[Kliping] Seputar Radang Tenggorokan dari dr. Apin

Mumpung ada waktu, bikin kliping deh dari status-status dr. Arifianto, Sp.A., alias dr. Apin seputar radang tenggorokan. Radang tenggorokan ini bisa dibilang diagnosis yang cukup umum diberikan, termasuk ketika sedang batuk pilek dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Dulu, saya juga termasuk yang menerima saran “kalau tenggorokan sudah mulai gak enak, itu tandanya sudah saatnya minum antibiotik, sebelum menjadi-jadi”. Termasuk isap-isap FG Troches, tablet pink berlubang di tengah yang ternyata mengandung antibiotik juga.

Setelah kenal Milis Sehat sekitar 9 tahun yang lalu, pelan-pelan saya mulai paham. Meskipun, kadang kalau lagi berasa ‘menderita banget’ seperti ketika sakit tenggorokan di masa awal-awal pindah ke Jakarta dan menelan air putih pun sampai berjengit kemudian dokter keluarga kami tetap tidak memberikan resep antibiotik, kadang rasanya pengin nangis menahan nyeri, hehehe. Tapi, ya itu kan memang prosedurnya ya. Kalau tidak terbukti radang tenggorokan karena bakteri, buat apa dikasih antibiotik? Nanti malah membasmi bakteri baik di dalam tubuh kita. Untuk membedakan radang tenggorokan karena bakteri atau virus, bisa gunakan Centor score yang juga dijelaskan dr. Apin di bawah, atau lebih lengkapnya ada di web Sehat dengan alamat http://milissehat.web.id/?p=2636. Idealnya sih pakai uji usap tenggorok, tapi saya coba tanya lewat e-mail ke Prodia dulu, ternyata biaya tesnya amat mahal. Kultur swab tenggorokan harus bayar Rp477.500, itu tahun 2013 ya.

Siapa yang anaknya pernah didiagnosis dokter kena radang tenggorokan? Hayo angkat tangan! Ya, ya, saya seolah bisa melihat Anda mengangkat tangan.

Lalu…siapa yang anaknya dikasih antibiotik karena radang tenggoroknya? Ah, saya sepertinya melihat sebagian yang mengangkat tangannya tadi kembali mengacungkan telunjuknya.

Jadi…radang tenggorok perlu diobati dengan antibiotik? Kalau tidak diobati dengan antibiotik bagaimana? Katanya nanti bisa kena komplikasi ke jantung, radang ginjal, dan sebagainya.

Nah, ini dia tulisan yang ditunggu-tunggu selama ini: http://milissehat.web.id/?p=2636 yang menjelaskan perbedaan antara radang tenggorok alias sore throat dengan strep throat.

Ya, di artikel yg ditulis oleh seorang ahli infeksi tropis anak alumni Michigan University dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP ini, kita akan tahu fakta bahwa:
– radang tenggorok tidak semuanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep throat). Padahal antibiotik hanya diberikan pada sore throat yang disebabkan oleh strep throat.
– strep throat adalah penyebab 20-35% sore throat pada anak (tidak sampai 50% kan?). Ini pun pada yang usianya 5-15 tahun. Anak di bawah 3 tahun jarang sekali mengalami strep throat
– bila ada gejala pilek, maka kemungkinannya lebih mengarah pada infeksi virus yang tidak butuh antibiotik

Lalu apa gejala strep throat yang membutuhkan antibiotik? Baca dulu ya artikelnya…

 


Arifianto Apin

Seorang ibu membawa anaknya yang berusia 18 bulan ke dokter karena sudah demam 3 hari disertai batuk dan pilek. Suhunya mencapai 39 derajat selsius, sehingga ia khawatir. Saat dokter memeriksa, si anak menangis kuat dan meronta.

“Ada radang tenggorokan Bu. Tenggorokan anaknya merah. Saya kasih antibiotik ya,” jelas dokter setelah selesai memeriksa si anak.

Karena tidak yakin dengan diagnosis dokter, si ibu mencari second opinion ke dokter lain.

“Bu, selama manusia hidup, ya tenggorokannya pasti merah,” jelas dokter lain ini setelah memeriksa si anak.

Masih ingat status saya beberapa waktu lalu tentang selama manusia hidup, maka tenggorokannya berwarna merah? Ya, maksudnya tenggorokan berwarna merah bukanlah alasan meresepkan antibiotik. Bukan…maksudnya tenggorokannya LEBIH merah. Bukankah ini menandakan infeksi bakteri? Hmm, kata siapa ya? Kalau sedang ada infeksi, ya tenggorokan pastinya berwarna lebih merah daripada biasanya. Kan sedang terjadi proses peradangan. Tapi kan radang tenggorokan bisa disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Kalau infeksinya karena virus, sudah pasti tidak butuh antibiotik. Tapi bagaimana mengetahui infeksinya karena bakteri.

