Belajar Merawat Pernikahan dari Ummu Balqis

dscn1674Siang tadi saya mengikuti talkshow bertajuk Rawatlah Pernikahanmu yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Muslimah Setjen Kemenkeu. Pembicaranya adalah Mba Ernie Susilowati atau lebih dikenal dengan Ummu Balqis. Beliau adalah pemilik akun instagram @babyhijaber dan pendiri sekaligus creative director brand @byummubalqis, juga inisiator Jabodetabek Muslimahpreneur dan founder Dunia Dongeng Anak. Saya tak mengikuti dari awal, sih, hanya kebagian sesi tanya-jawab saja dengan perempuan lulusan FMIPA ITB dan LaSalle Fashion College ini. Namun, dari kesempatan yang terbatas itu saya tetap bisa belajar dan mengambil hikmah melalui pertanyaan-pertanyaan peserta (yang terasa dekat sekali dengan kehidupan saya sendiri sehari-hari) dan jawaban dari mommy dua anak ini.

  1. Perempuan baiknya di rumah, terasa bahwa memang harusnya akan lebih maksimal merawat pernikahan termasuk anak-anak kalau tidak bekerja di sektor publik, tetapi bagaimana dengan keluarga (orangtua) yang sepertinya tidak akan setuju jika keluar dari pekerjaan?

Jawaban: Yang penting suami men-support, termasuk mendukung jika istri memang mau resign. Sementara itu, tunjukkan bakti (misalnya dengan waktu yang lebih fleksibel bisa lebih banyak membantu orangtua) dan buktikan ketika kita tidak memiliki peran ekonomi tetapi bisa tetap berkarya, walaupun tidak melulu berupa menghasilkan uang.
Curhatlah ke ortu kita, anak zaman sekarang dengan kemajuan gadget harus lebih diupayakan kontrol dari ortunya, jadi dengan di rumah bisa lebih memantau. Contoh yang sudah dijalankan oleh Ummu Balqis sendiri yaitu dengan kalimat seperti ini: “Ma, aku kan pendidik, kerja dari jam 10 sampai jam 8 ngajarin orang-orang, anak malah jarang ketemu. Takutnya, ngajarin anak orang sampai hebat tapi anak aku sendiri nggak hebat gimana?”.

Sounding dulu sejak 6 bulan sebelumnya, jangan tiba-tiba. Dari cerita bertahap ini akhirnya akan menyebut solusinya, “Kayaknya resign aja, ya, Ma…”. Jadi jangan mendadak, awali dengan curhat. Bukan berarti nyuruh resign ya, karena kemampuan orang beda-beda. Kalau bisa berperan maksimal dengan status ibu bekerja, bagus juga.

Kemudian, definisi sukses itu beda-beda. Di masyarakat khususnya suku tertentu masih ada stigma perempuan itu dianggap sukses (‘mentas’) adalah ketika punya posisi di tempat kerja, bukan dilihat anak-anaknya bagaimana. Maka kita buktikan jangan sampai ketika resign kita malah nggak jelas, jadi ada aktivitas yang terarah.

dscn1675

2. Tadi sudah diuraikan persiapan menuju pernikahan dan bagaimana merawat pernikahan setelah ada anak. Lalu bagaimana merawat pernikahan di masa awalnya? (saya sedikit lupa pertanyaannya, sih)

Upayakan adaptasi dengan suami dan keluarga suami selesai sebelum punya anak. Akrabkan diri dengan keluarga besar suami, ajak adiknya jalan-jalan ke toko buku, menginap di tempat mertua, jika ada yang dirasa berbeda obrolkan dengan suami untuk mencegah salah paham (pengalaman Ummu Balqis, nada dan cara bicara mama mertua yang berasal dari Jawa Timur sempat bikin kaget pada mulanya). Lalui fase-fase jealous di tahun pertama (khususnya bagi yang tidak pacaran sebelum menikah), manfaatkan untuk mengenal diri dan kebiasaan suami. Setelah punya anak bisa jadi akan banyak kebiasaan berubah, sehingga harus dikomunikasikan sejak awal sebelum punya anak terkait gambaran dan langkah yang akan diambil untuk menanggulanginya. Misalnya yang tadinya sempat melayani suami minum teh pagi, menyambut dengan cantik dan wangi saat suami sampai di rumah dari kantor, nanti mungkin tidak bisa selalu seperti itu. Tapi bicarakan bahwa akan tetap ada waktu kencan berdua. Buat semacam deal ulang. Jangan lupa akan hak-hak suami, beri waktu suami untuk mengerjakan hobinya. Karena hobi inilah yang bisa jadi saluran positif pelampiasan energi dan menghabiskan waktu.

