[Kliping] Bedak Bayi, Perlukah?

http://m.detik.com/kanal/605/detiknewsindex.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/10/time/144852/idnews/937218/idkanal/10

Nadhifa Putri – detikNews

Jakarta – Aroma tubuh bayi yang wangi dan lembut seringkali membuat kita selalu ingin menciumnya. Wangi yang berasal dari bedak ataupun minyak yang dibalurkan bayi menunjukkan ciri khas buah hati.

Namun, amankah pemakaian produk-produk tersebut bagi si mungil? Dokter Spesialis anak RS Pondok Indah Karel Staa menegaskan, pemakaian bedak, minyak kayu putih, minyak telon dan pewangi (cologne) sangat berbahaya untuk kesehatan bayi di masa datang.

“Partikel-partikel yang terkandung di dalam bedak bayi dan minyak itu bahaya jika dihirup bayi,” kata Karel Staa usai diskusi bertajuk ‘Lindungi Semua Perempuan dari Kanker Serviks’ di RS Pondok Indah, Jl. Metro Duta , Jakarta Selatan, Sabtu (10/5/2008).

Produk tersebut, kata Karel, dapat membahayakan fungsi paru-paru. “Misalnya batuk yang tidak sembuh. Nanti setelah diperiksa, biasanya dokter akan menyuruh

memberhentikan pemakaian bedak dan lain-lain. Setelah itu batuknya hilang. Itu bisa saja respirasi paru,” imbuh dia.

Baluran minyak dipercaya dapat memberi kehangatan untuk bayi. Namun hal ini juga dibantah Karel. “Kata siapa? Dari mana? Kulit bayi kan belum berfungsi. Lalu mau ditutupi produk itu, bagaimana pori-porinya bernafas?” ujarnya.

Karel menuturkan, pernah mendapati salah satu pasiennya mengeluhkan kulit anaknya gosong. “Ternyata setelah diperiksa, bayinya dibalurin minyak kayu putih 100 persen,” tutur dia.

Ditambahkan dia, kulit bayi seharusnya dibiarkan apa adanya. Meski bayi baru dapat merasakan rangsangan di usia di atas 1 tahun, pemakaian produk tetap tidak dianjurkan.

“Itu kan tradisi Indonesia, dari orang tua. Biarkan bayi pure. Kecuali ada indikasi medis seperti iritasi, itu harus anjuran dokter,” pungkasnya.

Sebagian besar bedak bayi mengedepankan talc sebagai bahan utamanya. Talc adalah semacam batuan mineral yang melalui proses penambangan dan penggilingan sehingga berubah bentuk menjadi butiran-butiran halus.

Dalam proses penggilingan tersebut beberapa partikel mineral ada yang menghilang namun ada pula yang tertinggal. Partikel abses yang tertinggal inilah yang rupanya membahayakan bagi buah hati Anda.

Apabila seseorang (apalagi bayi) kerap menghirup bedak yang notabenenya mengandung partikel abses tersebut, efeknya dapat terjadi peradangan paru-paru, pneumonia bahkan berujung kematian. Walau belum dapat dipastikan korelasi antara talc dan kanker paru-paru.

Berdasarkan laporan-laporan negatif itulah, American Academy of Pediatrics (Ikatan Dokter Anak Amerika Serikat) melarang penggunaan bedak berbahan dasar talc pada bayi. Apalagi baru-baru ini tersiar berita bahwa kebiasaan menabur bedak pada kemaluan bayi dapat memicu kanker ovarium di kemudian hari.

==================================================

http://health.detik.com/read/2010/05/22/072051/1361943/763/bisakah-bedak-talek-menyebabkan-kanker?h992201heal

Bisakah Bedak Talek Menyebabkan Kanker?

Vera Farah Bararah : detikHealth

detikcom – Jakarta, Bedak talek masih banyak digunakan orang terutama ibu-ibu untuk diusapkan di tubuh bayinya. Tapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa bedak talek memicu kanker. Bagaimana kondisi yang sebenarnya?

Bedak talek dihasilkan dari mineral yang disebut dengan talc atau magnesium trisillicate. Dalam bentuk alamnya, talc ditemukan berbentuk batuan dan diketahui mengandung serat menit terutama asbes. Proses yang harus dilakukan untuk memisahkan kandungan ini dari batu tidaklah mudah. Seperti dilansir dari buzzle, Sabtu (22/5/2010), sebuah studi menunjukkan bahwa asbes sebagai salah satu bahan yang terkandung dalam bedak talek bersifat karsinogen, yang dapat menyebabkan berbagai jenis kanker dalam penggunaan jangka panjang.

