Lagi, Menyimak Bahasan Fitrah Anak Bersama Ustadz Harry

Sabtu lalu, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional), Institut Ibu Profesional Jakarta menyelenggarakan Kopdar Akbar sekaligus Wisuda Kelas Matrikulasi IIP Batch #3. Tahun lalu saya tidak kesampaian ikut wisuda ‘angkatan’ saya yaitu batch #2, alhamdulillah masih bisa ikutan yang sekarang.

Kopdar IIP bukan kopdar biasa pastinya. Kopdar ini sekaligus dijadikan sarana untuk menambah ilmu. Kali ini yang diundang untuk berbagi adalah Ustadz Harry Santosa, founder HEbAT (Home Education based on Akhlak and Talent) Community dan penulis buku Fitrah Based Education. Tema materi dari Ustadz Harry adalah Mendidik Fitrah Iman Anak Usia Pra-Aqil Baligh. Berikut catatan saya dari materi yang beliau sampaikan, sebetulnya secara garis besar sama sih dengan workshop atau seminar Fitrah Based Education yang pernah saya ikuti, tapi belum sempat diposting di blog ini.


Jika kita amati akhir-akhir ini, tantangan zaman semakin banyak. IIP menurut Ustadz Harry menjadi embun penyejuk dengan kekuatan ibu-ibu yang bersama bergandengan tangan untuk siap menjadi arsitek peradaban. Salah satu tantangannya adalah mudahnya orang sekarang ikut arus. Anak yang dididik dengan baik sekarang, ke depannya belum tentu terjaga fitrah belajarnya dengan baik. Padahal semua anak terlahir dengan fitrah belajar, semuanya pasti suka belajar. Lihat saja bayi yang pantang menyerah belajar berjalan meskipun berkali-kali jatuh. Namun, mengapa lama-lama belajar menjadi hal yang membosankan, tidak menyenangkan, bahkan yang ditunggu adalah tibanya saat pulang dari tempat belajar atau liburan. Pada dasarnya semua orang suka belajar, kalau terlihat tidak suka belajar bisa jadi objek belajarnya yang tidak relevan atau gaya belajarnya belum cocok.

Kita mendidik anak dalam rangka mengantar anak menuju tugasnya sebagai khalifah, menumbuhkan fitrahnya agar menjadi peran-peran peradaban terbaiknya. Allah sudah berikan misi pada tiap makhluk-Nya, misalnya dinosaurus diwafatkan karena tidak kompatibel lagi dengan manusia. Allah juga ciptakan life system untuk men-support.

Masa dewasa dalam Islam dimulai pada usia 15 tahun, umumnya anak sudah aqil baligh di umur itu, jadi tidak ada istilah remaja, setelah fase anak ya fase dewasa. Di usia itu seharusnya sudah bisa mandiri, kalaupun masih dibiayai orangtua maka jatuhnya jadi sedekah. Sekarang, usia 25 banyak yang masih bingung bakatnya apa, terlalu tergantung pada orangtuanya, karena selama hidupnya hanya jadi robot pembelajar. Bahkan lulusan universitas terbaik pun belum tentu memperbaiki peradaban. Otak cerdas, tetapi gersang jiwanya, tidak menjadi human being. Skripsi bisa jadi merupakan karya pertama dan satu-satunya seumur hidup. Coba kita lihat pendidikan anak usia dini sekarang yang seharusnya mendidik anak sesuai fitrah usianya, tetapi justru didesain menjadi sekolah persiapan untuk memasuki SD.

Usia 15 tahun juga menjadi batas awal untuk memasukkan anak boarding school jika diperlukan. Di bawah 15 tahun sebaiknya anak belum dikirim ke sekolah berasrama atau pesantren, karena fitrah seksualitasnya belum matang.

Untuk fitrah seksualitas ini urutannya adalah sbb: 0-2 tahun dekat ke ibu dalam masa pemberian ASI (sebaiknya diberikan secara langsung dan tidak disambi kegiatan lain, bahkan termasuk ikut kelas online :D); 2-6 tahun dekat ayah dan ibunya; 7-10 tahun dekatkan dengan orangtua yang sejenis agar paham potensi keayahan/kebundaannya, berikan contoh bagaimana misalnya bunda jago masak dan menjahit, ayah ikut rapat-rapat dan kegiatan kemasyarakatan; 11-15 tahun kedekatan ke ayah dan bunda ‘disilang’, jadi anak perempuan didekatkan dengan ayah dan anak laki-laki didekatkan dengan bunda agar memahami karakter dari kaca mata jenis kelamin yang berbeda.

