Bekal Menjawab Pertanyaan Anak

Pertanyaan anak-anak seringkali mengejutkan kita, para orangtua. Tak jarang ada pertanyaan yang membuat kita salah tingkah, atau kaget. Bukan hanya bingung karena tidak tahu jawabannya, tetapi juga jadi pusing bagaimana menyampaikan jawaban dengan tepat. Takutnya anak salah paham, justru penasaran, kemudian tidak puas dan terus bertanya, atau jangan-jangan malah mencari tahu dari sumber lain.
Ini beberapa buku yang jadi bekal saya buat menjawab pertanyaan Fathia, sebagian besar bisa dibaca bareng-bareng karena banyak gambar yang memudahkan penjelasan.
buku pertanyaan

1. Seri Widya Wiyata Pertama Anak-anak (Tiga Raksa)

Ini bukunya gede, hardcover, berat juga, isinya cukup komplet (ada tema Roda dan Sayap, Ulah Binatang, Kehidupan di Bawah Air, Bumi dan Angkasa dst). dengan gambar dan foto yang besar-besar juga. Baru punya beberapa, beli ketengan kalau lagi ada yang jual 2nd (versi lama) hehehe.

2. Seri Aku Ingin Tahu Mengapa (Grolier)

Ini cuma punya satu sih, kado. Hard cover tapi tipis, bertema (yang dipunya ini soal padang pasir), banyak gambar kecil-kecil, lumayan lah untuk menerangkan.

3. Ensiklopedia Pertanyaan Besar Mengapa (BIP)

Buku tunggal, yang dibahas pertanyaan yang cenderung serius seperti apa HAM itu, kenapa nggak boleh terlalu banyak nonton, apa itu rasisme, mengapa kita suka lelucon, dst, jawabannya juga panjang-panjang sih, dan terjemahannya agak kaku. Tapi tetap nggak terlalu berat buat disimak, bergambar juga.

4. Emotional Intelligence Series #1: Apa Kamu Punya Rahasia? (BIP)

Berisi cergam, di bagian akhir tiap cerita ada penjelasan untuk membantu orangtua menerangkan kondisi tertentu seperti ibu bekerja, rasa malu, dan menyambut adik baru.

5. Seri Ensiklopedia Junior: Tubuh Manusia (Émilie Beaumont, BIP)

Ada judul-judul lain dalam seri EJ, tertarik sama judul yang ini karena direkomendasikan mba Fatimah Berliana Monika Purba (konselor laktasi Leader la Leche League) untuk pendidikan seks bagi anak. Nah pas beli minggu lalu dan buka-buka, ngng…kayaknya perlu dibahas berdua sama ayahnya dulu deh ini sebelum dibacain ke kakak, hahaha. Soalnya gambarnya (kartun) lumayan jelas soal anatomi tubuh dan proses kehamilan.

6. Balita Bertanya, Anda Menjawab (Pritha Khalida & Saniawati, PandaMedia)

Ini buku panduan untuk orangtua (minim ilustrasi), ada bab tubuh kita, peraturan, alam sekitar, agama/ketuhanan. Asli Indonesia, jadi bahasanya juga lebih mengalir dan enak dibaca.

Yang bukunya nyelip waktu mau difoto:

7. Anak Bertanya, Anda Menjawab (Adil Fahmi, Maghfirah Pustaka)

Ini lebih sebagai panduan bagi orangtua (minim ilustrasi) untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang terkait agama khususnya Islam ya, termasuk Allah ada di mana, kematian dst.

8. Seri Mengapa Bagaimana (BIP)
Baru punya yang Dinosaurus sama Ekologi, nggak setebal dan sebesar WWP jadi praktis dibawa-bawa. Suka diselipi ilustrasi konyol dalam pembahasannya.

9. How to Make a Baby, Mommy? (Dian Mardi & Gita Lovusa, Mizan)

(bersambung, ada beberapa buku lain yang mau dimasukkan)

Pede Bicara Seks dengan Anak dan Mengenali Orientasi Seksual Anak

Resume Seminar Parenting di TK Alam Patrick Depok, 16 April 2016

Sesi I
Ir. Septriana Murdiani
Praktisi pendidikan dan parenting, salah satu pelopor sekolah alam di Indonesia, penulis buku “Bahasa Bunda Bahasa Cinta”.

Pede Bicara Seks dengan Anak
Ortu tak pede/merasa tak nyaman, tabu, merasa kalau diajari malah tahu dan pengin, merasa belum tahu ilmunya, punya kenangan buruk/merasa belum jadi contoh yang baik.

Riset: seberapa pun tak nyamannya, tapi anak lebih selamat jika ortu membicarakan soal seks ini.

Bicara, lebih dari sekadar ‘bicara’, tapi mendidik kita mulai dari bicara. Bahkan kalau anak tidak bertanya, kita perlu mendidik lewat bicara. Pastikan kita jadi ortu yang enak dan tepercaya jika ditanya tentang apa saja, apalagi soal seks.

Di tiap nafsu dan kesenangan yg besar ada amanah yang harus diemban. Anak senang bermain tanah, air, pasir. Manusia juga secara ‘primitif’ menyukai/menikmati seks.

Pendidikan seks penting untuk diajarkan sebagaimana akidah dan akhlak, karena berperan penting bagi kemanusiaan dan peradaban. Jangan kalah oleh media dan teman-teman dengan informasi yang kadang menyesatkan.
Ajarkan anak dan terutama diri sendiri untuk menghadapi semua tantangan zaman yang ada dengan keimanan. Jangan takut, jangan cemas, jangan sedih.

Berjamaahlah dalam mendidik anak, it takes a village to strengthen the family. Termasuk, sudah tak zaman lagi hanya mendoakan anak sendiri.

Inti dasar pendidikan seks adah akhlak.
Segitiga akhlak: kesadaran, perbuatan/pembiasaan, akhlak.
Jika kasih sayang full di rumah, fitrah anak dengan akhlak yang baik akan jalan.

Akhlak beda dengan karakter. Akhlak: perbuatan baik yang dilandasi dengan niat dan kesadaran.

12 fokus akhlak:
1. sayang (sayang dengan adik bagaimana, sayang dengan suami/istri bagaimana)
2. syukur (termasuk akan jenis kelamin dengan segala konsekuensinya mis.kalau haid shaumnya jadi batal.)
3. rendah hati (apalagi dalam menjalani pernikahan–institusi yang tidak mudah), 4. bersih (termasuk membersihkan alat kelamin)
5. positif
6. bijaksana
7. tanggung jawab
8. sabar
9. sungguh-sungguh
10. berani
11. kendali diri
12. adil. Selengkapnya bisa dibaca di Riyadush Sholihin.

