai ibu bekerja, lebih khususnya bekerja di luar rumah, punya tantangan khasnya sendiri. Dari soal mengatur waktu memerah (harus rutin, kan, kalau tidak produksi ASI terancam dihambat karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama),  mencari tempat memerah yang nyaman (tidak semua kantor menyediakan tempat khusus pumping, belum lagi kalau ada tugas lapangan), pandangan heran teman sekerja (ada teman di dunia maya yang katanya dijuluki tukang es karena bawaan cooler bag dkk-nya), bawaan sehari-hari yang nambah (minimal banget botol ASIP dan es pendingin, kalau memerah dengan tangan), melatih anak (sebetulnya lebih ke melatih pengasuhnya, biasanya :D) minum ASIP dengan media yang tepat, sampai ini nih…gimana kalau mendadak jadi harus meninggalkan bayi beberapa hari untuk urusan pekerjaan?

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas (kalau kerepotan mengatur jadwal pumping di ruangan yang disediakan kantor sih iya, hehehe…takut aja diprotes kok loketnya suka kosong, padahal sudah ada aturan pelindungnya ya). Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget. Walaupun sebetulnya kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan.

Saya pun melihat sendiri betapa teman yang bertugas di Bangka (dulu kami sekantor) ketika harus mengikuti diklat ke Bogor dan Jakarta sampai repot-repot mencari tahu apakah mungkin ada anggota grup dukungan menyusui yang kami ikuti yang bisa dititipi ASI perah, jaga-jaga kalau di tempatnya diklat tidak tersedia freezer — salah satunya diakhiri dengan ia menempuh perjalanan bolak-balik hotel-rumah saya untuk menitipkan ASIP karena  freezer hotel tidak berhasil membekukan ASIP-nya. Menjelang dan setelah Fathia lulus ASI 2 tahun, barulah saya mulai diperintahkan ikut bimtek, workshop, course dan sejenisnya yang semuanya tetap berlokasi di Jakarta. Saat itu saya sudah mulai jarang pumping.

Situasi menjadi berbeda pada masa menyusui anak kedua. Fahira baru saja lulus ASI eksklusif 6 bulan ketika ada kabar saya harus berangkat ke Yogyakarta untuk kegiatan training. Dua bulan sebelumnya, saya sudah ‘berhasil’ mengalihkan tugas lain ke kota yang sama karena merasa Fahira masih terlalu kecil untuk ditinggal, jadi teman sebelah saya yang berangkat. Kali itu, karena berbagai pertimbangan, saya tetap berangkat. Fahira dititipkan di rumah ibu saya, di kota yang memerlukan perjalanan sekitar dua jam naik kereta dari Yogyakarta. Selama ini ia terbiasa minum ASI perah dengan cangkir atau sendok, sehingga kekhawatiran nursing strike gara-gara ditinggal ibunya agak lama (biasanya berisiko terjadi jika ASIP diberikan dengan media dot) bisa diminimalisir.

Jika sebelum-sebelumnya saya ‘hanya’ membawa ASIP pascacuti pulang kampung (bersalin atau mudik) dengan sarana kereta api, kali itu tentu kami harus mempersiapkan diri untuk membawa stok ASIP ke dalam pesawat terbang. Walaupun sudah sering membaca tentang bolehnya membawa ASIP di kabin pesawat, saya tetap browsing lagi untuk memastikan, khususnya untuk maskapai yang akan saya gunakan. Saya menemukan blog ini yang cukup menenangkan, tapi hasil pencarian saya juga mengarahkan ke tanya jawab di twitter yang agak membingungkan. Untuk amannya saya tanya lagi melalui twitter resmi maskapai tersebut…dan hasilnya agak muter-muter menurut saya, hehehe. Mungkin karena sempat dijawab oleh dua petugas berbeda ya, jadi maksud hati ngetwit untuk menegaskan kesimpulan eh malah balik lagi ke jawaban awal yang menggantung.

Screenshot_2015-08-05-11-03-33Screenshot_2015-08-05-11-03-46Screenshot_2015-08-05-11-12-20

Oh ya, peraturannya sendiri seperti saya kutip dari Ayahbunda adalah sebagai berikut: Peraturan Dirjen Perhubungan Udara nomor SKEP/43/III/2007 tentang Penanganan Cairan, Aerosol dan Gel (Liquid, Aerosol, Gel) yang dibawa penumpang ke dalam kabin pesawat udara pada penerbangan internasional, tersebut dalam pasal 3 ayat 2 bahwa obat-obatan medis, makanan/minuman/susu bayi dan makanan/minuman penumpang untuk program diet khusus tidak usah diperlakukan seperti membawa cairan, aerosol dan gel (harus dimasukkan ke satu kantong plastik transparan ukuran 30 cm x 40 cm dengan kapasitas cairan maksimum 1.000 ml atau 1 satu liter dan disegel).

Singkat kata, saya cukup pede membawa sekian botol ASI perah beku dalam satu cooler box dan IMG_20150806_080743dua cooler bag ke kabin. Bisa dibilang pengamanan saya tidak terlalu maksimal, tidak ada tulisan khusus yang menyatakan bahwa ini isinya cairan, fragile, atau sejenisnya. Alhamdulillah tidak ada pertanyaan apa-apa selama di bandara keberangkatan maupun tujuan. Kenapa banyak banget yang dibawa? Yah, jaga-jaga aja sih, daripada kurang, kan? Meskipun sudah mulai makan, namanya belum umur setahun kan ASI masih jadi sumber pemenuhan gizi utama bayi. Alhamdulillah ASIP selamat sampai ke freezer rumah orangtua, dan saya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Acara hari pertama yang diadakan di kantor perwakilan Yogyakarta cukup padat sehingga peserta baru check-in di hotel menjelang tengah malam. Salah satu hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa keberadaan dan kondisi lemari es. Wah, dikunci. Bukan pertama kalinya sih saya mendapati kulkas dikunci di kamar hotel, tapi berhubung sekarang keberadaannya amat diperlukan, saya langsung menelepon ke petugas hotel. Saya memang tidak sampai menelepon hotel sejak sebelum berangkat seperti yang saya baca dilakukan oleh beberapa ibu menyusui yang bersiap tugas dinas, karena hotelnya cukup punya nama sehingga saya pikir pastilah fasilitasnya lengkap. Jawaban petugas hotelnya, saya bisa membayar deposit ke resepsionis agar kunci kulkas dibuka. Deposit tersebut nanti bisa diambil kembali saat check out. Jumlah depositnya lumayan, bisa buat beli tiket kereta eksekutif Jogja-Jakarta pada musim ramai😀, tapi alhamdulillah lah pokoknya masih ada uang segitu. Apalagi ternyata di dalam kulkas mini itu sudah ada freezer mungilnya pula, jadi saya bisa membekukan ice gel untuk dibawa sepanjang kegiatan pada siang harinya.

