Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

Repost tulisan dari https://inineracauan.wordpress.com/ yang bagus menurut saya, walau telat bacanya tapi sukses bikin saya jadi ikut merenung, belajar, sedih…. Saya menggarisbawahi yang ini:

Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Don’t play victim, honey, because you pull the trigger – we all just stand by here and watch.


Bukan untuk membenarkan bullying, ya. Hanya saja, memang jadi pengingat buat diri sendiri juga, harus lebih hati-hati dengan tingkah laku, terutama di era gencarnya media sosial sekarang (karena terus terang belum bisa benar-benar tidak menggunakan, toh masih banyak manfaatnya).

Oh, dan tentu saja yang jadi pusat perhatian saya juga adalah soal bagaimana Karin memberi pengaruh😦. Tulisan guru bahasa Inggris di bagian bawah (di versi viralnya jarang diikutkan) menjadi contoh nyata….

Bahwa adalah tugas ortu untuk membentengi anak-anaknya (karena ada yang komen “jangan salahin yang kasih pengaruh, dong!”), ya iyalah memang. Justru karena adanya kepedulian dan biar bisa jadi bekal untuk membentengi makanya tulisan seperti ini banyak di-share, biar bisa digali kan penyebabnya, diprediksi arahnya, dicari penangkalnya (mungkin selama ini belum mengenalkan anak ke idola yang lebih baik dengan anggapan yang kayak gitu juga bakal nemu dengan sendirinya), ortu bisa menyesuaikan pendekatan dan milih kata-kata yang lebih tepat dst. Bukan dengan maksud melimpahkan seluruh kesalahan ke ‘benda’ bernama media sosial, kok.

Tulisan lain terkait hal ini ada di Femina http://www.femina.co.id/trending-topic/fenomena-karin-awkarin-novilda-dan-generasi-swag-inilah-7-alasan-kenapa-para-orang-tua-harus-cemas-.

Yang ini sudut pandang lain dari mami Ubii yang menyatakan pernah segaul Karin dulu, kemudian mengupas apa yang mungkin menjadi akar masalahnya, plus surat terbuka yang semoga dibaca oleh Karin ya http://www.gracemelia.com/2016/07/catatan-untuk-para-orangtua-dulu-saya-pernah-menjadi-karin-novilda.html.

inineracauan

Tulisan di bawah ini adalah hasil pemikiran saya yang mengganggu di tanggal 19 Juli 2016, yang membuat saya memutuskan untuk tidak tidur dan terus menulis sampai jam 5 pagi. Sebuah ceplas-ceplos tanpa propaganda apapun yang akhirnya saya post di account Line saya, atas nama ndari, untuk dibaca teman-teman. Kenapa di Line? Karena tulisan ini tanpa melalui proses endapan dan editing apapun seperti biasanya ritual saya. Jadi jelas, banyak kesalahan EYD, kalimat-kalimatnya tidak koheren, banyak jokes garing, sarkasme sampah, dan perumpamaan yang bikin fans-fans Liverpool mengira saya mem-bully klub favorit mereka.

Sama sekali tidak saya duga, ternyata tulisan ini viral ke mana-mana. Dalam tiga hari, terakhir kali saya cek, tulisan ini di-share kurang lebih 16 ribu orang. Tulisan saya sudah di-copas oleh beberapa official account tanpa ijin, ada yang mencantumkan credit dan ada yang tidak. Tapi saya anggap itu konsekuensi dari menulis status di Line, bukannya lewat platform yang…

View original post 2,558 more words

Kenangan Kalender Abadi

Sepasang muda-mudi menyetop angkot yang saya tumpangi sore itu di Jatinegara. Mereka naik dengan membawa serta sebuah kardus berukuran besar. Meski bisa saja isinya adalah barang kulakan, alat rumah tangga atau yang lain lagi, saya menerawang (ngasal, maksudnya) bahwa yang mereka angkut itu adalah suvenir nikahan. Lokasinya pas, sih (walaupun Pasar Jatinegara juga terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan perlengkapan rumah tangga).

Sepuluh tahun yang lalu saya pun berbelanja cendera mata untuk resepsi pernikahan kami di lantai dasar Pasar Mester Jatinegara. Saya memperoleh info tempat penjualan ini dari forum Weddingku yang beralamat di http://discussion.weddingku.com/. Forum ini masih eksis tapi saya tidak berhasil menemukan arsip diskusi yang lama. Melalui Weddingku pula saya mendapatkan gambaran mengenai alternatif souvenir yang bisa dibeli berikut harganya. Pilihan saya jatuh ke kalender abadi, harganya tahun 2006 masih di bawah Rp5.000/pc (lupa persisnya, mungkin Rp3.500 ya). Intinya sih pengin cari tanda mata yang unik sekaligus bermanfaat bagi para tamu, meskipun kalau dipikir-pikir sekarang apa ya ada orang yang masih serajin adik saya di Solo sana mengganti angka kalendernya setiap hari😀.

img_20160630_104312.jpg

Berhubung hasil googling menyiratkan bahwa suvenir yang nyata-nyata menampilkan tulisan nama yang jelas akan kurang terpakai, jadi saya sengaja tidak memesan grafir/tambahan tulisan nama pengantin. Cukup diselipkan saja kertas dengan tulisan itu (pesan sekalian di tempat pembuatan undangan). Agak nyesel sih sekarang, sepertinya kan se-nggak mau-nggak maunya orang juga bakal tetap dipakai ya, minimal sebagai pajangan. karena dalam jumlah besar tentu tidak bisa langsung hari itu juga tersedia ya suvenirnya, jadi saya bolak-balik ke sana, pertama untuk berburu, deal, dan memesan (ditemani adik kelas di kampus), kedua untuk mengambil pesanan (ditemani sepupu). Dulu rasanya Jatinegara itu jauuuh banget dari Bintaro, pakai acara muter-muter pula karena naik kendaraan umum. Pulangnya, karena harus membawa dua kardus besar, saya pilih naik taksi yang ongkosnya juga lumayan (artinya sih memang jauh ya, bukan hanya perasaan saya saja). Eh, sekarang malah lewat pasar itu setiap hari, hahaha.

 

[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah

Tulisan dari Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, page fb @abahihsanofficial) di bawah ini kemarin lewat di news feed Facebook saya. Saya jadi teringat untuk menghitung hari. Terhitung sampai akhir bulan Juli ini kami telah delapan bulan menyingkirkan televisi. Nggak total banget, sih. Televisi cuma diungsikan ke lantai dua, tempat yang jarang banget dijangkau anak-anak. Beberapa kali kami masih menyempatkan nonton khususnya jika sedang ada liputan atau ulasan bagus yang informasinya kami peroleh sebelumnya. Beberapa kali anak-anak juga kami ajak ke atas (biasanya sambil salah satu di antara kami beberes) dan akhirnya TV dinyalakan, tapi belum tentu dua bulan sekali kami melakukannya. Kami juga masih belum berniat benar-benar mensterilkan anak-anak dari televisi, apalagi di tempat saudara atau tetangga ketika kami berkunjung (salah satu tips ayah Musa sang hafidz Al Qur’an ternyata termasuk meminta kepada tuan rumah untuk mematikan TV jika kebetulan sedang disetel), lebih-lebih lagi di tempat umum (ruang tunggu dan kendaraan umum misalnya).

