Pede Bicara Seks dengan Anak dan Mengenali Orientasi Seksual Anak

Resume Seminar Parenting di TK Alam Patrick Depok, 16 April 2016

Sesi I
Ir. Septriana Murdiani
Praktisi pendidikan dan parenting, salah satu pelopor sekolah alam di Indonesia, penulis buku “Bahasa Bunda Bahasa Cinta”.

Pede Bicara Seks dengan Anak
Ortu tak pede/merasa tak nyaman, tabu, merasa kalau diajari malah tahu dan pengin, merasa belum tahu ilmunya, punya kenangan buruk/merasa belum jadi contoh yang baik.

Riset: seberapa pun tak nyamannya, tapi anak lebih selamat jika ortu membicarakan soal seks ini.

Bicara, lebih dari sekadar ‘bicara’, tapi mendidik kita mulai dari bicara. Bahkan kalau anak tidak bertanya, kita perlu mendidik lewat bicara. Pastikan kita jadi ortu yang enak dan tepercaya jika ditanya tentang apa saja, apalagi soal seks.

Di tiap nafsu dan kesenangan yg besar ada amanah yang harus diemban. Anak senang bermain tanah, air, pasir. Manusia juga secara ‘primitif’ menyukai/menikmati seks.

Pendidikan seks penting untuk diajarkan sebagaimana akidah dan akhlak, karena berperan penting bagi kemanusiaan dan peradaban. Jangan kalah oleh media dan teman-teman dengan informasi yang kadang menyesatkan.
Ajarkan anak dan terutama diri sendiri untuk menghadapi semua tantangan zaman yang ada dengan keimanan. Jangan takut, jangan cemas, jangan sedih.

Berjamaahlah dalam mendidik anak, it takes a village to strengthen the family. Termasuk, sudah tak zaman lagi hanya mendoakan anak sendiri.

Inti dasar pendidikan seks adah akhlak.
Segitiga akhlak: kesadaran, perbuatan/pembiasaan, akhlak.
Jika kasih sayang full di rumah, fitrah anak dengan akhlak yang baik akan jalan.

Akhlak beda dengan karakter. Akhlak: perbuatan baik yang dilandasi dengan niat dan kesadaran.

12 fokus akhlak:
1. sayang (sayang dengan adik bagaimana, sayang dengan suami/istri bagaimana)
2. syukur (termasuk akan jenis kelamin dengan segala konsekuensinya mis.kalau haid shaumnya jadi batal.)
3. rendah hati (apalagi dalam menjalani pernikahan–institusi yang tidak mudah), 4. bersih (termasuk membersihkan alat kelamin)
5. positif
6. bijaksana
7. tanggung jawab
8. sabar
9. sungguh-sungguh
10. berani
11. kendali diri
12. adil. Selengkapnya bisa dibaca di Riyadush Sholihin.

Terjemah dan tafsirnya: sesungguhnya Allah memerintahkan kamu berlaku adil dan berbuat ihsan (memberikan kualitas terbaik), memberi bantuan kepada keluarga, dan Allah melarang dari perbuatan fakhsya-keji (semua perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu: zina, sawah, rumah, mobil dll), mungkar (perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat dan syariat…kalau sudah terang-terangan sudah masuk ke munkar), baghyu (mungkar yg dzalim, mengarah ke permusuhan).

Sandang pangan papan, rasa aman, kasih sayang, harga diri secara bertingkat (semakin tinggi) harus terpenuhi untuk bisa mencapai ke puncak piramida: aktualisasi diri.

Hak asasi adakalanya berbelok ke nafsu.

Topik besar: kurikulum, materi, hasil
Kurikulum:
1. Engkau istimewa (terima apa adanya, full kasih sayang ortu)
2. Tentang lelaki dan perempuan
3. Tentang aqil baligh
4. Tentang pernikahan
5. Tentang keluarga
6. Tentang cinta

Materi: cari qauli dan kauninya (sedang disusun bukunya oleh pemateri).

