[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah

Tulisan dari Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, page fb @abahihsanofficial) di bawah ini kemarin lewat di news feed Facebook saya. Saya jadi teringat untuk menghitung hari. Terhitung sampai akhir bulan Juli ini kami telah delapan bulan menyingkirkan televisi. Nggak total banget, sih. Televisi cuma diungsikan ke lantai dua, tempat yang jarang banget dijangkau anak-anak. Beberapa kali kami masih menyempatkan nonton khususnya jika sedang ada liputan atau ulasan bagus yang informasinya kami peroleh sebelumnya. Beberapa kali anak-anak juga kami ajak ke atas (biasanya sambil salah satu di antara kami beberes) dan akhirnya TV dinyalakan, tapi belum tentu dua bulan sekali kami melakukannya. Kami juga masih belum berniat benar-benar mensterilkan anak-anak dari televisi, apalagi di tempat saudara atau tetangga ketika kami berkunjung (salah satu tips ayah Musa sang hafidz Al Qur’an ternyata termasuk meminta kepada tuan rumah untuk mematikan TV jika kebetulan sedang disetel), lebih-lebih lagi di tempat umum (ruang tunggu dan kendaraan umum misalnya).

Memasang TV berbayar dengan saluran khusus yang diatur bukan pilihan bagi kami, khususnya suami yang dari dulu tidak pernah tertarik. Saya terus terang kadang tergoda juga kalau membaca postingan teman-teman tentang serial atau tayangan lain di TV berlangganan yang sepertinya menarik sekaligus bukan tanpa manfaat, apalagi sempat merasakan tinggal di tempat keluarga yang punya TV kabel. Tetapi pada akhirnya saya mengaminkan pendirian suami karena toh kami jarang punya waktu khusus untuk nonton TV di rumah. Tanpa TV saja koleksi bacaan saya yang segunung itu belum semuanya disentuh. Dulu kami sempat rajin menyalakan televisi sekadar supaya ada suara, supaya tidak sepi (terlebih sebelum punya anak dan ditugaskan di sebuah kota yang tidak begitu besar), tapi lalu saya membaca bahwa ‘background TV‘ pun tetap ada dampak negatif ke anak, selengkapnya bisa dibaca di sini http://www.webmd.com/children/news/20120419/background-tv-may-harm-young-kids-development. Majalah Ayahbunda di fanpage facebooknya juga pernah memposting betapa TV menghambat keterampilan bicara anak (http://content.time.com/time/health/article/0,8599,1902209,00.html — diskusi di komentar fp waktu itu cukup seru untuk didalami dan akan saya bahas di postingan lain).

Berikut tulisan Abah Ihsan, Direktur Auladi Parenting School (terkenal dengan penyelenggaraan PSPA/Sekolah Orangtua-nya), yang menurut saya cukup rinci meberikan alternatif terhadap sanggahan yang sering muncul.

Agar Anak Tak Menyukai Televisi

Sudah terlalu bosan kita mendengar keluhan banyak orangtua tentang tayangan-tayangan televisi. Sudah terlalu sering pula kritik terhadap tayangan televisi dilontarkan. Entah berapa kajian dan penelitian yang kerap mengangkat dampak negatif televisi terhadap perilaku anak. Kita menyadari, tidak semua acara televisi tidak bermanfaat. Namun, maukah kita jujur dengan apa yang dilihat, diperhatikan, dan direnungkan dari televisi, bahwa televisi memang ada manfaatnya, tetapi mudaratnya jauh lebih banyak dan lebih dahsyat?

Jadi, rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak mengendalikan anak anak dari televisi. Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, meniadakan televisi di rumah. Kedua, menyediakan televisi dengan teknik PENGENDALIAN.

Mana yang tepat? Bagi saya dua alternatif ini adalah pilihan yang lebih baik. Setidaknya, dibandingkan dengan membiarkan anak sebebas-bebasnya menonton televisi tanpa batas. Televisi berpotensi menjadi racun yang diundang oleh orangtua ke dalam rumah. Tak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa upaya orangtua sedari kecil membina anaknya dengan agama, mengaji, hingga memilih sekolah terbaik bisa berantakan gara-gara televisi.

Memang, ada kemungkinan anak akan “menjelajah” rumah tetangga jika televisi ditiadakan di rumahnya. Namun, alasan ini sebenarnya menjadi alasan yang tak perlu dikhawatirkan karena toh selama apa pun mereka tinggal di rumah tetangga, pada akhirnya mereka akan bosan dan memilih untuk pulang ke rumah.

