Menikmati Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016

img_20161002_090131.jpgKarena sempat menikmati keseruan Festival Dongeng Internasional Indonesia tahun kemarin, saya pun menanti-nanti gelaran berikutnya. Awal Oktober lalu ketika kami main ke Taman Suropati rupanya ada kegiatan pendahuluan menuju FDII 2016 berupa Dongeng Kejutan di Hari Minggu. Fathia yang sebetulnya sedang moody abis karena baru sembuh dari sakit ternyata tertarik ikut duduk mengikuti dongeng rubah yang ingin jadi keledai🙂. Dari banner yang dipasang panitia kami memperoleh informasi bahwa FDII 2016 akan dilaksanakan pada tanggal 5-6 November 2016 di tempat yang sama yaitu Museum Nasional. Oke deh, mari kita masukkan ke agenda…

img-20161107-wa0022Menjelang hari-H saya mengintip akun Instagram dan facebook Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI/@ayodongeng_ind) dan memperoleh beberapa informasi tambahan seperti jadwal acara dan cara pendaftaran kelas-kelas khusus (berbayar) yang dibuka yaitu kelas kriya (crafting) dan kelas dongeng. Ingin rasanya ikutan belajar dari mereka yang terampil di bidangnya, tapi saat ini sepertinya belum memungkinkan. Sementara ini, belajar lewat menyimak dongeng yang dibawakan saja, ya…

 

img-20161107-wa0021

img_20161106_094242.jpgKami pergi ke FDII di hari kedua. Jika tahun lalu saya dan anak-anak mendengarkan dongeng dari Sheila Wee dari Singapura yang tahun ini kembali tampil, juga dari kak Aio (Ariyo Zidni, pendiri komunitas Ayo Dongeng Indonesia yang memprakarsai FDII sejak 2013), ternyata kali ini kami berkesempatan menikmati sajian dari pendongeng yang berbeda. Begitu kami sampai, di panggung utama yang disebut Panggung Kancil sedang ditampilkan dongeng oleh bapak Made Taro dan putranya, Made Tarmada, dengan diiringi alat musik khas Bali yang mereka mainkan sendiri. Pak Made Taro ini telah 43 tahun mengabdikan diri untuk dongeng, sehingga panitia menganugerahkan penghargaan dongeng yang diserahkan seusai penampilan beliau.

img_20161106_095445.jpgSelanjutnya Wajuppa Tossa dari Thailand menceritakan fabel hewan khas negaranya, gajah. Dongeng dibawakan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh petugas dari panitia. Setelahnya yang naik panggung adalah Ng Kok Keong dari Malaysia yang tidak sempat saya simak seluruhnya karena Fathia mulai cari-cari ayahnya…yang rupanya duduk di ujung lain dan malah sudah sempat foto bareng Agus ‘PM Toh’ Nur Amal😀.

 

 

 

 

img-20161107-wa0016

img-20161107-wa0013Kami pun beralih ke ruang dalam atau Taman Cerita, di mana dipamerkan beragam ilustrasi dongeng anak. Di ruang badak dalam Taman Cerita ini ada dongeng istimewa oleh Jeeva Raghunath dari India. Seperti para pendongeng sebelumnya, Jeeva tampil begitu ekspresif. Anak-anak maupun orang dewasa yang duduk mengelilinginya ikut bernyanyi “I’m in search for the best mama, miaw miaw miaw…,” menirukan anak kucing yang sedang ngambek pada ibunya. Cerita berikutnya yang juga dibawakan pendongeng perempuan dari India memberi pesan moral agar tidak sombong seperti ikan bersisik warna-warni yang akhirnya tidak punya teman.

img-20161107-wa0012

Masih di tempat yang sama, kak Bonchie mendongeng interaktif dengan origami dan boneka kertas. Menarik bahwa selembar kertas origami bisa dilipat menjadi beraneka bentuk yang mendukung jalannya cerita. Kalimat dalam dongeng kedua yang dibawakan oleh kak Bonchie masih sering diulangi oleh anak-anak, “jadi gemuk, gemuk, daaan gemuuuk”.

Di area ini tersedia berbagai permainan edukatif dan bacaan untuk anak, sepertinya boleh digunakan saat tidak sedang ada pertunjukan. Beberapa kelas kriya mengambil tempat di Taman Cerita ini juga, termasuk kelas ‘Cap-cap Ceritamu’ yang sempat saya lihat. Mau belajar membatik juga bisa, Museum Nasional menyediakan sarana dan pengajar membatik yang beberapa kali pernah saya lihat di kunjungan sebelumnya. Saat kami keluar dari Taman Cerita, di panggung utama terlihat Puppetaria atau dongeng boneka dengan lakon Lutung Kasarung sedang dipentaskan.

img-20161107-wa0026Karena mulai lapar, kami menuju lantai dasar di mana terdapat stand-stand penjual makanan. Kalau biasanya hanya ada kantin yang menyediakan makanan kecil, minuman, dan cendera mata, di event-event besar seperti ini memang jadi lebih banyak pilihan pengisi perut. Ruangan di dekat bazaar makanan ini juga digunakan sebagai tempat penyelenggaraan kelas dongeng. Sayangnya Kids Corner Museum Nasional sedang tutup, jadi anak-anak tidak bisa main di sana seperti biasa. Kenyang makan, hari beranjak siang, kami pun bersiap pulang. Sambil menunggu suami mengambil kendaraan, saya dan anak-anak sempat menonton sebentar Craig Jenkins dari Inggris bercerita tentang buaya. Ah, rasanya kalau mau menyaksikan semua nggak ada habisnya, ya. Semoga tahun depan kami masih berkesempatan hadir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s