Lip Tie yang Mengintai

Sekitar lima tahun yang lalu ketika saya menyusui Fathia, tongue tie dan lip tie ini sepertinya belum terlalu popoler dibicarakan di forum-forum ibu menyusui di sini. Belakangan muncul ‘kehebohan’ setelah beberapa bunda posting di media sosial terkait diagnosis tongue tie anaknya disertai foto, lalu banyak di-share, dan ramailah ibu-ibu yang lain ikut mengunggah foto anaknya, menanyakan apakah anaknya ada masalah serupa. Beberapa orang kemudian mengistilahkannya sebagai semacam ‘epidemi’ baru, karena konon kian banyak tenaga kesehatan yang memberikan diagnosis ini (berikut rekomendasi tindakan bedah untuk mengatasinya).

Muncullah pro dan kontra. Ada yang menganggap kok kondisi ini seperti menjadi kambing hitam dan mudah sekali dilakukan tindakan invasif seperti bedah (walaupun minor), padahal seharusnya bisa diupayakan langkah-langkah lain terlebih dahulu. Sudah bedah pun, belum tentu lancar dan bisa saja nyambung lagi. Yang lain berpendapat tongue tie maupun lip tie tidak boleh diremehkan, tidak ada salahnya waspada dan tindakan jangan sampai ditunda karena efeknya bisa ke pertumbuhan bayi yang terhmbat (karena bayi kesulitan melekat dengan baik jadi ASI yang terambil tidak maksimal dan ibu pun kesakitan). Ketika seorang dokter anak memposting hal ini pun tanggapan netizen beragam, ada yang memberi testimoni anaknya bisa’ lulus’ tanpa bedah, cukup dengan pemosisian yang pas dan ketelatenan, ada juga yang bilang bersyukur karena anaknya segera mendapatkan tindakan bedah dan selanjutnya memang terasa bedanya, lebih nyaman buat bunda maupun bayinya.

Saya copas dari Detikhealth:

Jakarta, Selain tongue tie, bayi baru lahir juga berisiko mengalami lip tie. Kondisi ini kadang-kadang juga memerlukan tindakan serupa tongue tie seperti frenotomi.

Menurut dr Meta Hanindita, SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, lip tie memiliki empat kelas. Kelas satu, frenulum bibir atas melekat di bagian atas gusi. Kelas dua, frenulum melekat di sebagian besar gusi. Kelas tiga, frenulum melekat di bagian depan papila (jaringan lunak di tepi gusi). Kelas empat, frenulum menempel ke papila memanjang sampai ke bagian dalam gusi.

“Penyebab munculnya lip tie belum bisa dipastikan tapi diperkirakan ada faktor genetik. Lip tie bisa jadi berpengaruh pada proses menyusui, bergantung kelasnya,” ujar dr Meta kepada detikHealth dan ditulis pada Selasa (9/2/2016).

dr Meta menambahkan, lip tie pada kelas berat biasanya harus dilakukan tindakan frenotomi, terutama jika ditemukan ada masalah menyusui setelah dilakukan evaluasi. “Kalau lip tie tidak dilakukan frenotomi, kalau tumbuh gigi bisa jadi ada yang tumbuh renggang. Atau sering juga terjadi kerusakan gigi seri atas karena sisa makanan menumpuk di kantong antara lingual frenulum dan bibir,” imbuhnya.

Baca juga: Infografis: 4 Tipe Tongue Tie pada Bayi

Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengobati lip tie menurut dr Priscilla, SpBP-RE atau dr Priscil dari RS Bunda Jakarta yaitu frenulotomy atau frenotomy atau frenectomy. “Kalau di lidah, untuk tongue tie namanya lingual frenectomy, di bibir jadi labial frenectomy,” tutur dr Priscil.

Berbeda pendapat dengan dr Meta, dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA atau dr Tiwi, dari RS Bunda Jakarta justru menyebutkan bahwa lip tie tidak berpengaruh pada proses menyusui dan biasanya tidak memerlukan tindakan apapun.

