Update Ilmu Gendong-menggendong Bersama IBW

Urusan gendong anak sepengamatan saya merupakan salah satu hal yang banyak ditanyakan di grup parenting. Lewat pertanyaan-pertanyaan tersebut, dulu, saya jadi mengenal istilah seperti pekeh (“Bun, bayi boleh mulai dipekeh gendongnya umur berapa, ya?”). Meski konon katanya istilah dalam bahasa Jawa, tapi saya yang lahir dan besar di Jawa Tengah dengan keluarga asli Jawa pula, baru tahu istilah tersebut setelah anak pertama saya menjelang setahun. Rupanya, itu sebutan untuk posisi menggendong di mana kedua kaki anak seperti ‘dibuka’, alias tidak disatukan atau ditangkupkan dekat-dekat. Kedua kaki tersebut bisa dipisahkan oleh badan penggendong (misalnya untuk posisi gendong samping) maupun oleh alat atau kain penggendong.

Belakangan sebuah artikel di website The Urban Mama, lebih tepatnya salah satu komentar di situ, menyadarkan saya bahwa gendong-menggendong ini bukan perkara sepele. Salah-salah, tubuh anak berisiko mengalami gangguan. Artikel yang dirujuk dalam komentar adalah tulisan dalam situs babywearingadvice, http://www.babywearingadvice.co.uk/anatomy.htm. Saya jadi tahu bahwa seharusnya bayi diposisikan sedemikian sehingga kakinya membentuk huruf M. Posisi ini, dengan kedua lutut setidaknya setinggi pantat bayi, tidak akan tercapai jika bagian bawah gendongan (yang biasanya bermodel mirip ransel depan) terlampau sempit. Posisi ini memang tampak serem bagi yang belum terbiasa, tapi ternyata itulah yang benar.

Berikutnya saya juga membaca bahwa menggendong bayi menghadap depan juga tidak disarankan, apalagi dalam waktu lama. Beberapa alasannya adalah stimulasi berlebihan, rasa tidak aman pada bayi, postur tubuh bayi salah, kaki bayi juga tidak nyaman dan menggantung (pada awalnya biasanya gendongan model soft structured carrier atau SSC (gampangnya, ala ala ransel itulah, dengan bahan yang tidak ‘bertulang’ tapinya, karena ada juga model seperti ransel untuk naik gunung) yang memungkinkan hadap depan memiliki panel penyangga bawah yang sempit dan tidak mendukung posisi M). Selengkapnya bisa dibaca di https://anakbayibalita.wordpress.com/2011/04/05/mengapa-menggendong-menghadap-depan-tidak-disarankan/ atau https://blog.ergobaby.com/2011/02/facing-in-facing-out-a-science-based-view-on-baby-carrying-positions/. Muncul pro kontra terkait pandangan ini ketika akhirnya sebuah merk gendongan impor ternama mengeluarkan model yang memungkinkan untuk hadap depan dengan menyertakan sederet alasan mengapa versi mereka aman, padahal sebelumnya merk ini mengeluarkan pernyataan menentang gendong hadap depan. Sebagian beralasan, asal tidak lama-lama, tidak bahaya kok, yang penting orangtua selalu awas terhadap tanda-tanda yang ditunjukkan oleh bayi ketika sudah merasa tidak nyaman.

Tulisan lain yang menurut saya cukup ‘mencengangkan’ bisa dilihat di sini http://hipdysplasia.org/developmental-dysplasia-of-the-hip/prevention/baby-carriers-seats-and-other-equipment/. Lupa sih, pertama kali saya dapat link dari teman dalam hubungannya dengan risiko pemakaian bedong bayi atau hasil googling sendiri. Sebetulnya sih ‘aja gumunan’ ya, tapi terus terang saya takjub juga karena di situ jelas digambarkan bahwa gendong bayi dengan kaki menyatu rapat, yang sangat umum dilakukan termasuk dengan jarik, justru keliru. Alasannya serupa dengan pelarangan pemakaian bedong yang membebat erat kedua kaki bayi dalam posisi lurus (banyak yang bilang supaya kaki bayi tumbuh lurus, tidak berbentuk X, padahal ini konsep yang salah), yaitu karena posisi normal dan alami bayi kan sebetulnya bukan dengan kedua kaki lurus begitu. Ingat saja bagaimana keadaan bayi di dalam rahim ibu. Memaksakan kedua kaki diluruskan begitu malah rentan memperburuk jika bayi punya kecenderungan hip dysplasia yang seringkali tidak terdeteksi. Dokter anak saya di Solo yang rajin mengedukasi pasien juga pernah posting di media sosial mengenai hal ini.