Perbedaan lelaki dan perempuan adalah sinergi: sudahkah anak paham (buat check list):
1. peran dan fungsi
2. cara berpakaian (jangan menyerupai jenis kelamin sebaliknya)
3. cara berperilaku
4. fisik (tampilan, otak –termasuk soal keinginan terhadap seks, hormon)
5. cara berpikir (buku Why Boys Fail–makin banyak perempuan yang lebih sukses dalam hal akademis, apakah karena lelaki memang disiapkan untuk bertarung secara praktis?)
6. berkomunikasi (98% masalah keluarga adalah karena gagalnya komunikasi. Indonesia ada 40 perceraian/jam)
7. agresi (anak lelaki memang lebih agresif, jangan dipaksa untuk cooperate terus seperti perempuan, salurkan lewat kompetisi).

Perlu disampaikan ke anak:
– Kewajiban lelaki memberi nafkah
– tumbuh kembang, pemeliharaan, penjagaan
– perannya dalam hidup dan peradaban
– kerja sama muslimin dan muslimah
– hijab dan aurat
– ghadul bashar
– mimpi basah
– mandi suci
– komunikasi laki dan perempuan
– khitan dengan penyampaian yang baik dan niat yang lurus
– keluargamu adalah pride-mu.

Terkait aurat:
Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin
Memisahkan tempat tidur.
Menanamkan jiwa kelelakian untuk anak lelaki, jiwa keperempuanan pada anak perempuan.
Mengenalkan waktu berkunjung (minta izin pada 3 waktu)
Mengenalkan mahramnya (QS An Nisaa 22-23)
Ikhtilat
Khalwat
Berpuasa
Mendidik etika berhias

Kenalkan tipe sentuhan.

Tentang Aqil Baligh:
Anak sudah bisa mengukur (7-8 tahun): tamyiz, pisahkan tempat tidur, boleh jadi imam sholat ibunya kalau bacaannya benar, sah jual belinya.

Sejak kelas 5 SD harus punya buku putih berisi mimpi (termasuk to be dan to have, jangan terpaku okeh sumber daya), target, value, time lines untuk pelaksanaan/perwujudannya, serta minat bakatnya.

Harus tahu apa itu aqil baligh: sudah mulai menyadari peran kekhalifahannya (bakat). Sekitar 15 tahun apalagi kalau anak lelaki, sebisanya sudah bisa mencari nafkah.

Pendekatan/pandangan soal akhlak ada dua:
1. General: semua orang bisa berakhlak.
2. Akhlak yang baik muncul jika dia ada di tempat yang sesuai dengan bakatnya. Jadi, penting mengenali bakat anak sejak awal, masa SD harus sudah ada yang dikenali (untuk menghindari bully juga).

Ihtilam dan haidh ditekankan lagi, beri pengertian tentang madzi, wadi, mani dan cara mensucikannya.

Sholatnya harus sudah sempurna termasuk tahu artinya.

Hadits 10 fitrah manusia.

3. Tentang Pernikahan
Kriteria dan cara memilih pasangan. Menikah itu ada ilmunya dan banyak mitosnya. Pernikahan seharusnya membuat laki-laki maupun perempuan happy, khususnya perempuan perlu invest belajar tentang pernikahan karena makin banyak gugatan cerai oleh perempuan.

Ingat mitsaqan ghalidza, jangan sembarangan bilang I love you.
Setiap pernikahan yang langgeng adalah karena masing-masing pribadi telah ‘selesai’ dengan dirinya sendiri dulu (sudah jadi the best person we have to be). Ada baiknya perempuan tetap punya sahabat perempuan untuk menguatkan, jadi sahabatnya jangan hanya suami.

Anekdot pesan ayah kepada anaknya: siap menikah adalah ketika sudah sanggup say sorry tanpa alasan apa pun.

