Jangan Baper, Ah!

Sebuah album foto dari suatu fanpage menarik perhatian saya beberapa waktu yang lalu. Secara keseluruhan, foto-foto dalam album tersebut menyebutkan arti dari idiom-idiom dalam bahasa Inggris. Beberapa pembaca melontarkan kritik terhadap sebagian idiom yang dituliskan artinya. Ada yang memang mengoreksi dengan tepat, misalnya untuk “don’t bother” yang diterjemahkan sebagai “jangan ganggu”, padahal kalau intransitif arahnya lebih pas ke “jangan repot-repot”. Ada pula yang malah mempertanyakan ketika idiom “piece of cake” diartikan “mudah sekali”, sambil komentar “Bukannya itu maksudnya sepotong kue?”. Yah, mbaknya/masnya belum familiar aja kali, ya.

Idiom berikutnya yang menuai protes adalah ‘no hard feelings‘ (diartikan sebagai “jangan tersinggung”). Kali ini bukan soal artinya, melainkan penulisannya. Rupanya ada komentator-komentator yang menganggap kata hard di situ seharusnya heart, atau malah hurt. Saya jadi ingat obrolan bertahun-tahun lalu di jurnal mba Vina, tepatnya di blog lama di Multiply (http://revinaoctavianitadr.multiply.com). Waktu itu mba Vina membahas beberapa istilah dalam bahasa Inggris yang sering salah dituliskan. Lupa sih, soal no hard feelings vs no heart feelings vs no hurt feelings ini memang sudah ada sejak awal di tulisan mba Vina atau saya duluan yang tanya. Saya pertama mengenal idiom tersebut kalau tidak salah dari majalah Gadis atau MTV, yang jelas di masa sekolah. Lalu belakangan  saya agak bingung karena seolah-olah terdapat beberapa versi penggunaan kata.

no-heart-feelingsBarangkali karena no hard feelings itu mengarah ke “jangan dimasukin ke hati, jangan diambil hati”, ya, makanya ada yang terpeleset menuliskannya dengan memakai kata heart. Lalu karena “hard feelings” itu merujuk ke emosi negatif atau lebih khususnya kemarahan (dalam kamus disebutkan anger, resentment, sesuatu yang pahit atau istilah kekiniannya ‘baper’ alias bawa perasaan kali, ya), memang jadinya rawan ada perasaan yang terluka (hurt).  Namun, apa pun alasannya, kalau sudah tahu, yuk biasakan gunakan penulisan yang benar*. Jangan baper juga yaa kalau diingatkan soal tata bahasa (eh, kosa kata ya, masuknya?) begini. Yang dikritik pemakaiannya, kok, bukan pribadi kamuuuh… no hard feelings🙂.

 

*Kecuali untuk keperluan kreatif seperti judul film yang posternya saya pajang ini ya… semacam dispensasi licentia poetica, barangkali🙂.

Pernak-pernik Pap Smear

speculum

Tahun lalu untuk pertama kalinya saya menjalani pemeriksaan pap smear di puskesmas. Akhirnya eksekusi juga, walaupun sebetulnya sih alasan kenapa belum pap smear juga padahal sudah punya anak dua itu karena sok sibuk bukan karena takut hehehe. Sama-sama pakai speculum alias cocor bebek (gambarnya seperti di samping, ngambil dari fotosearch, ada juga yang pakai dari bahan plastik dan sekali buang), tapi nggak mungkin lebih sakit daripada yang saya jalani enam tahun yang lalu, kuret karena keguguran dengan bius total yang tidak sepenuhnya ngefek kan? Kalau yang itu, nyeri badan iya, ngilu di hati juga.

Tarif pap smear di puskesmas kecamatan (sekarang sudah jadi RSUK) dekat rumah 70ribu, sambil dikerubutin yang magang, dan hasilnya memang agak lama keluar jika dibandingkan dengan cerita-cerita yang katanya seminggu, soalnya sampel harus dikirim ke lab luar dulu. Sewaktu hasilnya siap, bu bidan mengirimkan sms menginformasikan agar saya mengambilnya. Hasilnya ditemukan ada peradangan dan disarankan ketemu dengan dokter kandungan di puskesmas, tapi saya belum sempat-sempat dan hanya diskusi dengan dokter keluarga kami, yang bilang gpp kok sebetulnya.

Bahasan pap smear ini sedang mengemuka kembali sekitar dua minggu yang lalu di grup whatsapp yang saya ikuti. Salah satu member mengirimkan hasil tes pap smearnya beberapa tahun yang lalu yang menurutnya agak bikin sebel karena ada kata-kata ‘diulang’. Buat apa sudah sakit-sakit pakai diulang lagi, apa cara ambil sampelnya yang nggak bener? Karena sebel, apalagi hasilnya dikirimkan kolektif ke kantor tanpa penjelasan, jadinya nggak ada tindak lanjut. Males juga mau ngulangin, katanya. Tapi setelah kami cermati sama-sama, ternyata tulisan selengkapnya (yang memang susah dibaca) maksudnya ‘ada peradangan/servisitis, konsultasi (ke dokter), terapi dulu, ulang lagi pap smear (setelah terapi)’. Berlanjutlah obrolan kami mengenai sakit nggak sih pap smear itu, bagaimana pengalaman dari yang sudah pernah dan berapa biayanya, dst. Termasuk soal hasilnya.

Sambil iseng untuk menambah info di grup saya pun googling lagi walaupun dulu sudah pernah, mengenai arti dari tes pap smear. Ketemulah tulisan ini yang aslinya diposting di Milis Sehat tahun 2008. Lah, kok dulu gak pernah nemu ya, salah nih kata kuncinya😀 (waktu itu blas lupa, gak ngecek milis). Kepada dr. Ian (penulisnya) inilah saya konsultasi waktu itu, ya jawabannya juga mirip-mirip pastinya. Biar sekalian buat arsip, dikopas ke sini juga ya….dengan tambahan diskusi lanjutannya.

Dear All
Saya kasih summarynya aja ya. mungkin dokter atau Sp yang lain bisa menambahkan.

