(Dari Grup BiAS) Bijak Mengelola Waktu

 🌍 BimbinganIslam.com

Senin, 07 Jumadal Akhir 1438 H / 06 Maret 2017 M

👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA

📔 Materi Tematik | Tips Mengoptimalkan Waktu (Bagian 1 dari 4)

⬇ Link audio: bit.ly/BiAS-AZ-TipsMengoptimalkanWaktu-01

🌐 Sumber: https://youtu.be/t2SyhH8fsBE

———————————–

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU (BAGIAN 1 DARI 4)

 

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

إنّ حمد لله

Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allāh Tabarāka wa Ta’ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga akhir nanti.

Pada kesempatan kali ini, in syā Allāh kita memperlajari bagaimana cara mengoptimalkan waktu.

Bagaimana supaya waktu kita optimal, sehingga dengan waktu yang sama kita bisa meraih sesuatu yang lebih banyak dibandingkan orang lain.

Ada beberapa poin in syā Allāh, kita mulai dengan poin yang pertama.

(1) JANGAN MEMBIARKAN WAKTU KITA KOSONG TANPA AKTIVITAS YANG BERMANFAAT

Kalau sekedar aktivitas, ya ada aktivitas. Ngelamun juga aktitas. Tapi yang kita maksud di sini adalah, kalau seandainya ada waktu kita yang kosong segera isi dengan sesuatu yang bermanfa’at, apapun itu. Bermanfa’at buat dunia kita atau untuk akhirat kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam Al Qurān, surat Al Insyirāh ayat 7 memotivasi kita. Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Kalau kamu sudah selesai melakukan suatu pekerjaan, maka lanjutkan dengan pekerjaan lainnya.”

Wah, berarti kesel (capek), ustadz?

Istirahatnya di mana ustadz?

Refreshing-nya di mana?

Kata sebagian ahli pendidikan :

الرَّاحَةُ فِي تَبَادُلِ الَأعْمَلِ

“Istirahatnya seorang muslim itu adalah pergantian pekerjaan.”

Kadang-kadang kita jenuh tidak dengan pekerjaan kita? Supaya tidak jenuh bagaimana? Ganti pekerjaan.

Makanya kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Kalau kamu sudah selesai melakukan pekerjaan, lakukan pekerjaan lain.”

Dan ini konotasinya bukan dalam perkara duniawi. Dan bukan berarti dalam agama kita tidak mengenal adanya istirahat. Ada, cuma istirahat di dalam konteks agama kita itu bukan hanya sekadar tidur terus, tidak. Yang namanya hiburan dalam agama kita ada, refreshing ada. Tetapi tidak refreshing yang berbau negatif.

Ini adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam Al Qurān Surat Al Insyirah Ayat 7.

Dalam hadist Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga sama. Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.”

(Hadits riwayat Al Hakim dalam Mustadraknya 4:341, dishahihkan oleh beliau dan Syaikh Al Albani)

Kita sebutkan yang terkait dengan pelajaran kita saja. Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ

“Manfaatkanlah waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.”

Jadi, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kepada kita agar waktu kosong itu segera dimanfaatkan sebelum datangnya waktu sibuk. Supaya apa? Supaya hal-hal yang kosong itu tidak diisi dengan sesuatu yang negatif.

Kenapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam Al Qur’an memerintahkan kita, kalau sudah selesai pekerjaan segera diiringi dengan pekerjaan yang lain? Kenapa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kita agar dimanfaatkan sebelum datangnya waktu sibuk? Karena waktu kosong biasaya akan mendatangkan hal-hal yang sifatnya negatif.

Kalau tidak percaya, lihat saja pengangguran, ketika angka pengangguran di suatutempat naik, biasanya angka kriminalitas juga naik. Karena bingung, mau apa. Karena tidak ada kerjaan. Ketika otak ini kosong, maka yang muncul adalah sesuatu-sesuatu yang sifatnya negatif. Makanya perkataan penyair:

 وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تُشْغِلْهَا بِالحَقْ (بِالخْيْرِ) شَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ (بِالشَّرِّ)

“Diri kita ini kalau tidak kita sibukkan dengan kebaikan, maka dia akan menyibukkan kita dengan keburukan.”

Jadi, kalau misalnya kita tidak manfaatkan waktu kita dengan kebaikan, maka syaitan akan masuk di situ dan akan memprovokasi kita untuk melakukan yang jelek-jelek.

Kenapa?

Zulaikhah menggoda Nabi Yusuf. Nabi Yusuf ganteng.

Ada sebab lainnya? Ada, yaitu kesempatan.

Kenapa Zulaikhah kepikiran untuk menggoda Nabi Yusuf? Padahal Nabi Yusuf bisa dikatakan sekadar anak yang ditemukannya. Kenapa Zulaikhah sampe kepikiran seperti itu? Karena kosongnya jiwa. Karena jiwanya kosong dan jiwanya kosong itu bersumber dari kosongnya aktivitas.

Makanya, jika misalnya anda mempunyai anak dan anak tersebut selalu melakukan hal-hal negatif, sibukkan dia dengan hal-hal yang positif. Karena anak itu punya energi esktra. Nah energi ekstra itu kalau tidak disalurkan kepada yang positif maka akan disalurkan kepada hal yang negatif.

