Suplemen DHA untuk Bayi, Perlukah?

Belum lama ini di grup TATC ada anggota yang menanyakan pola buang air besar bayinya yang bikin galau. Sewaktu ditanya apakah bayinya ASI eksklusif (karena usianya belum 6 bulan), jawabannya iya. Tetapi ketika obrolan semakin mendetil, akhirnya diketahui bahwa ibu ini memberikan ‘vitamin’ (maksudnya suplemen) untuk bayinya, yang ia peroleh dari bidan. Isinya DHA yang dipercaya mendukung kecerdasan. Padahal pemberian suplemen di luar indikasi tentunya termasuk ‘membatalkan’ status ASI eksklusif menurut definisi WHO.

Ini bukan mau membahas pola bab bayinya ya, karena bisa jadi tidak terkait pemberian suplemen melainkan memang bayinya masih adaptasi atau ada pengaruh lain. Fokusnya adalah ke pemberian suplemen khususnya bagi bayi di bawah 6 bulan yang seharusnya hanya mendapatkan ASI saja (kecuali memang pemberian obat, suplemen, dan cairan rehidrasi oralnya sesuai indikasi, maka tetap disebut ASI eksklusif).

Kali berikutnya, di grup lain ada juga member yang secara tidak langsung menyarankan penggunaan suplemen yang kandungan utamanya adalah DHA, untuk bayi anggota lain yang juga belum berusia 6 bulan. Itu juga dikasih sama dokter, katanya. Yah, 6 bulan ataupun lebih dari itu, seperlu apa sih ya sesungguhnya suplementasi DHA? Dan kalaupun perlu, amankah? Biar kata sumbernya alami, kalau sudah ditakar dalam suplemen kan mestinya ada semacam dosis tertentu ya yang dianjurkan maupun dosis batas atasnya.

Cari-cari, ketemulah beberapa artikel berikut ini:

Produk susu formula, makanan bayi, maupun minuman ibu hamil dengan tambahan asam lemak dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakhidonat (AA), yang diberikan kepada bayi diyakini mampu membuat anak tumbuh lebih cerdas. Tidak mengherankan banyak orang tua yang berlomba-lomba memberi buah hatinya susu formula yang diberi tambahan minyak omega tersebut meski harganya cukup tinggi.

Sebaliknya, banyak ahli gizi dan kesehatan justru memperingatkan akan bahayanya menjejali bayi dengan berbagai makanan yang serba mengandung DHA/AA tersebut. Jika tidak hati-hati, anak yang diberi berbagai macam produk yang mengandung asam lemak esensial ini malah akan kelebihan DHA/AA.Bukannya menjadi cerdas, sang anak justru dapat mengalami gangguan kesehatan yang dapat membahayakan diri anak itu sendiri. Bahaya kelebihan DHA/AA inilah yang patut diwaspadai. Nah, apa saja bahayanya? Tidak ada salahnya kita simak uraian berikut.

Kapan DHA/AA dibutuhkan?

DHA yang termasuk dalam omega 3 merupakan asam lemak rantai panjang yang sangat dibutuhkan sejak janin dalam kandungan sampai setelah lahir. Berbagai penelitian membuktikan bahwa DHA dan AA penting untuk pembentukan membran sel, jaringan syaraf otak dan retina pada janin. Dengan kata lain, kekurangan DHA pada ibu yang sedang hamil dapat mempengaruhi fungsi penglihatan dan menghambat pembentukan dinding sel neuron sehingga mempengaruhi perkembangan otak. Akibat fatalnya sel-sel otak menjadi cepat mati dan tidak berfungsi.

