Redwin Sorbolene Moisturiser, Teman Asyik (Bukan Hanya) Saat Mudik

Kulit lembut adalah bagian penting dari penampilan seseorang. Keringnya lapisan pelindung luar tubuh kita akan membuat kita terlihat kusam dan kurang enak dipandang, kadang mengesankan keengganan si empunya merawat, juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan saat bersentuhan. Itu pemahaman saya dulu jika saya ditanya mengenai menjaga kelembapan kulit.

Sekarang? Status sebagai orangtua membuat saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Kulit kering bukan cuma mengganggu penampilan, melainkan bisa sampai mengganggu kualitas hidup. Terdengar ekstrem, tapi begitulah adanya. Terlalu cepatnya cairan di permukaan kulit menguap bikin kulit mudah kehilangan kelembapannya. Akibatnya kulit bisa pecah-pecah dan rasa tidak nyaman yang diakibatkannya membuat sulit berkonsentrasi pada hal lain.

Putri pertama kami sempat menampakkan gejala kulit kering yang sensitif pada tahun pertamanya. Hanya di area tertentu dan tidak berkepanjangan, syukurnya. Tidak sampai membuat ia rewel karena gatal apalagi sulit tidur. Tapi apa yang ia alami menjadi pembuka wawasan baru saya, bawa pernyataan ‘selembut kulit bayi’ tidaklah selamanya tepat. Adakalanya makhluk mungil tersebut harus berada dalam kondisi tidak nyaman akibat tidak terhidrasinya kulit dengan baik.

Sewaktu kunjungan imunisasi ke dokter, saya sekalian menanyakan perihal sepetak kulit bersisik di kaki si sulung. Terkadang kulit punggungnya juga mengalami apa yang belakangan saya ketahui disebut dengan istilah ichthyosis atau mengelupas dengan pola menyerupai sisik ikan. Problem kulit tersebut bisa memunculkan rasa gatal yang mengganggu. Sang dokter kemudian menyarankan pemakaian pelembap untuk mengatasi kondisi tersebut. Ya, perlu perlindungan atau tameng ekstra memang, agar kelembapan kulit tak cepat pergi. Syukurnya, tak sampai pada tahap perlu mengonsumsi obat untuk meredakan peradangan atau meredakan gatal demi mencegah anak menggaruk yang bisa memperparah keadaan kulit.

Moisturizer alias pelembap ini juga tentunya harus dipilih dengan hati-hati. Apalagi jika akan digunakan untuk anak-anak. Salah-salah, ada dari komposisinya yang menjadi pemicu reaksi alergi baru. Pewangi, pewarna, maupun zat yang dimaksudkan untuk menjaga umur simpan produk lebih lama, misalnya. Banyak merk beredar, hingga perlu kecermatan mengamati kandungan yang ditawarkan.

Beberapa tahun belakangan, kulit putri pertama kami cenderung tidak bermasalah. Kecualiii…untuk saat-saat tertentu. Contohnya saja kalau kami sedang bepergian. Perbedaan cuaca dan tingkat kelembapan udara, sumber air, juga perubahan rutinitas bisa menjadi pemantik ‘rewel’-nya kulit. Di sinilah ketelitian saya sebagai ibu seolah mendapatkan tantangan. Bisakah saya mengkondisikan agar ruam ataupun menebal/mengelupasnya kulit sempat dicegah?

Ketika kami mudik akhir tahun kemarin misalnya, giliran kulit si dedek yang bermasalah. Di kulitnya mulai muncul ruam. Udara di kota tempat tujuan pulang kami yang pertama, yaitu kota asal suami, memang cukup panas. Maklum letaknya tidak begitu jauh dengan pantai, dan kami memang sempat betulan main ke pantainya, yang merupakan pengalaman baru untuk anak-anak. Ditambah lagi anak-anak semangat sekali bermain berlarian ke sana kemari, yang meningkatkan produksi keringat mereka. Sedangkan di kota tujuan kedua, tempat saya dilahirkan, kamar yang kami tempati selama di rumah orangtua saya menggunakan pendingin ruangan alias AC, sesuatu yang bukan merupakan kebiasaan sehari-hari kami.

