Ruh Bisa Melihat?

Kemarin saya membaca jurnal di blog mas Iwan Yuliyanto yang membahas ‘Arwah Gentayangan. Saya tertarik dengan salah satu kutipan di situ:

Apakah orang yang mati bisa melihat orang-orang yang ditinggalkannya?

Memang ada riwayat yang menyebutkan adanya ruh manusia yang melihat bagaimana orang-orang yang masih hidup memperlakukan jasadnya. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika jenazah telah siap, kemudian kaum lelaki memikulnya di atas pundak-pundak mereka, jika jenazah itu orang yang shalih ia berkata: ‘Segerakanlah aku!’, tetapi jika ia tidak shalih, ia berkata kepada keluarganya: ‘Celaka, akan kalian bawa kemana aku?’ Segala sesuatu akan mendengar suaranya selain manusia, dan andaikan manusia mendengarnya niscaya akan jatuh tersungkur.” [HR Bukhari].

Arwah tersebut HANYA melihat dan merasakan perlakuan orang-orang terhadap dirinya yang sudah mati. Selanjutnya arwah bisa melihat dan merasakan kondisi keluarga yang ditinggalkannya, apakah bahagia atau tidak. Jadi, tidak ada gunanya meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati. Sungguh itu perbuatan yang sia-sia, karena sejatinya arwah tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik memanjatkan do’a agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa arwah, dan berharap ditempatkan di tempat yang layak di akherat. Do’a anak shalih kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia insya Allah diterima.

Saya merasa nyeees membacanya. Papa kehilangan penglihatan karena glaukoma saat saya masih di SMP, dan saya masih selalu menyimpan harapan papa bisa melihat menantu dan para cucu beliau. Tahu video the blind man and his daughter (di mana sang ayah tak jadi dioperasi karena ternyata tetap tak bisa memulihkan penglihatannya)? Saya selalu menangis melihatnya –dan sebetulnya penasaran dengan endingnya karena sepertinya ada adegan yang menggantung, tapi pengunggahnya ke Youtube bilang memang cuma segitu filmnya.”I want you to see me growing up!” begitu ucap sang putri yang masih usia SD sambil berurai air mata.

Papa meninggal tahun lalu, dan karena ada hadits yang meyebut bahwa mayit yang dikuburkan bisa mendengar langkah-langkah orang yang meninggalkan lokasi, berarti ada kemungkinan indra yang sempat terhalang secara fisik duniawi bisa ‘aktif’ kembali, bukan? Wallahu a’lam sih ya. Saya pernah bertanya pada beberapa teman, dan kali ini saya pun bertanya pada mas Iwan. Jawaban beliau sebagai berikut:

Yang saya yakini, bisa kok, mbak Leila, selama kondisi ayahanda nya damai di alam barzakh. Semoga beliau senantiasa damai. Aamiin.

Begini …
Dalam buku “Ar-Ruh” karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, disampaikan banyak dalil bahwa orang yg telah meninggal dunia tahu jika di-ziarahi dan menjawab salam jika diberi salam. Kemudian, keadaan keluarganya yg masih hidup disiarkan secara live kpd kerabatnya yg telah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yg telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” [HR. Ahmad].

Hadits lainnya …

“Seluruh amal perbuatan dilaporkan kpd Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orangtua pada hari Jum’at. Mereka merasa gembira dgn perbuatan baik orang-orang yg masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang kalian yg telah meninggal dunia.” [HR. Tirmidzi].

Seperti yang saya sampaikan dalam jurnal di atas, bahwa seseorang setelah meninggal dunia, di alam barzakh HANYA akan disibukkan oleh salah satu dari dua perkara: nikmat kubur dan siksa kubur.
Bila ruh bergelimang nikmat kubur, maka ia bisa melihat & merasakan keluarga yg ditinggalkannya di dunia.
Sedangkan ruh yg mendapat siksa, akan terus disibukkan oleh siksaan shg tidak sempat lagi melihat siaran live tentang keluarga yang ditinggalkannya.
Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan hari-hari kita yang masih hidup di dunia ini tanpa memanjatkan do’a ampunan dan kelapangan tempat tinggal orang tua kita di alam barzakh. Namun, jangan lupa satu syarat penting, yaitu senantiasa menjadi anak shalih. Sebab do’a anak shalih .. bisa menembus langit. Wallahu a’lam.

Aamiiin…

Allahummaghfirlahu waafihi wa’fuanhu.

Dan semoga Allah mudahkan saya untuk bisa memenuhi syarat sebagai anak shalih.

Mengapa Tidak Ada Iklan ASI?

[copas] Kok nggak ada iklan ASI?

Melly Chairul
Yesterday at 12:30 ·
Banyak yang bertanya,, kenapa sih iklan tentang ASI dan Menyusui jarang sekali tampil di TV? Ini penjelasannya Lianita Prawindarti MinLi dari AIMI..

Sudah pernah tahu berapa hitung-hitungan pembuatan iklan di media terutama media elektronik? kalau belum, saya berikan gambarannya.

Kalau boleh saya kasih gambaran, di Indonesia saja, perusahaan sufor adalah pengiklan tertinggi dalam kategori minuman. Tahun 2011 saja total budget iklan mereka di kuartal pertama (4 bulan pertama) di tahun 2011, mencapai lebih dari 497 miliar rupiah. Hehehe, coba kalau angka ratusan milyar itu dibuat pelatihan nakes dan subsidi ke RS dan klinik agar bisa lebih pro ASI, saya rasa akan lebih sasaran, ketimbang habis sekian ratus milyar untuk kita beriklan agar bisa mengimbangi iklan iklan sufor untuk durasi iklan yang hanya 1 menit saja, tapi kalau ada masalah menyusui masyarakat kita belum dapat dukungan nakes dan konselor menyusui yang mumpuni untuk membantu kita semua.

Untuk perbandingan, anggaran Kementerian Kesehatan untuk promosi kesehatan anak dan ibu dalam satu tahun hanya 2,9 miliar. Dan angka 2,9 miliar itu bukan hanya mencakup isu ASI ya. Secara matematika keuangan negara kita (plus donasi sana sini) ga mungkin bisa menyaingi biaya iklan perusahaan sufor. Tapi justru dengan keterbatasan ini yuk kita edukasi diri sendiri dan lingkungan. Yang namanya iklan produk sudah pasti ga akan menjelek-jelekkan produknya sendiri, jadi lebih baik mulai mengedukasi lingkungan terdekat untuk lebih menggunakan logika dalam mencermati iklan-iklan produk di media, apa pun itu iklannya.

Secara logika cost dan benefit, pembuatan iklan dengan budget yg besar besaran sebetulnya tidak tepat sasaran. Yuuk, kita coba kalkulasikan kira-kira masuk akal nggak.

Pertama, yang kita lawan, minimal ada 5 perusahaan sufor yg wira-wiri di TV setiap hari. Minimal, ya. Katakanlah satu perusahaan ngiklan 3 kali per hari, berarti kita mesti ngiklan setidaknya 15 kali sehari agar secara frekuensi bisa mengimbangi secara kuantitas. Itu baru di satu stasiun TV, kita punya banyak stasiun tv nasional.

Membuat video iklannya bisa jadi terjangkau secara finansial, tapi membayar slot timing penayangannya untuk jangka panjang, anggaran Kemenkes untuk semua masalah kesehatan per tahun semua dialihkan ke iklan ga akan bisa menutup costnya Apa mau gara2 iklan ASI kita jadi ga punya obat murah? mesti bayar kalau mau nimbang ke posyandu? mesti bayar mahal utk imunisasi di puskesmas? Ya jangan sampai, kan? Ada banyak kebutuhan kesehatan lain yang juga penting untuk diatasi pemerintah kita dengan dananya yang terbatas…

Sementara kami di AIMI ini semua pendanaannya kami cari lewat sumber-sumber yang “aman”. Tidak dari perusahaan sufor dan dot, tidak boleh dari perusahaan-perusahaan negative list yang punya saham sufor dan dot, tidak boleh dari parpol. Karena AIMI non profit dan non partisan. Mau cari dana untuk buat event seminar saja sulitnya setengah mati. Apalagi mau bicara membuat iklan yang bisa mengimbangi iklan sufor. Sementara dari pemerintah pun dananya juga terbatas sekali.

