Segera: Ramadhan Seru bersama Hamzah dan Syifa!

Belum juga sempat menyusun strategi promosi yang lebih terarah untuk buku Pulang, tiba-tiba mba Agris, kapten Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta, sudah mengajak untuk ‘berlari’ lagi. Tetap nggak jauh-jauh dari membuat buku tentunya, sesuai nama rumah belajar kami (di Ibu Profesional tiap wilayah ada berbagai rumbel, tergantung minat dan keaktifan anggotanya). Namun, kali ini temanya jauh berbeda. Buku Pulang, karya perdana Rumbel Menulis yang terbit Januari lalu merupakan antologi cerita pendek dengan benang merah sesuai judulnya, alias bertemakan ‘pulang’. Sedangkan yang hendak digarap kali ini adalah buku aktivitas anak. Wah, ini jenis buku anak yang sangat saya sukai sebenarnya. Saya selalu kagum dan penasaran, kok ada aja ya idenya orang bikin kids activity book begitu.

Alhamdulillah Allah swt berikan kesempatan sehingga saya bisa bergabung dalam tim editor RB Menulis untuk proyek ini, sebagaimana sebelumnya untuk buku Pulang. Tantangannya berbeda sih memang. Untuk antologi Pulang yang diedit adalah sejumlah cerpen, sedangkan untuk buku aktivitas Ramadhan yang awalnya diberi sebutan Jurnal Ramadhan Anak ini kontennya lebih beragam. Isinya ada:

* Aktivitas Ramadhan untuk menemani hari-hari si kecil seperti TTS tentang Rukun Iman, menelusuri maze, menempel stiker, ular tangga, juga membuat prakarya (do-it-yourself/DIY),

* Kisah Penuh Hikmah yang berisi cerita mini (cermin) dengan nilai-nilai Islami,

* Pojok Fakta “Kini Aku Tahu” dan Pengetahuan Dasar Islam yang menambah ilmu serta bisa dimanfaatkan untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai materi terkait. Bisa buat bahan obrolan dengan anak-anak, nih, atau mungkin juga ada pengetahuan baru untuk ortu,

* Tabel Ibadah Ramadhan untuk memantau dan menyemangati anak beribadah. Yang ini ada miripnya ya dengan buku kegiatan zaman sekolah dulu, hehehe.

Continue reading

Advertisements

Tentang Ego dan Hak Milik Anak

Salah satu hal yang masih menjadi PR di keluarga kami adalah soal rebutan, biasanya sih rebutan bacaan atau mainan. Apalagi sesama anak perempuan, kemungkinan baper lebih besar. Tidak mungkin juga kan selalu membelikan dua barang sekaligus hanya agar tidak rebutan? Namun ternyata mempertahankan hak milik, yang kadang menjadi awal mula rebutan, ada manfaatnya, lho. Misalnya, anak jadi belajar batas-batas. Ini punyaku, ini punya dia. Ada hak milik orang lain juga yang harus dihargai, sebagaimana ia boleh mempertahankan miliknya. Tentu ada batasannya, ya. Berikut saya kutipkan penjelasan dari Ustadz Harry Santosa (Fitrah Based Education):

Usia di bawah 7 tahun adalah masa penguatan konsepsi semua aspek fitrah yang Allah karuniakan. Pada fase ini anak-anak sedang puncaknya imajinasi dan abstraksi sementara fitrah mereka sedang tumbuh merekah indah, sehingga perlu full cinta dan full imajinasi, di samping kehati-hatian jangan sampai fitrah ini cidera.

Pada usia ini ego sentris anak juga sedang puncaknya, sehingga akan nampak seolah tidak berakhlak, misalnya tidak mau berbagi, susah mengalah, dstnya. Ego sentris ini hal yang wajar dan harus terpuaskan, jika tidak akan menyebabkan luka ego, kelak di atas 7 tahun jadi anak yang kurang pede, susah mengambil keputusan, gampang di-bully dll atau malah egonya liar menjadi sangat kasar dan suka mem-bully dll.

Intinya, tidak memaksa “on the spot” jika sedang tidak mau berbagi. Dipaksa juga percuma, walaupun akhirnya mau berbagi karena dia malah kemungkinan besar kelak membenci berbagi.

Bukan berarti tidak mengajarkan berbagi, namun tidak memaksa jika sedang tidak mau.
Nanti ketika ego sentrisnya mereda, bacakan kisah indahnya berbagi, atau ajak anak ke pasar membeli hadiah dan makanan lalu pergi ke rumah anak anak yatim untuk berbagi dan makan bersama. Nah, ini jauh lebih berkesan mendalam di jiwa anak daripada memaksanya berbagi. Jangan shortcut atau tergesa ingin anak segera sholeh tanpa memahami tahapan perkembangan fitrahnya karena malah akan melukai fitrahnya.