PAP SMEAR gunanya untuk mengetahui adanya perubahan sel pada leher rahim.
TIDAK BERGUNA UNTUK MENGETAHUI ADANYA INFEKSI ATAU TIDAK.
jadi kalau dikatakan ada bakteri anu lah bakteri itu lah… jamur anu lah jamur itu lah… peradangan…ya wajar wong di bagian vagina dan sekitarnya kan memang gudangnya jamur dan bakteri. kalau radang ya wajar toh, kegesek gesek jadi merah.

terus taunya infeksi apa nggak dari mana dong kalau ternyata hasil papsmearnya katanya ada peradangan dan bakterinya?

standar nih ya hasil pap smear seperti ini
tidak ditemukan atau ditemukan sel atipikal
tidak ditemukan atau ditemukan peradangan
terdapat bakter cocoid atau terdapat jamur candida

ya mirip mirip seperti itulah.

tapi…. sekali lagi PAP SMEAR bukan untuk tahu ada infeksi atau tidak.

vagina atau organ reproduksi kita diciptakan canggih ada alarmnya.
kalau ada infeksi di sekitar situ maka akan terjadi produksi cairan yang berlebih, berwarna, berbau, nyeri, dan atau demam. jadi nanti kalau ada cairan seperti itu baru cairannya diperiksa dicari mikroorganisme penyebabnya apa. setelah ketemu baru diberikan antibiotik atau antijamur yang tepat…

kalau tidak ada keluhan ya tidak diobati…

btw kuman bentuk coccus yang ditakuti kan GO (gonorhea), pada wanita biasanya memang tidak bergejala. cuma nih kalau kita adalah wanita yang baik=baik dan menikahi pria baik-baik yang tidak suka jajan…. ya nggak perlu takut…

kalau kuman coccus yang lain mah normal… dia fungsinya menjaga pH vagina (cmiiw) supaya si candida albican nggak tumbuh subur (kalau tumbuh subur keputihan jadinya, atau candidasis vagina).

okeh mudah mudahan ngerti ya….

(tambahan postingan berikutnya, menanggapi tentang indikasi pemeriksaan)

kanker leher rahim atau servik umumnya diketahui setelah stadium lanjut.
jadi pemeriksaan ini di lakukan bukan karena ada indikasi ke sana.
tetapi karena faktor risiko yang mendukung, yaitu setiap orang yang pernah berhubungan seksual aktif memiliki risiko untuk timbulnya kanker leher rahim.

salah satu deteksi dini adalah dengan dilakukannya papsmear setahun sekali.

begitu juga dengan kanker payudara. deteksi dini selain dengan SADARI juga dengan pemeriksaan USG payudara untuk wanita dibawah usia 40 tahun setahun sekali dan mamografi setahun sekali untuk wanita di atas usia 40 tahun…

jadi… sisihkan uang untuk pemeriksaan ini ya.

Sewaktu hamil anak kedua, selama browsing ke situs-situs luar tepercaya mengenai kehamilan saya menemukan informasi bahwa pap smear termasuk salah satu tes standar saat pemeriksaan awal pdaa ibu hamil. Antara lain bisa dibaca di http://www.marchofdimes.org/pregnancy/your-first-prenatal-care-checkup.aspx dan http://www.babycenter.com/0_your-first-prenatal-visit_9344.bc. Seorang sahabat yang hamil di Jepang belum lama ini membuktikan sendiri bahwa tes tersebut ‘wajib’ hukumnya. Di sini, sepertinya pap smear pada ibu hamil tidak umum disarankan, ya. Di ‘sono’ pun kalau baca di forum babycenter misalnya, banyak yang nanya dan berbagi pengalaman “gimana nolaknya, ya?”. Mungkin khawatir kalau janinnya kenapa-kenapa, mengingat tindakannya melibatkan buka-buka yang di bawah sana.

Nah, beberapa bulan ini lab Prodia lagi ada program pap smear gratis, nih, kerja sama dengan BPJS. Kota mana saja yang tercakup? Berikut ini daftarnya

Layanan ini hanya berlaku di cabang Prodia berikut:

  • Wilayah 1: Kisaran, Pematang Siantar, dan Medan.
  • Wilayah 2: Pekanbaru, Duri, Padang, Bukit Tinggi, Jambi, Tanjungpinang.
  • Wilayah 3: Palembang, Sunter, Pluit, Kelapa Gading, Lampung, dan Kampung Melayu.
  • Wilayah 4: Wastukencana, Buah Batu, Kopo, Bandung MTC, Pasirkaliki, Banjar, Cideres, Cimahi, Cirebon, Indramayu, Karawang, Kuningan, Majalaya, Purwakarta, Sumedang, Ujung Berung
  • Wilayah 5: Klaten, Magelang, Tegal, dan Madiun.
  • Wilayah 6: Denpasar dan Mataram
  • Wilayah 7: Palangkaraya, Samarinda, Banjarmasin, Balikpapan
  • Wilayah 8: Makassar, Panakukkang, Ambon, Kendari, Palu, Kotamobagu, Mamuju, Pare, dan Palopo.

Layanan ini berlaku sampai dengan periode berikut :

  • Wilayah 1 : Paling lambat tanggal 30 November 2016
  • Wilayah 2 : Paling lambat tanggal 31 Desember 2016
  • Wilayah 3 : Paling lambat tanggal 30 November 2016
  • Wilayah 4 : Paling lambat tanggal 31 Oktober 2016
  • Wilayah 5 : Paling lambat tanggal 31 Desember 2016
  • Wilayah 6 : Paling lambat tanggal 30 November 2016
  • Wilayah 7 : Paling lambat tanggal 30 November 2016
  • Wilayah 8 : Paling lambat tanggal 30 November 2016

Apa syaratnya? Yang tercantum sih bawa KTP dan kartu BPJS asli plus fotokopinya masing-masing 3 lembar. Kata teman yang sudah menelepon setelah tahu info ini, jamnya juga ditentukan. Rencananya baru mau nyoba besok, sih. Kebetulan sudah menjelang setahun sejak pap smear sebelumnya. Oh ya, kata beberapa teman lain, di kota yang tidak disebutkan di atas juga sering ada lab yang bikin program serupa bekerja sama dengan BPJS kok. Jadi mungkin bisa coba cek lab terdekat ya.

Perdana Menang Live Tweet

Live tweet alias posting sesuatu di Twitter langsung di tempat event berlangsung bisa menjadi salah satu sarana agar sebuah acara kian luas terpublikasikan keberadaannya. Kalau bisa sih rangkaian tweet tersebut jadi trending topic dan menarik perhatian lebih banyak orang untuk membaca, syukur-syukur tertarik mencari tahu lebih banyak atau bahkan membeli produk yang ditawarkan/diluncurkan dalam acara tersebut. Maka penyelenggara tak hanya melakukan ikhtiar melalui posting (sendiri) di akun resminya (+akun para sponsor jika ada), melainkan juga menggelar lomba live tweet. Postingan live via Instagram atau Facebook kadang juga dilombakan, tapi mungkin karena lebih terukur jadi live tweet sependek pengetahuan saya lebih sering menjadi primadona.

Lomba live tweet pertama yang saya ‘saksikan’ sendiri adalah di sebuah acara pelatihan untuk ibu hamil. Waktu itu sih kriteria pemenangnya kalau tidak salah lebih ke kalimat inspiratif, ya, bukan jumlah cuitan. Kemudian di suatu kegiatan launching buku anak saya tertarik memperhatikan antusiasme sekelompok hadirin (karena duduknya memang menggerombol) yang kemudian bersorak gembira ketika pemenang live tweet (yang lombanya sendiri sudah diberitahukan jauh-jauh hari bersamaan dengan informasi kegiatan utama) diumumkan.

