NHW7 Kelas Matrikulasi IIP Batch 2

_Nice Homework #7_

*TAHAPAN MENUJU BUNDA PRODUKTIF*

Bunda dan calon bunda yang masih semangat belajar sampai NHW #7.  Selamat, Anda sudah melampaui tahap demi tahap belajar kita dengan sabar.

Setelah kita berusaha mengetahui diri kita lewat NHW -NHW sebelumnya, kali ini kita akan mengkonfirmasi apa yang sudah kita temukan selama ini dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping.

Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah teman-teman  tulis di NHW#1 – NHW #6
Semua ini ditujukan  agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA.

🍀 Ketahuilah tipe kekuatan diri (strength typology) teman-teman, dengan cara sebagai berikut:

1⃣Masuk ke www.temubakat.com.

2⃣Isi nama lengkap Anda, dan isi nama organisasi: Ibu Profesional.
Jawab kuesioner yang ada di sana, setelah itu download hasilnya.

3⃣Amati hasil dan konfirmasi ulang dengan apa yang Anda rasakan selama ini.

4⃣ Lampirkan hasil ST30 (Strength Typology) di Nice Homework #7

drawmap-tes-bakat

strength

Saya tidak terlalu merasa bahwa diri saya ini kreator yang baik, sih,  saya cenderung ke eksekutor sebenarnya. Ide saya kadang terlalu ajaib atau munculnya di waktu yang kurang tepat, hehehe. Sebagai ambassador, nah ini, kadang saya tahu-tahu ditunjuk sebagai duta tanpa mengajukan diri. Apakah itu artinya saya memang pantas di situ? Tapi saya sendiri selalu merasa banyak orang di sekitar yang sebetulnya jauh lebih pantas. Saya suka mengamati gaya berjualan dan biasanya bisa menangkap kalau ada yang soft selling atau covert selling, tapi memang tidak terlalu suka menerapkannya (kecuali mungkin untuk promosi tulisan). Reasoning yang kuat… hmmm, jadinya memang walaupun pada banyak hal saya cenderung otomatis melakukannya (kadang absentmindedly), tapi dalam bersikap rasanya saya memang selalu butuh dan mencari alasan yang kuat. Dan kadang alasan yang bisa saya terima itu cukup sesederhana ‘habisnya disuruh, sih, tugas kita taat, kan?’ kok, hehehe, alias ya pasrah-pasrah juga.

Karena pasrah-an ini juga, untuk mengisi bagian ‘tidak bisa dan tidak suka’ saya jadinya bingung, deh. Rasanya kalau memang tiba waktunya ya mau tidak mau harus bisa, kan?

🍀 Buatlah kuadran aktivitas Anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran.

Kuadran  1 : Aktivitas yang Anda SUKA dan Anda BISA

Kuadran 2  : Aktivitas yang Anda SUKA tetapi Anda TIDAK BISA

Kuadran 3 : Aktivitas yang Anda TIDAK SUKA tetapi Anda  BISA

Kuadran 4: Aktivitas yang Anda TIDAK SUKA dan Anda TIDAK BISA

 kuadran-bisa-tidak-bisa-suka-diisi

Being Switchable with Acer: Me, My Job, and My Hobby

menyusun-annual-reportMei lalu, saya dan beberapa orang pegawai lain se-Indonesia yang lolos seleksi pegawai bertalenta di bidang jurnalistik berkesempatan terlibat dalam proyek penulisan annual report organisasi kami. Untuk penyelesaian proyek tersebut, kami sempat dikumpulkan selama sepekan di kantor pusat. Ketika bertemu teman-teman lain untuk pertama kali, terus terang reaksi pertama saya adalah agak minder. Bagaimana tidak, saya paling senior (untuk menggantikan kata ‘tua’ :D) di antara mereka, dengan jarak usia cukup lumayan. Apalagi saat mereka mengeluarkan perangkat masing-masing. Waah, canggih-canggih, pikir saya.

Saya tatap netbook berwarna hitam yang juga sudah ikut duduk manis di depan saya, di meja perpustakaan kantor pusat. Perangkat ini sungguh penuh kenangan. Jadi ceritanya suami saya mendadak dapat SK mutasi ke Jakarta tahun 2011, saat saya sedang hamil anak pertama. Divisinya yang terhitung baru sehingga sarana komputer juga masih terbatas, serta pekerjaan yang menuntut mobilitas membuat suami merasa perlu membawa notebook sendiri, notebook yang jadi milik kami bersama. Sebetulnya saat itu saya juga sedang ada proyek menulis yang cukup lumayan dari segi asah pengalaman (karena dibimbing langsung oleh para editor penerbit kenamaan) maupun bayaran (honor terbesar yang pernah saya terima), tapi saya juga tak sampai hati bilang mau ‘menahan’ agar laptop tetap saya gunakan di Pangkalpinang. Kejutan, ternyata suami saya kemudian membelikan Acer Aspire One untuk saya yang dititipkannya lewat rekan lain. Dengan netbook inilah saya menuntaskan beberapa tulisan di kala itu, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan dalam buku atau memenangkan lomba.

Kini, putri pertama kami sudah bukan balita lagi. Episode long distance marriage kami baru saja memasuki babak berikutnya setelah sempat lima tahun bekerja di kota yang sama. Kali ini saya di Jakarta dan suami di Jogja. Netbook itu masih setia menemani saya, termasuk menyimpan memori kegiatan keluarga kecil kami. Setelah putri kedua melewati usia setahun, saya mulai lebih aktif menulis lagi. Mencoba ikutan event ini-itu, lagi-lagi dengan bantuan netbook kesayangan. Kebetulan awal tahun ini saya juga dimutasikan ke kantor dengan job desc baru: membuat beberapa macam laporan dan analisis.

