Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1: KOMUNIKASI PRODUKTIF

Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham seringkali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita, maupun kepada anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadari bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir.

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata Anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata Anda.

Kata *masalah* gantilah dengan *tantangan*.

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*.

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*.

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (kosakata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya. Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna. Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep, dan tata nilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, buku bacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya. Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR-nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR-ku dan FoE/FoR-mu ==> FoE/FoR KITA.

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kaupakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi.

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada nalar. Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua. Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila emosi Anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar nalar Anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik. Ketika emosi berada di puncak amarah (artinya nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi di sana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan Anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan Anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya ke sana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang, maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan “Mata adalah jendela hati”

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Di sisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apa pun.

5. Kaidah: I’m responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak-anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik. Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng-copy. Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya. Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana caranya?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk.

⛔Kalimat tidak produktif:
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.”

✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur, ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru Anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu!” (tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif:
“Nak, tolong ambilkan buku itu, ya” (suara lembut, tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif:
“Nak, Ibu tidak ingin kamu nge-game terus sampai lupa sholat, lupa belajar!”

✅Kalimat produktif:
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif:
“Nilai matematikamu jelek sekali, cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu nge-game terus,sampai lupa waktu, lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif:
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul, maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif:
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih!”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu!”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya Nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat.”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati

⛔Kalimat tidak produktif:
“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”

✅Kalimat produktif:
“Kakak capek, ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔Kalimat tidak produktif:
“Mandi sekarang ya, Kak!”

✅Kalimat produktif:
“Kak, 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat?”

Salam Ibu Profesional,
Tim Bunda Sayang IIP

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message: Implicit Communication of Emotions and Attitudes, e book, paperback, 2000.
Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari: Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang: Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014.
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari.

Resume Tanya Jawab Materi Sesi 1: Komunikasi Produktif
Fasilitator: Evi Wilianti

1.) Penanya: Sari
Pertanyaan:
1. Bagaimana menjaga komunikasi dengan pasangan yang sangat sibuk, sedikit sekali waktu untuk ngobrol, lebih banyak komunikasi lewat wa atau telepon juga jarang? Adakah pembelajara /tips untuk bisa melatih konsisten memiliki waktu komunikasi berdua pasangan?
▶ Bunda Sari yang solehah… ini posisi nya LDM kah? Atau masih serumah tapi jarang komunikasi? 😊
1. Choose the right time, pilih waktu yang tepat untuk menyampaikan.
2. Samakan FoR dan FoE antara kita dan suami
3. Sampaikan perasaan anda dulu secara clear, kemudian clarify, apakah begitu juga yang kau rasakan?
4. Gunakan prinsip 7-38-55 dengan baik saat menyampaikan masukan atau keinginan kita
5. Buat kesepakatan dengan suami untuk memilih waktu tepat dan konsisten. Bisa dimulai sebulan sekali dst

2. Saya akui saya masih sangat kurang ilmu dalam komunikasi dan mengendalikan emosi. Hal ini saya lihat jelas dalam diri anak saya (5 tahun) cerminan betul-betul diri saya. Apakah saya masih bisa memperbaiki diri saya sendiri, dan bisakah itu berdampak juga kepada anak saya (saya ingin menjadi cermin yang lebih baik).
▶ insyaAllah Bunda Sari , tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Mari kita mulai dari diri kita, tazkiyatun nafs. Membersihkan jiwa, memutus rantai pengasuhan yang tidak tepat yang pernah kita alami. Semangat bunda😘

Terima kasih.

2.) Penanya: Iklima
Pertanyaan:
1. Bagaimana caranya kita menyampaikn pada pasangan suatu hal yang menurut kita penting, tapi menurut pasangan, itu hal yang biasa saja? Apakah cukup dengan intonasi saja?
▶ Bunda Iklima yang soleha..
Sampaikan saja bahwa yang akan Bunda sampaikan adalah hal yang penting dan minta tolong memberikan waktunya untuk mendengarkan. Dan kita bisa coba mengawali dengan biasanya topik apa yang menurutnya penting.

Maka kita sebagai istri harus memahami “choose the right time” di saat seperti apa dan saat topik apa suami kita jadi serius menanggapinya, maka gunakanlah sebagai senjata berkomunikasi✅

2. Jika ada satu hal yang menurut kita penting dan berpotensi untuk jadi bom waktu dalam rumah tangga, dan pasangan menolak untuk membahas atau berkomunikasi mengenai hal tersebut, kira-kira bagaimana menyikapinya?

