Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

Repost tulisan dari https://inineracauan.wordpress.com/ yang bagus menurut saya, walau telat bacanya tapi sukses bikin saya jadi ikut merenung, belajar, sedih…. Saya menggarisbawahi yang ini:

Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Don’t play victim, honey, because you pull the trigger – we all just stand by here and watch.


Bukan untuk membenarkan bullying, ya. Hanya saja, memang jadi pengingat buat diri sendiri juga, harus lebih hati-hati dengan tingkah laku, terutama di era gencarnya media sosial sekarang (karena terus terang belum bisa benar-benar tidak menggunakan, toh masih banyak manfaatnya).

Oh, dan tentu saja yang jadi pusat perhatian saya juga adalah soal bagaimana Karin memberi pengaruh :(. Tulisan guru bahasa Inggris di bagian bawah (di versi viralnya jarang diikutkan) menjadi contoh nyata….

Bahwa adalah tugas ortu untuk membentengi anak-anaknya (karena ada yang komen “jangan salahin yang kasih pengaruh, dong!”), ya iyalah memang. Justru karena adanya kepedulian dan biar bisa jadi bekal untuk membentengi makanya tulisan seperti ini banyak di-share, biar bisa digali kan penyebabnya, diprediksi arahnya, dicari penangkalnya (mungkin selama ini belum mengenalkan anak ke idola yang lebih baik dengan anggapan yang kayak gitu juga bakal nemu dengan sendirinya), ortu bisa menyesuaikan pendekatan dan milih kata-kata yang lebih tepat dst. Bukan dengan maksud melimpahkan seluruh kesalahan ke ‘benda’ bernama media sosial, kok.

Tulisan lain terkait hal ini ada di Femina http://www.femina.co.id/trending-topic/fenomena-karin-awkarin-novilda-dan-generasi-swag-inilah-7-alasan-kenapa-para-orang-tua-harus-cemas-.

Yang ini sudut pandang lain dari mami Ubii yang menyatakan pernah segaul Karin dulu, kemudian mengupas apa yang mungkin menjadi akar masalahnya, plus surat terbuka yang semoga dibaca oleh Karin ya http://www.gracemelia.com/2016/07/catatan-untuk-para-orangtua-dulu-saya-pernah-menjadi-karin-novilda.html.

inineracauan

Tulisan di bawah ini adalah hasil pemikiran saya yang mengganggu di tanggal 19 Juli 2016, yang membuat saya memutuskan untuk tidak tidur dan terus menulis sampai jam 5 pagi. Sebuah ceplas-ceplos tanpa propaganda apapun yang akhirnya saya post di account Line saya, atas nama ndari, untuk dibaca teman-teman. Kenapa di Line? Karena tulisan ini tanpa melalui proses endapan dan editing apapun seperti biasanya ritual saya. Jadi jelas, banyak kesalahan EYD, kalimat-kalimatnya tidak koheren, banyak jokes garing, sarkasme sampah, dan perumpamaan yang bikin fans-fans Liverpool mengira saya mem-bully klub favorit mereka.

Sama sekali tidak saya duga, ternyata tulisan ini viral ke mana-mana. Dalam tiga hari, terakhir kali saya cek, tulisan ini di-share kurang lebih 16 ribu orang. Tulisan saya sudah di-copas oleh beberapa official account tanpa ijin, ada yang mencantumkan credit dan ada yang tidak. Tapi saya anggap itu konsekuensi dari menulis status di Line, bukannya lewat platform yang…

View original post 2,558 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s