Meniadakan sama sekali televisi di zaman sekarang memang seperti sebuah keanehan. Namun, sebenarnya ini dapat dilakukan jika konteks keluarga, yaitu ayah, ibu, dan seluruh anak dipersiapkan dan dikondisikan. Mengganti jam televisi di rumah dengan kegiatan-kegiatan bersama antara orangtua dan anak dapat menjadi alternatif pengganti yang mengasyikkan.

1. Anggota Keluarga Baru.

Ada satu anggota keluarga tambahan dalam masyarakat modern, yaitu televisi. Dengan kehadirannya, kebersamaan antara anggota keluarga, terutama antara orangtua dan anak semakin berkurang. Orangtua dan anak mungkin menonton televisi secara bersama-sama, tetapi pada dasarnya mereka ini hadir secara jiwa bersama-sama. Mereka terkonsentrasi untuk menyelami isi acara televisi dan tidak menyelami perasaan masing-masing anggota keluarga.

Alasan “ketinggalan informasi” juga dapat dinafikan dalam keluarga yang sudah dipersiapkan dengan ketiadaan televisi ini. Bagi mereka, membaca koran setiap hari pun tidak akan pernah habis. Ribuan, bahkan jutaan informasi bisa hadir setiap hari.

Bagaimanakah mendapatkan hiburan untuk anak jika tidak ada televisi di rumah? Seorang ayah berkata bahwa bercanda dan bermain dengan anak adalah hiburan yang tak pernah membosankan. Hal ini pun akan menguntungkan semua pihak anak dan orangtua sendiri. Anak terstimulasi dan orangtua pun mendapat senyuman dan bisa tertawa bersama. Refreshing, bukan? Subhanallah, saya tersentuh dengan ikhtiar ini.

Sementara itu, menghadirkan sarana hiburan digital lainnya bernama VCD/DVD player atau komputer khusus anak di rumah juga merupakan upaya yang patut diapresiasi. Meskipun sama-sama produk elektronik, tetapi player semacam ini lebih bisa dikendalikan.

Sekali lagi, meniadakan televisi dapat menjadi alternatif lebih baik daripada membebaskan anak-anak tanpa batasan tontonan televisi. Namun, tetap saja program meniadakan televisi di rumah ini akan berlangsung efektif jika orangtua proaktif mengelola kegiatan-kegiatan alternatif di rumah dan mempersiapkan mental seluruh anggota keluarga.

Jika Anda menganggap meniadakan televisi sebagai hal yang mustahil alias utopia,alternatif lain adalah menghadirkan televisi dengan PENGENDALIAN. Metode pengendalian dapat ditempuh dengan beberapa tahapan dan upaya. Insya Allah, jika upaya ini dilakukan dengan penuh kesungguhan dan, konsistensi perlahan-lahan anak-anak bisa tak menyukai televisi dan mereka merasa tidak dipaksa jauh dari televisi.

2. Buat Anak Suka Membaca.

Ada banyak bukti anak yang suka membaca tidak menyukai televisi. Jika pun ada yang suka membaca dan suka nonton televisi, sebenarnya jika diamati lebih mendalam, kesukaan membacanya sekadar kesukaan insidental yang tak begitu mengakar. Anak-anak yang hanya membaca buku sepekan sekali jelas tidaklah dapat disebut sebagai anak yang suka membaca karena ketika seorang anak suka membaca, sungguh dia akan tidak betah jika tiga hari saja tidak membaca buku.

Membuat anak suka membaca insya Allah pekerjaan yang tak terlalu sulit. Tak perlu kursus dan tak perlu jadi orangtua hebat. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan; kemauan untuk menyediakan waktu 15 menit sebelum tidur untuk menginstalkan program-program positif ke dalam otak anak. Bacakan buku sejak dia bayi, buku bergambar penuh warna yang akan merangsang jutaan sel sarafnya bekerja.

3. Buatlah Jam Boleh Nonton Televisi.

Ingat, jangan pernah membaliknya dengan strategi JAM TAK BOLEH NONTON TELEVISI. Sebagian orangtua terjebak dengan cara ini. Biasanya, orangtua membatasi jam menonton televisi antara Maghrib dan Isya. Tak heran jika anak mengasumsikan semua waktu di selain jam tersebut mereka boleh menonton televisi dengan bebas.