Tahun demi tahun berlalu, anak kedua kami lahir dan usianya sudah dua tahun, saya sudah mencoba aneka gendongan, kemudian tibalah saya pada suatu titik di mana saya lengah belum update pengetahuan lagi soal gendongan anak. Beberapa bulan yang lalu seorang teman membalas postingan pertanyaan tentang gendongan anak dari anggota lain di sebuah grup facebook yang kami ikuti bersama, dengan menyertakan tautan ke grup lain, dan…saya takjub. Wah, ternyata ada ya, komunitas Indonesian Babywearers yang fokus ke gendong-menggendong anak. Saya pun segera mengajukan permintaan bergabung. Saya terutama penasaran dengan gendongan model hip seat yang disebut-sebut tidak direkomendasikan, khususnya kalau bayi belum bisa duduk. Padahal saya punya juga di rumah, meskipun jarang dipakai karena kami lebih sering bepergian dengan motor dan bentuknya yang lumayan makan tempat bikin tidak nyaman digunakan. Kalau lagi pergi dengan taksi online sih lebih enak. Tapi ada juga sih produsen gendongan hipseat seperti Pognae atau i-Angel yang menyebutkan bahwa gendongan mereka aman (klik pada nama merknya untuk menuju laman resmi yang mencantumkan pernyataan pengakuan keamanan dari organisasi Hip Dysplasia).

Begitu permintaan bergabung disetujui, saya pun menjelajah grup. Sempat tertunda sih sebetulnya, karena saya sedang lebih banyak buka instagram dan blog daripada facebook. Begitu buka grup, tampak banyak postingan member berbagi dan berkonsultasi tentang posisi gendongnya sudah betul belum. Senang juga lihatnya, karena selama ini yang dikeluhkan kan komentar orang sekitar yang tidak setuju bayi digendong M-shape. Kasihan, begitu katanya, bayinya kayak kesakitan gitu, posisinya tampak tidak wajar karena belum lazim digunakan apalagi untuk bayi berusia muda. Padahal…justru ini untuk kebaikan bayi juga, kan? Dengan adanya support group, minimal ada banyak teman curhat yang sepaham, ada pula ahlinya termasuk para dokter yang mengarahkan agar tetap dalam koridor yang benar, di antaranya ada dr. Astri Pramarini, IBCLC yang selama ini saya ketahui sebagai konselor laktasi ketua AIMI Jatim.

Salah satu prinsip yang sering diingatkan adalah TICKS, yaitu :

Apa itu TICKS?
Itu adalah poin-poin saat menggendong bayi yang harus kita ingat.
Tight = ketat, bayi tuh serasa dipeluk mamanya.
Invisible = bayi selalu terlihat, bukan mendelep ke dalam.
Close enough to kiss = bayi bisa dicium saat digendong.
Keep chin off the chest – dagu bayi jangan sampai ketekuk ke arah dada.
Support back = gendongan yang dipake bisa menyangga punggung bayi.

Diinget-inget poin di atas ya mommies
*admin Ika Fairuza*

Telanjur punya gendongan yang tidak ergonomis? Biasanya dapat dari kado, hehehe. Ada kok caranya mengakali supaya aman dipakai dan M-shape, sayang kan kalau dibiarkan nganggur.

Kapan bayi boleh mulai digendong dengan SSC? Disarankan mulai usia 6 bulan atau ketika berat badan bayi sudah 7kg. Jika tidak, ada risiko kepala bayi ‘kelelep’ alias tenggelam dalam panel depannya sehingga syarat TICKS tidak terpenuhi, juga kaki terentang paksa kelewat lebar akibat panel penyangga bawah masih kebesaran sampai melewati lutut.

Beberapa merk SSC sudah menyediakan insert tambahan agar bayi kecil bisa digendong dengan nyaman, tetapi jika tidak disertakan (ada yang dijualnya terpisah soalnya, yang artinya harus siapkan anggaran lebih), bisa pakai gulungan handuk untuk menyangga bagian bawah.

Dijelaskan pula bahwa M-shape saja tidak cukup, bagian punggung bayi juga harus berbentuk C (http://indonesianbabywearers.blogspot.co.id/2016/10/m-shape-but-why_20.html).

Kalau mau tahu lebih banyak tapi join request-nya belum approved, bisa juga baca-baca di blognya di http://indonesianbabywearers.blogspot.co.id/.