Dari pengalamannya menjadi Satgas PP ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Tiwi mengatakan dirinya hampir tak menemukan bayi dengan lip tie yang memiliki masalah dalam menyusui atau memerlukan tindakan khusus.

“Saya pribadi tidak pernah melihat bahwa lip tie punya peran dalam proses menyusui. Pada derajat yang berat mungkin pertumbuhan gigi atas akan lebih rengggang tapi saya rasa itu bukanlah sesuatu yang harus diintervensi segera pada saat bayi. Saya melayani hampir puluhan bayi setiap hari untuk menyusui. Pada tahun 2015 hanya menemukan satu kasus yang benar-benar perlu tindakan,” terang dr Tiwi.

Nah, untuk lebih memastikan apakah anak dengan lip tie membutuhkan tindakan medis atau tidak, sebaiknya orang tua segera memeriksakan anak ke dokter. Nanti akan diperiksa apakah kondisi tersebut mengganggu proses menyusui dan tumbuh kembangnya, atau tidak. Dengan begitu, tindakan medis pun bisa diberikan lebih tepat dan sesuai dengan kondisi anak.

Baca juga: Sulit Menyusu, Bobot Bayi dengan Tongue Tie Derajat Berat Bisa Menurun

http://health.detik.com/read/2016/02/09/201119/3138024/775/bayi-juga-berisiko-mengalami-lip-tie-lho-apa-itu

Yang ini

Tulisan dr. Annisa Karnadi tentang tongue tie yang sangat penting untuk dibaca

Saat ini memang sedang marak ketakutan berlebihan akan tongue tie. Semoga ulasan saya bisa memberikan gambaran berimbang tentang tongue tie ini yaa. Sebenarnya apakah tongue tie itu?

Tongue tie adalah sebuah kondisi dimana lidah memiliki frenulum yang pendek, ketat, fibrotic, tebal atau sebaliknya terletak terlalu di depan sehingga mempengaruhi fungsi lidah.

Lidah memiliki peranan sangat penting dalam proses menyusui, berbicara dan kesehatan gigi. Lidah akan membawa puting ke dalam mulut kemudian menstabilkan posisi serta membentuk jaringan “dot” dari puting. Lidah yang normal itu tipis serta mudah bergerak untuk terangkat, menjulur, melebar, menyamping dan membentuk lekukan yang melingkupi payudara. Gerakan lidah yang sempurna akan memeras payudara sehingga ASI masuk ke dalam mulut dan tertelan dengan mudah.

Setiap orang memiliki frenulum lingualis yang terletak di bawah lidah. Frenulum ini merupakan membrana mukosa yang menghubungkan antara lidah dengan lantai dasar rongga mulut. Frenulum ini merupakan sisa jaringan embrionik yang biasanya mengalami resesi di akhir trimester 1 kehamilan. Jaringan frenulum yang normal adalah tipis, elastis dan letaknya tidak terlalu ke depan. Pada kondisi normal membran frenulum tidak menghalangi fungsi dan gerakan lidah.

Tongue tie atau tali lidah pendek atau ankyloglossia merupakan kelainan bawaan akibat variasi anatomi jaringan frenulum yang tebal, ketat, pendek atau terlalu di depan sehingga membuat pergerakan lidah terbatas serta terganggu fungsinya. Pada kasus tongue tie jangan hanya dilihat anatomi lidah, namun juga harus dilakukan penilaian fungsi. Terkadang bayi memiliki frenulum lingualis pendek namun tipis elastis serta tidak ketat sehingga bisa bebas bergerak. Hati-hati menilai tongue tie pada bayi yang berumur kurang dari 3 hari. Tongue tie juga tidak bisa dinilai hanya dengan melihat foto lidah bayi.

