Menyusui Sambil Tiduran Miring

Copas dari grup fb AIMI:

Apakah benar menyusui dengan posisi tidur miring (side-lying tidak diperbolehkan? Jika tidak diperbolehkan mengapa, jika diperbolehkan bagaimana caranya?

Menyusui sambil tidur miring (side-lying) DIPERBOLEHKAN. Bayi baru lahir ke dunia saja sudah diajari menyusu dengan posisi tidur tengkurap ala posisi IMD. Di berbagai literatur, posisi menyusui side lying atau tidur miring bahkan dianjurkan utk mereka yang baru saja menjalani operasi cesar. Sebagaimana SEMUA posisi menyusui, tetap ada syaratnya: pelekatan menyusui harus tepat. Apa pun posisi menyusuinya, yang penting pelekatan harus tepat. Itu yang SELALU kami tekankan ke semua member. Untuk posisi menyusui tidur miring, posisi pelekatan yang tepat berarti perut ibu harus menempel pada perut bayi, badan bayi seluruhnya menghadap ke badan Ibu (saling berhadapan), dan jangan lupa posisi tubuh ibu dan bayinya sama tinggi, kalau tidak ya tidak bisa melekat dengan baik. Detail tentang posisi dan pelekatan menyusui ada di dokumen grup (ini link-nya:https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/seputar-posisi-dan-pelekatan-menyusui/10151641563564778, gambarnya ada di album foto grup:https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.10152199207654778&type=1. Dengan pelekatan yg benar, itu akan mencegah hidung bayi tertutup payudara ibu, meminimalisir bayi tersedak, dan mencegah ASI mengalir ke mana2 termasuk ke telinga, dan sebagainya. Kuncinya, APA PUN POSISI MENYUSUINYA, PELEKATANNYA HARUS SELALU PAS:). Kalau aliran tidak pas, posisi apa pun bisa membuat aliran ASI-nya ke mana2, membuat bayi tersedak. Coba Anda bayangkan ketika menyusui dengan posisi duduk yang cradle hold atau mendekap. Sebetulnya posisi bayi sama saja kok dengan yang menyusui dengan tidur miring, seluruh badan bayi harus menghadap ke ibu, berarti bayi sepenuhnya miring kan? Sama dengan posisi menyusui sambil tiduran. Tidak ada bedanya. Bedanya hanya kalau cradle, tubuh bayi disangga tangan dan lengan ibu. Kalau di posisi tidur miring coba cari ganjal bantal atau selimut misalnya biar posisi sama tinggi. Tangan ibu juga tetap bisa menyangga tubuh bayi jika ingin. Jadi kalau argumennya menyusui dengan tidur miring ASI bisa masuk telinga atau bisa membuat tersedak ya dengan posisi cradle yang biasa digunakan dalam posisi duduk pun bisa demikian.

Menyusui dengan posisi tidur miring (side lying) direkomendasikan di berbagai literatur tentang menyusui di seluruh dunia. Bagi mereka yang tidak mendapatkan pelatihan khusus tentang menyusui dan berbagai detailnya memang banyak yang tidak memahami ini. Silakan Anda cek berbagai literatur tentang menyusui yang dibuat oleh berbagai lembaga internasional, baik lembaga formal negara (yang kami contohkan di sini adalah: American Acedemy of Pediatrics atau Asosiasi Dokter Anak Amerika Serikat yang menyarankan posisi ini setelah kelahiran cesarian:http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/breastfeeding/pages/Breastfeeding-After-Cesarean-Delivery.aspx. Atau sumber dari support grup menyusui yang sudah mendunia yaitu La Leche League (LLL): http://www.llli.org/faq/positioning.html. Atau coba cek sumber dari asosiasi menyusui di berbagai negara, salah satunya Australia: https://www.breastfeeding.asn.au/bf-info/early-days/breastfeeding-while-lying-down. Atau silakan baca website medis yang sangat banyak dijadikan referensi di AS: http://www.askdrsears.com/topics/feeding-eating/breastfeeding/rightstart-techniques/best-breastfeeding-positions. Terakhir, dan juga referensi utama para konselor menyusui yaitu modul pemberian asupan bayi yang jadi standar modul pelatihan konselor menyusui standar 40 jam sertifikasi WHO/UNICEF: http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241597494_eng.pdf (silakan cek Session 2: The Physiological Basis of Breastfeeding, halaman 15, Figure 9), di sana ada gambarnya juga dan ada catatan ttg bagaimana memposisikan ibu dan bayi agar tercipta pelekatan yang benar. Jika ibu masih baru dalam keadaan habis melahirkan, masih lemas, masih kelelahan, menyusui dalam posisi apa pun harus dengan pendampingan ya atau pastikan posisi bayi dalam keadaan yang aman. Posisi menyusui apa pun itu harus aman dan nyaman baik untuk ibu dan untuk bayinya. Jadi sekali lagi, jangan salahkan posisinya ya, selama dilakukan dengan pelekatan yang benar.

Suplemen DHA untuk Bayi, Perlukah?

Belum lama ini di grup TATC ada anggota yang menanyakan pola buang air besar bayinya yang bikin galau. Sewaktu ditanya apakah bayinya ASI eksklusif (karena usianya belum 6 bulan), jawabannya iya. Tetapi ketika obrolan semakin mendetil, akhirnya diketahui bahwa ibu ini memberikan ‘vitamin’ (maksudnya suplemen) untuk bayinya, yang ia peroleh dari bidan. Isinya DHA yang dipercaya mendukung kecerdasan. Padahal pemberian suplemen di luar indikasi tentunya termasuk ‘membatalkan’ status ASI eksklusif menurut definisi WHO.

Kali lain, di grup lain ada juga yang secara tidak langsung menyarankan penggunaan suplemen yang kandungan utamanya adalah DHA, untuk bayi anggota lain yang juga belum berusia 6 bulan. Itu juga dikasih sama dokter, katanya. Yah, 6 bulan ataupun lebih dari itu, seperlu apa sih ya suplementasi DHA? Amankah?

Cari-cari, ketemulah beberapa artikel berikut ini:

Produk susu formula, makanan bayi, maupun minuman ibu hamil dengan tambahan asam lemak dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakhidonat (AA), yang diberikan kepada bayi diyakini mampu membuat anak tumbuh lebih cerdas. Tidak mengherankan banyak orang tua yang berlomba-lomba memberi buah hatinya susu formula yang diberi tambahan minyak omega tersebut meski harganya cukup tinggi.

Sebaliknya, banyak ahli gizi dan kesehatan justru memperingatkan akan bahayanya menjejali bayi dengan berbagai makanan yang serba mengandung DHA/AA tersebut. Jika tidak hati-hati, anak yang diberi berbagai macam produk yang mengandung asam lemak esensial ini malah akan kelebihan DHA/AA.Bukannya menjadi cerdas, sang anak justru dapat mengalami gangguan kesehatan yang dapat membahayakan diri anak itu sendiri. Bahaya kelebihan DHA/AA inilah yang patut diwaspadai. Nah, apa saja bahayanya? Tidak ada salahnya kita simak uraian berikut.

Kapan DHA/AA dibutuhkan?

DHA yang termasuk dalam omega 3 merupakan asam lemak rantai panjang yang sangat dibutuhkan sejak janin dalam kandungan sampai setelah lahir. Berbagai penelitian membuktikan bahwa DHA dan AA penting untuk pembentukan membran sel, jaringan syaraf otak dan retina pada janin. Dengan kata lain, kekurangan DHA pada ibu yang sedang hamil dapat mempengaruhi fungsi penglihatan dan menghambat pembentukan dinding sel neuron sehingga mempengaruhi perkembangan otak. Akibat fatalnya sel-sel otak menjadi cepat mati dan tidak berfungsi.

Tingginya kebutuhan DHA untuk tumbuh-kembang janin ditunjukkan peningkatan DHA pada plasma ibu hamil mencapai 52%. Peningkatan ini jauh lebih besar dibanding peningkatan asam lemak esensial lainnya. Semakin tua umur janin dalam kandungan semakin tinggi kebutuhan DHA janin karena tumbuh kembang berlangsung semakin cepat. Tingginya kebutuhan janin ini menuntut suplai dari plasma ibu melalui transfer tali pusar penghubung plasma ibu dan janin. Semakin tua umur kehamilan maka semakin tinggi DHA pada tali pusar. Dr Dwi Putri Widodo, SpA(K), dokter spesialis anak subbagian neurologi bagian ilmu kesehatan anak FKUI, RSCM, menyatakan bahwa pada tahun pertama setelah kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan otak sangat pesat.Pada saat inilah bayi membutuhkan nutrisi optimal, yakni DHA/AA.

Lalu dari mana asam lemak ini diperoleh? Pada janin dan bayi yang baru lahir, sang ibu akan memasok kedua jenis asam ini melalui cairan plasenta atau Air Susu Ibu (ASI).Janin dan bayi yang sehat, dengan enzim desaturase dan elongase yang memadai, akan sanggup mengolah sendiri asam alfa linoleat dan asam linoleat menjadi DHA dan AA sehingga tidak banyak memerlukan tambahan DHA/AA dalam makanannya. Namun pada bayi prematur dengan berat badan di bawah normal (2500 gr) dan ukuran otaknya lebih kecil dari rata-rata, umumnya tidak memiliki enzim desaturase dan elongase dalam jumlah memadai, sehingga penambahan DHA dan AA dalam makanan benar-benar dibutuhkan.

Hati-hati kelebihan DHA/AA

Lalu, bagaimana dengan berbagai produk makanan bayi dan ibu hamil yang diberi tambahan DHA dan AA, yang saat ini membanjiri pasaran? Berbagai kemasan susu pendamping ASI, biskuit bayi, bubur bayi, minuman ibu hamil, dan susu untuk balita tersebut bahkan mencantumkan kandungan DHA dan AAdengan beragam konsentrasi.Haruskah banyak dikonsumsi?

Ketidaktahuan ibu akan kandungan DHA dan AA yang terdapat dalam susu formula ataupun makanan bayi, membuat kaum ibu memborong semua makanan yang mengandung komponen yang diyakini akan mencerdaskan anaknya. Padahal kalau tidak hati-hati, anak yang dijejali berbagai macam produk yang mengandung asam lemak esensal ini malah akan kelebihan DHA dan AA. Bukannya menjadi cerdas, justru bisa menghambat pembentukan prostaglandin dan tromboksan di dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan kekurangan zat renin yang berfungsi mengontrol ginjal.Kelebihan zat ini bisa menyebabkan darah lebih encer hingga masa pendarahan lebih lama dan sulit berhenti, serta menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Tentu ini sangat membahayakan jiwa anak jika suatu saat mengalami pendarahan.

Mengonsumsi makanan yang mengandung kadar DHA tinggi juga dapat mengakibatkan tubuh menggunakan simpanan energi yang ada untuk membakar lemak, sehingga akan menyebabkan tubuh kehilangan berat badannya.Dr Sri Nazar, Sp.A(K), dokter spesialis anak subbagian gizi dan metabolik bagian ilmu kesehatan anak FKUI, RSCM,menjelaskan bahwa kelebihan DHA/AA dalam makanan bayi justru bisa menyebabkan anak kehilangan daya imun tubuh. Anak dapat dengan mudah terserang penyakit.

Kandungan DHA/AA yang kini banyak ditambahkan dalam formula susu balita memang sangat dibutuhkan perkembangan otak. Namun, para ibu jga tak boleh gegabah hingga memberikannya secara berlebihan. Kendati kini banyak dijual susu bayi dengan tambahan formula DHA/AA, namun Dr Sri Nazar,SpA(K), menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan makanan pertama, makanan utama dan terbaik bagi bayi segera setelah lahir dan dapat secara tunggal memenuhi kebutuhan bayi hingga usia empat-enam bulan (ASI ekslusif). Dijelaskannya,makanan tambahan yang diberikan sebelum usia empat bulan dapat mengurangi produksi ASI. Sebaiknya, makanan pendamping ASI diberikan setelah bayi berusia empat bulan ke atas, dengan tujuan menambah masukan kalori untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang meningkat sesuai bertambahnya usia bayi. Sementara ASI sendiri sudah cukup mengandung DHA/AA yang baik untuk perkembangan otak anak.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun makanan perlu dipertimbangkan masak-masak karena pada bayi yang sudah besar dapat mensintesa DHA maupun AA sesuai dengan kebutuhannya, selama tubuh memiliki bahan asam alfa linoleat dan asam linoleat. Penambahan DHA dalam makanan tidak terlalu perlu, bahkan dapat memberikan efek samping yang cukup membahayakan. Jadi, cara yang lebih baik, aman, ekonomis, dan efektif sebenarnya dengan mengandalkan makanan konsumsi sehari-hari saja (food based) yang bnyak mengandung DHA/AA. Makanan sumber asam lemak esensial dan omega-3 terutama terdapat pada pangan hewani dan nabati laut seperti ikan lemuru, tuna, salmon, mackerel, tongkol, cakalang, cod, rumput laut, ganggang laut, dan lain-lain. Sedangkan pangan lainnya antara lain minyak nabati dan sayuran hijau.

Cerdas, Tidaklah Sekadar DHA/AA

Jose Batubara, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan agar para ibu bertindak lebih selektif karena penambahan DHA/AA pada makanan bayi hanya dibutuhkan bayi prematur. Lebih aman dan juga murah bila para ibu memperbanyak konsumsi ikan laut dan sumber makanan alami lain untuk memenuhi kebutuhan DHA dan AA keluarga. Apalagi, mencerdaskan anak tidak hanya bergantung pada AA dan DHA. Perhatian orang tua untuk memberi AA/DHA tidak akan ada gunanya, bila orang tua tidak asah asih asuh pada anaknya, tetap saja anak itu tidak akan menjadi pintar.

Nah, tidak perlu repot membeli produk makanan dengan harga tinggi agar anak menjadi cerdas bukan? Dengan makanan alami sehari-hari saja ditambah dengan pemberian ASI sdah cukup. Jangan lupa bhwa cerdas tida sekedar dengan DHA/AA, aspek psikologis dan agama juga penting.(nia-uli)

(Sumber: Sebuah tulisan pada Majalah Nikah edisi 12/I/2003)

http://herbaldankesehatan.com/2012/02/05/hati-hati-kelebihan-dhaaa/

Lagi,

Belum lama beredar artikel mengenai bahaya kelebihan Docosahexanoic Acid (DHA). Meski sejauh ini baru terlihat dialami masyarakat Eskimo dengan gejala berupa perdarahan, mirip vlek berwarna kebiruan di kulit, tak urung banyak juga orangtua yang mempertanyakan kebenaran kabar tersebut. Seperti diketahui, masyarakat Eskimo adalah pengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak dan ikan laut secara alami potensial mengandung asam lemak tersebut.

Meski begitu, mungkinkah kita dan anak-anak kita yang sehari-hari mengonsumsi susu ber-DHA dan mungkin ditambah lagi dengan suplemen DHA mengalami kelebihan dosis? Marzuki Iskandar, STP, MTP, menjawab, “Tubuh punya mekanisme sendiri untuk memformulasikan kebutuhan DHA. Misalnya saja, berapa pun banyaknya susu yang dikonsumsi ibu hamil, makanan yang dihasilkannya untuk janin atau ASI untuk bayinya akan tertakar dengan pas, tak kurang ataupun lebih.”

Namun begitu, Marzuki menganjurkan untuk tidak melakukan “pemborosan” DHA (dan tentu saja pengurangan pemenuhan kebutuhan DHA), sebab untuk itu memang ada angka yang sudah ditetapkan WHO, yaitu sekitar 20 mg/kg berat tubuh per hari. Sebagai ilustrasi, bayi dengan BB 10 kg, angka kebutuhan DHA-nya adalah 0,2 g/hari. Jadi sekiranya ibu-ibu menghitung bahwa bayinya sudah mendapat asupan DHA yang cukup dari ASI atau susu formula, dan sumber makanan lain, ya sebaiknya tidak perlu ditambah lagi.

DR. dr. Damayanti Rusli, Sp.A(K)., dari FKUI/RSCM, Jakarta., seperti yang pernah dimuat dalam rubrik Tanya Jawab Gizi tabloid nakita, menjelaskan, asam linolenat (Omega-3) dan asam linoleat (Omega-6) adalah asam lemak tak jenuh berantai panjang yang menggunakan enzim sama (elongase dan desaturase) untuk menghasilkan DHA (dari linolenat) dan AA (dari linoleat). Keduanya bersifat esensial atau tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, hingga harus ada asupan dari makanan. Tingginya kadar DHA dalam darah memang akan mengurangi pembentukan AA, yang pada beberapa kasus dilaporkan terjadi perdarahan atau hemolisis (pecahnya sel darah merah). Nah, di sinilah letak bahaya jika kadar DHA dalam darah terlalu tinggi. Oleh sebab itu, dalam mengonsumsi makanan perlu diperhatikan komposisi/perbandingan asam linoleat dengan asam linolenat, yaitu 5:1 sampai dengan 15:1. Sedangkan perbandingan DHA:AA antara 1:1 sampai 1:2.

Sumber asam linoleat antara lain minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak kapas, minyak kacang, minyakwijen, dan lain- ain. Sedangkan, sumber asam linoleat dan linolenat antara lain kacang merah, kacang kedelai, minyak kedelai. Orangtua sebenarnya tidak perlu kelewat cemas. Kasus kelebihan DHA seperti yang dialami orang Eskimo merupakan contoh ekstrem. Mereka mengonsumsi ikan setiap hari dalam rentang waktu yang sangat panjang karena alamnya memang mengondisikan demikian.

Sebaliknya, di luar kondisi ekstrem tersebut orangtua tak perlu khawatir apakah bayi mendapatkan DHA dalam jumlah yang cukup. Mengapa? Tak lain karena kebutuhan tersebut akan terpenuhi dari komposisi gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari.

SEMUA ADA DALAM ASI
Tumbuh kembang otak sejak kehamilan 6 bulan hingga anak berumur 2 tahun sedang pesatpesatnya. Sampai umur 1 tahun, 60% energi dari makanan bayi digunakan untuk pertumbuhan otak. Karenanya bayi membutuhkan banyak protein, karbohidrat, dan lemak, juga vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, seng, termasuk di dalamnya DHA. “Semua kebutuhan tersebut sudah tersedia lengkap dalam ASI,” kata Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi., dari Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUIRSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. “Jadi, selama orangtua bisa memberikan ASI yang cukup kepada bayinya, maka tak perlu khawatir akan kekurangan atau kelebihan zat penting ini.