Isi waktu-waktu kosong kita dengan sesuatu yang bermanfaat.

Maka, kalau misalnya ketika saat itu kita sedang luang, katakanlah sedang istirahat, maka jangan biarkan kita itu hanya sekedar melamun saja.

Terus ngapain ustadz? Masak kerja?

Tidak, yang namanya aktivitas itu tidak mesti aktivitas fisik. Kita aktifkan otak kita.

Kita coba mikir dosa-dosa kita sudah banyak. Apakah memikirkan dosa itu membutuhkan kerja kaki tangan?  Kan tidak. Cuma butuh apa? Butuh tafakkur. Ya. Butuh kita berpikir, membayangkan dosa-dosa kita. Bekal kita sudah seberapa, sehingga waktu istirahat itu bisa kita optimalkan untuk sesuatu yang bermanfaat.

Atau misalnya waktu istirahat sebelum tidur. Kok tidak bisa tidur-tidur. Daripada kemudian main facebook yang ndak jelas, SMS ke sana kemari, mendingan buat apa? Buat ngerancang.  Rencana saya besok apa, 10 tahun lagi saya mau jadi apa. Dirancang gitu sambil mikir-mikir, tidak mesti harus ditulis. Pertama kali, yang penting dibayangkan. Biar apa? Nanti lama-lama kan tidur, tidur mimpinya enak gitu kan, mimpi sudah jadi pengusaha misalnya, kan enak tidurnya.

Karena apa? Karena sebelumnya kita berpikir sesuatu yang positif.

Ini adalah poin yang pertama, jangan biarkan waktu kosong tanpa aktivitas.

__________________________

🌍 BimbinganIslam.com

Selasa, 08 Jumadal Akhir 1438 H / 07 Maret 2017 M

👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA

📔 Materi Tematik | Tips Mengoptimalkan Waktu (Bagian 2 dari 4)

⬇ Link audio: bit.ly/BiAS-AZ-TipsMengoptimalkanWaktu-02

🌐 Sumber: https://youtu.be/t2SyhH8fsBE

———————————–

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU (BAGIAN 2 DARI 4)

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

إنّ حمد لله

Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allāh Tabarākahu wa Ta’ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini kita akan melanjutkan bagaimana cara mengoptimalkan waktu.

(2) JANGAN TUNDA PEKERJAAN ATAU AMALAN

Ini penyakit. Orang biasanya suka menumpuk-numpuk pekerjaan. Dan itu bukan hanya dalam pekerjaan duniawi saja.

Contohnya, pekerjaan di kantor menumpuk, seharusnya bisa diselesaikan hari ini. Tapi, lha leyeh-leyeh bae, maca koran dhisik, esuk bae ikih (santai aja dulu, baca koran dulu, besok aja mengerjakannya). Biasanya, kita melakukan sesuatu mengejar (mendekati) deadline. Kalau deadline-nya besok baru sekarang ngebut.

Sama kayak siswa-siswa, begitu juga kan? Para pelajar kan gitu juga, memakai SKS, sistem kebut semalam. Jadi, pelajaran setahun atau satu semester dikebut dalam semalam. Dijamin besok setelah keluar (selesai) ujian, ilmune wis ilang, habis kabeh. Karena kalau ingin ilmunya kita dapatkan secara maksimal, memasukkan ilmu itu secara bertahap.

Makanya sebagian ulama mengatakan :

منْ رَامَ علمة جُمْلَةً ذهبَ عنْهُ جملةً

“Barangsiapa yang mencari ilmu borongan, maka hilangnya juga borongan.”

Jadi, kalo semalam kita ngebut belajarnya, dijamin ilangnya juga sebentar, cepat ilangnya. Itu dalam masalah ilmu. Dalam pekerjaan juga demikian, dalam amalan juga seperti itu.

Oleh karena itu saya ingatkan, kenapa terasa berat mengamalkan ilmu?

Karena banyak di antara kita ketika mendapatkan ilmu tidak segera kita amalkan, tapi kita undur-undur. Itu salahnya. Akhirnya terasa berat, karena sudah menumpuk begitu banyak. Coba kalau kita dapat ilmu, misalnya cara mengoptimalkan waktu, langsung kita praktekkan. Bukan mulai besok, mulai ini saya langsung praktik.

Jadi, saya punya waktu kosong, langsung diisi. Kemudian, saya punya pekerjaan apa, kalau memang ada waktu saat ini dan masih ada energi maka saya kerjakan.

Ini namanya mengamalkan ilmu, sehingga terasa ringan.

Itu dalam pekerjaan yang bersifat duniawi, seperti mencari ilmu yang bersifat umum.

Dalam perkara ukhrowi, semisal ibadah, kita diperintahkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mengamalkan, manfaatkan waktu kosong dan jangan mengundur-ngundur pekerjaan. Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَال فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian untuk beramal, sebelum datangnya fitnah yang gelap gulita, seseorang ketika pagi harinya masih mukmin, sore harinya kafir, sore harinya masih beriman, pagi harinya kafir, karena dia menukar agamanya dengan dunia.”