Angka kejadian tongue tie hanya sekitar 1,7% – 4,8% bayi baru lahir dengan kecenderungan makin meningkat. Lebih sering terjadi pada pria dengan perbandingan 3 : 1. Jadi, memang benar bahwa tali lidah ciptaan Allah pada sebagian besar kasus itu normal dan tidak perlu dipermasalahkan. Namun, ada kalanya tali lidah ini seperti preputium penis yang menyebabkan fimosis hingga diperlukan intervensi segera.

Pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk menilai elevasi lidah (minimal mencapai separuh mulut ke arah langit-langit mulut), protrusi lidah (minimal bisa terjulur melampaui gusi, paling bagus melampaui bibir bawah), dan lateralisasi lidah (lidah bergerak refleks menuju gusi ketika gusi disentuh). Lidah akan menjulur melewati gusi bawah saat jari dimasukkan ke dalam mulut kemudiann dinilai kemampuan cuuping dari lidah. Terasa lidah melingkupi jari dan bergerak ritmis memberi tekanan pada jari pemeriksa. Tonus otot lidah harus bagus. Tonus diperiksa dengan menekan bagian tengah lidah memakai jari, akan terasa resistensi melawan jari pemeriksa.

Saat bayi membuka mulut lebar, misalnya ketika menangis, terlihat lidah terangkat dengan ujung bundar. Lidah yang bergerak bebas akan bisa terangkat melampaui garis tengah mulut dan berada di belakang gusi atas. Lidah tongue tie tidak bisa terangkat sempurna serta memiliki ujung kotak, terdapat takik atau berbentuk hati.

Sebanyak 25% ibu dengan bayi tongue tie mengalami kesulitan menyusui dibandingkan bayi tidak tongue tie (yang hanya 3% saja). Bayi dengan tongue tie sulit untuk melekat, puting masuk-keluar, sering lepas sehingga ibu merasakan sensasi “snap-back” lidah kemudian bayi menangis frustasi ketika disusui. Bayi hanya melekat dangkal dan sering menggigit saat menyusu. Bayi sering mengempeng, menyusu lama tidak berhenti sepanjang hari. Transfer ASI buruk sehingga berisiko penurunan berat lahir drastis, kuning, berak sedikit, kurus hingga gagal tumbuh. Bayi sering menangis seperti kolik karena masih lapar. Bayi sulit menelan sehingga terbatuk, tersedak, ASI mengalir dari sudut mulut dan kolik akibat banyak menelan udara. Ibu sering lecet, payudara bengkak, sumbatan ductus, mastitis hingga abses, produksi ASI awalnya banyak namun lambat-laun menyusut karena bayi hanya melekat dangkal di puting.

Pencegahan supaya permasalahan tidak berlarut-larut adalah hal yang terbaik. Tongue tie bisa berisiko meningkatkan risiko penyapihan 3 kali lipat di minggu pertama, sehingga bayi tongue tie sebaiknya segera dilakukan penanganan manajemen menyusui yang baik. Manajemen menyusui dengan tepat sejak dini bisa mempermudah proses menyusui pada kasus tongue tie ringan-sedang. Posisi dan pelekatan yang baik adalah inti dari proses menyusui yang lancar. Posisi kepala tengadah, dagu menempel payudara atau posisi bayi tengkurap seperti pada posisi menyusui teknik biological nurturing akan membantu lidah untuk lebih terjulur sehingga lebih mudah melekat saat menyusu di payudara. Bantu sangga payudara dengan teacup hold atau breast sandwich supaya posisi payudara lebih stabil serta kerja lidah bayi lebih mudah. Lakukan breast compression ketika bayi mulai mengempeng (berhenti menghisap lebih dari 10 detik). Berikan double nursing saat bayi mulai malas menghisap. Terkadang ibu terpaksa harus memerah ASI setelah menyusui karena payudara sering bengkak. Ibu juga menyuapi ASIP karena bayi sulit menyusu dengan efisien juga supaya bayi tumbuh sehat.