Di saat seperti inilah terasa betul perlunya membekali diri dengan pelembap ke mana pun kami pergi. Bukan hanya membawa sebetulnya, yang lebih penting adalah telaten mengaplikasikannya, kalau perlu berulang-ulang. Redwin Sensitive Skin – Sorbolene Moisturiser menjadi pilihan tepat.

img_20170114_222212

Kata Sorbolene sempat membuat saya penasaran. Semula saya kira kata tersebut merupakan bagian dari merk, tetapi rupanya Sorbolene adalah istilah untuk bahan pelembap khususnya dalam bentuk krim yang bersifat sederhana atau tidak kompleks. Seperti sudah saya sebutkan di atas, sebagian dari kandungan pelembap yang ada di pasaran malah rentan memancing alergi. Nah, Sorbolene ini bebas dari pewarna, pewangi, maupun paraben sebagai pengawet. Adapun REDWIN merupakan brand pelembap nomor 1 di Australia. Yap, di kemasannya juga tertera bahwa skincare ini made in Australia.

img_20170114_222418

Keunggulan apa yang membuat REDWIN memenangkan hati pemakai? Selain yang sudah dituliskan tadi, Redwin Sorbolene Moisturiser juga mengandung 10% plant derived glycerine, vitamin E, dan pH-nya seimbang. Maka tidak heran produk ini bisa dipakai oleh seluruh anggota keluarga, termasuk bayi. Selain membantu menjaga kulit sehat dan lembut, REDWIN Sorbolene juga bisa difungsikan sebagai krim untuk memulihkan ruam popok (nappy rash) maupun gangguan kulit akibat terbakar sengatan sinar matahari (sunburn), lho. Dijadikan krim cukur pun bisa diandalkan. Bahkan kalau mau buat membersihkan muka sehabis pemakaian make up juga bisa. Jadi, bukan cuma bisa diandalkan saat mudik saja sebenarnya, untuk pemakaian sehari-hari pun sesuai. Poin penting lain, pelembap ini sudah memperoleh sertifikat halal dari Australian Federation of Islamic Council atau AFIC. Meski ‘hanya’ untuk pemakaian luar, kehalalan produk yang kita beli perlu mendapat perhatian juga, kan?

Aspek berikutnya yang tidak kalah penting bagi saya adalah ‘kejujuran’ produsen dalam mencantumkan keterangan secara lengkap. Pengguna berhak memperoleh informasi komplet, bukan? Bahan alami sekalipun belum tentu cocok untuk semua orang, kan? Chloroacetamine di dalam Redwin Sorbolene tak ketinggalan disebutkan secara khusus di bagian akhir deretan ingredients. Dalam saran pemakaiannya pun, konsumen diingatkan bahwa krim ini tidak disarankan untuk digunakan sebagai pelembap wajah.

Saat dioleskan, krim Redwin memang sedikit kental terasa, tapi meresap cukup cepat kok ke kulit, tanpa meninggalkan rasa lengket. Tersedia juga rangkaian produk lain seperti sabun mandi cair agar perawatan lebih menyeluruh dan hasilnya dapat dirasakan di kulit lebih optimal tentunya.

Review Global Matrikulasi IIP Batch #2

Inilah materi ‘bonus’ di penghujung ‘perkuliahan’ kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 2.

_Review Global Matrikulasi IIP batch #2_

*MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN*

_It takes a Village to raise a CHILD_

_Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak_
demikian pepatah dari bangsa Afrika.

Dulu, pendidikan dimaknai, dipahami dan dijalankan oleh para keluarga dan komunitas secara berjamaah. Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik, demikian juga sebaliknya, komunitas memerlukan pendidikan untuk mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi ini serta memuliakan kearifan dan akhlak yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.

Pendidikan bukan lahir karena adanya komunitas atau masyarakat, justru pendidikanlah yang melahirkan komunitas dan peradaban.

Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga dan komunitas, karena keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya, yang paling tahu sisi kekuatan dan kelemahan dirinya.

Maka sudah saatnya kita mengembalikan keluarga dan komunitas yang kita bangun sebagai sentra pendidikan peradaban. Karena sesungguhnya peradaban adalah milik keluarga dan komunitas, karena di dalamnya akan muncul karya peradaban dan generasi peradaban yaitu anak-anak kita.