Karena takaran yang terkandung dalam ASI sudah benar-benar pas sesuai kebutuhan bayi.” DHA adalah zat penting yang sangat dibutuhkan sebagai komponen utama pembentuk otak dan retina mata manusia. Selain berperan penting dalam mengoptimalkan fungsi membran sel otak dan fungsi retina mata serta sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel-sel saraf otak. Lebih jauh DR. Moesijanti Yudiarti Endang Soekatri, MCN., dari PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) menjelaskan bahwa DHA adalah sumber energi dan pelarut vitamin selain sebagai pembentuk sel-sel otak. Meski sel-sel otak sudah terbentuk sejak dalam kandungan dan jumlahnya terus bertambah mencapai milyaran di usia 2 tahun, belum ada hubungan antar selsel tersebut. Hubungan antarsel inilah yang membentuk rangkaian fungsi. Sementara kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antarsel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) dari lingkungan serta nutrisi. “Karenanya orangtua harus benar-benar memberikan yang terbaik untuk bayinya,” Soedjatmiko.

Seperti diketahui, sel otak tersusun atas 50% lemak dan 50% protein. Lemak yang terdapat dalam jaringan sel otak adalah LCPUFA atau asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda yang di dalamnya terkandung DHA sebanyak 40%. Sementara jenis bahan pangan yang secara alami kaya akan asam lemak esensial ini adalah ikanikan yang terdapat di perairan laut dalam seperti tuna, salmon, makarel, hering, dan sebagainya. Bayi-bayi yang mendapat ASI cukup tentu tidak kesulitan mendapatkan zat yang sarat manfaat ini. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak mendapat ASI? “Kalau memang sangat terpaksa tidak bisa memberikan ASI, maka susu formula yang tersedia sudah diformulasikan untuk mencukupi kebutuhan tersebut,” kata Moesijanti. Setelah 6 bulan, bayi sudah bisa dikenalkan pada makanan-makanan lain yang mengandung asam linoleat dan linolenat. Dengan demikian apa yang dibutuhkannya pun dapat terpenuhi.

Sumber: Nakita

http://www.balita-anda.com/ensiklopedia-balita/640-kebutuhan-dha-pada-bayi.html

DHA (Asam Dokosaheksaenoat) adalah asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang Ώ-3. DHA merupakan lemak utama pembentuk otak, retina mata dan jantung. DHA sangat diperlukan terutama pada periode perkembangan otak yang sangat cepat (selama hamil – 18 bl setelah kelahiran). DHA membantu bayi untuk mengkoordinasikan antara mata dan tangan, mengembangkan kemampuan motorik serta meningkatkan focus / perhatian. DHA juga membantu bayi untuk tidur dengan lebih nyenyak.

Saat ini banyak produk makanan dan minuman untuk anak yang mendapatkan tambahan DHA. DHA sebenarnya hanyalah komponen terkecil dari asam lemak. Tubuh anak pada dasarnya bisa membuat sendiri sejauh ia mengonsumsi asam lemak tak jenuh atau asam linolenat dan asam linoleat sebagai prekursornya.
Asam linolenat (Omega-3) dan asam linoleat (Omega-6) adalah asam lemak tak jenuh berantai panjang yang menggunakan enzim sama (elongase dan desaturase) untuk menghasilkan DHA (dari linolenat) dan AA (dari linoleat). Keduanya bersifat esensial atau tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, hingga harus ada asupan dari makanan. Sumber asam linoleat antara lain minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak kapas, minyak kacang, minyak wijen, dan lain-lain. Sedangkan, sumber asam linoleat dan linolenat antara lain kacang merah, kacang kedelai, minyak kedelai.
DHA yang diperlukan oleh balita dipenuhi dari air susu ibu selain itu juga dapat diperoleh dari asam-asam lemak esensial, dari nabati dan hewani (telur, kedelai, ikan dan produk olahannya termasuk minyak ikan) yang dikomsumsi ibu sejak ia hamil. Bila ibu pada saat hamil rajin mengkomsumsi lemak esensial ini, pembentukan DHA dan AA pada bayi akan terbentuk dengan sendirinya karena asam-asam lemak esensial ini merupakan perintis DHA dan AA. Ensim yang berfungsi untuk proses biosintesa asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia di sistem syaraf pusat dan hati di janin dan bayi.
British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO(Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur.
Sedangkan Canadian Joint Working Group and US committee dan American Academy for Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi, karena keterbatasan pengalaman klinik dan saat ini sedang dilakukan penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan hasil bermanfaat tetapi banyak penelitian lain menunjukkan tidak terbukti manfaatnya untuk kecerdasan bayi.
Sampai sejauh ini, memang tak ada keharusan bagi orang tua untuk memberikan susu dengan tambahan zat ekstra tersebut dan juga tak ada larangan karena memang tidak berbahaya. Toh, jika kandungan tersebut tidak digunakan oleh tubuh, maka akan terbuang dengan sendirinya. Apalagi risiko kelebihan ini kecil kemungkinannya terjadi karena kadarnya sudah diperhitungkan. Lain hal kalau kandungan tersebut dikonsumsi dalam bentuk suplemen misalnya, risiko kelebihan bisa saja terjadi.
Orangtua sebenarnya tidak perlu kelewat cemas. Kasus kelebihan DHA seperti yang dialami orang Eskimo merupakan contoh ekstrem. Mereka mengonsumsi ikan setiap hari dalam rentang waktu yang sangat panjang karena alamnya memang mengondisikan demikian.
Sebaliknya, di luar kondisi ekstrem tersebut orangtua tak perlu khawatir apakah bayi mendapatkan DHA dalam jumlah yang cukup. Mengapa? Tak lain karena kebutuhan tersebut akan terpenuhi dari komposisi gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari.
Jumlah DHA yang direkomendasikan oleh WHO/FAO adalah 20 mg DHA per kg berat bayi. Bila bayi rutin mendapat ASI maka DHA yang dikonsumsi sudah cukup untuk memenuhi standart WHO/FAO yaitu sekitar 21 mg DHA per kg berat bayi.
Yang perlu dimengerti, kandungan tambahan ini hanya akan efektif berfungsi bila bersinergi dengan zat gizi lainnya. Misalnya kandungan AA-DHA akan berfungsi baik bila bersinergi dengan zat besi dalam pembentukan otak. Jadi yang terpenting dari makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah zat gizi utamanya, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Jika kebutuhan dasar gizi sudah tercukupi, maka zat ekstra ini baru akan terasa manfaatnya. Disisi lain yang perlu diperhatikan adalah perbandingan DHA dan AA. Tingginya kadar DHA dalam darah memang akan mengurangi pembentukan AA, yang pada beberapa kasus dilaporkan terjadi perdarahan atau hemolisis (pecahnya sel darah merah). Nah, di sinilah letak bahaya jika kadar DHA dalam darah terlalu tinggi. Oleh sebab itu, dalam mengonsumsi makanan perlu diperhatikan komposisi/perbandingan asam linoleat dengan asam linolenat, yaitu 5:1 sampai dengan 15:1. Sedangkan perbandingan DHA:AA antara 1:1 sampai 1:2.

Yang ini pada susu, tapi masih nyambung lah

Kompas.com - Susu formula atau susu pertumbuhan saat ini dimodifikasi sedemikian rupa supaya makin mendekati ASI. Salah satu zat gizi yang banyak disuplementasi adalah asam arachidonic (AA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) yang diklaim akan meningkatkan kecerdasan bayi.

Banyak orangtua yang menganggap bahwa susu yang diperkaya dengan AA dan DHA sudah pasti akan membuat buah hati mereka lebih cerdas.

Menurut dr.Yoga Devaera, Sp.A dari divisi nutrisi dan penyakit metabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, sebenarnya para ahli belum menyimpulkan apakah penambahan zat-zat tersebut bisa meningkatkan kecerdasan.

Data-data penelitian juga belum konsisten menunjukkan manfaat jangka panjang suplementasi AA dan DHA.

“Pada kadar tertentu memang bisa menyebabkan perkembangan anak menjadi lebih baik. Tetapi belum jelas juga berapa yang sebenarnya dibutuhkan anak,” katanya dalam acara media edukasi teknologi pengemasan susu cair yang diadakan Tetra Pak di Jakarta (24/10/12).

Yoga menjelaskan bahwa kecerdasan anak dipengaruhi oleh tiga hal, yakni potensi genetik, nutrisi, serta stimulasi yang diberikan orangtuanya.

“Yang pasti kandungan AA dan DHA dalam ASI sangat tinggi, sementara di susu sapi tidak ada. Karena itu kebanyakan susu untuk bayi disuplementasi zat tersebut supaya mirip ASI,” paparnya.

Sementara itu, menurut Yoga, penelitian mengenai manfaat zat besi terhadap kecerdasan bayi sudah jauh lebih pasti.

“Kekurangan zat besi pada usia bayi bisa menurunkan tingkat kecerdasan anak,” imbuhnya.

http://health.kompas.com/read/2012/10/25/09340850/Benarkah.DHA.dalam.Susu.Mencerdaskan.Otak.

[Kliping] Bahayanya Third-Hand Smoker

Wednesday, September 24, 2014

Stop Merokok Demi Anak

Ingin tahu apa lagi kejahatan rokok? Simak tulisan berikut yang memuat wawancara dengan saya di http://health.detik.com/read/2014/03/24/105635/2534413/763/terpapar-residu-asap-rokok-ayahnya-bayi-ini-meninggal-kena-pneumonia

Terpapar Residu Asap Rokok Ayahnya, Bayi Ini Meninggal Kena Pneumonia

M Reza Sulaiman – detikHealth

Senin, 24/03/2014 11:07 WIB

Jakarta, Jangankan menghirup asap rokok, menghirup residu atau endapan racun dari asap rokok juga berbahaya bagi anak. Seorang mantan perokok aktif mengaku telah mengalaminya sendiri, sang anak meninggal meski ia selalu merokok di luar rumah.

Pengakuan tersebut disampaikan seorang pria di sebuah forum online. Pria yang menggunakan akun 05072013 tersebut mengisahkan, anaknya meninggal akibat pneumonia atau radang paru-paru akut di usia yang masih sangat muda, yakni 1 tahun. Sama seperti kisah tentang Keanu, pengakuan pria ini juga tersebar luas di jejaring sosial.

“Gua mantan perokok gan (perokok aktif selama 18 thn). Anak gua cewek hanya bisa genap usianya 1 tahun 10 hari, wafat di vonis radang paru-paru akut (pneumonia) krn ayahnya ngerokok. bukan ngerokok di sebelah anaknya (gua klo ngerokok pasti keluar rumah), tetapi menghirup racun-racun nikotin dari baju ayahnya saat kondisi menggendongnya setelah barusan merokok :sedih,” demikian kutipan pengakuan sang ayah, yang kepada detikHealth tidak bersedia mengungkapkan identitas aslinya.

Kisah-kisah semacam ini dinilai tidak terlalu mengejutkan bagi dokter yang juga penulis buku kesehatan anak, dr Arifianto, SpA. Menurut dokter yang akrab disapa dr Apin ini, orang tua yang merokok tetap membuat anak berisiko terkena penyakit paru-paru meski sudah membatasi untuk tidak merokok di dalam rumah.

“Asap rokok itu efeknya sampai 10 meter. Jadi walaupun di luar rumah tetap ada risiko asap masuk ke dalam,” kata dr Apin saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (24/3/2014).

Risiko tersebut merupakan efek dari residu racun rokok, yang menempel di baju maupun benda, gorden, seprai, dan sebagainya. Seseorang yang terpapar racun rokok dengan cara demikian disebut sebagai third hand smoker. Bahayanya sama seperti second hand smoker, yang oleh orang awam sering disebut perokok pasif.

“Tetap saja (berisiko) biar merokok di kantor atau di perjalanan tetapi baru masuk rumah langsung peluk, gendong, atau cium anak tanpa mandi, bersih-bersih dan sikat gigi dahulu,” ungkap dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi perokok pada tahun 2007, 2010, dan 2013 berturut-turut meningkat dari 34,2%; 34,7% dan akhirnya 36,3%. Tak hanya itu, dari 92 juta orang perokok pasif, 43 juta di antaranya anak-anak dan yang paling menyedihkan dan memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.

http://arifianto.blogspot.com/2014/09/stop-merokok-demi-anak.html

=====================================================================

Papa Suka Merokok, Paru-paru Keanu Sama Rusaknya dengan Perokok Aktif

M Reza Sulaiman – detikHealth

Senin, 24/03/2014 10:03 WIB

Jakarta, Pengakuan tentang bahaya asap rokok pada anak beredar di dunia maya. Seorang balita mengalami masalah paru-paru karena ayahnya merokok. Hasil rontgen menunjukkan, paru-paru anak tersebut sama rusaknya dengan perokok aktif. Wah kok bisa?

Berita tersebut beredar di media sosial Path, Instagram dan juga Twitter. Seorang ibu dengan nama Dinda Lazuardi mengisahkan bahwa anaknya, Keanu (2), mengalami masalah di paru-paru. Dinda menuduh kebiasaan merokok sang suami sebagai penyebabnya.

Astagfirullah..ternyata ada masalah kecil di paru2 keanu dan hrs mulai pengobatan 6 bln! Hasil rontgen paru keanu sama kya perokok aktif! Papahnya selalu ngeroko dkt anak2 pdhl udh sering diomongin ratusan kali!!” demikian potongan postingan Dinda di Path.

Potongan kisah tersebut tersebar luas di berbagai jejaring sosial. Di situs microblogging twitter, komunitas-komunitas anti merokok seperti @BebasRokokID dan @projectJernih juga turut me-retweet screen-shot dari akun Path Dinda tersebut.

Beberapa orang mungkin menganggap kesaksian ini berlebihan, namun tidak demikian halnya dengan dr Nastiti N Rahajoe Sp.A(K). Menurut pakar penyakit paru pada anak ini, secara umum memang balita dan bayi lebih rentan terhadap penyakit apapun, termasuk penyakit akibat asap rokok.

“Balita kan daya tahan tubuhnya belum sempurna, imunitasnya juga, makanya dampaknya bisa lebih besar daripada ke orang dewasa,” papar dr Nastiti, ketika dihubungi detikHealth dan ditulis, Senin (24/3/2014).

Sementara itu, dr Darmawan B. Setyanto, Sp.A(K), ahli pernapasan anak dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa sebenarnya batuk atau sesak di dada itu memang tidak semata-mata akibat asap rokok. Namun ia tidak memungkiri bahwa gangguan ini bisa dipicu oleh efek tidak langsung dari asap rokok.

“Asap rokok itu merusak dinding saluran napas. Sehingga memudahkan kuman-kuman penyakit masuk ke dalam paru-paru atau saluran napasnya. Kuman TB (Tuberculosis), bronkitis atau bisa menyebabkan radang di tenggorokan,” papar dr Darmawan.

Asap rokok orang lain (AROL) telah terbukti berbahaya bagi orang lain. Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2010 menunjukkan terdapat sekitar 92 juta orang perokok pasif, terdiri dari 62 juta orang perempuan dan 30 juta orang laki-laki. Sementara itu, 43 juta anak-anak terpapar rokok setiap harinya, dan yang memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.

======================================================================

Surat terakhir buat kaka

Ka, mamih ga tau mau nulis apa tentang kaka. Mamih masih belum percaya kaka kembali lagi ke Allah. Mudah2an dengan cara mamih nulis ini bisa ngobatin kekosongan hati mamih.

Ka,

Mom nunggu kaka ada di rahim mom ampir setaun, yup 11bln. Mom sama pap sabar menunggu, apalagi dari kita yang awalnya satu atap, trus jd misah kota kita tetep berusaha. Awal-awal nikah sama pap, mom kena vertigo, dan itu mom kosumsi obat terus2an. Nikah sama pap, resign dari kantor rehat karena vertigo dan kembali kerja lagi, kita tetep usaha. Akhirnya pap di Bandung mom di JKT, dengan insentisas ketemu yang kadang 2minggu sekali ato sebulan sekali.

Ka,

Haid mom ga pernah telat, makanya pas tau telat 3hari rasanya kaya ga percaya, iya gt mom hamil ato kecapean biasa. Kantor mom yang lumayan jauh sebulan sebelum hamil ditempatin di deket rumah, yang ga perlu cape diperjalanan mungkin ngebantu rahim mom jadi bekerja dengan bagus. Pas tau telat, mom ke Bandung kabarin pap. Jangan tanya gimana perasaan kita pas tau alat tes kehamilan menunjukan 2 garis merah.

Ka,

Selama hamil, alhamdulilah mom dikasi syukur sama Allah menikmati yang namanya mual dasyat. Masuk makanan ato air sedikit langsung muntah. Di kantor juga sama, padahal kamar mandi itu dilantai bawah. Alhamdulilah mom ga pernah ijin ga masuk kerja sampai kaka lahir, sekali itu pas om Wiwip nikah, itu juga hari sabtu yang ga padat kerjaannya. Pas bulan ke 7 USG di bidan dan bilang BB kaka kecil, dan iseng nanya apa bener klo minus besar (kurleb -9) itu perlu caesar dan ga boleh normal, mom sama pap kaya kesamber geledek. Kami berencana normal, dan ga nyiapin duit untuk caesar dari awal. Tapi kata pap, yang terbaik buat mom sm kaka, kalo perlu caesar ya gpp, pap akan tambah giat bekerja. Giat bekerja dalam arti ga ketemu kita sering2, ktm cm sebulan sekali.

Ka,

Karena tau mau caesar, kita pilih tanggal tapi tetep di sesuain dengan minggu aman klo lahir. Kaka lahir dengan nama FATHISYA QUEENA MIKAILA (ratu pertama dan pelengkap pembawa rizki) pada tanggal 10 November 2010 dengan BB 2.8 panjang 47cm jam 8 pagi. Mom tenang banget pas hari H karena sudah byk denger cerita kalo di anestesi harus tenang, bla bla bla. Tapi kenyataan pasca melahirkan yang bikin mom shock. Karena rujukan dari bidan rumah sakit pun ga kaya rumah sakit ibu dan anak biasa. Tapi kerjaan mereka rapih. Setelah melahirkan mom blm ktm kaka, cm mantau dari foto2 pap sama tante2 kaka. Besoknya baru ketemu kaka dan nyusuin kaka, oooh ga susah sama sekali, kolestrum pun kaka dapat. 2hari di rumkit kita balik ke rumah bidan, dan di bidan kita dilepas sama sekali. Mom sama pap gantian ganti popok kaka, dan mom yang harus nyuci popok klo kaka pup ke kamar mandi dengan kondisi jaitan yang belum kering itu kaya…. (Isi sendiri ka).