Buku Blogger Goodie Bag karya Pedro Gondem yang baru saya baca bulan lalu menyadarkan saya tentang betapa seriusnya kontes live tweet ini. Penulis menggambarkan situasi persaingan ketat antara sesama peserta dengan gamblang, termasuk membuka beberapa trik yang biasa dipakai. Wajar sih sampai harus cari akal, karena seringkali hadiah lomba ini memang begitu menggiurkan. Ponsel, laptop, alat-alat elektronik lainnya, misalnya. Omong-omong persaingan, seorang penulis belum lama ini juga pernah mengungkapkan uneg-unegnya terkait pemenang lomba live tweet yang ternyata ‘dari luar’. Ya, sebagian acara memang (seharusnya) hanya bisa diikuti oleh kalangan terbatas, mereka yang memperoleh undangan khusus dari panitia. Mungkin sistem ini dipilih untuk menyaring kualitas cuitan ya, atau ketaatan pada aturan alias kemudahan diorganisir, saya belum paham sih soal ini. Peserta live tweet ini memang biasanya juga blogger atau setidaknya aktif di media sosial. Jadi ya acapkali mereka sudah saling kenal satu sama lain, apalagi yang tergabung dalam komunitas yang sering menginfokan adanya kegiatan-kegiatan menarik. Dari pengamatan saya yang masih newbie ini, pendaftaran peserta juga biasa dibuka lewat komunitas-komunitas tersebut. Enak, ya, bisa nambah ilmu dan wawasan dari tempat acara, gratis ikut acaranya (bisa jadi acaranya sebetulnya berbayar, lho), berpeluang dapat bonus hadiah lomba, pula.

Saya sendiri karena hampir selalu bawa anak-anak ke berbagai acara jarang bisa ngetwit. Jangankan ikut lomba, bikin catatan pribadi aja susah. Kalaupun memungkinkan, paling saya ketik saja poin-poin yang disampaikan di evernote buat arsip dan bahan ngeblog, atau malah live report ke grup whatsapp. Rasanya kok nggak konsen gitu, jadi nggak bisa full memperhatikan betul ekspresi pembicara dan tayangan presentasi (kalau ada) di depan sana. Tapi sekali waktu saya mencoba, mumpung panitia menyediakan kids corner dan kami mengajak pengasuh juga. Jadi, di awal acara, panitia sudah bilang bahwa kalau mau nge-twit, pakai hashtag blablabla ya… Saya pun asyik ngetwit sekaligus update komentar di foto pembicara yang saya posting di facebook, anggap saja sekalian mencatat dan memenuhi permintaan teman-teman yang menanggapi postingan saya. Tapi ternyata sampai akhir acara tidak ada pengumuman pemenang, yaiyalaaah, kan memang nggak dibilang kalau dilombakan😀😀. Barangkali penggunaan tagar itu untuk mempermudah dokumentasi saja ya, atau barangkali untuk memantau ‘reporter’ yang didatangkan? (soalnya saya mengamati ada seorang blogger cukup kondang yang event hopping hari itu, hahaha). Yaah, minimal saya jadi punya catatan yang rada komplet lah, semoga bermanfaat juga buat yang baca.

Nah, di event berikutnya, tepatnya event TUM Breastfeeding yang diadakan oleh portal The Urban Mama dalam rangka Pekan ASI Dunia/Bulan ASI Nasional, saya lebih siap. MC sudah mengumumkan adanya lomba sejak awal acara, lengkap denga hashtag. Saya langsung mengetik dan menyalin tagar tersebut agar bisa dengan gampang ditempel (copy-paste) nantinya, dan mengurangi kemungkinan salah ketik. Hanya saja, berhubung browser hp yang saya gunakan agak ketinggalan zaman, untuk sekadar mention otomatis penyelenggara pun sulit jadinya. Alhasil saya jadi agak kehabisan waktu untuk mengetik ulang (ya, bayangkan!) beberapa nama akun. Satu-dua foto saya selipkan sebagai twitpic, sebab no pic=hoax, toh?

Kalau baca di buku yang saya sebutkan di atas sih, persiapan peserta yang niat banget jelas jauh lebih maksimal, ya. Sampai bawa lebih dari satu power bank (ini bawa sih, tapi tidak terlalu membantu), bawa laptop segala (iya sih, copy paste jadi lebih gampang ya, ah, saya rindu merk hp terdahulu yang ada clipboard-nya), back to back posting lewat ponsel maupun notebook agar tidak rugi waktu gara-gara loading, dan seterusnya. Satu-satunya ‘trik’ yang saya terapkan selain mention akun penyelenggara, sponsor, dan pembicara, juga copy-paste (yang tidak sepenuhnya dijalankan), plus sedikit berkah karena saya sudah cukup mengetahui latar belakang pembicara plus materinya sehingga bisa melengkapi tweet dengan link terkait, adalahhh…. minjam hp suami yang lebih tangguh, hahaha.

Alhamdulillah, sih, buahnya manis. Saya dinyatakan sebagai salah satu pemenang dan berhak membawa pulang Babymoov Messenger Bag yang fungsional plus stylish. Karena mba Monik selaku pembicara menyampaikan sharing-nya dengan terstruktur dan tidak ngebut, saya pun tak terlalu rugi gara-gara harus banyak menunduk.

img_20160905_222311.jpg

Beberapa hari ini saya jadi googling juga karena penasaran, benarkah tips live tweet seperti yang saya jalankan berbekal analisis ngasal itu? Hasilnya, ternyata langkah saya sudah lumayan di jalan yang benar lah, seperti bisa dibaca di sini  http://funblogging.web.id/tips-memenangi-live-tweet-competition.html. Lalu dari sini http://www.ibufadlun.com/2015/02/tips-ikutan-live-tweet.html saya jadi tahu kalau ada ukuran lain yang cukup teknis untuk menentukan siapa yang menang, yaitu seberapa besar pengaruh, reach, atau impact-nya, yang konon harus pakai aplikasi sendiri (belum browsing lebih lanjut soal ini). Jumlah follower juga ternyata bisa ngaruh. Sampai cari tahu segitunya, mau diseriusin, kah? Noooo….iseng-iseng berhadiah aja lah, belum ada energinya juga kayaknya berburu dengan all out begitu😀.

