Inspirasi Mengelola Keuangan: Habiskan Saja?

Pagi ini saya mengikuti bedah buku Ladies, Belanjakan Saja Semua Uangmu bersama penulisnya, Ai Nur Bayinah, S.E.I.,M.M.,CPMM. (perencana keuangan, dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Direktur Eksekutif SEBI Islamic Business & Economics Research Center), yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Kementerian Keuangan. Judul bukunya provokatif ya, hehehe. Menarik memang, jadi penasaran seperti apa sih yang dimaksud dengan menghabiskan uang itu. Kalau disimak sih sepanjang bedah buku tidak ada penjelasan secara eksplisit mengenai hal itu kecuali petunjuk tentang bagaimana mengalokasikan pendapatan bulanan. Selengkapnya mungkin bisa dibaca di buku LBSSU, yang tadi dibagikan ke semua peserta yang sudah mendaftar melalui e-mail. Ulasan buku menyusul ya, belum sempat baca nih.

Berikut catatan saya dari acara tersebut:

Uang itu seperti air. Makin lama disimpan, hasrat kita untuk menghabiskan juga seringkali makin besar.

Banyak yang bertanya, kapan saat yang tepat bagi kita untuk merencanakan keuangan? Apakah menunggu gaji sekian digit terlebih dahulu? Yang benar adalah mulai saat kita punya penghasilan. Penghasilan tidak selalu sama dengan pekerjaan ya, penghasilan bisa dari gaji, honor, transferan dari orangtua, warisan dst.

Kebanyakan sense untuk mengelola baru muncul saat menikah karena baru muncul hambatan-hambatannya. Sebelum menikah kadang masih bisa minta tambahan ke orangtua.

Bisa kita lihat karakter anak kita pun mungkin beda-beda. Ada yang diberi 20.000 sehari, pulang sekolah habis, ada juga yang jumlah uang yang sama masih utuh sepulang sekolah.

Pengelolaan uang itu bukan tentang seberapa banyak uang yang kita punya, atau kita sudah punya pekerjaan atau belum.

Pengelolaan uang dimaksudkan sebagai tanda syukur kita, agar dari yang mungkin sedikit lama-lama Allah percayakan untuk mengelola jumlah yang lebih banyak.

Coba kita lihat, bisa jadi ada orang yang gajinya di bawah kita, tapi utang kita lebih banyak dan minim aset pula.

Mengelola keuangan itu termasuk skill, jadi perlu diasah sejak dini. Kalau bisa sejak sebelum menikah, sehingga ketika nanti harus mengelola keuangan keluarga tidak kaget lagi.

Intinya, semua orang bisa kok merencanakan. Tipsnya, pertama, jangan merencanakan terlalu jauh sebelum uangnya ada. Jangan juga setelah uangnya habis baru ditelusuri. Saat terima, catat uangnya dari mana. Kemudian biasakan membuat catatan belanja misalnya ketika hendak berbelanja di supermarket. Catatan ini sekaligus sebagai bentuk penganggaran.

Selanjutnya, jangan belanja besar ataupun kecil sebelum catatannya selesai. Misalnya kita anggarkan 20juta, kalau hitungan kita baru akan sampai 5juta jangan mulai belanja dulu.

Lalu, prioritaskan yang wajib dan rutin terlebih dahulu, baru boleh belanja.

Terakhir, kalau pergi belanja, jangan bawa semua uang ataupun kartu ATM, apalagi kartu kredit. Jadi rencanakan juga berapa yang akan dibawa, sesuai catatan belanja yang sudah disusun.

Tiap tahapan hidup punya kekhasannya sendiri dalam pengelolaan keuangan

Sebelum nikah:

Godaan terbesar adalah harga diskon. Triknya, ajak teman yang bisa mengingatkan agar kita tidak mudah tergoda. Sering juga terjadi impulsive buying, mendadak ingin belanja, dan itu bisa tiap hari. Bisa juga “Wah, besok takut nggak ketemu barang ini lagi nih.” Perasaannya juga kuat, misalnya… “Perasaan sepatu udah nggak enak nih”, atau dapat kepuasan saat berhasil dapat barang yang harus rebutan dulu.

Kita cuma bisa memandang sampai batas kita bisa melihat, ibarat ada tembok yang menghalangi pandangan kita. Apa yang ada di balik tembok, kita bisa bertanya, memperkirakan. Kita tidak tahu hidup kita seberapa lama. Kalau diberi umur panjang, kita tentunya perlu memperkirakan kebutuhan kita, dan berapa uang yang diperlukan. Misalnya untuk menikah, bagaimana budaya kita sebagai calon pengantin perempuan? Kalau di adat kita perempuan bagian mengeluarkan uang cukup banyak untuk prosesi pernikahan dan pernak-perniknya, artinya perlu persiapan lebih.

Memilih pasangan yang cocok dengan gaya mengelola keuangan kita juga penting. Jangan cuma lihat calon pasangan punya apa, tapi cek juga aset itu berasal dari mana, modal atau utang? Jangan-jangan belum lunas. Kalaupun beli, dari penghasilan sendiri atau dibayari orangtuanya?

Kenali karakter kita, misal susah kontrol keuangan maka upayakan dapat pasangan yang mampu mengerem.

Keluarga

Ada yang keuangan dikelola suami 100%, istri tinggal minta. Kekurangannya, bisa jadi suami meski permisif ketika istri minta tapi kemudian bingung saat sisa uangnya mepet.

Ada juga yang keuangan dikelola istri 100%, kekurangannya suami seperti merasa dijatah padahal itu hasil kerjanya sendiri.

