[Copas dari AIMI] Seputar Bingung Puting

Aimi edited a doc in the group: Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.
6 September 2014 at 18:11 · 
Masih banyak yang belum sepenuhnya paham tentang fenomena bingung puting. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menganggap bingung puting adalah mitos belaka, sehingga pelarangan dot dianggap berlebih-lebihan. Tapi sesungguhnya, bukan lagi mitos namanya jika sudah dibuktikan secara ilmiah hingga kemudian muncul saran pelarangannya. Berikut hal-hal yang sering ditanyakan atau dikatakan seputar fenomena bingung puting pada bayi yang menyusu pada ibunya.

Last but not least, KENALI FENOMENANYA, PAHAMI RESIKONYA, DAN SILAKAN BUAT KEPUTUSAN YANG TEPAT.

1. TANYA: Bingung puting artinya adalah bayi menolak payudara ibu atau tidak mau menyusu pada payudara ibu setelah mengenal dot atau empeng
JAWAB: TIDAK HANYA ITU. Bingung puting bisa dilihat dari dua hal:
PERTAMA, bayi menolak menyusu. Kalau sudah begini, harga mati harus relaktasi agar si bayi mau menyusu kembali dan buang jauh2 dotnya. Sementara tingkat keberhasilan relaktasi itu beragam. Semakin tua usia bayi semakin sulit direlaktasi. Relaktasi juga butuh kegigihan ibu dan kerjasama seluruh keluarga. Kalau ibunya kerja, ada kalanya harus cuti biar bisa fokus relaktasi. Apakah ketika bayi menyusu kembali ke ibunya masalah selesai? Di banyak kasus, tidak  Karena pola hisapan bayi sudah berubah dan butuh waktu lebih lama lagi untuk memulihkan hisapan yang benar.
KEDUA, ini yang sering terjadi di masyarakat. Bayi tidak menolak payudara ibu, tapi bayi mengurangi reflek hisapan pada payudara ibu. Di sini kita perlu memahami cara kerja bayi menyusu pada payudara. Ini penting supaya kita bisa mendapat pemahaman utuh. Bingung puting adalah keadaan dimana bayi menghisap payudara ibu dengan cara menghisap pada dot. Sementara cara kerja meminum ASI dari botol dot dan payudara berbeda. Melalui botol dot bayi tidak harus suckling melainkan hanya sucking. Sedangkan pada payudara bayi harus menggunakan lidah dan seluruh otot pada mulutnya untuk merangsang keluarnya ASI. bayi harus buka mulut lebar-lebar dan menghisap dengan kuat dengan irama yg konsisten. Sedangkan pada botol dan dot bayi hanya menyedot dan aliran ASIP sudah keluar dengan derasnya. EFEKNYA APA? Produksi ASI menurun bertahap karena pengosongan payudara tidak lagi optimal. Dan yang sering terlihat adalah menurunnya hasil perahan krn tanpa ibu sadari produksi ASI sebetulnya sudah menurun juga. Rata-rata, hasil perahan berkurang pada periode setelah 4 minggu penggunaan botol dot. Di sini ibu mulai panik. Sistem ASI kejar tayang pun mulai terjadi. Ini yang disebut bingung puting laten atau tersembunyi. Bayinya tetap mau menyusu pada ibunya, tapi ibunya nggak sadar bahwa produksi ASI-nya sudah mulai turun.

2.      TANYA: Bingung puting hanya mitos, terbukti tidak semua bayi mengalaminya
JAWAB: Bingung puting bukanlah mitos. Dalam ilmu laktasi pelarangan penggunaan dot pada bayi yang menyusu pada ibunya didasarkan pada  banyak argument ilmiah dam sudah ada dalam 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) yang ditetapkan pemerintah Indonesia yang bersumber dari rekomendasi WHO. Walau tidak semua bayi mengalaminya, tapi orang tua TIDAK PERNAH TAHU apakah bayinya termasuk yang akan terkena bingung puting atau tidak hingga hal itu menimpanya. Dan seringkali mereka yang tidak mengalami menganggap ini hanyalah mitos belaka dan menganggap bahwa bingung puting tidak akan berdampak apa-apa. Justru karena dampaknya pada setiap bayi tidak akan pernah diketahui sejak awal, sangat disarankan untuk berpegang pada prinsip: lebih baik mencegah daripada mengobati. Tidak semua orang yang cuci tangan sebelum makan akan terhindar dari diare. Tapi kita tidak akan pernah tahu, kapan tangan kita cukup bersih untuk digunakan makan atau tidak dengan tidak mencuci tangan dahulu sebelum makan. Namun demikian, anjuran mencuci tangan sebelum makan toh tetap diberlakukan.

3.      TANYA: Apa saja media minum ASIP yang bisa mencegah terjadinya bingung puting pada bayi?
JAWAB: Sejak lahir, bayi sudah bisa dilatih minum ASIP dengan berbagai media seperti cup feeder, soft cup feeder, pipet, spuit (suntikan tanpa jarum), atau sendok. Setelah usia 6 bulan, bayi bisa dikenalkan denga sippy cup atau training cup dengan ujung yang keras (bukan ujung berbahan silicon seperti bahan pembuat nipple dot). Atau sudah bisa dikenalkan cara minum dengan sedotan.

4.      TANYA: Si kakak dahulu menggunakan dot dan tidak bingung puting, berarti adiknya juga demikian
JAWAB: Belum tentu, setiap bayi berbeda karakternya dan kita tidak tahu si bayi mengalami bingung puting atau tidak hingga itu terjadi padanya.

5.      TANYA: Apakah bingung puting selalu diikuti ciri ciri yang bisa dikenali sehingga dapat diantisipasi?
JAWAB: Tidak semua demikian, tergantung si bayi dan ibunya juga. Ada bayi yang setelah beberapa lama kenal dot mulai terlihat tidak menghisap payudara dengan baik, sehingga ibu merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Tapi tak jarang pula, tidak ada tanda-tanda yang jelas yang bisa dirasakan oleh ibunya. Atau kalaupun sudah ada tanda-tandanya, ada ibu yang tidak cukup aware pada perubahannya. Misal: pada bayi yang bingung puting dengan menolak menyusu pada ibunya, ada yang beberapa saat sebelum benar-benar menolak sudah menunjukkan tanda –tanda seperti: menangis atau gelisah atau marah setiap hendak disusui. Tapi ada pula bayi yang sebelumnya tidak menunjukkan gejala apa-apa, tapi kemudian pada suatu titik langsung menolak payudara ibunya.

6.      TANYA: Bingung puting itu artinya bayi tidak lagi mengenal puting ibunya
JAWAB: TIDAK. Bayi kita akan selalu kenal dengan ibunya. Umumnya bayi bisa mengenali ibunya lewat bau, sebelum akhirnya ketika mencapai usia tertentu dia sudah mengenali wajah ibunya. Bingung puting BUKAN berarti bayi tidak lagi kenal pada puting ibu, tetapi tanpa dia sadari, bayi menolak payudara ibu karena dia menganggap menyusu pada payudara ibu lebih “melelahkan” daripada menghisap dot ATAU dia sudah mulai menghisap payudara ibu dengan cara seperti menghisap pada dot. Letak kebingungannya BUKAN pada jenis putingnya, tapi pada cara hisapnya. Ketika dia sudah menghisap payudara ibu seperti cara dia menghiap pada dot, itulah yang namanya bingung puting.

7.      TANYA: SEMUA kasus bingung puting bisa dipulihkan dengan relaktasi
JAWAB: BISA YA, BISA TIDAK. Kesuksesan relaktasi ditentukan oleh banyak sekali faktor, antara lain:
Usia bayi: semakin besar usia bayi yang direlaktasi, prosesnya menjadi lebih sulit
Kesabaran, konsistensi, dan kegigihan ibu dalam melakukan relaktasi. Salah satu hambatan dari relaktasi adalah karena biasanya yang mengalami adalah bayi yang ibunya bekerja di luar rumah. Sehingga seringkali ibunya harus menyempatkan waktu untuk cuti dari pekerjaan jika ingin serius relaktasi
Dukungan dari seluruh anggota keluarga dalam proses relaktasi
Jikapun bayi yang bingung puting mau kembali menyusu pada ibunya, seringkali yang setelah itu jauh lebih sulit adalah memulihkan pola hisapannya ke pola hisapan yang benar
Efektifitas metode relaktasi yang diterapkan. Dalam setiap kasus relaktasi, metode yang digunakan bermacam-macam. Konselor atau dokter laktasi terlebih dahulu akan mengidentifikasi tingkat masalah yang jadi sebab dilakukannya relaktasi baru kemudian menetapkan metode yang sekiranya sesuai dengan kasusnya dan kondisi ibu serta bayi.

8.      TANYA: Apa kemungkinan terburuk bingung puting yang gagal direlaktasi?
JAWAB: Jika bayi dalam tahap berubah pola hisapan karena dot, maka kemungkinan terburuknya tentu saja menurunnya produksi ASI. Jika produksi ASI tak segera dinormalkan sesuai demand atau kebutuhan bayi dan dot tidak segera ditinggalkan, maka kemungkinan si ibu menggunakan susu formula semakin besar.