Ka,

Kaka tumbuh dengan pesat, dari bayi kecil menjadi bayi yang pipinya chubby sampai kaka wafat. Mom kembali bekerja, dengan tetap kasi ASIX ke kaka, yup pompa di pantry bersama orang2 kadang bapak2 yang lagi makan siang. Cuma karena keadaan yang ga memungkinkan, karena uti jadi sering sakit, tensinya suka naek, mom ga tega dan memutuskan resign disaat kaka mau MPASI dengan memasak sendiri tanpa membeli makanan instant.

Ka,

Kalo cerita sama temen2 mom, mom ga pernah bilang kaka ga bs diatur lah, kaka nakal lah, ga! Karena klo ngucapin itu secara ga langsung doa dari orangtua ke anaknya. Mom selalu bilang ” kaka, yang pinternya kelebihan “. Kaka merangkak di 9bln, tanpa babywalker samsek. Kaka bisa jalan di 12bln. Inget pas mom sama pap ngajak kaka ke Bali, buat rayain ulangtaun kaka. Kita komit, ngajak kaka pas kaka udah bisa jalan. Alhamdulilah kesampean. Udah bisa ajak kaka naek pesawat, udah ngajak kaka liat pantai meski takut, ke kebun binatang yang mom bilang paling bagus, tapi katanya Malang juga bagus nak, dan rencananya bulan depan mau ke Malang kan?

Ka,

Barengan sama kaka lancar jalan, lancar juga bicara kaka. Mom komit ga boleh ngajarin kaka ngomong cadel, nakut2in kaka sesuatu biar nurut. Ga! Makanya mom bangga kaka jadi sosok yang pintar, ngerti, nurut dan pemberani. Apalagi kalo liat yang seumuran kaka ngomongnya belum selancar kaka itu bikin mom bangga sama kaka. Anak mom emang paling pintar.

Ka,

Dari panggilan ke mom sama pap, dari awal enyim sama ayah, akhirnya kaka bisa manggil mamih sama papih itu udah bikin kita seneng. Kaka jarang nangis, selalu bikin mom marah dengan kekonyolan kaka, selalu ketawa kalo abis ngelakuin yang bikin mom marah.

Ka,

Ntah sebulan sebelum kaka ninggalin mom, ada perasaan aneh yang jadi tanda tanya. Kaka ga mau dipegang sama orang deket kecuali orang rumah, selalu bilang ” mau sama mamih”. Kaka mulai sering batuk pilek, ilang timbul. Nafsu makan jg on off dari kaka setaun. Pas ulangtaun pernikahan mom sama pap yang ketiga, kita ajak kaka ke Sukabumi, nemenin pap kerja. Kaka seneng banget bisa berenang di kolam ga mau selesai. Dapet temen baru lagi. Pulang dari Sukabumi ke Jakarta lanjut Cirebon. Kaka sehat, ga nunjukin kalo sakit. Cuma batuk aja kalo malam.

Ka,

Pertengahan april mom nyoba ke dsa, ngecek kenapa kaka klo batuk pilek ilang timbul, klo kaka panas kenapa cuma kepala, telapak tangan, dan telapak kaki tapi suhu normal, trus kulit kaka suka ga mulus. Ada bentolan merah yang kadang ilang sama timbul. Dokter bilang kaka alergi. Apalagi alergi susu sapi, klo susu sapi mom udah tau, karena kalo nyoba UHT pasti kaka pupnya lgs ngaco. Tapi baru tau kalo mom jg harus puasa dairyfood, semua yang dari susu ga boleh dimakan karena mom masih nyusuin kaka. Seminggu berselang kaka masih batpil. Mom inisiatif nebu kaka, 3x nebu berturut2, katanya udah mendingan tapi dibilang dahak kaka kentel udah nutupin jalan ke paru2, tapi sekarang udah enakan tinggal yg di bawah leher. Abis nebu kaka jg belom sembuh, obat abis mom balik ke dokter lagi, dikasi obat lagi dan disuruh nebu. Dokter bilang juga udah bersih. Nebu 2x abis itu kita ke Bandung. Maenan kaka udah dibawa ke sana semua. Sambil nunggu obat abis juga. Pohon depan rumah kita tebang abis biar matahari bisa masuk tanpa permisi ke rumah.

Ka,

Seminggu sebelum kaka ninggalin mom, kita nginep di rumah tante mom, mbah nya kaka sampai hari minggu karena pap keluar kota. Oia ka, pap juga udah berhenti rokok loh, mom bangga sama pap, bisa ngalahin egonya dengan berhenti jadi peroko aktif yang rokonya ga pake filter itu. Hari minggu tiba2 kaka panas tinggi banget, tapi tetep mo kaka sakit gimana juga kaka tetap ceria, ketawa2 ga nangis ato rewel. Dijemput pap, langsung pulang kerumah. Panas kaka on off. Salah kita, kita udah pake masker karena kita bertiga kena flu semua, tapi tidur tetep bertiga.

Ka,

Hari selasa pas pap ulangtaun, mom punya ide makan diluar. Rencananya bareng sama tante2nya kaka, tapi karena tante dede lg UAN, ya ga jadi. Terus karena kita lagi sibuk pindah KTP ke rumah kakek, ya udah ajak om Yogi adiknya pap makan2. Sempet kaka diam di mobil, tapi pas mom tanya kenapa kaka cm senyum. Mom seneng kaka ketawa2 pas kita makan malam, di foto kaka begitu manja sama mom, dan itu jadi foto terakhir kita.

Ka,

Pulang dari makan, kaka tidur ga nyenyak. Akhirnya mom ikut begadang juga. Keesokan hari kaka udah kaya biasa aja, pagi2 jalan pagi sama pap naek sepeda sambil disuapin pap, mom beresin rumah. Ya biasa aja. Cuman karena mom ga tidur jadi rada ngdrop badannya. Pas pap tinggal kerja, kaka mulai ngerasa ada yang ga enak di badan ya? Kaka mulai kaya kesakitan, manja ga mau diturunin. Mom bingung ka, apalagi kaka minta naek bajay. Bandung ga ada bajay kan ka? Akhirnya setelah jalan dpn rumah mom mutusin buat nyewa becak muterin komplek. Disitu kaka udah lemes, diem aja. Mom tanya mana yang sakit kaka diem aja. Sore pas pap pulang kerja, kita langsung bawa kaka ke dokter klinik, yup mom lagi ga megang uang banyak ka. Kata dokter kaka kena brontitis. Langsung mikir kenapa kaka batuk kalo malem, trus kaka ga bisa gemuk2. Disitu muka kaka udah pucet. Masya Allah nak, mom ga pernah liat kaka kaya gitu sebelumnya. Pulang ke rumah kaka ceria tapi lemes, makan minum obat abis itu muntah. Muntah ketiga kali hari itu.

Ka,

Pas mom ngedenger kaka napas cepet, detak jantung kaka cepet, dan kaka diem aja, mom bingung. Atas saran mamem, mamanya tante delin, mom langsung bawa kaka ke rumah sakit. IGD nak, serem bayanginnya. Disitu kaka langsung dibantu kasi oksigen sama dokter jaganya. Ya, mom tau kaka udah trauma sama selang napas itu karena nebu yang kemaren. Kaka berontak, tapi muka kaka tambah pucat. Apalagi pas dokter bilang kaka harus dirawat diruang ICU khusus anak. Masya Allah nak, mom sama pap ga tau kudu gimana. Pas tanya ruangan dan harga kamar plus obat2an pengen pingsan denger harganya apalagi dikasi tau kamar yang tersedia cuma VIP. Sampai bilang, dok kami ga sanggup dengan harganya. Akhirnya dokter nyaranin kasi rujukan ke rumah sakit lain. Alhamdulilah ada om Yogi, dia yang mondar mandir cari kamar kosong di rumah sakit lain. DP yang harus dilunasi bikin kami shock. Tapi ngeliat kaka yang berontak trus tenang pas oksigen masuk terus berontak lagi. Dokter jaga bilang detak jantung kaka cepet ga wajar kalo anak bayi segini. Akhirnya ada teman yang udah kami anggap sodara, meminjamkan uang (u know who u are). Kami memutuskan kaka ditangani disitu apalagi kabar dari om Yogi semua kamar rujukan penuh.

Ka,

Pas kaka diinfus, kaka cuma bilang “mih, sakit ya?” tanpa tangisan ato teriak pas jarum masuk. Kaka dibawa ke ICU mom cuma bisa tenangin kaka, tapi mom nyesel ga sempet meluk kaka, cium kaka pas kaka mo masuk ruangan. Dan baru tau mom sama pap ga bs ktm kaka sesering mungkin. Jam 12 malam kaka masuk ruangan, ga lama mom sama pap dipanggil dokter jaga yang bilang kaka butuh alat bantu buat nafasnya, karena kaka mulai biru bibir dan kuku kaki karena kurang oksigen. Masya Allah nak, liat kaka berontak gitu mom pengen bawa kaka kabur aja. Dikasi tau harga mesinnya kita udah iya2 aja trus tanda tangan form. Sejam berselang, dokter anak yang malam manggil kita. Yup, kita dimarahin ka, pas disuruh ceritain kronologis kaka sakit. Masya Allah, mom sama pap bingung, kaka pernah keliatan sakit, kaka sehat2 aja,  kaka ceria, kaka makin pinter dibilang kaka kena Broncopneunomia akut (BP). Sejenis peradangan di paru2, jadi paru2 kaka ga bs bekerja maksimal karena ketutup lendir dan virus bakteri apalah itu. Sempet ditanya siapa yang ngeroko dirumah, mom bilang ga ada, bapaknya ngeroko ga pernah didepannya, dan udah berhenti meski baru sebulan. Pengen pingsan pas dokter bilang ini ga mungkin baru, pasti udah lama sakitnya. Masya Allah dok, kalo kita tau dari awal pasti kita udah berobat, anaknya aja ceria gitu, pucet sama rewel pas mo dibawa kerumah sakit aja. Sekilas liat kaka diem di tempat tidur dibelakang kita pas dipanggil dokter itu rasanya kaya.. Ah sudahlah. Kaka udah disana diem, mata setengah melek, selang ada di mulut, hidung, infus kanan kiri. Sejam kemudian mom dipanggil buat tanda tangan transfusi darah karena HB kaka rendah banget. Mom cm bisa kasi semangat ke kaka yang diem karena obat tenang, karena kata dokter kaka berontak terus.

Ka,

Hari kamis siang pas jam besuk dan itu cuma sejam, mom sama pap gantian nemuin kaka. Ya Allah nak, maafin kami ya, kami ga bisa apa2. Kaka nunjukin kalo dy minta tolong, dy gerakin semua infus dan ikatan di kedua kakinya. Mom ga kuat liat kondisi kaka. Masya Allah. Mom cuma berusaha senyum kasi semangat di depan kaka, Alhamdulilah kaka masih ngerespon, mom nyuruh kaka salam chibi pun kaka masih bisa dengan gerakin tangan meskipun tangan penuh infusan dan tranfusi. Mom ajak nyanyi kaka jg masih ngerespon, oia di mulut kaka dikasi plastik gt, karena kaka gigitin bibir kaka ampe bedarah. Mom sempet ngomong ” kaka mau nenen?” Kaka ngangguk. ” Kaka bau asem, belom mandi ya? ” Kaka ngangguk. Satu persatu orang yang masuk liat kaka keluar ruang ICU langsung nangis. Semua orang ga ada yang nyangka. Doa terus kami panjatkan nak. Jam besuk kedua kita ketemu kaka, cuma disitu kaka ga berontak lagi kaya tadi siang. Mom sempet minta maaf sama kaka “maafin mamih sama papih ya ka?” Kaka ngangguk. Mom suruh “mana mata genitnya?” Kaka kedipin mata. Keluar dari situ kami ga tenang, pas malam mencoba nelp ke dalam apa kaka udah tidur, kata orang dalam belum tapi ga segelisah kaya tadi. Gimana mau tidur, kaka biasa tidur sama mom, selalu nenen kalo mo tidur, sekarang disuruh tidur sendiri di ruangan yang asing.

Ka,

Hari jumat kita nunggu dipanggil dokter. Karena kata mereka kalo ga dipanggil berarti aman. Ruangan kita cuma dibatasin tembok ka, dan ada celah kecil yang nunjukin alat2 kaka. Mom tau kaka kalo ga tenang, karena tiang2 itu goyang. Dokter datang jam 9 pagi, pas mom ngintip dokter ko mukanya tegang gitu, ya Allah kak itu rasanya pengen tau kenapa. Akhirnya dokter manggil, ngasi tau lah ini itu. Dokter bilang virusnya udah nyebar ke semua, anti biotik yang dikasi ga bereaksi, obat panas pun sama, ampe yang dimasukin lewat dubur juga ga bereaksi, udah nyerang ke pengatur suhu badan kaka di otak. Obat tenang pun sama. Diliat dari tempat tidur mata kaka ditutupin kasa, mom tanya karena mata kaka ga tidur takut kering kata dokter. Panas kaka ga turun2 ampe 41 derajat. Dokter inisiatif mo kasi asi nyoba apa kaka bereaksi dan turun ga, iya mom tetep mompa dan nitipin asi sebelumnya kaka puasa biar paru2nya bersih. Dokter nunjukin hasil lab pas kaka datang sampai kaka dirawat. HB kaka udah normal berkat tranfusi, tapi darah putih kaka tinggi banget, jadi makanin darah merah yang suplai buat oksigen ke otak. Bakteri dan virus kaka banyak banget, maafin mom sama pap ya ka, ga tau itu bakteri sama virus darimana, yang mom ngerti ada virus dari rokok juga! I hate ciggarate or smoker!!!! Dokter cuma bilang harapannya tipis, semoga anak ibu bisa bertahan.

Ka,

Mom udah keilangan arah ka, ga ngerti mo ngapain selain berdoa dan memohon ampun dan semoga diberi kesempatan kedua. Kerabat, sodara sampai temen sma pap datang ga henti2 buat kasi support. Kung juga datang, sengaja ijin meeting buat ke Bandung. Apalagi mom tiba2 keluar flek lagi, aaaah sebel. 10 menit sebelum jam besuk dibuka dokter panggil mom sama pap. Dan melihat pemandangan yang selama ini kami liat di sinetron terjadi di depan mata. Kaka terbujur diam, suster2 neken dada kaka supaya kaka bertahan. Itu rasanya kaya, …

Masya Allah,

Mom cuma diam terpaku, ngeliat kaka dibantu suster, ngeliat mesin itu kadang flat kadang muncul detak jantung. Ngeliat mesin itu nunjukin angka 0 dan pas angka di mesin nunjukin detak jantung kaka ada, ilang, ada. Mom bisikin 2 kalimat syahadat, mom bacain Al-Fatihah, nyuruh pap azanin kaka. Tapi Allah berkendak lain. Setengah jam kaka dibantu suster, dibantu obat tapi kaka ga selamat. Dokter minta mom sama pap mo diterusin ato ga, akhirnya kita mutusin ga, ngeliat kondisi kaka yang kami masih ga ngeh kalo kaka sebenernya udah ga ada.

Tepat dzuhur ka, pas hari jumat setelah shalat jumat selesai, kaka ninggalin kami. Kaka terbujur diam di ruangan jenazah layaknya kaka lagi tidur dengan mata sedikit terbuka, bibir biru, dan luka bekas selang2 itu. Satu persatu kerabat, sodara datang menengok. Mom ga bisa nangis ka, ga bakal nyangka kaya gini.

Ada kejadian yang masih mom ga ngerti, pas mata kaka sedikit terbuka, mom cuma bilang, “kaka nunggu siapa nak? Semua udah dateng”. Berusaha nutup matanya tapi ga bisa. Kepalanya masih anget tapi seluruh badan dingin, yup masih ada pengaruh obat didalamnya. Pas ashar pap masuk dan bilang semua administrasi sudah selesai, semua sudah dibayar, dan mom sempet gendong kaka untuk terkahir kalinya, ga lama kaka merem. Masya Allah, kaka anak baik,  tau kesusahan orang tuanya, menunggu sampai kewajiban dilunasi.

Uti gendong kaka dari ruang jenazah sampe mobil. Mom ga mau pake ambulan, biar kaka pulang naek mobil kaka, mobil yang sengaja kung beli biar kaka ga kepanasan kalo jalan2, biar kaka ga naek taxi kalo ke mall.

Semua begitu cepat, nyampe rumah di Malabar, kaka dimandiin, iya yang mandiin ustad, pap yang mangku kaka, uti yang nyabunin, mom yang bersihin muka kaka. Kaka disholatin, terus dikubur.

Azan magrib mengiringi tanah itu menutupi badan dan raga kaka.

Ka,

Sampai sekarang meskipun mom udah bisa tersenyum, mom udah bisa ketawa tapi setiap mom buka mata, setiap mom menghela nafas, setiap mom diam langsung ingat kaka. Kadang yang keinget kejadian di ruang icu. Kaka udah datang lewat mimpi ke orang2, mom tau pasti kaka mo nunjukin kalo kaka udah bahagia disamping Allah, kaka udah senang ga sakit lagi dan ga perlu minum obat. Tapi mom masih, ….

Semua orang berusaha menenangi mom, bilang tar kaka yang nunggu kami di surga, udah punya tabungan di surga, bilang jangan ditangisin terus kasian tar kaka sedih, kaka ga tenang. Mom cuma mo bilang makasih, tapi jangan larang mom buat bersedih ato menangis. Doa selalu mom panjatkan. Andai orang itu pernah rasain yang mom sama pap rasain, kehilangan anak, belahan hati yang kami tunggu. Mom yang selalu takut melihat proses pemakaman harus bisa kuat melihat anak sendiri yang dimakamkan. Melihat dimandiin, disholatin hingga dikubur. Masya Allah.

Ka,

Mom tau kaka ngawasin mom sama pap dan keluarga yang deket sama kaka, ato yang belum pernah ketemu kaka tapi kaya udah kenal kaka. Bantu mom sama pap ya ka, bisa lewatin ini semua. Mom sama pap sayang banget sama kaka.

“Dah mamih, mo naek awat, gih yuk mih” mom jadi inget pas kaka ngambil sepatu trus ngajak pergi mom naek pesawat beberapa hari sebelum ke bandung. Alhamdulilah, makam kaka dilewatin pesawat, sama kedengeran bunyi kereta. 2 angkutan publik yang kaka suka. Meskipun mom ga sempet kabulin kaka minta naek bajay, mom tau kaka di alam sana udah naek bajay yang indah banget.