Beruntunglah ada sistem skoring Centor yang membantu memastikan diagnosis ini. Radang tenggorokan karena infeksi bakteri biasa disebut dengan strep throat. Yaitu penyebab infeksi bakterinya adalah streptokokus beta hemolitikus grup A. Apa saja ciri-cirinya:

– usia anaknya biasanya lebih dari 3 tahun
– tidak sekedar tenggorokan berwarna merah, ukuran tonsil (amandel) biasanya hampir menutup muara tenggorokan, disertai dengan bintik-bintik merah kecil, dan kadang sampai ada selaput putih berisi nanah di tonsil
– jarang disertai batuk, apalagi pilek
– ada pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher depan
– demam > 3 hari

Apakah gejala-gejala ini sudah bisa memastikan diagnosis strep throat dan boleh langsung minum antibiotik?
Bila sarana laboratorium tersedia, usahakan pemeriksaan swab (usap) tenggorokan dan biakan (kultur) swab ini untuk memastikan bakteri apa yang tumbuh. Bila ternyata kumannya bukan streptokokus grup A, dan antibiotik sudah diminum sebelum hasil kultur keluar, maka antibiotik bisa segera distop.

Semoga jelas ya. Jadi: radang tenggorokan = belum tentu butuh antibiotik!

Lihat gambar di bawah? Ya, seorang anak yang meler ingusnya. Ia sedang mengalami batuk pilek alias selesma (common cold). Banyak orang menyebutnya flu (sebenarnya kurang tepat, karena virus dan gejalanya berbeda). Berapa lama seorang anak dengan ingus meler bisa demam? Tiga hari, lima hari? Bahkan bisa sampai seminggu, bukan? Apakah perlu dapat antibiotik jika demamnya sudah lebih dari 3 hari? Tentu saja tidak. Karena tetap saja diagnosisnya selesma. Ingusnya meler!

Tabel di bawah juga tegas menjelaskan bahwa “radang tenggorokan” (sore throat) tidak membutuhkan antibiotik, kecuali strep throat (belajar lagi ya apa strep throat itu).

Cerdaslah dalam menggunakan antibiotik.
https://www.facebook.com/arifianto.apin/posts/10207467290434837

Radang tenggorokan versus “radang tenggorokan”

“Spoiler status” saya tentang radang tenggorokan beberapa waktu lalu sepertinya berhasil membuat beberapa pembaca baper 😀 Secara tidak langsung, saya jadinya menangkap tidak sedikit di antara anak mereka yang didiagnosis “radang tenggorokan”, lalu berlanjut dengan pemberian antibiotik. Salah satu alasannya adalah: tenggorokan berwarna merah.

Apa bedanya radang tenggorokan dengan “radang tenggorokan”? Kok diberi tanda kutip? Ini beberapa penjelasannya.

– Ketika mencoba mencari frase “radang tenggorokan” sebagai sebuah diagnosis penyakit dalam terminologi kedokteran, ternyata tidak ada! Lalu padanan yang bisa disesuaikan dalam bahasa Inggris adalah: sore throat, yakni ketika seseorang merasakan nyeri di tenggorokannya, khususnya saat menelan. Entah tenggorokannya pake warna merah atau tidak 🙂

Nah.. ternyata sore throat ini adalah kondisi (gejala ya, bukan diagnosis) yang sering menyertai banyak penyakit yang disebabkan infeksi virus. Ya, infeksi virus, bukan infeksi bakteri! Dan kita semua paham infeksi virus tidak butuh antibiotik. Sore throat adalah adalah salah satu gejala infeksi saluran napas atas, seperti batuk pilek (selesma/common cold) dan influenza yang pernah dialami oleh mayoritas manusia. “Radang tenggorokan” ini juga bisa merupakan gejala dari infeksi bakteri yang bernama strep throat, yaitu infeksi di tenggorokan akibat bakteri streptokokus beta grup A, yang belum tentu semua orang pernah mengalaminya. Artinya: sore throat akibat infeksi bakteri (strep throat) jauuuh lebih jarang dialami, dibandingkan sore throat akibat infeksi virus.

Perlu antibiotik? Silakan jawab sendiri.

– Tenggorokannya berwarna merah, makanya sedang “meradang”.