Jika sebelumnya saya menjadi pengguna sistem terotomatisasi, kali ini saya dihadapkan pada pekerjaan yang sebetulnya merupakan hobi saya yaitu menulis, tetapi dengan tantangan baru yaitu menganalisis secara ilmiah. Artinya, makin sering saya berhubungan dengan aktivitas ketik-mengetik, mengirimkan surel, browsing rilis laporan dari lembaga lain maupun berita ekonomi, dan sejenisnya. Tentunya sudah tersedia fasilitas yang memadai di kantor, tetapi ada kalanya saya perlu menulis atau menyampaikan sesuatu di perjalanan. Sebab pekerjaan ini juga menuntut kami bertemu untuk berkoordinasi dengan banyak pihak agar laporan yang tersusun lebih akurat dan bermanfaat. Ponsel pintar cukup membantu di waktu-waktu tertentu, tapi sering saya berharap punya gawai yang lebih bisa diandalkan untuk mendukung beragam aktivitas saya.

acer-displayBaca di sana-sini, saya menemukan tulisan tentang Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas. Kenapa Acer? Jelas, karena ketangguhan perangkat sebelumnya yang saya miliki sudah menjadi bukti. Kata-kata “tanpa kipas” langsung menarik perhatian saya. Bisa, ya, tidak pakai kipas? Ternyata dengan teknologi LiquidLoop, suhu mesin netbook bisa tetap dingin tanpa kipas. Meminimalisir suara berisik juga, sekaligus mencegah debu masuk ke dalam badan netbook karena tanpa ventilasi, hingga netbook jadi lebih awet. Ukurannya sendiri tipis dengan bobot yang ringan, dengan display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440). Cocok nih dipakai untuk bekerja dengan spreadsheet. Cocok juga untuk video call dengan suami atau eyang anak-anak yang nun jauh di sana (penting!). Fitur Acer BlueLight Shield mampu melindungi mata pengguna, aset karunia Tuhan yang penting untuk tetap dijaga.

acer-switchableHal lain yang bikin saya makin antusias adalah adanya kickstand yang bisa dimiringkan hingga 165 derajat supaya lebih nyaman digunakan. Ini nih, kecanggihan teknologi yang dulu hanya bisa saya kagumi saat ada pejabat kantor pusat berkunjung😀. Keyboard docking Switch Alpha 12 terkoneksi melalui engsel magnetik, jadi bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet, plus dilengkapi backlit untuk memudahkan pemakaian di tempat minim pencahayaan. Tahu aja nih, ibu-ibu kalau malam kadang masih perlu nulis sesuatu tapi kalau lampu dinyalakan semua si kecil ikut bangun, hehehe. Switchable banget, kan? As switchable as yang saya butuhkan, mengingat aneka keperluan saya yang kadang menuntut ‘gaya’ yang berbeda dalam mengoperasikan netbook.

acer-transfer-dataBekerja dengan gawai acapkali juga berarti munculnya keperluan untuk memindahkan data. Nah, Switch Alpha 12 sudah pakai USB 3.1 Type-C, nih, yang port-nya bolak-balik dan transfer data juga bisa lebih cepat yaitu mencapai 5 Gbps (10 kali lebih kencang dibandingkan dengan USB 2.0). Tersedia juga stylus pen untuk membantu presentasi menjadi lebih praktis. Kemudahan-kemudahan itu bisa menghemat waktu juga, demi kelancaran pertukaran peran working mom yang juga butuh me time seperti saya.

acer-1Jelas kan, Acer Switch Alpha 12 ini pas banget untuk saya. Masuk wish list pokoknya, semoga segera ada rezeki untuk mendapatkannya. Kalau sudah dapat, netbook yang lama dikemanakan, dong? Bisa dipakai anak pertama, lah, biar nggak hanya terbiasa dengan layar sentuh🙂.

acer

Materi Kelas Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi VII: Rezeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari

_Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #2, sesi #7_

*REZEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI*

Alhamdulillah setelah  melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan” dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

*_Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR_* “

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani  hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati.

Para Ibu di kelas Bunda Produktif  memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu di mana rezeki kita, tapi rezeki akan tahu dimana kita berada.

Sang Maha Memberi Rezeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita.

*_Allah berjanji menjamin rezeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar_*

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah:

*_bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga_*

Semua pengalaman para Ibu Profesional di  Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah *KEMULIAAN* hidup.

“ *_Karena REZEKI itu PASTI, KEMULIAAN-lah yang harus DICARI_* “

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya “iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya “tidak”, kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka,

*_Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi ibu yang bermanfaat bagi banyak orang_*

Menjadi Bunda Produktif tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita.

Sangat keliru kalau kita sebagai ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

*_Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya_*

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,

1⃣menambah syukur,
2⃣menegakkan taat

3⃣berbagi manfaat.

*_Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya_*

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan rezeki adalah urusanNya.

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga,  untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya,

Ketika sudah mendapatkannya, jawab pertanyaan berikutnya “Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber bacaan_:

_Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014_

_Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010_

_Materi kuliah rutin Ibu Profesional, Kelas Bunda Produktif, Salatiga, 2015_

cash-flow-4-muslim

sumber slide yang di-capture: http://slideplayer.info/slide/1972864/, penjelasannya bisa dibaca di sini http://cashflow4muslim.blogspot.co.id/search/label/Cashflow%20for%20Muslim

Aktivitas Keluarga Optimal dengan Rumah Bersih Maksimal

Terus terang, citra vacuum cleaner di mata saya selama ini adalah ‘perkakas high end yang termasuk kebutuhan tersier’. Salah satu pemicunya ya karena harganya yang konon tergolong tinggi (padahal tidak serius mengamati, hehehe).

Saya sendiri sebetulnya agak sensitif soal debu. Bebersih rumah standar sih tidak jadi masalah. Namun, kalau sudah bongkar-bongkar tumpukan barang yang cukup lama tidak disentuh, yang biasanya jadi sarang debu, bersin-bersin dan gatal-gatal-lah saya. Sebetulnya sih, yang lebih tepat adalah reaksi terhadap tungau debu (household dust mites), ya, bukan terhadap debunya itu sendiri. Makhluk kerabat laba-laba ini habitatnya memang di debu rumah. Si tungau supermungil ini tidak menggigit, tetapi badan dan sekresinya bisa mengandung serpihan kulit mati atau hal lain yang memicu reaksi alergi.

Jika membaca forum-forum online ibu-ibu dengan topik kesehatan anak, masalah debu ini juga sering dikeluhkan menjadi pemicu alergi pada bayi dan anak. Kasihan kan, anak bersin-bersin dan hidungnya tersumbat, atau muncul ruam pada kulit halus si kecil. Bisa jadi ada agenda keluarga atau individu keluarga yang harus tertunda atau dibatalkan gara-gara salah satu anggotanya mengalami gejala alergi. Beberapa dokter yang saya kenal pernah menjelaskan bahwa standar tata laksana untuk alergi itu sendiri yaitu hindari pemicunya. Obat bisa digunakan untuk menangani atau meredakan gejala yang sudah telanjur timbul, beberapa terapi disebut ampuh agar tubuh lebih kebal, tetapi pencegahan adalah kunci utama. Sementara, beberapa pernak-pernik di rumah yang sering dianggap identik dengan dunia bayi dan anak seperti boneka, selimut, dan karpet atau permadani cenderung punya sifat memerangkap debu. Vacuum cleaner atau biasa diterjemahkan sebagai penghisap debu, sebagaimana namanya, merupakan salah satu perangkat yang bisa menjadi solusi.