Ka,

Ini surat terakhir mom buat kaka. Maafin mom cm bisa sekali seminggu nengokin rumah kaka, maafin mom yang cm bs bantu doa buat kaka, maafin mom kalo masih ada keinginan kaka yang belum terpenuhi, maafin mom yang bisa nyusui kaka cm 18bulan. Maafin mom sama pap yang belum bisa jadi orang tua terbaik buat kaka. Baik-baik ya nak, tunggu kami di surga. Insha Allah kejadian ini bikin kami lebih dekat lagi sama Allah, biar kaka bisa yakinin Allah mom sama pap udah kasi terbaik buat kaka. Dan ketemu kaka di surga. Mom sama pap sayang kaka selalu dan selamanya.

http://fikihfikih.blogspot.com/2012/06/surat-terakhir-buat-kaka.html

======================================================================

Merokok saat Tidak ada orang lain gak masalah? Pelajari dulu : Third Hand Smoke (THS) ! by F.B.Monika

Banyak perokok/active smoker yang sudah mulai sadar akan tindakannya dapat membahayakan kesehatan perokok pasif/passive smoker atau disebut juga secondhand smoker. Jadi contoh perilaku para perokok aktif itu misalnya pindah ke ruangan lain di dalam rumah untuk merokok atau merokok dalam rumah saat tidak ada orang lain di dalam rumah/ruangan tersebut.

Lalu sudah hilangkah semua bahayanya bagi orang lain? Akan saya paparkan mengenai Third Hand Smoke (THS). Sebelumnya akan dibahas sedikit mengenai Second hand smoke.

Apakah secondhand smoke itu (SHS)?

Secondhand smoke  (SHS) dikenal juga dengan istilah Environmental Tobacco Smoke (ETS).

SHS adalah gabungan dari 2 bentuk asap yang berasal dari tembakau yang dibakar.

1. Asap sidestream : Asap dari rokok, cerutu yang dinyalakan.

2. Asap mainstream : Asap yang dihembuskan oleh perokok.

Awalnya saya berpikir 2 hal tersebut sama aja, ternyata tidak. Asap sidestream memiliki karsinogen (cancer-causing agents) dengan konsentrasi yang lebih tinggi serta lebih beracun/toksik dibandingkan asap mainstream terutama asap sidestream di ujung/saat rokok sudah mau habis. Selain itu partikelnya lebih kecil dari asap mainstream, akibatnya asap sidestream tersebut makin mudah masuk ke paru-paru dan sel-sel tubuh. Ketika orang yang tidak merokok menghirup SHS maka dinamakan Perokok pasif/involuntary.

Masalah Kesehatan Apa yang ditimbulkan oleh Secondhand Smoke/SHS ?

Asap rokok merupakan gabungan dari gas dan partikel2.  Senyawa berbahaya ini dapat bertahan berada di udara selama sekitar 4 jam.  Makin lama menghirup SHS, makin tinggi senyawa berbahaya ini di dalam tubuh. Asap rokok mengandung >4.000 senyawa kimia. Lebih dari 250 senyawa kimia ini telah diketahui berbahaya dan paling tidak 50 diantaranya menyebabkan kanker seperti kanker paru-paru. Senyawa2 kimia ini termasuk ammonia, acrolein, carbon monoxide, formaldehyde, hydrogen cyanide, nicotine, nitrogen oxides, polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), sulfur dioxide (U.S. Department of Health and Human Services 2006). Terdapat bukti yang menghubungkan SHS dengan penyakit2 berat lainnya seperti lymphoma , leukemia, tumor otak pada anak2 dan kanker larynx (kotak suara) , kanker payudara, penyakit jantung coroner dan peningkatan resiko stroke.

Bagi wanita hamil, selain berbahaya bagi wanita hamil tersebut, juga berbahaya bagi janinnya. Meningkatnya resiko placenta previa,  keguguran (miscarriage), janin meninggal di dalam kandungan (stillbirth) dan kehamilan ectopic. Menghirup SHS menurunkan kadar oksigen yang tersedia bagi Ibu dan bayi , meningkatkan detak jantung bayi, meningkatkan kecenderungan bayi lahir dengan berat badan rendah dan atau lahir prematur. Juga terdapat kasus dari orang tua yang merokok sebelum dan setelah kehamilan memiliki bayi dengan penyakit hepatoblastoma.

Khusus bagi bayi & anak-anak yang menjadi perokok pasif, bahayanya adalah sebagai berikut :

1. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), resikonya meningkat pada bayi yang Ibunya merokok

2. Asma : SHS dapat memicu serangan asma pada anak yang penderita asma

3. Masalah pernapasan seperti batuk – bronchitis, pneumonia

4. Terhambatnya perkembangan paru-paru

5. Meningitis

6. Otitis media / Infeksi telinga tengah

7. Iritasi mata dan hidung

8. Meningkatkan kecenderungan anak kelak akan menjadi perokok!

Sekarang saya masuk membahas Thirdhand smoke (THS).

Istilah thirdhand smoke pertama kali muncul tahun 2006 tapi baru dikenal luas tahun 2009 ketika Jonathan Winickoff, seorang associate professor of pediatrics di  Harvard Medical School & koleganya mempublikasikan paper mengenai bahaya THS. The New York Times menyebutkan bahwa THS (Third Hand Smoke) adalah racun berbahaya, kontaminasi residu dari tembakau yang tidak terlihat (tapi masih dapat tercium) , yang menempel pada baju, rambut perokok (aktif) juga termasuk permukaan karpet, kasur, bantal, sofa dll.

Komponen Third Hand Smoke/THS yang telah diidentifikasi hingga saat ini adalah nicotine, 3-ethenylpyridine (3-EP), phenol, cresols, naphthalene, formaldehyde, dan tobacco- specific nitrosamines (Destaillats et al. 2006;Singer et al. 2002, 2003, 2004; Sleiman et al. 2010b). Penelitian tahun 2002 menemukan bahwa racun2 ini dapat kembali terlepas ke udara dan bergabung membentuk senyawa berbahaya dalam kadar tinggi dalam waktu yang lama setelah perokok meninggalkan ruangan tersebut. Menurut Surgeon General’s Report tahun 2006, tidak ada ambang batas aman dalam menghirup/terpapar asap rokok.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan bulan February 2010 menemukan bahwa THS/Thirdhand smoke menyebabkan pembentukan karsinogen. Nikotin dapat berada di permukaan selama berhari2 bahkan berminggu2, jadi karsinogen terus terbentuk sepanjang waktu, yang kemudian dapat dihirup/ tertelan dan kemudian diserap tubuh.

Siapakah yang paling beresiko terpapar THS ini? Tentu saja anak2! Bayi dan anak-anak sangat rentan terkontaminasi karena mereka tidak dapat mengontrol memasukkan tangan ke dalam mulut mereka pasca menyentuh permukaan yang terkontaminasi. Oleh karena itu sangat penting dan mendesak sekali untuk menyediakan tempat bebas asap rokok dan di tempat umum disediakan tempat khusus untuk merokok.

I don’t hate you Dear SMOKERS, I just hate What You Do With The Cigarettes :

Apa yang dapat kita (Bukan Perokok) lakukan untuk menghindari SHS (Secondhand Smoke) & THS (Thirdhand smoke) ?

Beberapa saran berikut mungkin dapat menolong mengurangi atau bahkan mengeliminasi diri kita dan anggota keluarga dari SHS & THS :

1. Mintalah tamu yang mau merokok untuk merokok DI LUAR RUMAH dan menggunakan jaket sehingga racun2nya tidak menempel langsung di baju (nanti jaketnya diletakkan di luar rumah).

2. Bukalah jendela, pasang kipas angin / intinya menjaga aliran udara-ventilasi dengan baik baik di rumah (terutama kamar) dan di tempat kerja.

3. Jangan letakkan asbak dalam rumah.

4. Seluruh anggota keluarga yang merokok dilarang merokok di dalam rumah, dan ketika masuk ke rumah pasca merokok, sikat gigi, mandi dan ganti baju. Bila tidak bisa, maka cuci tangan, sikat gigi dan ganti baju.

5. Bila bertamu ke rumah perokok bersama bayi/anak2 dan anda mencium bau rokok di dalam rumah, cobalah memperpendek waktu bersilaturahmi di dalam rumah dan dilakukan pembicaraan di luar rumah , bila memungkinkan.

6. Jika merokok diijinkan di tempat kerja anda, bicaralah ke HRD tentang memodifikasi aturan merokok di tempat kerja, paling tidak mengupayakan ruangan khusus merokok.

7. Pilihlah bekerja dengan pekerja yang tidak merokok – jika memungkinkan.

8. Ketika menginap di hotel, pilihkan Non-Smoking Room.

Apa lagi ya? Ada yang bisa mengusulkan?

Sumber2 :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3230406/

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23741945

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23079177

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3040625/

http://www.cancer.org/cancer/cancercauses/tobaccocancer/secondhand-smoke

http://www.nhs.uk/chq/pages/2289.aspx?categoryid=53&

http://my.clevelandclinic.org/healthy_living/smoking/hic_dangers_of_second-hand_smoke.aspx

http://www.no-smoke.org/learnmore.php?id=671

https://www.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/merokok-saat-tidak-ada-orang-lain-gak-masalah-pelajari-dulu-3rd-hand-smoke-/10203415846622733

PP No. 33 Tahun 2012 Tentang ASIX

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 33 TAHUN 2012

TENTANG

PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF 

 

 

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 129 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif.

Mengingat:

1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063).

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1. Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu.

2. Air Susu Ibu Eksklusif yang selanjutnya disebut ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.

3. Bayi adalah anak dari baru lahir sampai berusia 12 (dua belas) bulan.

4. Keluarga adalah suami, anak, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas dan ke bawah sampai dengan derajat ketiga.

5. Susu Formula Bayi adalah susu yang secara khusus diformulasikan sebagai pengganti ASI untuk Bayi sampai berusia 6 (enam) bulan.

6. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.

7. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

8. Tempat Kerja adalah ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.

9. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

10. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

11. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

 

Pasal 2

Pengaturan pemberian ASI Eksklusif bertujuan untuk:

a. menjamin pemenuhan hak Bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan berusia 6 (enam) bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya;

b. memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya; dan

c. meningkatkan peran dan dukungan Keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif.

BAB II

TANGGUNG JAWAB

Bagian Kesatu

Tanggung Jawab Pemerintah

Pasal 3

Tanggung jawab Pemerintah dalam program pemberian ASI Eksklusif meliputi:

a. menetapkan kebijakan nasional terkait program pemberian ASI Eksklusif;

b. melaksanakan advokasi dan sosialisasi program pemberian ASI Eksklusif;

c. memberikan pelatihan mengenai program pemberian ASI Eksklusif dan penyediaan tenaga konselor menyusui di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan tempat sarana umum lainnya;

d. mengintegrasikan materi mengenai ASI Eksklusif pada kurikulum pendidikan formal dan non formal bagi Tenaga Kesehatan; 

e. membina, mengawasi, serta mengevaluasi pelaksanaan dan pencapaian program pemberian ASI

Eksklusif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan kesehatan, Tempat Kerja, tempat sarana umum, dan kegiatan di masyarakat;

f. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan ASI Eksklusif;

g. mengembangkan kerja sama mengenai program ASI Eksklusif dengan pihak lain di dalam dan/atau luar negeri; dan

h. menyediakan ketersediaan akses terhadap informasi dan edukasi atas penyelenggaraan program

pemberian ASI Eksklusif.

 

Bagian Kedua

Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Provinsi

Pasal 4

Tanggung jawab pemerintah daerah provinsi dalam program pemberian ASI Eksklusif meliputi:

a. melaksanakan kebijakan nasional dalam rangka program pemberian ASI Eksklusif;

b. melaksanakan advokasi dan sosialisasi program pemberian ASI Eksklusif dalam skala provinsi;

c. memberikan pelatihan teknis konseling menyusui dalam skala provinsi;

d. menyediakan tenaga konselor menyusui di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan tempat sarana umum lainnya dalam skala provinsi;

e. membina, monitoring, mengevaluasi dan mengawasi pelaksanaan dan pencapaian program pemberian ASI Eksklusif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan kesehatan, Tempat Kerja, tempat sarana umum, dan kegiatan di masyarakat dalam skala provinsi;

f. menyelenggarakan, memanfaatkan, dan memantau penelitian dan pengembangan program pemberian

ASI Eksklusif yang mendukung perumusan kebijakan provinsi;

g. mengembangkan kerja sama dengan pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan

h. menyediakan ketersediaan akses terhadap informasi dan edukasi atas penyelenggaraan pemberian ASI Eksklusif dalam skala provinsi.

 

Bagian Ketiga

Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

Pasal 5

Tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota dalam program pemberian ASI Eksklusif meliputi:

a. melaksanakan kebijakan nasional dalam rangka program pemberian ASI Eksklusif;

b. melaksanakan advokasi dan sosialisasi program pemberian ASI Eksklusif dalam skala kabupaten/kota;

c. memberikan pelatihan teknis konseling menyusui dalam skala kabupaten/kota;

d. menyediakan tenaga konselor menyusui di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan tempat sarana umum lainnya dalam skala kabupaten/kota;

e. membina, monitoring, mengevaluasi, dan mengawasi pelaksanaan dan pencapaian program pemberian ASI Eksklusif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, satuan pendidikan kesehatan, Tempat Kerja, tempat sarana umum, dan kegiatan di masyarakat dalam skala kabupaten/kota;

f. menyelenggarakan penelitian dan pengembangan program pemberian ASI Eksklusif yang mendukung perumusan kebijakan kabupaten/kota;

g. mengembangkan kerja sama dengan pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan

h. menyediakan ketersediaan akses terhadap informasi dan edukasi atas penyelenggaraan pemberian ASI Eksklusif dalam skala kabupaten/kota.

 

BAB III

AIR SUSU IBU EKSKLUSIF

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 6

Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi yang dilahirkannya.

 

Pasal 7

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 tidak berlaku dalam hal terdapat:

a. indikasi medis:

b. ibu tidak ada; atau

c. ibu terpisah dari Bayi.

 

Pasal 8

(1) Penentuan indikasi medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a dilakukan oleh dokter.

(2) Dokter dalam menentukan indikasi medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.

(3) Dalam hal di daerah tertentu tidak terdapat dokter, penentuan ada atau tidaknya indikasi medis dapat dilakukan oleh bidan atau perawat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Bagian Kedua

Inisiasi Menyusu Dini

Pasal 9  

(1) Tenaga Kesehatan dan penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib melakukan inisiasi menyusu dini terhadap Bayi yang baru lahir kepada ibunya paling singkat selama 1 (satu) jam.

(2) Inisiasi menyusu dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara meletakkan Bayi secara tengkurap di dada atau perut ibu sehingga kulit Bayi melekat pada kulit ibu.

 

Pasal 10

(1) Tenaga Kesehatan dan penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib menempatkan ibu dan Bayi dalam 1 (satu) ruangan atau rawat gabung kecuali atas indikasi medis yang ditetapkan oleh dokter.

(2) Penempatan dalam 1 (satu) ruangan atau rawat gabung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk memudahkan ibu setiap saat memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi.

 

Bagian Ketiga

Pendonor Air Susu Ibu

Pasal 11

(1) Dalam hal ibu kandung tidak dapat memberikan ASI Eksklusif bagi bayinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, pemberian ASI Eksklusif dapat dilakukan oleh pendonor ASI.

(2) Pemberian ASI Eksklusif oleh pendonor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan persyaratan:

a. permintaan ibu kandung atau Keluarga Bayi yang bersangkutan;

b. identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau Keluarga dari Bayi penerima ASI;

c. persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas Bayi yang diberi ASI;

d. pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7; dan

e. ASI tidak diperjualbelikan.

(3) Pemberian ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib dilaksanakan berdasarkan norma agama dan mempertimbangkan aspek sosial budaya, mutu, dan keamanan ASI.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian ASI Eksklusif dari pendonor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

 

Pasal 12

(1) Setiap ibu yang melahirkan Bayi harus menolak pemberian Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya.

(2) Dalam hal ibu yang melahirkan Bayi meninggal dunia atau oleh sebab lain sehingga tidak dapat melakukan penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penolakan dapat dilakukan oleh Keluarga.

 

Bagian Keempat

Informasi dan Edukasikumonline.com 

Pasal 13

(1) Untuk mencapai pemanfaatan pemberian ASI Eksklusif secara optimal, Tenaga Kesehatan dan penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memberikan informasi dan edukasi ASI Eksklusif kepada ibu dan/atau anggota Keluarga dari Bayi yang bersangkutan sejak pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian ASI Eksklusif selesai.

(2) Informasi dan edukasi ASI Eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mengenai:

a. keuntungan dan keunggulan pemberian ASI;

b. gizi ibu, persiapan dan mempertahankan menyusui;

c. akibat negatif dari pemberian makanan botol secara parsial terhadap pemberian ASI; dan

d. kesulitan untuk mengubah keputusan untuk tidak memberikan ASI.

(3) Pemberian informasi dan edukasi ASI Eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilakukan melalui penyuluhan, konseling dan pendampingan.

(4) Pemberian informasi dan edukasi ASI Eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan

oleh tenaga terlatih.

 

Bagian Kelima

Sanksi Administratif

Pasal 14

(1) Setiap Tenaga Kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1), Pasal 10 ayat (1), atau Pasal 13 ayat (1) dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:

a. teguran lisan;

b. teguran tertulis; dan/atau

c. pencabutan izin.

(2) Setiap penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1), Pasal 10 ayat (1), atau Pasal 13 ayat (1) dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:

a. teguran lisan; dan/atau

b. teguran tertulis.

(3) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

 

BAB IV

PENGGUNAAN SUSU FORMULA BAYI DAN PRODUK BAYI LAINNYA

Pasal 15

Dalam hal pemberian ASI Eksklusif tidak dimungkinkan berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Bayi dapat diberikan Susu Formula Bayi.

 

Pasal 16

Dalam memberikan Susu Formula Bayi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, Tenaga Kesehatan harus memberikan peragaan dan penjelasan atas penggunaan dan penyajian Susu Formula Bayi kepada ibu dan/atau Keluarga yang memerlukan Susu Formula Bayi.

 

Pasal 17

(1) Setiap Tenaga Kesehatan dilarang memberikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif kecuali dalam hal diperuntukkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

(2) Setiap Tenaga Kesehatan dilarang menerima dan/atau mempromosikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif.

 

Pasal 18

(1) Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang memberikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif kepada ibu Bayi dan/ataukeluarganya, kecuali dalam hal diperuntukkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

(2) Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang menerima dan/atau mempromosikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif.