(Hadits riwayat Muslim nomor 118)

Itu perintah dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Jadi jangan suka mengundur-ngundur pekerjaan. Begitu ada waktu, kerjakan. Begitu ada waktu kosong, lakukan. Entah itu yang sifatnya duniawi atau ukhrowi, selama itu bermanfaat, lakukan.

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَال

“Bersegeralah kalian dalam beramal.”

Kenapa wahai Rasul?

ِفِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

“Sebelum datangnya fitnah yang gelap gulita.”

Seperti apa ustadz?

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا

“(Kalau sudah datang masa fitnah), seseorang ketika pagi harinya masih mukmin, sore harinya kafir (murtad dari agama ini).”

Atau sebaliknya :

أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا

“Sore harinya masih berislam, masih beriman, pagi harinya sudah kafir (keluar dari agama islam).”

Fitnah, kenapa?

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Karena dia menukar agamanya dengan dunia (materi).”

Makanya, ketika ada pekerjaan segera lakukan.

Berarti kita disuruh untuk melakukan pekerjaan amalan yang banyak? Iya, sebanyak-banyaknya. Tapi jangan cuma banyaknya saja, perhatikan apanya? Kualitasnya. Jadi tidak hanya sekedar kuantitasnya, sing akeh amalane. Perhatikan kualitasnya juga.

Kualitas itu seperti apa ustadz, contohnya?

Amalan itu akan semakin afdhal ketika pas meletakkan amalan itu sesuai dengan waktu dan tempatnya.

Ada beberapa amalan yang kalau melakukan amalan itu pada pas waktu yang telah ditetapkan, maka itu menjadi amalan yang sangat afdhal.

Contoh, begitu datang waktu shalat, yang paling afdhal dilakukan saat itu adalah shalatnya. Sudah adzan, “Aku arep sedekah dhisiklah (aku mau sedekah dululah).” Nah, ini adalah tidak melakukan amalan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh oleh agama kita.

Contoh lain misalnya, habis shalat, yang paling afdhal apa?  Dzikir. Kalau misalnya ada orang habis shalat langsung ambil Qurān, baca Qurān, gimana? Kurang fokus. Padahal membaca Al Qurān itu pahalanya besar gak? Besar. Tapi habis shalat, langsung. Mana yang lebih afdhāl? Dzikir.

Ini melakukan amalan pas sesuai dengan waktu. Inilah yang akan meningkatkan kualitas amalan seseorang hamba.

Yang terkait dengan masalah ini ada sebuah buku bagus. Bukunya judulnya adalah “Tajridul Iththiba’ Fī Bayāni Asbabbi Tafadhalil A’māl”, karya Syeikh Ibrāhim bin Amir Ar Ruhailī.

Buku ini menjelaskan amalan-amalan yang afdhal sesuai dengan waktu-waktunya yang sudah ditetapkan oleh agama kita. Dan di antara amalan-amalan itu mana yang paling afdhal. Itu dijelaskan dalam buku tersebut.

__________

🌍 BimbinganIslam.com

Rabu, 09 Jumadal Akhir 1438 H / 08 Maret 2017 M

👤 Ustadz Abdullah Zaen, MA

📔 Materi Tematik | Tips Mengoptimalkan Waktu (Bagian 3 dari 4)

⬆ Link audio: bit.ly/BiAS-AZ-TipsMengoptimalkanWaktu-03

🌐 Sumber: https://youtu.be/t2SyhH8fsBE

———————————–

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU (BAGIAN 3 DARI 4)

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

إنّ حمد لله

Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allāh Tabarākahu wa Ta’ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan melanjutkan bagaimana cara mengoptimalkan waktu.

(3) MANFAATKAN WAKTU-WAKTU ISTIMEWA

Waktu kita terbatas tidak? Terbatas.

Pekerjaannya banyak? Banyak. Amalan juga banyak.

Bagaimana caranya supaya kita bisa mensiasati waktu yang terbatas tersebut dan kita bisa meraih pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya?

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan keistimewaan kepada beberapa waktu.

Ada waktu-waktu yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu lain. Kalau kita berhasil memanfaatkan waktu-waktu tersebut, maka kita akan bisa meraup pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya.

▪Contoh:

Malam ini dengan malam Lailatul Qadr, sama tidak ?

Panjenengan (Anda) beramal malam ini, sama beramal malam Lailatul Qadr, pahalanya lebih besar mana? Besar malam Lailatul Qadr.

Karena:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.”

(QS Al Qadr: 3)

Beramal satu malam Lailatul Qadr, pahalanya lebih banyak daripada pahala beramal selama seribu bulan. Ya, 80 tahunan sekian ya, 83 tahunan atau 82 tahunan lewat berapa bulan. Bayangkan, 1 malam pahalanya seperti beramal 82 tahun lebih. Ini kan waktu istimewa.

Makanya, kalau misalnya kita ketemu dengan waktu-waktu yang istimewa itu, jangan biarkan waktu tersebut berlalu bergitu saja. Karena belum tentu kita akan ketemu lagi dengan waktu itu, belum tentu seumur-umur kita ketemu 1 kali.