Jadi, alih-alih heboh buat iklan yang durasinya pendek dan efektivitasnya tidak terukur serta biayanya besar sekali, plus bayar slot iklannya di TV yang luar biasa mahaal, kita memilih jalur-jalur yang lebih kreatif dengan edukASI publik dan pemberdayaan sumber daya manusia.

Kedua, dengan uang sebanyak itu, kenapa tidak digunakan untuk sesuatu yang lebih strategis, misal: subsidi ke RS dan klinik bidan agar nakes-nakesnya bisa ikut pelatihan manajemen laktasi. Itu sudah bisa mengcover banyak provinsi, banyak RS, banyak nakes se-Indonesia.

Ketiga, isu menyusui tidak hanya berhenti di masalah edukasi apakah kita memberi asi atau sufor utk si kecil, tapi apa yang terjadi jika ada masalah menyusui. Kalaupun sudah banyak orang yang memutuskan menyusui tapi kemudian ketika ada masalah menyusui dan nakesnya tidak paham tentang bagaimana membantu ibu menyusui, bagaimana membantu menyelesaikan masalahnya, ya percuma juga kan?

Keempat, sufor bisa membuat iklan seperti itu karena mereka adalah perusahaan multinasional, beroperasi di seluruh dunia. Keuntungan mereka sebagian besar lari ke promosi dan iklan. Sementara gerakan AIMI dan gerakan-gerakan sejenis sifatnya sukarela, nonbisnis.

Oiya, AIMI dengan segala keterbatasan sumber dayanya sudah beberapa kali membuat video promosi dan edukASI:

Tambahan: iklan dari Kemenkes yang sempat cukup sering diputar di televisi https://m.youtube.com/watch?v=BgRxvGPWrrQ

Ini dari Kemenkes juga, tapi kurang tahu apakah diputar di TV https://m.youtube.com/watch?v=PweIcg03XX4

Maternity Room di Kantorku

Awal Desember 2011 saya melangkahkan kaki dengan sedikit waswas ke gedung yang masih asing ini. Betapa tidak, inilah hari pertama saya resmi menyandang status sebagai ibu bekerja. Berhubung saya mendapatkan SK mutasi kemari saat masih cuti bersalin, salah satu hal yang menggelayuti benak saya adalah, “Nanti merah ASI-nya gimana?”. Maklum, saya sering membaca kisah pegawai wanita yang bahkan sampai harus memerah ASI di toilet kantor gara-gara tak ada tempat yang memadai untuk kegiatan yang idealnya perlu ruangan yang bersih dan nyaman itu. Alhamdulillah, ternyata malah sudah ada beberapa ‘mamaperah’ lain di kantor baru saya itu, KPPN Jakarta I. Biasanya mereka memerah ASI di musholla khusus wanita, dan ada pula kulkas untuk menyimpan ASI perah walaupun masih bercampur dengan bahan makanan/minuman milik pegawai lainnya. Memasuki tahun 2012 saya dan beberapa teman kasak-kusuk setelah saya membaca komentar teman bahwa di KPPN Malang ada ruang khusus untuk memerah ASI. Salah satu teman sekantor sesama busui kemudian mengonfirmasi kabar tersebut kepada rekan lain, dan dijawab bahwa sebetulnya ada kok aturan tentang keberadaan ruang memerah ASI. Usut punya usut ternyata instansi eselon I kami memang telah mengeluarkan panduan standar tata ruang/desain bangunan untuk kantor perwakilan dan kantor pelayanan, di dalamnya termasuk keberadaan Maternity Room. Alhamdulillah kantor saya yang memang sedang mengadakan renovasi langsung mengadaptasi panduan tersebut, jadi kami bisa memerah ASI secara lebih privat. mr2mr5mr3mr4 (sumber: https://kppntanjungbalai.files.wordpress.com/2013/12/pedoman-layout-design-bangunan-kppn.pdf) 475632_3751040460781_207023486_o904760_10201238323226348_699611683_o Setahun kemudian, kantor saya mengikuti semacam seleksi kantor pelayanan terbaik. Maternity room ikut kecipratan berkah dan dipercantik. Lantainya dilapisi karpet empuk dan yang paling menyenangkan adalah tersedia lemari es mungil yang sudah cukup memadai untuk kebutuhan kami. Nah, tahun ini rencananya akan ada perubahan layout kantor lagi yang cukup signifikan. Maternity room kabarnya juga akan dipindah dan dilengkapi kulkas yang lebih besar. Penasaran dengan hasil akhirnya yang dengar-dengar akan siap digunakan bulan depan. Mungkin memang tak selengkap seperti yang disyaratkan dalam Permenkes Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu, tetapi semoga tetap menambah nyaman dan semangat saat harus memompa ASI ya :).

[Kliping] Dokter Keluarga… atau Dokter Umum?

Lagi pengin menulis tentang dokter keluarga kami… tapi lalu jadi browsing sana-sini dan menemukan beberapa tulisan menarik mengenai definisi dokter umum dan dokter keluarga. Dikliping di sini saja dulu ya sebelum mulai cerita :). Ada beberapa tulisan lama yang memang jadinya sedikit memperkaya sudut pandang mengenai peranan dokter umum maupun dokter keluarga. Kedua istilah ini, samakah? Atau ada perbedaannya?

Penjelasan yang lebih lengkap dan terstruktur ada di sini http://familymedicine.ugm.ac.id/dokter-keluarga-dalam-sistem-kesehatan/.

================================================================================================

Selama ini, Prijo menilai ada yang salah pada sistem rujukan yang berlaku di Indonesia. Di mana pasien baru sering langsung berobat ke dokter spesialis maupun super-spesialis.

“Itu tidak benar. Di negara manapun, sistem itu tidak ada. Kecuali di Indonesia,” tegasnya. Oleh karena itu, Prijo berniat ingin mengubah sistem tersebut. Sistem pelayanan primer, katanya pula, harus dimotori oleh dokter umum.

Menurut Prijo, sistem yang salah selama ini telah mengakibatkan kekacauan. Dokter spesialis menerima pasien secara langsung tanpa rujukan. Akibatnya, banyak dokter umum yang menganggur, karena ‘lahan’ mereka diambil alih dokter spesialis.
(http://www.jpnn.com/m/news.php?id=55353)

Jika sakit melanda, kebanyakan orang Indonesia segera mengunjungi dokter spesialis favorit. Tentu ini bukanlah hal yang buruk, tetapi bisa juga dikatakan kurang perlu. Kok bisa? “Hari gini masih banyak orang sakit yang langsung ke dokter spesialis langganannya, meski seorang dokter umum bisa menanganinya,” kata dr. Nurlan Silitonga, pendiri sekaligus pemilik Klinik Angsamerah yang berlokasi di bilangan Blora, Jakarta Pusat.

Menurutnya, dokter umum sebetulnya memiliki peran yang sama pentingnya dengan dokter spesialis, yang berbeda hanya kompetensinya. Datang ke dokter umum akan memberikan manfaat pada sang pasien dan juga sang dokter spesialis. Mengapa demikian? Karena dokter umum terlatih untuk menangani penyakit umum seperti flu, alergi ataupun penyakit infeksi lainnya, dengan datang ke dokter umum, biaya lebih murah, mungkin saja lebih dekat rumah atau kantor, dan tidak harus menunggu lama atau ngantri, karena mungkin banyaknya jumlah pasien di tempat sang dokter spesialis.

Saat ini masyarakat belum banyak mengetahui, bahwa dokter umum itu dilatih untuk bisa menyaring apakah kasus penyakit sang pasien membutuhkan tindakan dan pengobatan dari seorang dokter spesialis, termasuk pemilihan rujukan ke dokter spesialis yang tepat. Melalui dokter umum, sang pasien bisa langsung bertemu dengan dokter spesialis yang tepat, dari pada sang pasien yang berkeliling mencari sendiri beberapa dokter spesialis, dan membuat stress pasien, menghabiskan waktu dan biaya dan juga mungkin tindakan medis yang berulang dan tidak perlu.