Sistem lain adalah jika suami istri bekerja lalu punya semacam dana bersama. Yang jadi masalah adalah kalau salah satu lebih boros dalam menggunakan dana bersama ini.

Intinya, siapa pun yang bekerja, adalah penting untuk mengkomunikasikan pengelolaan keuangan keluarga.

Bagaimana menyikapi pengeluaran mendadak? Perencanaan keuangan biasanya ada prioritas. Dalam kehidupan kita, harusnya banyakan yang rutin daripada yang mendadak, kan? Mendadak di sini maksudnya adalah seperti mendadak kepengin cemilan dst, bukan darurat ya. Walaupun cuma sepuluh ribu setiap hari, kalau setahun bisa untuk bayar qurban lho bagi yang muslim. Jadi jangan remehkan hal-hal kecil ya. Gunung pasir kan bermula dari serpihan-serpihan kecil.

Khususnya untuk para suami, perlu siapkan dana darurat 10% dari penghasilan.

Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al Baqarah: Siapa yang akan meninggal di antara kamu, maka siapkanlah nafkah setahun lamanya untuk istri-istri yang akan ditinggalkan.

Atau kalau dianalogikan jika berpisah, ada keharusan nafkah iddah 4 bulan, ini juga bisa dianggap sebagai jumlah dana cadangan untuk keluarga yang perlu disiapkan.

Fasilitas dari bank seperti autodebet untuk keperluan yang sudah dikategorikan seperti tabungan dana darurat, kemudian tabungan tanpa kartu ATM, bisa dipakai untuk membantu mengelola keuangan kita.

Kebiasaan kita malah senang kalau dikejar deadline. Jadi misalnya rencana menikah tiba-tiba dimajukan jadi setahun lagi,  biasanya justru jadi semangat menabung, menghemat, dan mengelola keuangan dengan lebih baik, karena ada tujuan yang hendak dicapai. Padahal kalau gambarannya menikah masih tiga tahun lagi, bisa jadi masih asyik menghabiskan uang untuk jalan-jalan dan bersenang-senang. Adanya bonus tahunan atau THR yang biasanya bikin lupa diri beli ini itu bisa dialokasikan untuk membantu biaya pernikahan berikut persiapan memulai hidup baru (jadi bukan hanya untuk resepsinya saja).

Sebaiknya simpan uang cash atau di tabungan? Sebagai pegawai, usahakan jangan tarik semua uang gaji yang masuk. Buat rencana pengeluaran wajib, misalnya SPP sekolah anak, utang kartu kredit, segera bayar. Ambil tunai secukupnya, jangan setiap hari ke ATM. Bisa atur misalnya seminggu sekali tarik uang plus 10% dana mendadak, selebihnya simpan kartu ATM di lemari. Kalau sebelum seminggu uang di salah satu pos sudah habis, boleh ambil dari pos lain yang tidak jadi dipakai dengan jumlah yang senilai dalam jangka waktu yang sama.

Ada pemikiran waktu susah dulu malah masih bisa survive, begitu pendapatan lebih banyak kok malah rasanya bingung dan terasa kurang? Pemikiran ini biasa muncul karena merasa uang itu gifted, bukan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Apalagi kalau dapatnya dari bonus/THR, beda dengan gaji yang mungkin rasanya didapat dari kerja keras. Jadi munculnya dari mindset. Uang yang baik bukan dilihat dari jumlahnya melainkan dari orang yang memegangnya, orang yang tepat dengan paradigma yang tepat.

Yuk belanja sehat, cek keuangan secara rutin.

Rasio Keuangan Sehat:

Tabungan 10-30%

Utang 0-30%

Dana darurat 3-12x pengeluaran rutin bulanan

Pengeluaran rutin 40-70%.

Ingin beli sesuatu? Coba tahan dulu sampai dua minggu. Kalau sampai dua minggu itu nggak enak makan karena kepikiran, ya udah beli deh. Tapi bisa jadi dalma dua minggu itu ada pemikiran baru, misalnya sayang ah, yang lama masih bisa dipakai kok…

Pengelolaan antikrisis ala nabi Yusuf sebagai ahli keuangan negara: tidak boleh pengeluaran lebih dari 50% pemasukan. Mungkin ini terlalu ketat ya, tapi bisa jadi inspirasi.

Untuk pendidikan anak, kita pasti ingin yang terbaik, lebih dari apa yang sudah kita raih. Kita harus prioritaskan, jadikan pendidikan itu layaknya makan. Jangan tunggu tabungan anak pertama ‘selesai’ dulu baru siapkan untuk anak kedua. Investasi seperti sukuk bisa juga diambil, lihat dari jangka waktu kapan kita perlukan hasilnya.

Setahun: tabungan pendidikan atau deposito.

Lebih dari itu: reksadana, bisa pakai manajer investasi jika kita tidak punya cukup waktu mengamati saham mana yang bagus.

Contoh penerapan prinsip SMART untuk keperluan pendidikan anak:

Specific: kita tentukan untuk kebutuhan apa, TK/SD/SMP/SMA?

Measurable: dengan adanya kebutuhan yang telah ditentukan, berapa biayanya?

Achievable: bedakan impian dengan cita-cita. Jangan ikuti impian orang lain. Buat prioritas yang sesuai dengan budget kita. Bisa survei untuk cari tahu dan bandingkan biaya sekolah.

Realistic: sekali lagi, jangan mengawang-awang.

Timebond: harus ada deadline, kapan mulai dan kapan berakhir. Jadi bukan nabung selama-lamanya. Hitung kebutuhannya, kapan mulai sekolah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s