Memasang TV berbayar dengan saluran khusus yang diatur bukan pilihan bagi kami, khususnya ayah anak-anak yang dari dulu tidak pernah tertarik. Saya terus terang kadang tergoda juga, tapi pada akhirnya mengaminkan karena toh kami jarang punya waktu khusus untuk nonton TV di rumah… tanpa TV saja koleksi bacaan saya yang segunung itu belum semuanya disentuh. Dulu kami sempat rajin menyalakan televisi sekadar supaya ada suara, supaya tidak sepi (terlebih sebelum punya anak dan ditugaskan di sebuah kota yang tidak begitu besar), tapi lalu saya membaca bahwa ‘background TV‘ pun tetap ada dampak negatif ke anak, selengkapnya bisa dibaca di sini http://www.webmd.com/children/news/20120419/background-tv-may-harm-young-kids-development. Majalah Ayahbunda di fanpage facebooknya juga pernah memposting betapa TV menghambat keterampilan bicara anak (http://content.time.com/time/health/article/0,8599,1902209,00.html — diskusi di komentar fp waktu itu cukup seru untuk didalami dan akan saya bahas di postingan lain).

Berikut tulisan Abah Ihsan, Direktur Auladi Parenting School (terkenal dengan penyelenggaraan PSPA/Sekolah Orangtua-nya), yang menurut saya cukup rinci meberikan alternatif terhadap sanggahan yang sering muncul.

Agar Anak Tak Menyukai Televisi

Sudah terlalu bosan kita mendengar keluhan banyak orangtua tentang tayangan-tayangan televisi. Sudah terlalu sering pula kritik terhadap tayangan televisi dilontarkan. Entah berapa kajian dan penelitian yang kerap mengangkat dampak negatif televisi terhadap perilaku anak. Kita menyadari, tidak semua acara televisi tidak bermanfaat. Namun, maukah kita jujur dengan apa yang dilihat, diperhatikan, dan direnungkan dari televisi, bahwa televisi memang ada manfaatnya, tetapi mudaratnya jauh lebih banyak dan lebih dahsyat?

Jadi, rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak mengendalikan anak anak dari televisi. Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, meniadakan televisi di rumah. Kedua, menyediakan televisi dengan teknik PENGENDALIAN.

Mana yang tepat? Bagi saya dua alternatif ini adalah pilihan yang lebih baik. Setidaknya, dibandingkan dengan membiarkan anak sebebas-bebasnya menonton televisi tanpa batas. Televisi berpotensi menjadi racun yang diundang oleh orangtua ke dalam rumah. Tak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa upaya orangtua sedari kecil membina anaknya dengan agama, mengaji, hingga memilih sekolah terbaik bisa berantakan gara-gara televisi.

Memang, ada kemungkinan anak akan “menjelajah” rumah tetangga jika televisi ditiadakan di rumahnya. Namun, alasan ini sebenarnya menjadi alasan yang tak perlu dikhawatirkan karena toh selama apa pun mereka tinggal di rumah tetangga, pada akhirnya mereka akan bosan dan memilih untuk pulang ke rumah.

Meniadakan sama sekali televisi di zaman sekarang memang seperti sebuah keanehan. Namun, sebenarnya ini dapat dilakukan jika konteks keluarga, yaitu ayah, ibu, dan seluruh anak dipersiapkan dan dikondisikan. Mengganti jam televisi di rumah dengan kegiatan-kegiatan bersama antara orangtua dan anak dapat menjadi alternatif pengganti yang mengasyikkan.

1. Anggota Keluarga Baru.

Ada satu anggota keluarga tambahan dalam masyarakat modern, yaitu televisi. Dengan kehadirannya, kebersamaan antara anggota keluarga, terutama antara orangtua dan anak semakin berkurang. Orangtua dan anak mungkin menonton televisi secara bersama-sama, tetapi pada dasarnya mereka ini hadir secara jiwa bersama-sama. Mereka terkonsentrasi untuk menyelami isi acara televisi dan tidak menyelami perasaan masing-masing anggota keluarga.

Alasan “ketinggalan informasi” juga dapat dinafikan dalam keluarga yang sudah dipersiapkan dengan ketiadaan televisi ini. Bagi mereka, membaca koran setiap hari pun tidak akan pernah habis. Ribuan, bahkan jutaan informasi bisa hadir setiap hari.

Bagaimanakah mendapatkan hiburan untuk anak jika tidak ada televisi di rumah? Seorang ayah berkata bahwa bercanda dan bermain dengan anak adalah hiburan yang tak pernah membosankan. Hal ini pun akan menguntungkan semua pihak anak dan orangtua sendiri. Anak terstimulasi dan orangtua pun mendapat senyuman dan bisa tertawa bersama. Refreshing, bukan? Subhanallah, saya tersentuh dengan ikhtiar ini.

Sementara itu, menghadirkan sarana hiburan digital lainnya bernama VCD/DVD player atau komputer khusus anak di rumah juga merupakan upaya yang patut diapresiasi. Meskipun sama-sama produk elektronik, tetapi player semacam ini lebih bisa dikendalikan.

Sekali lagi, meniadakan televisi dapat menjadi alternatif lebih baik daripada membebaskan anak-anak tanpa batasan tontonan televisi. Namun, tetap saja program meniadakan televisi di rumah ini akan berlangsung efektif jika orangtua proaktif mengelola kegiatan-kegiatan alternatif di rumah dan mempersiapkan mental seluruh anggota keluarga.

Jika Anda menganggap meniadakan televisi sebagai hal yang mustahil alias uthopia,alternatif lain adalah menghadirkan televisi dengan PENGENDALIAN. Metode pengendalian dapat ditempuh dengan beberapa tahapan dan upaya. Insya Allah, jika upaya ini dilakukan dengan penuh kesungguhan dan, konsistensi perlahan-lahan anak-anak bisa tak menyukai televisi dan mereka merasa tidak dipaksa jauh dari televisi.

2. Buat Anak Suka Membaca.

Ada banyak bukti anak yang suka membaca tidak menyukai televisi. Jika pun ada yang suka membaca dan suka nonton televisi, sebenarnya jika diamati lebih mendalam, kesukaan membacanya sekadar kesukaan insidental yang tak begitu mengakar. Anak-anak yang hanya membaca buku sepekan sekali jelas tidaklah dapat disebut sebagai anak yang suka membaca karena ketika seorang anak suka membaca, sungguh dia akan tidak betah jika tiga hari saja tidak membaca buku.

Membuat anak suka membaca insya Allah pekerjaan yang tak terlalu sulit. Tak perlu kursus dan tak perlu jadi orangtua hebat. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan; kemauan untuk menyediakan waktu 15 menit sebelum tidur untuk menginstalkan program-program positif ke dalam otak anak. Bacakan buku sejak dia bayi, buku bergambar penuh warna yang akan merangsang jutaan sel sarafnya bekerja.