Terjemah dan tafsirnya: sesungguhnya Allah memerintahkan kamu berlaku adil dan berbuat ihsan (memberikan kualitas terbaik), memberi bantuan kepada keluarga, dan Allah melarang dari perbuatan fakhsya-keji (semua perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu: zina, sawah, rumah, mobil dll), mungkar (perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat dan syariat…kalau sudah terang-terangan sudah masuk ke munkar), baghyu (mungkar yg dzalim, mengarah ke permusuhan).

Sandang pangan papan, rasa aman, kasih sayang, harga diri secara bertingkat (semakin tinggi) harus terpenuhi untuk bisa mencapai ke puncak piramida: aktualisasi diri.

Hak asasi ada kalanya berbelok ke nafsu.

Topik besar: kurikulum, materi, hasil
Kurikulum:
1. Engkau istimewa (terima apa adanya, full kasih sayang ortu)
2. Tentang lelaki dan perempuan
3. Tentang aqil baligh
4. Tentang pernikahan
5. Tentang keluarga
6. Tentang cinta

Materi: cari qauli dan kauninya (sedang disusun bukunya oleh pemateri).

Perbedaan lelaki dan perempuan adalah sinergi: sudahkah anak paham (buat check list):
1. peran dan fungsi
2. cara berpakaian (jangan menyerupai jenis kelamin sebaliknya)
3. cara berperilaku
4. fisik (tampilan, otak –termasuk soal keinginan terhadap seks, hormon)
5. cara berpikir (buku Why Boys Fail–makin banyak perempuan yang lebih sukses dalam hal akademis, apakah karena lelaki memang disiapkan untuk bertarung secara praktis?)
6. berkomunikasi (98% masalah keluarga adalah karena gagalnya komunikasi. Indonesia ada 40 perceraian/jam)
7. agresi (anak lelaki memang lebih agresif, jangan dipaksa untuk cooperate terus seperti perempuan, salurkan lewat kompetisi).

Perlu disampaikan ke anak:
– Kewajiban lelaki memberi nafkah
– tumbuh kembang, pemeliharaan, penjagaan
– perannya dalam hidup dan peradaban
– kerja sama muslimin dan muslimah
– hijab dan aurat
– ghadul bashar
– mimpi basah
– mandi suci
– komunikasi laki dan perempuan
– khitan dengan penyampaian yang baik dan niat yang lurus
– keluargamu adalah pride-mu.

Terkait aurat:
Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin
Memisahkan tempat tidur.
Menanamkan jiwa kelelakian untuk anak lelaki, jiwa keperempuanan pada anak perempuan.
Mengenalkan waktu berkunjung (minta izin pada 3 waktu)
Mengenalkan mahramnya (QS An Nisaa 22-23)
Ikhtilat
Khalwat
Berpuasa
Mendidik etika berhias

Kenalkan tipe sentuhan.

Tentang Aqil Baligh:
Anak sudah bisa mengukur (7-8th): tamyiz, pisahkan tempat tidur, boleh jadi imam sholat ibunya kalau bacaannya benar, sah jual belinya.

Sejak kelas 5 SD harus punya buku putih berisi mimpi (termasuk to be dan to have, jangan terpaku okeh sumber daya), target, value, time lines untuk pelaksanaan/perwujudannya, serta minat bakatnya.

Harus tahu apa itu aqil baligh: sudah mulai menyadari peran kekhalifahannya (bakat). Sekitar 15 tahun apalagi kalau anak lelaki, sebisanya sudah bisa mencari nafkah.

Pendekatan/pandangan soal akhlak ada dua:
1. General: semua orang bisa berakhlak.
2. Akhlak yang baik muncul jika dia ada di tempat yang sesuai dengan bakatnya. Jadi, penting mengenali bakat anak sejak awal, masa SD harus sudah ada yang dikenali (untuk menghindari bully juga).

Ihtilam dan haidh ditekankan lagi, beri pengertian tentang madzi, wadi, mani dan cara mensucikannya.

Sholatnya harus sudah sempurna termasuk tahu artinya.

Hadits 10 fitrah manusia.

3. Tentang Pernikahan
Kriteria dan cara memilih pasangan. Menikah itu ada ilmunya dan banyak mitosnya. Pernikahan seharusnya membuat laki-laki maupun perempuan happy, khususnya perempuan perlu invest belajar tentang pernikahan karena makin banyak gugatan cerai oleh perempuan.

Ingat mitsaqan ghalidza, jangan sembarangan bilang I love you.
Setiap pernikahan yang langgeng adalah karena masing-masing pribadi telah ‘selesai’ dengan dirinya sendiri dulu (sudah jadi the best person we have to be). Ada baiknya perempuan tetap punya sahabat perempuan untuk menguatkan, jadi sahabatnya jangan hanya suami.

Anekdot pesan ayah kepada anaknya: siap menikah adalah ketika sudah sanggup say sorry tanpa alasan apa pun.

4. Tentang Keluarga
Samara
Mahram (termasuk bahwa pengasuh dan driver itu bukan mahram)
Istri ikut suami
Birrul walidain
Suami selamanya milik ibunya
Keluaga adalah pembentuk utama SDM berkualitas
Interaksi antara pasangan
Interaksi kakek nenek dan anak serta cucu
Interaksi sesama anak, anak dengan orangtua.
Interaksi pada keluarga yang bercerai
Isu mutakhir: double burden perempuan, feminisme dan LGBT.

5. Tentang Cinta
Cinta itu terkait hormon. Kalau hanya mengandalkan cinta, paling bertahan 3 bulan s.d. 5 tahun. Tempatkan cinta sebagai kata kerja: melayani, membersamai, menunggu sampai saat yang tepat.
Naksir wajar, pacaran jangan. Lelaki yang baik pasti akan minta ke ayahnya.
Berteman yang banyak, bersahabat.
Cinta terhebat pada Allah, kepada Allah.

Robert Sternberg: bahan cinta:
1. Keintiman: berbagi komunikasi, saling mendukung, saling percaya
2. Gairah, tidak hanya fisik tetapi juga emosional
3. Komitmen: fokus jangka panjang: surga.

Prinsipnya:
1. Tidak pernah terlalu dini untuk memulai atau membicarakan. Secara alami mengalir saja. (Bersambung karena dipercepat, nanti dicek ke hand out yang katanya mau dikirim lewat email).
2. Lebih mudah bicara dengan anak 9th daripada 13th (antisipasi juga sebelum terjadi). Kadang pertanyaannya malah cute, jangan ditertawakan apalagi dibentak, beri penjelasan singkat yang sekiranya masuk akal, bisa juga sampaikan akan dijawab nanti kalau sudah kelas sekian.
3. Tidak lebay. Orangtua bereaksi baik-baik dan wajar-wajar saja. Terbukalah, tidak boleh jijik.
4. Jika ada pertanyaan dari anak, pakai rumus ‘tanya balik’ (“menurut kamu apa?”), biar paham dulu maksudnya. Lalu jelaskan secara ilmiahnya, ikat dengan ayat qauliyah. Mis. sex itu apa (padahal jenis kelamin di form berbahasa Inggris), kondom itu apa (nemu di lemari abi), zina, ayah bunda ciuman bibir ya, jenis kelamin apa (ada anak yang mengira jenis kelamin itu bisa ganti-ganti, makanya tanya terus).