Makanya, ketika kita sudah masuk 10 hari terakhir dari bulan rāmadhan, kita harus tingkatkan amalam kita, supaya kita bisa memanfaatkan waktu istimewa tersebut.

▪Contoh yang lain:

Puasa Arāfah, apakah puasa Arāfah sama pahalanya kaya puasa Senin Kamis? Tidak.

Bukan berarti puasa Senin Kamis tidak ada keutamaannya. Tapi puasa Arāfah keutamaannya kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

… اَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ …

“(Puasa Arafah) Saya mohon kepada Allāh, agar piasa itu dapat menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang lampau dan satu tahun yang akan datang.”

(Hadits Riwayat Muslim nomor 1162)

Ini untung tidak? Untung banget ini.

Makanya kalau misalnya sampai pada hari Arāfah, 9 Dzulhijah, usahakan, manfaatkan waktu yang istimewa itu untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya.

Jadi, Allāh Subhānahu wa Ta’āla manakala memberikan waktu-waktu tersebut bukan kosong tanpa makna, tapi kita dimotivasi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini loh ada waktu-waktu yang luar biasa, dalam waktu yang sedikit engkau bisa mendapatkan pahala yang luar biasa.

(4) LAKUKAN BERBAGAI AKTIVITAS YANG BERBEDA DALAM WAKTU YANG SAMA

Banyak di antara orang, pikirannya lagi “nekuni ike, ike bae lah, ra sah sing lian-laine” (jika sedang menekuni satu hal, maka satu itu saja, tidak perlu melakukan aktivitas lain).

Padahal sebenarnya ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan walaupun berbeda dalam waktu yang sama, dan itu tujuannya adalah untuk mensiasati waktu kita yang terbatas dan para ulama kita dulu terbiasa seperti itu.

Berikut beberapa contoh:

▪Ada seorang ulama namanya Al Imam Khatib Al Baghdadi, beliau itu ke mana saja, jalan ke mana saja, mesti bawa buku. Berjalan itu aktivitas atau bukan? Aktivitas.

Kalau njenengan (Anda) berjalan sambil ngapain? SMS-an ? Facebook-an?

Kalau Imam Al Khatib Al Baghdadi sambil berjalan dia bawa buku, sambil baca, baca buku. Kemudian setelah itu dia jalan, baca buku, terus gitu. Jadi dalam satu waktu dia melakukan sekian aktivitas.

Ya, kalau sekarang kan banyak sekali waktu-waktu kita yang kosong. Ketika kita lagi nunggu antri di rumah sakit, kita pinginnya dapat nomor yang awal sehingga berangkatnya awal, tapi dokternya tekannya awan (datangnya siang), ngapain coba di situ? Mendingan bawa buku, bawa majalah, aktivitas.

Sayangnya justru yang menonjol dalam hal seperti itu bukan kaum muslim, saat ini lho, saat ini. Kalau zaman dahulu kaum muslimin sangat menonjol, kalau saat ini justru yang menonjol adalah orang-orang non muslim. Konon di Jepang, tidak ada ada orang “menomblo thok” (melamun), tidak ada di sana. Kalau misalnya orang lagi nunggu apa selalu ada yang dia lakukan. Entah dia bawa buku, entah dia bawa apa laptop, atau bawa Ipad. Nulis sesuatu yang bermanfaat. Kalau kita kan sambil nunggu main games, kalau mereka baca, sesuatu yang bermanfaat.

▪Ada seorang ulama namanya Abdul Wafa Ibnul Waqil. Dia itu berusaha bagaimana cara makan secepat mungkin, maksudnya tidak makan waktu yang banyak. Beliau membandingkan antara makan roti kering sama roti yang harus dibasahi. Perbedaannya, kata beliau, itu bisa untuk membaca 50 ayat Al Qurān, lebih cepat yang kering. Makanya beliau kalau makan itu selalu milih roti yang kering. Karena perbedaan waktu antara makan roti kering dengan roti yang tadi yang enak, yang dicampur apa dulu, itu bisa cukup untuk membaca 50 ayat.

Kalau kita?

Beliau sungguh luar biasa. Sampai bagaimana caranya supaya mengoptimalkan waktu yang beliau miliki.

Bahkan kisah yang terakhir ini akan saya bawakan ini lebih menakjubkan lagi.

▪Seorang ulama namanya Abdul Barakat Majduddin kalau ke kamar mandi, maaf, lagi buang hajat. Itu kan kita tidak bisa ngapa-ngapain. Dzikir tidak boleh, baca Qur’an tidak boleh. Kalau beliau ini, kalau ke kamar mandi, beliau panggil saudaranya, “Tolong bacakan buku di luar dengan suara yang keras.” Supaya dia di dalam tidak melakukan apa-apa, tidak aktivitas, tidak berdzikir, tidak baca buku, tapi orang di luar supaya baca buku dengan suara yang keras.

Dulu belum ada radio, kalau sekarang kita ada radio. Suruh bacain, supaya apa? Supaya waktu dia itu tidak terbuang sia-sia. Dalam satu waktu dia melakukan dua aktivitas yang sama-sama bermanfaat. Buang hajat bermanfaat tidak? Oh, bermanfaat sekali, dapat tambahan ilmu juga bermanfaat.