4. Tentang Keluarga
Samara
Mahram (termasuk bahwa pengasuh dan driver itu bukan mahram)
Istri ikut suami
Birrul walidain
Suami selamanya milik ibunya
Keluaga adalah pembentuk utama SDM berkualitas
Interaksi antara pasangan
Interaksi kakek nenek dan anak serta cucu
Interaksi sesama anak, anak dengan orangtua.
Interaksi pada keluarga yang bercerai
Isu mutakhir: double burden perempuan, feminisme dan LGBT.

5. Tentang Cinta
Cinta itu terkait hormon. Kalau hanya mengandalkan cinta, paling bertahan 3 bulan s.d. 5 tahun. Tempatkan cinta sebagai kata kerja: melayani, membersamai, menunggu sampai saat yang tepat.
Naksir wajar, pacaran jangan. Lelaki yang baik pasti akan minta ke ayahnya.
Berteman yang banyak, bersahabat.
Cinta terhebat pada Allah, kepada Allah.

Robert Sternberg: bahan cinta:
1. Keintiman: berbagi komunikasi, saling mendukung, saling percaya
2. Gairah, tidak hanya fisik tetapi juga emosional
3. Komitmen: fokus jangka panjang: surga.

Prinsipnya:
1. Tidak pernah terlalu dini untuk memulai atau membicarakan. Every moment is teachable. Secara alami mengalir saja. Kalau sudah baligh malah biasanya anak tidak akan banyak bertanya kecuali dengan peers/teman sebaya, karena salah satunya sikap ortu sendiri. Misalnya, kalau tanya tentang ML nanti ayah langsung paranoid mengira anaknya sudah pernah melakukan.

Tapi bisa juga sengaja (tidak hanya tunggu secara alami) desain waktu untuk mengajarkan, karena jika Anda memang cinta keluarga, maka Anda akan selalu mempunyai waktu (kualitas dan kuantitas) untuk anak-anak dan percakapan dengan mereka. Termasuk dengan bercanda, yang bisa berpahala.
2. Lebih mudah bicara dengan anak 9 tahun daripada 13 tahun (antisipasi juga sebelum terjadi). Kadang pertanyaannya malah cute, jangan ditertawakan apalagi dibentak, beri penjelasan singkat yang sekiranya masuk akal, bisa juga sampaikan akan dijawab nanti kalau sudah kelas sekian tagih ayah ya.
3. Tidak lebay. INi normal, kok. Orangtua bereaksi baik-baik dan wajar-wajar saja. Rileks, terbukalah, tidak boleh jijik dan tidak boleh marah.
4. Jika ada pertanyaan dari anak, pakai rumus ‘tanya balik’ (“menurut kamu apa?”), biar paham dulu maksudnya. Lalu jelaskan secara ilmiahnya dengan singkat (kauni), ikat dengan ayat qauliyah. Mis. sex itu apa (padahal jenis kelamin di form berbahasa Inggris), kondom itu apa (nemu di lemari abi), zina, ayah bunda ciuman bibir ya, jenis kelamin apa (ada anak yang mengira jenis kelamin itu bisa ganti-ganti, makanya tanya terus).

Sebagai orangtua dan guru kita bisa meningkatkan kompetensi dengan baca buku, ikuti kegiatan.
Cek siapa teman anakmu, ada kalanya memang sudah harus ganti teman.

Tahapan yang bisa kita lakukan sesuai tahapan usia anak:
S.d. 2th: Jangan upload bayi dengan aurat terbuka, baca doa ketika akan menyusui, tutup aurat saat menyusui di tempat umum, doa saat memakaikan baju, ‘ngudang’ dengan doa.
2-3th:
mulai belajar toilet training, ortu menyebut alat kelamin dengan nama ilmiah (tapi tidak perlu teriak-teriak juga), berbagi tugas rumah tangga.
– Untuk permainan bebaskan saja misal anak laki mau main boneka (biasanya anak-anak sudah memilih sendiri).
– Bicarakan tentang aurat dan siapa yang boleh menyentuh.
– Masturbasi pada anak: alihkan/tarik, tapi ringan (jangan lebay reaksi yang ditampakkan).
– Memakai toilet (sunnahnya memang jongkok, baik laki-laki dan perempuan).