Menyusui dengan kondisi bayi yang benar-benar tongue tied sangat melelahkan bagi ibu juga bayi, sehingga harus dilakukan manajemen stress yang baik. Pada kasus tongue tie berat yang tidak terbantu dengan manajemen menyusui bisa dilakukan frenotomi oleh dokter yang berkompeten. Indikasi terapi bedah untuk tongue tie adalah permasalahan menyusui, gangguan wicara, gangguan menelan yang tidak normal, kesulitan menjilat, kesulitan mengangkat lidah atau bentuk lidah yang menyimpang.

Sebelum dilakukan prosedur frenotomi untuk permasalahan menyusui tentunya harus dilakukan pemeriksaan fisik, pengamatan menyusui dan bantuan praktis menyusui. Banyak penilaian yang bisa digunakan seperti The Hazelbaker Assessment Tool for Lingual Frenulum Function (HATLFF) bisa digunakan sebagai alat screening penilaian anatomi dan fungsi lidah, juga LATCH score. Bila perlu bisa dilakukan pemeriksaan tes berat badan sebelum dan sesudah menyusui. Intinya tentu kita ingin memilih yang terbaik dengan mempertimbangkan keuntungan juga risiko yang ada. Tongue tied kasusnya sangat sedikit sekali, namun memang nyata ada dan harus ditangani dengan tepat demi keberhasilan menyusui eksklusif selama 6 bulan juga jika bisa terus menyusui hingga 2 tahun.

Ada beberapa bacaan yang menarik tentang tongue tie

http://fn.bmj.com/…/2013/11/18/archdischild-2013-305031.full
https://www2.aap.org/breastfeed…/…/BBM-8-27%20Newsletter.pdf
http://pediatrics.aappublications.org/…/peds.2011-0077.abst…
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2082757/
http://aapnews.aappublications.org/content/33/1/12.full
http://www.cwgenna.com/ttidentify.html
http://www.nancymohrbacher.com/…/tongue-and-lip-ties-root-c…
http://www.drghaheri.com/

Para ibu jangan keburu ngeri serta menduga-duga yang buruk, nanti ASI-nya seret. Cari ilmu sebanyak-banyaknya sebelum bayi lahir. Lakukan manajemen menyusui dengan baik sejak dini. Jika tidak ada masalah, yaa sudah nikmati saja proses menyusui yang indah. Jika ada masalah segera cari solusi yang tepat, jangan berlarut-larut karena saat ini bantuan itu bisa ada dimana-mana. Menyusui adalah pemberian makan bayi yang normal, alamiah dan mudah. Salam ASI penuh cinta, semoga tulisan pendek ini bisa menambah wawasan tentang tongue tie…

Fahira sendiri ternyata ada upper lip tie. Saya sudah mengenali ‘tali bibir’ ini sejak kami masih berada di RS pasca-persalinan, juga sudah menanyakan ke beberapa dokter yang menentramkan hati saya, tapi baru mendapat diagnosis resmi dari dokter yang juga konselor laktasi ketika kami bertemu pada suatu acara saat usia Fahira sekitar 8 bulan. Di acara tersebut disebutkan salah satu tanda lip tie yang paling jelas dari luar, yaitu adanya lip callus (yang memang dimiliki Fahira). Menurut dokter tersebut, lip tie-nya derajat 4 malah, yang tertinggi. Assessment derajat berapa ini bisa dibaca di link The Urban Mama di bawah, berdasarkan assessment Kotlow.  Yang saya baca juga di postingan dr. Riri Zaid yang mengikuti pelatihan dr. Alison Hazelbaker, ahli selain dr. Kotlow yang banyak meneliti  TT dan LT,  menurut dr. Hazelbaker keempat derajat versi Kotlow semuanya normal dan tidak perlu intervensi apa pun. Sampai usianya hampir setahun memang saya masih harus selalu membetulkan pelekatan bibir Fahira ketika menyusu, tapi alhamdulillah secara keseluruhan pertumbuhannya cukup baik. Saya pun tak sampai mengalami milk blister ataupun mastitis,  ‘hanya’ lecet-lecet (yang lumayan bikin meringis).