3. Buatlah Jam Boleh Nonton Televisi.

Ingat, jangan pernah membaliknya dengan strategi JAM TAK BOLEH NONTON TELEVISI. Sebagian orangtua terjebak dengan cara ini. Biasanya, orangtua membatasi jam menonton televisi antara Maghrib dan Isya. Tak heran jika anak mengasumsikan semua waktu di selain jam tersebut mereka boleh menonton televisi dengan bebas.

Madonna yang seksi itu ternyata juga membatasi anaknya dari televisi. Apalagi seharusnya sebagian kita yang “mengerti” dan mengagungkan budi pekerti. Mengapa Madonna yang selebriti dunia saja membatasi anaknya dari televisi? Tiada lain dan tiada bukan, pasti alasannya karena kesadaran akan dampak negatif yang dahsyat dari televisi.

Berapa lama waktu JAM BOLEH nonton televisi? Terserah Anda, bergantung kajian dan kesepakatan Anda dengan anak juga dapat mengajukan “proposal” kepada orangtua disertai dengan argumen-argumennya. “Proposal” itu berisi kesepakatan “jam televisi” bagi mereka. Tentu saja, dengan pertimbangan keamanan acara yang akan ditonton.

Jika Anda bertanya mengenai jam aman setiap hari menonton televisi, saya akan menjawab, maksimal hanya dua jam. Akan lebih baik jika hanya satu jam. Namun, dengan dua jam setidaknya anak dapat menonton 2 jenis tayangan yang mereka sukai. Boleh berturut-turut, misalnya 2 jam di sore hari setelah pulang bermain atau terputus satu jam setelah pulang sekolah dan satu jam di sore hari. Anda harus memastikan jam yang dipilih anak adalah jam acara televisi yang aman untuk mereka. Namun, saya mengingatkan JANGAN PERNAH DURASI MENONTON TV ANAK melebihi DURASI Anda BERSAMA Anak. Bersama anak, lho ya, bukan sekadar di dekat anak.

Jika anak menawar, merajuk, merengek, dan menangis saat televisi harus dimatikan, istiqamahlah. Berpegang teguhlah jangan pernah tergoda dengan tangisan anak sehingga Anda melanggar aturan sendiri. Ini bisa berbahaya karena anak akhirnya dapat menganggap orangtuanya hanya bicara pepesan kosong dan tidak bisa dipercaya: membuat aturan tetapi bisa diruntuhkan.

4. Simpan televisi di tempat yang tak nyaman.

Bagaimana tak betah berlama-lama di depan televisi jika televisinya saja sudah mahal, suaranya menggelegar pula. Tempat duduknya? Wah, sofa empuk modern minimalis yang sangat nyaman. Lengkap dengan makanan kecil!

Coba kita balik dengan alternatif-alternatif ini: simpan televisi di komputer dengan memakai tv tuner atau simpan televisi di bawah tangga atau simpan di dekat kompor atau simpan di dekat meja yang sempit. Bercanda? Tidak, dijamin cara Ini akan sangat tokcer. Insya Allah anak Anda tidak akan betah berlama-lama menonton televisi.

5. Bantu anak membuat kegiatan mandiri saat Anda tengah sibuk.

Sebagian orangtua mengalami kesulitan saat menjalani kesibukan urusan rumah tangga dan mengurus anak. Akhirnya, televisi lagi-lagi menjadi jalan untuk mengalihkan perhatian agar tidak menganggu kegiatan orangtua.

Untuk sebagian besar anak, bahkan orang dewasa sekalipun, tidak melakukan kegiatan sama sekali dan hanya menunggu, tentu saja adalah hal yang membosankan. Tak heran jika kerewelan menjadi hal yang tak terhindarkan. Bagi anak-anak di atas usia 7 tahun, mereka dapat saja secara mandiri melakukan kegiatan yang mereka senangi, tetapi anak di bawah usia tersebut, masih dirasa sulit untuk menemukan kegiatan yang sesuai dengan usia mereka. Insya Allah, orangtua dapat menciptakan 1001 jenis kegiatan mandiri agar mereka tidak asyik berada di depan televisi. Saya hanya meyebutkan beberapa contoh saja, saya yakin Anda dapat menemukan ribuan kegiatan lainnya.

• Mewarnai mainan anak
• Menggambar atau membuat tato di kaki.
• Menggunting daun
• Menempel gambar
• Main beras atau pasir
• Menyusun bangunan dari buku-buku/casing CD/kaset
• Menggulung-gulung kertas
• Same Action (program aksi mirip: ibu memasak beneran anak masak mainan, ibu nyuci piring benaran, anak nyuci piring mainan).
• Menyimpan 20 barang tersembunyi dan anak mencarinya jika ketemu ibu beri hadiah spesial.
• water game (pake mangkok, sendok, sedotan)
6. Sediakan waktu bersama anak.
Saat bersama anak, Anda tidak hanya berada di dekat anak. Tak sedikit orangtua merasa “aman” karena telah me nyediakan waktu di dekat anak dengan menjadi ibu ruma tangga. Maaf, jangan salah kaprah, saya selalu mengatakan kepada ribuan orangtua yang mengikuti program saya: Jangan bangga dulu, Anda memilih menjadi ibu rumah tangga seolah-olah telah menyediakan waktu 24 jam untuk anak, tetapi tidak satu jam pun ternyata bersama anak.

Bersama anak itu artinya Anda tidak bertiga dengan koran, tidak berempat dengan televisi, tidak berlima dengan masakan, tidak bertujuh dengan cucian. Saat bersama anak, Anda benar hadir bersama anak, bicara dengan anak, dan bukan sekadar bicara pada anak. Kadang menjadi “peserta”, kadang menjadi “panitia” dari acara yang Anda selenggarakan anak di rumah. Kadang tertawa bersama, sesekali boleh menangis mengenang cerita.

Karena hanya berada di dekat anak, orangtua yang lebih banyak BICARA KEPADA ANAK daripada BICARA DENGAN ANAK dan sebagian orangtua akhirnya mengalami kelelahan mental yang luar biasa: CAPEK DEH… Oleh karena itu, tak sedikit ibu rumah tangga yang terlihat kelelahan dan stres. Bukankah anak itu anugerah? Bukankah saat memilih berinteraksi lebih dengan sumber anugerah, Anda seharusnya salah satu orang yang paling bahagia?

Menjadi orangtua terbaik bukan berarti kita harus menyediakan waktu 24 jam hidup kita hanya untuk urusan anak. Semakin dewasa, anak-anak kita pun tidak membutuhkan bersama orangtua selama-lamanya. Mereka pun butuh waktu dengan teman-temannya seperti kita juga berhak melakukan kegiatan-kegiatan sendiri tanpa anak. Anda hanya diminta menyediakan waktu bersama anak. Jika Anda menyediakannya, sungguh saat anak mendekati, orangtua akan merasakan kesejukan, ketenangan, keriangan dan anak-anak benar menjadi cahaya mata (qurrotu ‘aini) dan bukan penganggu orangtua.
Bagi saya, satu jam sehari. Bagi para ayah dan ibu yang bekerja, 2-4 jam sehari sudah cukup. Inilah yang hilang dari sebagian anak zaman sekarang. Tidak sedikit anak menjadi “yatim piatu” saat orangtuanya masih lengkap. Mereka bertemu setiap hari dengan orangtua, tetapi sebagian ‘say hello’ semata. Sebagaian orangtua bertemu dengan anak-anaknya bahkan bersama dengan anak di depan televisi. Sebagian mereka menangis. Ya, menangis, tetapi bukan menangis karena menyelami isi hati anak-anaknya sendiri, tetapi menangis karena isi acara televisi.

