Edukasi Anak lewat Montessori di Rumah, Nggak Perlu Mahal Lho

Sore ini saya mengikuti talk show @indonesiamontessori yang menghadirkan penulis buku Montessori di Rumah (dari penerbit Esensi), mba Elvina Lim Kusumo, di Gramedia Matraman. Berhubung sudah punya bukunya duluan, jadi saya tidak berhak ikut undian doorprize paket buku yang diperuntukkan bagi pembeli buku tersebut yang membeli di lokasi (dapat bonus scarf pula lho) tapi gpp lah, yang penting bisa ikut menyimak aja deh.

Mba Vina bercerita bahwa awalnya ketika tinggal di AS, barang-barang kebanyakan masih ada di kontainer, kalau dipikir sepertinya nggak akan bisa mengajak C (putranya) main apa-apa. Tapi kemudian disadari bahwa bermain bisa dengan apa saja yang tersedia di sekeliling, tidak perlu pakai mainan khusus yang mahal. Jadi dalam kondisi yang ‘tidak ideal’ pun bisa kok menstimulasi anak dengan permainan.

“Saya nggak pernah ngajarin C nulis, tapi lewat permainan yang memperkuat otot tangan, sehingga ketika tiba waktunya menulis sudah terlatih menulis dengan baik,” begitu jelas mba Vina.

Kenapa memilih metode Montessori? Karena dengan rentang perhatian anak yang pendek, kalau dipaksa belajar duduk diam dalam waktu lama kasihan. Metode Montessori juga memberikan beberapa pelajaran keterampilan yang sifatnya jangka panjang, bukan hanya yang terlihat di permukaan.

Bagaimana agar bisa konsisten menerapkan Montessori dengan segala pernak-perniknya?  Mengingat adakalanya anak moody, kadang mau kadang nggak untuk menjalani aktivitas yang direncanakan. Kembali ke niat, kata mba Vina. Kalau sudah dibiasakan, biasanya anak akan semangat juga karena melihat kesungguhan orangtua menyiapkan. Ini tentu menyemangati orangtua juga. Jangan lupa, kita perlu memahami kebutuhan anak, juga perhitungkan seberapa menantang suatu aktivitas bagi anak.

Aktivitas Montessori kadang identik dengan ‘berantakan’, sebagai salah satu risiko dari aktivitas yang dilakukan maupun waktu yang dialokasikan ke situ. Mba Vina menambahkan bahwa harus diakui setelah punya anak ekspektasi mengenai kerapian rumah itu diturunkan, termasuk terhadap tumpukan cucian kotor misalnya, yang penting masih ada baju yang bisa dipakai.

Sekarang anak-anak sepertinya sudah sulit dipisahkan dengan gadget. Pengalaman mba Vina, dua tahun pertama sewaktu di AS tidak kenalkan gadget kecuali untuk setel lagu. Di usia 3,5-4th C mulai minta karena melihat sekitar. Jika memang mau kasih izin anak lihat, pilih video yang ditonton (iklannya juga kadang nggak sesuai untuk anak-anak, lho) dan berikan batasan misalnya 10 menit dan konsisten dengan itu. Efek video yang dibilang khusus anak juga kadang bisa saja bikin overstimulasi.

Khususnya untuk orangtua yang bekerja, siapkan dan bekali caretaker (pengasuh atau eyang anak-anak) dengan berbagai aktivitas untuk anak supaya tidak mudah bosan. Ini termasuk menyiapkan sejak awal agar anak terbiasa dengan aktivitas edukatif, karena memang sebagian anak bisa langsung menyukainya. Proses awal ini disebut dengan proses normalisasi. Ada juga kan eyang yang keberatan dengan cucu yang kok kayaknya main air melulu, atau beranggapan buat apa repot-repot kan lebih gampang kasih film dst.

Sebelum usia dua tahun, C tidak punya mainan khusus, setelahnya mba Vina baru terpikir bahwa ada kok mainan yang melatih kognitif anak. Dari situ barulah memilih mainan khusus yang edukatif, artinya tidak tinggal pencet yang bisa bikin anak berpikirnya juga serbainstan dalam menghadapi tantangan, tapi ada kegiatan membuat sesuatu misalnya. Mainan seperti ini bisa untuk selingan di antara aktivitas yang memang disiapkan orangtua (tanpa mainan yang ‘beli jadi’).

Bagaimana contoh aktivitas edukatif untuk bayi atau anak di bawah setahun? Orangtua bisa ajarkan misalnya mengenai object permanence di mana suatu benda bisa berpindah tempat atau disembunyikan, sensory play, juga mengenalkan bayi dengan MPASI berupa finger food. Tentunya tetap realistis dengan usia anak, jangan muluk-muluk juga targetnya.

Ke depannya, mba Vina ingin kembali menghasilkan buku yang bermanfaat untuk membantu para orangtua di Indonesia menciptakan aktivitas edukatif untuk anak-anak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s