Sumber: https://ghinaummulathifah.wordpress.com/2017/10/18/tanya-jawab-kulwap-ustadz-harry-santosa/

Continue reading

Belajar Masak Praktis dan Sehat dari Chef Rudy

Rudy Choirudin, siapa sih yang tidak kenal nama chef terkemuka Indonesia ini? Jauh sebelum mereka yang disebut celebrity chef berseliweran di layar kaca, chef Rudy sudah rajin muncul membawakan acara-acara masak-memasak yang sukses bikin pemirsa jatuh cinta. Sabtu (17/02) lalu, akhirnya saya bisa melihat langsung aksi chef Rudy membawakan demo masak. Bukan hanya itu, dalam acara yang diselenggarakan di Tupperware Showroom South Quarter, SQ Dome, Jakarta Selatan ini, chef Rudy berbagi cuplikan kisah hidupnya.

Seperti disebutkan oleh MC, chef Rudy sudah 29 tahun berkarier dan secara fisik kelihatannya belum banyak berubah. Sedangkan di antara peserta yang hadir pun ada yang rajin ikut acara chef Rudy sejak anaknya masih digendong hingga sekarang sudah remaja. Acara TV chef Rudy saat ini, Rasa Sayange, ratingnya sampai mengalahkan banyak acara lain, lho.

Continue reading

Mengapa Perlu Minimalkan Penggunaan Gadget untuk Anak?

Gadget untuk anak, yay or nay?

Dampak negatif dari pemakaian gawai pada bayi dan anak sudah banyak dibahas di berbagai buku dan seminar (termasuk kelas online), tetapi perangkat seperti ini seakan masih sulit dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Bisa dikatakan, anak-anak kita pasti sudah akrab dengan ponsel sejak mereka lahir. Istilahnya, mereka itu digital native. Kadang gadget dirasa sangat membantu sebagai ‘penjaga anak’ ketika orangtua perlu mengerjakan berbagai hal seperti bersih-bersih rumah, memasak, mencuci, menyusui adik, atau bekerja di rumah. Worth it kah solusi pemberian gadget jika ditimbang dengan risikonya? Adakah alternatif lain yang bisa digunakan? Pada acara Fun Play without Gadget di Spumante All Day Dining, Menteng, Jakarta Pusat yang diselenggarakan Sabtu (17/03) kemarin, saya ikut menyimak pemaparan tentang penggunaan gadget pada anak dari para ahli yang berlatar belakang psikologi dan aktif sebagai praktisi.

Menurut ibu Pradita Sibagariang, konsultan pendidikan dan tumbuh kembang anak, dilema terkait pemakaian gadget tidak cuma terjadi di Indonesia saja, tetapi sudah mengglobal. Oleh karenanya para peneliti juga melakukan studi terkait pengaruh gadget pada anak. Sebagaimana dikutip oleh ibu Dita, pengaruh gadget terhadap anak tergantung dari frekuensi pemakaiannya.

“Hasil penelitian, bermain gadget selama dua jam dapat memicu masalah kecemasan, emosional, dan konsentrasi. Sedangkan jika durasinya meningkat menjadi tiga jam, ada tambahan masalah berupa gejala diabetes, karena main gadget itu cenderung duduk tidak bergerak. Yang perlu dicatat adalah anak tetap mengalami masalah-masalah tadi walaupun sudah aktif secara fisik satu jam per hari,” jelas perempuan yang akrab disapa dengan ibu Dita ini.

Sedangkan dari segi perkembangan anak, gadget mungkin bisa merangsang kognitif anak melalui permainan-permainan. Namun, dalam piramidanya, fungsi kognitif ini ada di bagian atas. Fungsi lain seperti sensori motorik dan visual ‘terlompati’ karena tidak terstimulus saat anak bermain gadget.

Continue reading

Self Healing Inner Child dalam Pandangan Islam

Materi seputar inner child tak ada habisnya digali. Seringnya tema ini dibahas di grup-grup yang saya ikuti saya anggap sebagai tren positif, sarana belajar khususnya bagi para orang tua yang tidak hendak berhenti meningkatkan kualitas diri sekaligus mutu pengasuhan (walaupun yang masih single atau belum dikaruniai buah hati juga bisa bisa turut menyimak). Seperti pernah saya tuliskan di postingan sebelumnya, meskipun sudah beberapa kali mengikuti kulwap terkait inner child, tapi sudut pandang yang lain dari pemateri yang berbeda tetap bisa memperkaya wawasan. Kali ini saya berkesempatan belajar tentang Self Healing Inner Child dalam Pandangan Islam. Pekan lalu, kajian muslimah di kantor pusat menghadirkan Ustadzah Isra Yeni – Founder dan Penasihat Rumah Surga sekaligus penulis buku The Great Dad, 5 Pilar Ayah Hebat (duet dengan suami beliau) untuk membawakan materi ini.

Continue reading

Nyeri Saat Buang Air Kecil, Kondisi yang Tak Boleh Disepelekan

Dua tahun yang lalu saya mengambil paket medical check up. Tidak ada keluhan khusus sebenarnya, hanya ingin mengetahui saja kondisi kesehatan saya. Kebetulan pula salah satu lab terkemuka sedang ada program harga khusus dalam rangka ulang tahun mereka.