Continue reading

Cermati Hal-hal Ini Dulu Sebelum Eksis di Medsos

Hari ini Perpustakaan Kementerian Keuangan mengundang mas Iwan Setyawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns yang sudah difilmkan dan pendiri lembaga Provetic, dengan tema Jurus Jitu Eksis di Media Sosial. Berhubung tanggal 17 Mei adalah juga Hari Buku Nasional, mas Iwan mengawali uraiannya dengan menyebutkan bahwa anak muda yang keren sekarang sejatinya adalah anak muda yang berani duduk di kafe sendiri sambil membaca buku seperti buku Pramudya Ananta Toer, bukan yang keluar masuk mall. Di sini, budaya itu masih belum berjalan.

Media sosial secara teknologi digital amat membantu, kita bisa tahu perkembangan terkini di belahan dunia lain saat ini juga. Sehingga lifestyle orang meski terpisah jarak cenderung hampir sama, dengan media sosial saat ini kelas C, D, E bisa tahu tren dan kabar terbaru apa yang sedang terjadi di kota metropolitan, di mana saja dan kapan saja. Ini bisa juga mendorong gaya hidup baru seperti menghitung kalori dengan bantuan teknologi. Di sisi lain, media sosial menampilkan yang indah-indah saja, everyone looks perfect in socmed, bisa bikin kita merasa harus mencapai hal serupa padahal belum tentu sesuai dan mampu. Belum lagi kalau waktu kita terlalu banyak dihabiskan untuk kepo sana-sini yang tidak bermakna.

“Kita kini makin banyak menghabiskan waktu untuk sibuk melihat hidup orang lain, sedangkan hidup kita sendiri terancam terabaikan. Iseng baca komen, bisa jadi malah kebawa emosi seharian yang merusak indahnya hari itu bahkan mengganggu pekerjaan. Lihat judul provokatif saja langsung panas. Lalu terpancing ikut berkomentar dengan hati panas. Ini bahaya. Ada baiknya satu dua hari menjauhkan diri dari gadget,” jelas mas Iwan. Kita ini depending on our mood, kan, ujarnya mengingatkan. Saran mas Iwan, belajarlah menahan, nggak semua harus diekspresikan, jangan jadi orang yang reaktif. Dipikir dulu, dimasukkan dalam hati dulu. Ditambah lagi, orang mudah mencaci di medsos karena tidak tahu emosi yang terlibat seperti apa. Status atau postingan kita bisa membuat kita mendapatkan labelling. Rekam jejak digital kita akan selalu ada, termasuk yang sudah dihapus bisa dipulihkan lagi, jadi sekali lagi pikirkan matang-matang.

Pengaruh kurang baik lainnya, anak muda kini jika tidak dibatasi memang bisa ‘mengerikan’ sekali, karena segalanya bisa diakses di internet. Ini masih ditambah lagi dengan karakter mereka yang bisa dengan mudah jumping around dari satu topik ke topik lain alias tidak harus menyimak sesuatu secara runut layaknya generasi sebelumnya. Sisi bagusnya sih mereka ini multitasking memang, tetapi keterampilan literasi mereka bisa jadi terpengaruh. Attention span orang dulu 12 detik, sekarang cuma 7 detik, jadi anak muda sekarang sulit fokus. Membaca atau lebih tepatnya budaya baca yang baik bisa menjadi salah satu solusi, karena membaca itu membuka keinginan untuk maju, sekaligus meningkatkan kapasitas intelektual jika membaca buku-buku literatur, bukan hanya lintasan postingan di medsos yang cenderung singkat dan banyak pengalih perhatian. Ada baiknya di masyarakat dibuat gerakan untuk membuka hati, membuat membaca menjadi sesuatu yang umum dan menyenangkan, dengan cara yang fun juga (mas Iwan mencontohkan gerakan viral dengan tagar tertentu yang membuat kaum muda beramai-ramai posting foto sedang membaca sambil terlihat keren), bukan sekadar lewat ceramah-ceramah yang monoton dan seremonial.

Baca literatur, baca buku, bisa menjadi jalan menjernihkan dan memperluas pikiran. Orang sekarang termasuk di negara maju jadi lebih shallow. Kekuatan digital makin besar, apalagi generasi sekarang dari lahir sudah melek digital. Dulu orang bikin survei dengan cara isi kuesioner (paper and pen), kemudian lewat komputer, berikutnya sudah berbentuk online survey yang secara otomatis sudah menjalankan tugasnya bahkan tanpa kita sadari. Ya, apa yang kita posting, apa yang kita pernah lihat, yang pernah orang cari bisa dipakai untuk mengarahkan kita. Pernah kan sedang baca artikel bertema tertentu lalu tiba-tiba muncul iklan produk yang ada hubungannya (yang bukan merupakan bagian dari konten utama)? Ada pula yang namanya efek bubble filter karena ada motivated reasoning, orang cenderung hanya mencari berita yang dianggap mendukung atau memberi pembenaran untuk pemikirannya, lalu mem-block atau meng-unfollow orang yang tidak sepandangan. Akibatnya terjadilah bubble filter di mana seseorang hanya melihat atau berinteraksi dengan yang pro dengan pendapatnya.