Tingginya kebutuhan DHA untuk tumbuh-kembang janin ditunjukkan peningkatan DHA pada plasma ibu hamil mencapai 52%. Peningkatan ini jauh lebih besar dibanding peningkatan asam lemak esensial lainnya. Semakin tua umur janin dalam kandungan semakin tinggi kebutuhan DHA janin karena tumbuh kembang berlangsung semakin cepat. Tingginya kebutuhan janin ini menuntut suplai dari plasma ibu melalui transfer tali pusar penghubung plasma ibu dan janin. Semakin tua umur kehamilan maka semakin tinggi DHA pada tali pusar. Dr Dwi Putri Widodo, SpA(K), dokter spesialis anak subbagian neurologi bagian ilmu kesehatan anak FKUI, RSCM, menyatakan bahwa pada tahun pertama setelah kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan otak sangat pesat.Pada saat inilah bayi membutuhkan nutrisi optimal, yakni DHA/AA.

Lalu dari mana asam lemak ini diperoleh? Pada janin dan bayi yang baru lahir, sang ibu akan memasok kedua jenis asam ini melalui cairan plasenta atau Air Susu Ibu (ASI).Janin dan bayi yang sehat, dengan enzim desaturase dan elongase yang memadai, akan sanggup mengolah sendiri asam alfa linoleat dan asam linoleat menjadi DHA dan AA sehingga tidak banyak memerlukan tambahan DHA/AA dalam makanannya. Namun pada bayi prematur dengan berat badan di bawah normal (2500 gr) dan ukuran otaknya lebih kecil dari rata-rata, umumnya tidak memiliki enzim desaturase dan elongase dalam jumlah memadai, sehingga penambahan DHA dan AA dalam makanan benar-benar dibutuhkan.

Hati-hati kelebihan DHA/AA

Lalu, bagaimana dengan berbagai produk makanan bayi dan ibu hamil yang diberi tambahan DHA dan AA, yang saat ini membanjiri pasaran? Berbagai kemasan susu pendamping ASI, biskuit bayi, bubur bayi, minuman ibu hamil, dan susu untuk balita tersebut bahkan mencantumkan kandungan DHA dan AAdengan beragam konsentrasi.Haruskah banyak dikonsumsi?

Ketidaktahuan ibu akan kandungan DHA dan AA yang terdapat dalam susu formula ataupun makanan bayi, membuat kaum ibu memborong semua makanan yang mengandung komponen yang diyakini akan mencerdaskan anaknya. Padahal kalau tidak hati-hati, anak yang dijejali berbagai macam produk yang mengandung asam lemak esensal ini malah akan kelebihan DHA dan AA. Bukannya menjadi cerdas, justru bisa menghambat pembentukan prostaglandin dan tromboksan di dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan kekurangan zat renin yang berfungsi mengontrol ginjal.Kelebihan zat ini bisa menyebabkan darah lebih encer hingga masa pendarahan lebih lama dan sulit berhenti, serta menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Tentu ini sangat membahayakan jiwa anak jika suatu saat mengalami pendarahan.

Mengonsumsi makanan yang mengandung kadar DHA tinggi juga dapat mengakibatkan tubuh menggunakan simpanan energi yang ada untuk membakar lemak, sehingga akan menyebabkan tubuh kehilangan berat badannya.Dr Sri Nazar, Sp.A(K), dokter spesialis anak subbagian gizi dan metabolik bagian ilmu kesehatan anak FKUI, RSCM,menjelaskan bahwa kelebihan DHA/AA dalam makanan bayi justru bisa menyebabkan anak kehilangan daya imun tubuh. Anak dapat dengan mudah terserang penyakit.