IMG_20150807_094303Di tempat training sebetulnya tersedia ruang laktasi. Jadi selama acara dilaksanakan di hari kerja, saya bisa nebeng memerah di situ. Ada kulkas kecil, tapi saya tidak berani memakainya😀. Sayangnya di luar jam kerja dan hari libur ruangan itu dikunci, jadi ya saya mencari tempat lain yang cukup nyaman. Tiga hari berlalu dan tibalah saat kami kembali ke Jakarta. Alhamdulillah perjalanan lancar, lagi-lagi tidak ada yang menanyakan soal bawaan kami, dan ASIP beku yang tidak terpakai maupun ASIP hasil perahan saya selama bertugas masih dalam kondisi baik sesampainya kami di rumah. Ada yang mencair sedikit, tapi sesuai referensi yang saya baca, selama masih ada bagian bekunya maka masih boleh dibekukan kembali.

TIMG_20160323_064158ahun 2016 saya kembali tugas ke luar kota, kali ini ke Bandung. Tidak se-rempong pengalaman sebelumnya, tapi sempat deg-degan juga ketika ternyata kulkas di kamar hotel tidak dingin. Begitu menerima laporan saya, pihak hotel merespon cepat dengan mengganti kulkas tersebut dengan yang berfungsi baik. Pakai minta maaf pula karena kulkas pengganti agak besar dan tidak muat masuk ke lemari kayu sehingga harus ditaruh di lantai, padahal saya malah bersyukur karena kulkas yang ini ada freezer mungilnya😀. Syukurlah, tugas dinas kedua ini juga berjalan lancar hingga saya berhasil membawa oleh-oleh satu tas berisi ASI perah untuk Fahira.

 

(Repost dengan penyesuaian dan perbaikan untuk mengikuti Giveaway ASI dan Segala Cerita Tentangnya — klik gambar di bawah untuk info lomba)

Give-Away-ASI-dan-Segala-Cerita-Tentangnya-Dunia-Biza

Ketika Harus Berpisah dengan Calon Buah Hati

Status seorang teman membuat saya tersentak beberapa pekan yang lalu. Beliau mengalami keguguran di kehamilannya yang keempat. Dulu, ketika tinggal di satu kota, kami sedang dalam kondisi sama-sama hamil setelah sebelumnya keguguran. Alhamdulillah kehamilan kami waktu itu berjalan lancar hingga saya melahirkan anak pertama dan beliau melahirkan anak kedua. Kebetulan keguguran yang saya alami juga terjadi di bulan Agustus, tepatnya awal Agustus 2010, di usia kandungan 9 minggu. Itu kehamilan saya yang pertama setelah empat tahun menikah.

Dari dulu sampai sekarang, tiap mendengar kabar keguguran pastilah jadi banyak dugaan penyebab yang dilontarkan orang-orang di sekitar. Dalam kasus teman di atas, beberapa kawan kami menerka bahwa kesibukan beliau yang memberi pengaruh, atau dengan kata lain kecapekan karena aktivitas. Saya sendiri sempat mengira kehamilan saya tidak berlanjut karena kelelahan, mengingat sebelum sadar kalau hamil saya tugas dinas ke luar pulau, pakai acara jalan kaki jauh pula. Tapi, dokter kandungan saya menyatakan bukan itu penyebabnya melainkan diduga semacam mekanisme alami karena hasil pembuahan yang memang kurang baik sejak awal. Lupa sih waktu itu tergolong kematian mudigah (death conceptus/kematian embrio, ketika sudah pernah terdeteksi detak jantung janin, umumnya mulai usia kandungan 7 minggu) atau bukan, dokternya tidak menyebutkan diagnosis tersebut.

miscarriage

(gambar dari 123rf)

Jadi, secara ilmiah, apa sih yang sebetulnya menyebabkan terjadinya keguguran? Berikut saya terjemahkan dari March of Dimes, salah satu situs mengenai kehamilan dan kandungan tepercaya:

Keguguran adalah suatu kondisi di mana bayi meninggal di dalam rahim sebelum usia kandungan 20 pekan.

Penyebab keguguran belum semuanya diketahui. Beberapa kemungkinan meliputi:

  1. Masalah kromosom, yang menjadi penyebab lebih dari setengah keguguran pada trimester pertama. Masalah kromosom ini terjadi jika sel telur atau sperma memiliki terlalu banyak kromosom sehingga ketika dipasangkan jumlahnya ‘salah’ dan inilah yang dapat memicu keguguran.
  2. Kehamilan kosong/blighted ovum, jadi telur yang telah dibuahi melekat di rahim tetapi tidak berkembang menjadi embrio. Penyebabnya bisa karena masalah kromosom juga. Umumnya akan ada gejala pendarahan dengan warna coklat tua.
  3. Merokok, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan.
  4. Kondisi kesehatan ibu. Terdapat beberapa masalah kesehatan yang meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, misalnya masalah hormon, infeksi, diabetes, penyakit tiroid, lupus dan penyakit autoimun lainnya. Terkadang penanganan yang baik sejak sebelum hamil dapat membantu menolong agar kehamilan bisa berjalan dengan sehat dan lancar.
  5. Ada beberapa studi yang menyatakan bahwa terlalu banyak kafein (biasa terdapat dalam kopi, teh, coklat, minuman bersoda, obat-obatan tertentu) dapat mengakibatkan keguguran, tapi penelitian-penelitian yang lain tidak sependapat. Amannya, batasi konsumsi kafein maksimal 200mg/hari saat sedang hamil.
Untuk kasus keguguran berulang, beberapa penyebab yang sudah diketahui adalah:
  1. Masalah pada rahim maupun leher rahim (serviks), misalnya bentuk rahim yang abnormal (sebagian bisa diatasi melalui operasi), fibroid maupun luka operasi pada rahim, inkompetensi leher rahim (mulut rahim lemah dan terbuka terlalu awal, biasanya pada trimester kedua dan dapat dicegah dengan semacam jahitan keliling/cerclage).
  2. Masalah kromosom, sama dengan di atas, tetapi kalau sampai berulang maka baiknya ayah maupun ibu menjalani tes karyotype.
  3. Sindrom antifosfolipid, suatu kondisi sistem kekebalan tubuh yang meningkatkan risiko penggumpalan darah di plasenta. Treatmnet-nya biasanya dengan aspirin dosis rendah dan obat-obatan pengencer darah.
  4. Masalah hormon, misalnya hormon progesteron yang rendah atau bisa juga PCOS (polycystic ovary syndrome) yaitu kista (kantong berisi udara, cairan, atau benda lain yang semi-padat) pada indung telur/ovarium.
  5. Thrombophilias, suatu kondisi penggumpalan darah yang sifatnya menurun.
  6. Infeksi khususnya yang menyerang organ reproduksi seperti ovarium, rahim, maupun leher rahim.
  7. Bahan kimia berbahaya, misalnya jika salah satu dari orangtua sehari-hari karena pekerjaan bersinggungan dengan zat kimia, termasuk pengencer cat.