Jadi ini menunjukan bahwa berbagai aktivitas yang berbeda itu bisa dilakukan dalam waktu yang sama.

Praktiknya kaya apa ustadz?

==> Contoh, mencari nafkah.

Ketika kita sedang jualan di toko bisakah kita double dengan aktivitas lainnya yang bermanfaat? Bisa apa? Baca, ketika sedang tidak ada pembeli.

Coba sekarang perhatikan, perhatikan orang-orang di pasar, para penjual di pasar, berapa dari sekian ratus atau ribu pedagang di pasar, yang ketika waktu kosongnya itu baca Qur’ān? Kalau Anda temukan aneh bin ajaib.

Kenapa?

Karena orang berfikirnya ini lagi dagang. Dagang ya dagang, kenapa dicampur-campur dengan baca Qur’ān.

Loh kenapa sih Mas? Tidak ada kontradiksi kok. Apakah kontradiktif jualan sambil baca Qur’an?

==> Contoh yang lain.

Jalinan silaturahim, ibadah atau bukan? Ibadah.

Kebanyakan dari kita mengisi silaturahim hanya sekedar dengan obrolan. Tidak apa-apa lepas kangen. Mbok ya sambil silaturahim sambil melakukan aktivitas yang lain. Ya, contohnya berdakwah, mengajak dia kepada kebaikan. Sehingga kita mendapatkan pahala double-double. Dalam satu waktu kita dapatkan pahala silaturahim sekaligus kita mendapatkan pahala berdakwah kepada jalan Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

__________

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU (BAGIAN 4 DARI 4)

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

إنّ حمد لله

Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabarākahu wa Ta’ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan melanjutkan bagaimana cara mengoptimalkan waktu.

(5) KERJAKAN AKTIVITAS YANG BERMANFA’AT UNTUK ORANG BANYAK

Kerjakan aktivitas yang bermanfaat untuk orang banyak, supaya waktu kita berkah. Keberkahan waktu tidak sembarang orang diberi Allāh.

Supaya waktu kita berkah salah satu caranya adalah dengan melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat untuk orang banyak, misalnya belajar agama. Dengan kita belajar agama kita akan mendapatkan ilmu. Setelah kita mendapatkan ilmu kita bisa sebarkan kepada orang lain. Ketika kita sebarkan kepada orang lain maka orang lain itu akan mendapatkan manfaat dari apa yang kita pelajari tersebut, sehingga kita bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Dan itulah orang yang paling baik.

Kata Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

خيرُ الناسِ أنفعُهم للناسِ

“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR Ahmad, Ath Thabrani, Ad Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh Al Albani di dalam Shahihul Jami’ nomor 3289).

Orang yang bermanfaat itulah orang yang paling baik.

Kebanyakan orang-orang memikirkan tentang perkara pribadi dia saja. Makanya waktunya tidak barokah karena yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri saja. Jika ingin waktu kita berkah, sisihkan dari sebagian waktu kita untuk sesuatu yang bermanfaat buat umat ini. Ketika kita punya waktu, coba dipikirkan. Oh belajar, belajar agama lebih afdhal dibandingkan dengan shalat sunnah.

Kata imam Syafi’i:

طلب العلم أفضل من صلاة النافلة

“Mencari ilmu agama itu lebih afdhal daripada shalat sunnah.”

Kenapa?

Karena shalat sunnah untuk diri sendiri, sedangkan ilmu itu untuk orang banyak.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya keistimewaan ulama dibandingkan dengan ahli ibadah, seperti keistimewaannya bulan purnama dibandingkan bintang-bintang.”

(Hadits riwayat Abu Daud nomor 3641)

Ulama diumpamakan sebagai bulan purnama, sedangkan ahli ibadah diumpamakan sebagai bintang-bintang. Karena bulan purnama cahayanya tembus sampai ke bumi, sedangkan bintang hanya menyinari sekelilingnya saja.

Maka, kita harus perhatikan apa manfaat yang kira-kira bisa kita lakukan untuk orang lain. Selama ada sesuatu yang bermanfaat kita lakukan untuk orang lain, tentunya tanpa mengesampingkan kepentingan diri kita.

Tidak selalu melalui ilmu, bisa juga dengan tenaga. Misal ada yang membangun masjid, lalu kita bisa menyumbangkan tenaga, nyumbang dengan harta. Sehingga masing-masing dari kita waktunya akan berkah karena kita senantiasa mengisi waktu kita dengan sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak.

(6) MILIKILAH SKALA PRIORITAS 

Di antara sekian banyak pekerjaan, tentu ada yang penting, sangat penting, penting dan tidak penting.

==> Antara yang wajib dengan yang sunnah, yang harus didahulukan adalah yang wajib karena prioritas.

==> Antara fardhu ‘ain dan fardhu kifayah didahulukan fardhu ‘ain. Misalnya, dakwah terhadap keluarga merupakan fardhu ‘ain, sedangkan dakwah terhadap orang lain merupakan fardhu kifayah.