Selengkapnya mengenai tongue tie bisa dibaca di web Sehat http://milissehat.web.id/?p=2020 dan web dr. Annisa Karnadi https://duniasehat.net/2014/06/11/risiko-tongue-tie-yang-tidak-diterapi/, artikel dengan referensi yang jelas di Anakku http://www.anakku.net/gangguan-lidah-yang-tak-perlu-dicemaskan.html, juga cerita pengalaman seorang bunda yang komplet di http://theurbanmama.com/articles/upper-lip-tie-dan-oversupply-saat-menyusui-ghazi.html. Berikut juga saya sertakan arsip diskusi di milis.
==============================================================================
Ghozan
May 18

Saya repost diskusi perihal ini 2tahun yg lalu, semoga bermanfaat

On 15/05/2013 09:11, Apin Riyanto wrote:
Sudah pernah disampaikan di sini belum? Saya ambil dr Buletin IDAI Februari 2013

Pendapat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) & Perhimpunan Dokter
Bedah Anak Indonesia (PERBANI) ttg TONGUE TIE (ankiloglosia):

1. TT adalah variasi bentuk anatomi dr frenulum lidah. frenulum menjadi
lebih pendek dan atau tebal. bentuk ini dapat dijumpai pd bayi, anak,
maupun org dewasa.
2. TT dapat menyebabkan gerakan lidah terbatas, walaupun demikian TT
TIDAK SELALU MENYEBABKAN GANGGUAN MENGHISAP pd bayi menyusui.
3. tindakan frenektomi dilakukan atas indikasi yg jelas, yg berarti
bhw TIDAK SEMUA BAYI MEMERLUKAN TINDAKAN FRENEKTOMI, tetapi bergantung
pd jenis & masalah yg ada pd bayi.
4. tindakan FRENEKTOMI DAPAT MENIMBULKAN KOMPLIKASI, antara lain
perdarahan krn terpotong pembuluh darah besar atau mencederai/merusak
kelenjar saliva.
5. TINDAKAN FRENEKTOMI HARUS DILAKUKAN OLEH TENAGA MEDIS YANG KOMPETEN.

Jkt, 8 April 2013
PP IDAI
PP PERBANI

===============
Pandangan dr Wati

Good point Patty
Masih banyak statement yg normatif meski dah ada kemajuan
The next questions are:

1. Apakag SEMUA termasuk konselor laktasi, membaca maklumat tsb?
2. Apakah SEMUA RS dan dan klinik, membaca maklumat tsb?
3. Apakah masyarakat disosialisasikan perihal hal tsb?
4. Apakah ada mekanisme monitoring? Bagaimana enforcement nya di lapangan?
Dst dst
Tanyakan pada yg bergoyang
Hehehe maaf
Lidah kan “goyang ” ya
Hehehe maaf nglantur

HenB

==============

Pandangan Ibu Monik

Dear all,
Baru sempet nimbrung thread ini. Saya sebagai Konselor Laktasi beberapa
kali ngurut dada karena prihatin kelimpahan Ibu2 yg pasca anaknya di incisi
tidak ada perbaikan dalam proses menyusunya. Bahkan pernah seorang Ibu
pasca melahirkan bayinya Di judge TT dan di incisi sblm pulang RS tanpa
sempat Ibu tsb cari info mendalam n melakukan 2nd opini karena seperti
ditakut2i soal efek TT. Yuk semua gandengan tangan support para BuSui dan
bantu edukasi & beri informasi soal ASI & Menyusui.

*Should all tongue ties be clipped?*

Lucina Armstrong, Breastfeeding Center Coordinator at Birthingway, is skeptical about the sudden surge in increases of tongue clipping without
information about the long-term effects.
“Usually the mom is immediately more successful, and that makes you feel like we should we be doing more clipping,” Armstrong said. “But I feel skeptical about clipping everyone has who a tongue tie. It’s invasive
surgery and we do it to babies that don’t have a say.”