Sedangkan situs Medscape menyebutkan etiologi keguguran di antaranya sebagai berikut:

  1. Abnormalitas genetik dalam embrio (misalnya terkait kromosom)
  2. Usia ibu maupun ayah yang lanjut.
  3. Abnormalitas struktural pada saluran reproduksi termasuk kelainan bawaan pada rahim, fibroid, inkompetensi serviks.
  4. Defisiensi korpus luteum (massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya–wiki).
  5. Infeksi aktif misalnya virus rubella, cytomegalovirus, listeria, toksoplasma, malaria, brucellosis (infeksi yang disebabkan bakteri yang berasal dari hewan –biasanya hewan ternak– ke manusia), HIV, demam dengue, influenza, dan infeksi bakteri pada vagina.
  6. PCOS.
  7. Diabetes mellitus yang tidak dikendalikan dengan baik.
  8. Penyakit ginjal.
  9. Systemic lupus erythematosus (SLE)
  10. Penyakit tiroid yang tidak ditangani.
  11. Hipertensi/tekanan darah tinggi yang parah
  12. Sindrom antifosfolipid.
  13. Konsumsi tembakau, alkohol, kafein dosis tinggi.
  14. Stres.
  15. Obat-obatan tertentu.
  16. Obesitas/kegemukan (indeks massa tubuh/BMI di atas 30).

Berapa lama harus menunggu sebelum boleh usaha lagi untuk kehamilan berikutnya pasca keguguran? Dokter kandungan saya dulu menyarankan tunggu 3 kali siklus menstruasi normal, jadi selama masa itu diusahakan tidak ada pertemuan sel telur dengan sperma (menggunakan alat kontrasepsi). Kompilasi beberapa penelitian yang dikutip oleh WebMD malah mengindikasikan bahwa kehamilan dalam 6 bulan pertama setelah keguguran cenderung lebih baik kondisinya (risiko komplikasi lebih kecil, tentunya ini kondisi pada umumnya ya), meskipun WHO dalam guideline-nya mencantumkan 6 bulan merupakan jarak minimal. March of Dimes menyatakan sekali siklus normal biasanya sudah menandakan tubuh siap untuk hamil lagi sedangkan bagian lain dari WebMD menyebutkan 1-3 siklus haid, tetapi kedua situs tersebut juga mengingatkan bahwa keguguran juga punya efek emosional yang biasanya perlu waktu untuk pemulihan sehingga sisi psikologis ini juga harus dipertimbangkan. Termasuk menggarisbawahi agar ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut. Ya, keguguran memang bukan cuma perkara tubuh yang mengalami perubahan dan butuh penanganan, melainkan juga bisa jadi topik sensitif. Suami istri baiknya saling mendukung (bisa juga mencari pertolongan dari supporting group atau ahlinya), termasuk dalam menyaring informasi dan masukan dari pihak luar yang bermaksud baik tetapi terkadang penyampaiannya kurang pas.

Oh ya, sekalian, saya sertakan tulisan mengenai hukum darah yang keluar pada saat/setelah keguguran. Apakah dihukumi darah nifas atau darah penyakit? Sholatnya bagaimana? Saya sendiri dulu mengalami pendarahan sehari sebelum hingga sehari setelah kuret (bahasa sononya D & C atau dilation and curettage) dilaksanakan, kemudian sempat berdarah lagi ketika kembali ngantor lima hari kemudian. Saya kutip kesimpulan dari situs dr. Raehanul Bahraen, lebih afdol sih baca sendiri lengkapnya di sana ya supaya paham keseluruhan dalilnya.

-yang menjadi patokan adalah sudah terbentuk rupa jainin atau tidak (misalnya yang keguguran keluar ada bentuk tangan dan kaki, jika sudah terbentuk maka dianggap nifas, jika tidak maka dianggap darah biasa, wanita tersebut suci (tetap shalat, puasa dan hala bagi suaminya berhubungan dengannya)

-jika terjadi keguguran masih dibawah 80 hari, maka bukan darah nifas, wanita tersebut masih suci

-jika telah diatas 80 hari perlu dipastikan apakah sudah terbentuk rupa fisik manusia tidak, misalnya bertanya kepada dokter terpercaya.

-jika diatas 90 hari (3 bulan) maka dihukumi dengan darah nifas.

 

Menjawab FAQ Seputar ASI

Sebagai salah satu emak rempong yang sok bantu-bantu di grup TATC, terus terang kadang kewalahan juga dengan postingan yang masuk. Banyak pertanyaan serupa yang berulang, yang jujur awalnya bikin gemes tapi lama-lama saya sadar juga bahwa mengikuti perkembangan ilmu di berbagai bidang sekaligus sebagai seorang ibu itu memang tidak terlalu mudah. Jadi ya tetap diusahakan jawab dengan baik.

Masalahnya, saya mengakses facebook hampir selalu melalui hape. Lumayan keriting juga jempol ngetik ulang begitu rupa, hehehe… Kalau soal repot ngetik ini masih mending sih, toh biarpun pakai sepuluh jari sama aja makan waktunya. Nah soal keterbatasan waktu ini juga yang jadi kendala. Postingan pertanyaan yang masuk kan banyak dan semuanya pasti menunggu jawaban. Jadi, agar menghemat waktu dan tenaga (tugas harian saya bukan hanya cek grup, kan), akhirnya saya meniru trik beberapa admin grup lain: bikin template jawaban di note ponsel. Cukup membantu alhamdulillah, apalagi saya sering menyertakan link sumber informasi. Buka ulang linknya biar bisa dikopi bahkan walaupun sudah dibookmark di hp lumayan makan waktu.