Madonna yang seksi itu ternyata juga membatasi anaknya dari televisi. Apalagi seharusnya sebagian kita yang “mengerti” dan mengagungkan budi pekerti. Mengapa Madonna yang selebriti dunia saja membatasi anaknya dari televisi? Tiada lain dan tiada bukan, pasti alasannya karena kesadaran akan dampak negatif yang dahsyat dari televisi.

Berapa lama waktu JAM BOLEH nonton televisi? Terserah Anda, bergantung kajian dan kesepakatan Anda dengan anak juga dapat mengajukan “proposal” kepada orangtua disertai dengan argumen-argumennya. “Proposal” itu berisi kesepakatan “jam televisi” bagi mereka. Tentu saja, dengan pertimbangan keamanan acara yang akan ditonton.

Jika Anda bertanya mengenai jam aman setiap hari menonton televisi, saya akan menjawab, maksimal hanya dua jam. Akan lebih baik jika hanya satu jam. Namun, dengan dua jam setidaknya anak dapat menonton 2 jenis tayangan yang mereka sukai. Boleh berturut-turut, misalnya 2 jam di sore hari setelah pulang bermain atau terputus satu jam setelah pulang sekolah dan satu jam di sore hari. Anda harus memastikan jam yang dipilih anak adalah jam acara televisi yang aman untuk mereka. Namun, saya mengingatkan JANGAN PERNAH DURASI MENONTON TV ANAK melebihi DURASI Anda BERSAMA Anak. Bersama anak, lho ya, bukan sekadar di dekat anak.

Jika anak menawar, merajuk, merengek, dan menangis saat televisi harus dimatikan, istiqamahlah. Berpegang teguhlah jangan pernah tergoda dengan tangisan anak sehingga Anda melanggar aturan sendiri. Ini bisa berbahaya karena anak akhirnya dapat menganggap orangtuanya hanya bicara pepesan kosong dan tidak bisa dipercaya: membuat aturan tetapi bisa diruntuhkan.

4. Simpan televisi di tempat yang tak nyaman.

Bagaimana tak betah berlama-lama di depan televisi jika televisinya saja sudah mahal, suaranya menggelegar pula. Tempat duduknya? Wah, sofa empuk modern minimalis yang sangat nyaman. Lengkap dengan makanan kecil!

Coba kita balik dengan alternatif-alternatif ini: simpan televisi di komputer dengan memakai tv tuner atau simpan televisi di bawah tangga atau simpan di dekat kompor atau simpan di dekat meja yang sempit. Bercanda? Tidak, dijamin cara Ini akan sangat tokcer. Insya Allah anak Anda tidak akan betah berlama-lama menonton televisi.

5. Bantu anak membuat kegiatan mandiri saat Anda tengah sibuk.

Sebagian orangtua mengalami kesulitan saat menjalani kesibukan urusan rumah tangga dan mengurus anak. Akhirnya, televisi lagi-lagi menjadi jalan untuk mengalihkan perhatian agar tidak menganggu kegiatan orangtua.

Untuk sebagian besar anak, bahkan orang dewasa sekalipun, tidak melakukan kegiatan sama sekali dan hanya menunggu, tentu saja adalah hal yang membosankan. Tak heran jika kerewelan menjadi hal yang tak terhindarkan. Bagi anak-anak di atas usia 7 tahun, mereka dapat saja secara mandiri melakukan kegiatan yang mereka senangi, tetapi anak di bawah usia tersebut, masih dirasa sulit untuk menemukan kegiatan yang sesuai dengan usia mereka. Insya Allah, orangtua dapat menciptakan 1001 jenis kegiatan mandiri agar mereka tidak asyik berada di depan televisi. Saya hanya meyebutkan beberapa contoh saja, saya yakin Anda dapat menemukan ribuan kegiatan lainnya.

• Mewarnai mainan anak
• Menggambar atau membuat tato di kaki.
• Menggunting daun
• Menempel gambar
• Main beras atau pasir
• Menyusun bangunan dari buku-buku/casing CD/kaset
• Menggulung-gulung kertas
• Same Action (program aksi mirip: ibu memasak beneran anak masak mainan, ibu nyuci piring benaran, anak nyuci piring mainan).
• Menyimpan 20 barang tersembunyi dan anak mencarinya jika ketemu ibu beri hadiah spesial.
• water game (pake mangkok, sendok, sedotan)
6. Sediakan waktu bersama anak.
Saat bersama anak, Anda tidak hanya berada di dekat anak. Tak sedikit orangtua merasa “aman” karena telah menyediakan waktu di dekat anak dengan menjadi ibu rumah tangga. Maaf, jangan salah kaprah, saya selalu mengatakan kepada ribuan orangtua yang mengikuti program saya: Jangan bangga dulu, Anda memilih menjadi ibu rumah tangga seolah-olah telah menyediakan waktu 24 jam untuk anak, tetapi tidak satu jam pun ternyata bersama anak.