Kandungan DHA/AA yang kini banyak ditambahkan dalam formula susu balita memang sangat dibutuhkan perkembangan otak. Namun, para ibu jga tak boleh gegabah hingga memberikannya secara berlebihan. Kendati kini banyak dijual susu bayi dengan tambahan formula DHA/AA, namun Dr Sri Nazar,SpA(K), menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan makanan pertama, makanan utama dan terbaik bagi bayi segera setelah lahir dan dapat secara tunggal memenuhi kebutuhan bayi hingga usia empat-enam bulan (ASI ekslusif). Dijelaskannya,makanan tambahan yang diberikan sebelum usia empat bulan dapat mengurangi produksi ASI. Sebaiknya, makanan pendamping ASI diberikan setelah bayi berusia empat bulan ke atas, dengan tujuan menambah masukan kalori untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang meningkat sesuai bertambahnya usia bayi. Sementara ASI sendiri sudah cukup mengandung DHA/AA yang baik untuk perkembangan otak anak.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun makanan perlu dipertimbangkan masak-masak karena pada bayi yang sudah besar dapat mensintesa DHA maupun AA sesuai dengan kebutuhannya, selama tubuh memiliki bahan asam alfa linoleat dan asam linoleat. Penambahan DHA dalam makanan tidak terlalu perlu, bahkan dapat memberikan efek samping yang cukup membahayakan. Jadi, cara yang lebih baik, aman, ekonomis, dan efektif sebenarnya dengan mengandalkan makanan konsumsi sehari-hari saja (food based) yang bnyak mengandung DHA/AA. Makanan sumber asam lemak esensial dan omega-3 terutama terdapat pada pangan hewani dan nabati laut seperti ikan lemuru, tuna, salmon, mackerel, tongkol, cakalang, cod, rumput laut, ganggang laut, dan lain-lain. Sedangkan pangan lainnya antara lain minyak nabati dan sayuran hijau.

Cerdas, Tidaklah Sekadar DHA/AA

Jose Batubara, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan agar para ibu bertindak lebih selektif karena penambahan DHA/AA pada makanan bayi hanya dibutuhkan bayi prematur. Lebih aman dan juga murah bila para ibu memperbanyak konsumsi ikan laut dan sumber makanan alami lain untuk memenuhi kebutuhan DHA dan AA keluarga. Apalagi, mencerdaskan anak tidak hanya bergantung pada AA dan DHA. Perhatian orang tua untuk memberi AA/DHA tidak akan ada gunanya, bila orang tua tidak asah asih asuh pada anaknya, tetap saja anak itu tidak akan menjadi pintar.

Nah, tidak perlu repot membeli produk makanan dengan harga tinggi agar anak menjadi cerdas bukan? Dengan makanan alami sehari-hari saja ditambah dengan pemberian ASI sdah cukup. Jangan lupa bhwa cerdas tida sekedar dengan DHA/AA, aspek psikologis dan agama juga penting.(nia-uli)

(Sumber: Sebuah tulisan pada Majalah Nikah edisi 12/I/2003)

Saya kutip dari http://herbaldankesehatan.com/2012/02/05/hati-hati-kelebihan-dhaaa/

Lagi, sebetulnya dari ASI saja sudah cukup bagi bayi,

Belum lama beredar artikel mengenai bahaya kelebihan Docosahexanoic Acid (DHA). Meski sejauh ini baru terlihat dialami masyarakat Eskimo dengan gejala berupa perdarahan, mirip vlek berwarna kebiruan di kulit, tak urung banyak juga orangtua yang mempertanyakan kebenaran kabar tersebut. Seperti diketahui, masyarakat Eskimo adalah pengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak dan ikan laut secara alami potensial mengandung asam lemak tersebut.

Meski begitu, mungkinkah kita dan anak-anak kita yang sehari-hari mengonsumsi susu ber-DHA dan mungkin ditambah lagi dengan suplemen DHA mengalami kelebihan dosis? Marzuki Iskandar, STP, MTP, menjawab, “Tubuh punya mekanisme sendiri untuk memformulasikan kebutuhan DHA. Misalnya saja, berapa pun banyaknya susu yang dikonsumsi ibu hamil, makanan yang dihasilkannya untuk janin atau ASI untuk bayinya akan tertakar dengan pas, tak kurang ataupun lebih.”

Namun begitu, Marzuki menganjurkan untuk tidak melakukan “pemborosan” DHA (dan tentu saja pengurangan pemenuhan kebutuhan DHA), sebab untuk itu memang ada angka yang sudah ditetapkan WHO, yaitu sekitar 20 mg/kg berat tubuh per hari. Sebagai ilustrasi, bayi dengan BB 10 kg, angka kebutuhan DHA-nya adalah 0,2 g/hari. Jadi sekiranya ibu-ibu menghitung bahwa bayinya sudah mendapat asupan DHA yang cukup dari ASI atau susu formula, dan sumber makanan lain, ya sebaiknya tidak perlu ditambah lagi.