Maksud saya membiasakan nambahin tautan ini sih biar semua sama-sama belajar, supaya nggak sepenuhnya ‘kasih ikan’ melainkan juga kasih ‘kail’. Yang baca semoga jadi tertarik mempelajari lebih lanjut (mengenai topik berkenaan bahkan mungkin jadi klik-klik bahasan lain yang juga bermanfaat) dan yang dipelajari juga lebih ‘sahih’, bukan sekadar testimoni atau pemahaman yang didapatkan adalah “kata grup TATC begini nih…”. Saya pun ikutan belajar kalau ada yang mengoreksi atau menambahkan. Lagian saya kan memang belum ‘sah’ jadi konselor laktasi resmi (kapan ya bisa ikutan PKM, ambil cutinya itu yang rada sayang huhuhu…). Memang jadinya menjawab kopas-kopas begitu kayak agak kurang personal ya, tapi sementara ini cara tersebut menolong saya. Di dokumen grup juga bukannya tak ada sih materi FAQ alias pertanyaan yang sering masuk, tapi lagi-lagi alasan waktu agaknya bikin dokumen semacam itu kurang dilirik.

Menjawab pertanyaan seputar ASI yang dirasa sedikit, seret, atau tidak cukup:

Agar ASI bisa memenuhi kebutuhan bayi (tidak harus ‘banyak’ lho, tapi karena menurut cerita menyusuinya sempat tidak intensif maka memang perlu ditingkatkan) kuncinya satu: susui terus.
Paling efektif ASI dikeluarkan dengan isapan mulut bayi, tapi saat ini perlu juga meningkatkan produksi karena kadang bayi menolak karena alirannya sudah lebih lambat daripada dot yang biasa dipakai.

Jadi PR Bunda, pertama, yuk stop dotnya atau empeng kalau pakai. Dot inilah yang bikin daya isap bayi berkurang dan bikin ASI Bunda jadi seret, juga bikin bayi cenderung menolak menyusu.
image

Kedua, kenalkan lagi bayi ke payudara ibunya. Perbanyak kontak kulit, sama2 buka baju gitu, berdua aja di kamar, bujuk pelan2, bisa juga pakai posisi seperti IMD (bayi ditelungkupkan di perut-dada ibu) tapi bantal Bunda yang agak tinggi. Pastikan pelekatan mulutnya tepat, yaitu seluruh areola (bagian payudara yang berwarna lebih gelap di sekeliling puting) diusahakan masuk ke mulut bayi dan bibir bayi memble keluar bukan menguncup.

Ketiga, rajin perah ASI dengan teknik yang benar (bukan hanya dipijit ya) dan/atau pompa yang cocok. Rutinkan, lebih bagus lagi kalau bisa sejam sekali, berapa pun hasilnya jangan sambil dipelototin botolnya, karena kan perlu proses, memang tidak bisa instan. Gunanya kan biar terkirim sinyal bahwa bayi masih butuh ASI lebih banyak, jadi jangan ditarget ya. Teruskan saja (jangan sampai melewatkan pengenalan lagi bayi ke payudara tapinya), mungkin bisa butuh waktu semingguan atau lebih, bisa juga lebih cepat. Capek pasti, tapi jangan dibawa stres ya, karena pikiran juga berpengaruh. Kalau perlu kerjaan rumah minta tolong anggota keluarga yang lain dulu, kalau memungkinkan sih (saya pernah baca bahwa ada RS yang bahkan punya program rawat inap agar ibu bisa betul-betul fokus relaktasi tanpa diselingi urusan lain di rumah).

Kalau memang ada kesulitan, bisa hubungi konselor laktasi terdekat. Oh ya, satu lagi, makanan tidak begitu pengaruh kok sebenarnya. Tidak perlu makan banyak biar ASI-nya banyak. Di grup banyak ibu2 yang cuma berdua bayi bahkan bertiga sama anak pertama yang masih kecil juga sehingga boro2 sempat makan ‘yang bener’, tapi alhamdulillah ASI tetap lancar. Tapi tentunya akan lebih baik mempertahankan pola makan sehat (bukan berarti porsi banyak ya), biar ibu juga sehat… Soalnya kalau ibu udah ngedrop kesehatannya, kan yang repot banyak ya, kadang bayi jadi ‘gak kepegang’, merasa lemes jadi gak sanggup menyusui dan ASI seret beneran (karena melewatkan waktu menyusui) dst…. Menu sehat ini juga sekaligus buat kasih contoh ke anak sedari dini, kan? Ada lho studi yang menyimpulkan bahwa bayi yang ibunya semasa hamil dan menyusui rajin makan sayuran tertentu jadi lebih mudah menyukai sayuran tersebut saat sudah tiba waktunya MPASI.

Makanan-makanan khusus yang dipercaya menambah ASI bukan tidak boleh dikonsumsi, tetapi ini kan cocok-cocokan. Kalau ternyata nggak cocok, seringkali lalu dianggap sudah mentok, ‘memanglah ASI-nya dikit wong udah usaha maksimal/segala cara dilakukan kok’. Padahal masih ada ikhtiar lain (yang sebetulnya lebih utama) seperti fokus menyusui, perbanyak kontak kulit sama bayi, hitung frekuensi pipis, stop dot dan/atau empeng, kelola stres dengan baik, alihkan energi positif untuk lebih tenang menghadapi bayi yang rewel, dst. Semoga dimudahkan, ya🙂.

 

Tentang ketidakpedean menyusui saat payudara kempes, menunda menyusui atau memerah ASI dengan maksud nunggu ‘isi ulang’ dulu:

1. Tulisan dr. Annisa N.R. Karnadi, konselor laktasi
Apakah ASI bisa HABIS?
Para ahli justru merekomendasikan untuk tidak perlu menunggu payudara terasa penuh ketika ibu ingin menyusui bayi atau memerah ASI. Payudara yang ditunggu hingga penuh menandakan proses produksi ASI sedang diperlambat bahkan berhenti. Akan ada molekul protein inhibitor-produksi-ASI (Feedback Inhibitor of lactation/FIL) dalam ASI yang tertimbun dan tidak ibu keluarkan. Jika kebiasaan menunda menyusui atau memerah hingga payudara terasa penuh ini berlangsung dalam waktu yang lama akan menghasilkan ASI yang semakin sedikit, atau justru ASI akan benar-benar habis dan kering.