Bersama anak itu artinya Anda tidak bertiga dengan koran, tidak berempat dengan televisi, tidak berlima dengan masakan, tidak bertujuh dengan cucian. Saat bersama anak, Anda benar hadir bersama anak, bicara dengan anak, dan bukan sekadar bicara pada anak. Kadang menjadi “peserta”, kadang menjadi “panitia” dari acara yang Anda selenggarakan anak di rumah. Kadang tertawa bersama, sesekali boleh menangis mengenang cerita.

Karena hanya berada di dekat anak, orangtua yang lebih banyak BICARA KEPADA ANAK daripada BICARA DENGAN ANAK dan sebagian orangtua akhirnya mengalami kelelahan mental yang luar biasa: CAPEK DEH… Oleh karena itu, tak sedikit ibu rumah tangga yang terlihat kelelahan dan stres. Bukankah anak itu anugerah? Bukankah saat memilih berinteraksi lebih dengan sumber anugerah, Anda seharusnya salah satu orang yang paling bahagia?

Menjadi orangtua terbaik bukan berarti kita harus menyediakan waktu 24 jam hidup kita hanya untuk urusan anak. Semakin dewasa, anak-anak kita pun tidak membutuhkan bersama orangtua selama-lamanya. Mereka pun butuh waktu dengan teman-temannya seperti kita juga berhak melakukan kegiatan-kegiatan sendiri tanpa anak. Anda hanya diminta menyediakan waktu bersama anak. Jika Anda menyediakannya, sungguh saat anak mendekati, orangtua akan merasakan kesejukan, ketenangan, keriangan dan anak-anak benar menjadi cahaya mata (qurrotu ‘aini) dan bukan penganggu orangtua.
Bagi saya, satu jam sehari. Bagi para ayah dan ibu yang bekerja, 2-4 jam sehari sudah cukup. Inilah yang hilang dari sebagian anak zaman sekarang. Tidak sedikit anak menjadi “yatim piatu” saat orangtuanya masih lengkap. Mereka bertemu setiap hari dengan orangtua, tetapi sebagian ‘say hello’ semata. Sebagaian orangtua bertemu dengan anak-anaknya bahkan bersama dengan anak di depan televisi. Sebagian mereka menangis. Ya, menangis, tetapi bukan menangis karena menyelami isi hati anak-anaknya sendiri, tetapi menangis karena isi acara televisi.

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Sumber: https://mujitrisno.wordpress.com/2015/04/08/agar-anak-tak-menyukai-televisi/

Kalau yang ini tulisan Ustadz Muhammad Fauzil Adhim.

Tanpa TV Anak Berpikir Lebih Luas

Pengaruh televisi dalam keluarga Indonesia tampaknya sudah demikian kuat menyatu dengan keseharian masyarakat. Data Bank Dunia tahun 2004 menunjukkan, ada 65 persen lebih rumah tangga pemilik televisi di Indonesia. Bentuk media audio visual yang menarik dan lengkap dari si ”tabung ajaib” menjadikan ia lebih digandrungi dibandingkan dengan produk budaya lain, seperti buku. Hiburan yang disajikan mampu menarik mayoritas penduduk menekuni tayangan televisi dalam kegiatannya sehari-hari. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, lebih tiga perempat (86 persen) dari seluruh penduduk usia 10 tahun ke atas di Indonesia memiliki aktivitas rutin mengikuti acara televisi dalam seminggu. Tapi jumlah itu tak termasuk Mohammad Fauzil Adhim (38), pria yang namanya melejit lewat bukunya “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” (1977) justru tak memiliki TV. Mungkin akan terasa janggal bagi semua orang. Bagaimana cara dia menjelaskan pada anak tanpa hiburan TV di rumah? Berikut petikannya wawancara dengan laki-laki kelahiran Mojokerto, Jawa Timur pada 29 Desember l972 ini.

Apa alasan Anda menolak TV di rumah?

Saya tidak menolak, tapi karena saya melihat tidak ada alasan yang membuat TV layak untuk dipelihara di rumah, sehingga saya tidak memelihara TV.