Nah, saat browsing terkait perlengkapan rumah tangga, tawaran vacuum cleaner dari berbagai produsen ternyata cukup sering berseliweran di ad banner yang dipasang oleh toko-toko ataupun marketplace online.  Wah, tidak terlalu mahal juga, pikir saya. Tapiii, ada tapinya, nih. Namanya barang elektronik, tentu maunya yang awet dan berkualitas, ya. Sayang kan, kalau dipakai sebentar sudah rusak, atau kinerjanya ternyata tidak sesuai deskripsi. Lebih boros nanti jatuhnya. Bicara soal daya tahan, saya mau tidak mau teringat jingle iklan yang sering diputar di televisi dulu, “Kalau saja semua seawet Electrolux”.

Tahun 2016, vacuum cleaner Electrolux kembali meraih penghargaan Top Brand Awards, lho. Artinya brand ini banyak dikenal, dibeli, dan konsumennya pun loyal (top of mind, market, & commitment share). Baca-baca sejarahnya, memang Electrolux-lah yang menjadi pelopor di bidang vacuum cleaner. Tahun 1912 Axe Wenner-Gren, pendiri Electrolux, melansir Lux 1, penghisap debu rumah tangga pertama. Artinya, pengalaman Electrolux sudah lebih dari 100 tahun #Over100YearsElectroluxVacuum. Tentu bentuknya belum seperti sekarang, ya. Beratnya saja masih 14kg!

vacuum1

vacuum-2Electrolux terus melakukan inovasi melalui penelitian hingga vacuum cleaner yang diproduksi semakin efisien dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ya, ada berbagai tipe yang dikeluarkan oleh Electrolux. Awalnya saya tahu ada tipe-tipe ini dari artikel di web The Urban Mama, yang menyampaikan materi sharing dengan Electrolux Indonesia. Kemudian saya cari lebih detil di katalog resminya. Tipe-tipe ini meliputi:

  1. Wet & dry yang bisa digunakan untuk luar rumah dan mampu membersihkan cairan, serbuk kayu, debu, dan kerikil.
  2. Stick yang cocok untuk rumah kecil, tersedia model cord maupun cordless.
  3. Canister yang lebih tangguh, tersedia model bagged maupun bagless.

ergorapido-1

Pilih yang mana, ya? Yang masuk ke wishlist saya sih yang stick, mengingat ukuran rumah yang mungil. Ergorapido ZB3114AK misalnya, yang bagless, cordless, baterainya tahan lama dan isi ulangnya cepat, kepala hisapnya bisa bermanuver 180 derajat pula.

Dengan vacuum cleaner yang andal, mudah digunakan, dan bermutu tinggi, tujuan penggunaannya yaitu rumah yang bersih juga akan tercapai dengan maksimal. Bersih-bersih rumah jadi lebih menyenangkan dan tak memakan waktu lama. Rumah bersih artinya meminimalkan potensi pemicu alergi. Ketika alergen sudah dihalau, keluarga pun bisa hidup lebih sehat. Kesehatan optimal menjadi salah satu modal utama untuk beraktivitas sehari-hari, kan?

 

#TUMElectroluxBlogCompetition

Referensi:

http://www.electrolux.co.id/Products_new/Cleaning/

https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/house-dust-mite

http://www.webmd.com/allergies/guide/dust-allergies

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dust-mites/basics/definition/con-20028330

http://theurbanmama.com/articles/tumluncheon-clean-house-happy-family-m58460.html

http://www.electrolux.co.id/Products_new/Module-Container/Cleaning-Modules/Category-page/Promotion-Small-Modules/100-Years-of-Vacuum-Revolution/100-Years-of-Vacuum-Cleaner-Heritage1/

http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2016_fase_1

http://www.electrolux.co.id/LocalFiles/AsiaPacific_Region/Brochures/INDO/Master_Catalog_Vacuum.pdf

 

NHW6 Kelas Matrikulasi IIP Batch 2

_NICE HOMEWORK #6_

*BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal”.

Mengapa? Karena hal ini akan mempermudah Bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah Bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu

*_RUTINITAS_*

Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita _Merasa Sibuk_ sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb:

1⃣ Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting

2⃣Waktu Anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

3⃣Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.

4⃣Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal Anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

5⃣Jangan izinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian Anda.

6⃣Setelah tahap di atas selesai Anda tentukan, buatlah jadwal harian yang paling mudah Anda kerjakan. (Contoh, kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7).

7⃣Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
Kalau tidak, segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

_SELAMAT MENGERJAKAN_

Jawaban:

1⃣3 aktivitas yang paling penting: tilawah, menemani anak dengan perhatian sepenuhnya, fokus bekerja agar pekerjaan lekas selesai dan bisa pulang tepat waktu.

3 aktivitas yang paling tidak penting: browsing media sosial tanpa tujuan jelas, mendengarkan musik, beli makan siang di luar kantor (eh, tapi nggak sering juga sih, bingung sebenernya untuk yang ini, hmm, masukin aktivitas cuci wajan panci saat anak-anak bangun dan sebetulnya ada yang bantu di rumah-ART- gitu boleh ngggak, ya? habis kadang suka sungkan kalau bibik seolah kebanyakan kerjaan, sekalian nyontohin ke anak-anak juga sih, padahal waktunya bisa untuk main sama anak-anak yang beneran sambil dilihat gitu).

2⃣Waktu saya selama ini habis untuk kegiatan yang sebetulnya tidak penting, khususnya browsing tidak jelas (yang bukan untuk mendukung blogging, tips menulis, dan informasi kesehatan keluarga).

3⃣Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.

Peran hidup saya sebagaimana disebutkan dalam NHW sebelumnya lebih banyak ke passion menulis ya, jadi sepertinya tidak ada dari ketiga aktivitas penting itu yang secara langsung berpengaruh ke tulis-menulis. Tapi, menurut saya ketiga aktivitas itu memang penting sebagai semacam pengingat akan landasan hidup saya, agar tak semata mengejar passion. Jika ketiganya berjalan dengan baik dan teratur, alokasi waktu untuk memperbanyak jam terbang di bidang menulis juga bisa terpenuhi sesuai rencana, kan? Semoga tidak termasuk tidak one bite at a time, ya.

4⃣Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal Anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut).

Yang ini mungkin bisa sekalian masuk ke no.6, ya. Yang jelas sih waktu selama di kantor itu yang sudah tetap.

5⃣Jangan izinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian Anda.