Melalui rujukan dokter umum, seorang dokter spesialis akan terbantukan karena banyak informasi kesehatan dasar sudah disediakan oleh dokter umum, dan dokter spesialis hanya menambahkan menggali beberapa informasi lain yang lebih spesifik, dan bisa lebih menfokuskan keahliannya pada tindakan dan pengobatan, sehingga pasien bisa tertangani dengan baik. Bahkan ketika sudah tertangani dengan baik, mungkin untuk follow up, dengan seijin dokter spesialis, sang dokter umum yang kemudian bisa melanjuti.

So, tidak semua penyakit mesti segera dibawa ke dokter spesialis. Dr. Nurlan menyarankan untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter umum. Syukur-syukur penyakit Anda cukup ditangani oleh dokter umum tersebut. Pun jika tidak, dokter umum akan menyarankan tindakan yang lebih sesuai atau merujuk ke dokter spesialis yang tepat.

http://howmoneyindonesia.com/2013/12/01/saat-sakit-tetaplah-cerdas-menentukan-yang-terbaik-untuk-diri-anda/

Pertanyaan ini saya baca di sebuah buku yang diterbitkan oleh sebuah tabloid anak ternama ibukota. Menarik sekali. Salah satu bagian buku itu menulis: “Apakah anak harus dibawa ke dokter spesialis anak (dr, SpA) ataukah cukup ke dokter umum (dr,) saja?” Jawaban di buku: “bila di sekitar rumah ada dokter spesialis anak (DSA) atau kita membayar dokter yang lebih memahami penyakit anak, sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis anak saja. Sebab, DSA lebih memahami masalah penyakit pada anak, karena mereka sudah dibekali ilmu lebih banyak dibandingkan dokter umum biasa. Diharapkan, dengan pemahaman yang lebih tinggi, anak bisa tertangani lebih baik”. Dst dst.

Bagaimana menurut Anda jawaban di atas? Ini pendapat saya pribadi. Dokter menjalani pendidikan selama 6 tahun mulai dari ilmu kedokteran dasar sampai penerapannya pada manusia, dan tata laksana penyakit-penyakitnya. Termasuk ilmu kesehatan anak. Jawaban di atas agak klise (ngambang) menurut saya. Karena bisa saja orang memahami bahwa dokter (umum) kurang tepat dalam menangani masalah kesehatan anak. Bawa saja langsung ke spesialis. Lalu apa yang sudah dipelajari dokter umum enam tahun lamanya?

Dokter spesialis dibentuk untuk menangani kasus-kasus yang tidak dapat ditangani oleh dokter (umum). Artinya, dokter memiliki kompetensi dasar untuk semua kasus, mulai dari kasus kesehatan anak, penyakit dalam, kebidanan-kandungan, bedah, dst. Namun ada kasus-kasus rujukan yang harus ditangani oleh dokter spesialis. Makanya setiap profesi memiliki standar kompetensinya masing-masing. Jika dokter umum melakukan hal-hal di luar standar kompetensinya, maka bisa terjerat pasal dalam Undang-undang Praktik Kedokteran tahun 2004. Mayoritas kasus kesehatan anak di masyarakat adalah penyakit harian (common problems) seperti demam, batuk-pilek, mencret/diare, dan masih banyak lagi yang tentunya cukup ditangani dokter umum. Namun jika ada masalah kecurigaan penyakit jantung bawaan, gangguan perkembangan, keganasan, dan banyak kasus rujukan lain, tentu prosedurnya adalah dokter merujuk ke dokter spesialis. Tapi tak dapat dielakkan memang di Indonesia konsumen kesehatan bisa memilih untuk datang langsung ke dokter spesialis tanpa melalui dokter umum terlebih dahulu. Beda dengan di negara-negara maju. Dengan kata lain, mekanisme referral system (rujukan) memang belum berjalan di negara kita. Pun tak dapat dipungkiri apa yang tertanam dalam pemahaman masyarakat perkotaan umumnya adalah, datangi langsung dokter yang sesuai dengan spesialistiknya, tanpa harus ke dokter umum terlebih dahulu, jika mampu (bayarnya).

Sampai-sampai guru-guru yang mendidik calon dokter anak di sekolah saya bilang, ”Jangan sampai kamu nanti lulus cuma jadi spesialis batuk pilek mencret”. Itupun juga ngobatinnya masih nggak benar, timpal guru saya yang lain. Sakit ringan diresepkan antibiotika tidak sesuai indikasi. Dalam hati saya pun membalasnya, habis mau gimana lagi, yang datang ke dokter anak kebanyakan memang kasusnya batuk pilek mencret.

Lalu kalau anak sakit gigi, apakah langsung ke dokter gigi anak (drg, SpKGA) atau cukup ke dokter gigi umum (drg,) saja? Buku itu menjawab: “sebaiknya ke dokter gigi anak, karena mereka dibekali pengetahuan mengenai spesifikasi pertumbuhan dan perawatan gigi anak. Pendidikan spesialis dijalani selama 3-4 tahun bla bla bla”

Lagi-lagi, ini opini saya pribadi. Melihat istri saya yang dokter gigi umum, saya jadi tahu persis kemampuan seorang dokter gigi (umum) dalam menangani kasus-kasus gigi anak. Pengalaman menata laksana ratusan siswa SD dalam UKGS di beberapa sekolah di pelosok Sumatera saat PTT, dan menghadapi pasien-pasien anak di bawah lima tahun di praktik rumah, membuat saya memahami kompetensi mereka. Tetapi tentu saja, selalu ada kasus-kasus yang harus ditangani SpKGA. Dokter gigi harus merujuk kasus-kasus ini ke sejawat spesialis mereka.

Those are all my personal opinion. Saya sama sekali tidak mengajak pembaca untuk menjauhi dokter spesialis dalam kunjungan pertama. It’s all up to you. Yang saya ajak adalah agar para pasien (baca: konsumen kesehatan) menjaga dokter tetap bertindak rasional. Tidak jarang pasien minta diberikan obat padahal dokter merasa tidak perlu. Cukup sering konsumen kesehatan minta resep antibiotika padahal dokter sudah menjelaskan bukan indikasinya. Khawatir kehilangan pasien, dokter pun kadang “tunduk” pada keinginan kliennya ini.

Pelajari dasar-dasar ilmu kesehatan dengan baik. Ajak diskusi dokter anak dengan bekal ilmu ini. Alasan lain pentingnya mempelajari dasar-dasar ilmu kesehatan ini adalah orangtua menjadi tahu, kapan sih harus ke dokter. Pada akhirnya, konsumen kesehatan memahami bahwa batuk-pilek, mencret, demam tanpa gejala berat, dan masih banyak penyakit lain sebenarnya tidak perlu dibawa ke dokter sama sekali. Ke dokter umum sekalipun. Just wait and observe, gejalanya akan self limiting (hilang sendiri). Ini sudah terbukti pada banyak sekali orangtua yang memiliki kemauan kuat belajar ilmu kesehatan, dan mempraktikannya pada diri sendiri dan keluarganya. Mudah-mudahan layanan kesehatan negara kita menjadi lebih baik kelak. Amin.

(http://arifianto.blogspot.com/2008/01/kalau-anak-sakit-berobat-ke-dokter-anak.html) — ditulis ketika dr. Apin masih menempuh pendidikan dokter spesialis anak :).

Memasuki bulan ketiga era Jaminan Sosial yang berlaku sejak 1 Januari 2014, telah banyak perubahan dalam sistem asuransi sosial. Seperti misalnya perubaan pola pembayaran ke pelayanan kesehatan dari fee for service menjadi kapitasi pada Puskesmas dan InaCBGs (Indonesia Case Base Group) pada RS.

Tak cukup sampai disitu, pola pelayanan jasa kesehatan pun berubah sesuai tingkatan Fasilitas Kesehatannya. Mulai dari pelayanan kesehatan primer puskesmas) hingga tersier (RS). Hal ini juga otomatis mengubah fungsi seorang dokter karena adanya alih fungsi bagi dokter umum yang melayani pasien di pelayanan kesehatan primer.