*TAHAPAN MEMBANGUN PERADABAN DALAM KOMUNITAS*

Membangun peradaban di komunitas bisa dijalankan seiring dengan membangun peradaban pada diri kita sendiri dan membangun peradaban di keluarga. Mari kita lihat bersama:

a. Setiap manusia memiliki *MISI INDIVIDUAL*

Setiap manusia dilahirkan dengan karakteristik yang unik, maka tugas dan peran yang akan dijalaninya di muka bumi ini juga pasti unik.

b. Setiap keluarga memiliki *MISI KELUARGA*

Misi keluarga bisa jadi misi bersama yang menjadi kekhasan setiap keluarga. Misi keluarga ini bisa jadi kombinasi dari sifat keunikan ayah, ibu dan anak. Atau bisa juga karena ada dominasi sifat yang mewarnai kekhasan keluarga. Di titik ini kita paham, apa rahasia besar Allah mempertemukan kita (suami dan anak-anak) dalam satu keluarga.

c. Setiap komunitas memiliki *MISI PERADABAN*

_Burung yang berbulu sama pasti akan saling bertemu_

Inilah mungkin yang menyebabkan kita bisa berkumpul di komunitas Ibu Profesional, belum pernah saling ketemu muka, tapi rasanya sudah satu chemistry, karena sebenarnya kita sedang membawa misi peradaban yang sama. Yaitu membangun Rahmat bagi semesta alam lewat dunia pendidikan anak dan keluarga.

*VALUES KOMUNITAS*

Values komunitas adalah *BERBAGI dan MELAYANI_*
bukan MENUNTUT,

maka:
a. Mulailah dari diri kita,
b. Berbagi apa yang kita miliki
c. Satu alasan kuat karena anda ingin melayani komunitas, bukan untuk mencari popularitas, atau bahkan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.

*TAAT ASAS*

Kemudian tahap berikutnya adalah pahami, komunitas Ibu Profesional ini hadir dan berkembang di Indonesia. Di mana asas kebangsaan yang dianut di Indonesia adalah asas BHINNEKA TUNGGAL IKA. Sebagai warga negara yang baik kita perlu TAAT ASAS. Maka pahamilah bahwa kita ini adalah *BERAGAM*.

Perbedaan itu akan menjadi rahmat, maka berjalanlah secara

_HARMONI dalam KEBERAGAMAN_

*GERAK dan KEBERMANFAATAN*

Jangan khawatir dengan jumlah, karena banyak dan sedikit itu tidak penting, yang penting adalah *_GERAK ANDA_*dan *_ASAS KEBERMANFAATAN_* kita bagi sesama.
Pakailah prinsip sebagai berikut:

_Andaikata ada 1000 ibu yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga maka salah satunya adalah_ *SAYA*

_Andaikata ada 100 ibu yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga maka salah satunya_ *pasti SAYA*

_Andaikata hanya ada 1 ibu saja yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga_  maka *ITULAH SAYA*

Rumah adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah-fitrah baik bisa ditumbuhsuburkan, dimuliakan dari dalam rumah-rumah kita, maka secara kolektif akan menjadi baik dan mulialah peradaban.

Selamat membangun komunitas, membangun peradaban,

Selamat bergabung di komunitas Ibu Profesional.

dan bersiaplah menjadi Ibu Kebanggaan Keluarga.

Salam,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber Bacaan_:

_Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Radja Grafindo, 2000_

_Harry Santoso dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2015_

_Ibu Profesional, Membangun Komunitas, Materi Perkuliahan IIP, 2015_

Link Video IIP, Membangun Komunitas, Membangun Peradaban

https://www.youtube.com/watch?v=mSz18xTNtGA&t=111s

img-20161220-wa0045

Review NHW 9 Program Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #9

Jika biasanya review nice homework dari fasilitator grup saya gabungkan jadi satu dengan materi utama masing-masing sesi, kali ini saya post tersendiri.

_Review NHW#9_
_Program Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #9_

*BERUBAH ATAU KALAH*

_Barangsiapa hari ini *LEBIH BAIK*dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang *BERUNTUNG*_

_Barangsiapa yang hari ini *SAMA DENGAN* hari kemarin dialah term I long orang yang *MERUGI*_

_dan Baran siapa yang hari ini *LEBIH BURUK* dari hari kemarin dialah tergolong orang yang *CELAKA*_”
– HR Hakim

Berubah adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau Anda tidak pernah berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9 ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW#9, akan muncul berbagai perubahan-perubahan kecil dari setiap lini kehidupan.

Andaikata hanya 10% saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan-perubahan kecil menjadi sebuah gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar.

Untuk itu kita perlu mencari yang namanya *_Tipping point_*agar perubahan-perubahan yang kita lakukan bisa memberikan impact perubahan yang besar.