Grup ini juga mengingatkan untuk tidak membeli fake carrier, dalam arti gendongan bermerk tertentu yang kw atau palsu. Banyak sih memang dijual misalnya gendongan ergobaby dengan harga sekitar seperlima yang asli, tapi pemakaian gendongan seperti ini rawan membahayakan keselamatan bayi, karena tidak ada quality control terhadap produk (ada beberapa member yang punya pengalaman tidak menyenangkan seperti jahitan kurang kuat) dan kalaupun mau komplain tentang hal tersebut tidak jelas harus ke mana. Anggota diarahkan untuk beli gendongan lain saja, misalnya model lain atau SSC buatan dalam negeri seperti Nana, Andrea, atau Bobita yang lebih terjangkau dan jelas produsennya.

Berikut beberapa poster atau infografis edukasi lain yang dipasang di grup tersebut.

Penjelajahan saya di grup sempat terhenti karena saya tertarik pada sebuah pengumuman. Ada kopdar atau meet up grup yang akan digelar dalam waktu dekat di lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal kami, yaitu di Taman Suropati. Saya tertarik untuk datang, biarpun masih newbie banget dan tidak banyak yang saya kenal di situ (tetapi saya mengenali beberapa nama yang pernah aktif berdiskusi di grup Tambah ASI Tambah Cinta di mana saya menjadi salah satu admin). Tema pertemuan kali itu juga bikin penasaran, yaitu menggendong dengan jarik. Wah, ini nih keterampilan yang dari dulu belum berhasil saya kuasai. Malahan kalau lihat di grup, ada banyak teknik menggendong dengan jarik selain model standar yang biasa saya lihat sehari-hari, termasuk gaya mirip baby wrap elastis (stretchy) yang pernah saya gunakan, padahal bahan jarik tidak lentur, kan?

Gerimis tidak menghalangi saya, anak-anak, dan pengasuh untuk bergabung dengan anggota grup lainnya di taman yang terletak di kawasan Menteng tersebut pada tanggal 12 Februari kemarin. Di sana saya berkenalan antara lain dengan mba Eno, mba Umi, dan mba Endah. Kalau dilihat sih Fahira termasuk yang paling gede dari segi usia di antara anak-anak yang datang, aslinya juga dia sudah jarang mau digendong kalau jalan-jalan. Tapi biarin deh, masih bisa kok buat diajakin praktik, hehehe. Di situ saya belajar mengikat gendongan jarik yang nantinya bisa disetel panjang pendeknya (prinsipnya sih mirip dasi pramuka perempuan), kemudian juga mencoba ring sling yang dibawa oleh mba Eno. Canggung banget pastinya, tapi anggota lain sungguh sabar mengajari. Lalu mba Eno dengan lincah mendemonstrasikan cara gendong belakang, sementara saya belum berani mencoba yang begitu. Sempat pegang-pegang juga gendongan woven wrap yang banyak diobrolkan di grup. Woven wrap atau ww ini sesuai namanya terbuat dari tenunan, dan tidak seelastis baby wrap yang saya kenal dulu. Sayang, karena saya ada acara lain jadinya pamit duluan. Jadinya nggak ikut foto bareng deh, padahal katanya setelah saya pulang ada wartawan Koran Jakarta yang wawancara untuk rubrik komunitas unik lho…

Beginilah penampilan kami dengan gendongan jarik yang diikat dengan simpul. Belum rapi, sih, kain di punggung anak seharusnya ditarik lagi untuk menghindari kemungkinan terjungkal. Jarik di bahu saya juga harusnya dilebarkan supaya berat tidak tertumpu di satu titik. Melipatnya di awal sebelum disimpul juga lipat biasa, harusnya seperti lipat wiru agar gampang diatur setelah terpasang. Mana Fahira malah cemberut pula ya, maunya sih ikutan kakak main gelembung sabun :D.

Setelah acara saya bergabung juga ke grup whatsapp IBW. Jujur saya kebanyakan bengong aja dengan berbagai istilah baru baik terkait tipe gendongan, bahan gendongan, sampai cara-cara mencoba gendongan baru. Ada lho semacam perpustakaan gendongan, sistem pinjam, tukar pakai sementara agar bisa saling mencoba beragam jenis gendongan. Banyak pula ‘racun’ penampakan gendongan yang cantik-cantik, berikut info diskon dan arisannya…tutup muka dulu, deh :D.

RESUME Q&A dengan Lisa Pesik-Colecliffe, babywearing consultant dari UK, lulusan dari Slingababy.

Tentang posisi menggendong yang baik, durasi menggendong, dan hipseat

Q:

1. Apakah menggendong bayi dengan posisi M shape berpengaruh terhadap perkembangan motorik kasar bayi? Misalnya, lebih cepat menegakkan kepala, lebih cepat bisa duduk, dll.