Sebagai orangtua dan guru kita bisa meningkatkan kompetensi dengan baca buku, ikuti kegiatan.
Cek siapa teman anakmu, ada kalanya memang sudah harus ganti teman.

Tahapan yang bisa kita lakukan sesuai tahapan usia anak:
S.d. 2th: Jangan upload bayi dengan aurat terbuka, baca doa ketika akan menyusui, tutup aurat saat menyusui di tempat umum, doa saat memakaikan baju, ‘ngudang’ dengan doa.
2-3th:
mulai belajar toilet training, ortu menyebut alat kelamin dengan nama ilmiah (tapi tidak perlu teriak-teriak juga), berbagi tugas rumah tangga.
– Untuk permainan bebaskan saja misal anak laki mau main boneka (biasanya anak-anak sudah memilih sendiri).
– Bicarakan tentang aurat dan siapa yang boleh menyentuh.
– Masturbasi pada anak: alihkan/tarik, tapi ringan (jangan lebay reaksi yang ditampakkan).
– Memakai toilet (sunnahnya memang jongkok, baik laki-laki dan perempuan).

4-5 tahun
– Mandi bersama? Lebih baik jangan. Hati-hati dengan pertanyaan atau komentar
– penjelasan soal ummi yang haid.
– Dapat omongan jorok dari teman: sekali lagi jelaskan dengan tenang, jangan lebay.
– Pisahkan tidur
– Aurat, sentuhan yang boleh dan yang tidak.
– Bedakan rahasia dan surprise, hati-hati ada predator yang memanfaatkan kesukaan anak pada surprise dan rahasia.

7-8 tahun:
Belajar berteman, menjaga pertemanan, termasuk menghadapi bully.

9-10 tahun
Biasanya sudah mulai ada geng jenis kelamin, baiknya mulai dipisahkan.

11 tahun
Siap-siap: perlukah diberitahu tentang coitus? Jika ditanya, bisa dijawab kalau lelaki akan diberi tahu oleh Allah melalui mimpi basah, sedangkan perempuan tidak karena adalah tugas lelaki untuk melindungi. Kalau sudah telanjur tahu, tinggal diluruskan.
Lelaki harus provide (menafkahi), profound, protect.

Biasakan olahraga, apalagi untuk anak lelaki, lebih-lebih lagi yang sudah terpapar pornografi (jangan malah dijejali akademis terus).

Pendidikan persiapan pernikahan sebaiknya paling tidak sejak 6 bulan sebelumnya.

 

IMG_20160416_083931

Sesi II
Sinyo Egie (Agung Sugiarto)
Founder Yayasan Peduli Sahabat, Penulis Anakku Bertanya tentang LGBT
Deteksi Dini Orientasi Seksual pada Anak

Berawal dari lomba menulis, lalu mencari bahan tentang penyembuhan gay, lalu banyak mendapat informasi bahwa banyak yang sudah terjadi.

Same sex attraction (SSA), ingin identitas sosial bahwa ketertarikannya demikian.
Menerima bahwa dia tertarik sesama jenis, ada yang menerimanya sebagai anugerah kebaikan yang harus disyukuri, bukan anugerah keburukan yang terhadapnya harus sabar. Belum tentu melakukan apa-apa (tindakan kejinya).

Kita bisa saja ‘ikut andil mendukung LGBT’ saat mengotak-ngotakkan, bahwa hanya ada kategori agamis vs LGBT, sehingga yang belum sampai pada tindakan keji (hanya tertarik) jadi seperti diarahkan ke golongan LGBT.

Lelaki sudah banyak yang mengenal seks sejak dini, sehingga seringkali sudah bosan dengan perempuan. Apalagi kalau sesama lelaki sudah mengenali titik mana pada dirinya yang menyenangkan baginya. Hati-hati juga kalau sampai anak lelaki melihat bahwa seks itu menyakiti perempuan hingga enggan berhubungan dengan perempuan

Hati-hati ketika larangan pacaran malah bisa berdampak kurang baik, misalnya membuat anak dibully kalau tidak pacaran (dibilang homo/lesbi). Siapkan amunisi dan bekal agar anak jadi anak yang tangguh menghadapi semua itu, jangan goyah akan tekanan teman sebayanya.

Lelaki urusannya lebih banyak tentang seks, mengingat produksi spermanya yang luar biasa. Bertahan di pernikahan, bisa jadi karena cita-cita masa depan surga, bukan soal cinta. Jadi sebetulnya tidak apa orang yang punya orientasi SSA menikah, asal bisa menjalankan perannya dengan baik (mis.sebagai imam keluarga), dan tidak melakukan perbuatan keji.

Wanita lebih banyak main perasaan dan mencari kenyamanan, sulit melupakan cinta. Jadi bisa cari tempat curhat baik beda jenis maupun sama, mudah melayang kalau digombalin. Budaya pun mendukung keakraban fisik dengan sesama wanita. Untuk ayah: seringlah membersamai dan mengisi kasih sayang anak perempuan.

Laki-laki karakternya seperti anak-anak: raja, ingin dipuaskan egonya, sulit minta maaf, suka permainan (hobi nonton bola, koleksi benda tertentu), suka mencoba-coba (ingat fenomena akik?).
Wanita karakternya banyak bicara atau bercerita (bisa di buku harian).
Hati-hati kalau kebalik.

Umur balita (titik awal berbelok)
– keluarga yang tidak harmonis–tidak bisa menghadirkan karakter masing-masing jenis kelamin dengan baik.
– bapak otoriter/keras, bisa membuat anak berpikiran “tidak mau jadi bapak”.
– Sebaliknya ibu juga jangan mendominasi, harus menempatkan diri, sopan terhadap suami untuk mengajarkan pada anak, memperlakukan anak apalagi laki-laki yang terluka ringan tidak lebay. Jangan bunuh karakter anak dengan terlalu banyak larangan mis.main panas-panasan.
– Anak tunggal, anak bungsu, anak satu-satunya dengan jenis kelamin berbeda, anak yang diistimewakan.