Berkomunikasi yang baik adalah tidak memaksakan keinginan kita.
Maka seperti jawaban sebelumnya…
1. Choose the right time, pilih waktu yang tepat untuk menyampaikan
2. Samakan FoR dan FoE antara kita dan suami.
3. Sampaikan hal baik darinya dulu, kemudian tambahlan kalimat akan lebih baik kalau…….
4. Atau sampaikan perasaan Anda dulu secara clear, kemudian clarify, apakah begitu juga yang kau rasakan?
5. Gunakan prinsip 7-38-55 dengan baik saat menyampaikan kritikan kita ✅

terima kasih..😊

3.) Penanya: Ratna
Pertanyaan:
1. Bagaimana sebaiknya bersikap kepada anak ketika emosi sedang di puncak? Terkadang saya bermaksud untuk menenangkan diri dengan cara menjauh dari anak supaya tidak keluar kata-kata yang tidak baik atau ekspresi yang buruk tetapi anak malah makin histeris dan mengikuti saya.

▶Mbak Ratna yang baik…
Tidak disebutkan ya usianya.
Anak emosi/tantrum karena sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya akan menjadi “modus operandi” apabila kita loloskan keinginannya. Maka yang harus kita lakukan adalah jadi raja tega.

“Tidak ada yang berhasil di rumah ini dengan menangis dan teriak-teriak.”

Anda tunggu saja sampai nangisnya usai, ambil air wudhu, baru ditanya baik-baik.

Karena menangis/tantrum ketika minta sesuatu adalah tingkat ketrampilan anak yang paling rendah, kalau dengan cara ini saja sukses, maka keterampilan komunikasinya tidak akan naik.

Saat aqil baligh kalau mau minta sesuatu, pakai ngambek.

Saat jadi orangtua kelak, pakai komunikasi tingkat paling rendah yaitu mengancam ke anaknya/pasangan hidupnya seperti ini:

“Awas ya kalau tidak mau belajar, uang sakunya mama kurangi” 😬ngancam tapi nggak pakai logika, makin parah ini. Jika X (tidak mau belajar), maka Y (menjadi tidak paham), bukannya uang sakunya berkurang.

“Pokoknya aku mau mas ngerti tentang aku, kalau begini terus, aku nggak akan ngurusi orangtuamu.” 😳

2. Ketika sedang ada perselisihan paham dengan pasangan, inginnya sejenak menjauh untuk menenangkan hati yang bergemuruh. Tetapi di sisi lain ketika pasangan batu saja tiba dari kantor bagaimanapun harus melayani segala keperluannya. Saya termasuk orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaan. Melihat sikap saya seperti itu seringkali pasangan mendesak bertanya, ada apa dengan saya? Semakin didesak yang ada jadinya saya malah nangis. Bagaimana sebaiknya ketika berada dalam situasi yang demikian?

▶Bila ini yang sering terjadi pada Bunda, sampaikan ketika dalam kondisi tidak berselisih paham.

Pilih waktu yang tepat untuk berdiskusi saling memahami kembali karakter masing-masing, khususnya ketika ada masalah antara suami dan istri. Bila keinginan kita tidak pernah disampaikan, suami tidak akan tahu. 😘

4.) Penanya: Aini
Pertanyaan:
Kiat-kiat apa saja agar kita selalu terbiasa (dalam situasi apa pun) menggunakan kalimat produktif dalam berkomunikasi pada anak di bawah 5 tahun (balita)?

▶Bunda Aini,
Kiat detailnya ada di dalam materi yang disampaikan bu Septi.
Kuncinya kalau menurut saya adalah harus tetap tenang dan memahami apa yang mereka butuhkan.
Reminder buat saya biasanya adalah mereka tidak salah copy. Jadi kalau mereka lagi emosi dan saya menanggapi dengan emosi, berarti saya mengajarkan mereka untuk mengungkapkan sesuatu dengan emosi juga.

Dimulai membiasakan menggunakan kata kata produktif kepada siapa saja. Termasuk diri kita… dan akhirnya   InsyaAllah kata kata produktif itu akan menjadi energi kita setiap kita berkomunikasi. Termasuk kepada anak anak kita.✅

5.) Penanya: Ira
Pertanyaan:
1. Bagaimana cara agar konsisten berkata-kata positif pada anak?
2. Bagaimana cara mengelola emosi negatif ketika sedang emosi? Apakah anak ditinggal saja dahulu atau dihadapi?

▶ Bunda Ira yang baik, konsisten berkata positif.
Kalau dari materi, diksi adalah output dari struktur berpikir otak.
Pemikiran – pemahaman – kata dan tindakan.
Selanjutnya terus berlatih. Semoga kita semua dimudahkan ya dalam memperbaiki komunikasi😇

2. Sama dengan jawaban untuk Mbak Ratna ✅
Video Kuliah Bunda Sayang  sesi #1 Komunikasi Produktif

https://youtu.be/qr9j0Xz9oUU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s