Pangkalpinang, Kota Kenangan yang Penuh Harapan Menyongsong Masa Depan

Kite ke aik panas, maen ke Pantai Matras
Kite ke Pangkal Pinang Pasir Padi

Potongan lirik lagu dari band Klaki itu mengalun lagi sore ini, membawa kenangan akan sebuah kota di mana saya dan suami pernah bertugas. Ya, kota Pangkalpinang menjadi lokasi ‘bulan madu’ kami selama lebih kurang empat tahun lamanya. Kalau dibahas, #pesonapangkalpinang seolah tak ada habisnya.

Kota Pangkalpinang merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbentuk pada tahun 2001 dengan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi. Provinsi ini terdiri dari 1 kota dan 6 kabupaten, yaitu Kabupaten Bangka (sering disebut juga sebagai Bangka Induk, dengan ibu kota Sungailiat), Kabupaten Bangka Barat (dengan ibu kota Muntok), Kabupaten Bangka Tengah (dengan ibu kota Koba), Kabupaten Bangka Selatan (dengan ibu kota Toboali), Kabupaten Belitung (dengan ibu kota Tanjung Pandan), Kabupaten Belitung Timur (dengan ibu kota Manggar), dan Kota Pangkalpinang (dengan ibu kota Pangkalpinang).

 Akses Mencapai Pangkalpinang

Untuk mencapai kota Pangkalpinang dari Jakarta, perjalanan udara memakan waktu sekitar satu jam. Bandara tujuannya adalah Bandara Depati Amir. Kini semakin banyak maskapai penerbangan yang melayani jalur ini dengan jadwal yang bervariasi. Harga tiket biasanya akan naik drastis pada hari-hari raya keagamaan nasional, liburan sekolah, dan sekitar hari pelaksanaan Ceng Beng atau sembahyang kubur bagi masyarakat Tionghoa yang menjadi kesempatan pulang menziarahi makam leluhur sekalipun sudah merantau jauh. Rute udara lain menuju Bangka-Belitung adalah melalui Palembang atau Batam, tetapi pesawat tidak tersedia setiap hari. Dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung atau sebaliknya, selain menggunakan pesawat (tidak setiap hari ada) tersedia juga penyeberangan dengan kapal jetfoil.

Alternatif lain menuju Provinsi Bangka Belitung adalah menggunakan kendaraan pribadi atau bus. Waktu tempuh dari Palembang menuju Bangka membutuhkan waktu hampir satu hari. Untuk menyeberang dengan kapal feri dari Pelabuhan Boom Baru di Palembang ke Pelabuhan Tanjung Kalian Muntok, Bangka Barat membutuhkan waktu 3 jam. Jika menggunakan kendaraan pribadi akan lebih mudah mencapai lokasi-lokasi wisata di provinsi ini, karena jarang tersedia angkutan umum. Bagi yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, pilihannya adalah menyewa kendaraan atau mengikuti paket tur yang disediakan agen perjalanan.

Indahnya Kota Pangkalpinang

Panorama alam menjadi salah satu sumber utama wisata di Pangkalpinang. Layaknya suatu daerah, Kota Pangkalpinang juga memiliki beberapa landmark atau hal yang menjadi penanda sekaligus ciri khas bagi suatu daerah. Beberapa landmark dan objek wisata yang sering kami kunjungi di kota Pangkalpinang dulu adalah:

Taman Merdeka

Taman Merdeka Pangkalpinang merupakan sebuah area terbuka seluas lebih kurang 60 x 90 meter yang diapit oleh Jalan Sudirman, Jalan Merdeka, Jalan Rustam Effendie, dan Jalan Diponegoro. Tidak jauh dari taman tersebut terdapat titik nol Pulau Bangka, tepatnya pada pertigaan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Taman Merdeka ini sebelumnya adalah sebuah lapangan berumput dengan nama Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka awalnya merupakan perwujudan salah satu unsur tata kota berprinsip macapat (empat penjuru mata angin), yakni alun-alun yang terletak di sebelah selatan Rumah Residen yang menjadi pusat kekuasaan Belanda di Bangka pada masa lalu. Lapangan ini belakangan digunakan sebagai tempat bermain bola (terutama sebelum adanya Stadion Depati Amir) maupun upacara-upacara resmi seperti peringatan hari kemerdekaan RI dan acara perayaan seperti malam pergantian tahun dengan atraksi kembang api dan pelaksanaan salat Id. Sesuai dengan Perda Nomor 2 Tahun 1989, kawasan sekitar Rumah Residen (kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang) dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Taman Merdeka. Pada tahun 2009 bentuk lapangan diubah menjadi semacam taman kota dengan ciri khasnya berupa air mancur berbentuk tudung saji.

Pada pagi maupun sore hari, banyak warga yang memanfaatkan Taman Merdeka sebagai tempat olahraga, seperti jogging, bersepeda, dan bermain skateboard. Ada juga yang sekadar bersantai bersama keluarga. Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam hari. Mulai 2010, setiap hari Minggu dan hari-hari tertentu kawasan Taman Merdeka ditetapkan menjadi area car free day. Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari keberadaan Taman Merdeka, misalnya dengan mengoptimalkan kawasan tersebut sebagai tempat berekreasi dan berolahraga.

Agar kebersihan dan kerapian Taman Merdeka tetap terjaga, pemerintah daerah melarang penjual makanan menjajakan dagangannya di taman tersebut. Akhirnya para pedagang beralih ke Jalan Rustam Effendie, yang kini menjelma menjadi pusat jajanan kuliner di malam hari dan seolah melengkapi keberadaan Taman Merdeka sebagai sarana wisata pusat kota.

Tugu Pergerakan Kemerdekaan

SAMSUNG DIGIMAX A403

Tugu Pergerakan Kemerdekaan berlokasi di dalam Taman Sari (dahulu bernama Wilhelmina Park), sebelah barat Rumah Residen/Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang. Tugu ini dibuat untuk mengenang perjuangan rakyat Bangka melawan penjajahan Belanda dan diresmikan oleh Moh. Hatta pada bulan Agustus 1949. Prasasti pada tugu tersebut bertuliskan “Surat kuasa kembalinya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserahterimakan oleh Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Medio Juni 1949”.

SAMSUNG DIGIMAX A403Bentuk tugu terdiri atas lingga di atas punden berundak-undak sebanyak 17 undakan (mencerminkan tanggal 17) bersegi delapan (menggambarkan bulan Agustus) dengan yoni berada di atas lingga dengan bentuk yang simetris dengan simbol mencerminkan perjuangan meraih kemerdekaan yang dilakukan oleh berbagai suku dan lapisan masyarakat Indonesia. Tinggi keseluruhan mulai dari undak terbawah sampai puncak lingga setinggi 7,65 m, terdiri dari tinggi undak dan yoni 1,65 m, tinggi lingga 1,65 m dan tinggi yoni 4,35 m, dengan luas areal tugu 168 m2.