Orang masa kini juga makin sulit menentukan pilihan saking banyaknya pilihan yang tersedia di media maupun pasaran. Bagaimana kita bisa mencerdaskan diri kita untuk memilih, itu dia tantangannya. Medsos pun membuat kita cenderung lebih konsumtif. Jadi kita harus bisa mengendalikan diri, harus pintar, jangan sampai terjerumus ikut arus. Kita ini sesungguhnya sedang dikomersialisasi oleh industri, semacam dijerumuskan dengan segala kemudahan termasuk kemudahan belanja. Orang Indonesia masih kagetan dengan lompatan teknologi ini. Inilah yang membuat mas Iwan jarang menerima endorse barang, karena kalau sudah endorse harusnya ya memang pakai barang dan percaya akan barang tersebut, kalau setengah-setengah nanti kan rawan ikut menjerumuskan orang lain.

Mas Iwan sebetulnya dulu tidak suka membaca, baru di masa kuliah di AS ia berubah. Perubahan ini diawali dengan ajakan temannya, Roby Muhamad ke Virgin Union Square. Di sana, mas Iwan cari CD sedangkan temannya cari buku. Temannya mendorong untuk membaca sebuah buku, tadinya mas Iwan menolak karena merasa orang yang baca novel are stupid people, ngapain orang baca sesuatu yang dikarang-karang? Tapi mas Roby terus mendesak, dan malam itu mas Iwan menamatkan The Catcher in the Rye karya JD Salinger yang selamanya mengubah pandangannya terhadap buku, ibaratnya direvolusi untuk membaca. Ia merasa related dengan tokoh Holden di situ. Dari situ mulai membaca buku-buku lain seperti tulisan Dostoyevsky.

Mas Iwan kemudian berkeinginan menuliskan sejarah keluarga yang diawali dengan kegemasan pada generasi muda kerabatnya yang abai akan sejarah perjuangan generasi sebelumnya. Kemudian jadilah buku. Sebetulnya mas Iwan malah sedang berencana ambil kelas untuk jadi guru yoga di India, tetapi kemudian buku yang ditulisnya ternyata lumayan laris di pasaran. Lalu ketika mas Iwan iseng cek twitter (yang awalnya tidak aktif dipakai walaupun punya akunnya) banyak yang mengucapkan terima kasih, dibalas dst, hingga buku dicetak ulang sampai 16 kali. Dari situ mas Iwan merasakan the power of social media, lalu lebih aktif menggunakan akun medsosnya, dan jadi ingin meriset bagaimana media sosial bekerja (latar belakang pendidikannya memang dari statistik, dan sempat bekerja di perusahaan besar internasional pengolah data untuk survei). Ini seperti mundur ke zaman dulu, katanya, terjadi pergeseran cara promosi. Dari awalnya orang tahu suatu mengenai suatu produk lewat words of mouth, lalu muncul promosi di media massa yang cenderung searah dan seragam, kini di medsos penjual bisa kirim message yang sesuai dengan audiens masing-masing. Medsos memungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan luwes dengan orang banyak, merancang promosi yang menarik dst. Pemikiran bahkan bisa diciptakan dan digerakkan dari media sosial, jadi banyak dipakai untuk memengaruhi opini. Makanya laku sekali pemakaian medsos di masa pemilu/pilkada untuk kepentingan politik.

Dalam buku 9 Summers 10 Autumns, mas Iwan menceritakan kembali hal-hal yang pernah ia lewati. Menuliskan kisah pribadi dalam buku artinya ada risiko cerita hidup kita diketahui banyak orang, kemudian apa ya bakal laku? Pemikiran tersebut sempat disampaikan oleh mas Iwan pada ibunya, lalu ibunya menjawab, “Orang mau baca mau kagak, hidup kita begini-begini aja. Tapi siapa tahu di luar sana ada satu dua anak supir angkot yang baca juga dan jadi tercerahkan.” Dan ini sungguh-sungguh terjadi ketika ada seorang mahasiswa UI mengirimkan e-mail, menyatakan rasa terima kasih atas inspirasi mas Iwan sehingga satu lagi anak supir angkot yaitu dirinya sendiri bisa berangkat menuntut ilmu ke Amerika.

Menulis juga punya manfaat psikologis, terang mas Iwan. “Ketika beban hidup sudah terlalu berat, rasanya entah mau dibawa ke mana, menulis itu such a release dan berefek healing. Healing dengan pesta-pesta efeknya artifisial dan sementara, sedangkan healing dengan menulis dampak positifnya akan lebih panjang, bahkan bisa jadi menginspirasi orang lain. Biarlah mungkin ada yang menertawakan postingan nan mellow, kan orang lain tidak tahu hidup kita yang sebenarnya.” Tambahnya, menampilkan segala yang terlalu manis malah akan terlihat palsu. Keluarkan saja apa yang membuat kita bahagia. Jangan sampai medsos merusak dignity hidup kita.


