Grab Your Good Food (plus Your Crayon)…and Get a Good Mood!

good food good moodSejak tahun lalu cukup ramai dijual buku-buku mewarnai untuk dewasa. Iya, di sampulnya jelas tertera adult colouring book. Jadi mewarnai bukan hanya aktivitas yang identik dengan kanak-kanak atau hanya ditekuni oleh orang dewasa dengan profesi tertentu. Kalau tidak salah, demam mewarnai ini mulainya dari tanah Korea, dan buku-bukunya pun banyak diimpor dari sana. Saya awalnya tahu dari newsletter beberapa platform toko online yang dikirimkan ke e-mail (lagi jarang ke toko buku offline), kok banyak buku mewarnai untuk dewasa yang ditawarkan. Katanya sih, aktivitas mewarnai ini bisa sekaligus jadi terapi penenang pikiran dan penghilang stres.

Betul juga sih, mewarnai yang melibatkan koordinasi tangan dan mata ini mengasyikkan. Pilah-pilih warna, memperkirakan komposisi yang sesuai, proses mencoretkan pensil/krayon atau menyapukan kuas bisa jadi pengalih perhatian dari pikiran yang ruwet. Barangkali pilihan warna yang dipakai juga bisa menjadi cerminan akan suasana hati pelakunya, ya. Buku yang dijual pun saya amati makin beragam temanya, misalnya motif yang identik dengan etnis atau agama tertentu, alam sekitar, wajah dst.

Saya sendiri terus terang tidak begitu tertarik membeli secara khusus buku mewarnai untuk dewasa ini. Biarlah anak-anak saja yang asyik corat-coret, hahaha. Tapiii…begitu membaca bahwa ada buku mewarnai yang konsepnya lain, saya langsung ingin punya. Good Food Good Mood, judulnya. Bukan karena pembuatnya teman lama ya, hehehe, tapi karena memang unik, sih. Jadi bukan cuma buku mewarnai, melainkan juga ada resep-resepnya. Resep masakan sederhana yang mudah diterapkan ibu-ibu muda nan rempong, mungkin sekalian juga bisa ajak si kecil menyiapkan. Tiap resep di buku terbitan Kawan Pustaka ini diberi ilustrasi bahan mentah maupun hasil jadinya yang bisa diwarnai sesuka hati.

Berhubung saya memesan melalui PO ke penulisnya, Evelline Andrya, saya kebagian gift cantik berupa centong kayu. Malam setelah bukunya tiba, saya dan anak-anak langsung mewarnai salah satu halaman dari buku tersebut. Seru ya, ternyata. Jadilah Mason Jar Oatmeal a la kami. Saya yang tengah, Fathia jar satunya, dan urek-urekan di bagian resep dipersembahkan oleh Fahira😀. Buku ini juga sudah tersedia di Gramedia, seperti terlihat di foto bawah, kami lagi di Gramedia Matraman waktu itu.

Bermain Kubus untuk Perkembangan Anak

Beberapa waktu yang lalu saat kami mengikuti acara seminar awam tentang prematuritas di RS Evasari, dokter yang menjadi pembicara menyampaikan tentang balok-balok yang dapat digunakan sebagai alat pemantau perkembangan anak. Menurut beliau, pengecekan perkembangan anak di luar negeri sudah melibatkan penggunaan balok ini. Saya jadi ingat KPSP atau kuesioner praskrining perkembangan anak yang biasa digunakan untuk mengukur apakah perkembangan anak sudah sesuai dengan usianya atau belum. Balok ini disebutkan di beberapa bagian sbb:

Muncul di pertanyaan untuk usia 12 & 15 bulan: Tanpa bantuan, apakah anak dapat mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan bertangkai dan tutup panel tidak ikut dinilai.

Muncul di pertanyaan untuk usia 21 & 24 bulan: Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5-5.0 cm

Muncul di pertanyaan untuk usia 30 & 36 bulan: Dapatkah anak meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.

Muncul di pertanyaan untuk usia 42, 48, dan 54 bulan: Dapatkah anak meletakkan 8 buah kubus satu persatu di atas yang lain tanpa menjatuhkan kubus tersebut? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.

Selengkapnya bisa dilihat antara lain di

https://tumbuhkembang.info/alat/kuesioner-pra-skrining-perkembangan-kpsp/

PhotoGrid_1461513455766

Fathia dulu belum punya balok khusus untuk bermain di tahun pertamanya. Iseng, saya menggunakan toples mungil wadah bumbu untuk ‘tes’ ini, hehehe. Sekitar usia dua tahun ia bisa menumpuk 4 wadah bumbu. Sekarang, kami pakai balok yang dibeli dari Toko Mama Sekar (mba Evi Rismawati). Aslinya ini puzzle 6 in 1 sih, alias bisa disusun menjadi 6 gambar berbeda. Kebetulan ukurannya pas dengan yang disyaratkan dalam KPSP.

NYUSUN BUMBU

Manfaat balok-balok permainan ini sendiri bisa disebutkan sebagai berikut:

Orangtua dan guru perlu merancang lingkungan yang mendorong dan meningkatkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah sejak usia dini (Rachel Keen, psikolog perkembangan, 2011).