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Sumber: https://mujitrisno.wordpress.com/2015/04/08/agar-anak-tak-menyukai-televisi/

Kalau yang ini tulisan Ustadz Muhammad Fauzi Adhim

Tanpa TV Anak Berpikir Lebih Luas

Pengaruh televisi dalam keluarga Indonesia tampaknya sudah demikian kuat menyatu dengan keseharian masyarakat. Data Bank Dunia tahun 2004 menunjukkan, ada 65 persen lebih rumah tangga pemilik televisi di Indonesia. Bentuk media audio visual yang menarik dan lengkap dari si ”tabung ajaib” menjadikan ia lebih digandrungi dibandingkan dengan produk budaya lain, seperti buku. Hiburan yang disajikan mampu menarik mayoritas penduduk menekuni tayangan televisi dalam kegiatannya sehari-hari. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, lebih tiga perempat (86 persen) dari seluruh penduduk usia 10 tahun ke atas di Indonesia memiliki aktivitas rutin mengikuti acara televisi dalam seminggu. Tapi jumlah itu tak termasuk Mohammad Fauzil Adhim (38), pria yang namanya melejit lewat bukunya “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” (1977) justru tak memiliki TV. Mungkin akan terasa janggal bagi semua orang. Bagaimana cara dia menjelaskan pada anak tanpa hiburan TV di rumah? Berikut petikannya wawancara dengan laki-laki kelahiran Mojokerto, Jawa Timur pada 29 Desember l972 ini.

Apa alasan Anda menolak TV di rumah?

Saya tidak menolak, tapi karena saya melihat tidak ada alasan yang membuat TV layak untuk dipelihara di rumah, sehingga saya tidak memelihara TV.

Sejak kapan itu Anda lakukan?

Memang sejak awal saya sudah tidak memelihara TV. Tapi suatu saat, karena penasaran ingin tahu seperti apa sih TV sekarang, saya dan istri pernah juga mencoba menyewa TV. Nah, pada saat TV itu distel, justru anak pertama saya, Fathimah yang memprotes, dan minta TV itu dimatikan. Sampai dia bilang,”Ibu dimatiin, kok Ibu suka sih nonton film yang jelek-jelek. Itu kan nggak bagus.” Makanya TV akhirnya dimatikan dan kita tidak pernah nyewa lagi.

Mudharatnya apa?

Tidak ada stasiun TV yang mengudarakan acara yang benar-benar mengaktifkan otak anak, dan menggugah anak terlibat dalam proses berfikir. TV justru menyedot perhatian anak yang dalam jangka panjang bisa mempasifkan otaknya. Belum lagi soal content (isi). Film-film yang ditayangkan maupun iklan pariwaranya sebagian besar tidak layak untuk dikonsumsi anak. Katakanlah misalnya ada acara yang cukup bagus, itu saja mengenaskan.

Berarti Anda tidak butuh TV?

Saya merasakan tidak ada kebutuhan dari TV. Karena itu mengapa saya harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Menurut saya hiburan yang paling mahal ya TV. Untuk mendapatkan sampah kita harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah, padahal dengan dana segitu, kita bisa membelikan anak-anak kita ensiklopedi, atau bisa kita belikan komputer atau buku, atau hal-hal lain yang jelas manfaatnya.

Di TV kan juga ada tayangan pendidikan yang bermanfaat untuk anak?

Pertama, Ayat Al-Quran bisa ditempelkan di tissue, di kaleng bir. Tapi kalau ada tulisan bismillah di kaleng bir bukan berarti birnya halal. Khamr pun dikatakan ada manfaatnya, tapi kenapa diharamkan? Berarti ada manfaatnya tidak cukup untuk menjadikan sesuatu itu halal. Kedua, tayangan-tayangan yang diperuntukkan anak-anak sebagian besar tidak dikemas sesuai dengan perkembangan anak, dan tidak dikemas untuk merangsang kemampuan berpikir aktif maupun konstruktif, sehingga anak hanya menjadi pihak yang mengalami terpaan exposure dari berbagai tayangan TV.

Bagaimana dengan kebutuhan informasi yang bisa didapatkan di TV?

Sumber informasi, sumber untuk mendapatkan kebutuhan psikis berupa perhatian, kebutuhan untuk mendengarkan itu ada pada orang tua, dan orang-orang penting lainnya dalam keluarga. Kalau dalam ilmu psikologi dikenal dengan significant person atau significant others. Sejauh ini, sepanjang yang saya tahu, kualitas attachment yang baik meningkatkan kreatifitas anak, meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan percaya diri anak. Anak cenderung akan memiliki konsep diri yang bagus dan cenderung lebih bisa mengelola dirinya.

Apa dampak lebih jauh dari menonton TV?

Sejauh yang saya pahami sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli psikiatri Amerika Serikat, tayangan TV yang sering disaksikan anak adalah tayangan-tayangan yang tidak dikemas untuk anak, sehingga banyak menonton TV menyebabkan anak otaknya pasif dan cenderung tidak suka berpikir. Dan jika anak tidak suka berpikir, maka anak cenderung tidak mampu mengkomunikasikan perasaannya dengan baik. Dan itu berarti menambah kesulitan kita dalam mendidik anak.

Bagaimana respon anak dengan tidak adanya TV di rumah?

Anak-anak memang saya didik untuk suka membaca. Karena itu mereka cenderung bisa mengungkapkan gagasannya dengan lebih baik. Dan anak-anak yang suka membaca itu cenderung memiliki informasi yang lebih kaya. Bahkan terkadang kalau sudah seperti itu, anak-anak malah suka usul pada saya. Misalnya Fathim, ketika melihat gambar mobil yang ada TV-nya, justru mengatakan pada saya, ”Bapak kalau mau beli mobil tak usah pakai TV, karena di TV banyak yang jelek.”
Bagaimana Anda menjelaskan kepada Anak?

Jadi yang penting prosesnya. Kalau anak langsung dilarang, anak akan penasaran. Tapi cukup dengan dialog. Sebagaimana sekarang Fathimah ndak mau makan di Kentucky Fried Chicken, McDonald’s, ndak mau minum air mineral yang mereknya Aqua dan Ades. Semua itu bisa ditanamkan karena ada dialog, kalau semua itu produk boikot. Begitu juga dengan menyikapi TV, harus ada dialog.

Pernah ditanyai anak tentang TV?

Saya pernah ditanya anak, ”Bapak kok nggak punya TV. Kata temanku kalau ndak punya TV berarti miskin.” Ini kan berarti social pressure, tekanan-tekanan masyarakat. Nah di sinilah saya perlu menjelaskan setepat-tepatnya. Ya karena kebetulan Allah memberikan rezeki pada saya maka saya gantikan dengan benda-benda yang ada manfaatnya, dan harganya melebihi TV, seperti ensiklopedi. Sekarang anak saya punya 3 ensiklopedi. Itu memberikan pemahaman pada anak bahwa ini lebih berharga dari TV, dan saya memperkuat dengan dialog bahwa ini lebih baik dari TV.
Apa pengganti TV, selain ensiklopedi?

