Si Gurih Renyah Keritcu

kritcu-4kritcu-1kritcu-3

 

Ini salah satu hasil penugasan saat KKN di STIE Pertiba Pangkalpinang tahun 2009. Daripada hilang bersama dengan dihapusnya blog lama, dimuat kembali di sini saja. Kebetulan lagi kangen juga makan keripik nan renyah dan gurih ini.

Bp. Djunaidi Sarimin (67 tahun) merintis usaha keripik telur cumi atau keritcu/kritcu ini pada tahun 1998. Saat itu Bp. Djunaidi yang seorang pensiunan PT Timah, Tbk. menangkap adanya peluang, karena jenis makanan kecil ini memang belum ada yang menjual. Awalnya Bp. Djunaidi melakukan survei terlebih dahulu di toko-toko untuk menentukan bentuk dan kemasan seperti apa yang diminati masyarakat khususnya anak-anak. Ditemukanlah bentuk mirip stik kecil-kecil. Kemudian penjajakan bahan baku dilakukan pula dengan cara mendatangi pabrik pengolahan cumi-cumi di kawasan Pangkalbalam. Di sana cumi-cumi diolah untuk kepentingan ekspor, sedangkan telurnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Tambahan modal diperoleh dari pinjaman BUMN.

Saat itu harga satu kilo telur cumi hanya seribu rupiah, dan Bp. Djunaidi membeli 5 kilogram. Hasil jadinya dijual seharga Rp 12.000,00 dan dipasarkan dengan sistem titipan ke toko-toko oleh-oleh yang ada di kota Pangkalpinang. Rasalina dipilih sebagai merk dagang, yang merupakan akronim dari Rasa Lautan Indonesia (sekaligus mendekati nama istri Bp. Djunaidi). Pekerjaan menjemput bahan baku dan mengolah keritcu ini masih ditangani langsung oleh Bp. Djunaidi berdua istri, dengan basis tempat tinggal mereka di Jl. Adyaksa No. 180 Kacangpedang Pangkalpinang. Penambahan pekerja musiman untuk membantu hanya dilakukan apabila benar-benar diperlukan.

Hambatan yang ditemui dalam perkembangannya antara lain bahan baku telur cumi tidak selalu tersedia, karena sangat tergantung dengan kondisi laut. Tsunami tahun 2004 yang lalu membuat nelayan tidak lagi terlalu berani mengambil risiko melaut di tengah cuaca yang kurang bersahabat. Ini membuat pelebaran sayap untuk dikirim ke daerah lain dalam jumlah besar yang pernah dilakukan pada tahun 2000-an terpaksa terhenti. Daya tahan produk sendiri tak sampai dua bulan untuk kualitas terbaik. Kemudian harga bahan-bahan lain seperti tepung tapioka dan minyak goreng, juga bahan bakar untuk memasak semakin menanjak. Di sisi lain, jika harga jual ikut dinaikkan berarti akan mengurangi daya saing di pasaran. Apalagi kini sudah banyak sekali produsen makanan serupa yang berlomba-lomba menempatkan produknya di toko.

Kemasan produk keritcu sudah mengalami lima kali perubahan. Pada tahun 2001, keritcu Rasalina memenangkan lomba pengemasan UKM se-Sumatra Selatan. Saat ini ada beberapa jenis kemasan dari plastik hingga kotak. Walaupun harga bahan kemasan berbeda-beda, tetapi harga jualnya sendiri tetap sama dengan kemasan apa pun. Yang membedakan adalah daerah pemasaran. Untuk dititipkan di warung-warung misalnya, kemasan plastik biasa terbukti lebih menarik karena orang yang hendak membeli bisa melihat langsung isinya. Sedangkan untuk keperluan pameran dan toko tertentu dipakai kotak dengan ‘jendela’ plastik bening di depannya.

Desain dan beberapa kemasan awal merupakan bantuan dari pemerintah, bersama alat untuk menutup kemasan (awalnya masih manual menggunakan lilin). Setelah kemasan bantuan habis, Bp. Djunaidi harus memesan sendiri kemasan dengan desain yang sudah ada. Pada bungkus, selain merk dicantumkan pula bahan-bahan pembuatan keritcu, logo halal, alamat yang bisa dihubungi, juga versi bahasa Inggris keterangan tersebut dengan tujuan agar lebih dikenal dan dipercaya konsumen.

Sekarang keritcu Rasalina sudah semakin berkembang. Harga untuk kemasan ukuran 250 gram adalah 15 ribu rupiah. Perputarannya di toko termasuk cepat dan termasuk salah satu merk favorit pembeli. Bahkan sudah merambah juga ke kota-kota lain seperti Palembang, Jambi, Batam, dan Jakarta walaupun tidak dikirim sendiri melainkan dibawa oleh pembeli dalam jumlah banyak.

Salah satu kelebihan lain adalah tempat pembuatannya yang strategis dan mudah dikunjungi oleh umum. Sehingga pelanggan yang berminat bisa langsung datang untuk membeli tanpa melalui toko dan pihak-pihak yang ingin mengadakan penelitian, studi banding atau sejenisnya juga bisa mencapainya dengan mudah. Bp. Djunaidi memang mengaku tidak ada rahasia dalam usahanya, setiap orang boleh saja datang untuk menimba ilmu. Rombongan dari Dinas Perindustrian Maluku pernah berkunjung untuk mempelajari pengolahan telur cumi.

Penghargaan dan berbagai sertifikat pengakuan berhasil diperoleh, termasuk liputan di berbagai media. Dalam wawancara dengan tabloid bisnis nasional ‘Kontan’ bulan April lalu, Bp. Djunaidi menyatakan bahwa omzetnya sekitar 12 juta rupiah perbulan. Satu cabang usaha keritcu Rasalina telah dibuka di Sungailiat (Kab. Bangka), dikelola oleh putra Bp. Djunaidi.

Menurut Bp. Djunaidi, dirinya tetap optimis bahwa usaha keritcu Rasalina akan tetap bertahan. Sebab, yang diutamakannya adalah kualitas. Selain itu keritcu sudah menjadi komoditas unggulan kota Pangkalpinang dan tidak ada duanya di daerah lain sehingga akan selalu ada pembeli khususnya untuk oleh-oleh maupun cemilan di rumah. Pelanggan pun sudah bisa membedakan mana keritcu yang benar-benar bermutu dengan yang terlalu banyak memakai bumbu penyedap. Produksi keritcu pun tergolong kontinyu, tidak musiman seperti beberapa merk lain sehingga memudahkan dalam membentuk pasar pelanggan setia. Walaupun ada keterbatasan bahan baku sehingga produksi pun tidak bisa dilakukan setiap hari (maksimal hanya tiga hari sepekan), tetapi ini justru dianggap sebuah efisiensi. Antara lain karena tidak perlu menambah pekerja yang tentunya memerlukan upah lebih banyak. Sebagai usaha tambahan, Bp. Djunaidi juga memproduksi kemplang, tetapi tidak dalam jumlah besar dan tidak tentu waktunya.

Saking semangatnya motret aktivitas sampai lupa ambil foto keritcunya sendiri. Nah, ini dia nih yang namanya keritcu (tapi merk lain hehehe).

.SAMSUNG DIGIMAX A403kritcu-5

Advertisements

One thought on “Si Gurih Renyah Keritcu

  1. Pingback: Menikmati Kembali Gurihnya Siput Gonggong | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s