Meski tak se-wah mainan robot yang bisa bergerak atau video game, balok-balok mainan cocok untuk mendukung tujuan di atas, termasuk membantu anak mengembangkan keterampilan motorik serta koordinasi tangan dan mata, skill spasial, kemampuan berpikir yang kreatif dan bervariasi, keterampilan sosial, serta keterampilan berbahasa. Anak juga bisa bermain peran atau ‘sandiwara’ dengan balok tersebut. Bahkan balok-balok ini sekaligus berpotensi melatih kemampuan matematika.  Bahasan selengkapnya di http://www.parentingscience.com/toy-blocks.html.

(Kalau yang ini Fathia berkreasi dengan Math Block)

IMG_20151122_155514

Angkut-angkut ASI Perah

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas. Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget (walaupun kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan). Saya pun melihat sendiri betapa teman yang bertugas di Bangka (dulu kami sekantor) ketika harus mengikuti diklat ke Bogor dan Jakarta sampai repot-repot mencari tahu apakah mungkin ada anggota grup dukungan menyusui yang kami ikuti yang bisa dititipi ASI perah, jaga-jaga kalau di tempatnya diklat tidak tersedia freezer — salah satunya diakhiri dengan ia menempuh perjalanan bolak-balik hotel-rumah saya untuk menitipkan ASIP karena kesulitan menitip di freezer hotel. Menjelang dan setelah Fathia lulus ASI 2 tahun, barulah saya diperintahkan ikut bimtek, workshop, course dan sejenisnya yang semuanya tetap berlokasi di Jakarta.

Situasi menjadi berbeda pada masa menyusui anak kedua. Fahira baru saja lulus ASI eksklusif 6 bulan ketika ada kabar saya harus berangkat ke Yogyakarta untuk kegiatan training. Sebelumnya, saya sudah ‘berhasil’ mengalihkan tugas lain ke kota yang sama karena merasa Fahira masih terlalu kecil untuk ditinggal, jadi teman sebelah saya yang berangkat. Kali itu, karena berbagai pertimbangan, saya tetap berangkat. Fahira dititipkan di rumah ibu saya, di kota yang memerlukan perjalanan sekitar dua jam naik kereta dari Yogyakarta.

Jika sebelum-sebelumnya saya ‘hanya’ membawa ASIP pascacuti pulang kampung dengan kereta api, kali itu tentu kami harus mempersiapkan diri untuk membawa stok ASIP ke dalam pesawat terbang. Walaupun sudah sering membaca tentang bolehnya membawa ASIP di kabin pesawat, saya tetap browsing lagi untuk memastikan, khususnya untuk maskapai yang akan saya gunakan. Saya menemukan blog ini yang cukup menenangkan, tapi hasil pencarian saya juga mengarahkan ke tanya jawab di twitter yang agak membingungkan. Untuk amannya saya tanya lagi melalui twitter resmi maskapai tersebut…dan hasilnya agak muter-muter menurut saya, hehehe. Mungkin karena sempat dijawab oleh dua petugas berbeda ya, jadi maksud hati ngetwit untuk menegaskan kesimpulan eh malah balik lagi ke jawaban awal yang menggantung.

Screenshot_2015-08-05-11-03-33Screenshot_2015-08-05-11-03-46Screenshot_2015-08-05-11-12-20

Oh ya, peraturannya sendiri seperti saya kutip dari Ayahbunda adalah sebagai berikut: Peraturan Dirjen Perhubungan Udara nomor SKEP/43/III/2007 tentang Penanganan Cairan, Aerosol dan Gel (Liquid, Aerosol, Gel) yang dibawa penumpang ke dalam kabin pesawat udara pada penerbangan internasional, tersebut dalam pasal 3 ayat 2 bahwa obat-obatan medis, makanan/minuman/susu bayi dan makanan/minuman penumpang untuk program diet khusus tidak usah diperlakukan seperti membawa cairan, aerosol dan gel (harus dimasukkan ke satu kantong plastik transparan ukuran 30 cm x 40 cm dengan kapasitas cairan maksimum 1.000 ml atau 1 satu liter dan disegel).

Singkat kata, saya cukup pede membawa sekian botol ASI perah beku dalam satu cooler box dan IMG_20150806_080743dua cooler bag ke kabin. Bisa dibilang pengamanan saya tidak terlalu maksimal, tidak ada tulisan khusus yang menyatakan bahwa ini isinya cairan, fragile, atau sejenisnya. Alhamdulillah tidak ada pertanyaan apa-apa selama di bandara keberangkatan maupun tujuan. Kenapa banyak banget yang dibawa? Yah, jaga-jaga aja sih, daripada kurang, kan? Meskipun sudah mulai makan, namanya belum umur setahun kan ASI masih jadi sumber pemenuhan gizi utama bayi. Alhamdulillah ASIP selamat sampai ke freezer rumah orangtua, dan saya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Acara hari pertama yang diadakan di kantor perwakilan Yogyakarta cukup padat sehingga peserta baru check-in di hotel menjelang tengah malam. Salah satu hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa lemari es. Wah, dikunci. Bukan pertama kalinya sih saya mendapati kulkas dikunci di kamar hotel, tapi berhubung sekarang keberadaannya amat diperlukan, saya langsung menelepon ke petugas hotel. Saya memang tidak sampai menelepon hotel sejak sebelum berangkat seperti yang saya baca dilakukan oleh beberapa ibu menyusui yang bersiap tugas dinas, karena hotelnya cukup punya nama sehingga saya pikir pastilah fasilitasnya lengkap. Jawaban petugas hotelnya, saya bisa membayar deposit ke resepsionis agar kunci kulkas bisa dibuka. Jumlahnya lumayan, bisa buat beli tiket kereta eksekutif Jogja-Jakarta😀, tapi alhamdulillah lah pokoknya. Apalagi ternyata di dalam kulkas mini itu sudah ada freezer mungilnya pula, jadi saya bisa membekukan ice gel untuk dibawa sepanjang kegiatan pada siang harinya.