DR. dr. Damayanti Rusli, Sp.A(K)., dari FKUI/RSCM, Jakarta., seperti yang pernah dimuat dalam rubrik Tanya Jawab Gizi tabloid nakita, menjelaskan, asam linolenat (Omega-3) dan asam linoleat (Omega-6) adalah asam lemak tak jenuh berantai panjang yang menggunakan enzim sama (elongase dan desaturase) untuk menghasilkan DHA (dari linolenat) dan AA (dari linoleat). Keduanya bersifat esensial atau tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, hingga harus ada asupan dari makanan. Tingginya kadar DHA dalam darah memang akan mengurangi pembentukan AA, yang pada beberapa kasus dilaporkan terjadi perdarahan atau hemolisis (pecahnya sel darah merah). Nah, di sinilah letak bahaya jika kadar DHA dalam darah terlalu tinggi. Oleh sebab itu, dalam mengonsumsi makanan perlu diperhatikan komposisi/perbandingan asam linoleat dengan asam linolenat, yaitu 5:1 sampai dengan 15:1. Sedangkan perbandingan DHA:AA antara 1:1 sampai 1:2.

Sumber asam linoleat antara lain minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak kapas, minyak kacang, minyakwijen, dan lain- ain. Sedangkan, sumber asam linoleat dan linolenat antara lain kacang merah, kacang kedelai, minyak kedelai. Orangtua sebenarnya tidak perlu kelewat cemas. Kasus kelebihan DHA seperti yang dialami orang Eskimo merupakan contoh ekstrem. Mereka mengonsumsi ikan setiap hari dalam rentang waktu yang sangat panjang karena alamnya memang mengondisikan demikian.

Sebaliknya, di luar kondisi ekstrem tersebut orangtua tak perlu khawatir apakah bayi mendapatkan DHA dalam jumlah yang cukup. Mengapa? Tak lain karena kebutuhan tersebut akan terpenuhi dari komposisi gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari.

SEMUA ADA DALAM ASI
Tumbuh kembang otak sejak kehamilan 6 bulan hingga anak berumur 2 tahun sedang pesatpesatnya. Sampai umur 1 tahun, 60% energi dari makanan bayi digunakan untuk pertumbuhan otak. Karenanya bayi membutuhkan banyak protein, karbohidrat, dan lemak, juga vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, seng, termasuk di dalamnya DHA. “Semua kebutuhan tersebut sudah tersedia lengkap dalam ASI,” kata Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi., dari Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUIRSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. “Jadi, selama orangtua bisa memberikan ASI yang cukup kepada bayinya, maka tak perlu khawatir akan kekurangan atau kelebihan zat penting ini. Karena takaran yang terkandung dalam ASI sudah benar-benar pas sesuai kebutuhan bayi.”

DHA adalah zat penting yang sangat dibutuhkan sebagai komponen utama pembentuk otak dan retina mata manusia. Selain berperan penting dalam mengoptimalkan fungsi membran sel otak dan fungsi retina mata serta sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel-sel saraf otak. Lebih jauh DR. Moesijanti Yudiarti Endang Soekatri, MCN., dari PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) menjelaskan bahwa DHA adalah sumber energi dan pelarut vitamin selain sebagai pembentuk sel-sel otak. Meski sel-sel otak sudah terbentuk sejak dalam kandungan dan jumlahnya terus bertambah mencapai milyaran di usia 2 tahun, belum ada hubungan antar selsel tersebut. Hubungan antarsel inilah yang membentuk rangkaian fungsi. Sementara kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antarsel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) dari lingkungan serta nutrisi. “Karenanya orangtua harus benar-benar memberikan yang terbaik untuk bayinya,” Soedjatmiko.

