Sejarah Gelar S1 S2 S3 ASI

Istilah S1, S2, dan S3 ASI umumnya tidak asing di kalangan ibu menyusui. Titel ini diberikan untuk pencapaian menyusu eksklusif selama 6 bulan pertama (S1), ASI diteruskan hingga usia bayi setahun (S2), dan lanjut tetap mendapatkan ASI sampai umur anak 2 tahun (S3). Ada yang menambahkan sih, kalau sudah berhasil weaning alias disapih (WWL-weaning with love/disapih dengan cinta) setelah usia 2 tahun artinya berhak dapat gelar Profesor ASI. Beredar juga template semacam sertifikat yang bisa diedit sendiri dengan penambahan nama dan foto anak sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Ada versi AIMI, ada juga versi komunitas lain seperti TATC. Belakangan ada pula sertifikat untuk ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang sudah mendukung kesuksesan pencapaian dalam pemberian ASI, agar semua yang berpartisipasi turut punya cendera mata.
Suatu hari ketika ada member yang bertanya di grup TATC mengenai ‘gelar kesarjanaan’ ini saya jadi terpikir untuk mencari tahu lebih jauh, bukan sekadar menjawab menerangkan arti dari masing-masing gelar. Karena setahu saya yang pertama mempopulerkan adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), jadi saya coba menelusuri mailing list atau milis asiforbaby (yahoogroups) yang menjadi cikal bakal terbentuknya AIMI. Ternyata memang ada penjelasan dari wakil ketua sekaligus salah satu pendiri AIMI mengenai gelar tersebut.

Dear all,

Sebagai salah satu pencetus ide gelar-gelaran untuk anak yang menyusu ini; izinkan saya cerita asal muasalnya ya.. 😉

Jadi ini memang awalnya buat motivASI lucu-lucuan aja… Niatnya hanya itu. Pada prinsipnya buat AIMI, kami ingin membantu ibu menyusui untuk mencapai tujuan mereka masing-masing (apa pun itu dan sampai kapan menyusuinya). Dengan selalu mengedepankan 4 standar pemberian makan bayi yang direkomendasikan:
1. IMD dan rawat gabung
2. ASIX 6 bulan
3. Pemberian MP-ASI berkualitas dengan gizi seimbang, alami, adekuat dan home-made
4. ASI bisa diteruskan hingga anak berusia 2 tahun atau lebih.

Buat satu ibu, mungkin pengalaman menyusui-nya akan dia rasa lebih unik jika ada sebuah penanda (makanya dibuat ‘sertifikat’ motivASI itu) tapi buat ibu lain belum tentu, karena ibu lain merasa ini memang proses alamiah dan natural yang tanpa sertifikat pun memang sudah semestinya begitu.

Bisa jadi ada ibu yg tidak menyukai ide tersebut.. Bisa jadi ada yang suka sekali. Kita ga tau juga ya… Tapi bukannya dalam hidup memang begitu ya? 😀

Hidup ini adalah pilihan dan karena pilihan itu pula kita ada dan hidup :).
Memilih untuk menyusui, memilih untuk mengasuh anak dengan cara tertentu, memilih untuk kritis atau memilih untuk diam dan pilihan-pilihan lainnya :D.

Kami di AIMI juga belajar untuk menjalankan organisasi, salah satu tempat kami belajar adalah dengan membaca sharing2 di sini.. Topik-topik seperti ini juga bisa menjadi bahan pertimbangan kami, apakah ‘sertifikat’ ini masih relevan untuk saat ini? Apa ada mungkin ada kata-kata yang lebih tepat dan pas dibanding gelar-gelar tersebut? Justru saya senang ada pembahasan seperti ini buat bahan refleksi diri sendiri dan AIMI tentunya.

Sekian dan mohon maaf kalo ada salah kata dan semoga bisa menjelaskan sedikit pertanyaan yang tadi menggelitik para member afb tersayang 😉 salam ASI,


Nia Umar
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)

13 Januari 2012

sumber: https://groups.yahoo.com/neo/groups/aimi-asi/conversations/topics/221991

Nah, sudah jelas ya, apa latar belakang penyebutan gelar S1 S2 S3 ASI. Memang ada yang pro dan ada yang kontra, ada yang menganggap ‘lebay’ ada pula yang merasa perlu sebagai penyemangat. Perbedaan cara pandang yang lalu bikin rame milis ini juga yang membuat mba Nia Umar jadi memposting alasan penyematan gelar di atas (sedikit bagian dari tulisan mba Nia yang membahas secara khusus memanasnya diskusi saya edit). Oh ya, tahun lalu ketika saya mengecek lagi ke grup FB AIMI, ternyata beberapa konselor laktasi di sana menambahkan bahwa jika selepas ASI eksklusif ada tambahan susu lain bahkan susu UHT sekalipun (yang oleh sumber lain bisa dianggap cemilan) artinya anak tidak ‘sah’ lulus S3.  Memang sih, ada keluarga yang menggunakan susu UHT (yang disebut lebih baik daripada susu bubuk karena pengolahan lebih pendek — bisa baca http://mommiesdaily.com/2015/09/21/mitos-dan-fakta-tentang-susu-uht/ dan https://tentangteknikkimia.wordpress.com/2011/12/16/90/) sebagai ‘penambal’ ketika produksi ASI dianggap sudah menurun, tentunya untuk usia di atas setahun, ya.

Barangkali penambahan syarat untuk memperoleh gelar S3 itu dimaksudkan agar sebelum loncat ke solusi kasih susu UHT, ibu menyusui lebih semangat mencari tahu akar masalah dan pemecahan misalnya terkait hasil perah yang tidak sebanyak dulu lagi. Apakah karena memang jadwal perah menurun, kondisi kesehatan ibu atau konsumsi obat tertentu, pemakaian dot untuk menyajikan ASI perah, atau jangan-jangan ya memang sudah waktunya saja, karena anak juga sudah lebih jarang menyusu (keasyikan main, kenyang oleh makan). Dikhawatirkan mungkin dengan adanya susu UHT (juga susu lainnya seperti susu pasteurisasi atau ‘susu’ nabati — biasanya memang pemberian susu formula secara bebas tanpa indikasi dihindari oleh ibu-ibu yang sudah paham) sebagai jalan keluar, ibu jadi terlena. Bukannya menambah frekuensi pumping yang sebetulnya bisa dijalani sebagai salah satu ikhtiar untuk menambah ASI atau bersegera menyingkirkan dot/empeng yang jadi biang keladi berubahnya daya isap bayi. Akibatnya produksi ASI beneran makin menyusut atau istilah awamnya ‘kering’, padahal anak masih punya hak memperoleh ASI karena usianya belum 2 tahun.

Saya sendiri? Saya netral, hehehe. Sempat bikin beberapa sertifikat ASI tapi nggak konsisten juga. Malah sekarang mau dipajang buat ilustrasi blog yang ini juga entah ke mana :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s