4-5 tahun
– Mandi bersama? Lebih baik jangan. Hati-hati dengan pertanyaan atau komentar
– penjelasan soal ummi yang haid.
– Dapat omongan jorok dari teman: sekali lagi jelaskan dengan tenang, jangan lebay.
– Pisahkan tidur
– Aurat, sentuhan yang boleh dan yang tidak.
– Bedakan rahasia dan surprise, hati-hati ada predator yang memanfaatkan kesukaan anak pada surprise dan rahasia.

7-8 tahun:
Belajar berteman, menjaga pertemanan, termasuk menghadapi bully.

9-10 tahun
Biasanya sudah mulai ada geng jenis kelamin, baiknya mulai dipisahkan.

11 tahun
Siap-siap: perlukah diberitahu tentang coitus? Jika ditanya, bisa dijawab kalau lelaki akan diberi tahu oleh Allah melalui mimpi basah, sedangkan perempuan tidak karena adalah tugas lelaki untuk melindungi. Kalau sudah telanjur tahu, tinggal diluruskan.
Lelaki harus provide (menafkahi), profound, protect.

Biasakan olahraga, apalagi untuk anak lelaki, lebih-lebih lagi yang sudah terpapar pornografi (jangan malah dijejali akademis terus).

Pendidikan persiapan pernikahan sebaiknya paling tidak sejak 6 bulan sebelumnya.

IMG_20160416_083931

Sesi II
Sinyo Egie (Agung Sugiarto)
Founder Yayasan Peduli Sahabat, Penulis Anakku Bertanya tentang LGBT
Deteksi Dini Orientasi Seksual pada Anak

Berawal dari lomba menulis, lalu mencari bahan tentang penyembuhan gay, lalu banyak mendapat informasi bahwa banyak yang sudah terjadi.

Same sex attraction (SSA), ingin identitas sosial bahwa ketertarikannya demikian.
Menerima bahwa dia tertarik sesama jenis, ada yang menerimanya sebagai anugerah kebaikan yang harus disyukuri, bukan anugerah keburukan yang terhadapnya harus sabar. Belum tentu melakukan apa-apa (tindakan kejinya).

Kita bisa saja ‘ikut andil mendukung LGBT’ saat mengotak-ngotakkan, bahwa hanya ada kategori agamis vs LGBT, sehingga yang belum sampai pada tindakan keji (hanya tertarik) jadi seperti diarahkan ke golongan LGBT.

Lelaki sudah banyak yang mengenal seks sejak dini, sehingga seringkali sudah bosan dengan perempuan. Apalagi kalau sesama lelaki sudah mengenali titik mana pada dirinya yang menyenangkan baginya. Hati-hati juga kalau sampai anak lelaki melihat bahwa seks itu menyakiti perempuan hingga enggan berhubungan dengan perempuan

Hati-hati ketika larangan pacaran malah bisa berdampak kurang baik, misalnya membuat anak dibully kalau tidak pacaran (dibilang homo/lesbi). Siapkan amunisi dan bekal agar anak jadi anak yang tangguh menghadapi semua itu, jangan goyah akan tekanan teman sebayanya.

Lelaki urusannya lebih banyak tentang seks, mengingat produksi spermanya yang luar biasa. Bertahan di pernikahan, bisa jadi karena cita-cita masa depan surga, bukan soal cinta. Jadi sebetulnya tidak apa orang yang punya orientasi SSA menikah, asal bisa menjalankan perannya dengan baik (mis.sebagai imam keluarga), dan tidak melakukan perbuatan keji.

Wanita lebih banyak main perasaan dan mencari kenyamanan, sulit melupakan cinta. Jadi bisa cari tempat curhat baik beda jenis maupun sama, mudah melayang kalau digombalin. Budaya pun mendukung keakraban fisik dengan sesama wanita. Untuk ayah: seringlah membersamai dan mengisi kasih sayang anak perempuan.