Kemungkinan ada berbagai macam bedak yang digunakan. Namun studi menunjukkan bahwa penggunaan bedak yang terlalu sering dapat mengarah pada pengembangan dari dua jenis kanker yaitu kanker paru-paru dan kanker ovarium.

Sebenarnya pada tahun 1973, badan pengawas makanan dan obat AS (US Food and Drug Administration) merancang resolusi untuk membatasi jumlah serat asbes seperti pada bedak kosmetik. Namun, tidak pernah ada keputusan yang dibuat untuk batasan talc pada bedak kosmetik.

Bubuk talek dan kanker paru-paru Sebuah penelitian mengklaim bahwa sering menghirup bedak bisa menjadi penyebab kanker paru-paru. Para ibu yang menggunakan bubuk talek ini juga sudah diperingatkan terhadap penggunaannya secara teratur. Hal ini bukan saja menempatkan bayi pada risiko kanker, tapi juga bagi orang disekitarnya yang menghirup bubuk talek ini.

Selain itu, talc juga digunakan sebagai bahan untuk membuat bedak anti kutu pada anjing, dan hal ini ditemukan berbahaya baik bagi hewan peliharaan dan keluarga yang tinggal bersama-sama. Hal ini terutama disebabkan oleh partikel asbes yang sangat kecil dalam bentuk bubuk sehingga mudah dihirup dan masuk ke dalam paru-paru. Kondisi ini tentu saja dapat memicu reaksi inflamasi (peradangan) yang nantinya dapat berkembang menjadi kanker.

Sementara itu saat penelitian lebih lanjut dilakukan, ditemukan para penambang talc dalam jumlah besar telah didiagnosa menderita kanker paru-paru. Hal ini disebabkan pekerjaan tersebut mengharuskan seseorang kontak dengan talc secara konstan. Selain itu juga ditemukan talc yang belum diproses akan jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan produk akhir yang sampai ke konsumen.

Bedak talek dan kanker ovarium

Studi mengenai hal ini masih sedikit kabur dan memerlukan klarifikasi. Berdasarkan studi penelitian berskala besar, penggunaan bedak talek oleh perempuan di alat kelaminnya bisa menyebabkan partikel tersebut masuk ke dalam indung telur dan mengakibatkan multiplikasi sel ovarium dengan cepat. Kondisi ini adalah salah satu karakteristik utama dari kanker.

Namun hal ini juga tergantung pada seberapa banyak bedak tersebut digunakan, diperkirakan risiko kanker ovarium akan meningkat jika sering menggunakan bedak talek. Seperti dikutip dari Cancer.org, Sabtu (22/5/2010) sebuah studi prospektif (umumnya dianggap yang paling informatif) diterbitkan pada tahun 2000 yang menemukan tidak ada pengaruhnya secara menyeluruh dengan kanker ovarium, tapi meningkatkan risiko sebesar 40 persen pada salah satu tipe dari invasive serous cancers. Sementara yang terkait dengan kanker paru-paru, satu studi menemukan adanya peningkatan risiko paru-paru, tapi studi lain menemukan tidak ada peningkatan risiko.

Studi terhadap penggunaan bedak talek ini bersifat pribadi sehingga memberikan hasil yang tidak konsisten, walaupun beberapa hal mendukung peningkatan risiko kanker. Namun bagi orang yang terbiasa menggunakan bedak, tak ada salahnya untuk mempertimbangkan menghindari atau tidak menggunakan bedak yang mengandung talc.

Datuk Dr Nor Ashikin Mokhtar, ahli kandungan konsultan & ginekolog seperti dilansir dari the Star mengatakan sampai penelitian ilmiah dapat memberikan jawaban yang lebih baik, maka terserah pada individu untuk membuat keputusannya sendiri mengenai penggunaan bedak talek.

“Kita harus ingat bahwa belum tentu setiap butir bedak adalah karsinogenik karena tergantung pada tingkat serat seperti asbes di bedak yang digunakan,” katanya.

Menurut Dr Nor salah satu alternatif untuk bedak talek adalah dengan menggunakan serbuk pati jagung yang tidak mengandung talc. Pati jagung tidak terkait ke setiap bentuk kanker dan lebih mudah dipecah oleh tubuh. Konsultasikan juga dengan dokter anak Anda, apakah aman untuk menggunakan bedak bayi pada bayi dan anak-anak.

======================================================================

Laporan Kasus bayi sakit hingga meninggal karena menghirup Bedak talk

Seorang bayi berusia 12 minggu secara tidak sengaja menghirup bedak talk yang tumpah ke atas mukanya, karena saat sedang diganti popok tutup wadah bedak talk terbuka. Bayi tersebut kemudian batuk2 dan tersedak dan berbagai upaya dilakukan untuk menhilangkan bedak yang menempel pada muka, mulut,dll.