Kalau anak sudah senang buku apakah kemudian dia masih ingin mencari ganti yang lain. Jadi tidak sekedar ensiklopedi, tapi komputer, buku atau bacaan-bacaan lainnya. Atau juga ketika anak-anak butuh hiburan, saya belikan tenda yang mereka bisa bermain di sana.

Anak-anak tidak bosan baca ensiklopedi dan buku terus-terusan?

Kalau otak anak itu aktif, maka dia akan cenderung aktif mencari. Kalau dia sudah bosan membaca, maka dia akan mencari kegiatan yang inovatif lainnya. ketika anak-anak suka membaca, maka mereka cenderung komunikatif, lebih mampu mengungkapkan perasaannya. Misalnya, suatu saat anak saya minta dibelikan buku. Untuk apa? Dia mau menulis buku harian. Selain itu, ketika dia tidak terlalu fokus pada TV, saya lihat mereka cenderung menyukai benda-benda intelektual, seperti memotret sendiri. Ia mengembangkan berbagai macam keterampilan karena pikirannya berkembang. Pikirannya tidak tersedot oleh bayangan yang sebenarnya tidak diperlukan itu.

Nilai positif rumah tanpa TV?

Tanpa TV anak akan memiliki kesempatan berfikir yang lebih luas, anak akan mengembangkan inisiatif-inisiatif yang lebih aktif dan progresif. Sementara dengan adanya TV anak siap untuk dicekoki. Anak belum sempat berpikir sudah dijejali dalam tempo yang sangat tinggi. Ketika anda melihat TV, maka dalam 1 menit akan terjadi perubahan-perubahan gambar yang luar biasa cepatnya. Padahal masa kanak-kanak adalah masa yang paling pesat perkembangan otaknya. Semestinya pada masa itulah rangsang-rangsang otak itu dimaksimalkan. Anak betul-betul diberi pengayaan rangsang otak yang luar biasa.

Mengapa demikian?

Otak itu berkembang dari usia 0 – 6 tahun, dan porsinya mencapai 80%. Sementara sisanya yang 20% terjadi pada usia-usia berikutnya. Dari usia itu, yang lebih penting lagi adalah 18 bulan pertama usia anak. 20% perkembangan otak terjadi pada usia itu. Maka alangkah sayangnya jika pada usia-usia yang sangat strategis ini justru anak-anak tidak memperoleh rangsangan yang maksimal. Dan sebaliknya justru hanya memperoleh exposure dari TV. Padahal banyak kegiatan lain yang bisa merangsang daya nalar anak, contohnya membaca.

Dampak anak yang suka menonton TV?

Saya kira anak yang biasa menonton TV, maka di sekolah pun TV memiliki daya tarik yg lebih besar baginya. Karena itu sekolah tidak menjadi surga baginya. Karena di TV anak tidak akan banyak dapat informasi. Ada kasus yang pernah saya dapatkan, ketika ada orang tua yang membawa anaknya, saya kira dia ini idiot sehingga dia tidak naik kelas dan nilainya nol semua, tapi ternyata anak ini tidak idiot. Ia lebih senang nonton TV dan main game, sehingga ketika di kelas, pikirannya tidak di kelas, tapi di rumah, yaitu di TV.

sumber : Hidayatullah.com

Sumber: http://www.wartadakwah.net/2012/08/fauzil-adhim-tanpa-tv-anak-berfikir.html

 

 

New Es Krim Tentrem, Cantik dan Klasik!

Beberapa hari setelah idul fitri, sepupu yang sedang mudik (seperti juga saya) menyatakan keinginannya untuk mencicipi es krim Tentrem. Wah, saya jadi ikut kepengin. Yang saya dan mama tahu, es krim ini adanya di Plaza Singosaren lantai dasar, jadi meluncurlah kami ke sana. Dulu, kalau sedang ke Singosaren (yang terkenal karena ada Matahari-nya saat belum banyak department store di Solo), membeli es krim ini jadi semacam agenda khusus yang istimewa. Nggak sering sih memang, karena saya dan adik tidak dibiasakan jajan, bahkan di tempat yang punya nama macam itu.

Sampai ke Singosaren, ternyata gerai Tentrem di sana sudah digantikan oleh penjual ponsel (kalau tidak salah). Di Solo Grand Mall seingat saya ada kafenya, tapi membayangkan parkirnya jadi agak malas, waktu juga beranjak kian malam. Maka saya bertanya ke mbak-mbak yang ada di situ dan dijawab bahwa sudah pindah ke Ngarsopuran. Meluncurlan mobil yang dikemudikan adik saya ke sana, tepatnya Jl Brigjen Slamet Riyadi No. 132, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Langit mendung dan restoran New Es Krim Tentrem ini sebetulnya beberapa puluh menit lagi tutup (tertulis buka 09.00-21.00), tapi sudah kepalang tanggung.
image

Sekilas pandang saja, saya sudah kagum dengan interiornya yang natural-cantik. Ada hiasan tanaman buatan, sangkar-sangkar burung kosong, bingkai-bingkai antik, pernak-pernik dengan warna permen…. Konon restoran ini menyajikan 21 macam menu es krim, tapi keterbatasan waktu, kami hanya bisa memilih es krim contong (cone) dengan pilihan yang tersisa. Tak apalah, sekalian nostalgia. Saya memilih blueberry, suami saya pilihkan yang mocca, Fathia saya pesankan Oreo, sama dengan sepupu.
image

Wah, rasanya enaaakk… Secara tidak langsung saya membandingkan dengan es krim Ragusa dan Baltic Ice Cream di Jakarta yang perah saya makan, yah tekstur lembut dan rasa buahnya yang ‘dapet banget’ mirip-mirip lah, berhubung sama-sama homemade. Restoran atau cafe Tentrem yang ini baru dibuka pada 25 Juni 2016, pantas saja waktu terakhir kami jalan-jalan ke Ngarsapura Night Market (2014 saat hamil Fahira) rasanya kok belum ada. Rupanya ada juga restonya di Urip Sumoharjo, dekat Orion yang berarti dekat kantor mama juga (artinya harusnya cukup sering lewat kalau kebetulan ikut antar/jemput mama), tapi waktu itu tidak memperhatikan dan belum ada minat khusus coba-coba begini, hahaha. Es krim Tentrem sendiri sudah ada sejak tahun 1952, lho.
image

Es krim di bangunan berlantai dua ini sebagian besar (atau semua?) homemade alias buatan sendiri, bukan es krim pabrikan. Hasil browsing sih katanya ada nasi liwet dan gudeg Solo juga, tapi lagi-lagi karena waktunya mepet saya bahkan tidak sempat mengamati daftar menu. Sebetulnya kami masih tinggal agak lama sih sambil menghabiskan es krim masing-masing, tapi karena kami berdua harus bergantian menjaga Fahira yang penasaran dengan benda-benda baru di sekitarnya jadi ya begitulah, hehehe. Boro-boro mau foto-foto😀, padahal tata ruangnya instagrammable bangettt…
image