Pantai Pasir Padi

Konon namanya berasal dari butiran pasir pantai ini yang menyerupai bulir padi berwarna kekuning-kuningan. Ya, pasir di sini memang tidak seputih pasir pantai-pantai lain di Babel, penampakan batu granit raksasanya pun amatlah minim. Namun, letaknya yang hanya 7 kilometer dari pusat kota membuat pantai ini menjadi pilihan utama bagi warga kota Pangkalpinang untuk sejenak melepaskan lelah dan bersantai bersama keluarga.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Ombak yang tenang dan air laut yang tidak dalam membuat kegiatan berenang dan bermain air nyaman dilakukan. Tersedia fasilitas untuk cuci-bilas dan beberapa persewaan alat berenang di sini. Dibangun pula sarana outbound dan arena permainan anak untuk melengkapi fasilitasnya. Beberapa bagian pantai ini yang terancam abrasi dilindungi dengan talud yang justru memberikan warna lain bagi pengunjung yang lebih suka duduk-duduk mengamati air laut dari kejauhan.

Jika air sedang surut, kita bisa berjalan-jalan ke Pulau Punan, pulau mungil yang biasanya terendam air laut, atau bermain bola di atas pasir putih. Bahkan kendaraan roda dua maupun empat pun bisa menjelajah hingga cukup jauh dari jalan aspal karena pasirnya padat dan keras. Pada waktu-waktu tertentu, salah satu sudut pantai ini menjadi lokasi perlombaan motorcross.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Di pantai ini terdapat banyak pilihan tempat makan, mulai dari restoran yang menawarkan pengalaman makan di atas kapal hingga kios-kios bakso, jagung bakar, dan kelapa muda yang tersebar di sepanjang pantai. Ada juga hotel bergaya resort yang cocok sebagai tempat pertemuan. Untuk memasuki kawasan Pantai Pasir Padi dikenakan retribusi yang masih berkisar pada angka ribuan rupiah.

Museum Timah

Museum Timah Indonesia yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 179 ini semula merupakan rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW). Di tempat ini pernah diadakan beberapa kali perundingan kecil menjelang Perjanjian Roem-Royen antara pemimpin RI yang diasingkan ke Pulau Bangka dengan pemerintah Belanda dan UNCI (United Nations Commission for Indonesia).

SAMSUNG DIGIMAX A403

Museum ini merupakan museum teknologi pertimahan satu-satunya di Asia. Didirikan pada tahun 1958, semula bertujuan untuk mencatat sejarah pertimahan di Kepulauan Bangka Belitung kemudian dikembangkan sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat. Museum Timah memamerkan sejarah kegiatan penambangan di kepulauan Bangka Belitung, alat-alat penambangan tradisional/kuno atau yang memiliki nilai sejarah tinggi, yang dapat memperluas wawasan pengunjung museum. Museum Timah resmi dibuka pada tanggal 2 Agustus 1997 oleh Erry Riyana Hardjapamekas, Dirut PT Timah saat itu.

Benda-benda yang dipamerkan meliputi batuan timah dan mineral ikutan lainnya, alat tambang tradisional, mesin hitung dan telepon antik, bekas mangkuk keruk, perabotan rumah tangga kuno yang ikut ditemukan dalam penggalian timah, serta contoh produk jadi yang mengandung timah. Tidak ketinggalan aneka foto, gambar, diorama dan maket penambangan timah baik tradisional maupun modern, baik di darat maupun di laut dengan bermacam metodenya. Di halaman, berdiri kukuh lokomotif tua buatan Inggris tahun 1908 yang dahulu berfungsi untuk menarik kereta pengangkut pekerja dan hasil tambang timah.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Museum ini sangat informatif dalam menampilkan sejarah panjang penambangan timah di Bangka Belitung yang telah dimulai sejak tahun 1709. Tampak jelas bagaimana perkembangan teknologi penambangan dari masa ke masa, juga pengaruh bangsa-bangsa yang tertarik mengeruk keuntungan dari kekayaan alam ini.

Di luar sejarah pertimahan, dalam museum ini dipajang pula replika prasasti Kota Kapur, prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka tahun 1892. Prasasti bertuliskan aksara Pallawa ini merupakan prasasti pertama Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan.

Masjid Raya Tua Tunu

SAMSUNG DIGIMAX A403

Masjid Raya Tuatunu yang terletak di Desa Tuatunu, Kecamatan Gerunggang memiliki luas lantai dasar utama 784m2, lantai dua 490m2, teras luar 520m2, sedangkan luas tanahnya 9.920m2.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Masjid ini juga memiliki menara setinggi 47,5m. Masjid yang diresmikan pada 20 Maret 2008 ini pernah dikunjungi oleh Presiden SBY pada peringatan Isra Mi’raj April 2008, kami pun ikut ke sana menyambut kedatangan bapak presiden.

 

 

 

Jajanan Istimewa

Bukan cuma asyik buat jalan-jalan, Pangkalpinang juga punya kekayaan kuliner yang kaya. Karena Babel secara keseluruhan berupa kepulauan jadi kebanyakan sih berupa hasil laut dan olahannya ya, sebagian yang lain dipengaruhi oleh makanan asal Tiongkok.

Martabak Bangka

800px-martabakmanis
Martabak manis atau hoklopan kondang dijajakan di berbagai daerah di negeri ini dengan nama martabak bangka. Betul, awalnya memang kue ‘bersarang’ ini berasal dari Bangka. Baik dengan topping standar maupun modifikasi, sama-sama lezat untuk cemilan yang cukup mengenyangkan.

Otak-otak Bangka

Penganan otak-otak yang terbuat dari ikan (biasanya ikan tengiri) ini memang bukan hanya ada di Bangka, tetapi otak-otak Bangka punya kekhasan pada saus sambalnya yang menggunakan tauco dan cenderung encer (lebih mirip kuah).

Keritcu

SAMSUNG DIGIMAX A403
Keripik telur cumi alias keritcu ini sesuai namanya dibuat dari telur cumi. Kadang saking kangennya saya titip pada teman yang bertugas di sana untuk mengirimkannya ke sini. Semasa di sana, saya pernah mengunjungi salah satu sentra pembuatannya sebagai bagian dari rangkaian KKN untuk mencapai gelar S1.

Siput Gung Gung

img_20160626_140749.jpg
Katanya sih dimakan dalam bentuk tumisan/masakan yang disajikan dalam bentuk cenderung masih basah bisa, tapi selama di sana saya tahunya siput gung gung/gonggong ini dalam bentuk keripik. Renyah dan bumbunya pas deh, cocok dijadikan cemilan.

Kembang Tahu

Ini makanan yang kalau di daerah asal saya di Jateng sana diistilahkan dengan ‘tahuk’. Di Pangkalpinang akhirnya saya mencicipi lembutnya ‘puding tahu’ dengan kuah manis pedas jahe yang dijajakan bapak-bapak keliling dengan label ‘thew fu fa’, beberapa pekan sebelum kami pindah ke Jakarta.