The Tipping point: the point at which a series of small changes or incidents becomes significant enough to cause a larger, more important change. –Malcolm Gladwell

Tipping point adalah titik di mana usaha-usaha kecil yang dilakukan berakumulasi menjadi satu hal besar yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai perubahan. Istilah tipping point sudah lama digunakan dalam bidang sosiologi, tapi baru populer setelah dibahas secara mendalam oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference.

img-20161219-wa0010img-20161219-wa0011

Tidak perlu orang banyak untuk menyukseskan gerakan yang akan Anda lakukan. Kalau bisa dengan suami dan anak-anak sebagai satu team, itu sudah cukup. Namun apabila tidak memungkinkan, maka temukan beberapa orang yang satu visi dengan Anda, meski dengan misi yang berbeda-beda, pasti akan bertemu.

Dalam ekonomi, ada Pareto Rule yang menyatakan bahwa 80% dari pekerjaan yang ada sebenarnya diselesaikan hanya oleh 20% orang, yang berarti gerakan kita harus punya 20% orang spesial ini untuk bisa mencapai tipping point. Di bukunya, Gladwell mengupas tentang tiga jenis orang yang menentukan kesuksesan adopsi sebuah ide atau gerakan.

    *Connector*

connectorConnector adalah mereka dengan kemampuan bersosialisasi luar biasa yang bisa menghubungkan orang dari berbagai bidang. Sepanjang yang kami tahu, suatu gerakan bisa jadi besar kalau bisa merangkul banyak orang untuk berkolaborasi. Inilah mengapa kita perlu tipe-tipe connector di komunitas atau gerakan apa pun. Mereka adalah jenis orang yang secara natural selalu percaya diri untuk lebur dan bersosialisasi.

Tidak hanya sekedar gaul dan kenal banyak orang,  Connector juga harus punya sensitivitas untuk bertanya,

“Siapa, ya, yang saya kenal yang bisa membantu gerakan ini?”
atau

“Bagaimana cara menghubungkan si A dari bidang ini dan si B dari bidang itu untuk berkolaborasi?”.

*Maven*

mavensMaven adalah mereka dengan pengetahuan sangat luas yang senang mengakumulasi informasi dan membagikannya. Bisa dibilang maven adalah orang-orang yang sangat senang belajar. Tidak hanya jadi nerd yang menyimpan semua ilmunya sendiri, maven senang membagikan temuan-temuan barunya kepada orang lain. Orang-orang seperti maven yang punya antusiasme dalam berbagi bisa menarik orang-orang ke sebuah gerakan, melalui api mereka dalam menyebarkan insight bermanfaat.

*Salesman*

salesmenSalesman, tentu, adalah mereka yang punya kemampuan persuasi luar biasa. Salesmen tentu saja dibutuhkan untuk “menjual” apa sebenarnya misi yang dibawa, dengan kemampuan mempersuasinya yang sangat hebat. Tanpa berniat menjual pun, orang-orang yang gifted sebagai salesman selalu bisa bikin orang tertarik dengan apa pun yang dibicarakannya.

mavenconnsaleKebanyakan dari sebuah gerakan memiliki kemampuan salesman, tapi tidak punya connector dan maven untuk mengimbangi. Maka sejatinya kita perlu 3 orang saja di awal membangun sebuah gerakan perubahan di sekitar kita, ada salesman yang bisa menjual gagasan kita ke pihak lain, ada connector yang berpikir strategis untuk menghubungkan pihak A dan B, serta maven yang pintar dan senang berbagi.

Setiap orang punya tipping point. Titik di mana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Selamat berkolaborasi untuk menemukan tipping point teman-teman semua dengan ide-ide perubahan yang sudah dituangkan dalam bentuk NHW#9

Lihatlah potensi kekuatan di keluarga kita terlebih dahulu, baru merambah ke luar.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber bacaan_:

_Malcolm Gladwel, Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference , 2000_

_Materi Matrikulasi sesi #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2016_

_Hasil Nice Homework #9 para peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #2, 2016_

===================================================================

Ilustrasi maven, connector, salesman saya ambil dari http://www.slideshare.net/nwrightdesign/the-tipping-point-2012 dan http://www.learning-knowledge.com/contagion.html.