Seperti diketahui, sel otak tersusun atas 50% lemak dan 50% protein. Lemak yang terdapat dalam jaringan sel otak adalah LCPUFA atau asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda yang di dalamnya terkandung DHA sebanyak 40%. Sementara jenis bahan pangan yang secara alami kaya akan asam lemak esensial ini adalah ikanikan yang terdapat di perairan laut dalam seperti tuna, salmon, makarel, hering, dan sebagainya. Bayi-bayi yang mendapat ASI cukup tentu tidak kesulitan mendapatkan zat yang sarat manfaat ini. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak mendapat ASI? “Kalau memang sangat terpaksa tidak bisa memberikan ASI, maka susu formula yang tersedia sudah diformulasikan untuk mencukupi kebutuhan tersebut,” kata Moesijanti. Setelah 6 bulan, bayi sudah bisa dikenalkan pada makanan-makanan lain yang mengandung asam linoleat dan linolenat. Dengan demikian apa yang dibutuhkannya pun dapat terpenuhi.

Sumber: Nakita

Diposting di: http://www.balita-anda.com/ensiklopedia-balita/640-kebutuhan-dha-pada-bayi.html

Ya, ASI itu sumber DHA terbaik, lho. Sudah disesuaikan dengan kebutuhan bayi, pula.

ISTILAH DHA dan ARA mungkin sudah tak asing lagi khususnya di antara para orang tua yang memiliki bayi.  DHA (Docosahexaenoic acid) dan ARA (arachinoid acid) adalah asam lemak yang sangat penting (esensial) dan diperlukan bayi guna perkembangan otak dan ketajaman penglihatan.

Tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat mulai mengenal istilah asam lemak ini justru dari iklan susu formula, di mana hampir semua produsen berlomba memperbanyak kandungan dua jenis asam lemak ini pada setiap produknya. Biasanya, susu formula yang mengandung DHA dan ARA harganya relatif lebih mahal dibandingkan yang tidak mengandung asam lemak tersebut.

Padahal, DHA dan ARA  sebenarnya merupakan dua di antara sekian banyak jenis nutrisi penting yang secara alami banyak terdapat dalam Air Susu Ibu. Bahkan kalaupun dibandingkan susu formula yang diperkaya dua asam lemak ini, kandungan DHA dan ARA dalam ASI masih jauh lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

¨DHA dan ARA banyak terdapat dalam ASI dengan komposisi yang sangat seimbang dan paling cocok buat bayi.  Jadi bisa dikatakan, ASI merupakan sumber DHA dan ARA  paling baik dan tak bisa ditandingi oleh susu formula apapun,¨ ungkap Dr. Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) , dari Divisi Saraf Anak Departemen Kesehatan Anak FKUI/RSCM, di Jakarta Selasa (25/3).

Dr. Hardiono menyatakan, meskipun kini banyak beredar susu formula yang mengklaim mengandung DHA dan ARA, tetapi belum tentu akan memberi dampak yang baik dan maksimal bagi pertumbuhan otak dan kecerdasan anak.

¨Hampir semua produsen susu formula memasukkan berbagai benda dalam produknya tapi jumlahnya sedikit-sedikit. Padahal bila perbandingan  DHA dan ARA dalam susu formula tidak tepat, hasilnya tidak akan baik bagi anak.  Kecerdasannya tidak akan meningkat,¨ terangnya.

Sedangkan dalam ASI, lanjut Dr. Hardiono, kandungan DHA dan ARA sudah disesuaikan komposisinya secara alami . Prosentase dua jenis asam lemak ini menurut sebuah penelitian sangatlah bervariasi.  Tetapi untuk di Indonesia, angkanya tidak  jauh berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia.

¨Ya, sekitar 0,4 atau  0,5% dari total asam lemak.  Tetapi meski jumlahnya sedikit, DHA dan ARA penting dalam perkembangan intelektual dan daya penglihatan anak,¨ tambahnya.

Dr Hardiono kembali mengingatkan bahwa ASI merupakan sumber nutrisi alami terbaik bagi bayi. Anak yang memperoleh ASI dari ibunya secara umum perkembangan otak dan jaringan sarafnya lebih baik daripada yang mendapatkan susu formula.

