Angkut-angkut ASI Perah

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas. Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget (walaupun kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan). Saya pun melihat sendiri betapa teman yang bertugas di Bangka (dulu kami sekantor) ketika harus mengikuti diklat ke Bogor dan Jakarta sampai repot-repot mencari tahu apakah mungkin ada anggota grup dukungan menyusui yang kami ikuti yang bisa dititipi ASI perah, jaga-jaga kalau di tempatnya diklat tidak tersedia freezer — salah satunya diakhiri dengan ia menempuh perjalanan bolak-balik hotel-rumah saya untuk menitipkan ASIP karena kesulitan menitip di freezer hotel. Menjelang dan setelah Fathia lulus ASI 2 tahun, barulah saya diperintahkan ikut bimtek, workshop, course dan sejenisnya yang semuanya tetap berlokasi di Jakarta.

Situasi menjadi berbeda pada masa menyusui anak kedua. Fahira baru saja lulus ASI eksklusif 6 bulan ketika ada kabar saya harus berangkat ke Yogyakarta untuk kegiatan training. Sebelumnya, saya sudah ‘berhasil’ mengalihkan tugas lain ke kota yang sama karena merasa Fahira masih terlalu kecil untuk ditinggal, jadi teman sebelah saya yang berangkat. Kali itu, karena berbagai pertimbangan, saya tetap berangkat. Fahira dititipkan di rumah ibu saya, di kota yang memerlukan perjalanan sekitar dua jam naik kereta dari Yogyakarta.

Jika sebelum-sebelumnya saya ‘hanya’ membawa ASIP pascacuti pulang kampung dengan kereta api, kali itu tentu kami harus mempersiapkan diri untuk membawa stok ASIP ke dalam pesawat terbang. Walaupun sudah sering membaca tentang bolehnya membawa ASIP di kabin pesawat, saya tetap browsing lagi untuk memastikan, khususnya untuk maskapai yang akan saya gunakan. Saya menemukan blog ini yang cukup menenangkan, tapi hasil pencarian saya juga mengarahkan ke tanya jawab di twitter yang agak membingungkan. Untuk amannya saya tanya lagi melalui twitter resmi maskapai tersebut…dan hasilnya agak muter-muter menurut saya, hehehe. Mungkin karena sempat dijawab oleh dua petugas berbeda ya, jadi maksud hati ngetwit untuk menegaskan kesimpulan eh malah balik lagi ke jawaban awal yang menggantung.

Screenshot_2015-08-05-11-03-33Screenshot_2015-08-05-11-03-46Screenshot_2015-08-05-11-12-20

Oh ya, peraturannya sendiri seperti saya kutip dari Ayahbunda adalah sebagai berikut: Peraturan Dirjen Perhubungan Udara nomor SKEP/43/III/2007 tentang Penanganan Cairan, Aerosol dan Gel (Liquid, Aerosol, Gel) yang dibawa penumpang ke dalam kabin pesawat udara pada penerbangan internasional, tersebut dalam pasal 3 ayat 2 bahwa obat-obatan medis, makanan/minuman/susu bayi dan makanan/minuman penumpang untuk program diet khusus tidak usah diperlakukan seperti membawa cairan, aerosol dan gel (harus dimasukkan ke satu kantong plastik transparan ukuran 30 cm x 40 cm dengan kapasitas cairan maksimum 1.000 ml atau 1 satu liter dan disegel).

Singkat kata, saya cukup pede membawa sekian botol ASI perah beku dalam satu cooler box dan IMG_20150806_080743dua cooler bag ke kabin. Bisa dibilang pengamanan saya tidak terlalu maksimal, tidak ada tulisan khusus yang menyatakan bahwa ini isinya cairan, fragile, atau sejenisnya. Alhamdulillah tidak ada pertanyaan apa-apa selama di bandara keberangkatan maupun tujuan. Kenapa banyak banget yang dibawa? Yah, jaga-jaga aja sih, daripada kurang, kan? Meskipun sudah mulai makan, namanya belum umur setahun kan ASI masih jadi sumber pemenuhan gizi utama bayi. Alhamdulillah ASIP selamat sampai ke freezer rumah orangtua, dan saya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Acara hari pertama yang diadakan di kantor perwakilan Yogyakarta cukup padat sehingga peserta baru check-in di hotel menjelang tengah malam. Salah satu hal pertama yang saya lakukan adalah memeriksa lemari es. Wah, dikunci. Bukan pertama kalinya sih saya mendapati kulkas dikunci di kamar hotel, tapi berhubung sekarang keberadaannya amat diperlukan, saya langsung menelepon ke petugas hotel. Saya memang tidak sampai menelepon hotel sejak sebelum berangkat seperti yang saya baca dilakukan oleh beberapa ibu menyusui yang bersiap tugas dinas, karena hotelnya cukup punya nama sehingga saya pikir pastilah fasilitasnya lengkap. Jawaban petugas hotelnya, saya bisa membayar deposit ke resepsionis agar kunci kulkas bisa dibuka. Jumlahnya lumayan, bisa buat beli tiket kereta eksekutif Jogja-Jakarta :D, tapi alhamdulillah lah pokoknya. Apalagi ternyata di dalam kulkas mini itu sudah ada freezer mungilnya pula, jadi saya bisa membekukan ice gel untuk dibawa sepanjang kegiatan pada siang harinya.

IMG_20150807_094303Di tempat training sebetulnya tersedia ruang laktasi. Jadi selama acara dilaksanakan di hari kerja, saya bisa nebeng memerah di situ. Ada kulkas kecil, tapi saya tidak berani memakainya :D. Sayangnya di luar jam kerja dan hari libur ruangan itu dikunci, jadi ya saya mencari tempat lain yang cukup nyaman. Tiga hari berlalu dan tibalah saat kami kembali ke Jakarta. Alhamdulillah perjalanan lancar, lagi-lagi tidak ada yang menanyakan soal bawaan kami, dan ASIP beku yang tidak terpakai maupun ASIP hasil perahan saya selama bertugas masih dalam kondisi baik sesampainya kami di rumah.

 

TIMG_20160323_064158ahun 2016 saya kembali tugas ke luar kota, kali ini ke Bandung. Tidak se-rempong pengalaman sebelumnya, tapi sempat deg-degan juga ketika ternyata kulkas di kamar hotel tidak dingin. Begitu menerima laporan saya, pihak hotel merespon cepat dengan mengganti kulkas tersebut dengan yang berfungsi baik. Pakai minta maaf pula karena kulkas pengganti agak besar dan tidak muat masuk ke lemari kayu sehingga harus ditaruh di lantai, padahal saya malah bersyukur karena kulkas yang ini ada freezer mungilnya :D. Oh ya, dalam perjalanan dinas kali ini saya memakai cooler bag model backpack/ransel dari GabaG, tipe Calmo. Suka banget karena desainnya sesuai selera saya: simpel, warna gelap, banyak kompartemen, muat masuk dokumen. Sebelumnya saya pernah pakai GabaG tipe Groovy, karena saya memang suka model tas ransel (meskipun saya juga punya GabaG Picnic yang bisa difungsikan sebagai tas bekal). Untuk ngantor sehari-hari atau ikut acara yang sehari gitu GabaG Groovy tetap nyaman dan fungsional, tapi untuk keperluan bepergian agak jauh saya lebih memilih tipe Calmo. Buat bawa baju ganti ke penginapan OK, dibawa keliling tugas lapangan saat dinas ke luar kota pun enak. Pengin cerita lebih banyak soal pilihan tas ASI karya anak bangsa ini juga, tapi kayaknya nanti dibikin postingan tersendiri aja, ya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s