Kampanye BrightFuture, Kepedulian untuk Investasi Masa Depan Kita

Jika melihat kondisi saat ini, pernah tidak terbersit di pikiran bahwa masalah di dunia sudah semakin kompleks? Baik di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun di bidang-bidang lainnya. Masalah yang sudah ada di masa sekarang, jika tidak segera ditangani dengan tepat, berpotensi akan terakumulasi ke depannya. Siapa yang nantinya akan menghadapi? Anak-anak kita tentunya, baik anak kandung maupun secara umum generasi berikutnya. Naluri kita sebagai mama pastilah ingin anak-anak menikmati kehidupan yang lebih baik daripada apa yang kita dapatkan saat ini. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Hari Sabtu tanggal 17 Desember 2016 saya mengikuti TUMBloggers Meet Up yang diadakan di D.LAB by SMDV, Jl. Riau, Menteng. Event ini diselenggarakan oleh The Urban Mama bekerja sama dengan Unilever Indonesia dan Blibli.com. Dalam sambutannya di pembukaan acara, teh Ninit Yunita selaku founder The Urban Mama menyampaikan bahwa anak adalah investasi masa depan, sebagai mama pastinya kita ingin anak-anak punya masa depan lebih cerah, dan itu bisa dimulai dari rumah. Jadi, The Urban Mama mendukung kampanye Unilever BrightFuture untuk menciptakan dunia yang lebih sehat dan gembira bagi anak. Nah, apa sih sebetulnya yang dikampanyekan Unilever ini? Mba Fika Rosemary sang penyiar cantik selaku pembawa acara mengajak peserta menyimak penjelasan dari para narasumber yang sudah hadir.

Sambutan dari Teh Ninit, founder TUM

Sambutan dari Teh Ninit, founder TUM

Kampanye BrightFuture merupakan salah satu pengejawantahan Unilever Sustainable Living Plan yang merupakan strategi dalam menumbuhkan bisnis sembari mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari bisnis tersebut serta meningkatkan manfaat sosial positif bagi masyarakat. Masalah gizi buruk, sanitasi, gangguan kesehatan gigi dan mulut, juga terbatasnya sarana untuk bermain anak di luar merupakan sebagian dari problem era ini. Tidak bisa kita menganggap bahwa hal-hal tersebut tidak ada pengaruhnya kepada kita atau keluarga kita. Mba Adisty Nilasari, Media Relations Manager PT Unilever Indonesia, Tbk. menceritakan bahwa kampanye Bright Future sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 2013 dengan tema yang berbeda setiap tahunnya, misalnya program sebelumnya berkaitan dengan sanitasi (cuci tangan pakai sabun) dan penanaman pohon (mengatasi deforestasi). Tahun ini, tema yang diusung adalah “Selamat Tinggal Dunia Lama”.

Yang memicu kepedulian Unilever di antaranya adalah adanya kasus anak-anak yang meninggal sebelum usia lima tahun karena sakit diare, juga bermunculannya masalah gigi anak yang sebetulnya bisa diatasi lewat membangun kebiasaan yang baik di rumah. Padahal, seperti disampaikan tadi, anak adalah modal generasi penerus untuk masa depan. Komitmen kepedulian Unilever juga dimulai sejak sourcing bahan baku, ada misi sosial di sana. Penelitian terbaru Unilever Global menunjukkan bahwa 54% konsumen mau memilih produk yang diproduksi secara bertanggung jawab dan memiliki misi sosial.

Materi dari narasumber

Materi dari narasumber

Kali ini, Unilever bermitra dengan Blibli.com yang memiliki kepedulian sama, yaitu untuk masa depan yang lebih cerah. Dengan membeli produk Unilever tertentu di microsite Blibli.com yang beralamat di https://www.blibli.com/promosi/unileverbrightfuture pada tanggal 1 s.d. 31 Desember 2016, berarti konsumen sudah mendonasikan Rp1.000,00 untuk setiap pembelian. Donasi ini akan disalurkan untuk program program edukasi kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan komunitas di sekitar area bermain publik di 5 kota yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Makassar. Adapun produk-produk dimaksud adalah Lifebuoy, Domestos Vixal, Pepsodent, Rinso dan Blue Band.

Dari microsite tersebut saya bisa melihat bahwa fokus sasaran donasi untuk setiap program berbeda, yaitu program edukasi pentingnya sarapan bernutrisi untuk pembelian Blue Band, cuci tangan pakai sabun untuk Lifebuoy, sikat gigi pagi dan malam untuk Pepsodent, mendukung anak bermain di luar ruang untuk Rinso, dan menjaga kebersihan toilet untuk Domestos Vixal.