Pantiaw kuah ikan

SAMSUNG DIGIMAX A403
Pantiauw ini makanan yang mirip kwetiaw kalau kata kawan saya dari Belitung, tapi saya pernah melihat penjualnya memotong-motong dari bentuk seperti dadar, bukan dari alat semacam ‘pasta maker’ atau ditarik macam mie tradisional. Yang istimewa adalah kuahnya yang berisi daging ikan yang sudah dihaluskan, gurihnya itu lho… Ada juga pantiaw goreng, tapi saya lebih suka yang kuah.

Wastra Khas

SAMSUNG DIGIMAX A403

Kalau Sumatra Selatan sebagai provinsi yang dulu menaungi Bangka Belitung sebelum menjadi provinsi tersendiri punya songket, Bangka juga punya tekstil khas berupa kain cual. Kain ini aslinya juga berupa hasil tenunan dengan alat tenun bukan mesin, perpaduan antara tenun sungkit (songket) dan tenun ikat, tapi belakangan semakin populer dipasarkan dan digunakan dalam bentuk batik (khususnya batik cap). Corak batik yang sering dipakai adalah adaptasi dari kain limar muntok. Cual sendiri bermakna celupan awal pada benang yang akan ditenun.

SAMSUNG DIGIMAX A403

photo-0007

 

Sensor Mandiri, Benteng Keluarga Masa Kini

“Anakku tahu jingle iklan susu itu. lho, padahal di rumah kita nggak pernah nyalain tv. Liat di Youtube, kali, ya?” begitu cerita seorang teman di kantor seminggu yang lalu.

“Ada-ada aja pemerintah sekarang, masak sekarang baju artis di TV pun di-blur. Konyol! Kalau yang nonton nggak suka, tinggal matikan aja, kan?” demikian pendapat lain yang sempat saya baca di dunia maya.

Apa, sih, sebetulnya pengertian dari sensor itu? Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sensor artinya sebagai berikut: sensor1/sen·sor/ /sénsor/ n 1 pengawasan dan pemeriksaan surat-surat atau sesuatu yang akan disiarkan atau diterima (berita, majalah, buku, dan sebagainya); 2 yang menyensor. Sedangkan definisi censor, kata dalam bahasa Inggris yang merupakan asal kata sensor, dalam kamus Merriam-Webster adalah “a person who examines books, movies, letters, etc., and removes things that are considered to be offensive, immoral, harmful to society, etc.” Jadi sensor memang dari sananya terkait dengan persoalan moral dan seberapa besar bahayanya terhadap masyarakat.

Jika ditilik lebih lanjut, wajar bila pemerintah berkepentingan terhadap isi siaran atau media pada umumnya, sebab bisa membawa pengaruh kepada kehodupan masyarakat luas. Pornografi, kekerasan, hal-hal yang sifatnya menghasut, dapat secara langsung maupun tidak langsung merusak pemikiran pemirsa, pendengar, atau pembaca. Untuk tujuan mencegah dampak negatif itulah Lembaga Sensor Film (LSF) didirikan. Kiprahnya memang secara khusus lebih mengarah ke perfilman, yaitu film dan reklame film.

Logo_LSF

Lantas, dengan adanya LSF, apakah masyarakat bisa sepenuhnya bernapas lega? Tentu tidak. Pasti ada saja yang merasa tidak puas. Sebagian tak suka karena sensor seolah menghalangi kebebasan penyiaran atau terlalu ikut campur mengatur kesenangan pribadi, yang lain justru merasa gunting LSF masih tumpul. Lembaga yang dinaungi keberadaannya oleh Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman ini sejatinya memang tidak maksimal perannya tanpa peran serta aktif masyarakat.

Bayangkan, LSF sudah memberikan batasan usia untuk bisa menjadi penonton sebuah film yang disesuaikan dengan muatan film tersrbut. Namun, pada praktiknya seringkali terjadi di gedung bioskop penonton di bawah umur lolos melihat film untuk usia di atasnya. Sebagian malah diajak oleh orangtuanya, mungkin karena tidak ada yang menjaga di rumah atau tidak sadar bahwa konten filmnya tidak cocok untuk anak-anak (biasanya untuk tema seperti komedi atau film bertokoh superhero yang telanjur identik dengan ‘main-main’ khas anak-anak, padahal terselip adegan syur atau sadis di dalamnya).

Maka, sensor mandiri sudah seharusnya menjadi budaya. Orangtua misalnya, harus aktif mencari tahu rating (dalam hal pengkategorian umur) film yang hendak dinikmatinya bersama anak di sinepleks. Tak terbatas pada sinema layar lebar sebetulnya, media lain pun patut mendapat perhatian. Bajakan film-film box office terbaru baik Indonesia maupun luar negeri banyak beredar dalam bentuk keping DVD/VCD dan dijual di lapak-lapak offline tanpa pengawasan, belum termasuk hasil download alias unduhan yang mudah ditemukan linknya di dunia maya, for free and uncensored. Mau yang gambarnya sudah cling hasil membajak dari edisi blu-ray, extended version, rekaman dari yang nonton langsung, pakai subtitle Indonesia maupun tidak, tinggal pilih. Video di situs penyedia rekaman audio visual gratis pun menjadi contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat masa kini karena bisa diakses lewat gadget di genggaman tangan, di mana pun berada. Bisa jadi film yang diputar oleh anak (balita zaman sekarang canggih-canggih, lho) ‘aman’, channel yang dipilih sudah khusus video edukasi anak, tetapi bagaimana dengan iklan yang lewat? Bagaimana dengan rekomendasi video lain yang acapkali ikut muncul? Ada kemungkinan fitur filter tidak selalu berhasil menghalangi seluruh kata kunci yang berkaitan, salah-salah malah klip xxx yang muncul.

Nah, apa saja sebetulnya yang perlu dicermati dalam menerapkan budaya sensor mandiri ini, khususnya bagi orangtua?