Beberapa sumber:
http://solo.tribunnews.com/2016/04/07/inilah-21-menu-es-krim-di-kafe-new-es-krim-tentrem-solo
http://young.solopos.com/2015/07/14/kuliner-legendaris-es-krim-rasa-klasik-nuansa-kekinian-624156

Monokromatik yang Hipnotik

Sekitar tahun lalu, seorang teman kantor saya bilang bahwa yang sedang tren adalah jilbab monokrom. Saat itu saya jadi penasaran, maksudnya seperti apa, sih? Maklum lagi riweuh sama kerjaan sampai nggak sempat shopping *soksibuk. Belakangan setelah mengecek beberapa toko online khususnya di Instagram, terbukti motif yang menggunakan dua warna ini, biasanya warna gelap dan putih, berseliweran di sana-sini. Muncul di gamis, blus, kerudung, syal, kulot, rok, celana, cardigan, tas, sepatu, sprei, sarung bantal…. Awalnya kalau tidak salah booming-nya busana monokromatik ini memang dalam bentuk jilbab dulu, mungkin sekalian semacam tes pasar sebab motifnya yang cenderung tegas dan terkadang besar-besar belum tentu disukai jika muncul dalam bentuk baju berbahan banyak seperti gamis.

Seorang teman lain pernah bertanya, “Kalau hijab monokrom gitu panas nggak sih ya? Kan kayaknya bahannya kaku…”

Jilbab/hijab atau lebih seringnya berbentuk ‘pashmina’ (kapan-kapan akan saya bahas juga soal ini) monokrom yang wira-wiri di IG rata-rata berbahan katun yang agak kaku, trennya waktu itu sepertinya sengaja dipilih bahan sedemikian agar bisa dibentuk lancip di depan dahi, jadi tidak menempel luwes mengikuti bentuk wajah pemakai. Tren yang entah kebetulan bersamaan atau saling mempengaruhi ini rupanya bikin rancu. Monokrom jadi dikira nama jenis bahan/kain, alih-alih nama pola motif dengan kombinasi warna tertentu. Tapi menerangkan monokrom sebagai pola/motif pun tidak terlalu mudah.

Pengertian monokrom menurut KBBI: monokrom/mo·no·krom/n lukisan atau reproduksi berwarna tunggal.

Kalau kata Wikipedia:

Monochrome[1] describes paintings, drawings, design, or photographs in one color or values of one color.[2] A monochromatic object or image reflects colors in shades of limited colors or hues. Images using only shades of grey (with or without black or white) are called grayscale or black-and-white. However, scientifically speaking, monochromatic light refers to visible light of a narrow band of wavelengths (see spectral color).

Mono maksudnya satu dan chroma artinya warna (bahasa Yunani). Jadi, sebetulnya monochrome berarti melibatkan satu warna atau suatu warna dengan warna turunannya mungkin, ya. Dicontohkan pula bahwa hasil kamera night vision dengan gradasi warna hijau adalah salah satu bentuk citra dengan warna monokrom. Kalau di fotografi memang cenderungnya ke hitam putih sih, lalu kalau pakai kode biner 1 dan 0..

Yang terjadi sekarang, monokrom identik dengan motif yang terdiri dari paduan antara warna putih dan warna gelap, lebih khususnya lagi hitam. Motif paduan antara warna putih dengan coklat tua dan biru gelap biasanya juga disebut monokrom oleh pedagang barang fashion, sedangkan paduan putih dengan hijau botol, ungu manggis, atau merah marun misalnya, sependek pengetahuan saya jarang dipajang dengan embel-embel monokrom meski ada. Apalagi jika warna putih disandingkan dengan warna yang lebih muda seperti pink, biru pastel, atau kuning lembut. Atau kombinasi pink-merah, kuning-oranye, biru langit-biru benhur, meski warna-warna tersebut masih satu keluarga (mohon koreksi jika saya salah, belum sampai mempelajari mengenai panjang pendek gekombang warna:) ). Sekali lagi, ada, tapi tidak terlalu banyak.

Bukan hanya perkara pilihan warna yang mengalami penyempitan warna, pola motif yang digunakan pun jadi punya batasan sendiri. Jika suatu busana dibilang monokrom, pola motifnya pada umumnya menggunakan garis-garis geometris tegas. Kotak, garis lurus, segitiga, segilima, segienam, bintang, zig zag, monogram, dan seterusnya. Motif bintik-bintik alias polkadot, hati, apalagi bunga, paisley, dan batik tidak banyak ditampilkan sebagai wakil busana ala monokrom walaupun hanya menggunakan warna hitam dan putih. Analisis sotoy saya sih, mungkin karena motif-motif tersebut sudah punya penggemarnya sendiri, ya, jadi tidak perlu diangkat lagi dengan ‘label’ monokrom nan trendi. Eh, tapi motif tartan dan garis sebetulnya kan cukup klasik dan banyak yang suka juga, ya?  *mikir

Perhatikan kedua foto di bawah ini, foto yang atas cenderung lebih mewakili apa yang disebut sebagai ‘monokrom’ dalam definisi fesyen mutakhir dibandingkan dengan foto yang bawah, kan? Bukan? Hihihi, mohon maaf, namanya juga analisis seadanya.

img_20160626_084019.jpg

img_20160626_083810.jpg

Iya, saya pada akhirnya terjerumus juga mengoleksi beberapa busana dan pelengkapnya dengan ‘motif monokrom’ ini. Itu buktinya di atas (sebagian dapat dari kado atau sudah dimiliki sejak lama, sih). Konon, salah satu risiko punya baju macam ini adalah…pusing waktu menyetrika😀. Habis, motifnya memang menghadirkan ilusi optik yang riskan bikin keliyengan. Lawan bicara yang memandang saja rawan ‘terhipnotis’, lebih-lebih yang harus melototin biar bajunya licin. Mending pilih bahan yang antilecek saja mungkin ya, apalagi motif yang ramai dan warna gelap monokrom umumnya sukses menyembunyikan kekusutan kok. Cuci kering pakai, bebas gosok, hemat listrik dan tenaga *eh.

Salah satu di antara motif-motif yang populer untuk pola monokrom adalah kotak-kotak. Ternyata setiap jenis motif kotak ini punya namanya sendiri. Apa bedanya tartan (ini yang paling familiar bahkan nyaris jadi kata generik untuk menyebut kotak-kotak di sini, ya), gingham, plaid, checkered (yang bagi saya intinya sih semua itu kotak-kotak gitu lah ya), lalu bagaimana pula kok sebuah motif yang masih nyerempet kotak-kotak itu bisa sampai dinamakan houndstooth alias gigi anjing? Dulu saya belajar dari majalah Femina…dan sudah lupa lagi😀. Kalau mau tahu juga, selengkapnya dapat dibaca di link-link di bawah ini:

http://www.alexander-west.com/styleguide/?p=288

Classic Patterns: A Complete Guide (P)

http://effortlessgent.com/patterns-101-all-you-need-to-know-about-wearing-mixing-and-matching-patterns/

Menikmati Kekayaan Wastra Indonesia: dari Songket Palembang hingga Batik Solo

Tulisan lama saya yang dulu menang lomba “Cinta Negeriku” yang diadakan oleh FLP Malang tahun 2010.
=========================================================================================