Melalui ASI, bayi akan mendapatkan DHA dan ARA yang diperlukan sebagai komponen utama lemak membran sel dan merupakan asam lemak tak jenuh rantai panjang (LC-PUFA) utama dalam sistem saraf pusat.  DHA juga merupakan komponen utama membran sel fotoreseptor retina.

¨Otak tumbuh maksimal sejak 3 bulan terakhir dari masa kehamilan sampai kurang lebih usia 2 tahun. Karena itu, dalam periode tersebut bayi sebaiknya mendapat DHA dan ARA dalam jumlah cukup yang dapat diperoleh dari ASI,¨ ujarnya.

Guna memperoleh kandungan DHA dan ARA yang tinggi dalam ASI, para ibu hamil tentunya harus melakukan pola diet yang baik.  Penelitian membuktikan bahwa ketika ibu mendapat tambahan DHA dalam dietnya, kandungan DHA dalam ASI juga akan meningkat.

Selama menyusui, ibu-ibu bisa memperbaiki kualitas DHA dan ARA dalam ASI nya dengan mengonsumsi makanan yang menjadi sumber DHA antara lain  ikan laut (misalnya salmon), minyak ikan, daging dan telur.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2008/03/25/20224669/ASI.Sumber.DHA.dan.ARA.Terbaik.

Kalau yang di bawah ini mengingatkan bahwa terdapat risiko jika konsumsi DHA terlalu tinggi. Disebutkan juga bahwa kalau kelebihan sebetulnya bisa terbuang dengan sendirinya, tapi…mengingat harga suplemen DHA umumnya mahal, sayang juga kan uangnya? Mending diberikan bahan makanan bergizi yang bisa dinikmati oleh seluruh anggo a keluarga di rumah, termasuk orangtuanya :). Anak susah makan dan karenanya suplemen sekali suap lebih praktis diberikan daripada stres mengatur menu tiap hari yang belum tentu dimakan? Wah, saya sering baca lho, pada nanya tips yang jitu biar anak doyan suplemen minyak ikan –salah satu sumber DHA– soalnya rasanya kan memang agak aneh ya yang berpotensi bikin anak geleng-geleng. Mungkin akan ada yang menjawab, rela kok keluar uang banyak buat suplemen anak, toh kalau ortu sih kan udah ‘mentok’, yang penting anak bisa lebih baik dari ortunya. Hmmm, coba dipikir lagi, sebandingkah pengeluaran tersebut dengan hasilnya? Kalaupun memang mau memaksimalkan kecerdasan anak, bisa kok investasi di hal-hal lain. Ortu ikut seminar parenting, beli buku yang bagus, daftar sekolah yang memahami fitrah anak (umumnya memang agak lumayan uang sekolahnya, kalaupun ada yang terjangkau jarang dan belum tersebar lokasinya), beli mainan edukasi yang praktis (kalau merasa tidak sempat memanfaatkan hal yang ada di sekitar, ini bisa jadi pilihan menyalurkan dana pendukung ‘kecerdasan’ anak).