IMG_20150807_094303Di tempat training sebetulnya tersedia ruang laktasi. Jadi selama acara dilaksanakan di hari kerja, saya bisa nebeng memerah di situ. Ada kulkas kecil, tapi saya tidak berani memakainya😀. Sayangnya di luar jam kerja dan hari libur ruangan itu dikunci, jadi ya saya mencari tempat lain yang cukup nyaman. Tiga hari berlalu dan tibalah saat kami kembali ke Jakarta. Alhamdulillah perjalanan lancar, lagi-lagi tidak ada yang menanyakan soal bawaan kami, dan ASIP beku yang tidak terpakai maupun ASIP hasil perahan saya selama bertugas masih dalam kondisi baik sesampainya kami di rumah.

 

TIMG_20160323_064158ahun 2016 saya kembali tugas ke luar kota, kali ini ke Bandung. Tidak se-rempong pengalaman sebelumnya, tapi sempat deg-degan juga ketika ternyata kulkas di kamar hotel tidak dingin. Begitu menerima laporan saya, pihak hotel merespon cepat dengan mengganti kulkas tersebut dengan yang berfungsi baik. Pakai minta maaf pula karena kulkas pengganti agak besar dan tidak muat masuk ke lemari kayu sehingga harus ditaruh di lantai, padahal saya malah bersyukur karena kulkas yang ini ada freezer mungilnya😀. Oh ya, dalam perjalanan dinas kali ini saya memakai cooler bag model backpack/ransel dari Gabag, tipe Calmo. Pengin cerita soal ini juga, tapi kayaknya nanti dibikin postingan tersendiri aja, ya.

 

Bekal Menjawab Pertanyaan Anak

Pertanyaan anak-anak seringkali mengejutkan kita, para orangtua. Tak jarang ada pertanyaan yang membuat kita salah tingkah, atau kaget. Bukan hanya bingung karena tidak tahu jawabannya, tetapi juga jadi pusing bagaimana menyampaikan jawaban dengan tepat. Takutnya anak salah paham, justru penasaran, kemudian tidak puas dan terus bertanya, atau jangan-jangan malah mencari tahu dari sumber lain.
Ini beberapa buku yang jadi bekal saya buat menjawab pertanyaan Fathia, sebagian besar bisa dibaca bareng-bareng karena banyak gambar yang memudahkan penjelasan.
buku pertanyaan

1. Seri Widya Wiyata Pertama Anak-anak (Tiga Raksa)

Ini bukunya gede, hardcover, berat juga, isinya cukup komplet (ada tema Roda dan Sayap, Ulah Binatang, Kehidupan di Bawah Air, Bumi dan Angkasa dst). dengan gambar dan foto yang besar-besar juga. Baru punya beberapa, beli ketengan kalau lagi ada yang jual 2nd (versi lama) hehehe.

2. Seri Aku Ingin Tahu Mengapa (Grolier)

Ini cuma punya satu sih, kado. Hard cover tapi tipis, bertema (yang dipunya ini soal padang pasir), banyak gambar kecil-kecil, lumayan lah untuk menerangkan.

3. Ensiklopedia Pertanyaan Besar Mengapa (BIP)

Buku tunggal, yang dibahas pertanyaan yang cenderung serius seperti apa HAM itu, kenapa nggak boleh terlalu banyak nonton, apa itu rasisme, mengapa kita suka lelucon, dst, jawabannya juga panjang-panjang sih, dan terjemahannya agak kaku. Tapi tetap nggak terlalu berat buat disimak, bergambar juga.

4. Emotional Intelligence Series #1: Apa Kamu Punya Rahasia? (BIP)

Berisi cergam, di bagian akhir tiap cerita ada penjelasan untuk membantu orangtua menerangkan kondisi tertentu seperti ibu bekerja, rasa malu, dan menyambut adik baru.

5. Seri Ensiklopedia Junior: Tubuh Manusia (Émilie Beaumont, BIP)

Ada judul-judul lain dalam seri EJ, tertarik sama judul yang ini karena direkomendasikan mba Fatimah Berliana Monika Purba (konselor laktasi Leader la Leche League) untuk pendidikan seks bagi anak. Nah pas beli minggu lalu dan buka-buka, ngng…kayaknya perlu dibahas berdua sama ayahnya dulu deh ini sebelum dibacain ke kakak, hahaha. Soalnya gambarnya (kartun) lumayan jelas soal anatomi tubuh dan proses kehamilan.

6. Balita Bertanya, Anda Menjawab (Pritha Khalida & Saniawati, PandaMedia)

Ini buku panduan untuk orangtua (minim ilustrasi), ada bab tubuh kita, peraturan, alam sekitar, agama/ketuhanan. Asli Indonesia, jadi bahasanya juga lebih mengalir dan enak dibaca.

Yang bukunya nyelip waktu mau difoto:

7. Anak Bertanya, Anda Menjawab (Adil Fahmi, Maghfirah Pustaka)

Ini lebih sebagai panduan bagi orangtua (minim ilustrasi) untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang terkait agama khususnya Islam ya, termasuk Allah ada di mana, kematian dst.

