Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak

Masih dalam rangkaian Parenting Class Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah yang diadakan di RSU Bunda Jakarta tanggal 19 Februari kemarin, setelah dr. Tiwi, sesi kedua diisi oleh dr. Priscilla Pramono, Sp.BP-RE, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik. Materi yang dibawakan oleh dr. Priscil berkaitan dengan Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak, sesuai dengan latar belakang beliau yang salah satunya bertugas di Wound Care Unit RSU Bunda.

Mengawali presentasinya, dr. Priscil menyampaikan pesan yang senada dengan dr. Tiwi sebelumnya, yaitu orangtua perlu terus belajar untuk anak, karena tidak semua keadaan perlu ditangani oleh dokter. Salah satunya adalah jika anak (atau anggota keluarga lain) mengalami luka.

Kalau dulu kita kenal kotak P3K atau Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, nah untuk keperluan yang lebih spesifik yaitu luka, yang harus siap sedia di rumah antara lain:

Continue reading

Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah

Setelah beberapa kali kehabisan tiket, akhirnya kesampaian juga saya mengikuti Parenting Class bersama dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS. atau lebih akrab disapa dengan dr. Tiwi. Beliau termasuk salah satu dokter anak yang aktif berbagi ilmu untuk edukasi, khususnya mengenai kesehatan anak dan MPASI dengan sasaran keluarga muda. Kali ini dr. Tiwi tidak membahas MPASI, melainkan Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah. Sesi dr. Tiwi ini merupakan sesi pertama dalam acara Parenting Class: Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah pada tanggal 19 Februari 2017 di RSU Bunda Menteng Jakarta.

Aktivitas edukasi yang dijalani oleh dr. Tiwi menurut beliau bertujuan menyampaikan hal-hal yang seharusnya diketahui oleh orangtua. Orangtua khususnya ibu adalah dokter yang utama untuk anak. Tidak semua kondisi kesehatan anak mengharuskan kunjungan segera ke dokter atau rumah sakit, apalagi rumah sakit justru merupakan tempat yang ‘menyeramkan’ karena banyak kuman ganas di sana. Juga tidak semua sakit yang dialami anak membutuhkan obat, karena obat hanya diberikan pada saat benar-benar diperlukan.

Slide awal yang ditampilkan oleh dr, Tiwi menjelaskan bahwa tubuh sudah punya pertahanan kekebalan tubuh terhadap serangan mikroorganisme yaitu berupa sistem pernapasan (selaput mukosa, sel ephitalia), pencernaan (selaput mukosa, asam dan basa, flora bakteri), dan kulit/mukosa (barrier fisik, kimiawi, maupun flora bakteri). Bekerjanya dengan cara menahan, mengidentifikasi, dan menghancurkan musuhnya.

Continue reading

Ulasan Komunikasi Produktif

Review Tantangan 10 Hari Materi Bunda Sayang #1 Institut Ibu Profesional

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Pertama, kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif. Dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa di antara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini. Tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham di mana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Dari Tantangan 10 Hari sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita:
a. Tahap Anomi: Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satu pun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.
b. Tahap Heteronomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.
c. Tahap Sosionomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.
d. Tahap Autonomi: Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak hanya berhenti pada tantangan 10 hari, terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita.

Continue reading

Kemudahan Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit dengan Mobile Skrining BPJS

Awal Februari ini BPJS Kesehatan mengadakan peluncuran aplikasi BPJS Kesehatan Mobile secara nasional, salah satunya diselenggarakan di kantor lama saya. BPJS Kesehatan Mobile ini memiliki fasilitas untuk skrining riwayat kesehatan yaitu dengan cara mendeteksi dini faktor risiko penyakit seperti diabetes militus, hipertensi, gagal ginjal, dan jantung koroner. Melalui aplikasi ini, kita dapat mengetahui kondisi kesehatan di mana saja dan kapan saja sehingga menghemat waktu.

mobile-skrining

Continue reading

Benarkah E-KTP Berlaku Seumur Hidup?

