Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah

Setelah beberapa kali kehabisan tiket, akhirnya kesampaian juga saya mengikuti Parenting Class bersama dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS. atau lebih akrab disapa dengan dr. Tiwi. Beliau termasuk salah satu dokter anak yang aktif berbagi ilmu untuk edukasi, khususnya mengenai kesehatan anak dan MPASI dengan sasaran keluarga muda. Kali ini dr. Tiwi tidak membahas MPASI, melainkan Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah. Sesi dr. Tiwi ini merupakan sesi pertama dalam acara Parenting Class: Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah pada tanggal 19 Februari 2017 di RSU Bunda Menteng Jakarta.

Aktivitas edukasi yang dijalani oleh dr. Tiwi menurut beliau bertujuan menyampaikan hal-hal yang seharusnya diketahui oleh orangtua. Orangtua khususnya ibu adalah dokter yang utama untuk anak. Tidak semua kondisi kesehatan anak mengharuskan kunjungan segera ke dokter atau rumah sakit, apalagi rumah sakit justru merupakan tempat yang ‘menyeramkan’ karena banyak kuman ganas di sana. Juga tidak semua sakit yang dialami anak membutuhkan obat, karena obat hanya diberikan pada saat benar-benar diperlukan.

Slide awal yang ditampilkan oleh dr, Tiwi menjelaskan bahwa tubuh sudah punya pertahanan kekebalan tubuh terhadap serangan mikroorganisme yaitu berupa sistem pernapasan (selaput mukosa, sel ephitalia), pencernaan (selaput mukosa, asam dan basa, flora bakteri), dan kulit/mukosa (barrier fisik, kimiawi, maupun flora bakteri). Bekerjanya dengan cara menahan, mengidentifikasi, dan menghancurkan musuhnya.

Ada beberapa keadaan yang biasanya menjadi penyebab orangtua buru-buru membawa anak ke dokter, dan memantik rasa panik, yaitu sebagai berikut:

Demam

Bagaimana menyikapi demam pada anak? Demam sebetulnya sahabat anak. Kalau demam, berarti sistem pertahanan tubuhnya jalan menghadapi kuman yang masuk. Yang perlu diperhatikan adalah hal-hal lain, misalnya jika ada riwayat kejang. Demam itu sendiri didefinisikan sebagai suhu di atas 37,5°C. Jangan buru-buru kasih obat demam atau ke RS, karena di RS juga banyak kuman yang lebih ganas. Ke dokter bukan agar seketika sembuh atau minta obat ya, tapi untuk memastikan ada apa. Kan butuh proses juga sesuai dengan perjalanan penyakitnya.

Jadi, kapan perlu ke dokter?

– Jika ada sakit di salah satu bagian tubuh (ulu hati, sekitar pusar, perut kanan bawah).

– Tidak mau makan dan minum. Sebetulnya namanya juga lagi sakit, kan, jadi wajar juga anak enggan makan dan minum. Sabar, usahakan terus berikan minuman sedikit-sedikit. Utamanya susui langsung untuk bayi, sekaligus agar ada kontak kulit untuk kenyamanan bayi. Kurang cairan juga bisa menaikkan suhu tubuh. Kalau memang benar-benar sulit, baru ke dokter. Jangan lalu minta obat nafsu makan ke dokter ya.

– Disertai muntah-muntah, karena khawatir tidak bisa masuk cairan yang berujung dehidrasi. Tapi bukan berarti langsung kasih obat muntah juga, upayakan pemberian cairan sedikit-sedikit tapi sering. Kalau kebanyakan kasih makanan atau minuman juga bikin anak mual.

– Lemas.

– Sangat rewel.

Trus gimana dong kalau anak demam?

– Berikan banyak minum, tapi tidak sekaligus banyak ya.

– Susui lebih sering

Skin to skin contact

– Mandi air hangat. Demam, cacar air, campak, tidak ada yang perlu pantang mandi. Malah menyamankan anak.

– Kalau menggigil, pakai selimut. Kalau kelihatan berkeringat, ya jangan selimuti.

– Kompres, tapi kompres yang benar ya. Pakai air hangat, letakkan di tempat-tempat yang penguapannya besar, yaitu di lipatan pembuluh darah besar seperti ketiak. Bukan di dahi ya kompresnya…. Ganti kompres setiap 5 menit sekali.

Demam memang masih bisa naik lagi dalam satu minggu, bisa saja hari ini turun besok naik lagi, bisa sampai seminggu, apalagi pada sakit akibat virus yang pada umumnya menyerang anak. Jadi jangan buru-buru cek darah juga. Kenali ciri tertentu penyakit yang biasanya ditakuti, misalnya DBD yang mendadak tinggi dan bikin mual, atau demam tanpa batuk pilek tapi anak tidak mau makan dan minum yang bisa dicurigai ke infeksi saluran kemih. Maka ke dokter juga bisa tidak langsung diagnosis atau dapat saran cek lab, bisa dilihat dulu perjalanan penyakitnya.