Karena adanya perubahan tersebut, kini muncul program dokter layanan primer yang disebut-sebut akan setara dan mendapat pengakuan dari dunia medis sebagai spesialis yang akan melayani pasien di layanan primer. Tapi meninjau hal tersebut, jadi apa yang membedakan dokter spesialis, dokter umum dengan dokter layanan primer?

Menurut Direktur Utama RS Cipto Mangunkusumo, Dr. dr. Czeresna. H. Soedjono, Sp.PD-KGer, yang membedakan dokter spesialis, dokter umum dan dokter layanan primer adalah kompetensi, area dan pekerjaannya.

“Dibanding dokter umum biasa, dokter layanan primer memiliki 10 atau 11 item yang akan membedakan bukan hanya jenis area kompetensinya saja tapi bagaimana pendekatan kepada pasien dalam masalah kesehatan. Misalnya, dokter yang mengobati batuk pilek di layanan primer. Dia harus periksa dan menetapkan obat ini. Mungkin dokter umum akan langsung memberikan obat tapi dokter layanan primer tidak begitu,” kata Czeresna saat ditemui dalam acara Dies Natalis Universitas Indonesia ke 64 di UI Salemba, Jakarta, Rabu (5/3/2014).

Czeresna menerangkan, dokter layanan primer tidak akan memberikan obat langsung karena dia akan mencari tahu lebih dalam lagi mengenai sebab pasien batuk pilek. Seperti faktor-faktor apa yang menyebabkan pasien batuk pilek. Apakah virusnya dari diri sendiri, keluarga, lingkungan atau sekitar rumahnya ada yang mengalami batuk pilek. Kemudian apakah batuk pilek ang dialami hanya sekali atau berulang dan tidak pernah terpikirkan oleh dokter sebelumnya.

“Dokter layanan primer akan melakukan penelusuran lebih dalam dan approach lebih baik lagi sehingga pengobatan juga secara komperhensi akan lebih baik lagi,” ujarnya.

Untuk pendidikan dokter layanan primer, Czeresna melanjutkan, perlu waktu 2-3 tahun untuk setiap angkatannya dengan bobot 50-90 SKS. Dan saat ini, proses pendidikan ini masih dalam tahap penyusunan standar kompetensi dan membutuhkan waktu sekitar 5 tahun. Artinya, dokter layanan primer baru ada pada 2019.

“Nanti proses pendidikan akan mengacu pada RSCM karena idealnya mereka (dokter layanan primer) akan bekerja di pelayanan primer dan bukan berarti tidak perlu mengenal RS. Mereka perlu mengenal proses di RS agar mereka tahu betul apa yang terjadi di RS. Ketika mereka mengetahui bagaimana komunikasinya, barulah diterjunkan ke komunitas,” ujarnya.

Setara dengan spesialis

Untuk menjadi dokter layanan primer, Czeresna menyampaikan bahwa semua dokter umum berpotensi menjadi dokter layanan primer karena dia setara dengan spesialis.

“Dalam kedokteran tidak boleh ada 2 spesialis. Dokter layanan primer itu setara spesialis,” katanya.

Sebelumnya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sendiri baru akan membuka program pendidikan dokter layanan primer pada 2016. Nantinya, dokter layanan primer akan memiliki gelar dokter Sp. FM (Family Medicine-dokter keluarga).

(http://health.liputan6.com/read/2018835/ini-bedanya-dokter-layanan-primer-dengan-dokter-umum-spesialis-di-era-jkn)

Sistem pendidikan kedokteran di Indonesia akan cukup banyak berubah setelah disahkannya Undang-Undang Pendidikan Kedokteran (UU Dikdok) Nomor 20 Tahun 2013 pada awal Agustus tahun ini. Penegasan Alur Pendidikan Dokter Alur pendidikan kedokteran yang ada saat ini masih tidak standar antaruniversitas. Anda mungkin pernah mendengar ada dokter yang sudah disumpah dokter, lalu tidak lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sehingga ia terkatung-katung menjadi Dokter yang tak bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dan ia akhirnya tidak bisa praktik. Dalam UU Dikdok ditegaskan bahwa seorang mahasiswa kedokteran harus mengikuti pendidikan sarjana kedokteran kemudian dilanjutkan pendidikan profesi dokter (koas), lalu harus lulus UKDI terlebih dahulu baru dapat diangkat sumpahnya sebagai dokter. Kemudian ia mendapatkan STR dan melanjutkan 1 tahun internsip atau magang di rumah sakit dan puskesmas. Dokter Praktik Umum Menjadi Spesialisasi Setelah internsip apakah ia dapat langsung membuka praktik? Menurut UU Dikdok, kelak ada yang berubah. UU yang harus laksanakan paling lambat 2 tahun lagi yaitu Agustus 2015 ini mengatakan bahwa untuk membuka layanan praktik umum (atau dalam UU disebut layanan primer), seorang dokter harus mengikuti pendidikan dokter layanan primer (DLP) yang setingkat dengan pendidikan spesialis. Maka setelah UU ini berjalan, dokter yang baru lulus dari masa internsip tidak bisa membuka praktik jika tidak mengikuti pendidikan spesialis baik untuk layanan primer maupun di atasnya (seperti spesialis penyakit dalam, kebidanan, bedah, dan lainnya). Menurut dr. Erfen G Suwangto, yang juga merupakan pengurus Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), pendidikan DLP ini direncanakan program setara spesialis, yang sesuai amanat UU DIkdok, diselenggarakan oleh fakultas kedokteran berakreditasi tertinggi yaitu A. Pendidikan DLP akan kurang lebih ditempuh dalam 2 tahun, dan lulusannya direncanakan diberi gelar SpFM (spesialis Famili Medisin). dr. Erfen menambahkan, “(Pendidikan DLP-ed) ini bukan untuk mempersulit (dokter umum), tetapi untuk meningkatkan kompetensi dokter layanan primer dan meningkatkan derajat dokter layanan primer itu sendiri, termasuk dalamm hal insentif dan renumerasi. Serta untuk menekan angka kesakitan penduduk sehingga anggaran negara tidak membengkak. Karena DLP ini harus menguasai 155 penyakit yang merupakan 80 persen masalah kesehatan di masyarakat.” Dokter Selesai Internsip Sebagai Stem Cell Seseorang dapat disebut sebagai profesi dokter apabila ia sudah internsip dan mendapatkan STR. Namun sekali lagi, dengan UU Dikdok dijalankan, ia belum dapat membuka praktik. Apakah dengan demikian dokter dalam tahap ini tidak bisa bekerja? Menurut dr. Erfen, dokter ini tetap dapat bekerja namun bukan sebagai klinisi atau membuka praktik. Dokter tersebut dapat bekerja sebagai dokter manajerial, atau mengambil pendidikan lain seperti sebagai peneliti, dan lainnya. Jadi dokter pada tahap ini disebut sebagai stem cell atau sel punca yang masih bisa mengarah ke klinisi dan non-klinisi. Bagaimana Nasib Dokter Umum Lama? Walaupun masih belum ditetapkan, rencananya dokter umum lulusan sebelum UU ini diterapkan akan menjalani proses pemutihan baik dengan pendidikan singkat untuk penyegaran atau dengan mengikuti pendidikan DLP tersebut. Proses pemutihan ini dilakukan agar semua dokter mendapatkan kompetensi sebagai SpFM. Bagaimana dokter umum lama yang sulit untuk mengikuti SpFM? dr. Erfen mengatakan, mereka tetap dapat melakukan praktik layanan primer. Ia juga mencontohkan bahwa proses pemutihan ini juga serupa yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Jadi, jika ingin menjadi dokter praktek umum setelah UU ini berjalan, seorang mahasiswa harus menyiapkan waktu paling tidak 8-9 tahun, dengan perincian 3-4 tahun pendidikan Sarjana Kedokteran, 2 tahun pendidikan koas, 1 tahun internsip, dan 2 tahun pendidikan DLP (SpFM).
(http://www.tanyadok.com/berita/dokter-praktik-umum-akan-setara-spesialis)

Kendati demikian, tidak berarti dokter spesialis juga tidak merugi. Pasalnya, menurut Prijo, kompetensi mereka yang sesungguhnya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal dengan mengerjakan pasien-pasien yang sejatinya bisa ditangani dokter umum.