Jika bayi dalam tahap menolak menyusu langsung pada ibunya, maka kemungkinan terburuknya tentu saja bayi gagal direlaktasi sehingga akhirnya si ibu harus exclusive pumping (eping). Walau eping tetap mungkin berhasil, namun eping membutuhkan komitmen, konsistensi, dan kegigihan yang luar biasa karena ibu harus menghabiskan waktu waktunya dengan memerah siang dan malam 24 jam sehari, 7 hari seminggu hingga masa menyapih tiba dan tidak menyusui langsung. Sementara prinsip penting dari menyusui bukan hanya memberikan ASI tapi juga memberikan ikatan bonding antara ibu dan bayi dan memberikan kesempatan pada ASI untuk berproduksi sesuai demand sesungguhnya dari bayi lewat mekanisme menyusui langsung.

9.      TANYA: Bayi saya hanya kena dot 2-3 jam sehari. Selebihnya selalu menyusu langsung dari saya. Apakah itu artinya dia cukup aman dari bahaya bingung puting?
JAWAB: TIDAK. Durasi penggunaan dot tidak menentukan apakah seorang bayi akan mengalami bingung puting atau tidak. Mengutip seorang ahli laktasi, Becky Flora IBCLC: “For some babies it may take many bottles before they show any nipple confusion; for others it can take only one or two.”

10.  TANYA: Bingung puting adalah sebuah “state of mind”. Jika kita selalu berpikir positif bayi kita tidak akan bingung puting, maka dia tidak akan bingung puting. Jika kita selalu ketakutan bayi kita akan bingung puting, maka yang akan terjadi adalah bayi kita akan benar-benar bingung puting
JAWAB: Bingung puting bukanlah masalah pemikiran atau “state of mind”, tapi merupakan “state of sucking” yang sebetulnya tidak disadari oleh bayi. Secara natural, sucking atau menghisap memberikan rasa nyaman pada bayi, apapun benda yang dia hisap. Tapi yang tidak bayi sadari adalah pola hisapannya pada payudara ibu telah berubah. Bahkan ketika bayi sudah dalam tahap menolak payudara ibu, itupun juga bukan keinginannya, karena secara natural, bagi bayi menyusu pada ibu mendatangkan manfaat fisik dan psikologis. Tapi ketika dia menolak payudara ibu, itu artinya secara psikologis, kepuasannya menghisap pada payudara ibu sudah tergantikan dengan kepuasan menghisap pada empeng atau dot.  Sehingga sebetulnya, ketika kita mengenalkan dot atau empeng, pada dasarnya kita telah berupaya menggantikan rasa nyaman yang didapat bayi melalui hisapan payudara dengan hisapan pada media lain.

11.  TANYA: Apakah dot yang katanya dibuat “menyerupai payudara ibu” akan efektif mencegah bingung puting?
JAWAB: PERTAMA, Jika ada dot yang meng-klaim dirinya dibuat menyerupai payudara ibu, pertanyaannya, payudara ibu manakah yang dimaksud? Semua ibu memiliki bentuk dan struktur payudara yang berbeda. Bahkan payudara kanan dan kiripun bisa berbeda satu sama lain. Di dalam dunia laktasi, kita sering mendapati pola preferensi bayi dalam menyusu. Setiap bayi selalu punya sisi payudara favorit, entah yang kiri dan kanan. Sebabnya bisa bermacam-macam: bisa karena posisi menyusuinya, bisa karena bentuk atau ukuran payudaranya, bisa karena bentuk putingnya. Jadi, tidak ada satupun dot yang bisa menyerupai payudara ibu. Intervensi dot justru akan bisa mengubah preferensi bayi, bukan lagi pada payudara ibunya tapi justru berpaling ke dot. KEDUA, di tahap awal menyusui kita selalu belajar bagaimana menyusui dengan benar, dengan pelekatan yang benar yang menyertakan areola. Pada intinya bayi TIDAK menyusu pada puting tapi pada payudara dengan menyertakan areola. Pelekatan yang benar akan menjamin pengosongan payudara yang efektif. Itu kenapa ibu dengan bentuk puting apapun tetap bisa menyusui bayinya, karena kunci menyusu BUKAN pada puting. Sementara ketika menggunakan dot, bayi HANYA menyusu pada puting dot. Pola pelekatan yang terjadi antara bayi dengan payudara ibu dengan pelekatan antara mulut bayi dengan empeng dot sangat berbeda.

12.  TANYA: Bayi di atas usia 1 tahun tidak akan mungkin mengalami bingung puting
JAWAB: Bingung puting bisa terjadi di usia berapapun, kapanpun, tidak tergantung pada berapa lama dia sudah mengenal dot. Walau kasus bingung puting lebih banyak dialami bayi di bawah usia 1 tahun, tapi yang sudah di atas usia 1 tahun pun bisa memilik resiko yang sama. Jika Anda pernah mendengar kasus dimana bayi di atas usia 1 tahun menyapih dirinya sendiri (self weaning) tanpa alasan yang jelas, misal: ibu tidak dalam keadaaan hamil, anak tidak dalam keadaan sakit, dsb sementara dia sudah mengenal dot, maka self weaning itu merupakan manifestasi dari bingung puting. Justru saat bayi berusia di atas 1 tahun dimana dia sudah bergerak lebih aktif, di satu sisi dia ingin tetap bergerak lincah tapi bisa tetap mendapat kenyamanan dari “sucking” atau menghisap. Itu kenapa dot akan jadi pilihan yang paling nyaman untuk anak, karena dia bisa tetap bergerak ke sana kemari dengan botol dot tetap ada di tangannya. Ini menunjukkan bahwa potensi bayi “meninggalkan” payudara ibu jadi semakin tinggi karena dia sudah menemukan kompensasi menghisap yang lebih fleksibel.  Itu akhirnya kenapa di banyak kasus kita temui, lebih sulit orang tua menyapih anaknya dari dot ketimbang menyapih anak dari payudara ibunya.

13.  TANYA: Apakah dot hanya berisiko bingung puting? Adakah risiko-risiko yang lainnya dari penggunaan dot bagi bayi/anak?
JAWAB:  

RISIKO TIDAK HIGIENIS LEBIH TINGGI
Dot itu sendiri tidak dapat dikatakan higienis sedangkan higienitas adalah hal mutlak bagi bayi karena sistem imunnya yang belum matang. Perlu diingat bahwa bakteri mudah berkembangbiak pada kondisi hangat. Setiap kali habis dipakai dot harus langsung dibersihkan. Bila dot berada dalam kondisi terbuka terlalu lama ataupun terjatuh juga harus segera disingkirkan. Belum lagi sisa lemak yang menempel di sela-sela dot yang sulit untuk dibersihkan. Jika hal-hal ini diabaikan dapat mengakibatkan muntah, diare, kolik dan sebagainya.

RESIKO MUDAH TERSEDAK
Pada bayi, irama menghisap : menelan : bernafas itu 1 : 1 : 1. Ini tidak mungkin terjadi ketika bayi ngedot. Air susu akan menetes terus sehingga mengganggu ritme menyusu dan bernafas pada bayi sehingga bayi mudah tersedak. Sering pula bayi dibiarkan tertidur dengan tetap mengempeng dot tanpa ditemani oleh pengasuh.
RESIKO INFEKSI SALURAN NAPAS
Bayi yang menyusu di dot sering menghisap susu dengan posisi berbaring telentang sehingga berisiko meningkatkan kejadian infeksi saluran pernafasan akibat sensitisasi trakea akibat microaspirasi saat ngedot dan atau refluks gastroesofagus (GER) akibat menyusu dengan posisi berbaring telentang. Risiko semakin tinggi pada kasus bayi yang ngedot di malam hari. Pada malam hari koordinasi sistem saraf autonom melemah sehingga rentan mikroaspirasi/tersedak dan GER. Efek negatifnya adalah anak rentan batuk di malam hari, otitis media/radang telinga tengah, sinusitis, batuk kronis, bronkiolitis berulang dan radang paru (pneumonia)
RESIKO KERUSAKAN GIGI
Penggunaan dot mempengaruhi bentuk kesehatan gigi-geligi dan otot area mulut. Penggunaan dot dalam jangka panjang dapat merusak gigi anak (karies). Sebuah penelitian menemukan bahwa anak ASI yang tidak pernah mengenal dot (dan empeng) akan tumbuh dengan memiliki wajah yang lebih proporsional. Bentuk gigi-geliginya lebih sempurna dibanding bayi yang mengenal dot.
Menyusu langsung pada payudara bukan hanya untuk membuat bayi kenyang saja. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang kompleks, melibatkan seluruh otot yang berada di sekitar mulut dan rahang. Mulut bayi harus bekerja keras untuk mendapatkan ASI. Sebaliknya pemberian ASI (dan pengganti ASI) melalui dot tidak merangsang bayi untuk belajar dan bekerja menghisap. Akibatnya, kekuatan otot-otot tersebut melemah, sehingga kemampuan bicara menjadi terhambat 
RESIKO INFEKSI TELINGA
Otitis Media merupakan infeksi yang terjadi pada telinga bagian tengah. Struktur saluran telinga pada bayi lebih dekat dengan daerah mulut dan belum memiliki sistem proteksi yang kurang baik dibandingkan struktur telinga orang dewasa. Oleh karena struktur ini, gangguan pada daerah mulut akan memudahkan terjadinya gangguan pada struktur telinga bagian tengah. Pada pengguna Dot ditemukan kasus Otitis media yang meningkat. Barangkali kejadian ini terkait dengan gangguan pertumbuhan gigi dan meningkatnya kemungkinan infeksi pada penggunaan dot yang tidak higienis. Para peneliti di AAP (American Academy of Pediatrics) menyarankan untuk mengurangi atau menghentikan secara total penggunaan dot untuk menghindari terjadinya Otitis Media.
Masalah muncul pada penggunaan dot adalah jika susu tetap keluar walaupun anak tidak menyedot, misalnya karena tertidur. Di sisi lain, saat anak tidur otot-ototnya menjadi rileks, termasuk otot yang menyusun saluran eustachius sehingga saluran tersebut terbuka. Nah, susu yang tetap keluar tadi bisa-bisa bukannya tertelan, namun masuk ke dalam saluraneustachius dan memenuhi rongga pada telinga tengah. Hal ini mungkin terjadi, apalagi pada anak yang menyusu botol dalam keadaan berbaring. Cairan yang terkumpul di telinga tengah kemudian dapat menjadi media infeksi bakteri. Selain itu, adanya cairan di belakang gendang telinga akan mengganggu proses transmisi suara. Akibatnya, anak menjadi sulit mendengar. Fungsi telinga dapat kembali normal apabila cairan tersebut dibuang.