8. Seri Mengapa Bagaimana (BIP)
Baru punya yang Dinosaurus sama Ekologi, nggak setebal dan sebesar WWP jadi praktis dibawa-bawa. Suka diselipi ilustrasi konyol dalam pembahasannya.

9. How to Make a Baby, Mommy? (Dian Mardi & Gita Lovusa, Mizan)

(bersambung, ada beberapa buku lain yang mau dimasukkan)

Pede Bicara Seks dengan Anak dan Mengenali Orientasi Seksual Anak

Resume Seminar Parenting di TK Alam Patrick Depok, 16 April 2016

Sesi I
Ir. Septriana Murdiani
Praktisi pendidikan dan parenting, salah satu pelopor sekolah alam di Indonesia, penulis buku “Bahasa Bunda Bahasa Cinta”.

Pede Bicara Seks dengan Anak
Ortu tak pede/merasa tak nyaman, tabu, merasa kalau diajari malah tahu dan pengin, merasa belum tahu ilmunya, punya kenangan buruk/merasa belum jadi contoh yang baik.

Riset: seberapa pun tak nyamannya, tapi anak lebih selamat jika ortu membicarakan soal seks ini.

Bicara, lebih dari sekadar ‘bicara’, tapi mendidik kita mulai dari bicara. Bahkan kalau anak tidak bertanya, kita perlu mendidik lewat bicara. Pastikan kita jadi ortu yang enak dan tepercaya jika ditanya tentang apa saja, apalagi soal seks.

Di tiap nafsu dan kesenangan yg besar ada amanah yang harus diemban. Anak senang bermain tanah, air, pasir. Manusia juga secara ‘primitif’ menyukai/menikmati seks.

Pendidikan seks penting untuk diajarkan sebagaimana akidah dan akhlak, karena berperan penting bagi kemanusiaan dan peradaban. Jangan kalah oleh media dan teman-teman dengan informasi yang kadang menyesatkan.
Ajarkan anak dan terutama diri sendiri untuk menghadapi semua tantangan zaman yang ada dengan keimanan. Jangan takut, jangan cemas, jangan sedih.

Berjamaahlah dalam mendidik anak, it takes a village to strengthen the family. Termasuk, sudah tak zaman lagi hanya mendoakan anak sendiri.

Inti dasar pendidikan seks adah akhlak.
Segitiga akhlak: kesadaran, perbuatan/pembiasaan, akhlak.
Jika kasih sayang full di rumah, fitrah anak dengan akhlak yang baik akan jalan.

Akhlak beda dengan karakter. Akhlak: perbuatan baik yang dilandasi dengan niat dan kesadaran.

12 fokus akhlak:
1. sayang (sayang dengan adik bagaimana, sayang dengan suami/istri bagaimana)
2. syukur (termasuk akan jenis kelamin dengan segala konsekuensinya mis.kalau haid shaumnya jadi batal.)
3. rendah hati (apalagi dalam menjalani pernikahan–institusi yang tidak mudah), 4. bersih (termasuk membersihkan alat kelamin)
5. positif
6. bijaksana
7. tanggung jawab
8. sabar
9. sungguh-sungguh
10. berani
11. kendali diri
12. adil. Selengkapnya bisa dibaca di Riyadush Sholihin.

Terjemah dan tafsirnya: sesungguhnya Allah memerintahkan kamu berlaku adil dan berbuat ihsan (memberikan kualitas terbaik), memberi bantuan kepada keluarga, dan Allah melarang dari perbuatan fakhsya-keji (semua perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu: zina, sawah, rumah, mobil dll), mungkar (perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat dan syariat…kalau sudah terang-terangan sudah masuk ke munkar), baghyu (mungkar yg dzalim, mengarah ke permusuhan).

Sandang pangan papan, rasa aman, kasih sayang, harga diri secara bertingkat (semakin tinggi) harus terpenuhi untuk bisa mencapai ke puncak piramida: aktualisasi diri.

Hak asasi ada kalanya berbelok ke nafsu.

Topik besar: kurikulum, materi, hasil
Kurikulum:
1. Engkau istimewa (terima apa adanya, full kasih sayang ortu)
2. Tentang lelaki dan perempuan
3. Tentang aqil baligh
4. Tentang pernikahan
5. Tentang keluarga
6. Tentang cinta

Materi: cari qauli dan kauninya (sedang disusun bukunya oleh pemateri).

Perbedaan lelaki dan perempuan adalah sinergi: sudahkah anak paham (buat check list):
1. peran dan fungsi
2. cara berpakaian (jangan menyerupai jenis kelamin sebaliknya)
3. cara berperilaku
4. fisik (tampilan, otak –termasuk soal keinginan terhadap seks, hormon)
5. cara berpikir (buku Why Boys Fail–makin banyak perempuan yang lebih sukses dalam hal akademis, apakah karena lelaki memang disiapkan untuk bertarung secara praktis?)
6. berkomunikasi (98% masalah keluarga adalah karena gagalnya komunikasi. Indonesia ada 40 perceraian/jam)
7. agresi (anak lelaki memang lebih agresif, jangan dipaksa untuk cooperate terus seperti perempuan, salurkan lewat kompetisi).

Perlu disampaikan ke anak:
– Kewajiban lelaki memberi nafkah
– tumbuh kembang, pemeliharaan, penjagaan
– perannya dalam hidup dan peradaban
– kerja sama muslimin dan muslimah
– hijab dan aurat
– ghadul bashar
– mimpi basah
– mandi suci
– komunikasi laki dan perempuan
– khitan dengan penyampaian yang baik dan niat yang lurus
– keluargamu adalah pride-mu.