Menyusui Sambil Tiduran Miring

Copas dari grup fb AIMI:

https://m.facebook.com/groups/10676814777?view=permalink&id=10152742770469778&p=10&refid=18

Apakah benar menyusui dengan posisi tidur miring (side-lying) tidak diperbolehkan? Jika tidak diperbolehkan mengapa, jika diperbolehkan bagaimana caranya?

Menyusui sambil tidur miring (side-lying) DIPERBOLEHKAN. Bayi baru lahir ke dunia saja sudah diajari menyusu dengan posisi tidur tengkurap ala posisi IMD. Di berbagai literatur, posisi menyusui side lying atau tidur miring bahkan dianjurkan utk mereka yang baru saja menjalani operasi cesar. Sebagaimana SEMUA posisi menyusui, tetap ada syaratnya: pelekatan menyusui harus tepat. Apa pun posisi menyusuinya, yang penting pelekatan harus tepat. Itu yang SELALU kami tekankan ke semua member. Untuk posisi menyusui tidur miring, posisi pelekatan yang tepat berarti perut ibu harus menempel pada perut bayi, badan bayi seluruhnya menghadap ke badan Ibu (saling berhadapan), dan jangan lupa posisi tubuh ibu dan bayinya sama tinggi, kalau tidak ya tidak bisa melekat dengan baik. Detail tentang posisi dan pelekatan menyusui ada di dokumen grup (ini link-nya: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/seputar-posisi-dan-pelekatan-menyusui/10151641563564778, gambarnya ada di album foto grup: https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.10152199207654778&type=1. Dengan pelekatan yg benar, itu akan mencegah hidung bayi tertutup payudara ibu, meminimalisir bayi tersedak, dan mencegah ASI mengalir ke mana2 termasuk ke telinga, dan sebagainya. Kuncinya, APA PUN POSISI MENYUSUINYA, PELEKATANNYA HARUS SELALU PAS:). Kalau aliran tidak pas, posisi apa pun bisa membuat aliran ASI-nya ke mana2, membuat bayi tersedak. Coba Anda bayangkan ketika menyusui dengan posisi duduk yang cradle hold atau mendekap. Sebetulnya posisi bayi sama saja kok dengan yang menyusui dengan tidur miring, seluruh badan bayi harus menghadap ke ibu, berarti bayi sepenuhnya miring kan? Sama dengan posisi menyusui sambil tiduran. Tidak ada bedanya. Bedanya hanya kalau cradle, tubuh bayi disangga tangan dan lengan ibu. Kalau di posisi tidur miring coba cari ganjal bantal atau selimut misalnya biar posisi sama tinggi. Tangan ibu juga tetap bisa menyangga tubuh bayi jika ingin. Jadi kalau argumennya menyusui dengan tidur miring ASI bisa masuk telinga atau bisa membuat tersedak ya dengan posisi cradle yang biasa digunakan dalam posisi duduk pun bisa demikian.

Menyusui dengan posisi tidur miring (side lying) direkomendasikan di berbagai literatur tentang menyusui di seluruh dunia. Bagi mereka yang tidak mendapatkan pelatihan khusus tentang menyusui dan berbagai detailnya memang banyak yang tidak memahami ini. Silakan Anda cek berbagai literatur tentang menyusui yang dibuat oleh berbagai lembaga internasional, baik lembaga formal negara (yang kami contohkan di sini adalah: American Academy of Pediatrics atau Asosiasi Dokter Anak Amerika Serikat yang menyarankan posisi ini setelah kelahiran cesarian:http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/breastfeeding/pages/Breastfeeding-After-Cesarean-Delivery.aspx. Atau sumber dari support grup menyusui yang sudah mendunia yaitu La Leche League (LLL): http://www.llli.org/faq/positioning.html. Atau coba cek sumber dari asosiasi menyusui di berbagai negara, salah satunya Australia: https://www.breastfeeding.asn.au/bf-info/early-days/breastfeeding-while-lying-down. Atau silakan baca website medis yang sangat banyak dijadikan referensi di AS: http://www.askdrsears.com/topics/feeding-eating/breastfeeding/rightstart-techniques/best-breastfeeding-positions. Terakhir, dan juga referensi utama para konselor menyusui yaitu modul pemberian asupan bayi yang jadi standar modul pelatihan konselor menyusui standar 40 jam sertifikasi WHO/UNICEF: http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241597494_eng.pdf (silakan cek Session 2: The Physiological Basis of Breastfeeding, halaman 15, Figure 9), di sana ada gambarnya juga dan ada catatan ttg bagaimana memposisikan ibu dan bayi agar tercipta pelekatan yang benar. Jika ibu masih baru dalam keadaan habis melahirkan, masih lemas, masih kelelahan, menyusui dalam posisi apa pun harus dengan pendampingan ya atau pastikan posisi bayi dalam keadaan yang aman. Posisi menyusui apa pun itu harus aman dan nyaman baik untuk ibu dan untuk bayinya. Jadi sekali lagi, jangan salahkan posisinya ya, selama dilakukan dengan pelekatan yang benar.

Suplemen DHA untuk Bayi, Perlukah?

Belum lama ini di grup TATC ada anggota yang menanyakan pola buang air besar bayinya yang bikin galau. Sewaktu ditanya apakah bayinya ASI eksklusif (karena usianya belum 6 bulan), jawabannya iya. Tetapi ketika obrolan semakin mendetil, akhirnya diketahui bahwa ibu ini memberikan ‘vitamin’ (maksudnya suplemen) untuk bayinya, yang ia peroleh dari bidan. Isinya DHA yang dipercaya mendukung kecerdasan. Padahal pemberian suplemen di luar indikasi tentunya termasuk ‘membatalkan’ status ASI eksklusif menurut definisi WHO.

Kali lain, di grup lain ada juga yang secara tidak langsung menyarankan penggunaan suplemen yang kandungan utamanya adalah DHA, untuk bayi anggota lain yang juga belum berusia 6 bulan. Itu juga dikasih sama dokter, katanya. Yah, 6 bulan ataupun lebih dari itu, seperlu apa sih ya suplementasi DHA? Amankah?

Cari-cari, ketemulah beberapa artikel berikut ini:

Produk susu formula, makanan bayi, maupun minuman ibu hamil dengan tambahan asam lemak dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakhidonat (AA), yang diberikan kepada bayi diyakini mampu membuat anak tumbuh lebih cerdas. Tidak mengherankan banyak orang tua yang berlomba-lomba memberi buah hatinya susu formula yang diberi tambahan minyak omega tersebut meski harganya cukup tinggi.

Sebaliknya, banyak ahli gizi dan kesehatan justru memperingatkan akan bahayanya menjejali bayi dengan berbagai makanan yang serba mengandung DHA/AA tersebut. Jika tidak hati-hati, anak yang diberi berbagai macam produk yang mengandung asam lemak esensial ini malah akan kelebihan DHA/AA.Bukannya menjadi cerdas, sang anak justru dapat mengalami gangguan kesehatan yang dapat membahayakan diri anak itu sendiri. Bahaya kelebihan DHA/AA inilah yang patut diwaspadai. Nah, apa saja bahayanya? Tidak ada salahnya kita simak uraian berikut.

Kapan DHA/AA dibutuhkan?

DHA yang termasuk dalam omega 3 merupakan asam lemak rantai panjang yang sangat dibutuhkan sejak janin dalam kandungan sampai setelah lahir. Berbagai penelitian membuktikan bahwa DHA dan AA penting untuk pembentukan membran sel, jaringan syaraf otak dan retina pada janin. Dengan kata lain, kekurangan DHA pada ibu yang sedang hamil dapat mempengaruhi fungsi penglihatan dan menghambat pembentukan dinding sel neuron sehingga mempengaruhi perkembangan otak. Akibat fatalnya sel-sel otak menjadi cepat mati dan tidak berfungsi.

Tingginya kebutuhan DHA untuk tumbuh-kembang janin ditunjukkan peningkatan DHA pada plasma ibu hamil mencapai 52%. Peningkatan ini jauh lebih besar dibanding peningkatan asam lemak esensial lainnya. Semakin tua umur janin dalam kandungan semakin tinggi kebutuhan DHA janin karena tumbuh kembang berlangsung semakin cepat. Tingginya kebutuhan janin ini menuntut suplai dari plasma ibu melalui transfer tali pusar penghubung plasma ibu dan janin. Semakin tua umur kehamilan maka semakin tinggi DHA pada tali pusar. Dr Dwi Putri Widodo, SpA(K), dokter spesialis anak subbagian neurologi bagian ilmu kesehatan anak FKUI, RSCM, menyatakan bahwa pada tahun pertama setelah kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan otak sangat pesat.Pada saat inilah bayi membutuhkan nutrisi optimal, yakni DHA/AA.

Lalu dari mana asam lemak ini diperoleh? Pada janin dan bayi yang baru lahir, sang ibu akan memasok kedua jenis asam ini melalui cairan plasenta atau Air Susu Ibu (ASI).Janin dan bayi yang sehat, dengan enzim desaturase dan elongase yang memadai, akan sanggup mengolah sendiri asam alfa linoleat dan asam linoleat menjadi DHA dan AA sehingga tidak banyak memerlukan tambahan DHA/AA dalam makanannya. Namun pada bayi prematur dengan berat badan di bawah normal (2500 gr) dan ukuran otaknya lebih kecil dari rata-rata, umumnya tidak memiliki enzim desaturase dan elongase dalam jumlah memadai, sehingga penambahan DHA dan AA dalam makanan benar-benar dibutuhkan.

Hati-hati kelebihan DHA/AA

Lalu, bagaimana dengan berbagai produk makanan bayi dan ibu hamil yang diberi tambahan DHA dan AA, yang saat ini membanjiri pasaran? Berbagai kemasan susu pendamping ASI, biskuit bayi, bubur bayi, minuman ibu hamil, dan susu untuk balita tersebut bahkan mencantumkan kandungan DHA dan AAdengan beragam konsentrasi.Haruskah banyak dikonsumsi?

Ketidaktahuan ibu akan kandungan DHA dan AA yang terdapat dalam susu formula ataupun makanan bayi, membuat kaum ibu memborong semua makanan yang mengandung komponen yang diyakini akan mencerdaskan anaknya. Padahal kalau tidak hati-hati, anak yang dijejali berbagai macam produk yang mengandung asam lemak esensal ini malah akan kelebihan DHA dan AA. Bukannya menjadi cerdas, justru bisa menghambat pembentukan prostaglandin dan tromboksan di dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan kekurangan zat renin yang berfungsi mengontrol ginjal.Kelebihan zat ini bisa menyebabkan darah lebih encer hingga masa pendarahan lebih lama dan sulit berhenti, serta menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Tentu ini sangat membahayakan jiwa anak jika suatu saat mengalami pendarahan.

Mengonsumsi makanan yang mengandung kadar DHA tinggi juga dapat mengakibatkan tubuh menggunakan simpanan energi yang ada untuk membakar lemak, sehingga akan menyebabkan tubuh kehilangan berat badannya.Dr Sri Nazar, Sp.A(K), dokter spesialis anak subbagian gizi dan metabolik bagian ilmu kesehatan anak FKUI, RSCM,menjelaskan bahwa kelebihan DHA/AA dalam makanan bayi justru bisa menyebabkan anak kehilangan daya imun tubuh. Anak dapat dengan mudah terserang penyakit.

Kandungan DHA/AA yang kini banyak ditambahkan dalam formula susu balita memang sangat dibutuhkan perkembangan otak. Namun, para ibu jga tak boleh gegabah hingga memberikannya secara berlebihan. Kendati kini banyak dijual susu bayi dengan tambahan formula DHA/AA, namun Dr Sri Nazar,SpA(K), menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan makanan pertama, makanan utama dan terbaik bagi bayi segera setelah lahir dan dapat secara tunggal memenuhi kebutuhan bayi hingga usia empat-enam bulan (ASI ekslusif). Dijelaskannya,makanan tambahan yang diberikan sebelum usia empat bulan dapat mengurangi produksi ASI. Sebaiknya, makanan pendamping ASI diberikan setelah bayi berusia empat bulan ke atas, dengan tujuan menambah masukan kalori untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang meningkat sesuai bertambahnya usia bayi. Sementara ASI sendiri sudah cukup mengandung DHA/AA yang baik untuk perkembangan otak anak.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun makanan perlu dipertimbangkan masak-masak karena pada bayi yang sudah besar dapat mensintesa DHA maupun AA sesuai dengan kebutuhannya, selama tubuh memiliki bahan asam alfa linoleat dan asam linoleat. Penambahan DHA dalam makanan tidak terlalu perlu, bahkan dapat memberikan efek samping yang cukup membahayakan. Jadi, cara yang lebih baik, aman, ekonomis, dan efektif sebenarnya dengan mengandalkan makanan konsumsi sehari-hari saja (food based) yang bnyak mengandung DHA/AA. Makanan sumber asam lemak esensial dan omega-3 terutama terdapat pada pangan hewani dan nabati laut seperti ikan lemuru, tuna, salmon, mackerel, tongkol, cakalang, cod, rumput laut, ganggang laut, dan lain-lain. Sedangkan pangan lainnya antara lain minyak nabati dan sayuran hijau.

Cerdas, Tidaklah Sekadar DHA/AA

Jose Batubara, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan agar para ibu bertindak lebih selektif karena penambahan DHA/AA pada makanan bayi hanya dibutuhkan bayi prematur. Lebih aman dan juga murah bila para ibu memperbanyak konsumsi ikan laut dan sumber makanan alami lain untuk memenuhi kebutuhan DHA dan AA keluarga. Apalagi, mencerdaskan anak tidak hanya bergantung pada AA dan DHA. Perhatian orang tua untuk memberi AA/DHA tidak akan ada gunanya, bila orang tua tidak asah asih asuh pada anaknya, tetap saja anak itu tidak akan menjadi pintar.

Nah, tidak perlu repot membeli produk makanan dengan harga tinggi agar anak menjadi cerdas bukan? Dengan makanan alami sehari-hari saja ditambah dengan pemberian ASI sdah cukup. Jangan lupa bhwa cerdas tida sekedar dengan DHA/AA, aspek psikologis dan agama juga penting.(nia-uli)

(Sumber: Sebuah tulisan pada Majalah Nikah edisi 12/I/2003)

http://herbaldankesehatan.com/2012/02/05/hati-hati-kelebihan-dhaaa/

Lagi,

Belum lama beredar artikel mengenai bahaya kelebihan Docosahexanoic Acid (DHA). Meski sejauh ini baru terlihat dialami masyarakat Eskimo dengan gejala berupa perdarahan, mirip vlek berwarna kebiruan di kulit, tak urung banyak juga orangtua yang mempertanyakan kebenaran kabar tersebut. Seperti diketahui, masyarakat Eskimo adalah pengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak dan ikan laut secara alami potensial mengandung asam lemak tersebut.

Meski begitu, mungkinkah kita dan anak-anak kita yang sehari-hari mengonsumsi susu ber-DHA dan mungkin ditambah lagi dengan suplemen DHA mengalami kelebihan dosis? Marzuki Iskandar, STP, MTP, menjawab, “Tubuh punya mekanisme sendiri untuk memformulasikan kebutuhan DHA. Misalnya saja, berapa pun banyaknya susu yang dikonsumsi ibu hamil, makanan yang dihasilkannya untuk janin atau ASI untuk bayinya akan tertakar dengan pas, tak kurang ataupun lebih.”

Namun begitu, Marzuki menganjurkan untuk tidak melakukan “pemborosan” DHA (dan tentu saja pengurangan pemenuhan kebutuhan DHA), sebab untuk itu memang ada angka yang sudah ditetapkan WHO, yaitu sekitar 20 mg/kg berat tubuh per hari. Sebagai ilustrasi, bayi dengan BB 10 kg, angka kebutuhan DHA-nya adalah 0,2 g/hari. Jadi sekiranya ibu-ibu menghitung bahwa bayinya sudah mendapat asupan DHA yang cukup dari ASI atau susu formula, dan sumber makanan lain, ya sebaiknya tidak perlu ditambah lagi.

DR. dr. Damayanti Rusli, Sp.A(K)., dari FKUI/RSCM, Jakarta., seperti yang pernah dimuat dalam rubrik Tanya Jawab Gizi tabloid nakita, menjelaskan, asam linolenat (Omega-3) dan asam linoleat (Omega-6) adalah asam lemak tak jenuh berantai panjang yang menggunakan enzim sama (elongase dan desaturase) untuk menghasilkan DHA (dari linolenat) dan AA (dari linoleat). Keduanya bersifat esensial atau tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, hingga harus ada asupan dari makanan. Tingginya kadar DHA dalam darah memang akan mengurangi pembentukan AA, yang pada beberapa kasus dilaporkan terjadi perdarahan atau hemolisis (pecahnya sel darah merah). Nah, di sinilah letak bahaya jika kadar DHA dalam darah terlalu tinggi. Oleh sebab itu, dalam mengonsumsi makanan perlu diperhatikan komposisi/perbandingan asam linoleat dengan asam linolenat, yaitu 5:1 sampai dengan 15:1. Sedangkan perbandingan DHA:AA antara 1:1 sampai 1:2.

Sumber asam linoleat antara lain minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak kapas, minyak kacang, minyakwijen, dan lain- ain. Sedangkan, sumber asam linoleat dan linolenat antara lain kacang merah, kacang kedelai, minyak kedelai. Orangtua sebenarnya tidak perlu kelewat cemas. Kasus kelebihan DHA seperti yang dialami orang Eskimo merupakan contoh ekstrem. Mereka mengonsumsi ikan setiap hari dalam rentang waktu yang sangat panjang karena alamnya memang mengondisikan demikian.

Sebaliknya, di luar kondisi ekstrem tersebut orangtua tak perlu khawatir apakah bayi mendapatkan DHA dalam jumlah yang cukup. Mengapa? Tak lain karena kebutuhan tersebut akan terpenuhi dari komposisi gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari.

SEMUA ADA DALAM ASI
Tumbuh kembang otak sejak kehamilan 6 bulan hingga anak berumur 2 tahun sedang pesatpesatnya. Sampai umur 1 tahun, 60% energi dari makanan bayi digunakan untuk pertumbuhan otak. Karenanya bayi membutuhkan banyak protein, karbohidrat, dan lemak, juga vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, seng, termasuk di dalamnya DHA. “Semua kebutuhan tersebut sudah tersedia lengkap dalam ASI,” kata Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi., dari Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUIRSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. “Jadi, selama orangtua bisa memberikan ASI yang cukup kepada bayinya, maka tak perlu khawatir akan kekurangan atau kelebihan zat penting ini.

Karena takaran yang terkandung dalam ASI sudah benar-benar pas sesuai kebutuhan bayi.” DHA adalah zat penting yang sangat dibutuhkan sebagai komponen utama pembentuk otak dan retina mata manusia. Selain berperan penting dalam mengoptimalkan fungsi membran sel otak dan fungsi retina mata serta sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel-sel saraf otak. Lebih jauh DR. Moesijanti Yudiarti Endang Soekatri, MCN., dari PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) menjelaskan bahwa DHA adalah sumber energi dan pelarut vitamin selain sebagai pembentuk sel-sel otak. Meski sel-sel otak sudah terbentuk sejak dalam kandungan dan jumlahnya terus bertambah mencapai milyaran di usia 2 tahun, belum ada hubungan antar selsel tersebut. Hubungan antarsel inilah yang membentuk rangkaian fungsi. Sementara kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antarsel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) dari lingkungan serta nutrisi. “Karenanya orangtua harus benar-benar memberikan yang terbaik untuk bayinya,” Soedjatmiko.

Seperti diketahui, sel otak tersusun atas 50% lemak dan 50% protein. Lemak yang terdapat dalam jaringan sel otak adalah LCPUFA atau asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda yang di dalamnya terkandung DHA sebanyak 40%. Sementara jenis bahan pangan yang secara alami kaya akan asam lemak esensial ini adalah ikanikan yang terdapat di perairan laut dalam seperti tuna, salmon, makarel, hering, dan sebagainya. Bayi-bayi yang mendapat ASI cukup tentu tidak kesulitan mendapatkan zat yang sarat manfaat ini. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak mendapat ASI? “Kalau memang sangat terpaksa tidak bisa memberikan ASI, maka susu formula yang tersedia sudah diformulasikan untuk mencukupi kebutuhan tersebut,” kata Moesijanti. Setelah 6 bulan, bayi sudah bisa dikenalkan pada makanan-makanan lain yang mengandung asam linoleat dan linolenat. Dengan demikian apa yang dibutuhkannya pun dapat terpenuhi.

Sumber: Nakita

http://www.balita-anda.com/ensiklopedia-balita/640-kebutuhan-dha-pada-bayi.html

DHA (Asam Dokosaheksaenoat) adalah asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang Ώ-3. DHA merupakan lemak utama pembentuk otak, retina mata dan jantung. DHA sangat diperlukan terutama pada periode perkembangan otak yang sangat cepat (selama hamil – 18 bl setelah kelahiran). DHA membantu bayi untuk mengkoordinasikan antara mata dan tangan, mengembangkan kemampuan motorik serta meningkatkan focus / perhatian. DHA juga membantu bayi untuk tidur dengan lebih nyenyak.

Saat ini banyak produk makanan dan minuman untuk anak yang mendapatkan tambahan DHA. DHA sebenarnya hanyalah komponen terkecil dari asam lemak. Tubuh anak pada dasarnya bisa membuat sendiri sejauh ia mengonsumsi asam lemak tak jenuh atau asam linolenat dan asam linoleat sebagai prekursornya.
Asam linolenat (Omega-3) dan asam linoleat (Omega-6) adalah asam lemak tak jenuh berantai panjang yang menggunakan enzim sama (elongase dan desaturase) untuk menghasilkan DHA (dari linolenat) dan AA (dari linoleat). Keduanya bersifat esensial atau tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, hingga harus ada asupan dari makanan. Sumber asam linoleat antara lain minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak kapas, minyak kacang, minyak wijen, dan lain-lain. Sedangkan, sumber asam linoleat dan linolenat antara lain kacang merah, kacang kedelai, minyak kedelai.
DHA yang diperlukan oleh balita dipenuhi dari air susu ibu selain itu juga dapat diperoleh dari asam-asam lemak esensial, dari nabati dan hewani (telur, kedelai, ikan dan produk olahannya termasuk minyak ikan) yang dikomsumsi ibu sejak ia hamil. Bila ibu pada saat hamil rajin mengkomsumsi lemak esensial ini, pembentukan DHA dan AA pada bayi akan terbentuk dengan sendirinya karena asam-asam lemak esensial ini merupakan perintis DHA dan AA. Ensim yang berfungsi untuk proses biosintesa asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia di sistem syaraf pusat dan hati di janin dan bayi.
British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO(Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur.
Sedangkan Canadian Joint Working Group and US committee dan American Academy for Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi, karena keterbatasan pengalaman klinik dan saat ini sedang dilakukan penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan hasil bermanfaat tetapi banyak penelitian lain menunjukkan tidak terbukti manfaatnya untuk kecerdasan bayi.
Sampai sejauh ini, memang tak ada keharusan bagi orang tua untuk memberikan susu dengan tambahan zat ekstra tersebut dan juga tak ada larangan karena memang tidak berbahaya. Toh, jika kandungan tersebut tidak digunakan oleh tubuh, maka akan terbuang dengan sendirinya. Apalagi risiko kelebihan ini kecil kemungkinannya terjadi karena kadarnya sudah diperhitungkan. Lain hal kalau kandungan tersebut dikonsumsi dalam bentuk suplemen misalnya, risiko kelebihan bisa saja terjadi.
Orangtua sebenarnya tidak perlu kelewat cemas. Kasus kelebihan DHA seperti yang dialami orang Eskimo merupakan contoh ekstrem. Mereka mengonsumsi ikan setiap hari dalam rentang waktu yang sangat panjang karena alamnya memang mengondisikan demikian.
Sebaliknya, di luar kondisi ekstrem tersebut orangtua tak perlu khawatir apakah bayi mendapatkan DHA dalam jumlah yang cukup. Mengapa? Tak lain karena kebutuhan tersebut akan terpenuhi dari komposisi gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari.
Jumlah DHA yang direkomendasikan oleh WHO/FAO adalah 20 mg DHA per kg berat bayi. Bila bayi rutin mendapat ASI maka DHA yang dikonsumsi sudah cukup untuk memenuhi standart WHO/FAO yaitu sekitar 21 mg DHA per kg berat bayi.
Yang perlu dimengerti, kandungan tambahan ini hanya akan efektif berfungsi bila bersinergi dengan zat gizi lainnya. Misalnya kandungan AA-DHA akan berfungsi baik bila bersinergi dengan zat besi dalam pembentukan otak. Jadi yang terpenting dari makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah zat gizi utamanya, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Jika kebutuhan dasar gizi sudah tercukupi, maka zat ekstra ini baru akan terasa manfaatnya. Disisi lain yang perlu diperhatikan adalah perbandingan DHA dan AA. Tingginya kadar DHA dalam darah memang akan mengurangi pembentukan AA, yang pada beberapa kasus dilaporkan terjadi perdarahan atau hemolisis (pecahnya sel darah merah). Nah, di sinilah letak bahaya jika kadar DHA dalam darah terlalu tinggi. Oleh sebab itu, dalam mengonsumsi makanan perlu diperhatikan komposisi/perbandingan asam linoleat dengan asam linolenat, yaitu 5:1 sampai dengan 15:1. Sedangkan perbandingan DHA:AA antara 1:1 sampai 1:2.

Yang ini pada susu, tapi masih nyambung lah

Kompas.com – Susu formula atau susu pertumbuhan saat ini dimodifikasi sedemikian rupa supaya makin mendekati ASI. Salah satu zat gizi yang banyak disuplementasi adalah asam arachidonic (AA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) yang diklaim akan meningkatkan kecerdasan bayi.

Banyak orangtua yang menganggap bahwa susu yang diperkaya dengan AA dan DHA sudah pasti akan membuat buah hati mereka lebih cerdas.

Menurut dr.Yoga Devaera, Sp.A dari divisi nutrisi dan penyakit metabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, sebenarnya para ahli belum menyimpulkan apakah penambahan zat-zat tersebut bisa meningkatkan kecerdasan.

Data-data penelitian juga belum konsisten menunjukkan manfaat jangka panjang suplementasi AA dan DHA.

“Pada kadar tertentu memang bisa menyebabkan perkembangan anak menjadi lebih baik. Tetapi belum jelas juga berapa yang sebenarnya dibutuhkan anak,” katanya dalam acara media edukasi teknologi pengemasan susu cair yang diadakan Tetra Pak di Jakarta (24/10/12).

Yoga menjelaskan bahwa kecerdasan anak dipengaruhi oleh tiga hal, yakni potensi genetik, nutrisi, serta stimulasi yang diberikan orangtuanya.

“Yang pasti kandungan AA dan DHA dalam ASI sangat tinggi, sementara di susu sapi tidak ada. Karena itu kebanyakan susu untuk bayi disuplementasi zat tersebut supaya mirip ASI,” paparnya.

Sementara itu, menurut Yoga, penelitian mengenai manfaat zat besi terhadap kecerdasan bayi sudah jauh lebih pasti.

“Kekurangan zat besi pada usia bayi bisa menurunkan tingkat kecerdasan anak,” imbuhnya.

http://health.kompas.com/read/2012/10/25/09340850/Benarkah.DHA.dalam.Susu.Mencerdaskan.Otak.

Belanja Fashion Mudah dan Murah di PinkEmma

 

Sebagai ’emak-emak rempong’, keberadaan situs-situs belanja online saya akui sangat membantu. Cukup dengan klik-klik, pesanan pun sampai di tangan. Tentu, pilah-pilih tempat belanja juga perlu. Kalau kurang waspada, uang bisa jadi melayang. Selain itu, salah satu ‘kekurangan’ belanja online adalah kita tidak bisa langsung melihat, meraba, dan mencoba barang yang ditawarkan. Ada risiko kecewa oleh karena apa yang diterima ternyata tidak sesuai dengan yang ditampilkan di situs web penjual.

PinkEmma adalah salah satu situs belanja fashion online tepercaya yang sering saya kunjungi. Kesibukan kerja di kantor maupun di rumah sebagai istri dan ibu dua balita membuat saya jarang sempat belanja offline. Di PinkEmma saya bisa membeli barang-barang fashion di mana dan kapan saja, setelah anak-anak tidur, dalam perjalanan… Saya pun dapat dengan mudah mencari apa yang saya perlukan dengan adanya pengkategorian, filter, dan label yang rapi. Belakangan tersedia juga versi mobile yang lebih enteng dibuka dengan ponsel, moga-moga sih ke depannya fitur versi mobile ini juga semakin lengkap seperti versi desktopnya (karena untuk pencarian masih agak susah).

Pilihan jenis baju di PinkEmma beragam, ada bagian hijab style, bahkan ada yang khusus untuk plus size, juga tersedia baju hamil dan menyusui (favorit saya beberapa bulan ini, hahaha… Tetap modis sekaligus memudahkan memenuhi hak si kecil). Keterangan bahan dan ukuran dalam cm juga lengkap, termasuk panjang gamis/dress dan lingkar pinggul yang tidak semua situs belanja online mencantumkan (kebanyakan hanya lingkar dada atau ukuran dengan huruf atau nomor). Pilihan pembayaran juga komplet dari transfer, kartu kredit, bayar di tempat bahkan di indomaret. Seperti yang dijanjikan, pembayaran dengan kartu kredit lebih cepat diproses (pembanding saya pembayaran dengan transfer). Bahkan ada kebijakan tukar/pengembalian barang lho kalau ternyata kurang berkenan (syarat dan ketentuan berlaku), syukurnya sih sampai saat ini saya selalu puas dengan orderan di PinkEmma.

Yang bikin ‘meleleh’ juga adalah sapaan hangat para staf penjualan di inbox email. Kata-kata yang digunakan membuat pelanggan newsletter serasa sedang disapa oleh teman akrab, tidak kaku dan berjarak. PinkEmma juga rupanya memantau item-item yang sempat dilihat-lihat, jadi semisal lupa atau tidak sempat memasukkan item menarik ke wishlist jangan khawatir, biasanya akan ada email yang mengingatkan. Email lain yang saya tunggu-tunggu dari PinkEmma, apa lagi kalau bukan info diskon. Selalu ada kejutan program promo tiap harinya, baik berupa potongan harga, gratis ongkos kirim, beli satu dapat dua dll.

Satu hal yang juga patut diacungi jempol adalah penggunaan kemasan kantong kertas oleh PinkEmma untuk membungkus pesanan yang dikirim. Lebih ramah lingkungan tentunya.

PhotoGrid_1426346811983

 

Oh ya, ini dia beberapa belanjaan saya di PinkEmma (masih ada beberapa lagi yang tidak terfoto karena untuk kado):

 

Dress yang saya persiapkan menyambut kehamilan dulu

Dress yang saya persiapkan menyambut kehamilan dulu

Blazer dan cardigan untuk me-refresh gaya.

Blazer dan cardigan untuk me-refresh gaya.

Maxi dress menyusui andalan, dengan harga diskon dadakan yang bikin girang :D.

Maxi dress menyusui andalan, dengan harga diskon dadakan yang bikin girang :D.

 

 

 

pinkemma