RESIKO OBESITAS
Bayi yang menetek pada payudara akan berperan aktif. Bayi menetek ketika lapar dan berhenti menetek ketika dia sudah kenyang. Bayi terlatih untuk mengenali kebutuhan asupan sesuai dengan energi yang dikeluarkannya. Sedangkan bayi yang minum di botol cenderung pasif. Bayi akan menghabiskan seluruh isi botol meskipun sudah kenyang. Bayi jadi sulit mengenali kebutuhan asupannya. Bayi akan terbiasa mengkonsumsi asupan melebihi kebutuhannya
KESULITAN MENYAPIH
Menyapih anak dari dot bisa jadi lebih sulit dibanding menyapih dari payudara. Sedangkan bayi yang tidak menggunakan dot kita tidak usah memikirkan bagaimana menyapih dari gelas kan? Karena seumur hidup kita akan minum menggunakan gelas 

Sumber tambahan: website dokter laktasi Annisa Karnadi: http://duniasehat.net/2014/07/29/dampak-buruk-penggunaan-dot

14.  TANYA: Fenomena bingung puting pada bayi hanya terjadi di masa kini. Jaman dahulu banyak bayi menggunakan dot tapi tidak apa-apa
JAWAB: Sejatinya dot diciptakan sebagai pasangan dari susu formula. Dot sudah diproduksi ketika susu formula diproduksi untuk mempermudah pemberian susu formula pada bayi. Tentu saja untuk bayi yang sepenuhnya mengkonsumsi susu formula, dot tidak akan menyebabkan bingung puting karena bayi tidak menyusu langsung pada ibunya. Fenomena bingung puting baru muncul ketika sudah banyak kaum ibu bekerja yang tetap memberikan ASI walaupun sudah mulai beraktivitas di luar rumah. Fenomena bingung puting baru muncul ketika fenomena penyimpanan ASIP perah mulai marak dipraktekkan. Dahulu kala ketika perempuan belum banyak yang bekerja, tentu saja bayi yang menyusu pada ibunya tidak kenal istilah bingung puting karena selalu menyusu langsung pada ibunya. Begitu pula pada masa ketika para ibu berhenti menyusui ketika kembali aktif bekerja. Fenomena bingung puting semakin menguat justru sejalan dengan semakin sadarnya kaum perempuan di dunia untuk tetap memberikan ASI meskipun mereka adalah ibu bekerja yang sudah kembali aktif berkegiatan di luar rumah. Jadi, pahami benar korelasi antara sebuah fenomena dengan konteksnya.

15.  TANYA: Bolehkah kita menyapih bayi dari payudara dengan menggunakan dot?
JAWAB: Menyapih bayi dari ibunya dengan menggunakan dot justru memunculkan banyak masalah baru yaitu: ketagihan dot. Padahal fase kertegantungan anak pada kegiatan menghisap seharusnya sudah berakhir seiring dengan berakhirnya fase menyusui.


Berikut ini adalah tambahan penjelasan yang pernah dibuat oleh Michelle Dian Lestari Anugrah, seorang konselor laktasi tentang bagaimana proses bingung puting dapat terjadi agar paham benar apa yang sebenarnya terjadi ketika bayi Anda mengalami bingung puting.

TANYA (T) : kenapa anak saya kalau malam nyusu sampai payudara saya terasa lembek tapi masih marah sehingga harus saya kasih hasil perahan? Apakah ini artinya ASI saya tidak cukup
JAWAB (J): Betul, kalau sampai ibu harus kasih ASIP supaya anak ibu kenyang, artinya produksi ASI tidak cukup

T: Lho kok bisa begitu? Kan produksi ASI itu supply on demand? Kenapa kok demandnya lebih besar daripada supply?
J: Produksi ASI ditentukan oleh kekuatan menghisap anak, bukan seberapa kosong perutnya. Jadi kalau kebutuhan anak itu misalnya 100 cc per menyusu, tapi dia hanya mampu menghisap 60 cc, maka yg diproduksi payudara itu hanya 60 cc, sesuai dengan hisapan anak

T: Kalau gitu, kenapa anak saya hanya kuat menghisap 60 cc padahal butuhnya 100 cc?
J: Permintaan produksi ASI lewat hisapan biasanya akan terganggu saat hisapan anak melemah. Melemahnya hisapan anak disebabkan oleh penggunaan media dot, yg walaupun menyerupai puting tidak menutup resiko bingung puting. Bingung puting tahap satu ditandai dengan hisapan yg melemah, sehingga produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan anak per sesi menyusui. Tahap kedua adalah berkurangnya produksi ASi secara menyeluruh, sehingga bahkan saat diperah sekalipun hasilnya tidak sebanyak sebelumnya. Tahap ketiga adalah saat anak menolak menyusu langsung pada payudara dan hanya mau minum dari dot. Tahap keempat adalah berhentinya seluruh produksi ASI sehingga payudara tidak lagi memproduksi ASI. Seringnya ibu mengalami penyumbatan pada payudara juga salah satu gejala awal bingung puting, karena hisapan anak tidak cukup kuat untuk mengosongkan payudara

T: Tapi anak saya tidak bingung puting kok! Menyusu langsung mau, hisapannya juga kuat kok!
J: Kalau memang hisapannya kuat, berarti seharusnya anak ibu sudah cukup hanya menghisap langsung dari payudara, tidak perlu ditambal dengan ASIP lagi. Berarti itu artinya anak ibu sudah mulai bingung puting

T: Tapi bisa jadi produksi ASI berkurang, mangkanya tidak cukup buat anak saya
J: Betul, dan berkurangnya produksi ASI itu adalah tanda-tanda bingung puting juga

T: Tapi kan saya sudah pakai dot yg paling mirip dengan puting ibu?
J: Justru makin mirip dengan puting ibu makin besar kemungkinan bingung puting, karena tehnik menghisapnya berbeda. Menghisap payudara memerlukan kekuatan lidah dan rahang, perlu tenaga dan lebih sulit, sedangkan menghisap dot hanya membutuhkan daya hisap dari pengaturan pernafasan, jauh lebih mudah dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Itu yg dimaksud dengan bingung puting, saat anak tidak tahu tehnik menghisap mana yg harus dipakai utk bisa mendapatkan ASI sesuai dengan kebutuhan perutnya

T: Jadi saya harus bagaimana supaya produksi ASI tetap lancar?
J: Antara diceraikan dot dengan tuntas, tidak memakai dot utk pemberian ASIP, atau cerai payudara, hanya memberikan ASIP lewat dot tanpa menyusu langsung, yg disebut sebagai exclusive pumping, atau e-ping

T: Mana yg lebih mudah diantara keduanya?
J: Cerai dot memerlukan relaktasi dan mengajari anak minum dari spuit, pipet, sendok atau gelas. E-ping mengharuskan ibu secara disiplin memerah payudaranya setiap dua jam sekali tanpa terlewat. Mana yg lebih mudah kembali lagi pada keadaan masing-masing ibunya.

T: Kalau penggunaan nipple shield (penyambung puting) bagaimana?
J: Sama saja dengan penggunaan dot, mempunyai potensi bingung puting. Malah nipple shield berpotensi menyebabkan milk blister (lepuh susu) berupa bintil seperti jerawat yg ada di puting susu atau kulit dekat aerola, yang sakitnya ajib kalau dihisap anak, atau lecet pada puting susu, karena nipple shield membuat mulut anak tidak melekat pada payudara, dan menimbulkan milk blister atau lecet karena tekanan hisapanan anak yg terlalu kuat. Jadi sebaiknya hindari juga penggunaan nipple shield

T: Kalau empeng bagaimana?
J: Empeng juga sama seperti dot, berpotensi menyebabkan bingung puting sehingga hisapan anak melemah.