(3) Dalam hal terjadi bencana atau darurat, penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat menerima bantuan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya untuk tujuan kemanusiaan setelah mendapat persetujuan dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.

(4) Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang menyediakan pelayanan di bidang kesehatan atas biaya yang disediakan oleh produsen atau distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya.

 

Pasal 19

Produsen atau distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya dilarang melakukan kegiatan yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif berupa:

a. pemberian contoh produk Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya secara cuma-cuma atau bentuk apapun kepada penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Tenaga Kesehatan, ibu hamil, atau ibu yang baru melahirkan;

b. penawaran atau penjualan langsung Susu Formula Bayi ke rumah-rumah;

c. pemberian potongan harga atau tambahan atau sesuatu dalam bentuk apapun atas pembelian Susu

Formula Bayi sebagai daya tarik dari penjual;

d. penggunaan Tenaga Kesehatan untuk memberikan informasi tentang Susu Formula Bayi kepada masyarakat; dan/atau

e. pengiklanan Susu Formula Bayi yang dimuat dalam media massa, baik cetak maupun elektronik, dan

media luar ruang.

Pasal 20

(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf e dikecualikan jika dilakukan pada media cetak khusus tentang kesehatan.

(2) Pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah memenuhi persyaratan:

a. mendapat persetujuan Menteri; dan

b. memuat keterangan bahwa Susu Formula Bayi bukan sebagai pengganti ASI.

 

Pasal 21

(1) Setiap Tenaga Kesehatan, penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan kesehatan, organisasi profesi di bidang kesehatan dan termasuk keluarganya dilarang menerima hadiah dan/atau bantuan dari produsen atau distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

(2) Bantuan dari produsen atau distributor Susu Formula Bayi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterima hanya untuk tujuan membiayai kegiatan pelatihan, penelitian dan pengembangan, pertemuan ilmiah, dan/atau kegiatan lainnya yang sejenis.

 

Pasal 22

Pemberian bantuan untuk biaya pelatihan, penelitian dan pengembangan, pertemuan ilmiah, dan/atau kegiatan lainnya yang sejenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) dapat dilakukan dengan ketentuan:

a. secara terbuka;

b. tidak bersifat mengikat;

c. hanya melalui Fasilitas Pelayanan Kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan kesehatan, dan/atau organisasi profesi di bidang kesehatan; dan

d. tidak menampilkan logo dan nama produk Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya pada saat dan selama kegiatan berlangsung yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif.

 

Pasal 23

(1) Tenaga Kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) wajib memberikan pernyataan tertulis kepada atasannya bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

(2) Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) wajib memberikan pernyataan tertulis kepada Menteri bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

(3) Penyelenggara satuan pendidikan kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 21 ayat (2) wajib memberikan pernyataan tertulis kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

(4) Pengurus organisasi profesi di bidang kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) wajib memberikan pernyataan tertulis kepada Menteri bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

Pasal 24

Dalam hal Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menerima bantuan biaya pelatihan, penelitian dan pengembangan, pertemuan ilmiah, dan/atau kegiatan lainnya yang sejenis maka penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 25

(1) Setiap produsen atau distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya dilarang memberikan hadiah dan/atau bantuan kepada Tenaga Kesehatan, penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan kesehatan, dan organisasi profesi di bidang kesehatan termasuk keluarganya yang dapat menghambat keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif, kecuali diberikan untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2).

(2) Setiap produsen atau distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang melakukan pemberian bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan laporan kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk.

(3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memuat:

a. nama penerima dan pemberi bantuan;

b. tujuan diberikan bantuan;

c. jumlah dan jenis bantuan; dan

d. jangka waktu pemberian bantuan.

 

Pasal 26

(1) Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan kesehatan, dan/atau organisasi profesi di bidang kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf c wajib memberikan laporan kepada Menteri, menteri terkait, atau pejabat yang ditunjuk.

(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:

a. nama pemberi dan penerima bantuan;

b. tujuan diberikan bantuan;

c. jumlah dan jenis bantuan; dan

d. jangka waktu pemberian bantuan.

 

Pasal 27

Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26 disampaikan kepada Menteri, menteri terkait, atau pejabat yang ditunjuk paling singkat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan bantuan.

Pasal 28

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan Susu Formula Bayi dan produk bayi lainnya diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 29

(1) Setiap Tenaga Kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, Pasal 17, Pasal 21 ayat (1), dan Pasal 23 ayat (1), dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:

a. teguran lisan;

b. teguran tertulis; dan/atau

c. pencabutan izin.

(2) Setiap penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan, penguru

s organisasi profesi di bidang kesehatan serta produsen dan distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), Pasal 19, Pasal 21 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), Pasal 25 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 26 ayat (1) dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa:

a. teguran lisan; dan/atau

b. teguran tertulis.

(3) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (

1) diatur dengan Peraturan Menteri.

 

BAB V

TEMPAT KERJA DAN TEMPAT SARANA UMUM

Pasal 30

(1) Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus mendukung program ASI Eksklusif.

(2) Ketentuan mengenai dukungan program ASI Eksklusif di Tempat Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perusahaan antara pengusaha dan pekerja/buruh, atau melalui perjanjian kerja bersama antara serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha.

(3) Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui dan/atau memerah ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

 

Pasal 31

Tempat Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 terdiri atas:

a. perusahaan; dan

b. perkantoran milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan swasta.

 

Pasal 32

Tempat sarana umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 terdiri atas:

a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan;

b. hotel dan penginapan;

c. tempat rekreasi;

d. terminal angkutan darat;

e. stasiun kereta api;

f. bandar udara;

g. pelabuhan laut;

h. pusat-pusat perbelanjaan;

i. gedung olahraga;

j. lokasi penampungan pengungsi; dan

k. tempat sarana umum lainnya.

 

Pasal 33

Penyelenggara tempat sarana umum berupa Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif dengan berpedoman pada 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai berikut:

a. membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada semua staf pelayanan kesehatan;

b. melatih semua staf pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan menyusui tersebut;

c. menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui;

d. membantu ibu menyusui dini dalam waktu 60 (enam puluh) menit pertama persalinan;

e. membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya;

f. memberikan ASI saja kepada Bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis;

g. menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu 24 (dua puluh empat) jam;

h. menganjurkan menyusui sesuai permintaan Bayi;

i. tidak memberi dot kepada Bayi; dan

j. mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

 

Pasal 34

Pengurus Tempat Kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di Tempat Kerja.

 

Pasal 35

Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib membuat peraturan internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

 

Pasal 36

Setiap pengurus Tempat Kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum yang tidak melaksanakan

ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (3), atau Pasal 34, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

BAB VI

DUKUNGAN MASYARAKAT

Pasal 37

(1) Masyarakat harus mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif baik secara perorangan, kelompok, maupun organisasi.

(2) Dukungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:

a. pemberian sumbangan pemikiran terkait dengan penentuan kebijakan dan/atau pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif;

b. penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas terkait dengan pemberian ASI Eksklusif;

c. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif; dan/atau

d. penyediaan waktu dan tempat bagi ibu dalam pemberian ASI Eksklusif.

(3) Dukungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

BAB VII

PENDANAAN

Pasal 38

Pendanaan program pemberian ASI Eksklusif dapat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

BAB VIII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 39

(1) Menteri, menteri terkait, kepala lembaga pemerintah non kementerian, gubernur, dan bupati/walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk:

a. meningkatkan peran sumber daya manusia di bidang kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan satuan pendidikan kesehatan dalam mendukung keberhasilan program pemberian ASI

Eksklusif;

b. meningkatkan peran dan dukungan Keluarga dan masyarakat untuk keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif; dan

c. meningkatkan peran dan dukungan pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara sarana umum untuk keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui:

a. advokasi dan sosialisasi peningkatan pemberian ASI Eksklusif;

b. pelatihan dan peningkatan kualitas Tenaga Kesehatan dan tenaga terlatih; dan/atau

c. monitoring dan evaluasi.

(4) Menteri, menteri terkait, kepala lembaga pemerintah non kementerian, gubernur, dan bupati/walikota dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat mengikutsertakan masyarakat.

Pasal 40

(1) Pengawasan terhadap produsen atau distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang melakukan kegiatan pengiklanan Susu Formula Bayi yang dimuat dalam media massa, baik cetak maupun elektronik, dan media luar ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf e dilaksanakan oleh badan yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan terhadap produsen atau distributor Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan kepala badan yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan.

 

BAB IX

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 41

Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Pengurus Tempat Kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum, wajib menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lama 1 (satu) tahun.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 42

Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua ketentuan yang mengatur tentang pemberian ASI Eksklusif dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 43

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan Di Jakarta,

Pada Tanggal 1 Maret 2012

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan Di Jakarta,

Pada Tanggal 1 Maret 2012

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

AMIR SYAMSUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 58

[Kliping] Obat Cacing untuk Anak, Kapan Diberikan?

Jakarta, Sejak duduk di bangku SD, banyak siswa diajarkan bahwa obat cacing harus diminum rutin 6 bulan sekali. Meski obat cacing relatif aman, informasi ini dinilai menyesatkan karena yang harus dilakukan secara rutin adalah pemeriksaan tinja.

Hal ini ditegaskan oleh ahli parasitologi dari Universitas Indonesia, Prof dr Saleha Sungkar, DAP&E, MS, dalam jumpa pers Program Edukasi Bahaya Cacingan di Sekolah yang diselenggarakan oleh Combantrine di Restoran Black Canyon Coffee, Cipete, Jakarta Selatan, Senin (31/1/2011).

“Segala bentuk pengobatan harus dilakukan based on diagnosis, jadi harus berdasarkan diagnosis. Jika diperiksa tinjanya kemudian ternyata positif cacingan, baru boleh diberi obat cacing. Nah, periksa tinjanya itulah yang seharusnya dilakukan tiap 6 bulan,” ungkap Prof Saleha.

Masalahnya sebagian orang malas untuk memeriksakan tinjanya sendiri atau tinja anak-anaknya, karena selain jijik juga agak rumit dan memakan lebih banyak biaya. Karenanya agar lebih praktis, obat cacing diberikan secara rutin setiap 6 bulan meski belum tentu orang tersebut atau anaknya benar-benar cacingan.

Lagipula menurut Prof Saleha, obat cacing relatif aman dari efek samping. Meski bagi sebagian orang bisa menyebabkan keluhan ringan mual-muntah dan alergi, hal itu sangat jarang terjadi sehingga obat cacing umumnya bisa dibeli tanpa resep dokter.

“Kalau ada ibu-ibu mau kasih anaknya obat cacing secara rutin tanpa melakukan pemeriksaan, ya silakan saja tapi kami sebagai orang kesehatan tidak menganjurkan. Teman-teman media juga harus hati-hati menulisnya, yang dianjurkan untuk rutin dilakukan adalah pemeriksaan tinja bukan pemberian obat cacing,” tegas Prof Saleha.

Selain berdasarkan hasil tes laboratorium, diagnosis anak atau seseorang yang positif cacingan juga bisa didasarkan pada pengamatan feses. Jadi bila ibu-ibu menemukan ada cacing di feses anaknya, atau anaknya muntah cacing, anak tersebut bisa segera diberi obat cacing tanpa perlu diperiksa di laboratorium.

(up/ir)

http://health.detik.com/read/2011/01/31/153359/1557313/763/obat-cacing-tidak-dianjurkan-diminum-rutin-tiap-6-bulan

========================================================================

Apa iya masih ada anak yang cacingan? Eits, jangan anggap remeh cacingan pada anak ya, Bu! Karena angka anak yang terkena penyakit cacingan masih tinggi. Cacingan mudah menyerang anak, apalagi jika anak tidak menjaga kebersihan, terutama mencuci tangan sebelum makan dan sesudah dari toilet. Tidak jarang juga anak bermain kotor yang bisa menyebabkan cacingan pada anak. Cacingan terjadi karena tubuh terinfkesi cacing parasit, seperti cacing kremi,  cacing pita, cacing gelang dan cacing tambang. Nah, masuknya cacing parasit bisa melalui makanan atau pori-pori tubuh anak.

Tanda-Tanda Cacingan

Cacingan akan menyerap zat gizi dalam tubuh dan bisa mengakibatkan tubuh anak kurus. Tanda anak cacingan yang mudah untuk dikenali, tubuh kurus tetapi perut anak buncit, berat badan tidak naik padahal anak tidak ada masalah dengan nafsu makan dan sulit makan. Anak gelisah di malam hari dan terlihat menggaruk bokongnya. Anak sering mengalami gangguan lambung dan usus seperti mulas dan diare secara berkala. Tanda yang bisa ibu lihat secara jelas, anak terlihat lesu, tidak bergairah dan sering mengalami demam yang hilang timbul.

Jika anak positif terkena cacingan, ibu bisa memberikan obat cacing. Ingat, obat cacing bukan digunakan sebagai pencegahan. Jadi sangat tidak disarankan untuk memberikan obat cacing pada anak, jika tidak dilakukan pemeriksaan feses (tinja) dan positif ditemukan telur atau larva pada tinja anak.

Perlu diingat, bahwa obat  cacing hanya ddiberikan kepada anak yang mengalami cacingan. Untuk anak usia satu tahun yang terkena cacingan, obat cacing yang diberikan harus disesuaikan dengan indikasi. Sayangnya masih ada orangtua yang keliru memberikan obat cacing dengan tujuan melakukan pencegahan pada cacingan dengan memberikan obat cacing pada anak, enam bulan sekali. Padahal, cacingan dicegah bukan dengan memberikan obat cacing tetapi dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh anak. Caranya mencuci sayuran dengan air mengalir, memasak daging hingga matang dan membiasakan anak untuk mencuci tangan. Nah, Bu, sebelum memberikan obat cacing kepada anak, sebaiknya berkonsultasi dulu ke dokter dan lakukan pemeriksaan feses di laboratorium untuk memastikan anak positif cacingan.

http://family.fimela.com/anak/kuat-sehat/bolehkah-memberi-obat-cacing-untuk-mencegah-cacingan-pada-anak-130430g.html

[Kliping] Bedak Bayi, Perlukah?

http://m.detik.com/kanal/605/detiknewsindex.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/10/time/144852/idnews/937218/idkanal/10

Nadhifa Putri – detikNews

Jakarta – Aroma tubuh bayi yang wangi dan lembut seringkali membuat kita selalu ingin menciumnya. Wangi yang berasal dari bedak ataupun minyak yang dibalurkan bayi menunjukkan ciri khas buah hati.

Namun, amankah pemakaian produk-produk tersebut bagi si mungil? Dokter Spesialis anak RS Pondok Indah Karel Staa menegaskan, pemakaian bedak, minyak kayu putih, minyak telon dan pewangi (cologne) sangat berbahaya untuk kesehatan bayi di masa datang.

“Partikel-partikel yang terkandung di dalam bedak bayi dan minyak itu bahaya jika dihirup bayi,” kata Karel Staa usai diskusi bertajuk ‘Lindungi Semua Perempuan dari Kanker Serviks’ di RS Pondok Indah, Jl. Metro Duta , Jakarta Selatan, Sabtu (10/5/2008).

Produk tersebut, kata Karel, dapat membahayakan fungsi paru-paru. “Misalnya batuk yang tidak sembuh. Nanti setelah diperiksa, biasanya dokter akan menyuruh

memberhentikan pemakaian bedak dan lain-lain. Setelah itu batuknya hilang. Itu bisa saja respirasi paru,” imbuh dia.

Baluran minyak dipercaya dapat memberi kehangatan untuk bayi. Namun hal ini juga dibantah Karel. “Kata siapa? Dari mana? Kulit bayi kan belum berfungsi. Lalu mau ditutupi produk itu, bagaimana pori-porinya bernafas?” ujarnya.

Karel menuturkan, pernah mendapati salah satu pasiennya mengeluhkan kulit anaknya gosong. “Ternyata setelah diperiksa, bayinya dibalurin minyak kayu putih 100 persen,” tutur dia.

Ditambahkan dia, kulit bayi seharusnya dibiarkan apa adanya. Meski bayi baru dapat merasakan rangsangan di usia di atas 1 tahun, pemakaian produk tetap tidak dianjurkan.

“Itu kan tradisi Indonesia, dari orang tua. Biarkan bayi pure. Kecuali ada indikasi medis seperti iritasi, itu harus anjuran dokter,” pungkasnya.

Sebagian besar bedak bayi mengedepankan talc sebagai bahan utamanya. Talc adalah semacam batuan mineral yang melalui proses penambangan dan penggilingan sehingga berubah bentuk menjadi butiran-butiran halus.

Dalam proses penggilingan tersebut beberapa partikel mineral ada yang menghilang namun ada pula yang tertinggal. Partikel abses yang tertinggal inilah yang rupanya membahayakan bagi buah hati Anda.

Apabila seseorang (apalagi bayi) kerap menghirup bedak yang notabenenya mengandung partikel abses tersebut, efeknya dapat terjadi peradangan paru-paru, pneumonia bahkan berujung kematian. Walau belum dapat dipastikan korelasi antara talc dan kanker paru-paru.

Berdasarkan laporan-laporan negatif itulah, American Academy of Pediatrics (Ikatan Dokter Anak Amerika Serikat) melarang penggunaan bedak berbahan dasar talc pada bayi. Apalagi baru-baru ini tersiar berita bahwa kebiasaan menabur bedak pada kemaluan bayi dapat memicu kanker ovarium di kemudian hari.

==================================================

http://health.detik.com/read/2010/05/22/072051/1361943/763/bisakah-bedak-talek-menyebabkan-kanker?h992201heal

Bisakah Bedak Talek Menyebabkan Kanker?

Vera Farah Bararah : detikHealth

detikcom – Jakarta, Bedak talek masih banyak digunakan orang terutama ibu-ibu untuk diusapkan di tubuh bayinya. Tapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa bedak talek memicu kanker. Bagaimana kondisi yang sebenarnya?

Bedak talek dihasilkan dari mineral yang disebut dengan talc atau magnesium trisillicate. Dalam bentuk alamnya, talc ditemukan berbentuk batuan dan diketahui mengandung serat menit terutama asbes. Proses yang harus dilakukan untuk memisahkan kandungan ini dari batu tidaklah mudah. Seperti dilansir dari buzzle, Sabtu (22/5/2010), sebuah studi menunjukkan bahwa asbes sebagai salah satu bahan yang terkandung dalam bedak talek bersifat karsinogen, yang dapat menyebabkan berbagai jenis kanker dalam penggunaan jangka panjang.