Januari kemarin seharusnya masa berlaku e-KTP saya berakhir. Mengingat dokumen yang satu ini cukup penting, pada akhir tahun lalu saya sudah siap-siap bertanya pada adik saya di kota di mana Kartu Tanda Penduduk alias KTP saya diterbitkan. Maksudnya minta tolong ditanyakan syarat untuk memperpanjangnya apa saja, dan kapan bisa mulai ke sana untuk mengurus langsung, atau apakah boleh diwakilkan. Kaitannya dengan mengatur minta cuti juga soalnya kalau memang harus datang sendiri. Adik saya membalas whatsapp dengan cuplikan edaran bahwa KTP yang dikeluarkan sejak 2011 sudah berlaku seumur hidup. Masih bisa digunakan sebagai identitas administrasi kependudukan yang melekat pada seseorang, tidak perlu diurus untuk perpanjangannya, kecuali kalau ada keterangan yang mau diubah.

Nah, saat melihat balasan itulah saya baru ingat bahwa dulu pernah baca juga broadcast tentang e-KTP berlaku seumur hidup. Malah saya ikut meneruskannya ke teman-teman dan grup lain yang saya ikuti, setelah mengecek kebenaran pesan tersebut tentunya. Kok bisa lupa ya, hehehe, faktor U nih mungkin.

Walaupun sudah mendapatkan jawaban, tetapi ketika suami saya ada kesempatan mudik duluan ke kota tempat kami terdaftar, sebagaimana permintaan yang pernah saya sampaikan ia menyempatkan diri ke kantor kecamatan. Selain tentang masa berlaku e-KTP, saya penasaran juga tentang KTP anak alias Kartu Identitas Anak (KIA) soalnya — tapi yang ini lupa ditanyakan, hehehe. Ternyata oleh petugas di sana malah ditawari kalau mau ganti KTP bisa tapi blankonya (atau bahan kartunya?) sedang habis jadi paling KTP lama ditarik, digantikan dengan surat keterangan sementara. Kalau tidak salah tangkap, malah tidak ada penjelasan tentang masa berlakunya yang sudah jadi seumur hidup. Wah, pilihan ditukar dengan surat keterangan malah kurang menarik bagi kami, soalnya kalau bentuknya kertas malah lebih susah disimpan dan dibawa-bawa, rawan lecek terlipat basah dll kan. Mungkin opsi ini memang bisa diambil kalau ada keterangan penting di KTP yang berubah ya.

Berikut ini saya sertakan publikasi dari Kemendagri tentang e-KTP yang dinyatakan berlaku seumur hidup meskipun masa berlaku yang tercantum dalam kartu sudah habis atau lewat tanggalnya.

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Bertanggung Jawab terhadap Hasil Komunikasi

☕🍪 Cemilan Rabu #2🍪☕
BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP HASIL KOMUNIKASI KITA
Bulan ini bagi teman-teman yang sudah bisa menyelesaikan tantangan 10 hari, akan mendapatkan badge yang bertuliskan
I’m responsible for my communication result.”
Artinya apabila hasil komunikasi kita dengan pasangan hidup, dengan anak-anak, dengan teman-teman di komunitas, rekan kerja, dan masyarakat sekitar kita tidak sesuai harapan, maka jangan salahkan penerima pesan, kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah strategi komunikasi kita.
Contoh kasus, saya pernah jengkel dengan assisten rumah tangga saya yang biasa dipanggil budhe. Berkali-kali diberitahu cara setrika yang benar, tapi hasilnya selalu salah. Kondisi seperti ini biasanya akan menyulut emosi kita ke penerima pesan. Maka saya harus segera mencari orang ketiga untuk cari solusi lain.
Saya ceritakan kondisi ini ke Pak Dodik, beliau hanya menjawab simpel, “Kalau sekali saja diberi tahu langsung paham, maka budhe itu sudah pasti jadi manajer sebuah bank, bukan kerja di rumah ini” (😀 beginilah salah satu gaya komunikasi pak Dodik).

Continue reading