Kembali ke topik sesuai tema acara, mas Iwan menyebutkan tips. “Mau terkenal di media sosial? Simpel. Just be stupid, atau lebih jauh lagi go physical. Tapi ini kan merendahkan harga diri ya, tidak elegan. Gunakanlah cara yang positif,” tegas mas Iwan.

Prinsipnya, eksis boleh, tapi itu ada konsekuensinya yaitu orang jadi tahu hidup kita dan kita jadi susah punya privasi. Kecuali kalau tujuan utamanya memang mau dikomersialkan, ada sesuatu yang dijual dari keterbukaan kita. Jadi kalau ditanya tentang trik agar eksis di medsos maka kembalikan ke tujuannya, untuk apa? Sebetulnya lebih bagus living in the moment, nikmati kegiatan yang sedang dilakukan, kalaupun mau posting di medsos lebih untuk tujuan capturing the moment, jadi semacam menyusun album hidup. Ada juga orang-orang yang butuh medsos untuk keep in touch, bikin komunitas, lahan jualan, atau sarana untuk networking. Medsos juga membantu para pemilik kepribadian introvert untuk mengekspresikan diri mereka. Pada umumnya, orang extrovert dianggap lebih stand out dan berkemampuan karena memang lebih luwes menunjukkan apa yang dia bisa. Dengan medsos, orang yang introvert mendapatkan rumah atau tempat untuk mengekspresikan diri. Contohnya mas Iwan sendiri yang aslinya tidak terlalu suka medsos dan cenderung introvert, tetapi medsos membantunya berekspresi.

Memang media sosial membuat banyak hal jadi ‘terbuka’. Dari postingan di medsos, kita bisa menilai karakter orang, misalnya yang posting foto hitam putih biasanya pribadi yang solitary. Dari tata bahasanya ketahuan apakah orang ini punya manner atau tidak, ketika bertindak selaku buzzer dari hati atau tidak, dst. Orang-orang terkenal biasanya punya strategi tersendiri, termasuk dari sudut pandang pengambilan gambar, gaya komunikasi di medsos, hampir nggak mungkin posting sedang galau tengah malam. Kalau tujuan kita memang untuk seseruan saja, tidak ada pakem yang wajib diikuti memang, tapi jika ingin maju, harus pertimbangkan matang-matang apa yang ingin diposting. Misalnya pertimbangkan dari sisi architype kita. Gunakan fitur analytics, misalnya kapan waktunya viewer paling ramai, tipe-tipe karakter subscriber, lokasi pembaca dll, gunakan untuk menyesuaikan konten.

Di balik ketenaran para blogger dan vlogger yang memukau, perjuangannya luar biasa, lho. Mereka punya totalitas dari awal, termasuk pemilihan alat, pendekatan ke pihak yang tepat. Mengutip ucapan ibu mas Iwan, kebahagiaan akan terasa lebih manis jika dicapai dengan berdarah-darah. Kalau mau eksis, ya bikin ritual. Siapkan content management, misalnya tiap Senin tentang apa, apakah perlu ada admin khusus untuk menanggapi komentar, dst.

Sekarang orang kalau jual sesuatu akan bawa story-nya, misalnya ini resep nenek moyang, warisan, dibawa dari daerah tertentu, dst, jadi bukan jual ingredients. Kalau dibandingkan dengan produk sejenis biasanya satu sama lain pun bisa jadi sesungguhnya mirip-mirip, tapi harus ada yang membuat tampil beda. Ini bisa diterapkan juga di media sosial. Bangun karakter kita, apakah memang representasi dari kehidupan nyata atau ada yang mau ditampilkan. Tidak bisa misalnya hanya sekadar tampilkan produk jualan kita. Jadi idealnya suatu postingan bisa menggerakkan hati maupun pikiran viewer. Dari my story jadi the story of us. Setelahnya baru bangun personality khas yang diinginkan di medsos, apakah mau soft, lucu, serius, bijak, atau apa. Kalau hanya average, nggak akan ke mana-mana. Antar-postingan juga perlu konsisten karakternya. Karakter kita bisa saja dikeluarkan dalam bentuk posting random, atau posting teratur seperti tiga-tiga, terserah, yang penting karakternya kelihatan.

Bagaimana agar medsos kita ‘ramai’? Tujuan interaksi di medsos adalah untuk listening, dua arah, bukan hanya kita yang lempar informasi. Interaksi yang meaningful dan edukatif kebih oke. Jadi dari listening itu kita bisa dapat feedback, dan feedback seburuk apa pun bisa menjadi inspirasi kok. Butuh hati yang lapang memang untuk mendengar komentar di medsos, karena pendapat orang berbeda-beda, kan. Untuk memancing interaksi, ada juga yang namanya social media activation, misalnya dengan menyelenggarakan kuis atau lomba di medsos kita. Kuis yang unik lebih menarik, makin konyol malah bakal ramai biasanya. Syarat kuis yang terlalu panjang berderet malah bikin orang cenderung malas ikutan.