The need for treatment can depend on the severity and location of the tie, Meyers said. “Some moms and babies sail right through with a tongue tie. Not all moms and babies need to be clipped. The tongue can do its job
despite the tongue tie.”

IBCLCs agree that tongue clipping is never the first recourse. “It’s possible that body work can free up the tongue on its own when done
beforehand,” Fuson said.”

http://www.portlandfamily.com/posts/tongue-tied-babies/

Your BFF,
F.B.Monika , @f_monika_b
Your Breastfeeding Friend, KLASI YOP

Dear all,
Menambahi info dari Pak E, berikut ini adalah sharing dari seorang Ibu yang anaknya didiagnosis posterior tongue tie dan upper lip tie. Simak kisahnya semoga bermanfaat :

Ibu E : Monika, our pediatrician in Australia said TT is way over diagnosed, so even though it is quite clear our little one has a TT and lip tie, we chose the wait and see option, as even though I had pain and he was swallowing air and getting a sore tummy, he was gaining weight well. Luckily with time we’ve learned to nurse well and we don’t have any ongoing issues..
Saya : So in your case, for how long you experienced the pain? Also which breastfeeding position worked better for you (less pain) and any other suggestions for the mother I help?
Ibu E : Hi Fatimah,
I was in some pain for around four months. As I had a cesarean section with antibiotics and then thrush then mastitis (staph), it was difficult to know what exactly was causing my pain.
My nipples were also very squeezed with a white line across. This would trigger vasospasm and my nipple would be ghostly white.
It was quite upsetting as I’d had such an EASY time breastfeeding my first son.
This time, there was an audible click sound when nursing, and an obvious upper lip tie so along with my pain it was those other factors that led me to think of a tongue tie. Since it can be hereditary I asked my husband to show me his tongue and alas he has a noticeable tongue tie too!
We cosleep, and nurse while lying down, but for a while he just couldn’t latch this way so I had to sit up to nurse so I was tired.
Because his latch wasn’t so great and because he didn’t have suction helping him stay on the breast, he needed support to stay on – similar to the Dancer hold I think. I also nursed him a lot in the baby carrier (baby bjorn or ergo) as the back of the carrier provided extra support to stay on the breast.
As he got bigger and his mouth muscles became stronger he was able to stay on by himself. The clicking has stopped, he doesn’t swallow as much air and is much happier for it.
I would say it was worst in the first two months, then gradually improving until four months when we were virtually pain free.
I’m glad we didn’t do a frenectomy but if it’d gone on for a lot longer I would have considered it.
I hope this helps!
-End
F.B.Monika, @f_monika_b

====================

Jawaban dr Apin

Kenapa dimasukkan ke dalam buletin IDAI? Hmm, saya nda tahu jg alasan persisnya, tapi buletin IDAI kan memang dibagikan ke seluruh anggota IDAI,
jd mungkin harapannya anggota IDAI yg pernah melakukan praktik yg tidak sesuai prosedur yg dimasukkan dlm poin2 ini mendapatkan peringatan dan
memperbaiki dirinya. Kalau mau diseriuskan ya dimasukkan ke dalam UU Kedokteran. Tapi masih jauh kynya. Hehe… Jadi sementara kita sbg konsumen
kesehatan memperkuat diri saja dengan ilmu yg sahih mengenai TT ini, shg bisa berargumentasi dg dokternya bila dihadapkan pd situasi tsb.
Siapa yg berkompeten mengerjakan frenektomi? Nah, ini sy jg belum tahu jawabannya. Berhubung yg membuat statement tsb adlh IDAI & dokter bedah
anak, pastinya dokter bedah anak, bedah umum, bedah plastik & THT berkompeten, krn skill mereka bedah. Dokter anak? Sy ngga tahu jawabannya.
Mungkin yg sudah kursus dapat IBCLC dibekali workshop frenektomi? Dokter anak lain di milis ini bisa bantu?