Sejak kapan itu Anda lakukan?

Memang sejak awal saya sudah tidak memelihara TV. Tapi suatu saat, karena penasaran ingin tahu seperti apa sih TV sekarang, saya dan istri pernah juga mencoba menyewa TV. Nah, pada saat TV itu distel, justru anak pertama saya, Fathimah yang memprotes, dan minta TV itu dimatikan. Sampai dia bilang,”Ibu dimatiin, kok Ibu suka sih nonton film yang jelek-jelek. Itu kan nggak bagus.” Makanya TV akhirnya dimatikan dan kita tidak pernah nyewa lagi.

Mudharatnya apa?

Tidak ada stasiun TV yang mengudarakan acara yang benar-benar mengaktifkan otak anak, dan menggugah anak terlibat dalam proses berfikir. TV justru menyedot perhatian anak yang dalam jangka panjang bisa mempasifkan otaknya. Belum lagi soal content (isi). Film-film yang ditayangkan maupun iklan pariwaranya sebagian besar tidak layak untuk dikonsumsi anak. Katakanlah misalnya ada acara yang cukup bagus, itu saja mengenaskan.

Berarti Anda tidak butuh TV?

Saya merasakan tidak ada kebutuhan dari TV. Karena itu mengapa saya harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Menurut saya hiburan yang paling mahal ya TV. Untuk mendapatkan sampah kita harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah, padahal dengan dana segitu, kita bisa membelikan anak-anak kita ensiklopedi, atau bisa kita belikan komputer atau buku, atau hal-hal lain yang jelas manfaatnya.

Di TV kan juga ada tayangan pendidikan yang bermanfaat untuk anak?

Pertama, Ayat Al-Quran bisa ditempelkan di tissue, di kaleng bir. Tapi kalau ada tulisan bismillah di kaleng bir bukan berarti birnya halal. Khamr pun dikatakan ada manfaatnya, tapi kenapa diharamkan? Berarti ada manfaatnya tidak cukup untuk menjadikan sesuatu itu halal. Kedua, tayangan-tayangan yang diperuntukkan anak-anak sebagian besar tidak dikemas sesuai dengan perkembangan anak, dan tidak dikemas untuk merangsang kemampuan berpikir aktif maupun konstruktif, sehingga anak hanya menjadi pihak yang mengalami terpaan exposure dari berbagai tayangan TV.

Bagaimana dengan kebutuhan informasi yang bisa didapatkan di TV?

Sumber informasi, sumber untuk mendapatkan kebutuhan psikis berupa perhatian, kebutuhan untuk mendengarkan itu ada pada orang tua, dan orang-orang penting lainnya dalam keluarga. Kalau dalam ilmu psikologi dikenal dengan significant person atau significant others. Sejauh ini, sepanjang yang saya tahu, kualitas attachment yang baik meningkatkan kreatifitas anak, meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan percaya diri anak. Anak cenderung akan memiliki konsep diri yang bagus dan cenderung lebih bisa mengelola dirinya.

Apa dampak lebih jauh dari menonton TV?

Sejauh yang saya pahami sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli psikiatri Amerika Serikat, tayangan TV yang sering disaksikan anak adalah tayangan-tayangan yang tidak dikemas untuk anak, sehingga banyak menonton TV menyebabkan anak otaknya pasif dan cenderung tidak suka berpikir. Dan jika anak tidak suka berpikir, maka anak cenderung tidak mampu mengkomunikasikan perasaannya dengan baik. Dan itu berarti menambah kesulitan kita dalam mendidik anak.

Bagaimana respon anak dengan tidak adanya TV di rumah?

Anak-anak memang saya didik untuk suka membaca. Karena itu mereka cenderung bisa mengungkapkan gagasannya dengan lebih baik. Dan anak-anak yang suka membaca itu cenderung memiliki informasi yang lebih kaya. Bahkan terkadang kalau sudah seperti itu, anak-anak malah suka usul pada saya. Misalnya Fathim, ketika melihat gambar mobil yang ada TV-nya, justru mengatakan pada saya, ”Bapak kalau mau beli mobil tak usah pakai TV, karena di TV banyak yang jelek.”
Bagaimana Anda menjelaskan kepada Anak?