Kemungkinan ada berbagai macam bedak yang digunakan. Namun studi menunjukkan bahwa penggunaan bedak yang terlalu sering dapat mengarah pada pengembangan dari dua jenis kanker yaitu kanker paru-paru dan kanker ovarium.

Sebenarnya pada tahun 1973, badan pengawas makanan dan obat AS (US Food and Drug Administration) merancang resolusi untuk membatasi jumlah serat asbes seperti pada bedak kosmetik. Namun, tidak pernah ada keputusan yang dibuat untuk batasan talc pada bedak kosmetik.

Bubuk talek dan kanker paru-paru Sebuah penelitian mengklaim bahwa sering menghirup bedak bisa menjadi penyebab kanker paru-paru. Para ibu yang menggunakan bubuk talek ini juga sudah diperingatkan terhadap penggunaannya secara teratur. Hal ini bukan saja menempatkan bayi pada risiko kanker, tapi juga bagi orang disekitarnya yang menghirup bubuk talek ini.

Selain itu, talc juga digunakan sebagai bahan untuk membuat bedak anti kutu pada anjing, dan hal ini ditemukan berbahaya baik bagi hewan peliharaan dan keluarga yang tinggal bersama-sama. Hal ini terutama disebabkan oleh partikel asbes yang sangat kecil dalam bentuk bubuk sehingga mudah dihirup dan masuk ke dalam paru-paru. Kondisi ini tentu saja dapat memicu reaksi inflamasi (peradangan) yang nantinya dapat berkembang menjadi kanker.

Sementara itu saat penelitian lebih lanjut dilakukan, ditemukan para penambang talc dalam jumlah besar telah didiagnosa menderita kanker paru-paru. Hal ini disebabkan pekerjaan tersebut mengharuskan seseorang kontak dengan talc secara konstan. Selain itu juga ditemukan talc yang belum diproses akan jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan produk akhir yang sampai ke konsumen.

Bedak talek dan kanker ovarium

Studi mengenai hal ini masih sedikit kabur dan memerlukan klarifikasi. Berdasarkan studi penelitian berskala besar, penggunaan bedak talek oleh perempuan di alat kelaminnya bisa menyebabkan partikel tersebut masuk ke dalam indung telur dan mengakibatkan multiplikasi sel ovarium dengan cepat. Kondisi ini adalah salah satu karakteristik utama dari kanker.

Namun hal ini juga tergantung pada seberapa banyak bedak tersebut digunakan, diperkirakan risiko kanker ovarium akan meningkat jika sering menggunakan bedak talek. Seperti dikutip dari Cancer.org, Sabtu (22/5/2010) sebuah studi prospektif (umumnya dianggap yang paling informatif) diterbitkan pada tahun 2000 yang menemukan tidak ada pengaruhnya secara menyeluruh dengan kanker ovarium, tapi meningkatkan risiko sebesar 40 persen pada salah satu tipe dari invasive serous cancers. Sementara yang terkait dengan kanker paru-paru, satu studi menemukan adanya peningkatan risiko paru-paru, tapi studi lain menemukan tidak ada peningkatan risiko.

Studi terhadap penggunaan bedak talek ini bersifat pribadi sehingga memberikan hasil yang tidak konsisten, walaupun beberapa hal mendukung peningkatan risiko kanker. Namun bagi orang yang terbiasa menggunakan bedak, tak ada salahnya untuk mempertimbangkan menghindari atau tidak menggunakan bedak yang mengandung talc.

Datuk Dr Nor Ashikin Mokhtar, ahli kandungan konsultan & ginekolog seperti dilansir dari the Star mengatakan sampai penelitian ilmiah dapat memberikan jawaban yang lebih baik, maka terserah pada individu untuk membuat keputusannya sendiri mengenai penggunaan bedak talek.

“Kita harus ingat bahwa belum tentu setiap butir bedak adalah karsinogenik karena tergantung pada tingkat serat seperti asbes di bedak yang digunakan,” katanya.

Menurut Dr Nor salah satu alternatif untuk bedak talek adalah dengan menggunakan serbuk pati jagung yang tidak mengandung talc. Pati jagung tidak terkait ke setiap bentuk kanker dan lebih mudah dipecah oleh tubuh. Konsultasikan juga dengan dokter anak Anda, apakah aman untuk menggunakan bedak bayi pada bayi dan anak-anak.

======================================================================

Laporan Kasus bayi sakit hingga meninggal karena menghirup Bedak talk

Seorang bayi berusia 12 minggu secara tidak sengaja menghirup bedak talk yang tumpah ke atas mukanya, karena saat sedang diganti popok tutup wadah bedak talk terbuka. Bayi tersebut kemudian batuk2 dan tersedak dan berbagai upaya dilakukan untuk menhilangkan bedak yang menempel pada muka, mulut,dll.

Kemudian bayi menolak menyusu dan muntah, 4 jam kemudian bayi tersebut dilarikan ke RS dengan kesulitan bernapas (sesak napas) berat), sudah pada tahap cyanosis (warna kulit dan membran mukosa kebiruan atau pucat karena kandungan oksigen yang rendah dalam darah.), napas mendengkur. 30 menit kemudian bayi tersebut mengalami gagal napas Tim medis melakukan Endotrachealintubation (penempatan tabung ke dalam trakea (tenggorokan) untuk menjaga jalan napas tetap terbuka) dan kemudian bayi muntah material putih seperti bedak talk tidak lama setelah jalan pernapasan berhasil diselamatkan.

Selain bayi ini, 30 kasus terjadi karena menghirup bedak talks, yang utama terjadi pada bayi dan anak-anak balita. 8 kasus kematian dilaporkan karena hal ini.

Rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics)

Para dokter anak di AS sudah tidak lagi merekomendasikan penggunaan bedak talk Karena potensi bahayanya bila terhirup oleh bayi & anak2 balita.

Bedak talk mengandung magnesium silikat halus, zinc, dll. Partikel2 yg kecil/halus ini dapat terhirup hingga masuk ke dalam struktur paru2 yang paling dalam sehingga dapat menimbulkan keracunan bedak talk. Gejala2 umum seperti batuk2, muntah, demam, permasalahn pernapasan lain, tidak sadar hingga kematian seperti yang telah dilaporkan dalam case report di atas.

Setiap tahun New York Poison Control Center malaporkan paling tidak 50 kasus akibat keracunan bedak talk ini. Bulan Februari 2008 Jurnal Pediatrik menyebutkan potensi bahaya lain yg berhubungan dengan bedak bayi, dimana bedak bayi dihubungkan dengan peningkatan kadar phthalates dalam tubuh bayi. Phthalates adalah bahan kimia yang memiliki efek toksik untuk system reproduksi & perkembangan endokrin.

Bila Ibu/pengasuh tetap memberikan bedak talk dan secara tidak sengaja bayi menghirup/bedak talk tumpah ke muka bayi, segera bersihkan, tenangkan bayi sehingga tidak menangis keras yang menyebabkan makin banyak talk yang terhirup. Segera bawa bayi ke RS terdekat. Walau bayi awalnya tampak baik2 saja tapi dalam beberapa jam dapat mengalami gagal napas & masalah2 lainnya.

Oh ya, pemberian bedak talk tidak membantu mencegah ruam popok/diaper rash lho, kalau mau gunakanlah cream zinc. Juga malah ada bayi yang menderita iritasi karena pemakaian bedak talk ini.

Di Amerika Serikat pun informasi mengenai bahaya penggunaan bedak talk belum tersosialisasikan dengan baik, apalagi di Indonesia. Oleh karena itu yuk tetap rajin membaca dan bantu sebarkan informasi ini, dengan senang hati bila ada update jurnal terbaru yang menyatakan kebalikannya segera kabari saya ya.

Semoga bermanfaat

http://pediatrics.aappublications.org/

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002719.htm

Menambahkan sedikit,karena ada comment yang masuk begini: tergantung cara ngasih bedaknya gimana. kalo cm dioles tipis2 ya gpp. kalo ditepuk2 pake puff itu yg bahaya. iklim indonesia lain sm amrik. sini puaanas, kalo gak dikasih bedak bisa biang keringat.

Tanggapan saya : Banyak hal-hal yg applicable di semua negar /daerah, baik tropis maupun tidak. Amerika Serikat, negara dengan sistem kesehatan yg sangat maju, sistem pencatatan insiden & penyakit yg sangat baik. Jadi mau di Indonesia, Amerika, Papua dll efek samping terhirup bedak apalagi sampai kejadian insiden tertabur bedak karena tutup terbalik/terbuka : SAMA. Biang keringat? Pelajari treatment Heat rash/Prickly heat/Milliaria ini: http://www.babycenter.com/0_heat-rash_10881.bc#articlesection5 & http://www.aboutkidshealth.ca/En/HealthAZ/ConditionsandDiseases/SkinHairandNailDisorders/Pages/Heat-Rash-Miliaria.aspx . Dan tidak ada di panduan memberi bedak.

Juga beberapa comments isinya: bayi bule kan ga gak kepanasan&keringatan.

Tanggapan saya: Jangan salah Mba, saat Summer di AS suhunya bisa lebih dari 40 C lho, lebih panas dari Indonesia. Bahkan beberapa negara bagian seperti Florida sangat tropis, sumuk lebih dari Indonesia juga lho. Jadiii bayi2 bule juga keringatan ya.

Serba-serbi MPASI dari Grup AIMI

Bahasannya panjaaang dan lengkap, sayang kalau nggak disimpan begini.

Halo, selamat sore..masih ada yang memberikan bubur nasi dan wortel saja atau bubur nasi dan bayam saja sementara bayi sudah berusia lebih dari 6,5 bulan? Atau bahkan hanya memberikan puree buah sebagai makan siang bayi berumur di atas 6,5 bulan? Yuuk segera diubah pola pemberian MPASI-nya Atau bayi Anda bisa mengalami anemia defisiensi besi yang berakibat pada seretnya kenaikan berat badan

Panduan WHO mengisyaratkan agar makanan pertama yang dikenalkan adalah kategori makanan pokok (karbohidrat) sesuai jenis makanan pokok yang dikonsumsi keluarga. Sesuaikan tekturnya dengan syarat tekstur MPASI yang benar. Untuk perkenalan awal mpasi, paling lama 2 minggu pertama dikenalkan bubur/puree tunggal dari satu bahan, boleh ditambah ASI atau air, jaga tekstur agar tetap semi kental (yang bila diletakkan di sendok dan sendok dibalik tidak mudah tumpah). Frekuensi makan 1-2 kali sehari dengan porsi 2-3 sendok makan dewasa tiap kali makan. Kenalkan semua bahan makanan dari mulai kategori karbohidrat/makanan pokok, buah dan sayur, kacang2an dan sumber-sumber protein hewani dan nabati.

Setelah dua minggu masa perkenalan kenalkan bubur saring lengkap karbohidrat dan sayur ditambah protein hewani dan protein nabati serta sumber lemak tambahan seperti minyak/margarin. Frekuensi makan 2-3x sehari dan dapat diberikan 1-2 kali cemilan bila bayi mau.

Jadi, dalam setiap piring makan anak jangan hanya ada nasi dan sayur atau nasi dan telur ya…lengkap semua elemen gizinya dari mulai karbohidrat, vitamin dalam sayur mayur, protein hewani-nabati dan sumber lemak. Jadi sudah seperti piring dewasa yaa…ada nasi, sayur dan lauk

Menunya apa? Sebetulnya apapun yang dimakan keluarga bisa digunakan. WHO menyarankan makanan bayi adalah makanan yang bisa didapatkan di lingkungan kita. Kalau di rumah ibu membuat sayur sop, sayuran yang digunakan utk sayur sop bisa diberikan ke bayi, dengan bumbu dan tekstur sesuai usia bayi. Jika ada riwayat alergi, perhatikan makanan apa saja yang berpotensi alergi pada anak.

Mari perbaiki MPASI si kecil yuk Bu…MPASI berkualitas dan bervariasi bukan hanya membuat bayi tidak mudah bosan, tapi juga menjamin ketercukupan nutrisinya

(admin, KL AIMI)

13 November at 17:13 ·
Komen-komennya yang juga penting disimak:
Lianita Prawindarti MinLi Di masa perkenalan setiap kali makan ganti menu…namanya juga perkenalan, semakin banyak kita mengenalkan ragam bahan baru semakin baik..sekaligus melihat reaksi si bayi…
Lianita Prawindarti MinLi selain kasih kaldu kasih dagingnya juga yukk…bisa pakai daging giling kaaan…kaldu saja tidak cukup utk proteinnya…
Lianita Prawindarti MinLi kalau sudah 1 tahun sudah bisa ikut menu keluarga. Apa pun yg dimakan keluarga dia bisa makan kok, sesuaikan bumbunya saja yaaa…batasi gula garam dan tidak pedas cabe…
Lianita Prawindarti MinLi
MPASI TEPUNG: Mengapa MPASI dalam bentuk tepung tidak disarankan?
JAWAB:
Penggunaan tepung untuk MPASI tidak dianjurkan. Kalau ngotot mau menggunakan tepung, yg disarankan hanya tepung giling sendiri, bukan tepung dalam kemasan. Kalaupun pakai tepung giling hanya bisa digunakan utk 1-2 minggu masa pengenalan MPASI tapi sehabis itu sebaiknya tidak. Kenapa ga disarankan tepung? Tepung membuat MPASI teksturnya terlalu halus, tidak membuat bayi belajar mengunyah dan mengolah makanan.Sementara MPASI adalah proses mengenalkan makanan pada bayi. Mengenalkan rasa dan tekstur. Jadi biarkan dia kenal makanan dengan tekstur aslinya. MPASI tepung porsinya cenderung lebih banyak (satu sendok nasi dengan satu sendok tepung beras itu banyakan tepung beras). Nah, porsi kebanyakan bisa juga jadi sembelit. . Lebih baik lagi kalau dari awal sudah dikenalkan beras aslinya. Proses pembuatan tepung giling juga membuat banyak zat gizi yg hilang. Jika tepung giling ada kulit arinya (misal: bekatul) bisa membuat bayi sembelit.
Lianita Prawindarti MinLi minyak dan margarine dituang ke bubur saat masih panas…lincah jarang sakit bukan indikator dia bebas anemia…Skrining ADB yuuk. Detailnya baca ini: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/serba-serbi-pemenuhan-kebutuhan-zat-besi-pada-bayi-dan-anak/10152404935944778
Lianita Prawindarti MinLi hayooo pada belum baca dokumen MPASI kaaaah:
tekstur, porsi, frekuensi, mengatasi anak GTM, dsb semua ada di sana:
LINK DOKUMEN DAN FOTO SEPUTAR MPASI DAN ASUPAN BAYI
1. Panduan MPASI WHO: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/panduan-umum-who-tentang-mpasi/10151666164374778
2. Tips MPASI WHO: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/tips-mpasi-standar-who/10151835808169778
3. Kumpulan Kultwit AIMI tentang MPASI:https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/kumpulan-kultwit-aimi-tentang-mpasi/10151827464664778
4. Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) Seputar Pemberian MPASI
https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/pertanyaan-yang-sering-diajukan-faq-seputar-pemberian-mpasi/10152107512094778
5. Foto Contoh Tekstur MPASI: https://www.facebook.com/media/set/
6. Gerakan tutup mulut pada anak:https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/serba-serbi-gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-anak/10151666101769778
7. Serba Serbi Pemenuhan Kebutuhan Zat Besi pada Bayi dan Anak:https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/serba-serbi-pemenuhan-kebutuhan-zat-besi-pada-bayi-dan-anak/10152404935944778
8. Tips Meningkatkan Berat Badan Bayi Tanpa Bantuan Susu Formula
https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/tips-meningkatkan-berat-badan-bayi-tanpa-bantuan-susu-formula/10152103328264778
9. Prinsip-prinsip penting penanganan diare pada bayi dan anak:https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/prinsip-prinsip-penting-penanganan-diare-pada-bayi-dan-anak/10152586719129778
10. Pedoman Gizi Seimbang 2014:https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/pedoman-gizi-seimbang-2014/10152650399279778.
11. Foto Panduan Gizi Seimbang 2014:https://www.facebook.com/media/set/
12. Serba Serbi Alergi: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/serba-serbi-alergi/10152749749864778
Lianita Prawindarti MinLi  menu tunggal artinya dalam setiap kali makan hanya diberi SATU jenis bahan makanan jadi setiap kali makan menunya berbeda…ini diberikan di dua minggu pertama. Setelah dua minggu itu, baru gabung lengkap setiap kali makan….
Lianita Prawindarti MinLi Intan Qm, 8 bulan sudah 3 kali makan…pagi siang sore makan lengkap yaaa….pisang cemilan/snack bukan makan besar
Lianita Prawindarti MinLi WHO tidak menyarankan tekstur encer ya Bu…krn encer berarti tidak optimal nutrisinya…kalau mau membuat anak familiar bsia diberikan ASIp tapi tekstur tetap semi kental yg kalau diletakkan di senodk dan sendok dibalik tidak mudah tumpah yaaa..Jika diberi encer maka bayi tidak akan belajar makan, padahal esensi dr MPASI adalah di proses belajar makan di tekstur yg berbeda dengan asupan cair…
Lianita Prawindarti MinLi Untuk di bawah 1 tahun double protein lbh efektif krn protein adalah elemen utama pertumbuhan utk bayi d bawah 1 tahun…Untuk yg sudah di atas 1 tahun bisa digabung dengan double karbo
Lianita Prawindarti MinLi  9 bulan sudah bisatekstur cincang…sila cek dokumen MPASI yg saya list di atas yaaa…Nasinya ditim yaa…awasi jika naik tekstur terlalu cepat bayi mudah sembelit…
Lianita Prawindarti MinLi AIMI hanya menganjurkan MPASI WHO Bu, tidak metode lain/FC…krn kasus gizi buruk dan anemia di Indonesia sangat tinggi akibat pola MPASI yang keliru
Lianita Prawindarti MinLi bubur susu maksudnya bubur instant? Apakah dokternya sudah pernah mengikuti pelatihan pemberian makanan bayi dan anak? (PMBA) Pemerintah lewat program PMBA menyarankan MPASI buatan rumah sejak awal MPASI. Kalaupun berikan bubur susu artinya bubur saring beras diberi ASI…
Lianita Prawindarti MinLi kalau sedikit2 mau berarti frekuensi dipersering
Lianita Prawindarti MinLi untuk semua umur makan malam harus dua jam sblm tidur malam
Lianita Prawindarti MinLi mungkin dia suka buah krn berair? perbanyak kuahnya kalau gitu
Mungkin dia suka buah krn berwarna warni? Variasikan warna warni sayuran di piringnya
Mungkin dia suka buah krn manis? berikan cita rasa manis pada makanannya dengan jagung manis atau wortel atau labu kuning