2. Tulisan Mba Fatimah Berliana Monika Purba, konselor laktasi dari La Leche League International
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10204046844997298&id=1409280466&set=a.1070999501093.13218.1409280466&source=43
Ketika proses menyusui sudah lancar (kira-kira saat bayi berusia 1 hingga 1,5 bulan), seringkali Ibu menemukan payudaranya tidak sepenuh, tidak seberat seperti di minggu awal pasca melahirkan. Banyak Ibu khawatir bahwa payudara yang lembek / tidak penuh hingga bengkak tersebut menandakan ASI Ibu berkurang. Padahal yang terjadi sebaliknya, bila Ibu membiarkan payudaranya penuh bahkan hingga terjadi bengkak / engorgement dapat memperlambat produksi ASI.

Jadi, fakta yang benar: payudara yang penuh akan memperlambat produksi ASI.

Terdapat 2 hal yang memperlambat produksi ASI ketika payudara Ibu penuh, yaitu:

1. FIL : Feedback Inhibitor of Lactation. Ketika payudara penuh, ada peptide/whey protein bernama FIL diproduksi tubuh Ibu yang berfungsi memperlambat produksi ASI.

2. ASI akan menekan payudara sehingga aliran darah ke payudara berkurang, juga menekan sel pembentuk ASI.
Berdasarkan penelitian, payudara Ibu yang dibiarkan penuh selama 6 jam tanpa disusui/diperah sama sekali ketika diperah hasilnya 22ml per payudara. Sementara Ibu yang menyusui setiap 90 menit hasilnya 56 ml per payudara alias 2x lipat dibanding yang dibiarkan penuh selama 6 jam.

Artinya, ketika ASI dikeluarkan dengan frekuensi yang sering maka FIL akan tertekan begitu pula tekanan ASI pada payudara sehingga produksi ASI akan lebih cepat.

Tentang kekhawatiran atau perasaan galau ketika ASI belum keluar di masa kehamilan (sementara dengar-dengar pengalaman orang lain atau bahkan pengalaman hamil anak sebelumnya, ASI sudah mulai keluar ketika kehamilan berada di trimester ketiga):
Tidak apa-apa. Payudara bengkak maupun tidak, ASI sudah mulai keluar atau belum sebelum melahirkan itu bukan penentu kesuksesan menyusui kok🙂.

Selamat atas kehamilannya dan semoga persalinannya lancar ya Bund. Apakah sudah kompakan dengan suami mengenai IMD dan pemberian ASI? Apakah sudah dibicarakan juga dengan dokternya mengenai ASI dan dalam kondisi apa akan diberikan sufor? Apakah Bunda sudah mempelajari pelekatan mulut bayi yang benar, posisi-posisi menyusui yang tepat, tanda kecukupan ASI, berapa kali bayi harusnya pup di minggu pertama? Ini lebih penting sebetulnya daripada ukuran dan bentuk payudara, pijat, kadang juga ada yang sibuk memikirkan asupan khusus🙂.

Tentu, bunda harus makan makanan bergizi seimbang (bukan hanya sayur lho ya), ini untuk menjaga kesehatan sebab kalau ibu sampai ‘tumbang’ kan repot juga. Anemia dan diabetes juga kadang bisa menunda keluarnya ASI, sebagian bisa dicegah dengan pola makan yang baik pula. Tapi kuantitas ASI dan sebagian besar kualitas ASI tidak ditentukan oleh asupan ibu kok. Pelajari juga tentang produksi ASI ya, karena ASI baru keluar sedikit (bahkan saking sedikitnya suka dikira belum keluar) di awal kelahiran itu sangat wajar. Maksudnya, sesuaikan ekspektasi. Jangan sampai kalau belum terlihat keluar lalu down dan menyimpulkan ASI-nya nggak ada. Kalau sampai terjadi ASI kelihatan belum keluar, jangan buru2 kasih sufor tanpa indikasi medis, apalagi pakai dot, karena itu dia yang bikin ASI seret (karena bayi akan cenderung lebih menyukai dot dan tidak ada stimulasi di payudara untuk mengeluarkan ASI).
image

Mumpung masih ada waktu, ayo ajak suami baca ini dan link2 di dalamnya, biar sama2 siap dan tahu apa saja yang perlu dilakukan di berbagai kondisi, jadi bisa saling menguatkan dan mewakili menyampaikan apa yang diminta kepada nakes yang menangani http://duniasehat.net/2014/08/15/persiapan-ibu-hamil-sebuah-awalan-baik-bagi-keberhasilan-menyusui/.

Optimis itu harus, buang jauh rasa khawatir karena kecemasan bisa menghambat produksi ASI lho. Tapi di sisi lain harus tetap realistis mengenai kemungkinan2 yang ada, yang paling simpel ya ‘ASI belum keluar’ (yang padahal sudah keluar walau setetes dua tetes tapi sangat berharga karena kan bayi baru lahir perlunya memang belum banyak lho) itu tadi. Yuk, semangat ya🙂.

Menanggapi yang curhat bayinya rewel saat disusui (copas dari grup AIMI kalau yang ini sih):
Ada beberapa pertanyaan tentang mengapa bayi sering marah atau gelisah atau hanya menyusu sebentar-sebentar saat disusui. Ada yang kemarahannya diwujudkan dengan menggeliatkan badan, ada yang dengan melepas puting, ada yang membuat tubuhnya jadi kaku, ada yang menjauhkan kepala dari payudara ibu, bahkan ada yang sampai menangis.

Ada beberapa sebab yang bisa dijadikan check list untuk mengobservasi kenapa ini terjadi pada bayi. Silakan disimak, ya :)

PERTAMA, aliran ASI terlalu kencang sehingga bayi kewalahan. Biasanya ini terjadi di 6 minggu pertama setelah kelahiran ketika supply dan demand belum seimbang. Ada berbagai cara mengatasi aliran ASI yg kencang atau ASI berlebih (hiperlaktasi). Silakan baca dokumen grup tentang ASI tidak cukup vs ASI berlebih di link berikut: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/asi-tidak-cukup-vs-asi-berlebih/10152983561074778

KEDUA, posisi menyusui tidak nyaman, akibatnya ibu dan bayi tidak nyaman. Seringkali karena keburu buru, ibu sering tidak memperhatikan posisi duduk atau posisi berbaringnya saat menyusui. Tanpa disadari ini juga berpengaruh ke proses menyusui. Jangan lupa perhatikan posisi duduk dan berbaring Anda saat menyusui. Gunakan ganjal bantal jika diperlukan utk punggung dan tangan Anda.