Terkait aurat:
Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin
Memisahkan tempat tidur.
Menanamkan jiwa kelelakian untuk anak lelaki, jiwa keperempuanan pada anak perempuan.
Mengenalkan waktu berkunjung (minta izin pada 3 waktu)
Mengenalkan mahramnya (QS An Nisaa 22-23)
Ikhtilat
Khalwat
Berpuasa
Mendidik etika berhias

Kenalkan tipe sentuhan.

Tentang Aqil Baligh:
Anak sudah bisa mengukur (7-8th): tamyiz, pisahkan tempat tidur, boleh jadi imam sholat ibunya kalau bacaannya benar, sah jual belinya.

Sejak kelas 5 SD harus punya buku putih berisi mimpi (termasuk to be dan to have, jangan terpaku okeh sumber daya), target, value, time lines untuk pelaksanaan/perwujudannya, serta minat bakatnya.

Harus tahu apa itu aqil baligh: sudah mulai menyadari peran kekhalifahannya (bakat). Sekitar 15 tahun apalagi kalau anak lelaki, sebisanya sudah bisa mencari nafkah.

Pendekatan/pandangan soal akhlak ada dua:
1. General: semua orang bisa berakhlak.
2. Akhlak yang baik muncul jika dia ada di tempat yang sesuai dengan bakatnya. Jadi, penting mengenali bakat anak sejak awal, masa SD harus sudah ada yang dikenali (untuk menghindari bully juga).

Ihtilam dan haidh ditekankan lagi, beri pengertian tentang madzi, wadi, mani dan cara mensucikannya.

Sholatnya harus sudah sempurna termasuk tahu artinya.

Hadits 10 fitrah manusia.

3. Tentang Pernikahan
Kriteria dan cara memilih pasangan. Menikah itu ada ilmunya dan banyak mitosnya. Pernikahan seharusnya membuat laki-laki maupun perempuan happy, khususnya perempuan perlu invest belajar tentang pernikahan karena makin banyak gugatan cerai oleh perempuan.

Ingat mitsaqan ghalidza, jangan sembarangan bilang I love you.
Setiap pernikahan yang langgeng adalah karena masing-masing pribadi telah ‘selesai’ dengan dirinya sendiri dulu (sudah jadi the best person we have to be). Ada baiknya perempuan tetap punya sahabat perempuan untuk menguatkan, jadi sahabatnya jangan hanya suami.

Anekdot pesan ayah kepada anaknya: siap menikah adalah ketika sudah sanggup say sorry tanpa alasan apa pun.

4. Tentang Keluarga
Samara
Mahram (termasuk bahwa pengasuh dan driver itu bukan mahram)
Istri ikut suami
Birrul walidain
Suami selamanya milik ibunya
Keluaga adalah pembentuk utama SDM berkualitas
Interaksi antara pasangan
Interaksi kakek nenek dan anak serta cucu
Interaksi sesama anak, anak dengan orangtua.
Interaksi pada keluarga yang bercerai
Isu mutakhir: double burden perempuan, feminisme dan LGBT.

5. Tentang Cinta
Cinta itu terkait hormon. Kalau hanya mengandalkan cinta, paling bertahan 3 bulan s.d. 5 tahun. Tempatkan cinta sebagai kata kerja: melayani, membersamai, menunggu sampai saat yang tepat.
Naksir wajar, pacaran jangan. Lelaki yang baik pasti akan minta ke ayahnya.
Berteman yang banyak, bersahabat.
Cinta terhebat pada Allah, kepada Allah.

Robert Sternberg: bahan cinta:
1. Keintiman: berbagi komunikasi, saling mendukung, saling percaya
2. Gairah, tidak hanya fisik tetapi juga emosional
3. Komitmen: fokus jangka panjang: surga.

Prinsipnya:
1. Tidak pernah terlalu dini untuk memulai atau membicarakan. Secara alami mengalir saja. (Bersambung karena dipercepat, nanti dicek ke hand out yang katanya mau dikirim lewat email).
2. Lebih mudah bicara dengan anak 9th daripada 13th (antisipasi juga sebelum terjadi). Kadang pertanyaannya malah cute, jangan ditertawakan apalagi dibentak, beri penjelasan singkat yang sekiranya masuk akal, bisa juga sampaikan akan dijawab nanti kalau sudah kelas sekian.
3. Tidak lebay. Orangtua bereaksi baik-baik dan wajar-wajar saja. Terbukalah, tidak boleh jijik.
4. Jika ada pertanyaan dari anak, pakai rumus ‘tanya balik’ (“menurut kamu apa?”), biar paham dulu maksudnya. Lalu jelaskan secara ilmiahnya, ikat dengan ayat qauliyah. Mis. sex itu apa (padahal jenis kelamin di form berbahasa Inggris), kondom itu apa (nemu di lemari abi), zina, ayah bunda ciuman bibir ya, jenis kelamin apa (ada anak yang mengira jenis kelamin itu bisa ganti-ganti, makanya tanya terus).

Sebagai orangtua dan guru kita bisa meningkatkan kompetensi dengan baca buku, ikuti kegiatan.
Cek siapa teman anakmu, ada kalanya memang sudah harus ganti teman.