Lianita Prawindarti MinLi Buah bukan makanan utama, buah selingan atau cemilan yaaa jadi kalau pagi dia mau buah, 1-2 jam kemudian tetap berikan bubur lengkap sbg sarapan
JAWAB:
PERTAMA, jangan kaget bila setelah mulai MPASI, feses bayi mulai kelihatan lebih padat atau lebih berampas, warnanya lebih gelap atau bahkan berwarna warni dan baunya lebih kuat. Normal, karena asupannya juga berubah. Dari hanya berupa ASI yang bentuknya cair ke kombinasi ASI dan makanan padat yang mana warna dan tekstur makanan padatnya bisa berbeda beda. Di fase perkenalan MPASI biasanya bayi mulai kelihatan mengejan saat BAB. Normal karena tekstur fesesnya mulai berbentuk jadi cara dia BAB akan semakin menyerupai cara kita BAB.
KEDUA, pada fase awal MPASI bayi sangat rentan sembelit. Observasi sebab2 sembelit pada bayi MPASI:
1. Porsi makanan terlalu banyak. Perhatikan porsi MPASI sesuai usia di dokumen berikut: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/panduan-umum-mpasi-metode-who/10151666164374778 dan berikut: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/tips-mpasi-standar-who/10151835808169778
2. Naik tekstur terlalu cepat. Sesuaikan tekstur dengan standar usianya. jangan terlalu padat dan jangan terlalu cair. Setiap usaha naik tekstur, lakukan BERTAHAP. Baca di sini:https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/tips-mpasi-standar-who/10151835808169778. Gambarnya ada di sini:https://www.facebook.com/media/set/…
3. Kebanyakan serat: bayi yang terlalu banyak konsumsi serat justru bisa sembelit, kebutuhan serat bayi berbanding terbalik dengan dewasa. Jika dewasa ingin mudah BAB, maka orang dewasa harus banyak konsumsi serat. Sementara bayi yang terlalu banyak konsumsi serat justru rentan sembelit. Cek kembali jenis2 sayur dan buah yang Anda berikan ke bayi. Jika memberikan buah atau sayur yang kaya serat, imbangi dengan memberikan sumber lemak atau berikan buah yang minim serat tapi kaya air.
4. Kurang sumber lemak. Itu mengapa dalam MPASI disarankan memberikan sumber2 lemak, baik berupa pemberian bahan makanan berlemak seperti alpukat atau pemberian minyak pada makanan. Minyaknya tidak harus EVOO. Gunakan minyak goreng yang ada di rumah, yang penting minyaknya baru. Margarine juga bisa digunakan.
5. Kurang mendapatkan ASI. Seringkali ketika mulai MPASI, orang tua mengalami euphoria krn anaknya akhirnya “buka puasa”. Akibat terlalu fokus pada pemberian MPASI, jadi kadang mengabaikan pemberian ASI. Bayi yang sudah MPASI tetap diberikan ASI ON DEMAND. Saat bayi haus tetap berikan ASI. Jangan takut memberikan ASI sebelum bayi makan karena ASI tidak akan membuat bayi usia 6 bulan ke atas kenyang. Itu makanya dia mulai membutuhkan MPASI krn kebutuhan kalori hariannya di usia 6 bulan tidak bisa dipenuhi hanya dari ASI.
6. Mulai kenalkan air putih sedikit sedikit secara bertahap, walau tidak perlu pasang target harus menghabiskan berapa ml air putih per hari. Ingat bahwa ASI sendiri lebih dari 80% komponennya adalah air. Air putih bisa membantu untuk mencerna makanan dan membersihkan mulut dan gigi bayi setelah makan.
7. Sembelit juga bisa merupakan salah satu indikasi alergi. Cek jika ada kemungkinan bahan makanan yg dikenalkan adalah pencetus alergi pada bayi.
Sembelit dapat diatasi dengan memodifikasi bahan makanan yang diberikan. Pijat ILU (lihat di sini:https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152233725083625&set=oa.10152072103359778&type=3&theater) dan gerakan gowes sepeda juga dapat tetap diaplikasikan.
Yang juga penting, jangan lupa membuat food diary atau catatan bahan makanan yg dikenalkan ke bayi, terutama di masa awal MPASI. Karena sumber sembelit bayi satu dengan bayi lain berbeda. Bahan makanan yg bisa membuat bayi mudah BAB antara bayi satu dengan bayi lainnya berbeda. Sehingga kita bisa tahu apa saja yg membuatnya sembelit dan mana yg membuatnya mudah BAB.
Lianita Prawindarti MinLi Kita lebih menyarankan masak pagi untuk konsumi seharian. Malam sebelum tidur potong2, besok pagi diolah sblm pergi kerja…dipisah-pisah antara semua elemen…bsia utk makan 3 kali balik lg ke prinsip MAPSI WHO, makanan yg dimasak utk dewasa bisa utk si kecil juga, jadi ya sekalin anda masak buat anda dan suami, anda masak buat si kecil :)\
Lianita Prawindarti MinLi Simpan di kulkas saja…menghangatkannya mirip seperti menghangatkan ASIP…direndam di air hangat
Lianita Prawindarti MinLi maksudnya bubur beras jangan dicampur sayur..jd menyimpannya jangan dijadikan satu….Kalau ibu mau buat fresh setiap kali makan ya bagus…tadi kan pertanyaan sebelumnya jika WM apa yang harus dilakukan
Amanda Pingkan Wulandari Pratama yang masih bertanya mpasi bagusnya apa untuk umur sekian……tekstur dan porsi segimana……gimana ngatasin susah makan dll, yuk berdayakan diri mampir ke dokumen grup dulu, lengkap lho Yuk ilangin kebingungannya dengan main ke dokumen grup

Berdasarkan panduan mpasi-WHO yang dirujuk oleh AIMI :
Semua jenis bahan makanan dikenalkan sejak 6m, karbohidrat, sayuran, protein nabati (kacang-kacangan & olahannya) dan hewani (daging, ikan, ayam, telur, ati, dll), buah, termasuk sumber lemak tambahan seperti santan, minyak dan mentega, serta kaldu. Tekstur makanan yang dianjurkan adalah semi kental bukan encer seperti asi yaitu ketika sendok dibalik makanan tidak langsung tumpah. Kekentalan menunjukkan semakin banyak nutrisi.

Untuk perkenalan awal mpasi, paling lama 2 minggu pertama dikenalkan bubur dan puree tunggal (dari satu bahan), boleh ditambah asi, jaga tekstur agar tetap semi kental. Frekuensi makan 1-2x sehari dengan porsi 2-3 sdm dewasa tiap kali makan. Jadi bukan hanya buah saja atau sayuran saja, tapi bisa juga protein dan aneka karbohidrat.

Paling telat minggu ketiga sudah harus dikenalkan bubur halus/saring lengkap karbo + sayur + protein hewani + protein nabati (kacang-kacangan atau olahannya) + sumber lemak tambahan (santan/minyak/mentega/margarin). Frekuensi makan 2-3x sehari, mulai diberikan makanan selingan 1x.

Jadi minggu ketiga, selain buah sebagai selingan, dalam 1x makan dalam 1 piring/mangkok harus ada sumber karbohidrat + hewani + nabati + sayuran + lemak tambahan. Dan jadikan menu buah sebagai bagian dari menu harian mpasi dan keluarga bukan hanya untuk awal pengenalan mpasi

Untuk lebih jelasnya monggo dibaca :
1. Panduan MPASI WHO:
https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/panduan-umum-who-tentang-mpasi/10151666164374778

2. Tips MPASI WHO:
https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/tips-mpasi-standar-who/10151835808169778

3. Kumpulan Kultwit AIMI tentang MPASI:
https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/kumpulan-kultwit-aimi-tentang-mpasi/10151827464664778

4. Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) Seputar Pemberian MPASI
https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/pertanyaan-yang-sering-diajukan-faq-seputar-pemberian-mpasi/10152107512094778

5. Foto Contoh Tekstur MPASI:
https://www.facebook.com/media/set/…

6. Gerakan tutup mulut pada anak:
https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/serba-serbi-gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-anak/10151666101769778

Amanda Pingkan Wulandari Pratama jika tidak alergi, bisa diberikan telur utuh (putel dan kutelnya juga). Penggunaan bawang bisa dicoba 6,5-7m, amati reaksi bayi, jika terjadi kolik, maka disarankan bawang tidak ikut dihaluskan bersama bubur.
Amanda Pingkan Wulandari Pratama mom Wanty dan ibu-ibu lainnya : Semua jenis bahan makanan dikenalkan sejak 6m, karbohidrat, sayuran, protein nabati (aneka jamur, kacang-kacangan & olahannya) dan hewani (daging, ikan, ayam, telur, ati, dll), buah, termasuk sumber lemak tambahan seperti santan, minyak dan mentega, serta kaldu. Tekstur makanan yang dianjurkan adalah semi kental bukan encer seperti asi yaitu ketika sendok dibalik makanan tidak langsung tumpah. Kekentalan menunjukkan semakin banyak nutrisi. Untuk perkenalan awal mpasi, paling lama 2 minggu pertama dikenalkan bubur dan puree tunggal (dari satu bahan), boleh ditambah asi, jaga tekstur agar tetap semi kental. Frekuensi makan 1-2x sehari dengan porsi 2-3 sdm dewasa tiap kali makan. Jad bukan hanya buah saja atau sayuran saja, tapi bisa juga protein dan aneka karbohidrat.
Paling telat minggu ketiga sudah harus dikenalkan bubur halus/saring lengkap karbo + sayur + protein hewani + protein nabati (kacang-kacangan atau olahannya) + sumber lemak tambahan (santan/minyak/mentega/ margarin). Frekuensi makan 2-3x sehari, mulai diberikan makanan selingan 1x. Jadi selain buah sebagai selingan, dalam 1x makan dalam 1 piring/mangkok harus ada sumber karbohidrat + hewani + nabati + sayuran + lemak tambahan. dan jadikan menu buah sebagai bagian dari menu harian mpasi dan keluarga bukan hanya untuk awal pengenalan mpasi. Jadi bisa dikenalkan apa aja, sesuai dengan apa yang biasa dikonsumsi keluarga. Sayuran itu tidak hanya wortel atau bayam atau brokoli saja

Menu yang baik untuk setiap makan harus mengandung sumber karbohidrat + protein hewani + protein nabati + sayur + lemak tambahan, berikan buah sebagai selingan. Apa yang biasa dikonsumsi oleh anggota keluarga sehari-hari ya itulah pula bahan mpasi untuk si buah hati
Amanda Pingkan Wulandari Pratama gunakan apa yang biasa dikonsumsi di rumah ya

Sumber lemak tidak hanya evoo/eloo atau unsalted butter lho ya. Ada santan, minyak kedelai, minyak canola, minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak jagung, minyak kulit ari beras,mentega,margarin.

Pemberian mpasi yang baik bukan diliat dari pemberian evoo/butter, tapi perbaikan pola makan secara menyeluruh : porsi, tekstur dan frekuensi sesuai usia, durasi makan maksimal 30 menit, pastikan menu gizi seimbang ada karbo + protein hewani + nabati (terutama kacang-kacangan) + sayuran dan sumber lemak.

Tiap hari dikasih evoo tapi menu gak seimbang, porsi, tekstur dan frekuensi makan gak sesuai usia ya gak optimal juga Tidak perlu fanatik ama evoo atau butter aja untuk boost BB Bermpasi tidak wajib eksklusif dengan evoo lho

Amanda Pingkan Wulandari Pratama

Berdasarkan Panduan Mpasi WHO yang dirujuk oleh AIMI :
Semua jenis bahan makanan dikenalkan sejak 6m, karbohidrat, sayuran, protein nabati (aneka jamur, kacang-kacangan & olahannya) dan hewani (daging, ikan, ayam, telur, ati, dll), buah, termasuk sumber lemak tambahan seperti santan, minyak dan mentega, serta kaldu. Tekstur makanan yang dianjurkan adalah semi kental bukan encer seperti asi yaitu ketika sendok dibalik makanan tidak langsung tumpah. Kekentalan menunjukkan semakin banyak nutrisi.

Amanda Pingkan Wulandari Pratama  tunggal ya 1, tanpa dicampur dulu Bubur beras ya beras aja, bubur kentang ya kentang aja, dll
Amanda Pingkan Wulandari Pratama dengan panduan WHO sebenarnya tidak perlu tes 2 hari. Tiap hari variasi menu. Reaksi alergi bisa muncul dalam waktu 24 jam. Aturan 2-3 hari diterapkan jika memang anak bakat alergi dan diberlakukan hanya untuk makanan yang memang berpotensi sebagai pemicu alerg.
sebenarnya pemberian garam pada mpasi itu memang karena dibutuhkan oleh bayi kah atau perasaan ibu yang mengatakan perlu garam? Yuk disimak dulu yang ini — ada di dokumen lhooo, link sudah saya berikan di atas tentang FAQ Mpasi GULA GARAM: Mengapa gula dan garam tidak dianjurkan diberikan pada saat bayi masih berumur di bawah 1 tahun? JAWAB: Dalam ketentuan WHO tidak ada larangan memberikan garam tapi memang hanya sedikit. Jauh lebih sedikit dari yg diberikan pada makanan dewasa. Tetapi harap diingat, panduan WHO sifatnya universal di seluruh dunia ya… Masalahnya, definisi “sedikit” pada orang Indonesia berbeda dengan “sedikit” pada kuliner Barat. Kita terbiasa dengan kuliner bercita rasa kuat dengan penambahan garam gula dan bahkan penyedap rasa pada makanan dlm jumlah yg cukup banyak, untuk ukuran kuliner Barat. Sehingga inilah yg sering “merusak” palate atau toleransi anak terhadap rasa. Anak sudah biasa kenal cita rasa yg kuat sejak kecil krn pengaruh kuliner lokal ini…Itu kenapa orang Indonesia selalu menganggap masakan Barat (yg bukan dimodifikasi dengan lidah kita ya), hambar, krn memang mereka menggunakan garam yg sangat sangat sedikit bahkan pada dewasa. Nah penundaan pemberian ini diharapkan akan mengurangi beban ginjal anak di usia yg sangat muda sekaligus tidak memberi kesempatan peningkatan ambang rasa secara signifikan pada usia yg terlalu muda. terlepas apakah keluarga kita termasuk yg memberi gulgar banyak atau sedikit, menunda akan lebih baik bagi palate dan kesehatan anak mendatang justru krn kita tidak bisa pukul rata semua standar gurih dan manis semua keluarga. Kalau kita kembali lagi ke konsep MPASI sebagai proses pengenalan bahan makanan, semua bahan makanan harus dikenalkan sesuai rasa aslinya baru kemudian kita kombinasikan hingga membentuk citarasa olahan kuliner. Jadi sebelum kita kenalkan anak sama sop ayam yg isinya macam2 sayuran, kita kenalkan dia sama rasa tiap sayur2an dahulu, tanpa intervensi rasa yg lain. Kalau mau kembali ke rasa, gunakan rempah. Toh kita kaya akan rempah, bisa manfaatkan itu utk membantu memperkuat rasa makanan. Soal kebutuhan garam, di beberapa penelitian, utk bayi yg masih ASI ATAU sufor, kebutuhan akan garam sudah dipenuhi oleh ASI ATAU sufor, itu kenapa dia tidak lagi perlu garam utk bayi di bawah 1 tahun, krn dia hanya butuh 1 gram garam per HARI : http://www.nhs.uk/chq/Pages/824.aspx?CategoryID=51 Kebutuhan yodium hanya 90 mikrogram per hari dan itu bsia dipenuhi oleh sufor atau ASI plus bahan makanan yg beragam. Itu alasannya mengapa sampai 1 thn tidak perlu ada asupan garam tambahan kalau alasannya hanya utk kebutuhan yodium. Sementara kalau kita sudah memberikan ikan, mentega, atau keju di sana juga sudah mengandung garam. Tubuh memang membutuhkan natrium yang dapat diperoleh dari garam dapur. Namun tak perlu mengonsumsi khusus garam dapur jika natrium yang terkandung dalam bahan makanan alami sudah mencukupi. Kebutuhan natrium pada bayi di bawah 1 tahun juga hanya 0,4 gram per hari. Hampir semua produk laut, secara alami sudah mengandung unsur natrium. Hal yg sama juga untuk penggunaan gula, terkait ambang batas rasa anak dan potensi dia jadi menyukai makanan yg manis2 … Tetapi pilihan di tangan Anda tentunya
Amanda Pingkan Wulandari Pratama Nah…itu kemungkinan penyebabnya. Diblender. Kentang kukus cukup dilumatkan dengan garpu/sendok atau dipenyet di atas saringan kawat. Kentang kukus + air, diblender, teksturnya akan kental lengket/sticky, susah ditelan, jadinya mau hoek
Lianita Prawindarti MinLi Yakin bahwa MPASI-nya yg menyebabkan alergi? karena reaksi alergi pada makanan, apalagi makanan yg bukan merupakan alergen tinggi akan muncul bbrp jam hingga 24 jam setelah makan. jangan2 ada yg ibu konsumsi yang justru jd biang alergi si anak atau alergennya bukan dr makanan? cuaca? debu? bahan detergen? sabun? Sudah coba bahan2 lain yg rendah alergen?