KETIGA, bayi tidak lapar tapi hanya haus sehingga beberapa menit setelah menghisap dan mulai terasa hindmilk dia berhenti menyusu karena dia hanya mau ASI yang encer. Tawarkan payudara yang satunya jika ini terjadi.

KEEMPAT, Biasanya memasuki usia 2 bulan, bayi sudah mulai eksplorasi. Kalau ada suara sedikit dia berhenti menyusu, nengok kanan kiri, lalu menyusu lagi. Jadi usahakan menyusu di tempat yg tenang, tidak banyak gangguan orang keluar masuk dan interupsi, ibu juga fokus tidak sambil nonton TV atau main HP.

KELIMA, tanda tanda bingung puting. Jika bayi menggunakan dot atau empeng reaksi-reaksi seperti ini bisa juga karena bayi mulai bingung puting dimana bayi rewel saat bertemu payudara ibu. Persering menyusui bayi dan perbanyak skin to skin atau kontak kulit. Jika bayi menggunakan dot atau empeng, segera hentikan dot dan empengnya. Minta bantuan konselor jika mengalami kesulitan.

KEENAM, ada perubahan dari ibu. Misal, ibu pakai parfum baru, sabun baru, deodoran baru, ganti detergen, ganti shampo, puting sedang lecet dan berdarah. Ada berbagai sebab nursing strike, bisa dibaca di dokumen ini: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/berbagai-alasan-kenapa-bayi-menolak-menyusu/10152669682699778

KETUJUH, ibu terlambat merespon rasa lapar atau rasa haus bayi. Jika sudah terlalu lapar, bayi biasanya akan lebih emosional, sulit ditenangkan saat mulai menyusu.

https://m.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/mengapa-bayi-gelisahmarahsering-melepas-puting-saat-disusui/10153451275609778/?ref=bookmark

Menanggapi kecemasan karena newborn yang tampak selalu lapar dan maunya nempel terus:
Baru usia 3 hari, Bund, tahukah Bunda seberapa ukuran lambung bayi?
image

(Lupa sumber gambarnya, waktu itu ada yang post di fb)
Semoga bisa dibuka ya gambarnya. Selama 72 jam pertama bayi juga biasanya masih punya cadangan makanan dalam tubuhnya kok. ‘Kurang minumnya’ ini saya asumsikan ASI-nya malah sudah banyak lho, biasanya hari2 pertama yang dikeluhkan kan ‘dipencet ASI-nya gak ada’. Padahal wajar lho awal2 ASI-nya masih ‘sedikit’, kan memang butuhnya baru segitu. Sekali lagi yuk ditengok ukuran lambung bayi di bawah. Sayang lho Bund kalau dikasih sufor, padahal hari-hari pertama kan yang keluar itu kolostrum, cairan emas yang sangat berharga. Kalau diteruskan pakai dot, risiko tidak mau menyusu kembali ke bundanya sangat besar lho, kalaupun masih mau menyusu, daya isapnya akan berbeda dengan yang seharusnya. Akibatnya ASI juga makin kering, karena setelah sekitar seminggu nanti ASI mulai diproduksi berdasarkan seberapa sering payudaranya dikeluarkan isinya. Kalau seminggu itu nggak sering2 disusukan ke bayi, nanti ke depannya dianggap produksi ASI segitu sudah kebanyakan (lha habisnya gak dikeluarin sih) jadi direm.

Semoga gambarnya cukup jelas ya… Botol pertama itu lambung bayi hari pertama, botol kedua hari ketiga, botol keempat bayi umur seminggu, botol keempat umur sebulan. Yuk jangan lupa pantau pipis dan pupnya juga ya, ini bisa jadi salah satu tanda kecukupan ASI yang mudah dilihat, karena bayi rewel dan maunya nempel terus belum tentu kurang minum lho, bisa saja kan memang kangen dekat2 bundanya (bayangin aja berbulan2 dalam rahim yang tenang dan temaram tiba2 keluar ke dunia yang berisik dan benderang, enaknya dekat2 sama yang detak jantungnya sudah diakrabi, kan?). Kalau diterusin pakai dot, nanti juga bisa rewel karena ‘nagih’ dot lho, jadinya tambah perlu waktu buat mengenalkan lagi payudara bundanya.

image

image

Sejarah Gelar S1 S2 S3 ASI

Istilah S1, S2, dan S3 ASI umumnya tidak asing di kalangan ibu menyusui. Titel ini diberikan untuk pencapaian menyusu eksklusif selama 6 bulan pertama (S1), ASI diteruskan hingga usia bayi setahun (S2), dan lanjut tetap mendapatkan ASI sampai umur anak 2 tahun (S3). Ada yang menambahkan sih, kalau sudah berhasil weaning alias disapih (WWL-weaning with love/disapih dengan cinta) setelah usia 2 tahun artinya berhak dapat gelar Profesor ASI. Beredar juga template semacam sertifikat yang bisa diedit sendiri dengan penambahan nama dan foto anak sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Ada versi AIMI, ada juga versi komunitas lain seperti TATC. Belakangan ada pula sertifikat untuk ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang sudah mendukung kesuksesan pencapaian dalam pemberian ASI, agar semua yang berpartisipasi turut punya cendera mata.
Suatu hari ketika ada member yang bertanya di grup TATC mengenai ‘gelar kesarjanaan’ ini saya jadi terpikir untuk mencari tahu lebih jauh, bukan sekadar menjawab menerangkan arti dari masing-masing gelar. Karena setahu saya yang pertama mempopulerkan adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), jadi saya coba menelusuri mailing list atau milis asiforbaby (yahoogroups) yang menjadi cikal bakal terbentuknya AIMI. Ternyata memang ada penjelasan dari wakil ketua sekaligus salah satu pendiri AIMI mengenai gelar tersebut.

Dear all,

Sebagai salah satu pencetus ide gelar-gelaran untuk anak yang menyusu ini; izinkan saya cerita asal muasalnya ya..😉

Jadi ini memang awalnya buat motivASI lucu-lucuan aja… Niatnya hanya itu. Pada prinsipnya buat AIMI, kami ingin membantu ibu menyusui untuk mencapai tujuan mereka masing-masing (apa pun itu dan sampai kapan menyusuinya). Dengan selalu mengedepankan 4 standar pemberian makan bayi yang direkomendasikan:
1. IMD dan rawat gabung
2. ASIX 6 bulan
3. Pemberian MP-ASI berkualitas dengan gizi seimbang, alami, adekuat dan home-made
4. ASI bisa diteruskan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih.