Jenis dan karakter mainan:
– masak-masakan: anak lelaki jadi chef, anak perempuan jadi istri meladeni suami.
– mobil-mobilan: anak lelaki bisa tabrak-tabrakan, anak perempuan jadi pelengkap rumah-rumahan (keluarga punya mobil).

Pelaku sodomi belum tentu pernah disodomi juga. Yang sudah disodomi belum tentu akan ikut suka menyodomi. Yang lebih mudah menduplikasi adalah yang latar belakang keluarganya kurang memenuhi kasih sayang. Jangan sampai kita terlena dengan orang-orang yang belum pernah terlibat.

Beda kekerasan seksual dan pelecehan seksual: pelecehan mencakup juga kalau ada yang menyentuh atau pamer alat kelamin dengan tujuan merangsang (biasanya di tempat umum), bahkan kita mengomentari alat kelamin anak dengan gemas, membiasakan anak dengan sentuhan fisik tanpa batas di rumah sehingga dia sendiri tidak aware kalau ada orang lain yang melakukan, termasuk cium tanpa izin.

Ada anak lelaki yang ‘cantik’, hati-hati jangan disebut-sebut cantik karena yang berulang bisa jadi kebanggaan (apalagi trus dijilbabin). Beritahukan juga pada orang sekitar. Jangan sampai pula mengatai anak lelaki yang mengeluhkan sesuatu “Kamu kok kayak banci sih, gitu aja kok…”

Orangtua harus jadi sahabat terbaik anak.
1. Jangan ragu untuk minta maaf pada anak.
2. Jangan memutus komunikasi hanya karena kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan anak atau sedang sibuk yang lain (misal lagi tanggung, jawab/tanggapi dulu secukupnya, nanti lanjut lagi).
3. Perbaiki komunikasi di rumah, jangan jadi jalan masing-masing. Jika melarang atau ada yang dilanggar, jangan hanya marah dengan pilihan kata yang tidak tepat (Tidak bikin anak paham…misalnya “kamu harus fokus”).

Ajari anak tentang reproduksi, bisa contohkan pada hewan dan jelaskan bedanya dengan manusia. Terbuka, jujur, tapi sesuaikan dengan kemampuan pemahamannya.
Jika anak jujur dan mengakui kesalahan (ia melakukan sesuatu yang tidak boleh), hargai. Alhamdulillah masih mau cerita dan terbuka dengan orangtuanya (memamg seharusnya demikian). Dengarkan, beli solusi bila perlu, beri apresiasi.

Umur 11-13th: kebingungan dan penguatan
Tokoh perempuan di film anak malah sering mencontohkan bahwa perempuan yang macho adalah solusi, meski ada juga pahlawan dan shahabiyah wanita yang berperang dan it’s OK.

Apa pun masalahnya, tetaplah di jalan Allah. Jika memang orientasi seksual tidak bisa hetero, doakan, Allah yang punya kuasa.

Musa sang Hafidz Cilik juga Bermain, Kok

Hari-hari ini, Musa sang hafidz cilik menyita perhatian dan sempat menjadi trending topic karena kemenangannya dalam lomba hafidz anak Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) International di Sharm El-Sheikh, Mesir pada pertengahan bulan April 2016 ini. Musa atau lengkapnya La Ode Musa yang menjadi peserta termuda (7 tahun) mendapatkan juara ketiga.
Ayahanda Musa cukup aktif memposting kegiatan keluarganya di media sosial facebook. Salah satu yang ia tulis dan di-share oleh banyak ibu adalah jadwal harian istrinya, karena memang banyak yang penasaran, seperti apa gerangan aktivitas keseharian ummahat yang bisa membimbing anak-anaknya menghafal Al-Qur’an sedemikian rupa (sebagai tambahan keterangan, Musa menjalani home schooling). Selain soal ibunya, tentu banyak yang penasaran juga soal jadwal Musa sendiri. Mengingat usianya yang masih anak-anak, bagaimana dengan haknya untuk bermain? Apa iya Musa lalu sama sekali tak boleh menikmati masa kecilnya demi ego orangtua? (ini yang saya temukan ditulis oleh seorang ibu muda secara agak keras di facebook).

Setelah googling, saya menemukan beberapa pernyataan terkait pengaturan waktu bermain Musa, sebagai berikut:
http://www.buletinislami.com/2016/04/rahasia-hafidz-cilik-musa-hafal-30-juz-di-usia-belia.html
http://detikmuslim.blogspot.co.id/2014/07/inilah-rahasia-musa-anak-5-tahun-yang.html
http://www.jpnn.com/read/2014/07/21/247489/Mengenal-Musa-Hafiz-Cilik-yang-Hafal-30-Juz-Alquran-/page2
http://www.radarcirebon.com/orang-tua-musa-buka-rahasia-cara-didik-anaknya-sampai-hafal-alquran.html
https://bumiislam.wordpress.com/2014/07/07/metode-menghafal-al-quran-ala-musa-si-hafidz-kecil-indonesia/
http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/profil-musa-bocah-indonesia-yang-jadi-juara-ajang-hafidz-tingkat-dunia-
https://books.google.co.id/books?id=h5rrCgAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=google+books+kisah+anak-anak+penghafal&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjGu4DuxK7MAhVIHKYKHXcfDAEQ6AEIGjAA#v=onepage&q&f=false

Selain itu saya dapati juga ayah Musa pernah memposting foto mainan skuter/ride on baru anak-anaknya. Bisa dilihat dari tautan di atas bahwa orangtua tetap menyediakan waktu tertentu bagi Musa (dan saudara-saudarinya) untuk bermain. Memang soal porsi main ini ada perbedaan sedikit antara berita satu dengan yang lainnya, tapi mungkin ini karena wawancara dilakukan di tahun yang berbeda pula, jadi jadwal tentu menyesuaikan dengan perkembangan usianya.

Nah, soal jadwal-jadwalan ini barangkali juga bisa jadi kontroversial, sebagaimana kata ibu muda yang tadi, yang menganggap bahwa pembatasan sedemikian ketat (Musa juga tidak boleh nonton TV, termasuk saat bertamu) sih sama saja dengan nggak boleh main. Soal ini, memang kembali ke prinsip keluarga yang berbeda-beda. Kalau keluarga Musa, yang saya tangkap dari postingan facebook-nya memang sudah merumuskan tujuan sedari awal untuk mengutamakan kecintaan pada Allah dan persiapan bekal akhirat. Tak heran langkah-langkah yang dirancang juga sedemikian rupa sehingga pendekatan yang dipakai mungkin tidak sama dengan keluarga yang punya prinsip lain. Pernah saya baca La Ode Abu Hanafi ayah Musa mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan gaya orangtua sekarang yang cenderung membebaskan dan membiarkan tingkah anak, yang berbuah pada kaasus-kasus remaja yang cukup bikin geleng kepala. Banyak sungguh variasi dalam cara parenting, dan perbedaan itu menarik untuk diamati dan dipelajari, diambil hikmahnya, menjadi pengingat dan bahan masukan untuk diterapkan dalam keluarga masing-masing.

