Mengukur Suhu dengan Termometer

[MABES TATC]
Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta

Hingga sekarang ketika ada bunda-bunda yang bertanya mengenai kondisi anak yang sedang demam, tidak semuanya siap ketika ditanya balik, “Suhunya berapa?”. Baik karena belum punya termometer maupun mungkin masih bingung mengenai penggunaan alat ukur suhu tubuh tersebut. Yuk, simak sama-sama penjelasan seputar termometer yang dikutip dari situs Milis Sehat dan Tabloid NOVA ini.

TERMOMETER AIR RAKSA
Termometer ini terdiri atas tabung gelas tertutup yang berisi cairan air raksa/merkuri. Di tepi tabung terlihat garis-garis yang menunjukkan skala temperatur. Bila suhu meningkat, air raksa dalam tabung yang sempit itu akan naik. Titik di mana air raksa tersebut berhenti naik menunjukkan berapa suhu tubuh si pengguna saat itu.
Termometer air raksa termasuk paling banyak digunakan. Mudah didapat, harganya murah dan pengukurannya
akurat. Sesuai dengan desain tabung kaca termometer ini, posisi ujung air raksa sebagai penunjuk derajatnya akan berada di posisi yang tetap kecuali kita menggoyang-goyangkannya secara kuat. Jagalah agar termometer air raksa tidak patah/pecah. Kalaupun pecah, jangan sampai air raksanya terhirup/termakan karena bersifat toksik alias racun bagi tubuh. Oleh karena itu pengukuran lewat mulut sama sekali tidak dianjurkan pada bayi maupun balita karena dikhawatirkan pecah digigit.

Berikut langkah-langkah menggunakan termometer:
* Mengukur suhu melalui mulut (oral):
– Bila anak baru saja makan atau minum, tunggu sekitar 20-30 menit.
– Pastikan tidak ada makanan di dalam mulutnya.
– Letakkan ujung termometer itu di bawah lidahnya selama tiga menit.
– Minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer.
– Selalu ingatkan anak untuk tidak menggigit atau berbicara ketika ada termometer di dalam mulut.
– Minta pula si anak untuk relaks dan bernapas biasa melalui hidung.
– Kemudian ambil termometer dan bacalah posisi air raksanya.
* Mengukur suhu melalui dubur (rektal):
– Pastikan posisi air raksa pada termometer dalam keadaan normal.
– Lumasi ujung termometer dengan jelly yang larut air
– Baringkan si kecil di pangkuan atau di atas tempat yang rata.
– Masukkan ujung termometer ke dalam dubur sejauh 1-2 cm atau sampai ujung termometer yang dilapis logam masuk semua ke dalam lubang dubur. Namun bila terasa ada sesuatu yang menahan, jangan masukkan lebih jauh dari 1 cm. Usahakan agar gerakan si kecil tidak mengganggu pengukuran.
– Tenangkan si anak dengan mengajaknya bicara sambil Anda memegang termometer tersebut.
– Setelah 3 menit, cabut termometer dan lihat angka yang menunjukkan suhunya.
Menurut para ahli, penggunaan termometer lewat anus adalah yang paling akurat dalam mengukur suhu tubuh, terutama pada anak balita.
Tapi hati-hati, kalau memasukkannya terlalu dalam, malah bisa mencederai si kecil. Karenanya, disarankan mengukur suhu tubuh melalui anus sebaiknya hanya dilakukan oleh petugas kesehatan.
* Mengukur suhu melalui ketiak:
– Termoter harus menyentuh kulit sehingga baju si kecil mesti dilepas.
– Kibaskan termometer sehingga air raksanya turun ke bawah mencapai posisi normal.
– Pangku si buah hati dan kepitkan termometer di ketiaknya.
– Rapatkan lengan si kecil ke tubuhnya agar termometer terjepit kuat selama 3-5 menit.
– Ambil termometer dan lihat angka yang menunjukkan suhu tubuhnya.
Dibanding lewat anus, proses pengukuran suhu lewat ketiak memang relatif lebih lama. Lantaran prosesnya yang lama itulah para ahli berpendapat, cara ini berpeluang menghasilkan angka yang tidak akurat.