Jadi yang penting prosesnya. Kalau anak langsung dilarang, anak akan penasaran. Tapi cukup dengan dialog. Sebagaimana sekarang Fathimah ndak mau makan di Kentucky Fried Chicken, McDonald’s, ndak mau minum air mineral yang mereknya Aqua dan Ades. Semua itu bisa ditanamkan karena ada dialog, kalau semua itu produk boikot. Begitu juga dengan menyikapi TV, harus ada dialog.

Pernah ditanyai anak tentang TV?

Saya pernah ditanya anak, ”Bapak kok nggak punya TV. Kata temanku kalau ndak punya TV berarti miskin.” Ini kan berarti social pressure, tekanan-tekanan masyarakat. Nah di sinilah saya perlu menjelaskan setepat-tepatnya. Ya karena kebetulan Allah memberikan rezeki pada saya maka saya gantikan dengan benda-benda yang ada manfaatnya, dan harganya melebihi TV, seperti ensiklopedi. Sekarang anak saya punya 3 ensiklopedi. Itu memberikan pemahaman pada anak bahwa ini lebih berharga dari TV, dan saya memperkuat dengan dialog bahwa ini lebih baik dari TV.
Apa pengganti TV, selain ensiklopedi?

Kalau anak sudah senang buku apakah kemudian dia masih ingin mencari ganti yang lain. Jadi tidak sekedar ensiklopedi, tapi komputer, buku atau bacaan-bacaan lainnya. Atau juga ketika anak-anak butuh hiburan, saya belikan tenda yang mereka bisa bermain di sana.

Anak-anak tidak bosan baca ensiklopedi dan buku terus-terusan?

Kalau otak anak itu aktif, maka dia akan cenderung aktif mencari. Kalau dia sudah bosan membaca, maka dia akan mencari kegiatan yang inovatif lainnya. ketika anak-anak suka membaca, maka mereka cenderung komunikatif, lebih mampu mengungkapkan perasaannya. Misalnya, suatu saat anak saya minta dibelikan buku. Untuk apa? Dia mau menulis buku harian. Selain itu, ketika dia tidak terlalu fokus pada TV, saya lihat mereka cenderung menyukai benda-benda intelektual, seperti memotret sendiri. Ia mengembangkan berbagai macam keterampilan karena pikirannya berkembang. Pikirannya tidak tersedot oleh bayangan yang sebenarnya tidak diperlukan itu.

Nilai positif rumah tanpa TV?

Tanpa TV anak akan memiliki kesempatan berfikir yang lebih luas, anak akan mengembangkan inisiatif-inisiatif yang lebih aktif dan progresif. Sementara dengan adanya TV anak siap untuk dicekoki. Anak belum sempat berpikir sudah dijejali dalam tempo yang sangat tinggi. Ketika anda melihat TV, maka dalam 1 menit akan terjadi perubahan-perubahan gambar yang luar biasa cepatnya. Padahal masa kanak-kanak adalah masa yang paling pesat perkembangan otaknya. Semestinya pada masa itulah rangsang-rangsang otak itu dimaksimalkan. Anak betul-betul diberi pengayaan rangsang otak yang luar biasa.

Mengapa demikian?

Otak itu berkembang dari usia 0 – 6 tahun, dan porsinya mencapai 80%. Sementara sisanya yang 20% terjadi pada usia-usia berikutnya. Dari usia itu, yang lebih penting lagi adalah 18 bulan pertama usia anak. 20% perkembangan otak terjadi pada usia itu. Maka alangkah sayangnya jika pada usia-usia yang sangat strategis ini justru anak-anak tidak memperoleh rangsangan yang maksimal. Dan sebaliknya justru hanya memperoleh exposure dari TV. Padahal banyak kegiatan lain yang bisa merangsang daya nalar anak, contohnya membaca.

Dampak anak yang suka menonton TV?

Saya kira anak yang biasa menonton TV, maka di sekolah pun TV memiliki daya tarik yg lebih besar baginya. Karena itu sekolah tidak menjadi surga baginya. Karena di TV anak tidak akan banyak dapat informasi. Ada kasus yang pernah saya dapatkan, ketika ada orang tua yang membawa anaknya, saya kira dia ini idiot sehingga dia tidak naik kelas dan nilainya nol semua, tapi ternyata anak ini tidak idiot. Ia lebih senang nonton TV dan main game, sehingga ketika di kelas, pikirannya tidak di kelas, tapi di rumah, yaitu di TV.

sumber : Hidayatullah.com

Sumber: http://www.wartadakwah.net/2012/08/fauzil-adhim-tanpa-tv-anak-berfikir.html

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s