—saya harus bilang, kecuali ada permintaan khusus dari suami, ya, hehehe. Kami tidak terlalu spontan sih, misalnya mendadak ingin jalan berdua, apalagi mengingat kesibukan kerja juga. Tapi dengan kondisi berjauhan seperti sekarang, ada kalanya kesempatan quality time itu kami temukan tiba-tiba. Dan nampaknya nggak akan sampai ‘memenuhi’ jadwal harian juga, sih.

6⃣Setelah tahap di atas selesai Anda tentukan, buatlah jadwal harian yang paling mudah Anda kerjakan. (Contoh, kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7).

Subuh-06.10: agenda rutin (sholat, ngaji, cek perlengkapan kantor dan sekolah, menyusui, work out, mandikan anak-anak).

06.10-06.45: mandi, sarapan, siapkan bekal untuk ke kantor, bersiap ke kantor.

06.45-18.30: di kantor+perjalanan (jamnya terkadang tidak tentu, paling cepat sampai rumah 17.30, bisa sampai habis isya di kantor kalau lembur).

18.30-19.30: sholat, ngaji, cek hafalan, menyusui, makan malam.

19.30-20.30: ngobrol dengan anak-anak, video call dengan suami atau orangtua, cek grup whatsapp.

20.30-21.00: persiapan tidur anak-anak, bacakan cerita kalau waktu ngobrol belum sempat.

21.00-22.00: siapkan perlengkapan besok, cuci piring gelas, baca buku, browsing (cek grup, agenda akhir pekan, event blogging, termasuk kadang belanja online).

7⃣Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
Kalau tidak, segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

Masih terlalu luas ya sepertinya deskripsi jadwal yang saya berikan…tapi sementara baru bisa itu dulu.

Mojok di Kids Corner Double Tree by Hilton

img_20161119_085304_hdrBeberapa waktu yang lalu saya dan ‘pasukan’ (maksudnya anak-anak dan pengasuh) pergi ke Double Tree by Hilton Hotel Jakarta untuk mengikuti sebuah acara. Ternyata saya salah membaca waktu acara dimulai, walhasil kami jadi harus menunggu selama satu jam lebih. Masih mending daripada terlambat, sih, tapi…anak-anak gimana, ya? Bosan nggak, tuh? Mengingat kegiatan dilaksanakan di restoran di lantai atas hotel yang terletak sangat dekat dengan Stasiun Cikini ini, ruang gerak mereka agak terbatas. Ada teras terbuka di mana anak-anak kayaknya sih bakal cukup senang lari-larian sih, tapi malah di situ mataharinya cukup menyengat, ada yang merokok pula.

Panitia kemudian menyarankan kami untuk ke Kids Corner. Nah, sesaat sebelum berangkat saya sebetulnya sudah browsing sekilas untuk mencari tahu apakah di hotel tersebut tersedia arena bermain anak. Soalnya pernah kami sekeluarga datang ke seminar di sebuah apartemen dan ternyata di sana ada tempat bermain untuk anak yang baru kami ketahui setelah acara selesai. Kan lumayan, ya, daripada anak-anak tidak leluasa main di lokasi acara (tentang mengajak vs menitipkan anak saat ortu belajar bisa dibaca di postingan yang ini: Masih tentang Adab Menuntut Ilmu).

Masalahnya, kesimpulan cepat saya terhadap salah satu tulisan yang saya temukan, Kids Corner ini berbayar untuk anak di atas dua tahun. Jadinya agak ragu untuk ke sana. Masak dedek aja yang main, pasti kakak juga mau ikut dong, apalagi sebetulnya kakak sudah kangen ke Kids Corner Museum Nasional atau Perpustakaan Daerah DKI Jakarta. Padahal tarif yang sempat saya baca lumayan juga (tanggal tua nih, hihihi). Tapi ya sudahlah, nggak ada ruginya juga kan ditengok, kalau ternyata harus mengeluarkan biaya ya nggak jadi saja. Hitung-hitung jalan-jalan lihat-lihat suasana hotel.

Kami pun turun ke lantai G sesuai informasi. Rupanya di situ terdapat pula restoran, tempat fitness, dan kolam renang. Ada papan petunjuk kecil untuk menuju Kids Corner yang dipasang di beberapa pohon di tepi kolam, jadi tanpa tanya-tanya lagi pun cukup mudah menemukannya. Sepertinya sedang akan ada event karena terlihat beberapa petugas sedang menghias sebagian sisi kolam ke arah Kids Corner dengan boneka-boneka, peti harta karun, dan teropong.

img_20161119_093224_hdrTibalah kami ke Kids Corner, dan ternyata memang gratis kok, mungkin karena kami terhitung tamu hotel, ya (walaupun tidak menginap). Di sana ada rangkaian mainan besar yang terdiri dari trampolin, lorong-lorong, perosotan, dan mandi bola. Beragam boneka, mainan seperti hula hoop, dan buku edukatif tersedia untuk dimainkan. Mau mewarnai juga bisa, tersedia lembaran-lembaran gambar berikut pensil warnanya. Di salah satu sisi ada beberapa ceruk untuk bermain komputer yang sepertinya nyaman sekali dengan kursi berbantalan empuk (ada anak yang sedang main game ditemani ayahnya).

Yang unik juga adalah penataan toiletnya yang kids friendly, termasuk wastafel yang dipasang rendah sehingga memudahkan anak untuk cuci tangan sendiri. Sejam kami berada di sana, anak-anak seru mencoba hampir semua mainan yang ada. Untungnya sih nggak sampai mogok nggak mau keluar ya, hehehe. Pada leaflet yang tersedia di meja petugas Kids Corner, disebutkan bahwa memang pada akhir pekan sering digelar kegiatan khusus untuk anak seperti lomba mewarnai atau membuat kerajinan tangan. Intinya, memang tempat ini membantu sekali ya bagi orangtua yang mengajak anaknya menginap di Double Tree by Hilton Hotel (atau seperti cerita sepupu saya di sini, bagi para eyang).

img_20161119_091055_hdr img_20161119_093416_hdr

Materi Kelas Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi VI: Ibu Manajer Keluarga Handal

*IBU MANAJER KELUARGA HANDAL*

_Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6_

*Motivasi Bekerja Ibu*

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib profesional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apa pun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu

*_kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita_*

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas di mana pun. Sehingga Anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja?

🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?

🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/keluarga lain?

🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga Anda merasa ini bagian dari peran Anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita.
.
🍀Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, Anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses

🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa _MENGELUH_.

*Ibu Manajer Keluarga*

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manajer keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita

*_Saya Manager Keluarga_*

kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manajer.