[Arsip Lomba] Serunya Dunia Anak Usia Dini

(Januari 2016, grup facebook Preschool Online)PhotoGrid_1453605502742

Ini kedua putri kami, Fathia (4 tahun 4 bulan) dan Fahira (13 bulan). Keduanya punya karakter yang berbeda, hingga ada saja hal yang menjadi kejutan baru bagi saya dan suami. Adik lebih ekspresif sejak awal kelahirannya, tangisan dan celotehannya bahkan mengundang komentar tetangga, “Beda banget sama kakaknya, ya…”. Memang jika dibandingkan, kakak dulu jadi terlihat lebih kalem. Namun, di umurnya sekarang, tentu kakak sudah lebih ceriwis dan aktif, sehingga tak jarang ada benturan yang membuat salah satu dari mereka menangis (tapi ya lalu rukun lagi dalam waktu amat singkat).

Punya dua balita di rumah semakin membuat saya haus akan ilmu, khususnya terkait kesehatan dan pendidikan anak. Selain menyimak sharing di grup-grup dunia maya yang membantu memperluas cakrawala wawasan, membaca buku merupakan cara saya untuk memuaskan dahaga, yang tentunya kemudian menjadi referensi untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penyesuaian di sana-sini.

Pertanyaan di kepala saya terwakili oleh kalimat pada kata pengantar buku Serunya Dunia Anak Usia Dini (SDAUD): Apa istimewanya buku ini? Ya, buku-buku bertemakan parenting memang banyak tersedia, dengan gaya dan prinsip masing-masing. Buku SDAUD yang disusun oleh tim admin grup Preschool Online ini menurut saya menjadi semacam panduan dasar yang bersahabat dan cukup lengkap karena tidak secara langsung memperkenalkan gaya parenting tertentu, melainkan menyajikan dasar-dasar mengenai apa saja aspek yang perlu menjadi perhatian orangtua. Tak ketinggalan disertai pula dengan testimoni yang menunjukkan bagaimana kiat-kiat yang tertulis dalam buku tersebut diterapkan. Inilah yang saya maksud dengan ‘bersahabat’, karena pemaparan penjelasan ‘saja’ bagi sebagian orang bisa dianggap sebagai ‘teori’ (ah, jadi ingat pengin nulis seputar teori vs hasil riset vs pengalaman) yang kurang membumi. Penyampaiannya juga lumayan ringan, padat berisi sehingga tidak terlalu tebal, praktis dibawa-bawa. Hanya saja, kalau boleh memberi masukan, mungkin perlu sedikit perbaikan editing jika nanti (moga-moga) buku ini dicetak ulang.

Bagian favorit saya dalam buku SDAUD adalah bagaimana orangtua perlu mempersiapkan keterampilan hidup alias life skills anak. Di situ disebutkan beberapa kemampuan yang hendaknya dimiliki anak sesuai usia, yang sepertinya tidak langsung berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi akan bermanfaat sebagai landasan ketangguhan dan kelincahannya berperilaku serta menyelesaikan persoalan. Poin demi poinnya terkesan remeh, tetapi penting. Penguasaan akan keterampilan hidup ini juga akan mewarnai karakter anak, bahkan bisa berpengaruh ke kehidupannya sebagai orang dewasa kelak.

Oh ya, sampul buku SDAUD dengan warna ngejreng (saya ikut memilih cover versi yang ini saat dilakukan pemungutan suara) juga menjadi keunggulan tersendiri karena menarik perhatian. Pernah suatu pagi Fahira terbangun lebih dulu daripada saya, dan ketika membuka mata saya dapati ia sedang membolak-balik buku ini:).

Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab, PR bagi Orangtua

abtu lalu (2 April 2016) kami sekeluarga berkesempatan datang ke seminar yang diadakan oleh The Urban Mama di Kuningan City. Tema besarnya adalah “Raising Children Who Think for Themselves”. Alhamdulillah nambah wawasan lagi. Sebenarnya ini bukan pertama kali kami mengikuti acara di mana Bu Elly menjadi salah satu pembicara, tapi justru karena itu kami ingin menimba ilmu lebih banyak lagi. Ditambah lagi, saya juga belakangan ini sering mencermati tulisan kang Adhitya Mulya terkait parenting baik dalam blognya maupun ketika diangkat dalam bentuk buku (nonfiksi terbarunya berjudul Parent’s Stories).

 

Berikut resumenya ya…

Sesi pertama #TUMModernMama bersama Adhitya Mulya, tema “Helicopter Parenting“.

Helicopter parenting: orangtua hadir terlalu dominan dalam kehidupan anaknya, dan ini bisa berbahaya bagi perkembangan anak.

Bekali anak-anak dengan rules/peraturan sebelum ‘dilepas’ main di playground misalnya, daripada terus-menerus diawasi. Yang sering kita lakukan: anak menemukan masalah/konflik, orangtua menyelesaikan, masalah selesai.

Anak perlu dipersiapkan untuk punya life skills, bukan sekadar kita siapkan semua kebutuhannya. Investasilah untuk membantunya semakin terampil.
Anak juga perlu belajar menghadapi kekalahan dan kesedihan. Jangan sampai anak merasa dirinya selalu benar, hingga ‘menyalahkan dunia’ atas apa yang ia dapatkan. Bahkan sampai di dunia kerja ketika harus berhadapan dengan ketidaknyamanan terkait atasan atau kolega.

Ajari anak menyelesaikan masalah yang ia hadapi (tidak langsung turun tangan/helicopter parenting). Tapi jika sudah terkait kekerasan, kriminal, orangtua waras pastilah perlu turun tangan (bukan helicopter parenting lagi namanya, tapi waras parenting).

Anak butuh konsistensi dalam pengajaran, jadi jika menggunakan jasa ART kita juga perlu ‘invest‘ agar bisa seiring sejalan.

Parents know best? Do we? Really?
Pemahaman terkait values dan akhlak umumnya abadi, nilai-nilai tersebut akan terus terpakai dari dulu hingga sekarang. Untuk hal ini orangtua boleh dominan karena ada faktor pengalaman juga. Namun, ada pula yang kita mungkin tak dapat ikuti, misalnya future challenges terkait bidang pekerjaan. 40% (jenis) pekerjaan yang ada saat ini belum ada 30 tahun yang lalu. Di sinilah kita perlu mempersiapkan anak, bukan menjejalinya dengan doktrin harus kerja ini atau itu.