Tahapan yang bisa kita lakukan sesuai tahapan usia anak:
S.d. 2th: Jangan upload bayi dengan aurat terbuka, baca doa ketika akan menyusui, tutup aurat saat menyusui di tempat umum, doa saat memakaikan baju, ‘ngudang’ dengan doa.
2-3th:
mulai belajar toilet training, ortu menyebut alat kelamin dengan nama ilmiah (tapi tidak perlu teriak-teriak juga), berbagi tugas rumah tangga.
– Untuk permainan bebaskan saja misal anak laki mau main boneka (biasanya anak-anak sudah memilih sendiri).
– Bicarakan tentang aurat dan siapa yang boleh menyentuh.
– Masturbasi pada anak: alihkan/tarik, tapi ringan (jangan lebay reaksi yang ditampakkan).
– Memakai toilet (sunnahnya memang jongkok, baik laki-laki dan perempuan).

4-5 tahun
– Mandi bersama? Lebih baik jangan. Hati-hati dengan pertanyaan atau komentar
– penjelasan soal ummi yang haid.
– Dapat omongan jorok dari teman: sekali lagi jelaskan dengan tenang, jangan lebay.
– Pisahkan tidur
– Aurat, sentuhan yang boleh dan yang tidak.
– Bedakan rahasia dan surprise, hati-hati ada predator yang memanfaatkan kesukaan anak pada surprise dan rahasia.

7-8 tahun:
Belajar berteman, menjaga pertemanan, termasuk menghadapi bully.

9-10 tahun
Biasanya sudah mulai ada geng jenis kelamin, baiknya mulai dipisahkan.

11 tahun
Siap-siap: perlukah diberitahu tentang coitus? Jika ditanya, bisa dijawab kalau lelaki akan diberi tahu oleh Allah melalui mimpi basah, sedangkan perempuan tidak karena adalah tugas lelaki untuk melindungi. Kalau sudah telanjur tahu, tinggal diluruskan.
Lelaki harus provide (menafkahi), profound, protect.

Biasakan olahraga, apalagi untuk anak lelaki, lebih-lebih lagi yang sudah terpapar pornografi (jangan malah dijejali akademis terus).

Pendidikan persiapan pernikahan sebaiknya paling tidak sejak 6 bulan sebelumnya.

 

IMG_20160416_083931

Sesi II
Sinyo Egie (Agung Sugiarto)
Founder Yayasan Peduli Sahabat, Penulis Anakku Bertanya tentang LGBT
Deteksi Dini Orientasi Seksual pada Anak

Berawal dari lomba menulis, lalu mencari bahan tentang penyembuhan gay, lalu banyak mendapat informasi bahwa banyak yang sudah terjadi.

Same sex attraction (SSA), ingin identitas sosial bahwa ketertarikannya demikian.
Menerima bahwa dia tertarik sesama jenis, ada yang menerimanya sebagai anugerah kebaikan yang harus disyukuri, bukan anugerah keburukan yang terhadapnya harus sabar. Belum tentu melakukan apa-apa (tindakan kejinya).

Kita bisa saja ‘ikut andil mendukung LGBT’ saat mengotak-ngotakkan, bahwa hanya ada kategori agamis vs LGBT, sehingga yang belum sampai pada tindakan keji (hanya tertarik) jadi seperti diarahkan ke golongan LGBT.

Lelaki sudah banyak yang mengenal seks sejak dini, sehingga seringkali sudah bosan dengan perempuan. Apalagi kalau sesama lelaki sudah mengenali titik mana pada dirinya yang menyenangkan baginya. Hati-hati juga kalau sampai anak lelaki melihat bahwa seks itu menyakiti perempuan hingga enggan berhubungan dengan perempuan

Hati-hati ketika larangan pacaran malah bisa berdampak kurang baik, misalnya membuat anak dibully kalau tidak pacaran (dibilang homo/lesbi). Siapkan amunisi dan bekal agar anak jadi anak yang tangguh menghadapi semua itu, jangan goyah akan tekanan teman sebayanya.

Lelaki urusannya lebih banyak tentang seks, mengingat produksi spermanya yang luar biasa. Bertahan di pernikahan, bisa jadi karena cita-cita masa depan surga, bukan soal cinta. Jadi sebetulnya tidak apa orang yang punya orientasi SSA menikah, asal bisa menjalankan perannya dengan baik (mis.sebagai imam keluarga), dan tidak melakukan perbuatan keji.

Wanita lebih banyak main perasaan dan mencari kenyamanan, sulit melupakan cinta. Jadi bisa cari tempat curhat baik beda jenis maupun sama, mudah melayang kalau digombalin. Budaya pun mendukung keakraban fisik dengan sesama wanita. Untuk ayah: seringlah membersamai dan mengisi kasih sayang anak perempuan.

Laki-laki karakternya seperti anak-anak: raja, ingin dipuaskan egonya, sulit minta maaf, suka permainan (hobi nonton bola, koleksi benda tertentu), suka mencoba-coba (ingat fenomena akik?).
Wanita karakternya banyak bicara atau bercerita (bisa di buku harian).
Hati-hati kalau kebalik.

Umur balita (titik awal berbelok)
– keluarga yang tidak harmonis–tidak bisa menghadirkan karakter masing-masing jenis kelamin dengan baik.
– bapak otoriter/keras, bisa membuat anak berpikiran “tidak mau jadi bapak”.
– Sebaliknya ibu juga jangan mendominasi, harus menempatkan diri, sopan terhadap suami untuk mengajarkan pada anak, memperlakukan anak apalagi laki-laki yang terluka ringan tidak lebay. Jangan bunuh karakter anak dengan terlalu banyak larangan mis.main panas-panasan.
– Anak tunggal, anak bungsu, anak satu-satunya dengan jenis kelamin berbeda, anak yang diistimewakan.