🍀Hargai diri anda sebagai manajer keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manajer keluarga.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi.

🍀Buatlah skala prioritas.

🍀Bangun komitmen dan konsistensi Anda dalam menjalankannya.

*Menangani Kompleksitas Tantangan*

Semua ibu pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktikkan, yaitu:

*_a. PUT FIRST THINGS FIRST_*

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. -Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas Anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

*_b.ONE BITE AT A TIME_*

Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

*_c. DELEGATING_*

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

*_ Ingat, Anda adalah manajer, bukan menyerahkan begitu saja tugas Anda ke orang lain, tapi Anda buat panduannya, Anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan Anda_*

_Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya_

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

*Perkembangan Peran*

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

*_SEKADAR MENJADI IBU_*

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekadar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.

🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak. Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar-jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu-ibu yang seprofesi antar-jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran menjadi “manajer pendidikan anak”.

Anak-anak pun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan, tidak harus selalu di jalur formal.

🍀Cari peran apa lagi, tingkatkan lagi…..dst

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun Anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata

*BERUBAH atau KALAH*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

bunda-manajer

_SUMBER BACAAN_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015_

_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016_

_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009_

==============================

Tanya Jawab Materi Pekan Ke 6 Program Matrikulasi IIP JKT Batch #2
Jumlah penanya : 14 anggota
Tanya : T, Jawab : J

1⃣ Bunda Yola :
T : Menanggapi materi motivasi ibu bekerja, kebetulan saya bekerja di ranah publik. Saya pribadi sangat menginginkan menjadi ibu bekerja di ranah domestik, namun karena alasan kebutuhan ekonomi saya bekerja di ranah publik, jadi motivasi saya bekerja bukanlah “Asal Kerja”, “Kompetisi”, maupun “Panggilan” tapi karena “Kebutuhan”. Hal ini seringkali membuat saya tidak puas dan sedih karena tidak punya pilihan. Di satu sisi meninggalkan anak karena dinas luar sangat sering, di sisi lain membutuhkan manfaat ekonomi dari dinas luar itu. Bagaimana memperbaiki perasaan saya selama ini untuk bisa menjadi Ibu bahagia yang mampu menularkan kebahagiaan itu ke dalam keluarga?

1⃣ Bunda Yola
J : Jika memang bekerja di ranah publik itu menjadi kesepakatan dan hal penting dalam keluarga, maka lakukan dengan sepenuh hati.

Saat mendelegasikan tugas, pastikan kalau sudah sesuai dengan value kita. Luangkan waktu untuk membicarakan value kita dengan asisten, kemudian latih asisten kita.

Saat di rumah manfaatkan waktu bersama anak sebaik mungkin. ✅

2⃣Bunda Leila
T : 1. Kalau ingin mencapai apa yang keluarga lain sudah raih, ini termasuk kompetisi bukan, ya? Arahnya lebih ke ‘mereka bisa, masak kami tidak’, misalnya hafalan Qur’an, semacam berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita sedih kalau ketinggalan, tapi bukan berarti stres dan kesal pada yang sudah lebih sukses, kadang adanya kesal terhadap diri sendiri.
2. Untuk one bite at a time, jika target harian kita ada banyak aspek misalnya hafalan Qur’an, resep sehat tertentu, cek kandungan dan efek samping imunisasi yang akan diterima anak kita pekan depan, baca tips SEO, baca artikel parenting dari satu sumber sehari, browsing mau beli baju rumah cantik dengan harga terbaik, yang seperti ini termasuk terlalu banyak/tidak fokus kah?

2⃣ Bunda Leila
J : 1. Masing-masing keluarga memiliki ciri khasnya. Maka, maksimalkan kekuatan tersebut

2. Jika target harian tersebut mampu dilaksanakan secara kontinyu, itu bagus✅

3⃣ Bunda Lia:
T: 1. Untuk delegasi pekerjaan, bagaimana jika tidak ada orang yang didelegasikan untuk pekerjaan sebagai ibu (tidak ada ART dan anak-anak maish balita). Artinya, jika sebagai manajer harus mempunyai bawahan ya.
2. Seandainya keinginan bekerja itu datang karena perasaan bosan dengan pekerjaan rumah. Ingin juga rasanya beraktivitas yang menghasilkan di luar. Itu bagaimana?
3. Langkah yang dikerjakan agar segera move on dari ‘sekedar menjadi ibu’ Karena cukup sulit jika berubah langsung drastis dan konsisten.

3⃣ Bunda Lia
J: 1. Ajak anak-anak terlibat dalam aktivitas ibu yang sesuai dengan usianya.
Pemaknaan manajer di sini lebih ke pembaharuan pemahaman, dari yang ‘sekadar’ menjadi ‘lebih bermakna’.

2. Jika bosan melanda, coba kita berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri, untuk apa kita bekerja di dalam rumah? Seberapa ikhlas hati kita melakukan pekerjaan tersebut?

3. Langkah awal, ubah mindset kita menjadi ibu yang lebih bermakn.a✅

4⃣ Bunda Prima :
T: Sebagai ibu pekerja waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak lebih sedikit dibandingkan dengan ibu rumah tangga, yang setiap saat mungkin bisa mengontrol kegiatan anaknya. Berbicara soal aturan, saya di rumah sudah mendelegasikan aturan-aturan tersebut kepada orang-orang yang ada di rumah,bahkan menulis aturan-aturan tersebut biar selalu diingat, misalnya: anak saya dilarang beli makanan atau jajan yang macam-macam karena alasan kesehatan atau beli mainan setiap hari. Bukannya tidak boleh tetapi untuk membiasakan anak saya hidup sehat dan berhemat. Saat ini saya tinggal dengan mertua, dan aturan-aturan yang saya buat selama ini terkadang dilanggar karna alasannya “sayang dengan cucu atau kasihan dengan cucu kalau tidak dibelikan mainan dll”, pertanyaan saya apa yang harus saya lakukan agar aturan tersebut tetap dijalankan dan dilanggar, tanpa ada intervensi dari keluarga mertua misalnya, mengingat sebagai ibu pekerja waktu saya di rumah lebih sedikit?

4⃣ Bunda Prima
J : Kita tidak bisa mengesampingkan begitu saja peran mertua. Tetap hormati mereka sebagai orang tua kita.