Blibli.com sebagai penyedia layanan belanja online menyadari bahwa mama juga merupakan penentu keputusan dalam keluarga. Belanja dengan bijak dapat menjadi salah satu bentuk investasi. Keberadaan toko online bisa membantu menghemat waktu keluarga, jadi mama bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah alih-alih pergi berbelanja kebutuhan yang kadang dihambat pula oleh kemacetan lalu lintas. Namun, ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Pertama, be a smart buyer, bedakan antara keinginan dengan kebutuhan, begitu kata Mba Lani Rahayu, Senior Marketing Communication Manager Blibli.com. Ngaku deh, kadang mama sebagai perempuan suka gampang kebablasan kan, ya :). Keberadaan toko online yang menyediakan informasi seperti keterangan dan foto yang lengkap bisa membantu dalam memilah wants vs needs tersebut. Kalau perlu, ajak anak juga ikut belajar mengenali kebutuhan belanja ini. Namun, jangan terlalu ‘galak’ terhadap diri sendiri juga, sesekali bolehlah mama berbelanja sesuai keinginan sebagai bentuk dari ‘rewarding yourself‘ setelah bekerja keras.

Kemudian, mengingat saat ini banyak tersedia wi-fi publik dan device umum, mba Lani pun mengingatkan perlunya berhati-hati dalam menggunakannya, karena ada ancaman penyusup atau hacker yang bisa mencuri data kita. Untuk mendukung privasi pembeli, semua layer di Blibli.com sudah ditandai URL dengan bar berwarna hijau, alamatnya diawali https dan disertai gambar gembok, mencerminkan keamanannya. Bahkan data pelanggan pun tidak semuanya bisa diakses oleh staf Blibli.com.

Psikolog Ibu Retno Dewanti Purba dari SAUH Psychological Services menambahkan bahwa gerakan-gerakan baik tidak selalu harus diinisiasi oleh pemerintah. Kita sebagai masyarakat juga bisa berpartisipasi dengan menerjemahkan gerakan sosial menjadi sebuah aksi. Menurut ibu Retno, gerakan itu sifatnya abstrak, apalagi yang dilakukan secara online di dunia maya. Diharapkan, gerakan seperti ini jangan hanya berupa awareness tetapi kepedulian itu harus sampai pada level behaviour. Gerakan harus dijalankan dan didukung oleh komunitas sebagai doers, yang diikat oleh kepentingan bersama dalam memenuhi kebutuhan sosial. Mama-mama bloggers bisa mempromosikan gerakan tersebut sehingga jangkauannya makin luas. Ibu Retno percaya, mama-mama blogger seperti TUMBloggers merupakan mama yang open minded menyerap pengetahuan dari berbagai sumber yang dapat dipercaya sebagai bekal untuk mengajak orang lain berbuat sesuatu.

Bicara tentang komunitas, alasan Unilever membangun lima taman di lima kota di Indonesia adalah agar taman atau area publik terbuka yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pengembangan komunitas. Sambil menemani anak main di luar, para mama yang biasanya mengantar bisa bertemu untuk berdiskusi yang kemudian membentuk komunitas untuk bergerak. Minimal, mama bisa mengamati poster-poster edukasi yang disediakan untuk kemudian dipraktikkan di rumah. Di Jakarta, taman yang dibangun oleh Unilever hadir dalam wujud Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Cideng, Jakarta Pusat.

Sejalan dengan misi Unilever, ibu Retno juga setuju bahwa taman dengan fasilitas yang lengkap bisa menjadi pendukung sarana bermain anak yang menyenangkan. Keterpaparan melalui bermain di dalam maupun di luar ruang sebetulnya sama-sama diperlukan oleh anak untuk tumbuh kembangnya, jadi atur dan seimbangkan saja. Nah, jika sampai ada salah satu aspek yang mengalami defisiensi artinya sudah ada warning. Dengan bermain di luar, anak bisa bertemu dengan hal-hal dan orang-orang yang mungkin tidak ia temui di dalam rumah sehingga mengajarkan anak akan perlunya bertoleransi. Bagaimana dengan kekhawatiran dari segi keamanan main di luar? Bisa disiasati dengan pemilihan waktunya, dan keamanan sebetulnya tanggung jawab bersama masyarakat juga.