Maaf tidak membantu.

Apin

=================
Pandangan Bu Indri

Sepemahaman saya dari email mba Monika, bahwa:
1. Frenectomy bukan semata2 solusi dari TT dan LT.
2. Solusi yang paling utama adalah sabar. Baik dari si ibu maupun si anak.
3. Berusaha cari posisi menyusui terbaik yg nyaman buat anak dan nyaman buat ibu (dalam kasus ibu E posisi tersebut adl posisi bayi diatas ibu dimana si ibu menahan badan anak spt posisi dansa yg saling memeluk. Ibu E juga nyaman dg posisi menyusui pake gendongan baby bjorn atau ergo (sepengetahuan saya keduanya adl gendongan bayi dg posisi bayi berdiri))
4. Seiring perjalanan waktu, (dari pengalaman ibu E) rasa nyaman dan bebas rasa sakit baru terasa setelah anak usia 4bulan.
5. Fakta menarik (buat saya): Ternyata TT dan LT adalah hereditary (diturunkan dari orangtua) .

Mohon koreksi dan tambahin jika ada yg kurang ya SPs..

Cheers,iNdRi | @wdindriyana

=======================
Bonus:

Dear Ummi Acie,
Sebelumnya, selamat atas kelahiran keponakan nya ya.. Bunda Wati dan Mba Ade sudah banyak memberikan masukan.

Boleh saya tambahkan beberapa hal ya..
Yang utama adalah segera second opini kepada ahli laktasi seperti yang sudah disebutkan Bunda yaitu salah satunya dr Utami Roesli. Lip tie stadium yang parah betul dapat menyebabkan berbagai masalah menyusui seperti puting lecet dan intake ASI yang tidak optimal, tetapi tidak bisa dibalik bahwa puting lecet dan kenaikan BB tidak maksimal pasti karena Lip Tie (seperti juga karena Tongue Tie).
So please segera pelajari soal Lip Tie, saya nemu satu Jurnal of Human lactation yang cukup lengkap (baru release July tahun ini) beserta gambar2 kasus Liptie untuk dipelajari dan dibawa sebagai bahan diskusi.
Yang kedua , Adik Mba sudah mencoba berbagai macam posisi menyusuikah? Apa sudah mencoba posisi Laid back/Semi reclining? Posisi ini menguntungkan bagi bayi karena memudahkan bayi mendapatkan deep latch tanpa terganggu oleh efek gravitasi dibanding posisi menyusui lainnya misalnya cradle hold/cross cradle (posisi Ibu duduk). Silahkan pelajari di sini dan ada videonya juga :
Yang ketiga mengenai perah ASI. Saat kondisi puting lecet, banyak referensi menyarankan perah dengan tangan karena tingkat kekerasannya dapat diatur semau Ibu. Apakah adik Mba sudah menguasai teknik perah tangan? Saya repost video Hand Expression marmet technique.
Perahlah rutin walau nyeri, saat nyeri kompres dingin bisa disela sesi menyusui/perah dan setelahnya.
Mungkin segitu dulu ya Mba, support agar Adik Mba tetap tenang dan semangat.
F.B.Monika, @f_monika_b
Your BFF (Breastfeeding Friend), KLASI YOP

La Leche League (LLL) Leader of Roc South NY, US

==============

Pandangan drg Icha

Nanti berkurang kok.

No worries.

Gigi susu renggang bagus kan ya. Biar banyak space utk gigi permanennya yang nanti dimensi horizontal nya lebih besar.

Insisi nanti jika saat gigi tetap udah tumbuh masih ada gap dan si pasien mau pasang ortho utk memperbaiki penampilan, boleh.

Tapi klo saya liat di model2 international yg giginya gap pasti laku deh buat editorial photo. Hihi

Icha @annisaramalia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s