Berkunjung ke suatu daerah rasanya tak lengkap tanpa menyinggahi tempat-tempat yang menjadi ciri khasnya. Maka jika ada kesempatan pergi ke kota lain, biasanya saya mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasi-lokasi wisata yang kira-kira dapat dikunjungi. Mengingat waktu biasanya sempit karena hanya memanfaatkan cuti yang cuma sebentar atau harus menyempatkan diri di sela-sela tugas kantor, pilihan tempatnya perlu dikerucutkan lagi berdasarkan letak, ketersediaan transportasi atau yang mau menemani, dan jam bukanya kalau

Meskipun begitu, tidak jarang secara tak sengaja saya malah menemukan tempat tertentu. Waktu kuliah dulu misalnya, sementara oom dan tante menghadiri pesta pernikahan koleganya (yang memang menjadi tujuan utama), daripada bengong di kamar saya dan seorang sepupu iseng jalan kaki ke sekeliling Hotel Horison Bandung dan tiba-tiba sampailah kami ke Pasar Palasari. Biarpun mengaku orang rumahan, kadang naluri jalan saya memang timbul sendiri. Lagi-lagi dengan alasan ketimbang hanya menganggur, mumpung ada di kota yang jarang didatangi.

SAMSUNG DIGIMAX A403Dua tahun yang lalu, setelah beres urusan dinas kantor di Palembang dan menaruh berkas-berkas di kamar hotel, saya naik angkot ke Masjid Agung. Tidak lama di situ, hanya shalat Dhuha dan berdzikir sebentar sebab bagian dalam masjid sedang dibersihkan, mungkin juga untuk persiapan shalat Jumat. Usai menikmati martabak HAR di seberang masjid itu yang bikin kangen setelah mencobanya pertama kali tahun 2008, saya bermaksud kembali ke hotel. Di dalam angkot menuju hotel, saya melihat sebuah bangunan bergaya kolonial di kejauhan. Itu dia Museum Tekstil, yang belum sempat saya masuki tahun sebelumnya karena keterbatasan waktu. Mumpung kali ini waktunya cukup luang, saya putuskan untuk turun di situ.

 

Tiket masuknya murah, hanya seribu rupiah. Memasuki museum di Jalan Talang Semut yang lengang ini sensasinya

SAMSUNG DIGIMAX A403

memang beda. Maklum pagi hari kerja, nyaris tidak ada pengunjung selain saya. Ditambah lagi dengan display yang sebagian belum tuntas dipajang dan tiada guide pula. Jadinya sambil merinding-merinding gimana (apalagi kalau ketemu patung yang tidak ‘dikurung’ dalam kaca) saya membaca sendiri keterangan yang ada pada setiap display.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Museum ini memang dimaksudkan untuk menampilkan sejarah tekstil khususnya di Sumatra bagian selatan berdasarkan temuan-temuan sejarah. Penggunaan pakaian contohnya, dibuktikan lewat tatahan berbentuk lipitan kain pada arca. Terlihat pula pengaruh negeri lain, misalnya China, dalam gaya berpakaian masyarakat zaman dahulu. Sebaliknya, beberapa orang Belanda mengadopsi kebaya untuk busananya. Tampak pada salah satu foto yang dipajang beberapa noni bule berpose dengan kebaya encim nan anggun.
SAMSUNG DIGIMAX A403

Lantas perkembangan pakaian dibedakan pula menurut status penggunanya, misalnya mana set pakaian bangsawan, mana pakaian pejuang, mana pakaian yang digunakan oleh masyarakat biasa. Pada masa-masa prihatin zaman penjajahan, kain belacu yang amat sederhana pun terpaksa jadi pilihan untuk dijadikan baju sehari-hari.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Namanya juga di Palembang, pasti songket tak ketinggalan dipamerkan. Ada display khusus yang dengan boneka yang digambarkan sedang menenun kain songket dengan alat sesungguhnya. Motif-motifnya pun dijelaskan, termasuk penggunaannya pada masa kini yang kian beragam. Bukan hanya untuk busana, melainkan juga bisa diaplikasikan untuk aneka pajangan rumah. Ada pula batik, baik batik Palembang maupun Jawa yang dijabarkan cara pembuatannya. Contoh kain mori sebelum dan sesudah dibatik, canting, alat pembakar, dan cap ikut dipajang.

Entah memang berjodoh atau apa, kali berikutnya saya ‘nyasar’ juga ketemu lagi dengan museum yang berhubungan dengan tekstil. Yang ini sebetulnya bukan nyasar sih. Ceritanya Desember 2009 itu saya sedang ingin memburu cabuk rambak (potongan tipis ketupat disiram saus wijen, dimakan dengan karak atau kerupuk nasi) seperti biasa kalau sedang pulang kampung ke Solo. Kali ini pulang kampungnya sekalian habis dinas ke Jakarta sih, jadi sendirian saja, tidak bersama suami.

Siang-siang begitu biasanya penjualnya masih ada di depan swalayan Sami Luwes. Sayangnya, baru saja turun dari bus hendak menyeberang jalan, sandal saya putus. Terpaksalah saya beli sandal baru di swalayan itu juga. Dengan sandal baru dan menenteng bungkusan cabuk rambak, rasanya sayang ya kalau langsung pulang. Jadinya saya jalan kaki saja ke arah barat, memanfaatkan city walk (jalur lambat yang oleh pemerintah kota diubah jadi tempat pejalan kaki lengkap dengan paving block dan kanopi cantik) yang adem.

DSC00813 DSC00815

Dan tahu-tahu tibalah saya di depan sebuah bangunan bergaya kuno berhalaman luas. Waaah, ternyata inilah Museum Batik Danar Hadi Solo! Sudah sering saya mendengar tentangnya, malah sepupu-sepupu dari Jakarta sempat main ke situ Lebaran lalu. nDalem Wuryaningratan-nya juga sudah pernah digunakan untuk acara almamater saya. Tapi kok ya saya baru ngeh kalau letaknya di situ, nyaris berseberangan dengan Gramedia yang begitu sering saya kunjungi.

batik belandabatik danar hadi

Masih ada cukup waktu sebelum Ashar, jadi masuklah saya dengan membayar duapuluh ribu rupiah. Seorang guide bernama Mas Najib, yang kemudian saya tahu ternyata adalah teman SMA beberapa kawan kuliah saya, menemani berkeliling. Museum yang berdiri tahun 2000 ini dikelola dengan baik memang. Pencahayaan diatur temaram agar tak merusak kain (maka dari itu memotret pun dilarang), alur panah tertempel jelas di lantai sebagai panduan berkeliling tetapi tak sampai merusak estetika, juga ada aksesori pendukung seperti furniture atau pajangan khas Jawa di sana-sini.

Yang dipajang adalah kain-kain batik dari berbagai masa koleksi pemiliknya, H. Santosa Doellah. Beliau inilah yang bersama istrinya membangun bisnis batik lewat perusahaan Danar Hadi (gabungan nama istri beliau, Danarsih, dan mertua beliau, H. Hadipriyono). Sebagian terlindung kaca, yang lain dipajang dengan artistik pada meja, tiang penyangga, atau bahkan semacam altar.