DHA (Asam Dokosaheksaenoat) adalah asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang Ώ-3. DHA merupakan lemak utama pembentuk otak, retina mata dan jantung. DHA sangat diperlukan terutama pada periode perkembangan otak yang sangat cepat (selama hamil – 18 bl setelah kelahiran). DHA membantu bayi untuk mengkoordinasikan antara mata dan tangan, mengembangkan kemampuan motorik serta meningkatkan fokus/perhatian. DHA juga membantu bayi untuk tidur dengan lebih nyenyak.
Saat ini banyak produk makanan dan minuman untuk anak yang mendapatkan tambahan DHA. DHA sebenarnya hanyalah komponen terkecil dari asam lemak. Tubuh anak pada dasarnya bisa membuat sendiri sejauh ia mengonsumsi asam lemak tak jenuh atau asam linolenat dan asam linoleat sebagai prekursornya.
Asam linolenat (Omega-3) dan asam linoleat (Omega-6) adalah asam lemak tak jenuh berantai panjang yang menggunakan enzim sama (elongase dan desaturase) untuk menghasilkan DHA (dari linolenat) dan AA (dari linoleat). Keduanya bersifat esensial atau tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, hingga harus ada asupan dari makanan. Sumber asam linoleat antara lain minyak jagung, minyak bunga matahari, minyak kapas, minyak kacang, minyak wijen, dan lain-lain. Sedangkan, sumber asam linoleat dan linolenat antara lain kacang merah, kacang kedelai, minyak kedelai.
DHA yang diperlukan oleh balita dipenuhi dari air susu ibu selain itu juga dapat diperoleh dari asam-asam lemak esensial, dari nabati dan hewani yang dikomsumsi ibu sejak ia hamil. Bila ibu pada saat hamil rajin mengkomsumsi lemak esensial ini, pembentukan DHA dan AA pada bayi akan terbentuk dengan sendirinya karena asam-asam lemak esensial ini merupakan perintis DHA dan AA. Ensim yang berfungsi untuk proses biosintesa asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia di sistem syaraf pusat dan hati di janin dan bayi.
British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO(Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur.
Sedangkan Canadian Joint Working Group and US Committee dan American Academy for Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi, karena keterbatasan pengalaman klinis dan saat ini sedang dilakukan penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan hasil bermanfaat tetapi banyak penelitian lain menunjukkan tidak terbukti manfaatnya untuk kecerdasan bayi.
Sampai sejauh ini, memang tak ada keharusan bagi orang tua untuk memberikan susu dengan tambahan zat ekstra tersebut dan juga tak ada larangan karena memang tidak berbahaya. Toh, jika kandungan tersebut tidak digunakan oleh tubuh, maka akan terbuang dengan sendirinya. Apalagi risiko kelebihan ini kecil kemungkinannya terjadi karena kadarnya sudah diperhitungkan. Lain hal kalau kandungan tersebut dikonsumsi dalam bentuk suplemen misalnya, risiko kelebihan bisa saja terjadi.
Orangtua sebenarnya tidak perlu kelewat cemas. Kasus kelebihan DHA seperti yang dialami orang Eskimo merupakan contoh ekstrem. Mereka mengonsumsi ikan setiap hari dalam rentang waktu yang sangat panjang karena alamnya memang mengondisikan demikian.
Sebaliknya, di luar kondisi ekstrem tersebut orangtua tak perlu khawatir apakah bayi mendapatkan DHA dalam jumlah yang cukup. Mengapa? Tak lain karena kebutuhan tersebut akan terpenuhi dari komposisi gizi seimbang dalam konsumsi makanan sehari-hari.
Jumlah DHA yang direkomendasikan oleh WHO/FAO adalah 20 mg DHA per kg berat bayi. Bila bayi rutin mendapat ASI maka DHA yang dikonsumsi sudah cukup untuk memenuhi standart WHO/FAO yaitu sekitar 21 mg DHA per kg berat bayi.
Yang perlu dimengerti, kandungan tambahan ini hanya akan efektif berfungsi bila bersinergi dengan zat gizi lainnya. Misalnya kandungan AA-DHA akan berfungsi baik bila bersinergi dengan zat besi dalam pembentukan otak. Jadi yang terpenting dari makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah zat gizi utamanya, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Jika kebutuhan dasar gizi sudah tercukupi, maka zat ekstra ini baru akan terasa manfaatnya. Di sisi lain yang perlu diperhatikan adalah perbandingan DHA dan AA. Tingginya kadar DHA dalam darah memang akan mengurangi pembentukan AA, yang pada beberapa kasus dilaporkan terjadi perdarahan atau hemolisis (pecahnya sel darah merah). Nah, di sinilah letak bahaya jika kadar DHA dalam darah terlalu tinggi. Oleh sebab itu, dalam mengonsumsi makanan perlu diperhatikan komposisi/perbandingan asam linoleat dengan asam linolenat, yaitu 5:1 sampai dengan 15:1. Sedangkan perbandingan DHA:AA antara 1:1 sampai 1:2.

http://dokterrobert.blogspot.com/2012/07/kebanyakan-dha-apa-akibatnya.html?m=1

Yang ini pada susu, tapi masih nyambung lah. Juga mendukung bahwa sebetulnya (dalam kalimat sederhana yang pernah saya baca di tempat lain) bagaimana DHA bisa berpengaruh pada kecerdasan itu sendiri sebetulnya belum jelas, hanya ceritanya dalam hal ini DHA itulah yang diteliti dari ASI dan sementara disimpulkan memberi pengaruh baik, maka ditambahkan pula dalam sufor.