Kemudian bayi menolak menyusu dan muntah, 4 jam kemudian bayi tersebut dilarikan ke RS dengan kesulitan bernapas (sesak napas) berat), sudah pada tahap cyanosis (warna kulit dan membran mukosa kebiruan atau pucat karena kandungan oksigen yang rendah dalam darah.), napas mendengkur. 30 menit kemudian bayi tersebut mengalami gagal napas Tim medis melakukan Endotrachealintubation (penempatan tabung ke dalam trakea (tenggorokan) untuk menjaga jalan napas tetap terbuka) dan kemudian bayi muntah material putih seperti bedak talk tidak lama setelah jalan pernapasan berhasil diselamatkan.

Selain bayi ini, 30 kasus terjadi karena menghirup bedak talks, yang utama terjadi pada bayi dan anak-anak balita. 8 kasus kematian dilaporkan karena hal ini.

Rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics)

Para dokter anak di AS sudah tidak lagi merekomendasikan penggunaan bedak talk Karena potensi bahayanya bila terhirup oleh bayi & anak2 balita.

Bedak talk mengandung magnesium silikat halus, zinc, dll. Partikel2 yg kecil/halus ini dapat terhirup hingga masuk ke dalam struktur paru2 yang paling dalam sehingga dapat menimbulkan keracunan bedak talk. Gejala2 umum seperti batuk2, muntah, demam, permasalahn pernapasan lain, tidak sadar hingga kematian seperti yang telah dilaporkan dalam case report di atas.

Setiap tahun New York Poison Control Center malaporkan paling tidak 50 kasus akibat keracunan bedak talk ini. Bulan Februari 2008 Jurnal Pediatrik menyebutkan potensi bahaya lain yg berhubungan dengan bedak bayi, dimana bedak bayi dihubungkan dengan peningkatan kadar phthalates dalam tubuh bayi. Phthalates adalah bahan kimia yang memiliki efek toksik untuk system reproduksi & perkembangan endokrin.

Bila Ibu/pengasuh tetap memberikan bedak talk dan secara tidak sengaja bayi menghirup/bedak talk tumpah ke muka bayi, segera bersihkan, tenangkan bayi sehingga tidak menangis keras yang menyebabkan makin banyak talk yang terhirup. Segera bawa bayi ke RS terdekat. Walau bayi awalnya tampak baik2 saja tapi dalam beberapa jam dapat mengalami gagal napas & masalah2 lainnya.

Oh ya, pemberian bedak talk tidak membantu mencegah ruam popok/diaper rash lho, kalau mau gunakanlah cream zinc. Juga malah ada bayi yang menderita iritasi karena pemakaian bedak talk ini.

Di Amerika Serikat pun informasi mengenai bahaya penggunaan bedak talk belum tersosialisasikan dengan baik, apalagi di Indonesia. Oleh karena itu yuk tetap rajin membaca dan bantu sebarkan informasi ini, dengan senang hati bila ada update jurnal terbaru yang menyatakan kebalikannya segera kabari saya ya.

Semoga bermanfaat

http://pediatrics.aappublications.org/

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002719.htm

Menambahkan sedikit,karena ada comment yang masuk begini: tergantung cara ngasih bedaknya gimana. kalo cm dioles tipis2 ya gpp. kalo ditepuk2 pake puff itu yg bahaya. iklim indonesia lain sm amrik. sini puaanas, kalo gak dikasih bedak bisa biang keringat.

Tanggapan saya : Banyak hal-hal yg applicable di semua negar /daerah, baik tropis maupun tidak. Amerika Serikat, negara dengan sistem kesehatan yg sangat maju, sistem pencatatan insiden & penyakit yg sangat baik. Jadi mau di Indonesia, Amerika, Papua dll efek samping terhirup bedak apalagi sampai kejadian insiden tertabur bedak karena tutup terbalik/terbuka : SAMA. Biang keringat? Pelajari treatment Heat rash/Prickly heat/Milliaria ini: http://www.babycenter.com/0_heat-rash_10881.bc#articlesection5 & http://www.aboutkidshealth.ca/En/HealthAZ/ConditionsandDiseases/SkinHairandNailDisorders/Pages/Heat-Rash-Miliaria.aspx . Dan tidak ada di panduan memberi bedak.

Juga beberapa comments isinya: bayi bule kan ga gak kepanasan&keringatan.

Tanggapan saya: Jangan salah Mba, saat Summer di AS suhunya bisa lebih dari 40 C lho, lebih panas dari Indonesia. Bahkan beberapa negara bagian seperti Florida sangat tropis, sumuk lebih dari Indonesia juga lho. Jadiii bayi2 bule juga keringatan ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s