Jenis dan karakter mainan:
– masak-masakan: anak lelaki jadi chef, anak perempuan jadi istri meladeni suami.
– mobil-mobilan: anak lelaki bisa tabrak-tabrakan, anak perempuan jadi pelengkap rumah-rumahan (keluarga punya mobil).

Pelaku sodomi belum tentu pernah disodomi juga. Yang sudah disodomi belum tentu akan ikut suka menyodomi. Yang lebih mudah menduplikasi adalah yang latar belakang keluarganya kurang memenuhi kasih sayang. Jangan sampai kita terlena dengan orang-orang yang belum pernah terlibat.

Beda kekerasan seksual dan pelecehan seksual: pelecehan mencakup juga kalau ada yang menyentuh atau pamer alat kelamin dengan tujuan merangsang (biasanya di tempat umum), bahkan kita mengomentari alat kelamin anak dengan gemas, membiasakan anak dengan sentuhan fisik tanpa batas di rumah sehingga dia sendiri tidak aware kalau ada orang lain yang melakukan, termasuk cium tanpa izin.

Ada anak lelaki yang ‘cantik’, hati-hati jangan disebut-sebut cantik karena yang berulang bisa jadi kebanggaan (apalagi trus dijilbabin). Beritahukan juga pada orang sekitar. Jangan sampai pula mengatai anak lelaki yang mengeluhkan sesuatu “Kamu kok kayak banci sih, gitu aja kok…”

Orangtua harus jadi sahabat terbaik anak.
1. Jangan ragu untuk minta maaf pada anak.
2. Jangan memutus komunikasi hanya karena kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan anak atau sedang sibuk yang lain (misal lagi tanggung, jawab/tanggapi dulu secukupnya, nanti lanjut lagi).
3. Perbaiki komunikasi di rumah, jangan jadi jalan masing-masing. Jika melarang atau ada yang dilanggar, jangan hanya marah dengan pilihan kata yang tidak tepat (Tidak bikin anak paham…misalnya “kamu harus fokus”).

Ajari anak tentang reproduksi, bisa contohkan pada hewan dan jelaskan bedanya dengan manusia. Terbuka, jujur, tapi sesuaikan dengan kemampuan pemahamannya.
Jika anak jujur dan mengakui kesalahan (ia melakukan sesuatu yang tidak boleh), hargai. Alhamdulillah masih mau cerita dan terbuka dengan orangtuanya (memamg seharusnya demikian). Dengarkan, beli solusi bila perlu, beri apresiasi.

Umur 11-13th: kebingungan dan penguatan
Tokoh perempuan di film anak malah sering mencontohkan bahwa perempuan yang macho adalah solusi, meski ada juga pahlawan dan shahabiyah wanita yang berperang dan it’s OK.

Apa pun masalahnya, tetaplah di jalan Allah. Jika memang orientasi seksual tidak bisa hetero, doakan, Allah yang punya kuasa.

Musa sang Hafidz Cilik juga Bermain, Kok

Hari-hari ini, Musa sang hafidz cilik menyita perhatian dan sempat menjadi trending topic karena kemenangannya dalam lomba hafidz anak Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) International di Sharm El-Sheikh, Mesir pada pertengahan bulan April 2016 ini. Musa atau lengkapnya La Ode Musa yang menjadi peserta termuda (7 tahun) mendapatkan juara ketiga.
Ayahanda Musa cukup aktif memposting kegiatan keluarganya di media sosial facebook. Salah satu yang ia tulis dan di-share oleh banyak ibu adalah jadwal harian istrinya, karena memang banyak yang penasaran, seperti apa gerangan aktivitas keseharian ummahat yang bisa membimbing anak-anaknya menghafal Al-Qur’an sedemikian rupa (sebagai tambahan keterangan, Musa menjalani home schooling). Selain soal ibunya, tentu banyak yang penasaran juga soal jadwal Musa sendiri. Mengingat usianya yang masih anak-anak, bagaimana dengan haknya untuk bermain? Apa iya Musa lalu sama sekali tak boleh menikmati masa kecilnya demi ego orangtua? (ini yang saya temukan ditulis oleh seorang ibu muda secara agak keras di facebook).

Setelah googling, saya menemukan beberapa pernyataan terkait pengaturan waktu bermain Musa, sebagai berikut:
http://www.buletinislami.com/2016/04/rahasia-hafidz-cilik-musa-hafal-30-juz-di-usia-belia.html
http://detikmuslim.blogspot.co.id/2014/07/inilah-rahasia-musa-anak-5-tahun-yang.html
http://www.jpnn.com/read/2014/07/21/247489/Mengenal-Musa-Hafiz-Cilik-yang-Hafal-30-Juz-Alquran-/page2
http://www.radarcirebon.com/orang-tua-musa-buka-rahasia-cara-didik-anaknya-sampai-hafal-alquran.html
https://bumiislam.wordpress.com/2014/07/07/metode-menghafal-al-quran-ala-musa-si-hafidz-kecil-indonesia/
http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/profil-musa-bocah-indonesia-yang-jadi-juara-ajang-hafidz-tingkat-dunia-
https://books.google.co.id/books?id=h5rrCgAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=google+books+kisah+anak-anak+penghafal&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjGu4DuxK7MAhVIHKYKHXcfDAEQ6AEIGjAA#v=onepage&q&f=false

Selain itu saya dapati juga ayah Musa pernah memposting foto mainan skuter/ride on baru anak-anaknya. Bisa dilihat dari tautan di atas bahwa orangtua tetap menyediakan waktu tertentu bagi Musa (dan saudara-saudarinya) untuk bermain. Memang soal porsi main ini ada perbedaan sedikit antara berita satu dengan yang lainnya, tapi mungkin ini karena wawancara dilakukan di tahun yang berbeda pula, jadi jadwal tentu menyesuaikan dengan perkembangan usianya.