  1. Miliki prinsip dan pegang dengan teguh. Nilai-nilai di tiap keluarga bisa jadi berbeda satu sama lain, ada yang memilih pijakan agama, ada yang berpatokan pada budaya timur. Tentukan pondasi terlebih dahulu agar ada pegangan dalam menentukan langkah ke depannya. Misalnya, adegan ciuman dianggap biasa sebagai bagian dari keragaman pilihan berekspresi yang ada di masyarakat, atau sepenuhnya tabu? Apa tindak lanjutnya jika menemui hal seperti itu, tutup mata anak, alihkan ke kegiatan lain, langsung ceramahi anak, atau biarkan saja anak berpikir sendiri nanti kalau ‘umurnya udah nyampe‘?
  2. Ajak seisi rumah berkolaborasi. Utamanya pasangan (suami/istri) agar kompak satu suara dalam menerapkan aturan. Jika ada nenek/kakek/pengasuh/penghuni rumah lainnya, sampaikan juga apa yang dirasa perlu untuk mencegah anak mengkonsumsi sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
  3. Bicarakan dengan anak sesuai usianya. Anak yang lebih besar sudah bisa diberi penjelasan beserta referensi atau ‘dalil’-nya, juga diberi contoh sebab akibat agar memacunya ikut berperan (bukan hanya didikte), sedangkan anak yang lebih muda mungkin lebih baik diberi benteng secara langsung seperti penjadwalan nonton dan pendampingan.
  4. Usahakan melakukan ‘sensor’ dalam arti yang sesungguhnya, contohnya membaca komik, majalah, tabloid, atau novel yang dibeli anak (termasuk bentuk digitalnya berupa e-book atau versi pdf buku best seller yang sering beredar atau dengan mudah didapatkan di internet) sebelum ia mulai menekuninya, atau menonton duluan DVD yang mau disetelnya maupun game yang hendak dimainkannya (minimal cari review-nya yang umumnya cukup mudah ditemukan di forum-forum atau blog). Keterbatasan waktu mungkin menjadi kendala mengingat sibuknya pekerjaan ayah dan ibu sehari-hari baik di kantor/tempat kerja maupun di rumah, maka kembali lagi ke prioritas keluarga masing-masing: layakkah efek yang mungkin ditimbulkannya kelak jika lolos dari pantauan kita? Pembatasan menyeluruh bisa menjadi solusi kalau belum percaya dengan kemampuan anak menyaring sendiri, dengan konsekuensi orangtua dianggap otoriter.
  5. Bisa juga anak menonton video di luar pengawasan kita, misalnya dari gawai teman, di warnet, saat main ke rumah saudara, dan seterusnya. Kembali lagi ke poin pertama, usahakan anak sudah mengerti akan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga beserta konsekuensinya. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak sedari dini juga bisa membantu agar anak tidak segan/takut menanyakan atau mengobrolkan hal-hal dengan topik sensitif. Jadilah sahabat terbaik bagi anak.

Beberapa tips di atas semoga bisa menjadi awal dari pembudayaan sensor mandiri di masyarakat. Jika bukan kita yang mulai, siapa lagi? Sebab, pembangunan manusia di negeri ini dimulai dari satuan terkecil masyarakatnya yaitu keluarga yang saling mendukung dalam kebaikan, bukan?

 

SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi

“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.

Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.

Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?

Buku yang berisi guideline terperinci, situs resmi yang memuat pedoman menyeluruh, artikel ringan tapi valid yang dikemas menarik, tenaga kesehatan yang telaten menerangkan, semuanya akan berguna sebagai sumber ilmu yang meningkatkan kapasitas diri seorang ibu atau calon ibu. Hanya saja, untuk sampai ke proses belajar itu sendiri, seringkali perlu adanya pemicu. Forum-forum diskusi di dunia maya dapat menjadi salah satu jembatan. Tak harus berupa kejadian yang dialami sendiri sebetulnya, pertanyaan dari anggota lain juga bisa menjadi sarana belajar bagi semua yang membaca. Jarang kan kita belajar mengenai suatu hal yang belum pernah terbayang sebelumnya, dan akibatnya ketika dihadapkan langsung pada kondisi tersebut sering kita kelabakan karena blank. Kendalanya, ada keterbatasan terkait koneksi internet, juga terkadang info yang diberikan bisa jadi simpang siur apalagi jika tidak ada penengah/narasumber yang memang kompeten di bidangnya.

14117720_1272462449455304_4488194969076825914_n.jpg

Kehadiran SMS Bunda yang merupakan program Kementerian Kesehatan RI merupakan suatu terobosan yang amat baik. Ibu atau lebih tepatnya calon ibu, karena program ini menyasar ibu hamil, cukup mengetik SMSbunda kemudian mengirimkannya ke nomor 08118469468. Ibu kemudian akan mendapatkan balasan berupa pertanyaan tanggal perkiraan lahir atau tanggal bersalin bayi/anak yang sudah dilahirkan serta kota/kabupaten tempat tinggal. Jika kedua pertanyaan tersebut telah dijawab, akan ada balasan bahwa ibu akan memperoleh info berupa SMS kesehatan sampai dengan usia anak 2 tahun. Sms awal dikenai tarif normal.

Saya tak ingin ketinggalan mencoba. Lumayan kan, dapat tambahan ilmu dari sumber yang valid. Kebetulan anak saya masih berusia 1,5 tahun. Beberapa hari setelah registrasi sukses, saya memperoleh sms yang mengingatkan untuk membawa anak ke bidan/dokter/puskesmas setiap 6 bulan sekali untuk deteksi tumbuh kembang anak.

13077032_1200373359997547_7259002728205993556_n.jpgSMSBunda ini dikembangkan oleh Jhpiego, yang awalnya merupakan singkatan dari Johns Hopkins Program for International Education in Gynecology and Obstetrics. Nama Johns Hopkins University (yang berafiliasi dengan Jhpiego) sebagai sebuah perguruan tinggi riset di bidang kesehatan tentunya sudah tidak perlu diragukan lagi, sehingga informasi yang diberikan kepada para ibu/calon ibu pun dapat dipertanggungjawabkan keandalannya. Program SMSBunda juga sudah diluncurkan secara bertahap di beberapa daerah, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat, agar cakupan layanannya makin luas. Informasi yang diberikan melalui sms berkala diharapkan memberikan pengetahuan praktis akan apa saja yang perlu diperhatikan untuk menjaga kondisi ibu hamil beserta janin yang dikandungnya. Dari informasi yang singkat tersebut, yang saya bayangkan, ibu bisa tertarik untuk menggali lebih dalam. Informasi itu bisa menjadi bahan obrolan dengan suami, amunisi menangkis mitos keliru yang sering berdar di masyarakat, juga menjadi bagian catatan saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. 13882558_1253929457975270_5753013383141020823_n.jpg

Dengan bekal dari sumber yang benar, ada harapan angka kematian ibu dan bayi baru lahir bisa ditekan. SMSBunda menjadi perantara yang tepat menuju kondisi kesehatan ibu dan bayi serta keluarga Indonesia pada umumnya.