TERMOMETER DIGITAL
Umumnya bergagang plastik dengan sensor dan layar hasil pengukuran di salah satu sisinya. Dibanding termometer air raksa, cara penggunaan termometer digital relatif lebih mudah dan praktis.Selain lebih aman penggunaannya, tingkat akurasinya pun bisa diandalkan. Bahkan memperlihatkan hasil pengukuran sampai desimal.
Akan tetapi, termometer ini juga memiliki kelemahan, yaitu sangat rentan terhadap udara lembap dan air. Selain harganya mahal, hasil pengukuran-nya sering meleset bila baterainya sudah lemah atau pernah terjatuh. Jadi untuk pengguna termometer jenis ini, periksa dan gantilah baterainya secara berkala. Seperti termometer air raksa, pengukuran suhu pada termometer digital bisa dilakukan di beberapa tempat yaitu mulut, ketiak dan anus.

TERMOMETER TELINGA (tympanic thermometer)
Termometer telinga dipakai untuk mengukur suhu gendang telinga atau suhu di dalam liang telinga. Pemakaiannya butuh waktu yang sangat singkat, sekitar 2-3 detik. Pada anak yang agak besar, katakanlah usia balita, pengukurandapat berlangsung mudah dan akurat. Namun pada bayi tidak begitu akurat, karena liang telinga masih kecil. Bahkan The American Academy of Pediatrics (AAP) tidak menganjurkan penggunaan alat ini pada bayi berusia kurang dari tiga bulan. Kelemahan lainnya terletak pada harganya yang mahal.
* Cara mengukur suhu:
– Tempatkan ujung termometer pada saluran telinga bagian luar.
– Lalu tekan tombol start.
– Tunggu hingga terdengar bunyi beep.

TERMOMETER DAHI
Berupa strip atau lempengan/lembaran plastik yang tipis. Penggunaannya dengan cara ditempelkan/dilekatkan di kening si kecil. Panelnya yang peka suhu akan berubah warna sesuai temperatur tubuh. Walaupun cara ini lebih mudah dan praktis, namun tingkat akurasinya terbilang rendah, khususnya pada bayi dan anak kecil. Anda perlu menambahkan kira-kira setengah derajat Celcius terhadap angka yang terbaca.

TERMOMETER EMPENG (Pacifier Thermometer)
Termometer ini memudahkan orangtua saat mengukur suhu tubuh si kecil. Tak perlu pula diselipkan di ketiaknya. Dengan demikian bayi mau menahan termometer tersebut dalam mulutnya. Namun pengukurannya sering tidak akurat hingga tak dianjurkan.

TERMOMETER INFRAMERAH
Tergolong sebagai termometer tercanggih saat ini. Untuk pemantauan terus-menerus ada yang disisipkan di bagian tubuh, tetapi untuk penggunaan praktis biasanya berupa alat yang disisipkan di lubang telinga. Di ujung alat terdapat sensor yang akan menerima radiasi/gelombang panas dari gendang telinga. Hasil sensor akan terlihat dalam layar pantau. Termometer ini bisa dikatakan paling akurat dan cepat. Namun harganya relatif mahal. Sayangnya, bila gendang telinga dalam keadaan tidak bersih, maka akan menghalangi penyaluran gelombang panas pada sensor. Tentu saja ini akan mengganggu akurasi pengukuran.

TERMOMETER REKTAL
Ada termometer khusus rektal yang bagian ujungnya berbentuk bulat. Sayangnya, belum dijual untuk umum padahal tergolong akurat.

VARIASI SUHU TUBUH NORMAL
Suhu tubuh normal setiap orang sesungguhnya bervariasi bergantung pada waktu pengukuran (pagi, siang atau malam), tempat pengukuran (dalam rongga mulut, di ketiak, atau dalam dubur), faktor usia serta tingkat metabolisme (sebelum atau sesudah makan, sebelum atau setelah melakukan aktivitas fisik). Suhu di daerah dubur (temperatur rektal) paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core body temperature). Suhu di daerah mulut atau ketiak (aksila) sekitar 0,5 sampai 0,8 derajat lebih rendah dari suhu rektal, dengan catatan setelah pengukuran selama minimal 1 menit.