Terkait aturan tentang anak, bicarakan terus dengan mertua, wilayah-wilayah yang boleh dan tidak boleh. Ajak ngobrol mertua juga tentang hal-hal yang baik dan sehat untuk anak-anak✅

5⃣ Bunda Kartini
T : Saya dulu sebagai wanita bekerja, sebelum memiliki anak, karena saya tidak rela meninggalkan anak, jadi cuti lahiran lanjut resign. Tetapi saat ini saya masih menumpang di rumah ortu saya. Jadi saya belum maksimal menjalankan fungsi sebagai manager keluarga.
Bagaimana supaya saya menjadi manager keluarga di rumah ortu saya? Apakah mungkin?
Bagaimana menyikapi perbedaan mendidik anak? Saya merasa banyak konflik jika masih bersama keluarga saya. Dan saat ini sedang membulatkan tekad untuk mandiri.
Apakah menjadi Manager keluarga, harus membuat jadwal perjam untuk tugas saya menjadi ibu untuk keesokan harinya?

5⃣ Bunda Kartini
J : Hal-hal yang kita tekadkan BISA, insyaAllah bisa kita lakukan.

Ada satu cerita dari bu Septi ketika beliau sekeluarga hidup satu rumah dengan orang tuanya. Beliau memberi batas aturan untuk anak-anaknya. Jika berada di wilayah ibu, maka aturan ibu yang dipakai. Jika berada di wilayah nenek, maka bisa memakai aturan nenek. Ini salah satu contoh strategi keluarga.

Manajer keluarga harus membuat jadwal?

Jika hal itu menjadi kebutuhan dan mendukung aktivitas ibu sebagai manajer keluarga, maka lebih baik dibuat.✅

6⃣ Bunda Ulifa
T : Bagaimana sarannya ya Bu, kadang suami itu mementingkan kegiatan saya di luar rumah tangga seperti berbagai macam kegiatan dakwah walaupun hari sabtu minggu (yang mana kedua hari tersebut enaknya digunakan untuk kegiatan keluarga karena suami libur sabtu dan minggu). Menurut suami, saya tidak masalah tidak mengerjakan kerjaan rumah saat ada kegiatan tetapi saya sendiri merasa ada beban jika menyelesaikan pekerjaan rumah tangga tertunda.

6⃣ Bunda Ulifa
J : Bisa dibicarakan kembali bersama suami, apa yang menjadi ganjalan hati bunda. Ungkapkan rasa hati yang selama ini menyelimuti bunda. Minta pendapat dan masukan lagi dari suami. Mudah-mudahan akan terwujud simpulan yang bisa diterima semua keluarga.✅

7⃣ Bunda Yunita
T : Sebagai manager rumah tangga, kita diminta menegakkan aturan. Sepemahaman saya, misalnya dalam hal kebersihan dan kerapihan rumah.
1. Bagaimana ya agar suami dan anak terlibat dalam urusan bersih-bersih di rumah tanpa terkesan menyuruh?
2. Lalu jika sudah sepakat dengan tugas dan tanggung jawabnya tapi lalai, bagaimana baiknya cara mengingatkan suami & anak agar kita tidak marah atau membuat suami & anak marah?

7⃣ Bunda Yunita
J : Jadikan kegiatan bersih-bersih sebagai aktivitas semua keluarga, semua anggota terlibat, semua anggota bertanggung jawab. Buat kesepakatan, jika lalai, apa yang harus dilakukan.

Misal: mengembalikan handuk setelah mandi ke tempat jemuran.
Masing-masing anggota bertanggung jawab untuk menaruh kembali handuknya setelah dipakai.
Jika lalai, maka ibu bertugas untuk mengingatkan anggota keluarga yang lalai hingga pekerjaan tersebut selesai.

👆🏼itu satu contoh saja ya.
Aturan tentang hal apa yang dilakukan jika terjadi kelalaian, bisa minta pendapat dari anggota keluarga.
Bisa ditanyakan ke anggota keluarga, jika lalai, maka ibu harus ngapain?

Kita gali ide dari semua anggota keluarga untuk menjadi kesepakatan bersama, sehingga ketika ada yang lalai, kita kembalikan pada kesepakatan yang telah dibuat bersama tersebut.✅

8⃣ Bunda Rita Fithra Dewi
T : Bagaimana membagi tugas yang “adil” dan menjaga kerja sama dengan seluruh anggota keluarga yang memiliki perbedaan umur. Seperti dengan anak-anak yang umur range-nya dari 12th, 7th dan 5th.

8⃣ Bunda Rita Fithra Dewi
J : Adil, pemahaman saya, memenuhi sesuai kebutuhan. Maka, kebutuhan anak usia 12 tahun akan berbeda dengan anak usia 7 tahun atau 5 tahun. Kebutuhan-kebutuhan ini bisa kita gali informasinya dari masing-masing anak tersebut. Kemudian coba ditata dan disinergikan.

Usia 5, 7 dan 12 tahun sudah mulai bisa menyelesaikan aktivitas sesuai kemampuan mereka. Maka, buat kesepakatan dengan anak-anak tersebut, apa yang akan mereka kerjakan masing-masing dan apa yang akan mereka lakukan bersama✅

9⃣ Bunda Retta
T : 1. Bagaimana menentukan prioritas dalam menerapkan teori manajer rumah tangga? Apakah lebih baik menjadi manajer keuangan dulu, manajer pendidikan atau yang mana?
2. Apa parameter keberhasilan kita sudah menjadi manajer yang berhasil?

9⃣ Bunda Retta
J : 1. Sesuaikan dengan kebutuhan bunda
2. Pribadi kita semakin bahagia, pelanggan utama kita (suami dan anak) pun semakin bahagi.a✅

1⃣0⃣ Bunda Omi
T : 1. Sejauh mana sebuah prinsip kompetisi membuat kita stres? Karena saya suka kompetisi terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitas keluarga. Seperti misal: keluarga A bagus dari sisi akhlak, membuat saya terpacu untuk seperti mereka
2. Karena saya mengerjakan semua pekerjaan sendiri tanpa ART, dan saya mau semua hal serba cepat selesai tapi saya jadi banyak lalai, maunya cekatan tapi suka memecahkan dan merusak barang. Bagaimana menjadi ibu yg gesit tapi cekatan dan hati-hati?
3. Kadang saya membutuhkan partner agar anak-anak bisa “tenang” dan saya bisa aktif sendiri mengerjakan pekerjaan domestik rumah. Tapi jujur saya tidak rela anak saya menonton tv. Niatnya sehari hanya menonton 2 jam, tapi kadang jadi 3 jam. Apa solusi agar anak tanpa tv atau sangat sedikit menonton tv? Kebetulan di rumah saya banyak sekali mainan dan buku-buku edukatif, tapi waktu anak-anak bermain ketika rumah sudah rapi dan anak-anak sudah mandi serta makan pagi

1⃣0⃣ Bunda Omi
J : 1. Ketika kesuksesan keluarga lain membuat kita ‘panas’. Mengamati sisi baik keluarga lain, boleh. Terpenting, setiap keluarga punya kekuatan masing-masing, maka optimalkan.
2. Sama dengan saya bunda, tanpa ART 😊 Fokus dan tenang ketika melakukan satu aktivitas.
3. Maksimalkan aktivitas tanpa tv. Ketika beraktivitas tanpa tv tersebut, temani anak-anak, terlibat penuh secara fisik maupun psikologis, hingga anak tercukupi kebutuhannya✅

1⃣1⃣ Bunda Neng
T : Cara meningkatkan peran dari seorang kasir keluarga menjadi manager keuangan keluarga?