Buat satu ibu, mungkin pengalaman menyusui-nya akan dia rasa lebih unik jika ada sebuah penanda (makanya dibuat ‘sertifikat’ motivASI itu) tapi buat ibu lain belum tentu, karena ibu lain merasa ini memang proses alamiah dan natural yang tanpa sertifikat pun memang sudah semestinya begitu.

Bisa jadi ada ibu yg tidak menyukai ide tersebut.. Bisa jadi ada yang suka sekali. Kita ga tau juga ya… Tapi bukannya dalam hidup memang begitu ya?😀

Hidup ini adalah pilihan dan karena pilihan itu pula kita ada dan hidup🙂.
Memilih untuk menyusui, memilih untuk mengasuh anak dengan cara tertentu, memilih untuk kritis atau memilih untuk diam dan pilihan-pilihan lainnya😀.

Kami di AIMI juga belajar untuk menjalankan organisasi, salah satu tempat kami belajar adalah dengan membaca sharing2 di sini.. Topik-topik seperti ini juga bisa menjadi bahan pertimbangan kami, apakah ‘sertifikat’ ini masih relevan untuk saat ini? Apa ada mungkin ada kata-kata yang lebih tepat dan pas dibanding gelar-gelar tersebut? Justru saya senang ada pembahasan seperti ini buat bahan refleksi diri sendiri dan AIMI tentunya.

Sekian dan mohon maaf kalo ada salah kata dan semoga bisa menjelaskan sedikit pertanyaan yang tadi menggelitik para member afb tersayang😉 salam ASI,


Nia Umar
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)

13 Januari 2012

sumber: https://groups.yahoo.com/neo/groups/aimi-asi/conversations/topics/221991

Nah, sudah jelas ya, apa latar belakang penyebutan gelar S1 S2 S3 ASI. Memang ada yang pro dan ada yang kontra, ada yang menganggap ‘lebay’ ada pula yang merasa perlu sebagai penyemangat. Perbedaan cara pandang yang lalu bikin rame milis ini juga yang membuat mba Nia Umar jadi memposting alasan penyematan gelar di atas (sedikit bagian dari tulisan mba Nia yang membahas secara khusus memanasnya diskusi saya edit). Oh ya, tahun lalu ketika saya mengecek lagi ke grup FB AIMI, ternyata beberapa konselor laktasi di sana menambahkan bahwa jika selepas ASI eksklusif ada tambahan susu lain bahkan susu UHT sekalipun (yang oleh sumber lain bisa dianggap cemilan) artinya anak tidak ‘sah’ lulus S3.  Memang sih, ada keluarga yang menggunakan susu UHT (yang disebut lebih baik daripada susu bubuk karena pengolahan lebih pendek — bisa baca http://mommiesdaily.com/2015/09/21/mitos-dan-fakta-tentang-susu-uht/ dan https://tentangteknikkimia.wordpress.com/2011/12/16/90/) sebagai ‘penambal’ ketika produksi ASI dianggap sudah menurun, tentunya untuk usia di atas setahun, ya.

Barangkali penambahan syarat untuk memperoleh gelar S3 itu dimaksudkan agar sebelum loncat ke solusi kasih susu UHT, ibu menyusui lebih semangat mencari tahu akar masalah dan pemecahan misalnya terkait hasil perah yang tidak sebanyak dulu lagi. Apakah karena memang jadwal perah menurun, kondisi kesehatan ibu atau konsumsi obat tertentu, pemakaian dot untuk menyajikan ASI perah, atau jangan-jangan ya memang sudah waktunya saja, karena anak juga sudah lebih jarang menyusu (keasyikan main, kenyang oleh makan). Dikhawatirkan mungkin dengan adanya susu UHT (juga susu lainnya seperti susu pasteurisasi atau ‘susu’ nabati — biasanya memang pemberian susu formula secara bebas tanpa indikasi dihindari oleh ibu-ibu yang sudah paham) sebagai jalan keluar, ibu jadi terlena. Bukannya menambah frekuensi pumping yang sebetulnya bisa dijalani sebagai salah satu ikhtiar untuk menambah ASI atau bersegera menyingkirkan dot/empeng yang jadi biang keladi berubahnya daya isap bayi. Akibatnya produksi ASI beneran makin menyusut atau istilah awamnya ‘kering’, padahal anak masih punya hak memperoleh ASI karena usianya belum 2 tahun.

Saya sendiri? Saya netral, hehehe. Sempat bikin beberapa sertifikat ASI tapi nggak konsisten juga. Malah sekarang mau dipajang buat ilustrasi blog yang ini juga entah ke mana😀.

Sehat Itu Mudah dan Murah

Penting banget, nih.

 

Be Smarter Be Healthier


Purnamawati Sujud Pujiarto

Edisi 645 | 28 Jul 2008 |

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga…

View original post 2,609 more words

[Kliping] Batuk, Pneumonia dan Sesak Napas pada Anak

Awal masuk TK, Fathia malah batuk. Lumayan juga, dari yang tadinya sudah mendingan waktu mudik sepertinya ketularan lagi begitu kamu kembali. Karena sampai demam beberapa kali, jadinya Fathia harus nggak masuk sekolah selama tiga hari dalam dua minggu pertamanya bersekolah.
image

image

Dalam masa itu terus terang saya deg-degan ketika memantau hitung napasnya (selain juga asupan cairan). Soalnya sesak nafas merupakan salah satu tanda kegawatdaruratan, kan? Khawatir kalau ternyata pneumonia. Berikut dari Ayahbunda:

Sesak napas karena pneumonia beda dengan asma. Pada pneumonia, kesulitan napas terjadi pada saat anak menarik napas. Sedangkan pada asma, kesulitannya saat mengeluarkan napas, bahkan terkadang bunyi ngik-ngik atau mengi.
Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
Usia anak    Napas Normal         Napas Cepat
0–2 bulan    30–50 per menit    > 60 per menit
2-12 bulan   25-40 per menit     > 50 per menit
1-5 tahun    20-30 per menit     > 40 per menit

Saya tetap kontak-kontakan sama dokternya, tentu. Dan buka-buka juga arsip milis sehat. Sekalian dikopi kemari biar gampang. Alhamdulillah sih, sudah berlalu. Tinggal PR balikin bb-nya yang sempat menyusut, huhuhu.