Tentunya orangtua juga harus memotivasi anak, jangan sampai anak dilepas main di luar sementara orangtuanya kemudian sibuk dengan gadget-nya sendiri. Orangtua juga perlu aktif mencontohkan, misalnya mengajak cuci tangan bersama pakai sabun di sarana wastafel yang tersedia di taman. Pemberian contoh dan ajakan yang konsisten merupakan kunci terbentuknya kebiasaan baik. Atau dengan kata lain bisa dengan dilihat, dicoba, dan dilakukan berulang-ulang, yang memerlukan waktu minimal 21 hari.

Gadget sendiri seringkali menjadi andalan orangtua untuk dijadikan sarana bermanin anak. Amankah? Ibu Retno menjelaskan bahwa gadget is neutral, yang membuat positif atau negatif adalah pengggunanya. Pemberian gadget ke anak sudah sepaket dengan risikonya, orangtua harus menyiapkan ‘pagar’ berupa kesepakatan sejak awal. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh diakses oleh anak. Mama harus cerdas dan kreatif, resourceful tentang permainan anak, jangan lupa kolaborasi asyik dengan papa. Orangtua juga bisa memberi aturan seperti no gadget saat di meja makan, termasuk orangtuanya tentunya.

Teh Ninit dari TUM, Mba Lani dari Blibli.com, Mba Adisty dari Unilever, ibu Retno, dan mba Fita

Teh Ninit dari TUM, Mba Lani dari Blibli.com, Mba Adisty dari Unilever, ibu Retno, dan mba Fita

Sebagai penutup, mba Adisty mengatakan bahwa fokusnya bukan berapa besar keberhasilan, melainkan bagaimana kampanye ini bisa menjangkau banyak orang, karena tujuannya adalah jangka panjang. Harapan Unilever, ke depan, masyarakat sudah tahu produk mana yang punya tujuan sosial baik tanpa harus diiming-imingi dengan program tertentu. Apalagi dampak lingkungan sebetulnya sebagian besar ada di tangan konsumen, misalnya soal pemakaian air bersih, sehingga bukan hanya menjadi tanggung jawab produsen. Penelitian terbaru Unilever Global menunjukkan bahwa 54% konsumen mau memilih produk yang diproduksi seara bertanggung jawab dan memiliki misi sosial. Hendak mengecek progress dan pertanggungjawaban donasi? Kita bisa buka web https://brightfuture.unilever.co.id/ atau hubungi Suara Konsumen Unilever di 0-800-155-8000 / +6221 529 952 99, Fax: +62 21 525 2602, atau email suara.konsumen@unilever.com.

Mba Lani berharap semoga dengan kampanye BrightFuture dampak lebih baik bisa dirasakan bukan hanya di lingkungan sendiri atau keluarga melainkan juga bisa ditularkan ke komunitas, sebagai ‘virus baik’ untuk masa depan. Sedangkan ibu Retno berkeinginan program ini sustainable dan terukur.

Alhamdulillah menang live tweet :D

Alhamdulillah menang live tweet 😀

Di penghujung acara, sebelum sesi foto bersama, penyelenggara mengumumkan pemenang lomba live posting di media sosial, daaann saya termasuk salah satu pemenang untuk kategori live tweet. Hadiahnya? Goodie bag dari Unilever Indonesia dan voucher belanja dari Blibli.com! Alhamdulillah 🙂

Foto bareng di akhir acara

Foto bareng di akhir acara

NHW9 Kelas Matrikulasi IIP Batch 2

_Nice HomeWork #9_

*BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN*

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar Anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai:

*PASSION + EMPATHY = SOCIAL VENTURE*

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social entrepreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social entrepreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan entrepreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empathy, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan entrepreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yang memiliki permasalahan yang sama dengan kita.

Continue reading

Dari #IRF2016 (1) Belajar Mengalihbahasakan Idiom dengan Rasa

long-distanceSudah lama saya penasaran akan kegiatan Festival Pembaca Indonesia, suatu ‘hajatan’ dari komunitas pengguna Goodreads yang ada di Indonesia (sayangnya akun GR saya sudah debuan, hihihi, saking lama nggak ditengok). Festival yang disebut juga dengan Indonesian Readers Festival (IRF) ini rutin diadakan setiap tahun sejak 2010. Di tahun pertama diselenggarakannya tersebut, buku Long Distance Love (Lingkar Pena Publishing House, 2009) yang memuat tulisan saya meraih Anugerah Pembaca Indonesia untuk kategori Sampul Buku Non-Fiksi Terfavorit atas nama SindikArt dan mendapat tempat kedua untuk kategori Buku & Penulis Non-Fiksi Terfavorit atas nama mba Imazahra yang bertindak selaku inisiator dan koordinator (sumber: Okezone).