2. Apa pengaruhnya pada bayi jika digendong dengan SSCyang body panelnya terlalu lebar? (Terlihat terlalu ngangkang)

A:

Babywearing mempunyai pengaruh baik untuk motorik kasar. Kalau biasanya kan bayi suka kita tengkurapkan supaya memperkuat otot punggungnya. Nah babywearing memiliki efek yang sama tp lebih gentle dan ibunya bisa sambil jalan-jalan atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah 😊.

Posisi M shape terutama di usia bayi kecil diutamakan untuk menjaga kesehatan sendi pinggul bayi. Banyak bayi yang lahir dengan sendi pinggul yang lemah dan sering tidak terdeteksi waktu lahir. Dengan posisi M shape kita menjaga sendi itu dengan tidak membiarkan berat kaki menarik sendi pinggul ke bawah.

Kalau bayi masih kecil terlalu ngangkang itu juga lagi-lagi tidak baik untuk sendi pinggulnya. Bayi kecil sebaiknya digendong dalam posisi naturalnya. Misalnya kalau bayi baru lahir kan posisi natural nya dengan lututnya ke atas, tulang punggung berbentuk J shape, dan tidak ngangkang (gambar di bawah).

Q:

Jika bayi sampai usia 7-8 bulan tetap digendong dengan posisi seperti menyusui sebagaimana kebanyakan orang tua dulu saat menggendong bayi efeknya bagi bayi apa, mbak?

A:

Bayi digendong dalam posisi menyusui tradisional dampak negatifnya ada beberapa:
1. Pernapasan bayi bisa terhambat karena leher dan tulang punggung bayi tidak ditopang dalam posisi yang baik. Terutama waktu bayi baru lahir, saluran pernapasan akan lebih mudah terganggu kalau kepala bayi menunduk sehingga dagunya turun ke dada.
2. Paha dan lutut bayi akan tertutup sehingga sama sekali tidak ngegang, ini juga kurang baik untuk pertumbuhan sendi pinggul bayi.

Q:

Ketika bayi digendong didepan dengan posisi m-shape, saat penggendong duduk sebaiknya apakah perlu diubah posisi bayi? Karena jika langsung duduk khawatir kakinya terlalu mengangkang mengikuti badan ibu (terutama bayi newborn).

A:

Kalau duduk sebaiknya kita hanya duduk dengan posisi tubuh kita tegak seperti waktu berdiri. Karena kalau duduk santai itu kan posisi, postur dan bentuk tubuh kita berubah, alhasil gendongan bisa jadi tidak kencang lagi, atau terlalu kencang. Juga terutama kalau newborn bisa jadi kaki/lututnya tertindih atau kelipat, daerah hidung/mulut bisa tertutup juga. Paling baik ya kita tidak duduk atau kalau mau duduk santai ya gendongannya dibuka.

Q:

Adakah maksimum durasi gendong? apakah posisi gendong mempengaruhi?

A:

Durasi menggendong senyamannya ibu dan bayi. Kalau ibunya belum biasa menggendong atau baru melahirkan ya sedikit-sedikit dulu, misalnya mulai dari 20 menit, lama-lama ditambah waktunya. Kalau bayi sudah tidak nyaman, keluarin dulu dari gendongan. Mungkin si bayi ngulet-ngulet karena haus/lapar, atau pingin merangkak dsb. Tapi selama ibu dan bayi nyaman dan posisi bagus sih tidak ada durasi maksimum. Yang harus kita selalu perhatikan daerah pernapasan bayi (hidung & mulut) harus selalu bebas. Kadang kalau kelamaan sedikit kita suka lupa bahwa kita sedang gendong bayi. Berapa pun lamanya kita menggendong, kita harus ingat untuk sering-sering cek daerah pernapasan bayi.

Silakan dibagikan ya.https://www.facebook.com/groups/IndonesianBabywearers/permalink/1673150496311513/

Advertisements

2 thoughts on “Update Ilmu Gendong-menggendong Bersama IBW

  1. Halo mbak.. saya mendapat link ini dari IG yang direpost @indonesian_babywearers dan saya juga termasuk mengaku yang terlambat mempelajari gendongan yang baik hahaha. Kehamilan yang kedua ini menjadikan saya ingin belajar, belajar dan terus belajar untuk menjadi yang terbaik bagi keluarga. Baca-baca file di grup Indonesian Babywearers juga masih membuatku kehilangan arah tapi dari resume yang Mbak tulis di sini menjadikan aku sedikit tercerahkan. Terima kasih ya mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s