Kompas.com – Susu formula atau susu pertumbuhan saat ini dimodifikasi sedemikian rupa supaya makin mendekati ASI. Salah satu zat gizi yang banyak disuplementasi adalah asam arachidonic (AA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) yang diklaim akan meningkatkan kecerdasan bayi.

Banyak orangtua yang menganggap bahwa susu yang diperkaya dengan AA dan DHA sudah pasti akan membuat buah hati mereka lebih cerdas.

Menurut dr.Yoga Devaera, Sp.A dari divisi nutrisi dan penyakit metabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, sebenarnya para ahli belum menyimpulkan apakah penambahan zat-zat tersebut bisa meningkatkan kecerdasan.

Data-data penelitian juga belum konsisten menunjukkan manfaat jangka panjang suplementasi AA dan DHA.

“Pada kadar tertentu memang bisa menyebabkan perkembangan anak menjadi lebih baik. Tetapi belum jelas juga berapa yang sebenarnya dibutuhkan anak,” katanya dalam acara media edukasi teknologi pengemasan susu cair yang diadakan Tetra Pak di Jakarta (24/10/12).

Yoga menjelaskan bahwa kecerdasan anak dipengaruhi oleh tiga hal, yakni potensi genetik, nutrisi, serta stimulasi yang diberikan orangtuanya.

“Yang pasti kandungan AA dan DHA dalam ASI sangat tinggi, sementara di susu sapi tidak ada. Karena itu kebanyakan susu untuk bayi disuplementasi zat tersebut supaya mirip ASI,” paparnya.

Sementara itu, menurut Yoga, penelitian mengenai manfaat zat besi terhadap kecerdasan bayi sudah jauh lebih pasti.

“Kekurangan zat besi pada usia bayi bisa menurunkan tingkat kecerdasan anak,” imbuhnya.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2012/10/25/09340850/Benarkah.DHA.dalam.Susu.Mencerdaskan.Otak.

Advertisements

2 thoughts on “Suplemen DHA untuk Bayi, Perlukah?

  1. selamat sore Dok…..saya ingin bertanya tentang anak saya…apakah boleh bayi 7 bulan dikasih supelemen minyak ikan salmon 3 x sehari …hal ini saya berikan karna anak saya sudah berhenti menyusui dkarenakan istri sya sudah meninggal sejak anak saya berumur 3 bulan…mohon saran dok

    • Selamat pagi, Pak… Saya bukan dokter sih, untuk lebih jelasnya bisa konsultasikan dengan dokter ya…. Tapi sebelum ketemu dokter, bisa dievaluasi dulu, pertama, minyak ikan diberikan untuk tujuan apa? Jika memang minum susu formula, biasanya kandungan yang dikejar dari minyak ikan seperti AA, DHA juga sudah ada. Jadi kembali lagi, kebutuhan bayi seperti apa? Jika pun diberikan, jangan lupa ikuti petunjuk pemakaian di kemasannya, ya. Dan usia segitu kan sudah MPASI juga, lengkapi dengan bahan makanan bergizi sekalian untuk sekeluarga juga (termasuk bapaknya, harus sehat ya Pak untuk mendampingi dan mendidik anak-anak). Tidak perlu mahal, malah sebetulnya apa yang dimasak buat serumah ya itulah yang dimakan bayi, dengan penyesuaian seperti dihaluskan sesuai umurnya (bisa diulek di atas saringan kawat), tidak pakai gula garam cabe kecap dkk. Semoga sehat selalu semuanya ya Pak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s