Branding diri di medsos harus menunjukkan juga sisi manusiawi yang menarik dan tidak garing, misalnya dengan memperlihatkan aktivitas pribadi seperti saat sedang melakukan hobi, sehingga tidak selalu memuat laporan acara tertentu (ini malah jadinya membosankan). Viewer perlu relate, melihat bahwa tokoh ini juga membumi dan real, just a human being, mendekati banyak orang tanpa harus pencitraan, sehingga tercipta attachment, dan lebih jauh tokoh dimaksud syukur-syukur bisa menjadi inspirasi. Di sisi lain sosmed itu has to be natural, kalau dipaksa ya nggak enak. Seorang tokoh yang menginspirasi tapi postingannya masih kaku, sayang sebetulnya. Kontennya bisa dibuat lebih kreatif, penyampaian informasi harus indah. Tapi jangan sampai jadi hanya kosmetik saja, misalnya revitalisasi pasar, pembangunan infrastruktur tetap harus betul-betul jalan dengan baik, bukan cuma indah di postingan. Salah satu strategi brilian di mata mas Iwan adalah langkah para pejabat negara merangkul vlogger untuk mengabarkan tugas atau kegiatan yang sedang dijalani, dengan kemasan yang kreatif. Gebrakan ini membuat informasi yang disajikan jadi lebih seru untuk disimak, karena orang sekarang juga lebih visual jadi desain atau foto yang bagus akan sangat menolong.

Kemudian ada peserta yang menanyakan pemanfaatan teknologi untuk membaca secara digital. Era sekarang, orang beralih dari buku fisik ke buku digital. Ada toko buku yang tutup, ada media cetak yang berhenti terbit. Transisinya luar biasa. Tapi aroma buku cetak, menurut mas Iwan tidak terkalahkan. Di sisi lain, buku versi digital membantu untuk daerah terpencil yang akses untuk buku fisiknya sulit, misalnya akibat jarak perpustakaan yang jauh. Maka di Indonesia sebetulnya tergusurnya buku cetak oleh buku digital belum menjadi isu, karena membaca itu sendiri saja belum menjadi sesuatu yang menyenangkan buat semua orang.

Menjelang akhir acara hari ini, Mas Iwan menyajikan rangkaian kalimat penutup yang mengena, “Hidup ini sudah susah, kebahagiaan bukan untuk dikejar tapi jalani saja kehidupan, nanti tiba-tiba ketemu kebahagiaan ya syukur.” Lebih jauh lagi, lewat eksis di medsos, empati tentang kehidupan bisa tumbuh. Mas Iwan memandang bahwa lewat medsos kita jadi bisa tahu ada kehidupan orang yang seperti ini dan itu (bukan berarti harus mengejar semua yang tampak indah ya), berikutnya muncul empati, dan pada akhirnya empati tersebut akan membuat kita lebih bersyukur akan kehidupan kita sendiri.

Totoro dan Serunya Kisah Fantasi Masa Kecil

Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa ada yang hendak menghadirkan film-film Studio Ghibli di bioskop-bioskop dalam negeri. Berita tersebut sempat terlupakan sampai akhirnya sebuah postingan teman di instagram mengingatkan saya. Penasaran, saya pun mencari tahu jadwal festival film-film animasi tersebut. Ternyata, sebagaimana disebutkan di http://worldofghibli.id/#screening, bulan ini adalah giliran My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) diputar. Film-film lainnya secara bergantian ditayangkan setiap pekan pertama di Studio XXI maupun CGV tertentu di beberapa kota sejak April hingga September tahun ini (kecuali Juni, dan kabarnya akan dilanjutkan hingga Maret 2018).

Saya bukan fans berat Studio Ghibli maupun Hayao Miyazaki (co-founder Ghibli yang juga bertindak antara lain selaku sutradara, produser, animator, dan penulis naskah), tetapi saya sempat menikmati film-filmnya di masa kuliah. Gara-garanya, para sepupu saya yang tinggal serumah waktu itu (lebih tepatnya saya yang ikut tinggal di rumah orangtua mereka, pakdhe dan budhe saya) suka film-film Ghibli. Saya tak sempat nonton semuanya sih, yang paling saya ingat saya saksikan sampai selesai adalah Ponyo on The Cliff by The Sea. Penasaran juga jadinya mau nonton My Neighbor Totoro. Jadi, ya, #NontonGhibli-lah saya dengan memesan tiket terlebih dahulu melalui situsnya. Sayangnya begitu sampai di lokasi kemudian, saya sudah tak kebagian kipas lucu Totoro yang sudah habis duluan.

