Kakak Mia

Fathia termasuk pelanggan setia odong-odong yang lewat di depan rumah. Odong-odong yang biasa Fathia naiki bentuknya standar, berbentuk boneka hewan di baris depan dan kursi bersandaran di baris belakang. Baru belakangan saya tahu ada yang berbentuk roda juga, tapi jarang lewat di gang kami. Biasanya sih Fathia naik odong-odong bersama teman-temannya, alias tetangga satu gang, ditemani ibu atau pengasuh masing-masing. Ada masanya Fathia sampai nangis-nangis ketika odong-odong keburu berlalu dan ia tak sempat naik (biasanya karena sedang berada di dalam rumah), tapi kadang-kadang juga Fathia melengos begitu saja menanggapi lewatnya bapak operator odong-odong di depan mata.

Serius amat, Nak :D

Serius amat, Nak 😀

Di hari libur, Fathia jarang naik odong-odong karena saya dan suami suka mengajaknya jalan-jalan (entah ke taman atau sekadar ke pasar) pada jam lewatnya odong-odong. Bukan sengaja menghindari sih, hanya kebetulan jamnya kan pas tuh, belum panas-panas banget. Nah, ketika suatu hari saya cuti karena pengasuh Fathia belum kembali, saya berkesempatan menemani Fathia naik odong-odong. Selama odong-odong bergerak, musik pun mengiringi. Alhamdulillah bapak yang biasa lewat ini memutar lagu anak-anak, karena saya pernah dengar ada pula yang menyetel lagu dewasa populer dengan lirik lagu eksplisit. Sekali naik sama dengan dua lagu, cukup dengan membayar dua ribu rupiah perorang.

Sambil senyum-senyum menyaksikan tingkah laku lucu Fathia dan teman-temannya di atas odong-odong, saya menyimak lagu yang diperdengarkan. Salah satu lagunya agak asing di telinga saya, dan saya agak berjengit ketika menyimak lebih saksama.

“Kakak Mia, kakak Mia
Minta anak barang seorang
Kalau dapat, kalau dapat
Hendak saya suruh berdagang

Anak yang mana akan kaupilih?
Anak yang mana akan kaupilih?
Itu, yang gemuk yang saya pilih
Bolehlah ia berjual sirih
Sirih! Sirih! Siapa beli?
Sirih! Sirih! Siapa beli?

Kakak Mia, Kakak Mia
Minta anak barang seorang
Kalau dapat, kalau dapat
Hendak saya suruh berdagang

Anak yang mana akan kauambil?
Anak yang mana akan kauambil?

Itu, yang kurus yang saya ambil
Bolehlah ia jual kerambil
Krambil! Krambil! Siapa beli?
Krambil! Krambil! Siapa beli?”

Minta anak? Buat disuruh jualan? Ini… trafficking-kah? Setelah googling, ternyata tak hanya saya yang berpikir seperti itu yang artinya saya aja yang telat, termasuk penulis keren Sundea yang tentunya menuliskan hal ini dengan lebih baik. Ya, kalau mau berpikir positif sih, lagu yang aslinya konon punya judul ‘Bermain’ dan diciptakan oleh Ibu Sud ini barangkali hendak mengajarkan wirausaha sejak dini. Tapi kenapa harus minta anak ke orang lain segala, ya? Sampai ada blogger yang berpendapat Kakak Mia ini entah penyalur anak untuk dikaryakan atau pengurus panti asuhan. Oya, ternyata ada juga organisasi yang berkecimpung di bidang HAM yang menggunakan lagu ini untuk permainan anak dengan tujuan edukasi, dengan sedikit modifikasi lirik. Dalam materinya antara lain disebutkan “Adakalanya seorang anak harus bekerja, namun demikian anak tetap harus terlindungi hak-haknya dan pihak berwajib harus memastikan bahwa anak terhindar dari eksploitasi maupun trafficking.” (ada modul yang bisa diunduh melalui google, tapi tidak berhasil dicari tautan aslinya di situs yang bersangkutan).

Advertisements

2 thoughts on “Kakak Mia

  1. hahaha
    aku pun kepikir ini sejak 2010. sempet ditweet juga kalo ga salah..dengan alasan yang sama. ini lagu trafficking atau apa? kok begini sih liriknya. pas gede baru ngeh kenapa absurd ya liriknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s