Maka kita juga harus memiliki skala prioritas agar waktu kita  optimal.

Lebih bagus lagi jika fardhu ‘ain diiringi dengan fardhu kifayah, ini lebih bagus lagi.

Contoh lain:

Dalam perkara dunia. Saat waktunya bayar hutang, maka bayar hutang lebih utama daripada dipakai modal supaya usaha lebih besar. Karena hukum melunasi hutang itu wajib secara agama. Secara bisnis, jika demikian, maka orang lain akan lebih percaya.

Buatlah skala prioritas supaya waktu kita bisa optimal.

(7) BUATLAH RENCANA,  TUJUAN DAN LANGKAH-LANGKAH KONKRET UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN TERSEBUT

Sesuatu yang bermanfa’at kita buat target, lalu buat langkah konkret untuk sampai kepada tujuan tersebut. Jika orang punya target maka pekerjaannya akan rapi.

Dan itu bukan hanya sekedar pekerjaan duniawi saja, termasuk dalam mencari ilmu juga terapkan seperti itu. Kemudian langkah-langkahnya ada, sehingga langkahnya tertata.

Kesuksesan besar itu adalah akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan yang sifatnya kecil. Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghargai proses, bukan hanya hasilnya.

Disebutkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ada di antara para Nabi yang pengikutnya hanya dua atau satu. Bahkan ada di antara para Nabi yang tidak mempunyai pengikut. Apakah dakwah mereka gagal? Tidak.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghargai proses mereka berdakwah, walaupun hasilnya tidak seperti yang diinginkan.

Target paling tinggi kita ialah masuk surga. Langkah kongkritnya istiqomah dalam beribadah. Itulah orang-orang yang in syā Allāh bisa mengoptimalkan waktunya.

Itulah 7 langkah, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Wallahu Ta’ālā A’lam.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

__________

🌍 BimbinganIslam.com

Jum’at, 11 Jumadal Akhir 1438 H / 10 Maret 2017 M

👤 Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, MA

📔 Materi Tematik | JANGAN TUNDA HINGGA ESOK (Bagian 1 dari 2)

⬆ Link audio: bit.ly/BiAS-AI-JanganTundaHinggaEsok-01

🌐 Sumber:

https://yufid.tv/3759-jangan-tunda-hingga-esok-ustadz-abu-ihsan-al-maidany-ma.html

———————————–

JANGAN TUNDA HINGGA ESOK (BAGIAN 1 DARI 2)

 

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Sudahkan anda beramal hari ini?

Sungguh, ini adalah hari yang kita miliki. Hari ini adalah hari yang kita miliki, esok belum tentu kita miliki. Adapun masa-masa atau hari-hari yang telah berlalu, tidak dapat kita putar kembali.

Satu pepatah mengatakan:

 ما فات حلم والمؤمل غيب ولك الساعة التي أنت فيها

“Apa yang sudah berlalu tinggallah kenangan, sementara asa dan cita-cita masih dalam impian, namun manfaatkanlah waktu yang ada pada dirimu sekarang.”

Sungguh Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

▪Memberikan kita nikmat, nikmat kelapangan waktu,

▪Memberikan kita satu kesempatan untuk beramal shalih pada hari ini.

Maka jangan tunda-tunda hingga hari esok. Bersegeralah kita ampunan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Bersegeralah kita menuju jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah untuk meraih ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS Ali Imrān: 133)

Bersegeralah, berlomba-lombalah, cepatlah untuk meraih ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Maka ciri orang yang bertakwa adalah benar-benar memanfaatkan waktunya, tidak menyia-nyiakan kesempatan, tidak menyia-nyiakan waktu yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah berikan kepadanya.

Sungguh, jadilah manusia hari ini karena esok belum tentu kita menjadi manusia. Mungkin kita sudah menjadi bangkai ataupun mayat, tidak ada kesempatan bagi kita untuk beramal shalih. Maka jangan tunda-tunda amal shalih.

Ketahuilah bahwa “taswīf” (تسويف) adalah penyakit yang berasal dari syaithan. Syathan menghembuskan was-was ke dalam hati manusia untuk selalu bertaswīf, yaitu mengatakan “saufa wa saufa” (سوف و سوف) , nanti dan nanti. Sementara esok belum tentu kita miliki.

Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā mengatakan:

إِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالْمَسَاءِ وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالصَّبَاحِ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Jika kamu mendapati pagi hari, maka jangan tunggu sore hari dan jika kamu mendapati sore hari, maka jangan tunggu hingga pagi hari. Ambillah (pergunakanlah) masa-masa sehatmu sebelum datang masa-masa sakit dan pergunakanlan masa hidupmu sebelum datang ajal kematian.”

(Hadits riwayat Tirmidzi nomor 2333)

Sungguh Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memberikan kepada kita satu kesempatan yang sangat berharga untuk beramal shalih. Pagi hari kita bangun, matahari terbit, kita membuka mata kita, Allāh Subhānahu wa Ta’āla masih berkenan mengembalikan ruh kita kepada jasad kita.

Kita pun mengucapkan:

 الْحَمْدُ لله الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allāh yang telah menghidupkan kami setelah kematian kami dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.”