Hasilnya? Di antara satu-dua tanda bintang yang menghiasi lembar hasil pemeriksaan yang saya terima, ada satu yang menjadi perhatian saya yaitu hasil tes urin. Saya tak menunda untuk menemui dokter setelahnya. Dokter menanyakan apakah saya mengalami anyang-anyangan, dan saya jawab kadang-kadang iya. Arahnya memang ke infeksi saluran kemih atau ISK. Saya baru ingat bahwa memang beberapa kali saya merasakan ngilu di daerah panggul, walaupun tidak sampai membuat sakit saat buang air kecil atau susah buang air kecil. Kalau menahan buang air kecil sih memang adakalanya begitu ya, dengan kondisi satu balita dan satu bayi di rumah, juga pekerjaan di kantor, kadang saya mengabaikan atau menunda hasrat ke toilet.

Saran dokter, saya diminta untuk lebih sering minum air putih, kemudian mengulang tes serupa satu atau dua minggu kemudian. Hasilnya, alhamdulillah, bintang tadi sudah lenyap dari lembaran kertas yang saya terima dari petugas lab.

Apa Itu Infeksi Saluran Kemih?

Sistem uriner kita terdiri atas ginjal, ureter (saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih), kandung kemih, dan uretra (saluran yang mengubungkan kandung kemih dengan lingkungan luar tubuh). Dari apa yang saya baca, saya jadi tahu bahwa infeksi saluran kemih atau urinary tract infection (UTI) terjadi ketika bakteri memasuki saluran kemih melalui uretra dan mulai berlipat ganda di kandung kemih. Jika sistem pertahanan tubuh sedang lemah, alih-alih lekas terbuang bersama air seni, bakteri pun bertahan hingga muncullah infeksi. Wanita lebih sering menderita penyakit ini, karena secara anatomi memang jarak antara uretra dengan kandung kemih, vagina, maupun anus lebih pendek dibandingkan dengan pria. Bakteri menjadi lebih mudah masuk dan bertahan. Bisa dibilang, lima dari sepuluh wanita pernah menderita ISK yang kerapkali ditandai dengan anyang-anyangan ini.

Continue reading

Belajar SEO, Sedikit Rumit tapi Asyik

Dalam perjalanan nge-blog, saya menemukan istilah SEO disebut-sebut oleh mereka yang sudah jago dalam hal blogging. SEO atau Search Engine Optimization ini merupakan cara-cara untuk mengoptimalkan mesin pencari agar kunjungan ke suatu situs meningkat. Mesin pencari tentunya punya algoritma ataupun mekanisme kerja yang membuat trik-trik tertentu bisa dilakukan agar situs atau blog kita berada di halaman awal laman pencarian. Misalnya, dengan memanfaatkan penempatan kata tertentu yang kerapkali dicari. Jika berada di bagian atas saat pencarian, otomatis situs kita pun mendapatkan kunjungan lebih banyak. Baik kita menargetkan monetisasi blog kita maupun tidak, kehadiran banyak pengunjung yang betah berlama-lama biasanya bikin kita lebih bersemangat menulis dan berbagi.

Banyak website maupun buku yang menyediakan materi belajar SEO, tetapi memang lebih enak kalau ada yang mengajari. Kita bisa bertanya secara langsung mengenai hal-hal yang belum dipahami, ‘kan. Maka begitu Blogger Perempuan Network membuka pendaftaran untuk kelas SEO yang diselenggarakan Sabtu (03/03) lalu, saya pun bersemangat ikut. Apalagi yang menjadi narasumber adalah mba Nunik Utami, teman lama sejak ikutan milis majalah Cita Cinta dan sama-sama nge-blog di Multiply dulu, yang juga dikenal sebagai penulis buku. Senang sekali menyimak penjelasannya yang mudah dipahami dengan contoh-contoh nyata.

Acara dibuka oleh mba Shintaries Nijerinda, founder Blogger Perempuan Network. Kata mba Shinta, kita tentunya ingin dapat pembaca yang organik, ketemu pembaca yang interest-nya sama, dan untuk itulah kita belajar SEO.

Kemudian, mba Nunik menyajikan materi secara jelas dan menyenangkan. Selaku pemilik situs atau blog, pastilah kita ingin laman blog masuk ke halaman pertama pencarian Google. Namun kalaupun belum bisa dicapai, yang penting blog kita sudah terindeks oleh Google. Masuk sampai dengan halaman kelima pencarian juga sudah bagus. Mari tengok tujuan yang pertama, yaitu tulisan yang ada di blog kita ramah untuk Google dan bukan dianggap konten yang buruk oleh Google. Jika isi blog bagus tetapi ada kata yang menjurus ke pornografi, itu bisa dianggap konten yang buruk oleh Google, walaupun sekarang algoritmanya sudah lebih manusiawi dengan melihat isinya. Jika isinya memang bermanfaat, misalnya artikel kesehatan yang memuat sebutan alat kelamin yang bisa menjurus negatif, dapat tetap diindeks ke Google.

Continue reading