Tahun ini kebetulan lokasi yang dipilih relatif lebih dekat dengan tempat tinggal, sekaligus jauh lebih akrab dengan keluarga kami, yaitu Museum Nasional. Begitu melihat publikasinya di facebook saya langsung mencari tahu ada kegiatan apa saja, dan menemukan dua workshop yang menarik perhatian yaitu Menerjemahkan Idiom: Alih Bahasa dengan Rasa; dan Mengeluarkan Kekuatan Narasi: Baca dan Bacakan bersama Ayo Dongeng Indonesia. Keduanya dilaksanakan berturut-turut pada hari Minggu, 11 Desember 2016. Kalau tengok di postingan instagram @bacaituseru, ada juga kegiatan untuk anak-anak seperti workshop menulis dan workshop origami, tapi melihat kisaran usia yang menjadi sasaran sepertinya Fathia juga belum bisa ikutan. Tapi Fathia dan Fahira mungkin masih bisa ikut kegiatan lain seperti Bioskop Baca (yang memutar film-film adaptasi buku) jika kebetulan filmnya cocok (saya lihat hari Minggu ada The Little Prince), menyimak dongeng, atau sekadar main atau mewarnai di Pojok Anak Museum Nasional seperti biasa.

Sebetulnya masih ada workshop lain seperti Menghadirkan Puisi di Hati Kita yang narasumbernya adalah kolega satu instansi saya, mas Pringadi. Sayangnya waktunya bentrok dengan workshop dongeng, dan dengan berbagai pertimbangan saya memilih workshop dongeng. Kegiatan hari Sabtu juga tak kalah menggiurkan, ada talkshow dengan Seno Gumira Ajidarma, diskusi dan peluncuran buku terbaru Adhitya Mulya, mini workshop Creative Writing 101 bersama Windy Ariestanty dan Hanny Kusumawati dari Writingtable, Pemanfaatan Big Book dalam Pengembangan Literasi oleh Aksa Berama Pustaka, Make Your Own Book with What You Have and What You Can Do bersama Lala Bohang, plus klinik kiat menembus dapur fiksi bersama editor fiksi majalah femina, tapi kami sudah ada agenda lain pada tanggal 10 itu. Setelah menentukan pilihan, saya bergegas mendaftarkan diri ke e-mail yang tertera dan alhamdulillah masih kebagian tempat.

img_20161211_095425.jpgDalam postingan ini saya ceritakan dulu workshop pertama yang saya ikuti hari itu. Hal yang membuat saya begitu bersemangat mengikuti workshop penerjemahan adalah kesukaan saya pada membaca dan bahasa. Saya sampai sudah melihat-lihat berapa sih biaya kursus penerjemahan di LBI FIB UI. Tambahan lagi, pemateri yang tercantum pada posternya adalah penulis/penerjemah yang selama ini saya kenal (walaupun hanya melalui karya atau interaksi di dunia maya, dan yang jelas tidak semuanya kenal saya, hehehe) dengan keandalannya seperti mba Barokah ‘Uci’ Ruziati (sudah baca A Game of Thrones bahasa Indonesia? Mba Uci ini lho, yang dipercaya menerjemahkan), mba Dina Begum, mba Lulu Fitri Rahman, dan mba Poppy D. Chusfani. Maka saya pun tiba di auditorium Museum Nasional pada Minggu pagi dengan antusias…dan mengkeret begitu tahu banyak di antara hadirin yang sebetulnya sudah menjadi penerjemah profesional. Yah, meski acaranya sebetulnya diperuntukkan bagi pemula, mungkin acara ini juga sekaligus sebagai ajang temu kangen dan memperluas jejaring, ya (saya amati banyak yang tukar kartu nama…saya mah boro-boro :D).

Continue reading

Materi Kelas Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi IX: Bunda Sebagai Agen Perubahan

🎇Resume Materi & Tanya Jawab🎇

*Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch#2 sesi#9*
Hari/tanggal : Selasa, 13 Desember 2016
Fasilitator      : Diyah Amalia
Ketua kelas   : Hastuti (hascu)
Koordinator pekan ke 9 : Ida Sani

_Matrikulasi IIP batch #2 sesi #9_

*BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN*

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu, untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri, dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, di mana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

*“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”*

Continue reading