(Hadits riwayat Bukhari nomor 7394)

Maka, hendaklah nikmat kehidupan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada kita dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Jangan menunda-nunda amal shalih, berlomba-lombalah untuk meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena untuk urusan masuk surga, kita tidak boleh berlambat-lambat, kita harus berlomba-lomba.

Jika ada yang mengajak kita berlomba-lomba dalam urusan dunia, ajaklah dia berlomba-lomba dalam urusan akhirat.

Dalam urusan akhirat, kita harus melihat orang-orang yang di atas kita, agar timbul semangat, tumbuh semangat, muncul semangat dalam diri kita untuk berlomba-lomba untuk menyamainya, bahkan untuk lebih darinya.

Adapun untuk urusan-urusan dunia, maka lihatlah kepada orang-orang yang berada di bawah kita. Supaya kita dapat mensyukuri, betapa besar nikmat yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada kita.

Lihat banyak orang yang tergeletak sakit, sementara Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan kepada kita kesehatan, di sana banyak orang-orang miskin yang tidak mendapat kesempatan untuk makan, sementara kita dapat mencicipi makanan.

Ini merupakan satu nikmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang diberikan kepada kita.

Maka dalam urusan-urusan dunia, lihat orang-orang yang berada di bawah kita, agar tumbuh/muncul rasa syukur pada diri kita, mensyukuri nikmat-nikmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang sangat banyak, jika kita hitung, niscaya tidak akan terhitung.

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya, sesungguhnya Allâh benar-benar Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

(QS An Nahl: 18)

Maka jadilah manusia pada hari ini. Segeralah hari ini kita beramal. Kita mengerjakan shalat dengan khusyuk. Kita bershadaqah mengeluarkan sebagian dari harta kita. Jangan tunda-tunda esok, karena hari esok belum tentu kita miliki. Belum tentu kita mendapati hari esok, maka pergunakanlah masa yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada kita pada hari ini.

Banyak orang-orang yang menunda shadaqah. Dia berniat shadaqah, namun dia mengatakan: “Wah besok, besok saya akan bershadaqah.”

Ternyata ketika tiba hari esok, niat dan keinginan untuk bershadaqah itu tidak seperti kemarin. Ternyata dia punya kepentingan lain, dia punya rencana lain, dia punya cita-cita lain, sehingga terabaikanlah, teralihkanlah, niat untuk bershadaqah itu dan tidak jadi dia lakukan. Tidak jadi dia keluarkan shadaqahnya.

Banyak sekali hal-hal yang akan mengganggu hati kita yang membuat kita beralih dari satu perkara kepada perkara yang lainnya.

Demikianlah hati manusia, senantiasa dibolak-balikkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Sesungguhnya hati seluruh anak Adam itu di antara dua jari dari jari-jari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dibolak-balikkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurut kehendaknya.”

(Hadits riwayat Muslim nomor 2654)

Maka apabila kita mempunyai keinginan untuk beramal shalih pada hari ini, bersegeralah beramal shalih. Jika kita mempunyai niat untuk bershadaqah pada hari ini, bersegeralah bershadaqah. Jika kita ingin berbuat kebaikan pada hari ini, membantu saudara kita, meringankan bebannya, lakukanlah pada hari ini.

Jangan tunggu hari esok, karena hari esok belum tentu milik kita.

__________

🌍 BimbinganIslam.com

Sabtu, 12 Jumadal Akhir 1438 H / 11 Maret 2017 M

👤 Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, MA

📔 Materi Tematik | JANGAN TUNDA HINGGA ESOK (Bagian 2 dari 2)

⬆ Link audio: bit.ly/BiAS-AI-JanganTundaHinggaEsok-02

🌐 Sumber:

https://yufid.tv/3759-jangan-tunda-hingga-esok-ustadz-abu-ihsan-al-maidany-ma.html

———————————–

JANGAN TUNDA HINGGA ESOK (BAGIAN 2 DARI 2)

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته

Seorang hamba mukmin, dia mengerti bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla bisa saja mencabut nyawanya. Dapat saja mengambil jiwanya, ruhnya, kapan saja.

Maka tentunya dia tidak akan berleha-leha, dia tidak akan santai ria. Dia akan bersegera, berupaya, berusaha, mengejar rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketahuilah kita hidup di antara dua masa, masa lalu dan masa yang akan datang. Masa lalu tidak dapat kita putar kembali, sementara masa yang akan datang tidak dapat kita tarik.

Kita bisa mengisi ketiga masa ini, masa lalu kita isi dengan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan benar-benar bertaubat, taubatan nashūhā, itulah cara mengisi masa lalu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ

“Kecuali yang bertaubat (kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla) kemudian dia mengiringi taubatnya dengan iman dan amal shalih, maka merekalah orang-orang yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla ganti keburukan-keburukan dan dosa-dosa mereka menjadi pahala/kebaikan.”

(QS Al Furqan: 70)

Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, ada dua tafsiran dalam ayat ini:

(1) Tafsiran yang pertama, Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengganti amalan-amalan buruk dia dengan amal shalih.