Kakak beradik dalam My Neighbor Totoro kontan mengingatkan saya pada anak-anak, yang kebetulan juga sama-sama perempuan dan jarak usianya mirip. Cara mereka berinteraksi sungguh menggemaskan, bagaimana mereka saling mendukung, bagaimana Mei si adik kadang iseng dan mudah ngambek tapi juga terlihat menjadikan kakaknya sebagai panutan sedangkan Satsuki si kakak begitu mengayomi. Ceritanya sendiri sepintas sederhana, dimulai dari pindahnya ayah Satsuki dan Mei ke sebuah rumah tua agar lebih dekat dengan tempat ibu Satsuki dan Mei sedang dirawat karena sakit. Di sana, Satsuki dan Mei berkenalan dengan makhluk-makhluk unik yang tinggal di sekitar mereka, selain juga berinteraksi dengan tetangga baru (manusia betulan-kenapa juga harus disebutkan begini ya, hehehe) yang amat baik. Mengenai sakit ini tidak disebut jelas sakit apa, tapi situs ini http://www.nausicaa.net/miyazaki/totoro/faq.html menyimpulkan bahwa bisa jadi sang ibu terkena TB. Di situs tersebut juga diterangkan mengenai hal-hal yang mungkin menjadi pertanyaan, misalnya tahun latar belakang kejadian. Dijelaskan pula kenapa ada poster yang beredar dengan ilustrasi seorang anak perempuan berdiri di samping Totoro, rupanya ini konsep awal sebelum diputuskan karakter anak dipecah menjadi dua orang. Karakter fantasi Totoro dan teman-temannya menjadi daya tarik tersendiri dengan keunikan penampilan dan kemampuan ajaib mereka. Seru!

Oh ya, ini lagu favorit saya dari film tersebutThe Huge Tree in the Tsukamori Forest (Tsukamori no Taiju).

 

 

I Ketut Widiadnyana dan Upaya Pelestarian Songket Jembrana Demi Generasi Mendatang

Kecintaan I Ketut Widiadnyana (42) terhadap songket Jembrana berawal dari kepeduliannya terhadap warisan budaya tradisional tersebut. “Saya masih bisa melihat tenun songket Jembrana sekarang, tetapi bagaimana dengan generasi mendatang? Ada yang memperkirakan bahwa sekitar 20 tahun ke depan songket akan punah, dan memang sudah ada songket daerah lain yang punah, tetapi saya yakin songket Jembrana tidak akan punah dan saya akan terus semangat untuk mengembangkannya,” kata suami dari dr. Luh Wayan Sriadi ini.

Sektor pariwisata daerah Jembrana di mata Ketut kurang hidup dibandingkan dengan daerah lain di Bali, jadi pengembangan songket diproyeksikan dapat ikut menggerakkan perekonomian rakyat di sana. Tenaga kerja pun banyak tersedia, walaupun diakui oleh Ketut sulit mencari generasi muda yang mau menenun. Salah satu alasannya, menenun itu rumit dan perlu kekuatan tangan. “Jadi saya rancang alat untuk membuat songket tanpa sambungan. Biasanya kan songket tradisional 50 meter disambung dengan 50 meter. Dengan menggunakan alat ini kain songket bisa dibuat lebih lebar tanpa sambungan, tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya. Pekerjaan pun menjadi lebih ringan sampai anak kelas 3 SD juga bisa belajar menenun dengan alat tersebut. Alat tenun seperti ini adalah yang pertama untuk di Bali, kalau di Palembang sudah ada beberapa,” ungkap Ketut. Dengan alat baru yang memudahkan dan potensi pemasukan yang lumayan, Ketut berharap agar makin banyak yang tertarik menjadi penenun.


“Impian saya, orang mau bekerja sebagai penenun. Ini kan warisan budaya kita. Kalau hanya berorientasi bisnis, beli saja alat tenun jacquard, selesai. Tapi saya ingin memberdayakan warga juga. Di Jembrana ada 10 kelompok, kelompok saya yaitu Kelompok Tenun Putri Mas terdiri atas sekitar 60 orang yang masing-masing bertugas pada 6 unit yaitu pengembangan motif, penenun, pencelupan alam, pemasaran, perancangan busana, dan simpan pinjam. Penenun banyak yang ibu rumah tangga, ada misi pemberdayaan perempuan di sini,” tutur Ketut. Pekerjaan beratnya, Ketut menggarisbawahi, adalah menanamkan konsep bahwa menenun adalah pekerjaan yang mulia karena membantu melestarikan budaya, juga sekaligus mengasyikkan.