1⃣1⃣ Bunda Neng
J : Cari ilmu seperti apa manajer keuangan keluarga itu, kemudian praktikkan.

Misal, selama ini aktivitasnya menghitung uang masuk dan keluar saja
Setelah dapat ilmunya, kemudian bisa praktek mengalokasikan dana ke pos-pos yang lebih tertata sesuai perencanaan keluarga✅

1⃣2⃣ Bunda Oktiin
T : Mau nanya tapi situasinya kayak gini: Ga punya orang yang bisa bantu didelegasikan tugas, kecuali suami. Karena orangtua sudah tua. Jadi suka kecapean sndiri. Bagaimana mengatasinya?

1⃣2⃣ Bunda Oktiin
J : Bagaimana dengan anak-anak?
Sudah dikomunikasikan langsung dengan suami untuk mencari solusi bersama?✅

1⃣3⃣ Bunda Yulmia
T : Kalau boleh tau,bagaimana pembagian waktu bu septi waktu anak2 nya masih balita..? Dan apakah bu Septi pernah mengalami kegagalan-kegagalan dalam menjadi manager keluarga..? Kalau pernah,bagaimana cara bu septi menghadapi kegagalan tersebut.

1⃣3⃣ Bunda Yulmia
J : Hal yang pernah diceritakan ibu Septi kepada kami adalah saat anak-anak balita, Ibu Septi fokus pada wilayah bunda sayang dan cekatan.
Saat mau masuk ke ranah bunda produktif, beliau tetap melibatkan anak-anak.

Pesan dari Pak Dodik, Ibu Septi boleh berperan di ranah bunda produktif asalkan anak-anak tetap bersama bunda sampai usia 12 tahun

Jadi, kegiatan bunda produktif dipilih yang bisa melibatkan anak-anak✅

  1⃣4⃣ Bunda Agustin
T : Saya ibu yang bekerja, suami saya belum punya pekerjaan lagi. anak masih balita. Kami tidak punya ART. Sering kali saya bingung menentukan prioritas. Keluarga atau kantor. Pekerjaan saya mengharuskan lembur dan sering keluar kota berhari-hari. Hal itu tentu saja belum bisa saya lakukan. Saya tidak enak jika izin minta kelonggaran terus menerus. Tetapi saya juga tidak sanggup meninggalkan suami atau anak. Manajemen yang bagaimana yg bisa saya terapkan?

1⃣4⃣ Bunda Agustin
J : Terus semangat yaa.
Yakin bahwa Allah sayang pada hambaNya.

Komunikasikan dengan suami, bagaimana baiknya solusi yang akan diambil. Bagaimanapun, ini menyangkut keberlanjutan biduk rumah tangga bunda dengan suami. Kesepakatan manajemen seperti apa yang akan muncul, mudah-mudahan menjadi solusi baik untuk bunda sekeluarg.a✅

🌸Jawaban Bunda Septi Peni Wulandani:
1⃣3⃣Bunda Yulmia,
tetapkan prioritas terlebih dahulu, dan lakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Saya berikan contoh yang saya lakukan saat enes ara kecil (jarak mereka 15 bulan) dan saya tanpa ART.

Saya komunikasikan dulu ke pak Dodik, mana kondisi dari ketiga hal ini yang paling membuat pak Dodik bahagia, silakan diurutkan.

1⃣Anak terurus dengan sangat baik
2⃣Makanan terhidangkan fresh dari tangan saya
3⃣Rumah rapi

Ternyata pak Dodik memilih urutan 1⃣3⃣2⃣ ,akhirnya saya minta waktu per 3 bulanan untuk bisa belajar setahap demi setahap dan satu-persatu, sampai 3 kompetensi dasar tersebut bisa saya penuhi kemampuan minimalnya.

Saya tambahkan sedikit. Tahapannya ya yang sudah pernah saya lakukan.

Pak Dodik itu tipe suami yang ingin rumahnya rapi terus.

Waktu itu saya berikan pilihan, karena saya bukan wonder woman 💪.

Beliau pilih anak di urutan pertama, “Tapi setiap pukul 7 malam rumah rapi, ya” (karena pak Dodik waktu itu pulang kantor pukul 7).

Saya penuhi hal tersebut selama 3 bulan pertama.

Setelah 3 bulan kedua, saya perpanjang jam rapi rumah demikian seterusnya, sampai 3 kompetensi dasar bisa terpenuhi semua. Kalau tidak bisa semua, kembali ke yang utama dan pertama.

Maka pahami kemampuan diri kita, komunikasikan dengan orang sekeliling kita, terutama yang masuk di lingkaran 1 kita. ✅

_Selanjutnya ke pertanyaan apakah pernah gagal? *Sering*_

_karena dulu nggak pernah bikin jadwal harian_

👇

Adapun yang perlu diingat dalam menambah jam terbang adalah “kesungguhan praktik”, tidak hanya “sekadar praktik”.

Sehingga apabila kita 1-3 jam saja bersungguh-sungguh mengamati perkembangan anak kita, bermain dengan mereka sehingga bisa menambah *kompetensi* kita sebagai ibu, karena kita menjalankan peran kita sebagai ibu, maka sudah masuk hitungan jam terbang.

Karena ada ibu yang bersama anaknya full berjam-jam tapi tidak menjalankan peran keibuannya.

🍀Jadwal yang kita buat harian itu dalam rangka kita melihat “track” kita hari ini.

Maka ketika anak kita menjadi prioritas utama, usahakan jadwal kita yang menyesuaikan mereka.

Kemudian di sela waktu longgar kita, kembali ke jadwal yang sudah kita susun.

Itu baru namanya fleksibel. Seperti lingkaran karet, ketika track-nya melingkar dengan diameter tertentu, bisa kita regangkan dengan diameter di luar track, tetapi setelah itu bisa kembali lagi ke track semula.