Oke, sekarang pertanyaannya adalah: kapan tenggorokan manusia tidak berwana merah? Tentunya tenggorokan senantiasa merah sepanjang hidup merah. Makanya yang lebih tepat adalah: tenggorokan lebih merah saat mengalami sore throat. Lalu apakah warna yang lebih merah ini sesuatu yang mengkhawatirkan? Perlu diobati antibiotik? Kembali lagi pada penjelasan di atas: sore throat akibat infeksi virus, atau strep throat? Untuk inilah penting mengetahui kapan seorang anak dicurigai sakit strep throat.

Ini beberapa fakta tentang strep throat:
– Dialami terutama oleh anak berusia 5 – 15 tahun. Sangat jarang terjadi pada usia di bawah 2 tahun. Jadi… jika seorang anak berisi di bawah 2 tahun didiagnosis strep throat, maka pastikan lagi apa alasan ilmiahnya.
– Strep throat jarang disertai dengan batuk dan pilek. Jadi jika ada “radang tenggorokan” dengan batuk dan pilek, maka diagnosisnya lebih mengarah ke infeksi virus. Pada strep throat, tenggorokan biasanya tidak hanya lebih merah, tetapi ada selaput putih yang melapisi sekitar langit-langit dan amandel/tonsil, kadang disertai bintik bintik kemerahan, pembesaran amandel, dan pembesaran kelenjar getah bening leher. Demam dengan suhu di atas 38 derajat selsius menyertai strep throat.
Gambar Centor score di bawah membantu dokter menentukan diagnosis.
– Perlukah pemeriksaan laborarium? Ya, idealnya dengan kultur/biakan dari usap tenggorokan, tetapi sulit dikerjakan mengingat terbatasnya fasilitas pemeriksaan ini. Ada juga tes cepat (rapid test) yang bisa dikerjakan, tetapi lagi lagi jarang tersedia. Makanya skor Centor sangat membantu memastikan diagnosis.
-Perlu antibiotik? Ya, seperti golongan penisilin (amoksisilon). Tetapi beberapa strep throat ada yang membaik sendiri dalam 3-5 hari.
Keterlambatan pemberian antibiotik (lewat dari 10 hari penyakit dialami) dapat berakibat fatal, yaitu risiko terjadinya komplikasi berupa demam rematik dan peradangan ginjal (glomerulonefritis) di kemudian hari. Maka konsultasikan ke dokter apabila curiga strep throat.

Semoga cukup jelas ya…. dan bisa bermanfaat.

Tambahan… Saya pernah diresepkan ciprofloxacin oleh salah seorang dokter yang memeriksa saat saya sakit tenggorokan sampai suara ‘hilang’. Padahal saya pernah membaca ada infografis yang sempat viral terkait risiko pemakaian antibiotik yang kadang disebut dengan nama singkatnya ‘cipro’ itu. Karena saya tidak berhasil menemukan arsip gambar itu di hp, saya mencari tahu lagi dan menemukan info berikut ini:

Majalah Farmasetika (V1N5-Juli 2016). AS Food and Drug Administration kemarin (26/7) kembali menyetujui perubahan label keamanan untuk golongan antibiotik fluoroquinolones/fluorokuinolon, untuk meningkatkan peringatan tentang efek samping yang permanen dan untuk membatasi penggunaannya pada pasien dengan infeksi bakteri kurang serius.

“Fluoroquinolones memiliki risiko dan manfaat yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati,” kata Edward Cox, M.D., direktur the Office of Antimicrobial Products di Pusat Evaluasi dan Penelitian Obat FDA.

“Sangat penting bahwa penyedia layanan kesehatan dan pasien sadar akan risiko dan manfaat dari fluoroquinolones dan membuat keputusan tentang penggunaannya.” lanjutnya.

Fluoroquinolones adalah antibiotik yang membunuh atau menghentikan pertumbuhan bakteri. Sementara obat ini efektif dalam mengobati infeksi bakteri serius, review keselamatan FDA menemukan bahwa baik fluroquinolones oral dan suntik berhubungan dengan efek samping yang melibatkan tendon, otot, sendi, saraf dan sistem saraf pusat. Efek samping ini dapat terjadi jam hingga minggu setelah paparan fluoroquinolones dan berpotensi menjadi permanen.