SEMUA bahan makanan bisa jadi menu tunggal Bu. .Esensi menu tunggal kan memang mengenalkan anak sama bahan makanan baru. Jd kalau baru dikenalkan ya memang harus diberikan sbg menu tunggal…

Alergi hanya bisa dipastikan reaksinya hanya dengan mencoba memberikan. kalau nggak diberikan, kita nggak akan tahu reaksinya kan? Ya semua tetap harus dicoba Bu…buat diary makanan

Ika Isnaeni  boleh kok di berikan bumbu dapur sejak 6m asal bukan gula garam. daun salam,serai,daun jeruk malah bisa merangsang nafsu makan anak dan makannya bukan di blender yaa tapi di saring pakai saringan kawat (admin)
Annisa Karnadi Bubur saring yang disaring dengan saringan kawat aman kok selama ibu menjaga kebersihan saat mengolah dan menyajikan MPASI. Teksturnya juga tepat, gizinya juga insya Allah tetap baik
Ika Isnaeni  sebenarnya sih ga papa berbagi ilmu bu. asal sesuai dengan rules yang ada. sepanjang sesuai ga ada masalah,tetapi kalau agak berbeda dan kami punya tanggung jawab moral ke masyarakat karena ini grup edukasi dan tanggung jawab kepada kemenkes dan WHO yang sudah berbaik hati memberi pelatihan ke AIMI tentang mpasi dan asi,ya kami harus meluruskan. terima kasih. (admin)
Lianita Prawindarti untuk bayi prematur disesuaikan dengan kondisi ksehatan bayi, pertumbuhannya dan ksesiapannya. jadi kpan didberikan harus atas konsultasi dengan dokter anak yg merawat sejak kecil yaa (admin, KL AIMI)
Annisa Karnadi Bumbu boleh langsung dicoba. Tapi bumbu cukup dimasukkan utuh yah. Misal kalo bawang yaa dibelah dua aja. Bumbu yang bisa digunakan sebagai perasa bubur yang disukai anak Indonesia: Daun sereh atau batang sereh, Bawang merah (cukup belah 2), bawang putih (cukup belah 2), daun jeruk, lngkuas, daun bawang, daun pandan. Kadang bisa juga daun salam dan seledri.
Ika Isnaeni  pemberian lemak baik minyak goreng,santan ataupun margarin, langsung diberikan di buburnya yang panas. tapi tidak dimasak. margarin walau ada garamnya boleh karena bukan komponen utama. camilan untuk mpasi adalah buah (admin)
Ika Isnaeni mpasi ini setiap tahapan usia ada tahapan teksturnya —> maksudnya agar menyesuaikan dengan perkembangan pencernaannya. dari lembut ke semi kasar dan ke kasar. mpasi ini tiap tahapan usia juga ada tahapan porsi makannya —-> ini disesuaikan dengan besarnya lambung bayi yang semakin meningkat dari bulan ke bulan dan sebagai kecukupan nutrisinya. nah hal ini yang ga di dapat di BLW (admin)
Ika Isnaeni mpasi dari WHO ini sebenarnya adalah mpasi homemade. artinya makanan yang sama dengan makanan yang di buat orang serumah. mau di rumah makan gulai ikan,mau makan sop bayi juga sama menunya. tinggal di sesuaikan saja teksturnya dan tanpa gula garam. usia 1 tahun lebih mudah lagi. sudah makan keluarga. samakan saja dengan menu keluarga asal tidak pedas sebaiknya tidak memisahkan atau membuat menu sendiri untuk anak,agar anak terbiasa makan seperti orang rumahan sehingga menjadi tidak pemilih
Ika Isnaeni  memang BLW bukan tanpa makan apa2. tapi apakah teksturnya sudah tepat untuk pencernaannya? apakah porsinya sudah pas untuk usianya? ini titik beratnya. sari pati dari dari makanan yang di hisap belum menjamin porsi dan tekstur yang tepat untuk bayi. dan asi mencukupi 70% gizi ini hanya di usia 6m. seiring naiknya umurnya maka kecukupan asinya juga semakin berkurang sampai pada usia 1 tahun hanya mencukupi 30% saja. bayi asi atau sufor hanya mengenal makanan cair saja selama 6bln. pada saat mpasi maka diberikan mpasi dengan tekstur lembut atau saring. porsinya 2sdm naik usianya pelan menjadi cincang dan mulai naik sampai 125ml. nah apa syarat ini terpenuhi oleh BLW? AIMI mengikuti rekomendasi WHO. penggunaan tekstur dan porsi ini disebabkan karena kasus gizi yang ada di indonesia. gizinya tidak baik. dengan pola tekstur dan porsi yang ditentukan diharapkan komposisinya bisa membantu memberi kontribusi gizi yang baik untuk bayi. jika ada orang tua yang mau menggunakan BLW kembali ke tangan orang tua masing-masing. sepanjang ibu yakin dengan pola ibu.
Ika Isnaeni  kami mempelajari metode lain. tapi karena kami mempunyai tanggung jawab moral tentang edukasi yang tepat maka yang kami gunakan akan yang sesuai untuk itu. kami mempelajari blw kemudian ternyata risikonya adalah tidak mendapatkan angka kecukupan nutrisi jika menggunakan metode itu dan kemenkes serta who tidak menyarankan, apa ya kemudian kita menyarankan? sama halnya pemakaian dot,karena ada resikonya maka kami tidak meyarankan sesuai dengan anjuran who dan idai. kalau kami menyarankan dan kemudian berefek buruk bagaimana? di atas sudah saya jelaskan, mau pakai blw, mau pakai fc, mau pakai dot sekalipun semua kembali ke tangan orang tua masing-masing, kami sebagai konselor tidak memaksa ,kalau orang tua mau pakai silakan tapi jangan paksa kami mengikuti apa yang di inginkan orang tua masing-masing. di awal anda bertanya apa aimi merekomendasikan blw kalau engga kenapa. sudah saya jawab. itu jawaban saya. anda mau menggunakan blw sekali lagi silahkan. tapi bukan kemudian saya akan belajar blw dan meyarankan ke orang lain. ibaratnya saya nanti dipentung kemenkes karena tidak membantu program yang tepat. semoga jelas ya bu.
Ika Isnaeni nambahi ya.. mpasi dengan tekstur yg lembut bukan tradisi. tapi dari penelitian yang terkait dengan pencernaan. sudah saya jelaskan di atas, kalau kemudian saya sebagai konselor asi dan mpasi tidak menyarankan yg benar, bagaimana tanggung jawab saya? sama halnya ini dengan saya bilang ga usah asi 6m tambahin yang lainnya boleh kok. kenapa saya bilang sama? karena ada faktor risiko di situ.
Lianita Prawindarti MinLi waaah seru ya diskusinya ttg BLW… Boleh saya ikutan jika tidak keberatan krn kebetulan saya yang buat thread MPASI ini, hehehe. Karena kebetulan sebelum saya diberi kesempatan ikut pelatihan manajemen MPASI di Persatuan Perinatalogi Indonesia sudah membaca beberapa literatur ilmiah internasional ttg BLW. Salah satu yg cukup komprehensif menurut saya, walau belum merepresentasikan kelompok responden di negara miskin dan berkembang adalah yg dimuat di jurnal “Nutrients” November 2012 yg ditulis oleh Cameron, Heath and Taylor. Silakan jika Anda ingin mengkajinya secara lebih mendalam dan kemudian merujuknya ke literatur2 ilmiah lain yang sejenis.

BLW sebagai sebuah alternatif metode pemberian makanan pada bayi awalnya dikenalkan di negara2 maju seperti Selandia Baru, AS, Australia dan negara2 Eropa barat seperti UK, beberapa alasannya antara lain krn concern terhadap tiga hal:
Pertama, trend pemberian makanan padat di bawah usia 6 bulan atau yg ekuivalen dengan standar WHO.
Kedua, karena trend pemberian makanan instant yg makin tinggi. Ketiga, karena statistik angka obesitas pada anak yg trend nya meningkat di negara2 maju,

Naaah, BLW, di satu sisi menuntut bayi utk hanya mendapatkan ASI atau sufor hingga usianya 6 bulan. Sehingga BLW dianggap berkontribusi positif di negara2 maju utk menunda angka pemberian MPASI terlalu awal karena banyak ibu yg akhirnya memberikan makanan padat setelah mereka kembali bekerja. Syarat BLW kan memang MPASI diberikan di usia 6 bulan. Jadi dengan adanya metode ini diharapkan orang tua akan menunda pemberian makanan padat hingga usia 6 bulan agar bisa memenuhi syarat pelaksanaan BLW.

Kedua, karena angka konsumsi makanan instant bayi terlalu tinggi, maka gerakan untuk mengembalikan bayi ke asupan keluarga atau menu keluarga tinggi. DI AS misalnya, pemerintah Obama punya kebijakan The Special Supplemental Nutrition Program for Women, Infants and Children yg berupaya mengembalikan anak2 ke pola makan sehat krn mereka menemukan makanan instant pada bayi dan anak cenderung merusak kesehatan mereka. Jadi di sana, pemerintah selalu meng-encourage utk pemberian MPASI rumahan. Di Inggris juga demikian, 4 dari 5 bayi diberi makanan instant, sementara pemerintah inggris menyatakan bahwa setiap tenaga medis harus mendorong pemberian makanan rumahan dan bukan makanan instant (Infant and Child Feeding Guidelines 2010). Sehingga BLW dianggap dapat mengintegrasikan bayi kembali ke meja makan makan bersama dengan orang tuanya dengan menu keluarga dan bukan makanan instant.

Ketiga, karena pola makan yg tidak sehat sejak bayi, angka obesitas di negara maju demikian tinggi, terutama yg menyerang anak2. BLW diharapkan menjadi self-control agar anak lah yg menentukan berapa yg dia makan dan berapa yg dia butuhkan.

Di beberapa jurnal ilmiah yg saya baca, studi ttg BLW memang berindikasi positif jika itu dilakukan di negara maju yang tingkat angka kematian bayi dan balita rendah, yang angka kesehatan ibu hamil sudah sangat baik, angka ADB juga tergolong rendah. Bahkan penelitian ttg BLW di negara2 majupun belum secara representatif menunjukkan bahwa metode ini layak disebarluaskan ke semua tipe masyarakat karena studinya belum dapat dilakukan secara random. Hanya dilakukan pada kelompok terpilih yg memang sudah memahami benar konsep BLW dan memiliki faktor resiko kesehatan yang rendah (ekonomi baik dan edukasi orang tua baik).

Di lapangan, sumber official seperti di NZ yang dikutip Minky pun sudah jelas2 mengisyaratkan bahwa negara tidak menyarankan metode ini hingga ada bukti2 ilmiah yang cukup yg mendukung bahwa itu aman direkomendasikan secara luas. Itu di negara maju ya, salah satu negara yg jadi rujukan kita “mengimpor” metode ini.

Sementara, di Indonesia kita berhadapan pada statistik kesehatan yang berkebalikan dengan statistik kesehatan di negara2 maju. Potensi kematian bayi dan balita akibat malnutrisi masih tinggi dan angka ADB pada bayi di bawah 1 tahun masih 40% (sampai dapat catatan khusus dr WHO harus ada program nasional pemberian suplemen zat besi bagi bayi dan ibu hamil).

Itu makanya, anjuran pemerintah dengan mengikuti panduan WHO yg mengatur konsistensi/tekstur makanan, variety, porsi dan pola responsive feeding menjadi sangat vital. Secara umum kita akan mengikuti panduan pemerintah utk mengikuti metode MPASI WHO, karena sebagai organisasi advokasi kesehatan bayi dan anak, tugas kita adalah membantu pemerintah menurunkan angka kematian bayi dan balita akibat pola pemberian nutrisi yang tidak tepat. Jadi karena resiko ini masih tinggi, tidak bijak sekiranya jika kita menyarankan metode yang secara kesehatan belum teruji valid di lingkungan masyarakat dengan kondisi ekonomi seperti Indonesia. Kita bicara masyarakat kelas menengah ke bawah yang jadi angka mayoritas target ya, bukan masyarakat menengah ke atas yang mungkin sudah lebih aware dengan literatur, dengan kebersihan, punya tingkat edukasi yg baik, dan punyalebih banyak pilihan.

Jadi itu makanya secara umum, dalam forum edukASI, kita akan tetap menggunakan standar yang direkomendasikan pemerintah. Bukan kita tidak mau belajar metode lain dan mengajarkan metode lain Bukan di situ letak masalahnya Tapi letak masalahnya ada di sisi lain yg lebih urgent yaitu bagaimana kita mensosialisasikan pola asupan yg sehat pada bayi dan anak di 1000 hari pertama usianya untuk menurunkan semua faktor resiko kesehatan yg msh dimiliki negara kita.

Semoga uraian saya bisa cukup membantu mencerahkan mengenai pilihan kami di AIMI, sebagai organisasi advokasi ksehatan bayi dan anak, kenapa kita masih memilih berpegang pada anjuran WHO dan pemerintah sebagai basis utama edukASI kita ke masyarakat

Kalau kelompok yang sudah lebih teredukASI, terekspose dengan literatur ilmiah, elemen2 kesehatan seperti air bersih, kebersihan lingkungan dsb sudah baik, edukasi orang tua sudah tinggi, ya silakan2 saja krn semua faktor resiko dan benefitnya pastinya sudah dipahami dengan sangat baik. Tapi kita bicara edukASI luas, ke golongan yang tentu mungkin tidak seberuntung Ibu Debora yg jumlahnya, sayangnya, masih di angka mayoritas

Semoga mencerahkan
(admin, KL AIMI)

Lianita Prawindarti MinLi memblender nasi tidak membuat nasi benar2 jadi lembut merata seperti bubur, akan ada bagian2 yg menggumpal dan itu justru bahaya buat bayi yg sedang belajar makan lhoo. Yang disebut bubur saring artinya bubur yang disaring atau diblender, bukan nasi yang disaring atau diblender yaa..Tekstur yg dihasilkan dr nasi yg diblender atau disaring tidak sama dengan tekstur dr bubur yg diblender atau disaring
Tambahan, tentang alergi

Selamat pagi, sudah lama Minli nggak bagi2 tips ya Pagi ini ingin menyoroti soal “food diary” dan “daftar menu MPASI” karena beberapa hari ini muncul permintaan share “contekan” daftar menu dan food diary di grup Food diary dan daftar menu MPASI sebetulnya dua hal yang berbeda tapi bisa saling berkaitan Yuk kita bahas

Food diary adalah catatan harian makanan. Sama seperti diary yg suka kita buat jaman ABG. Karena namanya “diary” isinya personal dan ga contek2an dong Yup, karena food diary sebetulnya berisi catatan apa saja yang dikonsumsi, berapa banyak dan apa reaksinya.

Food diary bisa dibuat sejak masa ASIX, terutama jika orang tua dan keluarga bayi punya sejarah alergi. Ibu mencatat apa saja yang dia konsumsi (terutama saat konsumsi makanan2 yg berpotensi alergi tinggi). Food diary diperlukan di fase2 awal menyusui atau ketika ibu mencoba konsumsi makanan baru. Food diary ini bsia jadi modal nantinya ketika bayi mulai MPASI. Karena artinya makanan2 yg terindikasikan memunculkan reaksi alergi masa ASIX bisa ditunda pemberiannya di fase MPASI. Apakah mereka yg tdk punya riwayat alergi di keluarga juga hrs buat food diary? Boleh dong Terutama kalau si ibu adalah penikmat kuliner yang suka mencoba jenis2 makanan baru Naah, jadi kita ga bisa bilang di grup minta share atau “contekan” food diary karena ini murni hasil observasi masing2 individu ya Food diary ini akan berlanjut terus ketika kita memulai fase MPASI, terutama di fase perkenalan menu tunggal ya

Sekarang kita bicara soal “daftar menu MPASI”. Nah ini bisakah dishare dan dicontek? Sebetulnya bisa, tapi mohon pahami kembali prinsip2 MPASI WHO ya sebelum memulai aksi contek mencontek

Sesuai prinsip MPASI WHO, maka MPASI bayi karakternya adalah:
PERTAMA, disesuaikan dengan MENU KELUARGA
Setelah bayi melewati fase perkenalan menu tunggal, sebetulnya MPASI akan mengikuti menu keluarga yang disesuaikan bumbu dan teksturnya sesuai usia si bayi. Tapi apa yang diberikan ke bayi ya bisa disesuaikan dengan apa yang dimasak untuk anggota keluarga yang sudah dewasa.

KEDUA, menu MPASI WHO disesuaikan dengan ekonomi keluarga. Nah, karena standar ekonomi keluarga beda beda, jangan memaksakan diri. Sesuaikan dengan budget belanja sehari-hari.

KETIGA, menu MPASI WHO disesuaikan dengan karakter dan budaya dalam keluarga. Ada keluarga yang suka tumis2an tapi ada yg suka sayuran berkuah banyak. Keluarga dari etnis Bugis dengan yg asalnya dari Banjar menu hariannya bisa berbeda. Sotonya orang Betawi dengan Soto Kudus berbeda Lodehnya orang Jawa dengan Lodeh orang Sumatra juga berbeda. Selera keluarga satu dengan keluarga lain juga berbeda. Ada keluarga yang mengkombinasikan menu lokal dan Barat, jadi nggak setiap hari makan nasi. Nah, kalau kita tergolong yg kalau nggak makan nasi nggak kenyang, nggak bsia ikut2 yang polanya begini kan?

KEEMPAT, menu MPASI WHO disesuaikan dengan bahan2/kearifan lokal. Yang tinggal di pesisir dengan yang tinggal di gunung pasti beda menunya. Yang tinggal di pesisir mungkin punya akses ke ragam ikan dan seafood. Yang tinggal di gunung, sumber proteinnya mungkin lebih sering yg bersumber dr hewan2 ternak peliharaan sekitar.
Yang belanja di warung sayur atau tukang sayur mungkin punya keterbatasan jenis bahan makanan dengan yg bisa belanja di pasar secara rutin, walau bisa saja kok titip bahan makanan tertentu utk dicarikan tukang sayurnya
Variasi menu mereka yang belanja di pasar mungkin bisa beda dengan mereka yang belanja di supermarket yg menjual bahan2 impor, misalnya Atau bahkan ada juga yang sering memanfaatkan sayuran hasil kebun sendiri

KELIMA, sesuaikan juga dengan waktu memasak yang dimiliki dan kemampuan memasak. Apalagi kita punya bayi, biasanya waktu kita di dapur pasti tidak banyak. Kalau skill memasak masih rata2 atau msh di level belajar biasanya butuh waktu lbh lama buat memasak. Jadi mulailah dengan resep2 sederhana, perhitungkan waktu memasak yang efisien. Nanti saat weekend, bisa berlatih dengan menu2 yg lebih kompleks. Berbeda dengan yang sudah punya skill dan kreativitas tinggi seperti Admin tercintanya HHBF Jeng Amanda Pingkan Wulandari Pratama, yang dalam waktu singkat pasti bisa buat beragam makanan, hehehe

Daripada sibuk cari contekan daftar menu MPASI bayi yang lain, setiap weekend saat ada bantuan dari si ayah untuk menjaga si kecil, yuk susun menu keluarga dalam sepekan ke depan. Tanya si ayah mau dimasakin apa, tanya diri sendiri lagi ingin makan apa Browsing2 dan buka2 buku resep masakan. Apakah harus khusus resep makanan bayi? Nggak harus Bisa pakai resep dewasa dengan penyesuaian seperlunya untuk MPASI si kecil

Menu MPASI WHO justru nggak susah kok, karena sangat berorientasi keluarga, berciri khas lokal, dan ramah di kantong Memilih menu yg sehat nggak perlu “besar pasak daripada tiang” dan nggak perlu jadi “nafsu besar tenaga kurang” Selamat ber-MPASI (admin, KL AIMI)