 

Lebaran di Karanganyar, Setelah Satu Dasawarsa

Salah satu kenangan lebaran masa kecil yang paling berkesan bagi saya adalah tradisi pergi ke tempat mbah buyut dari pihak mama di Karanganyar, Semarang, tiap H+1. Dulu sih saya diberitahu bahwa kalau di desa, lebaran hari kedua memang lebih meriah. Di mata saya, karena semua berkumpul, memang jadinya terlihat ramai. Biasanya kami berangkat dengan menggunakan minimal dua mobil yang berkonvoi (pernah bahkan menyewa minibus dari Jakarta), karena kakak dan adik mama yang berdomisili di kota lain juga bergabung. Orangtua saya memang tinggal di rumah mbah atau orangtua mama, jadi ke situlah tujuan mudik saudara-saudara mama ketika Idul Fitri tiba.

Perjalanan ke Karanganyar biasanya memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Semasa kakak adik mbah (para pakdhe dan budhe dari mama) masih ada, kami biasanya juga menyempatkan sowan ke rumah beliau satu persatu dalam sehari itu. Kebanyakan memang tinggal di kota yang berdekatan seperti Salatiga dan Klaten. Kesempatan berkumpul setahun sekali ini menjadi ajang silaturahmi, semacam halal bihalal yang ditunggu-tunggu, karena jarang-jarang para anggota keluarga besar Hardjasoetaman bisa bertemu sekaligus dalam jumlah yang cukup banyak. Ada juga arisan keluarga yang rutin digelar per triwulan untuk yang tinggal di Jadebotabek memang, tapi tidak semua tinggal di daerah sana, kan.

Di antara acara yang biasanya wajib ada adalah adat sungkeman, sebagai wujud bakti dan hormat dari generasi yang lebih muda. Nyekar atau ziarah ke makam leluhur juga dilaksanakan secara berombongan, walaupun sepertinya karena jarak yang jauh akhirnya keluarga saya jarang bergabung (alias kadang kesiangan, hehehe). Di rumah mbah buyut, sebelum dan sesudah sungkeman, biasanya kami ngobrol santai ditemani hidangan yang tersaji. Sajian khas inilah yang juga ngangenin: ketupat opor, kue-kue basah seperti wajik, jadah, sengkulun, dan tape ketan.

Sejak saya menikah tahun 2006 saya tak pernah lagi bergabung dengan keluarga besar merayakan lebaran di Karanganyar. Kebetulan memang saya mendapat penempatan pekerjaan di pulau lain, yaitu Belitung kemudian Bangka, tepat setelah menikah. Biasanya saya dan suami tetap mudik, sih, selama empat tahun bertugas di luar Jawa itu. Tapi sempitnya waktu cuti yang harus pula dibagi ke dua keluarga (orangtua di Solo dan mertua di Pati) membuat kondisinya tidak memungkinkan bagi kami untuk ikut serta. Saat kami sudah pindah tugas ke Jakarta pun biasanya hari-H idul fitri kami rayakan di Pati karena sepeninggal ibu mertua, suami merasa perlu membantu usaha keluarga yang ramai menjelang lebaran. Tahun lalu kami nyaris bisa ikut karena sudah berangkat ke Solo dari Pati pada hari-H, tapi batal karena ketersediaan tempat di kendaraan yang mepet.

img-20160831-wa0031.jpgTahun ini, 2016 atau 1437 Hijriah, untuk pertama kalinya saya kembali ke rumah mbah buyut di Karanganyar pada lebaran kedua. Ini jadi pengalaman pertama untuk suami dan anak. Lalu lintas hari itu lumayan macet dan banyak jalan ditutup sehingga kedua mobil yang kami pakai kesulitan putar balik dan mencapai tempat tujuan lebih siang. Kesan saya begitu sampai, pangling, tentu. Rumah tersebut memang sudah direnovasi dengan dana patungan bersama, dan laporan perkembangan termasuk foto-foto juga sudah pernah dipresentasikan pada acara arisan keluarga yang saya ikuti. Tapi begitu melihat sendiri…sensasinya berbeda. Yang paling mencolok, lantai tanah berganti ubin keramik. Di sisi lain, kesan klasik dari arsitektur dan aksesoris termasuk perangkat gamelan masih dipertahankan.

Hal berikutnya yang berbeda adalah acara yang diorganisir dengan rapi. Memang sepeninggal para generasi kedua, tradisi sungkeman jarang dilaksanakan lagi. Mungkin agar suasana tambah meriah dan semua berbaur, beberapa saudara mama berinisiatif mengadakan aneka lomba. Bertindak selaku panitia pelaksana adalah generasi saya. Jadi hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok (bercampur antara satu keluarga dengan keluarga lain, sebagai contoh saya saja beda kelompok dengan suami), kemudian setiap kelompok berpacu mendapatkan nilai total tertinggi dari beberapa lomba yang diikuti. Tahun lalu ada semacam ‘mencari jejak’, tapi tahun ini ditiadakan. Lomba tahun ini diadakan indoor, paling jauh di halaman saja, meliputi kontes yel-yel, tebak peribahasa lewat peragaan, lomba tali tersimpul, sampai voli air. Seru, memang!

Saya sendiri tidak bisa terlalu aktif berpartisipasi karena putri kecil saya yang baru berusia 19 bulan lebih tertarik menjelajah melihat hal-hal yang belum pernah ditemuinya. Tentu perlu pengawalan karena ‘medan’-nya bagi saya juga terbilang baru. Kakaknya, 4,5 tahun, cenderung lebih anteng dan menempel pada ayahnya, tapi lama-lama ingin ikut jalan-jalan juga.

img-20160831-wa0017.jpg

Jadilah saat lomba terakhir dimainkan kami hanya menonton sesekali, sisanya lebih banyak dihabiskan untuk mengejar Fahira yang mengejar ayam atau menyuapi Fathia. Lomba volinya sendiri sebetulnya asyik, jadi yang digunakan sebagai ‘bola’ adalah kantong plastik berisi air, dan untuk melemparnya para anggota tim harus bersama-sama menggunakan sarung yang dibentangkan. Banyak plastik yang pecah saat dilempar dan akhirnya menyemburkan air ke para peserta. Pada praktiknya banyak hal yang belum diantisipasi panitia seperti batasan bola ‘keluar’ dan kapan skor diperoleh, tapi justru hal inilah yang menambah keseruan. Nah, di akhir acara sambil membagikan hadiah dan cendera mata bagi yang sudah berpartisipasi, diumumkanlah nama-nama anggota panitia tahun berikutnya. Tongkat estafet jatuh ke adik saya, rupanya. PR nih buat bikin acara yang sama mengasyikkannya, kalau perlu lebih seru lagi sekaligus tetap bersahabat untuk semua usia🙂.

Video dokumentasi ini dikirim oleh mama di Solo yang memperolehnya dari grup keluarga besar, dan terus terang agak tersendat masuk ke ponsel saya. Gadget yang saya pegang memang baru bisa menggunakan jaringan 3G, padahal kalau pakai 4G bisa lebih cepat. Hari gini, harusnya #4GinAja kan ya?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru

GA LEBARAN SERU