Berbeda dengan lingkaran kawat, apabila kita bentangkan di luar track, tidak serta merta kembali ke bentuk semula. Bentuknya akan berubah dari track awal.

Semoga analogi ini dipahami.

Ini yang kadang kita banyak mispersepsi,

“Mengapa harus buat jadwal, jadi orang itu yang fleksibel saja”

Apa yang dimaksud dengan fleksibel?

Biasanya banyak yang menjawab:
“santai, mengalir tanpa rencana” dan yang sejenis.

Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.

Kalau kemampuan itu kita lakukan tanpa kita punya ROAD MAP hidup, tanpa jadwal kegiatan penting hari ini, terlihat bahwa kita TIDAK PUNYA _TRACK_ YANG BENAR,

maka pasti hidup kita berantakan, mudah terbawa arus ke mana angin berhembus.

============================================================================

Review NHW #6_

🙋 *BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA* 🙋

Bunda, terima kasih sudah membuat beberapa kategori  tentang 3 hal aktivitas yang Anda anggap penting dan tidak penting dalam hidup anda.

Dalam menjalankan peran sebagai manajer keluarga, *_manajemen waktu_* menjadi hal yang paling krusial.

Karena waktu bisa berperan ganda, memperkuat jam terbang kita, atau justru sebaliknya merampasnya. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Masih ingat istilah *_DEEP WORK_* dan *_SHALLOW WORK_*?

Dulu kita pernah membahas hal ini di awal-awal kelas. Tahapan-tahapan yang kita kerjakan kali ini adalah dalam rangka melihat lebih jelas bagaimana caranya shallow work kita ubah menjadi Deep Work.

Kita akan paham mana saja aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita.

1⃣. *Refleksikan aktivitas dan kemampuan manajemen waktu kita selama ini*

Menurut Covey, Merrill and Merrill (1994) cara yang paling baik dalam menentukan kegiatan prioritas adalah dengan membagi kegiatan kita menjadi penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, dan tidak penting-tidak mendesak. Menurutnya, segala hal yang kita kerjakan dapat digolongkan ke dalam salah satu dari empat kuadran tersebut.

Agar lebih jelas, silakan teman-teman belajar memasukkan aktivitas-aktivitas yang selama ini kita lakukan dalam kategori kuadaran di bawah ini.

 kuadranwhat to do

2⃣ *Setelah aktivitas terpetakan, fokuslah pada hal-hal yang penting (baik mendesak atau tak mendesak) karena pada kegiatan yang penting inilah seharusnya kita mengalokasi paling banyak waktu yang kita miliki*.

3⃣ *Rencanakan dengan baik semua aktivitas yang Anda anggap penting*.

Kita akan kehabisan waktu, tenaga dan sering gelisah jika kita sering melakukan kegiatan yang sifatnya penting dan mendesak.

Contoh: Mengumpulkan NHW matrikulasi itu Anda masukkan kategori aktivitas Penting, karena kalau tidak mengumpulkan kita akan mendapatkan peluang tidak lulus.

Sudah ada deadline yang diberikan oleh fasilitator. Andaikata kita memasukkannya ke kuadran 2, artinya kita akan masukkan NHW dalam perencanaan mingguan kita, membuat hati lebih tenang.  Tetapi kalau tidak kita rencanakan, NHW itu akan masuk ke aktivitas kuadran 1, di mana penting bertemu dengan genting (mendesak) paling sering membuat kita gelisah di saat detik-detik terakhir deadline pengumpulan.

Kalau ini berlangsung terus-menerus, maka kita akan cepat capek dan stres yang berlebihan karena terlalu sering dibombardir oleh masalah dan krisis yang datang bertubi-tubi. Jika ini terjadi, secara naluriah, kita akan lari ke kuadran 4 yang sering kali tidak memberikan manfaat bagi kita.

Idealnya, semakin banyak waktu yang kita luangkan di kuadran 2, secara otomatis akan mengurangi waktu kita di kuadran 1 dan 3, apalagi kuadran 4, karena dengan perencanaan dan persiapan yang matang, banyak masalah dan krisis yang akan timbul di kemudian hari dapat dihindari.

4⃣ *Membuat kandang waktu (time blocking) untuk setiap aktivitas yang harus Anda kerjakan*.

Membuat agenda mingguan dan harian dengan mengaplikasikan teori *_time blocking_*dan *_cut off time_*Kita bisa membagi secara rinci aktivitas harian dalam hitungan jam atau menit agar waktu tidak terbuang sia-sia.

5⃣ *Unduh Aplikasi atau buku catatan untuk membantu kita mengorganized semua jadwal kita*

Saat ini ada banyak aplikasi organizer yang bisa membantu dan mengingatkan kita setiap saat.

Sampai di sini mungkin ada di antara kita yang bertipe “unorganized” (menyukai ketidakteraturan, termasuk waktu).

Sehingga muncul pertanyaan,

“Mengapa sih harus repot-repot dan sangat detail dengan manajemen waktu?”

Kalau menurut teori Cal Newport,
Semakin detail manajemen waktu Anda, semakin bagus pula kualitasnya.

Semakin bagus kontrolnya, semakin bagus pula efeknya.

Sekarang tinggal dipilih, Anda mau tipe yang organized sehingga menggunakan *_TIME BASED ORGANIZATION_* atau tipe yang unorganized dan menggunakan *_RESULT BASED ORGANIZATION_*.

Kalau time based artinya kita akan patuh dengan jadwal waktu yang sudah kita tulis. Dan komitmen menerima segala konsekuensi apabila melanggarnya.

Apabila RESULT BASED ORGANIZATION, Anda perlu membuat pengelompokan kegiatan saja. Boleh dikerjakan kapan pun, selama komitmen terhadap target/hasil yang sudah dicanangkan bisa terpenuhi dengan baik.

Apa pun tipe anda dan keluarga KOMITMEN tetap nomor satu.

Di Ibu Profesional, manajemen waktu ini wajib dikuasai dan diamalkan oleh para ibu sebelum masuk ke tahap bunda produktif.

Kita perlu menekankan pentingnya membuat rencana kerja untuk setiap minggu dan setiap hari, dengan memprioritaskan aktivitas yang penting.

Dengan demikian diharapkan kita dapat menjadi lebih produktif tanpa lelah dan stres yang berlebihan.

*_Demi masa, semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan waktu_*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber Bacaan :

_Materi Matrikulasi IIP batch #2 sesi #6, Ibu Manajer Keluarga Handal, 2016_

_Hasil NHW#6, Peserta Matrikulasi IIP, 2016_

_Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008_

_Steven Covey, The Seven Habits, Jakarta, 1994_