Dari arsip milis sehat bulan September 2013:

  • Dear Mba,

    Coba diperhatikan apakah nafas cepat saja (yg umum terjadi kalau sedang demam) atau sesak napas? Coba pelajari ini :

    definisi sesak nafas :

    – tarikan otot2 perut (sampe kl nafas tuh perutnya keliatan kembang kempis gitu)
    – tarikan otot2 dada (sama juga kl nafas dadanya keliatan kembang kempis…bahasanya saya sampe keliatan “nekuk” ke dalam, mudah2an bisa dibayangkan)
    – tarikan otot2 leher
    – cuping hidung kembang kempis semakin ke atas semakan “parah” sesak nafas ya (maksudnya kl sudah sampe cuping hidungnya yg kembang kempis berarti sesak nafasnya bisa dikategorikan “parah”).

    Video Breathing Problems & Respiratory Distress
    Breathing difficulties:
    1. http://www.youtube.com/watch?v=GUkh1EGXvaE
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi terdengar jelas.

    2. http://www.youtube.com/watch?v=ZpGK8auKh0U&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak terdengar di videonya)

    3. http://www.youtube.com/watch?v=U-RfbrnMJZE&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak kedengeran di video-nya)

    Respiratory distress (derajatnya sudah lebih berat daripada breathing difficulties dalam ketiga video di atas):
    4. http://www.youtube.com/watch?v=pF_1wu4Q7wk
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi
    masih terdengar (ada juga suara lendir di tenggorokan).

    5. http://www.youtube.com/watch?v=sJLHiTaXrtc
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas;
    kemungkinan mengi sudah tidak ada (pada sesak napas berat atau repiratory
    distress, mengi malah sudah tidak ada lagi –lihat pocket guide GINA http://www.ginasthma.org/documents/1).

    Anak sendiri apa lemas, tidak mau beraktivitas, makan minum sam sek? Berapa kali pipis dalam sehari?

    Bila Mba yakin sesak napas juga anak tidak mau makan minum dan menunjukkan tanda dehidrasi ya segera ke dokter.

    Mengenai pemberian paracetamol, pertimbangkan risk vs benefit Mba. Bisa dicoba dulu metoda membuat nyaman yang lain yang trik2nya sudah buanyak banget dishare.

    HTH

    Your BFF-Breastfeeding Friend, F.B.Monika, @f_monika_b

    La Leche League (LLL) Leader of Roc, South NY,US

  • purnamawati.spak@…
    Sun, 05:44 PM
    Sesak (dyspnea) atau napas cepat (tachypnea)?
    Saat demam, napas pasti cepat.
    Kalau sesak, kan bukan sekedar frekuensi.
    Kedua, saat menghitung frekuensi napas, apakah anak sdg tidur? Ukur frek napas harus saat anak tidur.
    Apakah mungkin lebih dari sekedar common cold?
    Waktu ke IGD, diagnosisnya apa? Kok dinebul NaCl?
    Bukan pneumonia dong ya
    Bukan juga bronkiolitis

    Coba assessment nya diperbaiki

    Wati

    -patient’s safety first-

Yang ini email dr. Anto, Sp.A. Juli 2016

Pneumonia adalah diagnosis klinis, terdapat sesak napas yang ditandai dengan upaya peningkatan volume paru, gejala berupa retraksi atau cekungan dan peningkatan frekuensi napas.
Derajat pneumonia bisa ringan, sedang atau berat. Pada pneumonia terdapat peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan oksigen dengan parameter obyektif saturasi oksigen. Bila kadar saturasi oksigen <92% maka perlu terapi oksigen atau bila saturasi >92% tetapi terdapat peningkatan upaya napas (frekuensi meningkat dan dada cekung) maka juga diperlukan oksigen.

Bagaimana penyebabnya?
Pneumonia bs disebabkan virus atau bakteri bahkan jamur. Yang paling sering tentu virus atau bakteri. Bila gejal awal terdapat common cold maka mengarahkan kepada virus. Namun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan, kenapa? karena tingkat kesakitan dan kematian pneumonia tinggi apalagi pada kelompok risiko tinggi (neonatus, bayi, gizi buruk, asma kronik, pemakaian steroid lama, penyakit jantung bawaan, gangguan sistem imunitas atau lansia)

Dari laboratorium dinilai adalah leukosit: secara umum 3-36 bulan, bila leukosit >15.000 maka mengarahkan kepada infeksi bakteri. Dilihat hitung jenis leukosit, bila peningkatan pada batang atau segmen maka mengarah kepada bakteri, sementara bila limfosit yang meningkat maka mengarah kepada virus.

Sementara pemeriksaan rontgen thoraks akan membantu: bila infiltrat (gambaran putih tampak pada satu lobus (bagian) paru maka mengarahkan kepada bakteri.

CRP merupakan protein reaktif akut yg meningkat pada proses peradangan, Peradangan dapat disebabkan oleh bakteri atau virus atau luka jaringan, jadi CRP membantu diagnosis, bukan standar emas. Standar emas adalah bilasan bronkus, tetapi ini tidak dilakukan rutin karena tingkat kesulitan dan manfaat dan risikonya.

Bila terdapat keraguan antara virus dan bakteri?
Bila terdapat fasilitas lengkap dan dapat diperiksa lengkap, secara umum bila didahului infeksi virus, tidak terdapat peningkatan leukosit, atau peningkatan pada limfosit saja, gambaran rontgen mendukung virus maka dapat diterapi sebagai pneumonia karena virus dengan pemantauan, dalam 48 jam bagaimana respons klinis, bila perburukan maka dilakukan evaluasi ulang.

Bila terdapat peningkatan leukosit, segmen atau batang, rontgen thoraks sesuai dengan bakteri maka diterapi antibiotik, dan pemantauan sama 48-72 jam harus memberikan respons perbaikan, bila tidak membaik maka perlu evaluasi ulang.

Kortikosteroid setahu saya tidak termasuk dalam tata laksana pneumonia (bisa cek di pneumonia guideline British Thoracic Society, atau IDSA)
semoga bisa membantu dan lekas sembuh.

salam,
-anto- (dr. Yulianto milis sehat)

Ada juga infografisnya lhoo…sila mampir ke blog Icha ini.

 

Catatan tambahan terkait salah satu obat batuk yang biasa digunakan (ambroxol): http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2016/04/SURAT-KE-IDI-DAN-DDL-B-POM.pdf

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers