Bulan Pertama Proyek Ruang Berkarya Ibu 2: Kesempatan Menggali Hikmah

Tak terasa, proyek Ruang Berkarya Ibu (RBI) yang saya ikuti hampir memasuki bulan kedua pelaksanaannya. Setelah sebelumnya memperoleh bekal ilmu dari para pakar mengenai bakat dan manajemen waktu, mulai Mei ini memang para peserta diminta untuk mengerjakan proyek sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Waktu yang diberikan adalah 100 hari dikurangi 49 hari materi = 41 hari, dengan beberapa hari libur mengingat ada momen Idul Fitri.

Sesuai pesan dari mbak Andita A. Aryoko, leader RBI yang masih berada dalam rumah besar komunitas Ibu Profesional, tiap peserta minimal menulis sebulan sekali mengenai setorannya di grup whatsapp, bukan hanya melalui mekanisme setoran yang rutin tiap harinya di Google Form. Saya memang memilih untuk menulis perkembangan harian di Google Docs yang private, tidak seperti sebagian peserta lain yang dengan telaten mengungkapkan kemajuan harian di media sosial maupun blog. Maka di hari terakhir bulan Mei ini saya hendak menceritakan proyek saya — untuk pertama kalinya.

Continue reading

Advertisements

Teh Kiki Barkiah: Didiklah Anak Sesuai Keunikan Karakternya

Ahad lalu (13/05), Teh Kiki Barkiah berbagi seputar pendidikan anak dilihat dari segi karakter masing-masing di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq, Otista. Dengan status sebagai ibu dari 6 anak (terakhir saya ikut seminar teh Kiki Ramadhan dua tahun yang lalu, teh Kiki rupanya sedang mengandung), tentu teh Kiki cukup kaya akan pengalaman. Bahkan di seminar bertajuk “Mosqueschooling Seminar Parenting Minim Konflik Maxi Manfaat, Mendidik Anak Sesuai Keunikan Karakternya” ini, saya dapati teh Kiki mengungkapkan tentang perkembangan cara pandangnya seiring dengan berjalannya waktu. Artinya, pola asuh bisa saja berubah atau disesuaikan secara fleksibel.

Menurut teh Kiki, pendekatan kita ke anak-anak perlu disesuaikan dengan bahasa cinta mereka. Tidak cukup kita hanya bersemangat untuk mendidik anak menjadi anak yang sholeh. Ada kebutuhan-kebutuhan anak sesuai potensi bawaannya yang harus kita penuhi, termasuk kebutuhan jasmaninya untuk bermain.

Continue reading

Meski Berhijab, Jangan Lupa Rambut Dirawat

“Generasi millennials cenderung lebih aktif dan terampil menggunakan teknologi. Sebagai efeknya, mereka juga lebih suka hal-hal yang dapat diselesaikan secara cepat, kadang jadinya mau serba-instan. Ini khususnya berlaku bagi generasi millennials atau generasi Y yang baru, menjelang pergantian generasi ke generasi berikutnya yaitu generasi Z.”

Itulah lebih kurang penjelasan yang saya dapatkan dalam beberapa kali pelatihan, baik di kantor maupun workshop blogger di luar kantor.

Terdapat sejumlah versi mengenai batasan usia seseorang digolongkan sebagai generasi millennials, tetapi umumnya generasi ini didefinisikan sebagai mereka yang lahir mulai tahun 1980-an hingga pertengahan dekade ’90-an. Artinya saya pun sebetulnya masuk dalam golongan generasi ini.

Aktivitas Meningkat, Semua Serba-Cepat (sumber: iStock)

Continue reading

Hadapi Gadget Generation, Cermati Triknya

Orangtua masa kini tidak boleh ‘kalah’ pada anak-anak yang dengan cepat mempelajari teknologi terbaru. Demi menjadi teman terbaik bagi anak, juga untuk tetap ‘nyambung’ sekaligus memantau aktivitas anak, orangtua diharapkan mau meng-update pengetahuan. Baik pengetahuan mengenai cara menggunakan teknologi ini maupun ilmu memitigasi risiko yang mungkin muncul. Hal ini berkali-kali ditekankan dalam seminar yang saya ikuti ataupun artikel yang saya baca. Sebagai orangtua dari anak-anak yang juga ‘digital native‘ alias begitu lahir sudah dihadapkan dengan kecanggihan dunia digital, saya pun termasuk yang terkena ‘kewajiban’ itu.

Nah, dalam rangka menambah pengetahuan, Sabtu lalu (12/05) saya mengikuti Parenting ClassGadget Generation Do’s & Don’ts” di Hong Kong Cafe, Sarinah Thamrin. Dalam acara tersebut, dr. Stephanus ‘Ivan’ Nurdin, MedHyp, medical hypnotherapist dari RSIA Budhi Jaya menjelaskan bagaimana menangani generasi yang piawai menggunakan gawai sedari belia ini.

 

Continue reading

Menyambut Datangnya Sang Tamu Agung

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, selalu terbit penyesalan di hati. Mengapa saya tak memanfaatkan momen bulan penuh ampunan ini dengan sebaik-baiknya? Sungguh banyak waktu yang saya habiskan dengan sia-sia alih-alih menambah amalan baik. Baiklah, mungkin tidak sepenuhnya sia-sia, tetapi tetap saja, ada celah tambahan amal yang saya lewatkan. Ujung-ujungnya saya bertekad agar Ramadan tahun depan harus lebih baik. Dan tentunya berdoa agar masih diberi kesempatan untuk itu.

Sering saya baca seruan untuk menghidupkan bulan-bulan lain laksana Ramadan. Maksudnya, mari memperbanyak ibadah dan menahan hawa nafsu meskipun pahala yang dijanjikan secara eksplisit tidaklah sebanyak untuk bulan Ramadan. Namun, seiring dengan berjalannya bulan demi bulan, semangat ini kembali mengendor. Kesibukan kerja dan urusan rumah menjadi pembelaan diri.

Kini Ramadan 1439 Hijriah sudah di depan mata. Tinggal menunggu penetapan pemerintah untuk memulai ibadah puasa. Sudah sejauh mana persiapan saya?

Continue reading

Empat Kriteria Mainan Anak Yang Aman Rekomendasi Psikolog

Sebagai orangtua rasanya kita tidak bisa lepas dari yang namanya mainan anak. Coba cek ruang bermain di rumah, deh. Ada mainan anak yang memang kita belikan, ada pula yang merupakan pemberian atau kado. Dari sekian banyak mainan yang ada di rumah, seberapa besar concern kita terhadap keamanannya? Mengingat mainan ini menemani keseharian anak, bahkan untuk bayi seringkali mainan ini masuk ke dalam mulut. Juga dari segi edukasi, apakah mainan yang kita berikan sudah layak?

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo menerangkan bagaimana sebetulnya bermain dengan aman itu, dalam talk show yang diadakan oleh Fisher Price Indonesia bekerja sama dengan Kidz Station. Dalam acara yang diselenggarakan di Kidz Station Senayan City Kamis lalu (10/05) ini, mbak Vera menerangkan, sampai dengan usia 5 tahun, mainan itu boleh diberikan serta merta untuk stimulasi perkembangan anak. Sedangkan untuk umur 5 tahun ke atas, mainan itu ‘dalam rangka’, artinya sebagai reward atas hal baik tertentu yang ia lakukan. Atau, anak harus menabung dulu untuk memperolehnya.

 

Mau beli, mau dapat hadiah, jangan lupa pertimbangkan, apakah mainan ini memang baik untuk anak? Nah, menurut mab Vera, mainan yang dipilih untuk anak harus memenuhi kriteria berikut ini:

Continue reading

Sisi Lain: Yakin Mau Kekepin Anak?

Dulu saya pernah mengutip tulisan Busar alias mba Sarra Risman sbb:

Anak-anak saya layaknya tango yang belum tertutup rapat. Jika dilempar ke luar rumah akan terkontaminasi dengan ‘kuman dan kotoran’ yang kemungkinan ada dan bertabur di luar sana. Dan seperti wafernya, kalau sudah kena kuman, bagaimana membersihkannya? Saya memilih untuk memastikan tango saya terbungkus rapi dulu, karena kalau sudah lewat proses ‘quality control’, mau terlempar ke got pun, isinya tidak terkontaminasi.

Jadi, harus dikekep di rumah? Di mana-mana, proses pembungkusan ya di pabrik yang tertutup laaah. Dengan pekerja yang pakai sarung tangan, masker muka, tutup kepala, mesin yang canggih dan mahal, dan yang mau ‘wisata ke pabrik’ harus by appointment, mengikuti rules pabrik yang ada, gak bisa sembarang masuk saja. Ada dress code dan limited access di sana. Dan tidak setiap proses bisa dilihat oleh semua.

Selengkapnya, sekaligus untuk melihat konteks dan efek dari penerapan prinsip tersebut, bisa dilihat di postingan saya yang ini: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak? Tapi secara keseluruhan sih, busar termasuk yang menganggap bahwa ‘ngekepin’ alias memproteksi anak itu penting, daripada dapat pengaruh buruk dari luar.

Nah, belakangan saya membaca sejumlah tulisan dari para pakar parenting yang lain. Beliau-beliau ini justru mengingatkan prinsip yang berbeda. Selengkapnya sebagaimana saya kutip di bawah ini:

Continue reading