Yang ditakuti oleh orangtua jika anak demam salah satunya adalah kejang demam. Kejang demam biasanya memuncak usia 5-6 tahun, terjadinya di 1-2 hari awal demam, selewat itu jarang. Ambang mulai kejang demam berbeda-beda, ada yang 37,6°C sudah kejang demam. Kejang demam ini biasanya genetik atau diturunkan.

Diare

Yang dimaksud dengan diare adalah feses encer lebih dari 3x sehari.

Penyebab diare biasanya virus, bakteri, atau parasit. 90% diare karena virus. Kalau karena bakteri biasanya ada demam, tapi tidak selalu. Bisa juga berupa reaksi makanan, penyerta jika batuk pilek. Tidak semuanya perlu obat. Prinsipnya bukan gimana biar cepat berhenti, karena justru biar keluar dan ketahuan kenapa-nya. Yang utama gantikan cairan yang keluar. Jadi pertolongan pertama bukan probiotik (bakteri baik yang banyak dijual dan disarankan untuk diare maupun sembelit), melainkan oralit yang penting untuk menggantikan cairan tubuh. Atau bisa berikan air tajin dari 2 sdm beras, 4 gelas air,  dan 1/4 sdm garam dididihkan, biasanya rasanya lebih disukai bayi daripada oralit. Tapi air tajin ini hanya untuk kasus khusus ya.

Kapan perlu ke dokter saat anak diare?

– Jika diare disertai muntah hebat.

– Tidak buang air kecil dalam 4-6 jam. Seringkali orangtua memakaikan popok sekali pakai agar praktis ketika anak diare, padahal sangat penting untuk memantau kencing bayi, termasuk perubahan warna atau adanya spot merah yang menandai kurangnya cairan. Bisa siasati dengan pakai perlak, karena kecukupan cairan perlu diawasi lewat pipis anak.

– Air mata kering.

– Disertai demam tinggi (39°C).

– Disertai darah.

Pada bayi yang masih hanya mendapatkan ASI secara langsung (bukan lewat botol), ada juga kemungkinan feses berdarah karena intoleransi atau alergi terhadap apa yang dimakan oleh ibunya, seperti susu atau produk olahannya, kacang-kacangan, cokelat, yang masuk melalui ASI. Jika ini terjadi, lakukan pantangan pada ibu. Kalau anak sudah lebih besar, baru pikirkan kemungkinan feses berdarahnya karena disentri. Diperlukan pemeriksaan lab termasuk kultur feses untuk mengonfirmasi dugaan disentri dan agar pengobatannya lebih tepat.

Trauma Kepala pada Bayi dan Anak.

Yang paling awal terjadi dan bikin orangtua khawatir adalah ketika bayi dilahirkan dengan bantuan vakum lalu bentuk kepalanya tidak seperti bayi pada umumnya. Jangan dipijatkan ya…elus-elus sih boleh. Nanti pada waktunya bentuk kepala bayi akan menjadi normal.

Kejadian yang sering adalah bayi atau anak terjatuh dan kepalanya cedera, apalagi kalau sedang belajar jalan atau dari tempat tidur. Cari tahu dan ingat bagaimana posisi jatuhnya untuk menentukan tindakan berikutnya mana yang perlu dicek. Acapkali benjolnya tidak langsung muncul, begitu juga gejala lain seperti muntah, di sinilah perlu observasi sampai dengan 48 jam. Yang harus diwaspadai adalah jika ada perdarahan, dan ini bisa dilihat lewat CT scan, bukan melalui rontgen. Tetapi prosedur CT Scan juga cukup rumit sehingga pilihan pertama jika tanda kedaruratan tidak terlihat adalah tetap observasi, bukan langsung diminta CT Scan.

Tersedak pada bayi.

Tersedak bisa terjadi ketika ibu membersihkan lidah bayi, padahal jika masih ASI eksklusif malah belum perlu. Kemudian kasus yang muncul adalah ketika memberikan MPASI berupa finger food. Awasi betul anak saat kita memberikan finger food, pilih makanan yang mudah dipegang dan teksturnya sesuai. Jangan berteriak panik ketika bayi seperti tersedak saat makan, karena ada kemungkinan justru jadi menghalangi jalan napas betulan karena bayi ikutan kaget dan pita suaranya terbuka.

Mimisan (epistaksis)

Mimisan biasanya ada faktor keturunan, 90% karena pecahnya pembuluh darah. Penyebab rincinya bisa kareba trauma, alergi, pilek, suhu terlalu panas atau dingin. Kekeringan bisa membuat hidung tidak nyaman, gatal, kemudian mudah berdarah. Waspada kalau disertai dengan demam tinggi, atau jika ada kelainan darah.

Apa yang perlu dilakukan? Pencet hidung, kompres dengan air dingin, tundukkan, jangan tidurkan anak.

Merah-merah di Kulit Bayi

Kulit bayi baru lahir sangat sensitif, termasuk pada suhu, bahan, ataupun makanan ibunya lewat ASI. Tidak selalu perlu ke dokter, jika masih bisa ditenangkan bisa bantu dengan mandi.

Foto bersama di akhir acara, diambil dari twitter penyelenggara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s