Terimalah bahwa anak kita tidak sempurna. Dan…kita sebagai orangtua juga tidak sempurna. Kalau ada ‘sesuatu’ yang terjadi, kita perlu evaluasi. Mungkin, memang gaya parenting kita yang kurang pas, ada keterampilan parenting yang harus kita perbaiki.

IMG_20160402_085620IMG_20160402_102512

Sesi kedua #TUMModernMama dengan Bunda Elly Risman, “Kiat Membantu Anak Mandiri”.

Yang hilang yang paling esensial dalam pengasuhan sekarang adalah dialog, mendialogkan dengan anak. Karena kini kita serba tergesa-gesa bahkan menggesa-gesakan diri. Yang juga hilang adalah common sense.

Masalah kemandirian anak: meletakkan barang tidak pada tempatnya, pengaturan waktu antara main, belajar, ibadah, belum mengerjakan tugas rumah…. Ini ada di kuesioner yang dibagikan sebelum sesi kedua dimulai, judulnya masalah, tapi sebetulnya ini tantangan (see…secara common sense kita begitu terburu-buru, padahal usia anak pengisi kuesioner kebanyakan 1-3 tahun).

Mandiri: dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Dapat memecahkan masalah sendiri.

Karakteristik seorang yang mandiri:
+ Sikap mental baik: mempunyai inisiatif, memiliki keberanian, percaya diri, memiliki rasa tanggung jawab.
+ Menikmati proses, ulet, berani bersaing, yakin bahwa dia mampu menemukan cara tertentu untuk mencapai tujuan, merasa puas atas upayanya.

Kemandirian: need of autonomy (ada kebutuhan dalam dirinya sendiri) dan harus sesuai dengan tugas perkembangan.

Anak harus belajar berlatih:
– Menolong diri sendiri
– Memilih kemungkinan/alternatif
– Membuat keputusan
– Bertindak sesuai kebutuhannya secara mandiri
– Bertanggung jawab terhadap tindakan tersebut.

Gaya pengasuhan: otoriter vs membolehkan vs otoritatif.
Gaya helikopter: terlalu melindungi, selalu turun tangan membantu, ortu tidak tegaan.
Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan oleh orangtua.

Orangtua harus punya writing skill yang baik. Lazy mind yang sudah terbentuk di masyarakat (jadi permisif, terlalu toleran, kontrol sosial tidak berjalan) juga perlu dibenahi. Salah satu dampak lazy mind ini: korupsi di berbagai bidang.

Mengapa anak kita perlu mandiri?
a. Perubahan sangat cepat yang terjadi di masyarakat karena teknologi (Hi-Tech mengharuskan anak mampu melakukan penyesuaian diri terus menerus. Tidak cukup hanya patuh. Anak perlu memiliki karakter utama untuk mengarahkannya pada perilaku mandiri dan bertanggung jawab).
b. Masyarakat lebih beragam (demokrasi dan reformasi masuk rumah, anak2 minta diberlakukan dengan respek, masyarakat semakin terbuka terhadap suku dan bangsa lain, mulai beragam dan berubah).
c. Nasional–>internasional lingkungan semakin berbahaya
d. Perubahan besar dalam keluarga.
Perubahan dalam sistem keluarga:
– Keluarga besar menjadi keluarga batih.
– Ayah mencari uang dan ibu menjaga anak –> berubah total
– Anak tinggal dengan nenek/pembantu/keluarga tiri/TPA.
– Perpisahan.

Keluarga, pernikahan butuh survive. Perjanjian agung/mitsaqan ghalidza yang harus kokoh. Urusan tempat tidur perlu diperhatikan untuk keharmonisan keluarga dan rumah tangga.

Masa ibu bekerja optimal jika: sebelum melahirkan s.d. bungsu 8th.
There’s no superwoman (Sally Conway). Ada pekerjaan, anak, suami, hobi/waktu untuk diri..bagaimana membagi waktunya? Selamatkah anak-anak kita, perkawinan kita?

Anak ditinggal: kelengketan/attachment berkurang (oxytocin/hormon kasih sayang vs. cortisol/hormon kecemasan), separation & stranger anxiety, kemandirian dan tanggung jawab, wellbeing.

Nenek tidak didesain untuk mengasuh cucu: usia/fisik, hormonal, emosi, ‘mau berbekal untuk pulang’. Minta tolong boleh, tapi bukan untuk sehari-hari/jangka panjang.

Ayah tidak boleh kehilangan qowwam-nya.

Hambatan kemandirian: MEMANJAKAN.
Bangunin, setirin, memberi uang tiap saat diminta, membiarkan anak bicara kurang hormat, kontrol penggunaan media lemah, PR-nya adalah urusan mama, makan depan TV, ortu/pembantu yang berbenah, tidak punya tanggung jawab, menyelamatkannya jika bermasalah dengan perilaku buruk.

Belajar beberes, masak itu memang gampang. Tapi kalau ditunda nanti-nanti pembelajarannya, bagaimana pelajaran tanggung jawabnya? Bagaimana perjalanan prosesnya (mis. salah-salah dulu dst.)?

Anak tidak mengembangkan kualitas dasar untuk zaman modern, ortu dan anak sama-sama frustrasi. Banyak yang harus diselesaikan. Bayangkan bencana yang akan dihadapi.

Berapa price tag anak saya? (Mario Teguh)
Punya barang yang sangaaat mahal, taruhnya pasti dalam rumah.

Yang harus kita lakukan: BERUBAH.

Sasaran Tembak:
– Karakter (beriman, berakhlak mulia, berani dan bersemangat, berpikir kritis, berharga, mandiri dan bertanggung jawab, respek).
– Keterampilan (beribadah yang baik, benar dan anger management, daya juang, memecahkan masalah dan mengambil keputusan, mempertahankan diri, tidak tergantung, bekerja sama/anggota tim).

Faktor penentu kemandirian: kuncinya adalah ortu dan guru.
1. Kesadaran: anak bukan milik kita
2. Merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
3. Menentukan gaya pengasuhan
4. Dual parenting
5. Memahami prinsip-prinsip dan kiat membuat anak mandiri dan bertanggung jawab.
6. Pembiasaan
7. Evaluasi.

Tujuan pengasuhan:
1. Hamba Allah yang bertaqwa
2. Calon suami/istri yang baik
3. Calon ayah/ibu yang baik
4. Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian dalam bidang tertentu sehingga bisa mencari nafkah
5. Pendidik istri dan anak
6. Penanggung jawab keluarga
7. Bermanfaat bagi orang lain atau Pendakwah.

Mandiri sebagai kebutuhan; faktor penggerak kemandirian:
-Dorongan membuat “sesuatu terjadi”
-Keinginan semua manusia untuk merasa MAMPU/cakap dan BISA
-Menunjukkan kemampuan Berpikir, Memilih, dan Mengambil Keputusan (BMM).