Disebutkan oleh Ketut, songket Jembrana mempunyai tiga segmen pasar. Yang pertama adalah kolektor tenun yang sudah tidak mempermasalahkan soal harga. Kedua ialah para pemakai tenun, mengingat di Bali masih memegang adat istiadat termasuk banyak upacara adat yang tentunya memunculkan kebutuhan akan tenun. Ketiga, pasar fashion. Sejauh ini produk fashion Kelompok Putri Mas masih dalam bentuk standar seperti blazer, semi jas, alas kaki wedges, dompet, clutch bag, dan tas. Ke depannya, lelaki kelahiran 4 Agustus ini ingin bekerja sama dengan desainer yang lebih profesional, agar penggunaan songket Jembrana juga makin luas.

Songket Jembrana masih mempertahankan motif yang sama sejak zaman kerajaan dulu, yaitu banyak menampilkan unsur alam seperti bunga dan hewan dengan dasar folklore. Ini berbeda dengan songket lain misalnya yang berasal dari Karangasem atau Klungkung. Motif songket Jembrana cenderung statis dan tidak rumit sehingga memudahkan untuk dimanfaatkan dari segi fashion, tidak seperti motif rumit yang acapkali menyulitkan saat pemotongan kain untuk pola.

Ketut sadar bahwa untuk bisa ‘dilihat’ harus selalu ada terobosan baru. “Saya punya inovasi yang sudah didaftarkan HAKI-nya yaitu songket dipadukan dengan batik tulis kemudian dicelup malam. Selanjutnya kami juga akan lebih banyak memakai pewarna alami, contohnya dari bahan kunyit, akar mengkudu, daun mangga dan tanaman-tanaman lain yang masih banyak ditemukan di daerah Jembrana. Pewarnaan alami ini juga sekaligus memicu kreativitas, bahan apa yang ada itulah yang dikreasikan untuk desain. Harga jualnya pun lebih tinggi,” terangnya.

Bisnis songket yang ditekuni oleh Ketut bukanlah bisnis warisan orangtua, sehingga tantangan yang dihadapi menurutnya juga lebih banyak. “Saya kontraktor, istri saya dokter, kalau mau mengejar uang daripada susah-susah lebih baik fokus ke profesi masing-masing,” tegas Ketut. Lokasi tempat tinggal yang juga menjadi tempat produksi songket Ketut berada 120 km dari Denpasar, cukup jauh dari pusat kota. “Oleh karenanya kami memanfaatkan teknologi seperti online shop. Workshop juga sedang disiapkan sehingga orang yang datang berbelanja langsung bisa sekaligus melihat prosesnya,” urainya.

Permasalahan berikutnya yang diceritakan oleh Ketut, kalau batik punya kategori batik print, batik cap, batik celup, batik tulis, songket pun sebetulnya ada jenis songket handmade, songket print, dan songket sablon. “Sebetulnya bukan bermaksud menutup rezeki orang lain. Malah menjadi tantangan tersendiri untuk berinovasi, apalagi orang Indonesia fashionable, hp belum rusak sudah beli lagi sehingga perputaran barang juga cepat. Hanya saja, songket yang asal katanya adalah nyungkit (mengait-red) itu kan kekayaan tradisional, jangan disamakan dengan tenun mesin yang pemberdayaan masyarakatnya kurang. Tradisional melawan mesin, jelas tidak bisa disamakan. Tenun tradisional dengan pembuatan manual lebih memakan waktu dan memiliki variasi kesulitan dengan ritme pengerjaan yang berbeda-beda tergantung orangnya. Maksimal per hari hanya 3-7cm songket manual yang dihasilkan, sedangkan dengan mesin bisa bermeter-meter,” Ketut menjelaskan perbandingannya. Kategorisasi produk di online marketplace juga menurutnya perlu dibenahi karena tidak edukatif untuk masyarakat, cenderung menyamaratakan songket tradisional dengan songket buatan mesin. Tantangan lainnya yang sudah mulai teratasi adalah material benang yang masih harus diimpor, misalnya dari India dan Cina.

Ketut punya impian agar songket menjadi Warisan Dunia sebagaimana batik. “Saya ingin melestarikan warisan budaya tradisional dan bukan hanya berhenti di slogan. Terkait cita-cita agar songket menjadi Warisan Dunia yang diakui PBB, seharusnya memang menjadi pekerjaan bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. Dan sebagai orang daerah, yang bisa saya lakukan adalah mengumpulkan data, menemui pejabat terkait untuk meminta dukungan, maupun terus mengedukasi masyarakat mengenai keberadaan dan jenis-jenis songket. Apakah nanti upaya saya disetujui atau tidak, hasilnya nanti seperti apa, yang penting saya sudah berbuat sesuatu. Semoga selain bisa melestarikan warisan budaya, songket juga bisa menggerakkan perekonomian rakyat,” pungkas Ketut.

 

(aslinya ditulis untuk media kantor tetapi yang dimuat adalah versi pendek untuk efektivitas halaman)

Anak Batuk Pilek, Imunisasi Jalan Terus

“Anak saya batuk pilek nih Bun, jadwal imunisasi besok, boleh lanjut atau tunda aja dulu, ya?”