3. Bagaimana menyikapi postingan keluarga lain yang tampak begitu indah dan ‘wah’ di media sosial?

Meski postingan sehebat apa pun, pasti ada sisi kurang dari keluarga tersebut yang tidak ditampakkan. Postingan seburuk apa pun (mengeluh dst), pasti ada kebaikan yang mungkin sedang lupa diingat. Ambil baik-baiknya saja, jika ada yang jelek mari kita jadikan PR agar keluarga kita tidak begitu, jadikan bahan untuk diskusi dengan suami agar hal serupa tidak menimpa keluarga kita. Lalu kembali lagi ke tujuan hidup kita, apa iya hanya soal dunia? Jika kita telah mengontrol keinginan kita terhadap dunia, in sya Allah kita tidak akan tergoda dan baper. Ikut bahagia saja selama positif. Jangan lupa bahwa segala sesuatu akan dihisab, makin banyak harta maka makin panjang hisab kita nanti. Jangan salah, yang tampak indah di media sosial belum tentu di belakang tidak banyak masalah (mommy mencontohkan ada yang kesulitan membayar cicilan mobil mewah sampai harus pinjam uang ke teman). Ingin nyaman boleh, muslim yang kaya juga bisa memberi banyak manfaat. Tapi jangan jadikan sebagai tujuan hidup. Nah, kalau pencapaian akhirat, boleh kita baper. Jadikan sebagai motivasi.
Buat juga daftar poin-poin sendiri tentang definisi sukses menurut kita, seperti apa? Misal makin banyak mengerjakan amalan baik, mengurangi amalan buruk.

dscn1677

Sebagai penutup, penulis buku Bukan Ibu Biasa ini menekankan hal-hal sebagai berikut:
Jadikan hari ini sebagai titik balik, mulai hari ini yang sudah menikah mari mengazzamkan diri unuk memperkokoh pernikahannya, yang belum nikah semoga disegerakan, cari suami yang visi misinya jelas.
Yang sudah menikah, yuk berdoa agar dikembalikan ke visi misi pernikahan karena tahu bahwa pernikahan adalah wasilah menuju surga-Nya. Kayuh bersama agar semakin searah semakin jelas tujuannya, jangan hanya rutinitas sehari-hari yang tidak jelas. Insya Allah tertutup pintu maksiat dan terbuka pintu kebaikan.

image

Oh iya, ketika googling untuk memastikan penulisan latar belakang pendidikan Ummu Balqis supaya penulisan di blog valid, saya menemukan postingan kulwap yang beberapa di antara tanya jawabnya mengena sekali, saya kutip sekalian di bawah, ya…  (sumber dari sini)

Q: Ummubalqis, sejak resign dari kantor saya memutuskan untuk menulis blog supaya bisa tersalurkan apa yang terpendam di hati dan pikiran. Sudah hampir 3 bulan berjalan tapi mandek di tulisan ke 4. Tulisan saya hanya berakhir di draft di note. Entah karena waktu atau ide buat kasih finishing touch, tapi makin hari rasanya makin malas untuk utak atik draft itu. Mohon tipsnya untuk siasati masalah ini. (Adit)
A: Coba kasih reward untuk diri sendiri. Semisal, aku boleh beli gamis baru setelah kelar 10 tulisan.
Atau punishment: Aku ga boleh ke salon sebelum kelar 5 tulisan.
Dan sebaik-baiknya alasan menulis adalah: kalau aku ga nulis sekarang, khawatir amal jariyahku ga jadi tercatat.
Kaaaan…saat kita meninggal, ilmu yg tertinggal lewat tulisan-tulisan kita itu bisa jadi amal jariyah looh.
Ayooo…semangat ngeblog lagi, berbagi ilmu lagi.
🙂

Q: Ummubalqis, saat ini kondisi saya working mom dengan 2 anak, kadang kewalahan untuk memanaj diri. Load dan tekanan kerjaan yg super tinggi membuat saya kadang (sering sih) meluapkan emosi ke anak dan suami😥.
Kadang ada rasa ingin segera resign, namun mengingat kondisinya belum memungkinkan untuk resign jadi belum kami eksekusi keputusan tersebut. Oh ya saya tipikal ga bisa fokus dan banyak maunya, selain kerjaan ada dagang online kecil-kecilan juga. Mohon tipsnya untuk bisa menjaga kewarasan dan emosi saat kondisi seperti itu. (Siwi)