Jadi kesimpulannya, kekuatan hisapan anak bisa dilihat dari seberapa efektif anak mengosongkan payudara. Kalau memang anak efektif mengosongkan payudara, maka risiko masalah payudara tersumbat, membatu atau bengkak biasanya lebih berkurang jauh. Posisi pelekatan mulut anak pada payudara juga menentukan efektifitas hisapan anak.

Sumber asli: https://m.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/faq-seputar-bingung-puting/10153174578564778/11800288_378688038995643_6148385884336034089_n

Media Penyajian ASIP

11800288_378688038995643_6148385884336034089_n[Mabes TATC – Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta]

2 Agustus 2015

Masih dalam rangkaian Pekan ASI Sedunia yang tahun ini mengambil tema ‘Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work’, kali ini yuk kita kupas media penyajian Air Susu Ibu Perah (ASIP). ASI adalah hak anak, tetapi bagaimana ketika ibu dan bayi harus terpisah jarak atau ada kondisi lain yang membuat bayi tak bisa menyusu langsung? Pemberian ASIP menjadi jawabannya.

Nah, untuk menyajikan ASIP yang telah disiapkan agar bisa diminum oleh bayi tentunya perlu sarana atau media. Beberapa media yang bisa dipilih adalah:

1. Cangkir kecil atau sloki. Tidak harus yang bermerk/dikhususkan untuk itu sebenarnya (yang biasanya disebut cup feeder), tetapi bisa juga manfaatkan yang sudah ada. Seorang teman kuliah saya memilih gelas beling biasa, sedangkan salah satu admin di sini menggunakan tutup botol dot.

2. Sendok. Jika ada, pilih yang bahannya empuk untuk mengurangi kemungkinan menyakiti gusi atau rongga mulut bayi. Praktis dan biasanya di setiap rumah ada, sehingga cocok juga untuk yang pemberian ASIP-nya hanya temporer atau mendadak.

3. Botol sendok, ada botol sendok yang sebetulnya ditujukan untuk penyajian MPASI dengan tekstur lebih kental ketimbang ASIP, sehingga beberapa sumber tidak menyarankan untuk ASIP yang akan mengalir lebih cepat dengan ukuran lubang seperti itu.

4. Ada pula semacam botol sendok yang memang fungsinya untuk kasih ASIP, biasanya disebut dengan soft cup feeder. Ujungnya tidak selalu mirip dengan sendok memang, tapi cara kerjanya lebih kurang sama dengan botol sendok yaitu bagian badan/botol penampung ASIP atau leher ‘sendok’-nya dipencet agar cairan dalam badan/botolnya keluar.

5. Pipet tetes, bisa pakai yang sering disertakan dalam kemasan obat untuk bayi, atau beli di apotek.

6. Spuit suntikan tanpa jarum, ini juga bisa dicari di apotek. Berhubung saya tidak punya, di foto ini diwakili dengan medicine feeder yang cara kerjanya sistem piston untuk disemprotkan juga seperti suntikan.

7. Cangkir dengan corot dari bahan tidak kenyal (sippy cup/training cup dengan hard spout). Pastikan keterangan usia di kemasan sesuai dengan umur bayi saat cangkirnya akan dipakai, dan pilih yang ada katup antisedaknya.

8. Media khusus untuk kondisi tertentu seperti Haberman feeder yang diperuntukkan bagi bayi dengan bibir/langit-langit mulut yang berbeda. Terdapat pula alat bantu menyusui berupa selang kecil yang ditempelkan di payudara untuk mengalirkan ASIP saat proses relaktasi agar bayi kembali bisa menyusu langsung atau menyusu ke ibu adopsi misalnya.

Lalu, bagaimana dengan dot?

Dot adalah media penyajian untuk bayi yang tampaknya paling umum dipakai, entah itu isinya sufor, ASIP, air putih, sari buah, maupun minuman lainnya. Namun, pemakaian dot sejatinya tidak disarankan karena berbagai risiko yang ada. Jika dulu semasa saya menyusui anak pertama yang sering dikhawatirkan dan ditanyakan ibu-ibu lalu mendorong munculnya berbagai saran adalah ‘bagaimana agar bayi tidak bingung puting?’ dalam arti tips supaya bayi tetap mau menyusu langsung meskipun saat berjauhan dari ibu diberi dot, belakangan risiko lain mengemuka (atau sayanya saja yang kurang gaul ya sampai telat tahunya, hehehe). Jadi, ada yang diistilahkan sebagai bingung puting silent, kondisi di mana bayi tidak menolak menyusu pada payudara ibunya, tetapi produksi ASI ibu menurun. Ini dikarenakan dot merusak daya isap bayi, walhasil ASI yang terambil tidak maksimal dan ‘pengosongan’ payudara yang seharusnya mendorong ASI dibuat lagi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Belum lagi dampak lain terhadap kesehatan yang mengintai gara-gara pakai dot, antara lain infeksi telinga, masalah gigi, dan obesitas. Oh ya, cangkir bayi dengan corot kenyal/soft spout juga baiknya dihindari karena mekanismenya mirip dot. Berlaku juga untuk dot yang diklaim mirip payudara ibu, ya. Toh payudara tiap ibu (bahkan kanan-kiri pada orang yang sama) kan beda-beda ya bentuk dan ukurannya. Lagipula, irama isapan bayi yang di awal menyusu pendek-pendek cepat untuk nantinya diperlambat dan diperdalam juga tidak bisa diterapkan pada dot, termasuk dot yang dipromosikan jika dibalik isinya tidak tumpah.

Selanjutnya, bagaimana agar bayi lancar minum ASIP dengan media yang sudah dipilih? Beberapa tips di bawah ini bisa diterapkan:

1. Cari tahu dulu bagaimana cara penggunaan media yang dipilih dengan tepat. Misalnya untuk cangkir dan sendok, tempelkan ke mulut bayi agar bayi menjilat atau menyeruput sendiri, bukan ASIP-nya yang dituang ke mulut bayi. Sedangkan untuk pipet dan spuit, semprotkan ke dinding pipi bagian dalam, bukan ke kerongkongan. Posisi bayi tentu cenderung tegak, tidak boleh berbaring. Yang dikhawatirkan biasanya adalah potensi tersedak. Perlu ketelatenan dan kesabaran memang. Media penyajian ini juga bisa cocok-cocokan, oleh karenanya jika memungkinkan cobalah beberapa jenis media (yang aman), mana yang lebih nyaman bagi bayi maupun yang mengasuhnya.

2. Kalau perlu, cari video contohnya, misalnya di youtube agar bayangannya lebih jelas. Ajak orang yang nanti akan rutin menyajikan atau melatih minum ASIP-nya nonton bareng.

3. Kenapa harus nonton bareng? Karena yang (melatih) menyuapi ASIP idealnya bukan ibu. Apabila ada ‘gentong’ aslinya, bahkan sekadar tercium aromanya, bayi cenderung akan menolak ASIP. Jadi selama dilatih, ibu ngumpet dulu ya, kalau perlu keluar rumah. Seringkali perlu juga membangun bonding terlebih dahulu antara bayi dengan yang akan menyajikan ASIP-nya sehari-hari.

4. Sampaikan apa yang ibu inginkan terkait penyajian ASIP ini ke orang-orang di rumah/pengasuh (mungkin di tempat penitipan) sedini mungkin. Bisa dipahami bahwa ada kemungkinan penolakan, jadi sekali lagi sabar ya untuk menjelaskan baik-baik (atau galak-galak, hehehe, ibu yang lebih tahu karakter lawan bicara). Latih juga bayi minum ASIP sejak awal, bahkan jika belum dapat-dapat pengasuh. Setidaknya bayi sudah akrab dengan media tersebut sehingga kalaupun pengasuh baru didapat di saat-saat terakhir menjelang ibu masuk kerja (saya banget, ini!), adaptasinya tidak sulit.

5. Tawarkan ASIP ke bayi saat bayi belum lapar benar. Prinsipnya hampir sama dengan menawarkan menyusu langsung, jadi kalau bayi sudah telanjur nangis gara-gara tanda laparnya terlambat direspon, usahakan pengasuhnya tenang dulu agar bisa menenangkan bayi. Berikan ASIP setelah tangis bayi reda.

6. Sounding alias sampaikan ke bayi dengan kata-kata positif, misalnya “Anak pinter yuk kalau bunda pergi minum ASIP-nya pakai ini ya…”. Usia semuda itu bukan berarti bayi bakal tak mengerti apa yang kita sampaikan.

7. Sekali lagi, sabar dan semangat. Jika ibu menemui kesulitan, tidak ada salahnya minta tolong pihak yang kompeten seperti konselor laktasi untuk mengajari.

8. Doa, tentunya.

PhotoGrid_1438423364244

Ruh Bisa Melihat?

Kemarin saya membaca jurnal di blog mas Iwan Yuliyanto yang membahas ‘Arwah Gentayangan. Saya tertarik dengan salah satu kutipan di situ:

Apakah orang yang mati bisa melihat orang-orang yang ditinggalkannya?

Memang ada riwayat yang menyebutkan adanya ruh manusia yang melihat bagaimana orang-orang yang masih hidup memperlakukan jasadnya. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika jenazah telah siap, kemudian kaum lelaki memikulnya di atas pundak-pundak mereka, jika jenazah itu orang yang shalih ia berkata: ‘Segerakanlah aku!’, tetapi jika ia tidak shalih, ia berkata kepada keluarganya: ‘Celaka, akan kalian bawa kemana aku?’ Segala sesuatu akan mendengar suaranya selain manusia, dan andaikan manusia mendengarnya niscaya akan jatuh tersungkur.” [HR Bukhari].