Karena risiko efek samping yang serius umumnya melebihi manfaat bagi pasien dengan sinusitis bakteri akut, eksaserbasi akut bronkitis kronis dan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi, FDA telah menetapkan bahwa fluoroquinolones harus disediakan untuk digunakan pada pasien dengan kondisi yang tidak memiliki alternatif pilihan pengobatan. Untuk beberapa infeksi bakteri serius, termasuk antraks, pes dan pneumonia bakteri antara lain manfaat dari fluoroquinolones lebih besar daripada risiko dan adalah tepat bagi mereka untuk tetap tersedia sebagai pilihan terapi.

Obat golongan fluoroquinolones yang disetujui di FDA pada umumnya telah tersedia di Indonesia termasuk levofloxacin, ciprofloxacin, ciprofloxacin tablet extended-release, moksifloksasin, ofloksasin dan gemifloxacin. Perubahan label mencakup Peringatan pada kemasan yang diperbarui dan revisi Peringatan dan Tindakan Pencegahan bagian dari label tentang risiko menonaktifkan dan reaksi yang merugikan berpotensi ireversibel yang dapat terjadi bersama-sama.

Label ini juga berisi informasi baru pernyataan pembatasan penggunaan untuk fluoroquinolones untuk pasien yang tidak memiliki pilihan pengobatan lain yang tersedia untuk sinusitis bakteri akut, eksaserbasi bakteri akut bronkitis kronis dan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi. Panduan Pengobatan pasien yang diperlukan untuk diberikan kepada pasien dengan masing-masing resep fluorokuinolon menjelaskan masalah keamanan yang terkait dengan obat-obat ini.

FDA pertama kali menambahkan Peringatan dalam kemasan untuk fluoroquinolones pada bulan Juli 2008 untuk peningkatan risiko tendinitis dan tendon pecah. Pada bulan Februari 2011, risiko memburuknya gejala bagi mereka dengan myasthenia gravis ditambahkan ke Peringatan kemas. Pada bulan Agustus tahun 2013, lembaga yang memerperlukan update untuk label yang menggambarkan potensi neuropati perifer ireversibel (kerusakan saraf serius).

Pada bulan November 2015, Komite Penasehat FDA mendiskusikan risiko dan manfaat dari fluoroquinolones untuk pengobatan sinusitis bakteri akut, eksaserbasi bakteri akut bronkitis kronis dan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi berdasarkan informasi keamanan baru. Informasi baru difokuskan pada dua atau lebih efek samping yang terjadi pada waktu yang sama dan menyebabkan potensi penurunan ireversibel. Komite penasihat menyimpulkan bahwa resiko serius yang terkait dengan penggunaan fluoroquinolones untuk jenis infeksi tanpa komplikasi umumnya melebihi manfaat bagi pasien dengan pilihan pengobatan lainnya.

Peringatan yang dilakukan FDA kali ini juga meneruskan peringatan pada 12 Mei, 2016, komunikasi keamanan obat yang menyarankan bahwa fluoroquinolones harus disediakan untuk kondisi hanya bila tidak ada pilihan lain yang tersedia karena berpotensi permanen, menonaktifkan efek samping yang terjadi bersama-sama. Komunikasi keamanan obat juga mengumumkan update label yang diperlukan untuk mencerminkan informasi ini keamanan baru. [Baca : FDA Merubah Label dan Sarankan Pembatasan Penggunaan Antibiotik Fluorokuinolon]

Sayangnya di Indonesia penggunaan antibiotik fluorokuinolon terutama siprofloksasin terkadang digunakan hanya untuk mengobati penyakit ringan yang sebenarnya bukan menjadi pilihan terakhir.

Sumber : http://www.fda.gov/NewsEvents/Newsroom/PressAnnouncements/ucm513183.htm

Advertisements

2 thoughts on “[Kliping] Seputar Radang Tenggorokan dari dr. Apin

  1. komprehensif artikelnya mbak. Makasih sudah merangkumkan. Cuma kendala di sebagian besar faskes di kita adalah: pada ga mau sampe tahapan swab begitu. Entah cuma saya aja yang ngalamin atau di luar sana juga banyak yg ngalamin, saban ada gejala radang tenggorokan, pasti dokternya langsung kasih obat, enggak pernah rekomendasiin tes swab, huhuhuhu…..

    • Iya, Mbak… Saya juga belum pernah disuruh swab test. Terakhir minta waktu dapat diagnosis faringitis malah dibilang repot buu, di sini nggak ada (kebetulan lagi mudik sih), hehehe. Kalau kata dr. Apin begini: “kan ada Centor score, makanya boleh memberikan AB tanpa kultur.
      Ini pun masih mending, sepertinya masih banyak yg memberikan AB tanpa memperhatikan kriteria yg ketat. Risiko resistansi AB pun makin mengancam :(“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s