A: Sekali lagi, ga mudah berperan rangkap.
Jadi ibu saja sudah susah.
Apalagi ibu dengan peran di luar.
Saran saya, sebelum tanggung jawab yang sudah ada tertunaikan baik, tunda menambah beban lagi.
Perihal beban yang ada, coba untuk fokus. Pekerjaan jangan dibawa pikirannya sampai ke rumah. Anak-anak sudah cukup disunat waktunya saat kita berkiprah di luar, hadir seperlunya saat kita di rumah. Coba atur fokus saat di kantor, upayakan kita bisa selesaikan lebih cepat dari yang lain, agar tak pusing tugas kantor kepikiran di rumah. Dan waktu luang kantor bisa dipakai untuk prepare “invitation to play” ke anak, sehingga guilty pressure hilang, semua terkendali.
Jadi efektivitas waktu di kantor benahi, coret waktu yang tak penting.

Peran pasangan diperlukan agar kita ga stres sendirian, jadikan berkumpul dengan anak adalah masa-masa melepas stres. Jika memang sudah terlampau lelah, izin pada pasangan rehat me time sejenak, namun sekali lagi, waktunya harus terukur, InsyaAllah bisa.
Bunda Khadijah pun istri, ibu, sekaligus wanita yang aktif di luar.

Q : Bagaimana cara memanage waktu agar pekerjaan rumah tangga beres, anak terurus, dan urusan bisnis atau karir juga selesai. Saya ibu bekerja. Rumah selalu berantakan, karena lebih mengutamakan ngurus anak dulu. Saya kira karena saya bekerja jadi ga sempat untuk ngurus rumah. Tapi ketika hari Minggu, atau ketika saya cuti sekalipun, tetap saja saya tidak bisa menghandle semuanya. Ketika saya fokus beberesan, anak pasti keteteran. Kalo fokus ngurus anak, rumah kayak kapal pecah. Kadang saya berpikir, ini apa saya yang tidak bisa mengatur waktu atau memang tipikal anak saya ajah yang maunya diladenin terus ga bisa ditinggal sama sekali (bayi 9 bulan), anak orang lain gitu ga ya? (curhat). Kadang suka iri liat rumah tetangga, punya bayi, rumah rapi, masih sempet jualan online pula (ririn)
A: Definitely aku tau yg dirasakan mom rin. Jadi ga ada ibu yang “bener2 super”, beberapa tugas yang kalau memang bisa didelegasikan, ayo delegasikan.
Saya pun ada mbak yang bantu-bantu, lumayan 4 jam dibantu. Dia datang jam 8-12 untuk nyapu dan ngepel, mbak satunya setrika. Nah 4 x 2 = 8 jam yang dibantu ini bisa dialihkan ke hal lain yang lebih urgen waktu dan tenaganya. Nah saat semua mbak pulang, rumah sudah tanggung jawab saya sepenuhnya. Berantakan ya saya sendiri yang rapikan.

Untuk anak batita sepertinya kita memang harus “menurunkan standar rumah rapi” demi kewarasan kita, hihi. Kemudian kita harus memberi anak-anak yang susah ditinggal kesibukan agar kita bisa “sibuk bersama”. Misal, putri saya tipikal ga bisa ditinggal, sedang saya harus mengerjakan tugas kuliah. Jadilah saya print dahulu lembar-lembar yang harus diwarnai dan segala aktivitas lain, baru dijejerin depan-depanan. Dia sibuk, saya sibuk tapi saya tetap mengamati dia, menilai hasil oret-oret dia, jadi dia ga ngerasa ibunya cuek.

Untuk anak yang lebih kecil memang mau ga mau kita cuma bisa lepas saat mereka tidur, dinikmati saja. Serius, setelah mereka besar, itu rasanya yang kemarin repot2 itu cuma sebentar dan ngangeni.
Fase repot dinikmati, agar waras kita terjaga.
Rumah berantakan dinikmati, nanti pas semua sekolah bisa rapi dan sepi lagi.
Hihi.
Ga membantu sharingnya, tapiii jika ribuan ibu lain bisa melewati dengan tetap gembira, InsyaAllah kita bisa
Ssst, saya juga pernah kok sampai nangis-nangis karena saya tipe yg ga suka brantakan. Waktu Daffa lahir rasanya ini kenapa rumaah?? Akhirnya deal dengan diri sendiri menurunkan standar kerapihan rumah, setelah Daffa tidur baru beberes, dan menikmati rumah rapi sejenak. Alhamdulillah pas Balqis rumah sudah lebih luas jadi berantakannya “dilokalisir”, cukup area tertentu rumah.

Nikmatiiii yaaa Mooom.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s