Pertanyaan di atas cukup sering terlontar di grup atau forum ibu-ibu. Cukup bisa dimengerti bahwa ada kekhawatiran mengimunisasi anak saat kondisinya sedang tidak fit. Biasanya sih ortu takut sesudah disuntik vaksin anak atau bayinya jadi demam (sebagai efek atau lebih tepatnya kejadian ikutan pascaimunisasi/KIPI) yang bikin tambah rewel. Atau ada juga yang mendapatkan informasi bahwa vaksinasi saat anak kurang sehat akan berpengaruh pada respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan, semacam jadi tidak optimal bekerjanya. Yang lain menyebutkan bahwa adanya demam sesudah imunisasi bisa membuat rancu apakah demamnya demam KIPI atau karena batuk pilek yang sedang dialami, ini sehubungan dengan tindakan selanjutnya yang perlu diambil.

Baca juga: Jadwal Imunisasi IDAI 2017

Setelah baca sana-sini, diawali dari bacaan di Milis Sehat, saya termasuk yang sering menjawab pertanyaan tadi (kalau ada yang nanya, karena saya aktif di beberapa grup) dengan “batuk pilek bukan penghalang imunisasi”. Fathia dulu mendapatkan suntikan MMR (yang di antaranya mengandung vaksin campak, yang salah satu KIPI yang umum terjadi adalah demam sekitar 8-12 hari pasca-imunisasi) saat sedang batuk pilek, dan alhamdulillah batuk pileknya tidak bertambah parah setelahnya. Dokter keluarga kami malah yang menyarankan waktu itu. Ya, kata kuncinya memang konsultasikan dengan dokter, dengan kita juga berbekal informasi valid dulu tentunya. Beberapa lembaga maupun organisasi resmi sudah mengeluarkan pernyataan seputar bolehnya imunisasi ketika batuk pilek, yaitu:

Continue reading

Glaukoma, Si Pencuri Penglihatan Yang Bisa Berakibat Fatal

Papa (alm) kehilangan penglihatan beliau di usia produktif karena glaukoma. Mengingat glaukoma bisa dikaitkan dengan faktor keturunan, saya pun banyak membaca informasi mengenai ‘si pencuri penglihatan’ ini. Termasuk melakukan pemeriksaan tekanan bola mata, walaupun belum rutin (biasanya saya lakukan sekalian mengurus penggantian kacamata). Penginnya sih bikin tulisan juga seputar glaukoma ini bertepatan dengan peringatan World Glaucoma Week yang tahun ini jatuh pada tanggal 12-18 Maret 2017. Tapi baru sempat merapikan draft catatannya sekarang, tak apa lah ya daripada tidak sama sekali.

Memanfaatkan momen World Glaucoma Week ini, Yayasan Glaukoma Indonesia menyelenggarakan Seminar Glaukoma di Klinik Mata Kirana RSCM.  Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan masyarakat akan penyakit yang acapkali baru disadari ketika sudah terlambat ini. DR. dr. Widya Artini, Sp.M (K) mengisi sesi pertama seminar yang diadakan tanggal 16 Maret 2017 ini dengan mengangkat topik Glaukoma di Indonesia. Dijelaskan oleh dr. Widya, glaukoma umumnya disertai dengan tekanan bola mata tinggi, walaupun ada juga pasien yang tekanan bola matanya normal. Tekanan bola mata diperlukan untuk menjaga bentuk tetap bulat. Aliran air masuk untuk bola mata harus seimbang dengan aliran keluar. Jika aliran ke dalam lebih dari aliran keluar, maka tekanan bola mata bisa naik, misalnya ketika ada sumbatan. Tekanan bola mata (intraokular) normal adalah sebesar 10 s.d.21 mmHg (rata-rata 14 mmHg).

Continue reading

Memahami Gaya Belajar Anak

Materi #4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional
MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR

Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami kita lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, ketika banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.

Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar. Sehingga  anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label “bodoh”.

Zaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik:
Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar.

Dari sisi anak/siswa:
Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA.

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak (Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik (Teaching Styles) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak (Working Styles).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb: Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar* (catatan Leila: kalimat aslinya adalah “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn“, menurut saya terjemahan di materi ini agak tidak pas, sudah ditanyakan ke fasilitator dan katanya akan dibicarakan di tim tetapi belum ada lanjutan lagi).

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.

Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu:
a. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak (Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya (Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu (Art of Discovery and Invention)
d. Meningkatkan akhlak mulia anak-anak (Noble Attitude).

Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! Moment (teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?

Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.

Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak  melalui indra yang kita miliki.
Tiga macam modalitas belajar anak:
☘Auditori: modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Visual: modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktivitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Continue reading