Arwah tersebut HANYA melihat dan merasakan perlakuan orang-orang terhadap dirinya yang sudah mati. Selanjutnya arwah bisa melihat dan merasakan kondisi keluarga yang ditinggalkannya, apakah bahagia atau tidak. Jadi, tidak ada gunanya meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati. Sungguh itu perbuatan yang sia-sia, karena sejatinya arwah tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik memanjatkan do’a agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa arwah, dan berharap ditempatkan di tempat yang layak di akherat. Do’a anak shalih kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia insya Allah diterima.

Saya merasa nyeees membacanya. Papa kehilangan penglihatan karena glaukoma saat saya masih di SMP, dan saya masih selalu menyimpan harapan papa bisa melihat menantu dan para cucu beliau. Tahu video the blind man and his daughter (di mana sang ayah tak jadi dioperasi karena ternyata tetap tak bisa memulihkan penglihatannya)? Saya selalu menangis melihatnya –dan sebetulnya penasaran dengan endingnya karena sepertinya ada adegan yang menggantung, tapi pengunggahnya ke Youtube bilang memang cuma segitu filmnya.”I want you to see me growing up!” begitu ucap sang putri yang masih usia SD sambil berurai air mata.

Papa meninggal tahun lalu, dan karena ada hadits yang meyebut bahwa mayit yang dikuburkan bisa mendengar langkah-langkah orang yang meninggalkan lokasi, berarti ada kemungkinan indra yang sempat terhalang secara fisik duniawi bisa ‘aktif’ kembali, bukan? Wallahu a’lam sih ya. Saya pernah bertanya pada beberapa teman, dan kali ini saya pun bertanya pada mas Iwan. Jawaban beliau sebagai berikut:

Yang saya yakini, bisa kok, mbak Leila, selama kondisi ayahanda nya damai di alam barzakh. Semoga beliau senantiasa damai. Aamiin.

Begini …
Dalam buku “Ar-Ruh” karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, disampaikan banyak dalil bahwa orang yg telah meninggal dunia tahu jika di-ziarahi dan menjawab salam jika diberi salam. Kemudian, keadaan keluarganya yg masih hidup disiarkan secara live kpd kerabatnya yg telah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yg telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” [HR. Ahmad].

Hadits lainnya …

“Seluruh amal perbuatan dilaporkan kpd Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orangtua pada hari Jum’at. Mereka merasa gembira dgn perbuatan baik orang-orang yg masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang kalian yg telah meninggal dunia.” [HR. Tirmidzi].

Seperti yang saya sampaikan dalam jurnal di atas, bahwa seseorang setelah meninggal dunia, di alam barzakh HANYA akan disibukkan oleh salah satu dari dua perkara: nikmat kubur dan siksa kubur.
Bila ruh bergelimang nikmat kubur, maka ia bisa melihat & merasakan keluarga yg ditinggalkannya di dunia.
Sedangkan ruh yg mendapat siksa, akan terus disibukkan oleh siksaan shg tidak sempat lagi melihat siaran live tentang keluarga yang ditinggalkannya.
Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan hari-hari kita yang masih hidup di dunia ini tanpa memanjatkan do’a ampunan dan kelapangan tempat tinggal orang tua kita di alam barzakh. Namun, jangan lupa satu syarat penting, yaitu senantiasa menjadi anak shalih. Sebab do’a anak shalih .. bisa menembus langit. Wallahu a’lam.

Aamiiin…

Allahummaghfirlahu waafihi wa’fuanhu.

Dan semoga Allah mudahkan saya untuk bisa memenuhi syarat sebagai anak shalih.

Mengapa Tidak Ada Iklan ASI?

[copas] Kok nggak ada iklan ASI?

Melly Chairul
Yesterday at 12:30 ·
Banyak yang bertanya,, kenapa sih iklan tentang ASI dan Menyusui jarang sekali tampil di TV? Ini penjelasannya Lianita Prawindarti MinLi dari AIMI..

Sudah pernah tahu berapa hitung-hitungan pembuatan iklan di media terutama media elektronik? kalau belum, saya berikan gambarannya.

Kalau boleh saya kasih gambaran, di Indonesia saja, perusahaan sufor adalah pengiklan tertinggi dalam kategori minuman. Tahun 2011 saja total budget iklan mereka di kuartal pertama (4 bulan pertama) di tahun 2011, mencapai lebih dari 497 miliar rupiah. Hehehe, coba kalau angka ratusan milyar itu dibuat pelatihan nakes dan subsidi ke RS dan klinik agar bisa lebih pro ASI, saya rasa akan lebih sasaran, ketimbang habis sekian ratus milyar untuk kita beriklan agar bisa mengimbangi iklan iklan sufor untuk durasi iklan yang hanya 1 menit saja, tapi kalau ada masalah menyusui masyarakat kita belum dapat dukungan nakes dan konselor menyusui yang mumpuni untuk membantu kita semua.

Untuk perbandingan, anggaran Kementerian Kesehatan untuk promosi kesehatan anak dan ibu dalam satu tahun hanya 2,9 miliar. Dan angka 2,9 miliar itu bukan hanya mencakup isu ASI ya. Secara matematika keuangan negara kita (plus donasi sana sini) ga mungkin bisa menyaingi biaya iklan perusahaan sufor. Tapi justru dengan keterbatasan ini yuk kita edukasi diri sendiri dan lingkungan. Yang namanya iklan produk sudah pasti ga akan menjelek-jelekkan produknya sendiri, jadi lebih baik mulai mengedukasi lingkungan terdekat untuk lebih menggunakan logika dalam mencermati iklan-iklan produk di media, apa pun itu iklannya.

Secara logika cost dan benefit, pembuatan iklan dengan budget yg besar besaran sebetulnya tidak tepat sasaran. Yuuk, kita coba kalkulasikan kira-kira masuk akal nggak.

Pertama, yang kita lawan, minimal ada 5 perusahaan sufor yg wira-wiri di TV setiap hari. Minimal, ya. Katakanlah satu perusahaan ngiklan 3 kali per hari, berarti kita mesti ngiklan setidaknya 15 kali sehari agar secara frekuensi bisa mengimbangi secara kuantitas. Itu baru di satu stasiun TV, kita punya banyak stasiun tv nasional.

Membuat video iklannya bisa jadi terjangkau secara finansial, tapi membayar slot timing penayangannya untuk jangka panjang, anggaran Kemenkes untuk semua masalah kesehatan per tahun semua dialihkan ke iklan ga akan bisa menutup costnya Apa mau gara2 iklan ASI kita jadi ga punya obat murah? mesti bayar kalau mau nimbang ke posyandu? mesti bayar mahal utk imunisasi di puskesmas? Ya jangan sampai, kan? Ada banyak kebutuhan kesehatan lain yang juga penting untuk diatasi pemerintah kita dengan dananya yang terbatas…

Sementara kami di AIMI ini semua pendanaannya kami cari lewat sumber-sumber yang “aman”. Tidak dari perusahaan sufor dan dot, tidak boleh dari perusahaan-perusahaan negative list yang punya saham sufor dan dot, tidak boleh dari parpol. Karena AIMI non profit dan non partisan. Mau cari dana untuk buat event seminar saja sulitnya setengah mati. Apalagi mau bicara membuat iklan yang bisa mengimbangi iklan sufor. Sementara dari pemerintah pun dananya juga terbatas sekali.

Jadi, alih-alih heboh buat iklan yang durasinya pendek dan efektivitasnya tidak terukur serta biayanya besar sekali, plus bayar slot iklannya di TV yang luar biasa mahaal, kita memilih jalur-jalur yang lebih kreatif dengan edukASI publik dan pemberdayaan sumber daya manusia.

Kedua, dengan uang sebanyak itu, kenapa tidak digunakan untuk sesuatu yang lebih strategis, misal: subsidi ke RS dan klinik bidan agar nakes-nakesnya bisa ikut pelatihan manajemen laktasi. Itu sudah bisa mengcover banyak provinsi, banyak RS, banyak nakes se-Indonesia.

Ketiga, isu menyusui tidak hanya berhenti di masalah edukasi apakah kita memberi asi atau sufor utk si kecil, tapi apa yang terjadi jika ada masalah menyusui. Kalaupun sudah banyak orang yang memutuskan menyusui tapi kemudian ketika ada masalah menyusui dan nakesnya tidak paham tentang bagaimana membantu ibu menyusui, bagaimana membantu menyelesaikan masalahnya, ya percuma juga kan?

Keempat, sufor bisa membuat iklan seperti itu karena mereka adalah perusahaan multinasional, beroperasi di seluruh dunia. Keuntungan mereka sebagian besar lari ke promosi dan iklan. Sementara gerakan AIMI dan gerakan-gerakan sejenis sifatnya sukarela, nonbisnis.