Nah, soal jadwal-jadwalan ini barangkali juga bisa jadi kontroversial, sebagaimana kata ibu muda yang tadi, yang menganggap bahwa pembatasan sedemikian ketat (Musa juga tidak boleh nonton TV, termasuk saat bertamu) sih sama saja dengan nggak boleh main. Soal ini, memang kembali ke prinsip keluarga yang berbeda-beda. Kalau keluarga Musa, yang saya tangkap dari postingan facebook-nya memang sudah merumuskan tujuan sedari awal untuk mengutamakan kecintaan pada Allah dan persiapan bekal akhirat. Tak heran langkah-langkah yang dirancang juga sedemikian rupa sehingga pendekatan yang dipakai mungkin tidak sama dengan keluarga yang punya prinsip lain. Pernah saya baca La Ode Abu Hanafi ayah Musa mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan gaya orangtua sekarang yang cenderung membebaskan dan membiarkan tingkah anak, yang berbuah pada kaasus-kasus remaja yang cukup bikin geleng kepala. Banyak sungguh variasi dalam cara parenting, dan perbedaan itu menarik untuk diamati dan dipelajari, diambil hikmahnya, menjadi pengingat dan bahan masukan untuk diterapkan dalam keluarga masing-masing.

[Arsip Lomba] Serunya Dunia Anak Usia Dini

(Januari 2016, grup facebook Preschool Online)PhotoGrid_1453605502742

Ini kedua putri kami, Fathia (4 tahun 4 bulan) dan Fahira (13 bulan). Keduanya punya karakter yang berbeda, hingga ada saja hal yang menjadi kejutan baru bagi saya dan suami. Adik lebih ekspresif sejak awal kelahirannya, tangisan dan celotehannya bahkan mengundang komentar tetangga, “Beda banget sama kakaknya, ya…”. Memang jika dibandingkan, kakak dulu jadi terlihat lebih kalem. Namun, di umurnya sekarang, tentu kakak sudah lebih ceriwis dan aktif, sehingga tak jarang ada benturan yang membuat salah satu dari mereka menangis (tapi ya lalu rukun lagi dalam waktu amat singkat).

Punya dua balita di rumah semakin membuat saya haus akan ilmu, khususnya terkait kesehatan dan pendidikan anak. Selain menyimak sharing di grup-grup dunia maya yang membantu memperluas cakrawala wawasan, membaca buku merupakan cara saya untuk memuaskan dahaga, yang tentunya kemudian menjadi referensi untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penyesuaian di sana-sini.

Pertanyaan di kepala saya terwakili oleh kalimat pada kata pengantar buku Serunya Dunia Anak Usia Dini (SDAUD): Apa istimewanya buku ini? Ya, buku-buku bertemakan parenting memang banyak tersedia, dengan gaya dan prinsip masing-masing. Buku SDAUD yang disusun oleh tim admin grup Preschool Online ini menurut saya menjadi semacam panduan dasar yang bersahabat dan cukup lengkap karena tidak secara langsung memperkenalkan gaya parenting tertentu, melainkan menyajikan dasar-dasar mengenai apa saja aspek yang perlu menjadi perhatian orangtua. Tak ketinggalan disertai pula dengan testimoni yang menunjukkan bagaimana kiat-kiat yang tertulis dalam buku tersebut diterapkan. Inilah yang saya maksud dengan ‘bersahabat’, karena pemaparan penjelasan ‘saja’ bagi sebagian orang bisa dianggap sebagai ‘teori’ (ah, jadi ingat pengin nulis seputar teori vs hasil riset vs pengalaman) yang kurang membumi. Penyampaiannya juga lumayan ringan, padat berisi sehingga tidak terlalu tebal, praktis dibawa-bawa. Hanya saja, kalau boleh memberi masukan, mungkin perlu sedikit perbaikan editing jika nanti (moga-moga) buku ini dicetak ulang.

Bagian favorit saya dalam buku SDAUD adalah bagaimana orangtua perlu mempersiapkan keterampilan hidup alias life skills anak. Di situ disebutkan beberapa kemampuan yang hendaknya dimiliki anak sesuai usia, yang sepertinya tidak langsung berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi akan bermanfaat sebagai landasan ketangguhan dan kelincahannya berperilaku serta menyelesaikan persoalan. Poin demi poinnya terkesan remeh, tetapi penting. Penguasaan akan keterampilan hidup ini juga akan mewarnai karakter anak, bahkan bisa berpengaruh ke kehidupannya sebagai orang dewasa kelak.

Oh ya, sampul buku SDAUD dengan warna ngejreng (saya ikut memilih cover versi yang ini saat dilakukan pemungutan suara) juga menjadi keunggulan tersendiri karena menarik perhatian. Pernah suatu pagi Fahira terbangun lebih dulu daripada saya, dan ketika membuka mata saya dapati ia sedang membolak-balik buku ini:).