Kendati koleksinya mencapai ribuan, yang dipajang hanya ratusan secara bergiliran (dan menurut pengakuan Mas Najib, para guide harus terus meng-update pengetahuan, misalnya dengan mendalami buku karya sang pemilik). Ada batik yang amat sederhana karena zamannya memang menuntut demikian bahkan dituntut agar bisa dipakai dengan dua tampilan, ada batik yang super-rumit kalau kita cermati detilnya (latar atau garisnya digantikan oleh jutaan titik nan halus, bayangkan…), ada batik ‘keramat’ milik keraton yang motifnya tak boleh dipakai rakyat jelata, ada batik yang demi mendapatkan pewarnaan sempurna harus dibawa menjelajahi tiga kota, ada batik pesanan noni-noni Belanda yang dibuat berdasarkan kisah-kisah Barat (Little Red Riding Hood, Hansel & Gretel, malah ada Flash Gordon!), ada batik yang motifnya meniru kain sari India (dipajang berikut sari aslinya yang menjadi inspirasi), ada batik bergaya Tionghoa dengan segala filosofinya.

little red riding hood

Dijelaskan pula perbedaan batik Solo dengan Yogya (salah satunya adalah ke mana lereng pada motif batik parang menghadap), juga motif-motif tertentu yang harus atau pantang dikenakan pada acara istimewa (semen yang melambangkan kesuburan untuk pernikahan, sedangkan parang rusak justru harus dihindari). Aneka batik dari luar Jawa juga tak ketinggalan, termasuk batik nusantara yang digagas Ir. Soekarno. Sejarah keluarga H, Santosa Doellah juga dipaparkan sekilas. Terdapat juga display cara pembuatan batik berikut bahan-bahannya, langkah demi langkah sehingga mampak betul perubahan dari kain putih, diberi sketsa motif, diberi malam, dicelup, dan seterusnya hingga menjadi sehelai kain batik yang cantik.

Pada suatu display, Mas Najib menanyakan pada saya mana yang saya pilih, antara kain batik sederhana atau kain batik yang dihiasi aplikasi tambahan kain polos berwarna-warni cerah. Saya yang lebih menggemari motif simpel menunjuk yang sederhana, tentunya. Toh menurut saya malah lebih anggun yang itu. Ternyata, kata Mas Najib motif sederhana itu biasanya dipakai oleh para garwa ampil selir, sedangkan yang dihiasi kain warna-warni itu justru khusus untuk garwa padmi alias permaisuri….

Tak cuma menikmati display, selesai mengitari seluruh area museum, pengunjung dipersilakan melihat langsung proses pembatikan di bagian belakang. Sore-sore begitu masih tampak puluhan pekerja dengan kegiatannya masing-masing, ada yang membatik dengan canting, dengan cap, sebagian sedang sibuk melaksanakan proses pewarnaan dengan teknik celup, yang lain asyik menggambari pola. Sebelum pulang, pengunjung juga bisa berbelanja ragam busana maupun aksesoris batik di butiknya. Tampaknya ada kafe kecil juga di bagian depan gedung, tetapi waktu itu sedang tutup, mungkin karena bukan hari libur.

batik keraton Surakartabatik kontemporer

Sumber foto batik untuk Museum batik Danar Hadi: http://museumbatikdanarhadi.blogspot.com/

Sumber foto bangunan Museum Batik Danar Hadi: sepupu
Sumber foto untuk museum tekstil: jepretan sendiri.

[Ulasan] Belajar Percaya Diri dari Todi

Beberapa hari yang lalu facebook mengingatkan saya bahwa saya pernah ikutan lomba resensi yang diadakan oleh penulis buku ini, Mba Dhonna. Sekalian saya posting ulang di sini saja, nostalgia juga menengok kembali gaya menulis saya lima tahun yang lalu:).

Judul : Todi si Belalang Kerdil
Penulis : RF. Dhonna
Tebal : iv + 53 halaman
ISBN : 978-602-9079-45-6
Penerbit: Leutika
Tahun terbit: 2011
todi belalang 1
Buku untuk anak-anak konon memiliki pakemnya sendiri. Harus mudah dipahami, tetapi sekaligus tanpa mengabaikan kenyataan bahwa daya cerna anak-anak zaman sekarang kian canggih saja. Harus punya pesan moral, sebisa mungkin cukup tersirat tanpa harus menggurui. Dari segi penampilan, sebaiknya buku anak menggunakan huruf yang tidak terlalu rapat dan kecil, serta sebisa mungkin dilengkapi dengan ilustrasi yang semakin menarik minat baca.

Delapan cerita yang termuat dalam buku ini rata-rata tergolong sangat pendek jika dikonversikan ke halaman A4, sehingga bisa dikatakan cukup memadai untuk rentang perhatian anak khususnya usia awal SD (meskipun ternyata di sampul versi barunya tertulis untuk anak usia 9 s.d. 12 tahun). Ukurannya yang mungil dan tipis cocok untuk dibawa ke mana-mana, termasuk untuk dibaca atau dibacakan menjelang tidur. Ilustrasi yang ada pada setiap halaman masih mengacu pada cerita yang menjadi judul buku, sehingga semuanya sama dan tampil hitam-putih. Tema kisah para hewan alias fabel dan dunia khayal putri serta peri menjadi pilihan, dengan satu-dua kisah keseharian masa kini.

Pesan moral yang disampaikan dalam cerita-cerita yang ada cukup bervariasi, di antaranya mengenai makanan sehat, kejujuran, prioritas, kedisiplinan, pergaulan, kesabaran dan ketegaran, inisiatif, serta kerja keras. Benang merah yang paling menonjol di kebanyakan cerita adalah motivasi agar tetap percaya diri dalam berbagai kondisi. Beberapa hikmah cerita disampaikan dalam bentuk pertanyaan di akhir kisah, sehingga anak atau orang dewasa yang membacakan bisa berpikir sendiri atau berdiskusi mengenainya.

Cerita favorit saya adalah Senyum Terindah Molly, karena mengingatkan pada diri saya sendiri. Tidak enak memang disangka sombong karena tampak lebih suka menyendiri. Padahal aslinya hal tersebut disebabkan oleh kepribadian yang memang cenderung introvert (sedikit berbeda dengan Molly yang sempat minder akan keadaan fisiknya). Todi si Belalang Kerdil mengingatkan untuk tidak membalas keburukan orang-orang (atau dalam buku ini, hewan-hewan) lain dengan perbuatan jelek pula. Sedangkan Kisah Peri Warna menggelitik pemikiran saya, adakah cerita di situ dimaksudkan sebagai satir bagi kondisi masyarakat yang enggan mengubah sesuatu yang ‘sudah sejak dulu begitu’, alih-alih mencoba berinovasi demi masa depan yang lebih indah?

Masukan untuk penulis, ungkapan “Rasain!” yang muncul dalam cerita Banguuun, Nanda! tampaknya agak kurang pas karena rawan ditiru oleh anak-anak. Mungkin akan lebih baik jika diganti dengan kalimat lain yang meskipun intinya sama-sama girang karena rencana (yang sedikit ‘curang’ tapi maksudnya baik?) berhasil, tetapi tidak terlalu bernada keras atau puas di atas kesedihan orang lain (kendati tujuannya memang untuk memberi pelajaran).