NHW5 Kelas Matrikulasi IIP Batch 2

NICE HOMEWORK #5
MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #2

learning-how-to-learn-logo-with-text

Sumber gambar: Coursera.org

📝 BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝 (Learning  How to Learn)

Setelah malam ini kita mempelajari  tentang “Learning How to Learn”  maka kali ini kita akan praktik membuat Desain Pembelajaran ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan “learning how to learn” dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil sempurna yang kami harapkan, melainkan “proses” Anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yang perlu Anda share-kan ke teman-teman yang lain.

Selamat berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar Anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Jawaban:

Jika merujuk ke tipe-tipe pembelajar, saya tergolong pembelajar visual. Saya kutip dari https://sandurezu.wordpress.com/2013/02/05/mengenal-tipe-belajarmu-visual-auditori-atau-kinestetik/

Tipe Visual

Orang visual akan lebih memahami melalui apa yang mereka lihat. Warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Adapun beberapa ciri orang dengan tipe belajar visual, yaitu:

  • Rapi, teratur, memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan

  • Berbicara dengan cepat

  • Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik

  • Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka

  • Lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar

  • Mengingat dengan asosiasi visual

  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya.

  • Lebih suka membaca daripada dibacakan dan pembaca yang cepat

  • Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon atau dalam rapat

  • Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato

  • Lebih menyukai seni gambar daripada musik

  • Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat ya atau tidak

  • Mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata yang tepat

  • Biasanya tidak terganggu dengan keributan

Ciri-ciri di atas sesuai dengan apa yang saya alami selama ini. Saya sering bisa mengingat suatu hafalan dengan membayangkan lokasi penulisannya di buku teks/buku catatan saya. Saya juga sering kesulitan merumuskan apa yang hendak saya ungkapkan atau tanyakan, khususnya dalam percakapan lisan yang langsung. Namun, saya tidak jago gambar, sih. Paling mentok, saya mencorat-coret buku catatan seperti disebutkan di atas juga. Corat-coret ini juga tidak saya lakukan tiap saat, seringnya sih saya sibuk mencatat materi yang disampaikan oleh pembicara/narasumber/peserta rapat baik di ponsel maupun buku catatan. Biasanya saya juga menyediakan alat perekam sih, karena saya juga senang bisa belajar langsung dari ahlinya, tapi saya juga suka menuangkan kembali perkataan pembicara ke dalam catatan.

Saya rasa, saya cukup mudah menghafal lagu/musik, tetapi memang jarang menjadikannya sebagai sarana khusus pendukung belajar. Seingat saya, saya pernah mencoba rutin memutar lagu tertentu untuk membantu memanggil ingatan terhadap apa yang saya pelajari, tapi tidak berlanjut. Soal rapi dan teratur, tidak juga, sih. Suka sebetulnya dengan kerapian, tapi masih tergantung mood untuk merapikannya.

Yang jelas, saya memang suka membaca. Membaca apa saja, dulu bahkan termasuk koran bungkus makanan. Akan tetapi, makin ke sini kebiasaan membaca apa saja ini juga punya sisi negatif yaitu berpotensi menimbulkan tsunami informasi. Saya sudah seharusnya menyusun prioritas, mana yang boleh dibaca ketika senggang, mana yang baiknya dilewati saja ketika ada yang lebih penting, mana yang harus didahulukan karena memang perlu dan bukan hanya sekadar untuk bersenang-senang. Apalagi di dunia maya.

Terkadang saya hendak googling jurnal terkait penggunaan obat tertentu misalnya, sesuai dengan minat saya pada kepedulian terhadap kesehatan keluarga dan ASI. Kemudian saya bisa nyasar dengan asyiknya karena menemukan tautan lain yang tidak ada hubungannya secara langsung, misalnya topik gangguan perilaku atau arti tangisan bayi. Bermanfaat, sebetulnya, tapi tidak sesuai dengan prioritas pada saat itu. Saya terus terang belum bisa bilang bahwa saya tidak tertarik dengan informasi semenarik itu. Solusi sementara saya adalah mem-bookmark laman yang saya minati tersebut untuk dibaca kemudian, atau menyimpannya di aplikasi sharing seperti Evernote. Aplikasi ini juga sekaligus memudahkan ketika saya hendak mencari bahasan tertentu nantinya sewaktu-waktu, dengan adanya fitur pencarian dengan kata kunci, tautan asli juga tetap tersimpan, bisa dibuka di gawai mana saja asal kita punya akunnya dan tersambung ke internet. Solusi ini pun punya kelemahan jika saya tidak menyempatkan waktu untuk mengelolanya dengan baik, misalnya membuat kategori dan judul yang menolong pencarian di kemudian hari. Sebab jika hanya terkumpul begitu, hasilnya saya malah kebingungan ketika perlu, walaupun masih lebih mending daripada harus mencari sumbernya lagi dari nol.

Ngomong-ngomong soal informasi di dunia maya, saya belajar dari komunitas seperti Milis Sehat untuk menyaring informasi, khususnya informasi kesehatan memang, tapi belakangan bisa diterapkan juga untuk bidang lain. Hal ini cukup membantu menghemat waktu (dan kuota internet), misalnya dengan mengetahui kata kunci yang tepat untuk pencarian, mengenali website tepercaya maupun situs abal-abal pemancing traffic semata (secara tidak langsung saya jadi belajar teknik SEO sederhana juga dari sini), dan menyaring informasi.

Oh ya, saya tentu saja juga masih suka membaca buku fisik. Sebagaimana telah saya ungkapkan pada NHW sebelumnya, saya saat ini punya target membaca dua buku dalam sebulan. Tercapai? Yah, kalau buku anak-anak dihitung, sih, tercapai :D. Bukan bermaksud meremehkan buku anak, ya, saya tahu bahwa proses pembuatannya rumit karena harus mempertimbangkan efeknya ke anak, memberi pesan baik tanpa menggurui, sekaligus juga harus tetap tampil menarik. Hanya saja, ketebalannya memang cenderung minim (tanpa menghitung covernya yang tebal, hahaha), saya khawatir tidak memenuhi syarat untuk dianggap memenuhi target bacaan.

Jadi, intinya sebetulnya saya masih perlu manajemen yang lebih baik lagi. Terkait pengaturan waktu misalnya, rencananya setelah anak-anak tidur saya akan meluangkan waktu sejam untuk khusus membaca buku. Saya tidak tahu sih, bolehkan saya menganggap ini salah satu sisi baik dari LDM, yaitu bisa memanfaatkan malam hari untuk belajar. Saya juga akan memulai lagi kebiasaan membaca buku di angkot ketika berangkat/pulang bekerja, kecuali kalau memang situasinya tidak memungkinkan (termasuk kalau saya jadi pusing karenanya, tergantung kondisi kesehatan, posisi duduk, penerangan, dan seberapa ngebut sopirnya :D). Kemudian, kategorisasi di Evernote harus dibenahi agar topik dikelompokkan dengan sesuai. Mengingat gaya belajar saya cenderung visual, maka rancangan pembelajaran saya ke depan akan tetap berfokus pada buku dan materi tepercaya di internet. Untuk mengikat ilmu dari kursus/kelas/workshop/seminat/talkshow/majelis taklim yang saya ikuti, seperti biasa saya akan tetap mencatat sebaik-baiknya, dengan berusaha memperbaiki tulisan sendiri dan berupaya menyalinnya lagi ke Evernote atau blog supaya lebih terdokumentasi dengan baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s