Oiya, AIMI dengan segala keterbatasan sumber dayanya sudah beberapa kali membuat video promosi dan edukASI:

Tambahan: iklan dari Kemenkes yang sempat cukup sering diputar di televisi https://m.youtube.com/watch?v=BgRxvGPWrrQ

Ini dari Kemenkes juga, tapi kurang tahu apakah diputar di TV https://m.youtube.com/watch?v=PweIcg03XX4

Maternity Room di Kantorku

Awal Desember 2011 saya melangkahkan kaki dengan sedikit waswas ke gedung yang masih asing ini. Betapa tidak, inilah hari pertama saya resmi menyandang status sebagai ibu bekerja. Berhubung saya mendapatkan SK mutasi kemari saat masih cuti bersalin, salah satu hal yang menggelayuti benak saya adalah, “Nanti merah ASI-nya gimana?”. Maklum, saya sering membaca kisah pegawai wanita yang bahkan sampai harus memerah ASI di toilet kantor gara-gara tak ada tempat yang memadai untuk kegiatan yang idealnya perlu ruangan yang bersih dan nyaman itu. Alhamdulillah, ternyata malah sudah ada beberapa ‘mamaperah’ lain di kantor baru saya itu, KPPN Jakarta I. Biasanya mereka memerah ASI di musholla khusus wanita, dan ada pula kulkas untuk menyimpan ASI perah walaupun masih bercampur dengan bahan makanan/minuman milik pegawai lainnya. Memasuki tahun 2012 saya dan beberapa teman kasak-kusuk setelah saya membaca komentar teman bahwa di KPPN Malang ada ruang khusus untuk memerah ASI. Salah satu teman sekantor sesama busui kemudian mengonfirmasi kabar tersebut kepada rekan lain, dan dijawab bahwa sebetulnya ada kok aturan tentang keberadaan ruang memerah ASI. Usut punya usut ternyata instansi eselon I kami memang telah mengeluarkan panduan standar tata ruang/desain bangunan untuk kantor perwakilan dan kantor pelayanan, di dalamnya termasuk keberadaan Maternity Room. Alhamdulillah kantor saya yang memang sedang mengadakan renovasi langsung mengadaptasi panduan tersebut, jadi kami bisa memerah ASI secara lebih privat. mr2mr5mr3mr4 (sumber: https://kppntanjungbalai.files.wordpress.com/2013/12/pedoman-layout-design-bangunan-kppn.pdf) 475632_3751040460781_207023486_o904760_10201238323226348_699611683_o Setahun kemudian, kantor saya mengikuti semacam seleksi kantor pelayanan terbaik. Maternity room ikut kecipratan berkah dan dipercantik. Lantainya dilapisi karpet empuk dan yang paling menyenangkan adalah tersedia lemari es mungil yang sudah cukup memadai untuk kebutuhan kami. Nah, tahun ini rencananya akan ada perubahan layout kantor lagi yang cukup signifikan. Maternity room kabarnya juga akan dipindah dan dilengkapi kulkas yang lebih besar. Penasaran dengan hasil akhirnya yang dengar-dengar akan siap digunakan bulan depan. Mungkin memang tak selengkap seperti yang disyaratkan dalam Permenkes Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu, tetapi semoga tetap menambah nyaman dan semangat saat harus memompa ASI ya :).

[Kliping] Dokter Keluarga… atau Dokter Umum?

Lagi pengin menulis tentang dokter keluarga kami… tapi lalu jadi browsing sana-sini dan menemukan beberapa tulisan menarik mengenai definisi dokter umum dan dokter keluarga. Dikliping di sini saja dulu ya sebelum mulai cerita :). Ada beberapa tulisan lama yang memang jadinya sedikit memperkaya sudut pandang mengenai peranan dokter umum maupun dokter keluarga. Kedua istilah ini, samakah? Atau ada perbedaannya?

Penjelasan yang lebih lengkap dan terstruktur ada di sini http://familymedicine.ugm.ac.id/dokter-keluarga-dalam-sistem-kesehatan/.

================================================================================================

Selama ini, Prijo menilai ada yang salah pada sistem rujukan yang berlaku di Indonesia. Di mana pasien baru sering langsung berobat ke dokter spesialis maupun super-spesialis.

“Itu tidak benar. Di negara manapun, sistem itu tidak ada. Kecuali di Indonesia,” tegasnya. Oleh karena itu, Prijo berniat ingin mengubah sistem tersebut. Sistem pelayanan primer, katanya pula, harus dimotori oleh dokter umum.

Menurut Prijo, sistem yang salah selama ini telah mengakibatkan kekacauan. Dokter spesialis menerima pasien secara langsung tanpa rujukan. Akibatnya, banyak dokter umum yang menganggur, karena ‘lahan’ mereka diambil alih dokter spesialis.
(http://www.jpnn.com/m/news.php?id=55353)

Jika sakit melanda, kebanyakan orang Indonesia segera mengunjungi dokter spesialis favorit. Tentu ini bukanlah hal yang buruk, tetapi bisa juga dikatakan kurang perlu. Kok bisa? “Hari gini masih banyak orang sakit yang langsung ke dokter spesialis langganannya, meski seorang dokter umum bisa menanganinya,” kata dr. Nurlan Silitonga, pendiri sekaligus pemilik Klinik Angsamerah yang berlokasi di bilangan Blora, Jakarta Pusat.

Menurutnya, dokter umum sebetulnya memiliki peran yang sama pentingnya dengan dokter spesialis, yang berbeda hanya kompetensinya. Datang ke dokter umum akan memberikan manfaat pada sang pasien dan juga sang dokter spesialis. Mengapa demikian? Karena dokter umum terlatih untuk menangani penyakit umum seperti flu, alergi ataupun penyakit infeksi lainnya, dengan datang ke dokter umum, biaya lebih murah, mungkin saja lebih dekat rumah atau kantor, dan tidak harus menunggu lama atau ngantri, karena mungkin banyaknya jumlah pasien di tempat sang dokter spesialis.

Saat ini masyarakat belum banyak mengetahui, bahwa dokter umum itu dilatih untuk bisa menyaring apakah kasus penyakit sang pasien membutuhkan tindakan dan pengobatan dari seorang dokter spesialis, termasuk pemilihan rujukan ke dokter spesialis yang tepat. Melalui dokter umum, sang pasien bisa langsung bertemu dengan dokter spesialis yang tepat, dari pada sang pasien yang berkeliling mencari sendiri beberapa dokter spesialis, dan membuat stress pasien, menghabiskan waktu dan biaya dan juga mungkin tindakan medis yang berulang dan tidak perlu.

Melalui rujukan dokter umum, seorang dokter spesialis akan terbantukan karena banyak informasi kesehatan dasar sudah disediakan oleh dokter umum, dan dokter spesialis hanya menambahkan menggali beberapa informasi lain yang lebih spesifik, dan bisa lebih menfokuskan keahliannya pada tindakan dan pengobatan, sehingga pasien bisa tertangani dengan baik. Bahkan ketika sudah tertangani dengan baik, mungkin untuk follow up, dengan seijin dokter spesialis, sang dokter umum yang kemudian bisa melanjuti.

So, tidak semua penyakit mesti segera dibawa ke dokter spesialis. Dr. Nurlan menyarankan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter umum. Syukur-syukur penyakit Anda cukup ditangani oleh dokter umum tersebut. Pun jika tidak, dokter umum akan menyarankan tindakan yang lebih sesuai atau merujuk ke dokter spesialis yang tepat.

http://howmoneyindonesia.com/2013/12/01/saat-sakit-tetaplah-cerdas-menentukan-yang-terbaik-untuk-diri-anda/

Pertanyaan ini saya baca di sebuah buku yang diterbitkan oleh sebuah tabloid anak ternama ibukota. Menarik sekali. Salah satu bagian buku itu menulis: “Apakah anak harus dibawa ke dokter spesialis anak (dr, SpA) ataukah cukup ke dokter umum (dr,) saja?” Jawaban di buku: “bila di sekitar rumah ada dokter spesialis anak (DSA) atau kita membayar dokter yang lebih memahami penyakit anak, sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis anak saja. Sebab, DSA lebih memahami masalah penyakit pada anak, karena mereka sudah dibekali ilmu lebih banyak dibandingkan dokter umum biasa. Diharapkan, dengan pemahaman yang lebih tinggi, anak bisa tertangani lebih baik”. Dst dst.

Bagaimana menurut Anda jawaban di atas? Ini pendapat saya pribadi. Dokter menjalani pendidikan selama 6 tahun mulai dari ilmu kedokteran dasar sampai penerapannya pada manusia, dan tata laksana penyakit-penyakitnya. Termasuk ilmu kesehatan anak. Jawaban di atas agak klise (ngambang) menurut saya. Karena bisa saja orang memahami bahwa dokter (umum) kurang tepat dalam menangani masalah kesehatan anak. Bawa saja langsung ke spesialis. Lalu apa yang sudah dipelajari dokter umum enam tahun lamanya?