8 Langkah membantu anak mandiri:
1. Sadar apa akibatnya kalau anak tidak mandiri
2. Stop memanjakan – minta maaf – jelaskan.
3. Ortu menjadi supervisor kemandirian.
Supervisor Kemandirian:
– Anak butuh mengekspresikan diri.
– Gunakan kalimat bertanya
– Rangsang anak untuk mencoba dan ingin tahu.
– Sediakan kesempatan yang sesuai dengan usia
– Berikan dalam dosis yang besar: cinta yang tulus, dukungan dan dorongan untuk eksplorasi dan mengembangkan rasa ingin tahu itu.
– Biarkan anak yang berpikir, memilih, dan membuat keputusan -BMM
– Izinkan anak mencicipi kecewa
– Ortu siap dengan JPE (jaringan pengaman emosi)
– Ajarkan life skill 
– Kenali usaha dan keberhasilannya.
4. Batasan: kesehatan, keamanan, kesejahteraan diri/jiwa
5. Kenalkan konsekuensi alami dan logis.
Perkenalkan konsekuensi alami yang terjadi secara alami bila kita melakukan sesuatu, dan konsekuensi logis apabila kita tidak ikut campur.
6. Pembiasaan (otak anak memerlukan pengulangan-pengulangan)
7. TEGA (agar anak memiliki kesempatan belajar) — konsisten
8. Evaluasi

Anak bukan milik kita:
– Anak-anakmu bukan pilihanmu, mereka menjadi anak-anakmu bukan karena keinginan mereka, tetapi karena takdir Allah (QS 28:68, QS 42:49-50)
– Karena apa yang Allah takdirkan untukmu, maka itulah amanah yang harus ditunaikan (QS 8:27-28)

Catatan, khususnya untuk para ayah:
– Terima anak apa adanya
– Hargai apa yg mereka usahakan
– Seringlah memuji perbuatannya, bukan orangnya.

Mengasuh berdua (dual parenting)
Menjadi orangtua = partnership –> spirit bekerja sama. Ayah penanggung jawab utama.
Diperlukan: niat baik karena-Nya, kejujuran, keterbukaan, harapan yang tinggi akan hubungan yang menyenangkan dan bahagia.

Bersedia mengambil risiko, berani melewati batas
Anak-anak: ingin menemukan campuran indah penglihatan, bunyi, dan kegiatan. Contoh, ini sendok kalau dilempar gimana ya…satu sendok begini kalau dua sendok gimana ya…lama-lama dilemparin semua itu sendok garpu (dan ortunya ngomel deh :p).
Remaja: ingin menemukan campuran indah perasaan, kegiatan, dan risiko.

Pernikahan harus dipelihara. Jangan selalu menjadi ayah dan ibu, harus luangkan waktu untuk menjadi suami dan istri.

Tambahan pesan dari bu Elly: Kalian boleh saja tidak setuju, saya hanya menyampaikan, kalau tidak berkenan ya ibu mohon maaf.

Di akhir sesi, peserta boleh menitipkan pertanyaan lewat selembar kertas. Beberapa yang menarik adalah:
– si balita tidak mau minta maaf dan malah ngambek: dekati. Kita juga kalau marah masih suka diem-dieman, kan?
– penanya adalah ibu tiri, pola asuh anak saat bersama ibu kandungnya di akhir pekan serba-permisif, beda dengan yang diterapkan ayah dan ibu tirinya: minta suami bicara, kalau perlu ibu-ibu ngobrol berdua, jelaskan tujuannya untuk kebaikan.
– mengatur me time: baiknya ibu punya me time minimal sekali dalam sebulan, @2 jam. Titipkan anak pada orang yang bisa dipercaya. Di sini ada cerita menarik dari MC yang mengisahkan bahwa ia dan suami tidak pernah merasa ada yang salah sampai pada suatu hari anak-anak dipegang oleh tantenya saat jalan-jalan, dan mereka berdua jalannya masing-masing. Sampai ditegur oleh saudara, itu kenapa gak digandeng atau gimana gitu? Ternyata kesibukan (suami sedang mengambil S2 double degree yang dikerjakan sepulang kantor, ada asisten RT hanya untuk cuci gosok, istri agak kewalahan dengan dua anak yang selalu minta perhatian.) dan keterbiasaan membuat pasangan berjarak…perlu dibicarakan dan perlu diambil tindakan mis. kencan berdua.
– anak terlalu ‘dewasa’/empati/mandiri misalnya dalam mengasuh adik, ortu juga khawatir: arahkan dan kembangkan.
– jika bepergian dengan anak laki-laki dan ayah tidak ikut, ke toiletnya bagaimana? Mengingat ada kasus-kasus pencabulan di toilet: ajarkan anak berseru, kalau perlu kasih tanda misal lagi cuci tangan teriaklah lagi cuci tangan. Jangan solusinya dengan ke toilet wanita agar bisa ditemani ibunya.
(Nanti ditambah lagi ya kalau ingat..di bagian ini gak nyatat, lagi gendong Fahira yang tertidur soalnya :D).

IMG_20160402_121900 IMG_20160402_115707 IMG_20160402_115240

Oh iya, goodie bag-nya cakep-cakep nih… ada Ikea Frakta lho. Dan enaknya lagi, ada playground seru dari Bambino Piccolo yang bikin anak-anak bisa asyik main sambil ortunya menyimak:).

IMG_20160402_100730 IMG_20160402_161248 IMG_20160402_161049

http://theurbanmama.com/events/tummodernmama-raising-children-who-think-for-themselves.html

Pengajian Parenting dengan Ustadz Bendri Jaisyurrohman

Resume Kajian parenting Ustadz Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) di kantor, 20 November 2015.

Ayah bunda harus berbagi untuk pengasuhan: ayah yang menetapkan dan menegakkan aturan, ibu yang menenteramkan. Jangan kebalik, ibu yang ngomel2 sampai stres sendiri, anak bingung ngadu sama siapa, ayah pulang eh malah permisif banget sama apa yang udah dilarang2 sama ibu seharian.

Introspeksi: seringkali kita bisa lebih sabar ramah toleran sama orang lain (rekan kerja, tetangga dst) tapi sama keluarga sendiri mis.adik, anak yang harusnya lebih berhak malah seringnya lebih cepat esmosi 😭😭.

Ada hak istri untuk didengar oleh suaminya, kalau nggak ada waktu atau merasa nggak jago menyampaikan, belajar nlis….