– Jika dulu dia mencuri, merampas harta orang lain, kemudian setelah bertaubat dia rajin bershadaqah.

– Jika dulu dia bermalas-malasan mengerjakan shalat, setelah taubat dia serius dan sungguh-sungguh melaksanakan shalat dengan khusyuk.

– Jika dulu dia mengabaikan hak-hak orang tuanya, dia durhaka, dia kasar kepada orang tua, maka setelah taubat dia menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Jadi Allāh Subhānahu wa Ta’āla ganti perbuatan-perbuatan buruknya menjadi perbuatan-perbuatan baik.

(2) Tafsiran kedua, Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengganti tabungan-tabungan dosanya menjadi tabungan pahala.

Itulah cara kita mengisi masa lalu, yaitu dengan bertaubat, taubatan nashūhā kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ

“Bertaubatlah kamu seluruhnya kepada Allāh, wahai orang-orang yang beriman.”

(QS An Nūr: 31)

Taubatan nashūhā, taubat yang sungguh-sungguh. Itulah cara mengisi masa lalu kita.

Adapun masa yang akan datang, kita isi dengan ber-azam untuk tidak kembali melakukan perbuatan dosa dan maksiat tersebut. Kita sungguh-sungguh menghentikan diri dari perbuatan dosa itu.

Yang lebih berat adalah mengisi dan memanfa’atkan waktu sekarang ini, memanfaatkan waktu untuk beramal shalih pada hari ini, itulah yang sangat berat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Setiap manusia berangkat di pagi hari, maka ada yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau membinasakannya.”

(Hadits riwayat Muslim nomor 223)

“Setiap manusia keluar melanjutkan perjalanan hidupnya, dia mempertaruhkan jiwa raganya. Ada yang membebaskan dirinya dari cengkraman dan belenggu syaithan dan ada pula yang melemparkan dirinya kepada kebinasaan, mencelakakan dan membinasakan dirinya sendiri.”

Demikianlah, setiap manusia melanjutkan perjalanannya.

لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

“Barangsiapa di antara kamu ingin maju atau ingin mundur.”

(QS Al Muddatstsir: 37)

Kehidupan tidak berhenti, terus berjalan. Hanya saja pilihan ada di tangan kita, apakah kita mau maju atau mau mundur.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah membeli dari diri-diri orang yang beriman, jiwa dan harta mereka dengan surga.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah membeli orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

(QS At Taubah: 111)

Kita tahu bahwa surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla itu sangat mahal, surga tidak bisa terbeli dengan amal ibadah yang kita kumpulkan. Bahkan dengan amal ibadah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sekalipun. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak dapat membeli surga dengan amal ibadahnya.

Maka dari itu hendaknya kita bisa menjadi orang-orang yang membebaskan diri kita dari api neraka dan meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Beramallah hari ini.

Jika kamu mendapati pagi hari, jangan tunggu sore hari.

Jika kamu mendapati sore hari, jangan tunggu pagi hari.

Segeralah beramal, jangan tunda-tunda beramal.

Sungguh, waktu ini adalah kesempatan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada kita.

Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā mengatakan:

إِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالْمَسَاءِ وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تُحَدِّثْ نَفْسَكَ بِالصَّبَاحِ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Jika kamu mendapati pagi hari, maka jangan kau bisikan pada dirimu (bisa peroleh) sore hari dan jika kamu mendapati sore hari, maka jangan kau bisikan pada dirimu (bisa peroleh) pagi hari. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan manfa’atkanlah masa hidupmu sebelum datang ajal kematianmu.”

(Hadits riwayat Tirmidzi nomor 2333)

Waktu adalah suatu nikmat yang sangat berharga. Sungguh celaka dan binasalah, merugilah orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya.

وَالْعَصْرِ (١)  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, saling memberi nasihat di atas kebenaran dan saling berwasiat di atas kesabaran.”

(QS Al ‘Ashr: 1-3)

Demikianlah sahabat yang berbahagia, coba tanya kepada diri kita, apa yang sudah kita lakukan pada hari ini?

Amal shalih apa yang sudah kita lakukan pada hari ini ?

Apakah hari ini kita lebih baik daripada hari kemarin ?

Teruslah berusaha.

احرص على ما ينفعك

“Berusalah untuk meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu.”

Jadilah manusia yang terbaik bagi orang lain.

خيرُ الناسِ أنفعُهم للناسِ

“Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR Ahmad, Ath Thabrani, Ad Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh Al Albani di dalam Shahihul Jami’ nomor 3289).

Demikianlah, mudah-mudahkan pesan yang singkat ini menggugah perasaan kita semua, hati kita semua. Dan mendorong kita untuk berlomba-lomba untuk beramal shalih, meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Semoha Allāh Subhānahu wa Ta’āla mudahkan jalan kita semua menuju surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan menjadikan kita hamba-hamba yang beruntung, hamba-hamba yang bahagia, mendapatkan kebaikan di dunia dan kebahagiaan nantinya di akhirat.

Wabillahit taufiq wal hidayah

Waasalamu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

__________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…

Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh

2. Support Radio Dakwah dan Artivisi

3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah

🌎www.cintasedekah.org

👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

—————————————-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s