Dokter spesialis dibentuk untuk menangani kasus-kasus yang tidak dapat ditangani oleh dokter (umum). Artinya, dokter memiliki kompetensi dasar untuk semua kasus, mulai dari kasus kesehatan anak, penyakit dalam, kebidanan-kandungan, bedah, dst. Namun ada kasus-kasus rujukan yang harus ditangani oleh dokter spesialis. Makanya setiap profesi memiliki standar kompetensinya masing-masing. Jika dokter umum melakukan hal-hal di luar standar kompetensinya, maka bisa terjerat pasal dalam Undang-undang Praktik Kedokteran tahun 2004. Mayoritas kasus kesehatan anak di masyarakat adalah penyakit harian (common problems) seperti demam, batuk-pilek, mencret/diare, dan masih banyak lagi yang tentunya cukup ditangani dokter umum. Namun jika ada masalah kecurigaan penyakit jantung bawaan, gangguan perkembangan, keganasan, dan banyak kasus rujukan lain, tentu prosedurnya adalah dokter merujuk ke dokter spesialis. Tapi tak dapat dielakkan memang di Indonesia konsumen kesehatan bisa memilih untuk datang langsung ke dokter spesialis tanpa melalui dokter umum terlebih dahulu. Beda dengan di negara-negara maju. Dengan kata lain, mekanisme referral system (rujukan) memang belum berjalan di negara kita. Pun tak dapat dipungkiri apa yang tertanam dalam pemahaman masyarakat perkotaan umumnya adalah, datangi langsung dokter yang sesuai dengan spesialistiknya, tanpa harus ke dokter umum terlebih dahulu, jika mampu (bayarnya).

Sampai-sampai guru-guru yang mendidik calon dokter anak di sekolah saya bilang, ”Jangan sampai kamu nanti lulus cuma jadi spesialis batuk pilek mencret”. Itupun juga ngobatinnya masih nggak benar, timpal guru saya yang lain. Sakit ringan diresepkan antibiotika tidak sesuai indikasi. Dalam hati saya pun membalasnya, habis mau gimana lagi, yang datang ke dokter anak kebanyakan memang kasusnya batuk pilek mencret.

Lalu kalau anak sakit gigi, apakah langsung ke dokter gigi anak (drg, SpKGA) atau cukup ke dokter gigi umum (drg,) saja? Buku itu menjawab: “sebaiknya ke dokter gigi anak, karena mereka dibekali pengetahuan mengenai spesifikasi pertumbuhan dan perawatan gigi anak. Pendidikan spesialis dijalani selama 3-4 tahun bla bla bla”

Lagi-lagi, ini opini saya pribadi. Melihat istri saya yang dokter gigi umum, saya jadi tahu persis kemampuan seorang dokter gigi (umum) dalam menangani kasus-kasus gigi anak. Pengalaman menata laksana ratusan siswa SD dalam UKGS di beberapa sekolah di pelosok Sumatera saat PTT, dan menghadapi pasien-pasien anak di bawah lima tahun di praktik rumah, membuat saya memahami kompetensi mereka. Tetapi tentu saja, selalu ada kasus-kasus yang harus ditangani SpKGA. Dokter gigi harus merujuk kasus-kasus ini ke sejawat spesialis mereka.

Those are all my personal opinion. Saya sama sekali tidak mengajak pembaca untuk menjauhi dokter spesialis dalam kunjungan pertama. It’s all up to you. Yang saya ajak adalah agar para pasien (baca: konsumen kesehatan) menjaga dokter tetap bertindak rasional. Tidak jarang pasien minta diberikan obat padahal dokter merasa tidak perlu. Cukup sering konsumen kesehatan minta resep antibiotika padahal dokter sudah menjelaskan bukan indikasinya. Khawatir kehilangan pasien, dokter pun kadang “tunduk” pada keinginan kliennya ini.

Pelajari dasar-dasar ilmu kesehatan dengan baik. Ajak diskusi dokter anak dengan bekal ilmu ini. Alasan lain pentingnya mempelajari dasar-dasar ilmu kesehatan ini adalah orangtua menjadi tahu, kapan sih harus ke dokter. Pada akhirnya, konsumen kesehatan memahami bahwa batuk-pilek, mencret, demam tanpa gejala berat, dan masih banyak penyakit lain sebenarnya tidak perlu dibawa ke dokter sama sekali. Ke dokter umum sekalipun. Just wait and observe, gejalanya akan self limiting (hilang sendiri). Ini sudah terbukti pada banyak sekali orangtua yang memiliki kemauan kuat belajar ilmu kesehatan, dan mempraktikannya pada diri sendiri dan keluarganya. Mudah-mudahan layanan kesehatan negara kita menjadi lebih baik kelak. Amin.

(http://arifianto.blogspot.com/2008/01/kalau-anak-sakit-berobat-ke-dokter-anak.html) — ditulis ketika dr. Apin masih menempuh pendidikan dokter spesialis anak :).

Memasuki bulan ketiga era Jaminan Sosial yang berlaku sejak 1 Januari 2014, telah banyak perubahan dalam sistem asuransi sosial. Seperti misalnya perubaan pola pembayaran ke pelayanan kesehatan dari fee for service menjadi kapitasi pada Puskesmas dan InaCBGs (Indonesia Case Base Group) pada RS.

Tak cukup sampai disitu, pola pelayanan jasa kesehatan pun berubah sesuai tingkatan Fasilitas Kesehatannya. Mulai dari pelayanan kesehatan primer puskesmas) hingga tersier (RS). Hal ini juga otomatis mengubah fungsi seorang dokter karena adanya alih fungsi bagi dokter umum yang melayani pasien di pelayanan kesehatan primer.

Karena adanya perubahan tersebut, kini muncul program dokter layanan primer yang disebut-sebut akan setara dan mendapat pengakuan dari dunia medis sebagai spesialis yang akan melayani pasien di layanan primer. Tapi meninjau hal tersebut, jadi apa yang membedakan dokter spesialis, dokter umum dengan dokter layanan primer?

Menurut Direktur Utama RS Cipto Mangunkusumo, Dr. dr. Czeresna. H. Soedjono, Sp.PD-KGer, yang membedakan dokter spesialis, dokter umum dan dokter layanan primer adalah kompetensi, area dan pekerjaannya.

“Dibanding dokter umum biasa, dokter layanan primer memiliki 10 atau 11 item yang akan membedakan bukan hanya jenis area kompetensinya saja tapi bagaimana pendekatan kepada pasien dalam masalah kesehatan. Misalnya, dokter yang mengobati batuk pilek di layanan primer. Dia harus periksa dan menetapkan obat ini. Mungkin dokter umum akan langsung memberikan obat tapi dokter layanan primer tidak begitu,” kata Czeresna saat ditemui dalam acara Dies Natalis Universitas Indonesia ke 64 di UI Salemba, Jakarta, Rabu (5/3/2014).

Czeresna menerangkan, dokter layanan primer tidak akan memberikan obat langsung karena dia akan mencari tahu lebih dalam lagi mengenai sebab pasien batuk pilek. Seperti faktor-faktor apa yang menyebabkan pasien batuk pilek. Apakah virusnya dari diri sendiri, keluarga, lingkungan atau sekitar rumahnya ada yang mengalami batuk pilek. Kemudian apakah batuk pilek ang dialami hanya sekali atau berulang dan tidak pernah terpikirkan oleh dokter sebelumnya.

“Dokter layanan primer akan melakukan penelusuran lebih dalam dan approach lebih baik lagi sehingga pengobatan juga secara komperhensi akan lebih baik lagi,” ujarnya.

Untuk pendidikan dokter layanan primer, Czeresna melanjutkan, perlu waktu 2-3 tahun untuk setiap angkatannya dengan bobot 50-90 SKS. Dan saat ini, proses pendidikan ini masih dalam tahap penyusunan standar kompetensi dan membutuhkan waktu sekitar 5 tahun. Artinya, dokter layanan primer baru ada pada 2019.

“Nanti proses pendidikan akan mengacu pada RSCM karena idealnya mereka (dokter layanan primer) akan bekerja di pelayanan primer dan bukan berarti tidak perlu mengenal RS. Mereka perlu mengenal proses di RS agar mereka tahu betul apa yang terjadi di RS. Ketika mereka mengetahui bagaimana komunikasinya, barulah diterjunkan ke komunitas,” ujarnya.

Setara dengan spesialis

Untuk menjadi dokter layanan primer, Czeresna menyampaikan bahwa semua dokter umum berpotensi menjadi dokter layanan primer karena dia setara dengan spesialis.

“Dalam kedokteran tidak boleh ada 2 spesialis. Dokter layanan primer itu setara spesialis,” katanya.

Sebelumnya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sendiri baru akan membuka program pendidikan dokter layanan primer pada 2016. Nantinya, dokter layanan primer akan memiliki gelar dokter Sp. FM (Family Medicine-dokter keluarga).