PENTING DIPERHATIKAN
* Simpan termometer di tempat yang aman agar tidak mudah pecah dan tidak mudah dijangkau anak.
* Sebelum mempergunakan termometer, jangan lupa bersihkan dulu dengan lap berbahan katun yang sebelumnya telah dibasahi dengan alkohol. Atau bisa juga dibersihkan dalam larutan air sabun hangat lalu bilas dengan air dingin.
* Untuk termometer digital, jangan lupa juga untuk mengaktifkannya sebelum digunakan. Walau demikian,biasakan membaca dahulu petunjuk yang disertakan oleh pabrik pembuat termometer tersebut. Kenapa? Karena mungkin saja termometer yang Anda beli memerlukan cara berbeda untuk pemakaiannya.
* Metode yang dipilih dalam mengukur suhu tubuh si kecil sangat ditentukan oleh usia dan seberapa kooperatif anak. Bagi bayi bahkan sampai usia prasekolah, misalnya, lebih akurat bila diukur menggunakan termometer digital atau telinga. Setelah anak berusia lebih dari empat tahun, termometer digital menjadi pilihan untuk mengukur suhu di dalam rongga mulut.
* Jika anak menderita batuk atau flu sampai-sampai bernapas melalui mulut karena hidung “tersumbat”, pengukuran suhu rongga mulut tidak lagi efektif. Gunakan pemeriksaan suhu melalui telinga, ketiak, atau rektum dengan termometer digital.
* Apa pun metodenya, jangan mengukur suhu tubuh segera setelah anak mandi karena akan memengaruhi hasil pengukuran. Agar hasil pengukuran termometer akurat, tunggu sampai si kecil tidur dulu. Maklum, si kecil biasanya merasa geli kalau ketiak atau telinganya dimasuki benda asing.
* Jangan pula mengukur suhu tubuh anak dengan mengandalkan punggung tangan karena perabaan tangan jelas tidak akurat. Pasalnya, tingkat metabolisme dan mekanisme sirkulasi darah tiap individu bervariasi.

Sumber:
http://milissehat.web.id/?p=621 tentang Demam pada Anak, bagian Taking Your Child’s Temperature.
http://tabloidnova.com/Kesehatan/Anak/Termometer-Tepat-Buat-Si-Kecil
http://tabloidnova.com/Kesehatan/Anak/Termometer-Tepat-Buat-Si-Kecil-2

Nah, lalu pada suhu berapa bisa dikatakan demam? Dari Kidshealth bisa dikutip seperti ini (tulisan selengkapnya sepertinya menjadi sumber rujukan untuk artikel yang di Tabloid Nova):
Is it a Fever?

A gentle kiss on the forehead or a hand placed lightly on the skin is often enough to give you a hint that your child has a fever. However, this method of taking a temperature (called tactile temperature) doesn’t give an accurate measurement.

Use a reliable thermometer to confirm a fever, which is when a child’s temperature is at or above one of these levels:

measured orally (in the mouth): 99.5°F (37.5°C)
measured rectally (in the bottom): 100.4°F (38°C)
measured in an axillary position (under the arm): 99°F (37.2°C)

But how high a fever is doesn’t tell you much about how sick your child is. A simple cold or other viral infection can sometimes cause a rather high fever (in the 102°–104°F/38.9°–40°C range), but this doesn’t usually indicate a serious problem. And serious infections, especially those in infants, might cause no fever or even an abnormally low body temperature (below 97°F or 36.1°C).

Because fevers can rise and fall, a child might have chills as the body’s temperature begins to rise. The child may sweat to release extra heat as the temperature starts to drop.

Sometimes kids with a fever breathe faster than usual and may have a faster heart rate. Call the doctor if your child is having trouble breathing, is breathing faster than normal, or continues to breathe fast after the fever comes down.
http://m.kidshealth.org/en/parents/fever.html

Mengingat pengukuran suhu di sini lebih banyak dilakukan melalui ketiak (walaupun beberapa tahun belakangan ini fasilitas kesehatan seperti puskesmas yang pernah saya datangi melakukan pengukuran melalui telinga), jadi bisa dibilang demam kalau suhu termometer yang ‘dikempit’ minimal 37,2°C ya.

(Dirangkum untuk mengisi Materi Mabes TATC Maret 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s