Di era cyber seperti ini ortu wajib trampil menjebol privacy anak.
Ibu perlu punya daya pikat agar anak merindukan saatnya pulang.
Itu dua skill yang perlu dimiliki ibu ya… yang ketiga adalaaah…skill masak
Kalau pijit bisa sekalian jadi sarana ngobrol dari hati ke hati.
Skill keempat…skill mendengar. Karena kalau ngomong perempuan udah gak perlu skill😂😂
Kalau perempuan udah ngomong pendek2 artinya ada yang salah, kalau puanjang lebar artinya lagi hepi😄😄
Anak lagi butuh didengerin jangan langsung dinasehatin. Pelajari teknik cicak, “Ooh gitu ya, Nak, ckckck…”
Penutup: usahakan ketika anak ditanya rumah di mana, anak bisa jawab rumahnya adalah di mana ibu berada.
Kalau lagi LDR-an hendaknya suami nanya dulu kabar istri baru kabar anak.
Ada yang nanya pembagian tugas suami istri, jawabnya tugas suami tentukan visi misi (Ibrahim as), evaluasi (Ya’qub as). Ayah yang akan mendampingi anak menghadapi tantangan dunia luar, memagari. Ibu yang membuat anak selalu pengin pulang, menenteramkan.

 

Versi teman (credit to Tri S)
Tarbiyatul Aulad fil Islam
QS. An-Nisa’: Ayat 9 – وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Saat ini banyak kita temui anak-anak yang usia psikologisnya adalah setengah dari usianya. Misal anak SMA yang usianya 16 psikologisnya masih seperti anak usia 8 tahun.
Zaid bin Tsabit ketika berusia 10 tahun membawa pedang ayahnya yg bahkan tingginya lebih dari tinggi badannya. Dia mendengar hadist Rasulullah bahwa amal yang afdhol adalah jihad fi sabilillah.
Aset yang kita punya seharusnya diinvestasikan ke investasi masa depan. Yakni memberikan pendidikan terbaik utk anak2, memilihkan guru terbaik untuk anak2.

Ibu yang hamil mempunyai 3 hak:
Makan enak
Minum enak
Bahagia
Sebagaimana dalam QS. Maryam: Ayat 26 – فَكُلِىْ وَاشْرَبِىْ وَقَرِّىْ عَيْنًا‌  ۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًا  ۙ فَقُوْلِىْۤ اِنِّىْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا  ‌ۚ
“maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”.”
Kehamilan yg tidak bahagia akan menyebabkan gangguan perkembangan otak pada anak.
Kata Rasulullah ketika ada sahabat yg memarahi istrinya ketika hamil maka dia mendzolimi 2 makhluk. Yakni ibu dan anak yang dikandungnya.

Peran ayah di rumah adalah membuat, menegakkan dan mencontohkan penegakan aturan. Sedangkan peran ibu adalah memberi rasa nyaman.

4 manajemen waktu seorang ibu:
1. Me time-di mana tidak ada diganggu siapa pun dan apa pun
2. Couple time-waktu berdua dengan pasangan
3. Friendly time
4. Social time
Skill agar emosinya positif: biasakan menulis.
Diary…agar bisa menularkan emosi. Ini utk mengantisipasi suami yg tidak peka.
Jebol privasi anak. Jangan sampai anak2 punya privasi dari kita.
Skill agar emosinya positif:
1. biasakan menulis.
2. Skill memasak (agar anak kangen dengan kita) 😁
3. Memijit 😘
Ketika memijit maka ibu menyentuh 3 area pribadi anak. Perut, punggung, telapak tangan. Dan area pribadi yg disentuh ibu akan membuat anak lancar bercerita.
4. Mendengar
Sabar menahan lisan ketika anak bercerita. Gunakan tehnik cicek…ketika anak bercerita ckckckc…ckckckc…..
Tugas ayah:
1. Menjadi suami yg hebat
2. Penetu visi keluarga
3. Melakukan evaluasi thd perkembangan keluarga
Krn nasab anak adalah pada bapaknya maka Allah akan dihisab mengenai anaknya.
4. Menegakkan aturan
Misal aturan tidk boleh liat tv habis maghrib ayah yg buat aturan dan menegakkan (fungsi kepala sekolah dan ibu sebagai madrosatul ula).

Pembagian tugas: ayah membimbing danenguatkan agar anak kuat mnghadapi dunia luar dan ibu yg membuat anak selalu rindu utk pulang.

Ulasan Kuliner

Grup Wa ibu pebe sedang bikin lomba review kuliner sesuai lokasi penugasan, sekalian ditulis di sini saja ya…

  1. Lempah Kuning

lempah

Waktu kami bertugas di Bangka dulu, tepatnya di kota Pangkalpinang, ada satu masakan yang jadi andalan untuk dicari saat saya sedang tak enak badan. Sebab, aroma dan rasanya yang lumayan tajam ampuh menggugah nafsu makan yang biasanya meredup kala sakit menyapa.  Rasa masam, pedas, manis segarnya kontan membangkitkan selera, bahkan ketika baru wanginya yang tercium.

Ini dia sayur lempah kuning. Secara sederhana bisa didefinisikan sebagai masakan ikan (bisa diganti dengan sumber protein hewani lainnya) berkuah yang dimasak dengan rempah-rempah. Ada sebuah warung makan yang menurut kami menyediakan lempah kuning terenak, dan alhamdulillah letaknya tidak terlalu jauh.

2. Kerak Telor

IMG_20151011_103238

Saya masih ingat beberapa tahun lalu saya dan keluarga besar berkunjung ke Pekan Raya Jakarta, dan di situlah saya berkenalan dengan makanan ini untuk pertama kalinya. Awalnya heran juga, ini makanan apa, sih? Semacam omelet ketan ditaburi bumbu rempah dan ebi halus?

Pada dasarnya saya ini penyuka makanan gurih, hal itulah yang mungkin membuat saya spontan ‘jatuh cinta’. Lebay mungkin. Tapi apa lagi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan kerelaan menyisihkan waktu dan tenaga mampir ke Atrium Senen setidaknya sepekan sekali semasa saya magang di Lapangan Banteng, hanya demi mengobati rasa rindu pada kerak telor?

Bahkan saat saya hamil di Pangkalpinang, girang hati ini begitu tahu sudah ada penjual kerak telor mangkal di Lapangan Merdeka. Ngidam saya dengan mudah terpenuhi. Kini saat bertugas kembali di Jakarta, tentu bukan hal sulit mencari penjaja kerak telor. Tapi demi membuatnya tetap spesial, saya tak hendak jor-joran memenuhi hasrat menyantapnya. Pameran-pameran yang diselenggarakan di Lapangan Banteng biasanya menjadi ajang temu kangen saya pada makanan satu ini, walaupun terkadang kecewa karena rasanya memang tidak standar. Tak ketinggalan putri sulung saya pun ikut minta dibelikan, lalu makan dengan lahap.