(http://health.liputan6.com/read/2018835/ini-bedanya-dokter-layanan-primer-dengan-dokter-umum-spesialis-di-era-jkn)

Sistem pendidikan kedokteran di Indonesia akan cukup banyak berubah setelah disahkannya Undang-Undang Pendidikan Kedokteran (UU Dikdok) Nomor 20 Tahun 2013 pada awal Agustus tahun ini. Penegasan Alur Pendidikan Dokter Alur pendidikan kedokteran yang ada saat ini masih tidak standar antaruniversitas. Anda mungkin pernah mendengar ada dokter yang sudah disumpah dokter, lalu tidak lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sehingga ia terkatung-katung menjadi Dokter yang tak bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dan ia akhirnya tidak bisa praktik. Dalam UU Dikdok ditegaskan bahwa seorang mahasiswa kedokteran harus mengikuti pendidikan sarjana kedokteran kemudian dilanjutkan pendidikan profesi dokter (koas), lalu harus lulus UKDI terlebih dahulu baru dapat diangkat sumpahnya sebagai dokter. Kemudian ia mendapatkan STR dan melanjutkan 1 tahun internsip atau magang di rumah sakit dan puskesmas. Dokter Praktik Umum Menjadi Spesialisasi Setelah internsip apakah ia dapat langsung membuka praktik? Menurut UU Dikdok, kelak ada yang berubah. UU yang harus laksanakan paling lambat 2 tahun lagi yaitu Agustus 2015 ini mengatakan bahwa untuk membuka layanan praktik umum (atau dalam UU disebut layanan primer), seorang dokter harus mengikuti pendidikan dokter layanan primer (DLP) yang setingkat dengan pendidikan spesialis. Maka setelah UU ini berjalan, dokter yang baru lulus dari masa internsip tidak bisa membuka praktik jika tidak mengikuti pendidikan spesialis baik untuk layanan primer maupun di atasnya (seperti spesialis penyakit dalam, kebidanan, bedah, dan lainnya). Menurut dr. Erfen G Suwangto, yang juga merupakan pengurus Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), pendidikan DLP ini direncanakan program setara spesialis, yang sesuai amanat UU DIkdok, diselenggarakan oleh fakultas kedokteran berakreditasi tertinggi yaitu A. Pendidikan DLP akan kurang lebih ditempuh dalam 2 tahun, dan lulusannya direncanakan diberi gelar SpFM (spesialis Famili Medisin). dr. Erfen menambahkan, “(Pendidikan DLP-ed) ini bukan untuk mempersulit (dokter umum), tetapi untuk meningkatkan kompetensi dokter layanan primer dan meningkatkan derajat dokter layanan primer itu sendiri, termasuk dalamm hal insentif dan renumerasi. Serta untuk menekan angka kesakitan penduduk sehingga anggaran negara tidak membengkak. Karena DLP ini harus menguasai 155 penyakit yang merupakan 80 persen masalah kesehatan di masyarakat.” Dokter Selesai Internsip Sebagai Stem Cell Seseorang dapat disebut sebagai profesi dokter apabila ia sudah internsip dan mendapatkan STR. Namun sekali lagi, dengan UU Dikdok dijalankan, ia belum dapat membuka praktik. Apakah dengan demikian dokter dalam tahap ini tidak bisa bekerja? Menurut dr. Erfen, dokter ini tetap dapat bekerja namun bukan sebagai klinisi atau membuka praktik. Dokter tersebut dapat bekerja sebagai dokter manajerial, atau mengambil pendidikan lain seperti sebagai peneliti, dan lainnya. Jadi dokter pada tahap ini disebut sebagai stem cell atau sel punca yang masih bisa mengarah ke klinisi dan non-klinisi. Bagaimana Nasib Dokter Umum Lama? Walaupun masih belum ditetapkan, rencananya dokter umum lulusan sebelum UU ini diterapkan akan menjalani proses pemutihan baik dengan pendidikan singkat untuk penyegaran atau dengan mengikuti pendidikan DLP tersebut. Proses pemutihan ini dilakukan agar semua dokter mendapatkan kompetensi sebagai SpFM. Bagaimana dokter umum lama yang sulit untuk mengikuti SpFM? dr. Erfen mengatakan, mereka tetap dapat melakukan praktik layanan primer. Ia juga mencontohkan bahwa proses pemutihan ini juga serupa yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Jadi, jika ingin menjadi dokter praktek umum setelah UU ini berjalan, seorang mahasiswa harus menyiapkan waktu paling tidak 8-9 tahun, dengan perincian 3-4 tahun pendidikan Sarjana Kedokteran, 2 tahun pendidikan koas, 1 tahun internsip, dan 2 tahun pendidikan DLP (SpFM).
(http://www.tanyadok.com/berita/dokter-praktik-umum-akan-setara-spesialis)

Kendati demikian, tidak berarti dokter spesialis juga tidak merugi. Pasalnya, menurut Prijo, kompetensi mereka yang sesungguhnya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal dengan mengerjakan pasien-pasien yang sejatinya bisa ditangani dokter umum.

Menyusui Sambil Tiduran Miring

Copas dari grup fb AIMI:

https://m.facebook.com/groups/10676814777?view=permalink&id=10152742770469778&p=10&refid=18

Apakah benar menyusui dengan posisi tidur miring (side-lying) tidak diperbolehkan? Jika tidak diperbolehkan mengapa, jika diperbolehkan bagaimana caranya?

Menyusui sambil tidur miring (side-lying) DIPERBOLEHKAN. Bayi baru lahir ke dunia saja sudah diajari menyusu dengan posisi tidur tengkurap ala posisi IMD. Di berbagai literatur, posisi menyusui side lying atau tidur miring bahkan dianjurkan utk mereka yang baru saja menjalani operasi cesar. Sebagaimana SEMUA posisi menyusui, tetap ada syaratnya: pelekatan menyusui harus tepat. Apa pun posisi menyusuinya, yang penting pelekatan harus tepat. Itu yang SELALU kami tekankan ke semua member. Untuk posisi menyusui tidur miring, posisi pelekatan yang tepat berarti perut ibu harus menempel pada perut bayi, badan bayi seluruhnya menghadap ke badan Ibu (saling berhadapan), dan jangan lupa posisi tubuh ibu dan bayinya sama tinggi, kalau tidak ya tidak bisa melekat dengan baik. Detail tentang posisi dan pelekatan menyusui ada di dokumen grup (ini link-nya: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/seputar-posisi-dan-pelekatan-menyusui/10151641563564778, gambarnya ada di album foto grup: https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.10152199207654778&type=1. Dengan pelekatan yg benar, itu akan mencegah hidung bayi tertutup payudara ibu, meminimalisir bayi tersedak, dan mencegah ASI mengalir ke mana2 termasuk ke telinga, dan sebagainya. Kuncinya, APA PUN POSISI MENYUSUINYA, PELEKATANNYA HARUS SELALU PAS:). Kalau aliran tidak pas, posisi apa pun bisa membuat aliran ASI-nya ke mana2, membuat bayi tersedak. Coba Anda bayangkan ketika menyusui dengan posisi duduk yang cradle hold atau mendekap. Sebetulnya posisi bayi sama saja kok dengan yang menyusui dengan tidur miring, seluruh badan bayi harus menghadap ke ibu, berarti bayi sepenuhnya miring kan? Sama dengan posisi menyusui sambil tiduran. Tidak ada bedanya. Bedanya hanya kalau cradle, tubuh bayi disangga tangan dan lengan ibu. Kalau di posisi tidur miring coba cari ganjal bantal atau selimut misalnya biar posisi sama tinggi. Tangan ibu juga tetap bisa menyangga tubuh bayi jika ingin. Jadi kalau argumennya menyusui dengan tidur miring ASI bisa masuk telinga atau bisa membuat tersedak ya dengan posisi cradle yang biasa digunakan dalam posisi duduk pun bisa demikian.

Menyusui dengan posisi tidur miring (side lying) direkomendasikan di berbagai literatur tentang menyusui di seluruh dunia. Bagi mereka yang tidak mendapatkan pelatihan khusus tentang menyusui dan berbagai detailnya memang banyak yang tidak memahami ini. Silakan Anda cek berbagai literatur tentang menyusui yang dibuat oleh berbagai lembaga internasional, baik lembaga formal negara (yang kami contohkan di sini adalah: American Academy of Pediatrics atau Asosiasi Dokter Anak Amerika Serikat yang menyarankan posisi ini setelah kelahiran cesarian:http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/breastfeeding/pages/Breastfeeding-After-Cesarean-Delivery.aspx. Atau sumber dari support grup menyusui yang sudah mendunia yaitu La Leche League (LLL): http://www.llli.org/faq/positioning.html. Atau coba cek sumber dari asosiasi menyusui di berbagai negara, salah satunya Australia: https://www.breastfeeding.asn.au/bf-info/early-days/breastfeeding-while-lying-down. Atau silakan baca website medis yang sangat banyak dijadikan referensi di AS: http://www.askdrsears.com/topics/feeding-eating/breastfeeding/rightstart-techniques/best-breastfeeding-positions. Terakhir, dan juga referensi utama para konselor menyusui yaitu modul pemberian asupan bayi yang jadi standar modul pelatihan konselor menyusui standar 40 jam sertifikasi WHO/UNICEF: http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241597494_eng.pdf (silakan cek Session 2: The Physiological Basis of Breastfeeding, halaman 15, Figure 9), di sana ada gambarnya juga dan ada catatan ttg bagaimana memposisikan ibu dan bayi agar tercipta pelekatan yang benar. Jika ibu masih baru dalam keadaan habis melahirkan, masih lemas, masih kelelahan, menyusui dalam posisi apa pun harus dengan pendampingan ya atau pastikan posisi bayi dalam keadaan yang aman. Posisi menyusui apa pun itu harus aman dan nyaman baik untuk ibu dan untuk bayinya. Jadi sekali lagi, jangan salahkan posisinya ya, selama dilakukan dengan pelekatan yang benar.