Laki-laki karakternya seperti anak-anak: raja, ingin dipuaskan egonya, sulit minta maaf, suka permainan (hobi nonton bola, koleksi benda tertentu), suka mencoba-coba (ingat fenomena akik?).
Wanita karakternya banyak bicara atau bercerita (bisa di buku harian).
Hati-hati kalau kebalik.

Umur balita (titik awal berbelok)
– keluarga yang tidak harmonis–tidak bisa menghadirkan karakter masing-masing jenis kelamin dengan baik.
– bapak otoriter/keras, bisa membuat anak berpikiran “tidak mau jadi bapak”.
– Sebaliknya ibu juga jangan mendominasi, harus menempatkan diri, sopan terhadap suami untuk mengajarkan pada anak, memperlakukan anak apalagi laki-laki yang terluka ringan tidak lebay. Jangan bunuh karakter anak dengan terlalu banyak larangan mis.main panas-panasan.
– Anak tunggal, anak bungsu, anak satu-satunya dengan jenis kelamin berbeda, anak yang diistimewakan.

Jenis dan karakter mainan:
– masak-masakan: anak lelaki jadi chef, anak perempuan jadi istri meladeni suami.
– mobil-mobilan: anak lelaki bisa tabrak-tabrakan, anak perempuan jadi pelengkap rumah-rumahan (keluarga punya mobil).

Pelaku sodomi belum tentu pernah disodomi juga. Yang sudah disodomi belum tentu akan ikut suka menyodomi. Yang lebih mudah menduplikasi adalah yang latar belakang keluarganya kurang memenuhi kasih sayang. Jangan sampai kita terlena dengan orang-orang yang belum pernah terlibat.

Beda kekerasan seksual dan pelecehan seksual: pelecehan mencakup juga kalau ada yang menyentuh atau pamer alat kelamin dengan tujuan merangsang (biasanya di tempat umum), bahkan kita mengomentari alat kelamin anak dengan gemas, membiasakan anak dengan sentuhan fisik tanpa batas di rumah sehingga dia sendiri tidak aware kalau ada orang lain yang melakukan, termasuk cium tanpa izin.

Ada anak lelaki yang ‘cantik’, hati-hati jangan disebut-sebut cantik karena yang berulang bisa jadi kebanggaan (apalagi trus dijilbabin). Beritahukan juga pada orang sekitar. Jangan sampai pula mengatai anak lelaki yang mengeluhkan sesuatu “Kamu kok kayak banci sih, gitu aja kok…”

Orangtua harus jadi sahabat terbaik anak.
1. Jangan ragu untuk minta maaf pada anak.
2. Jangan memutus komunikasi hanya karena kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan anak atau sedang sibuk yang lain (misal lagi tanggung, jawab/tanggapi dulu secukupnya, nanti lanjut lagi).
3. Perbaiki komunikasi di rumah, jangan jadi jalan masing-masing. Jika melarang atau ada yang dilanggar, jangan hanya marah dengan pilihan kata yang tidak tepat (Tidak bikin anak paham…misalnya “kamu harus fokus”).

Ajari anak tentang reproduksi, bisa contohkan pada hewan dan jelaskan bedanya dengan manusia. Terbuka, jujur, tapi sesuaikan dengan kemampuan pemahamannya.
Jika anak jujur dan mengakui kesalahan (ia melakukan sesuatu yang tidak boleh), hargai. Alhamdulillah masih mau cerita dan terbuka dengan orangtuanya (memamg seharusnya demikian). Dengarkan, beli solusi bila perlu, beri apresiasi.

Umur 11-13th: kebingungan dan penguatan
Tokoh perempuan di film anak malah sering mencontohkan bahwa perempuan yang macho adalah solusi, meski ada juga pahlawan dan shahabiyah wanita yang berperang dan it’s OK.

Apa pun masalahnya, tetaplah di jalan Allah. Jika memang orientasi seksual tidak bisa hetero, doakan, Allah yang punya kuasa.

Advertisements

One thought on “Pede Bicara Seks dengan Anak dan Mengenali Orientasi Seksual Anak

  1. Pingback: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak di Lingkungan Rumah? | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s