Karena Tampil Memesona Itu Tak Semata Demi Orang Lain

“Istrinya udah cantik memesona gitu, kok tega ya suaminya minta pisah dengan alasan ada yang lebih menarik?”

“Ah, kalau yang itu sih memesona apanya, percuma juga cakep-cakep tapi suka godain laki orang!”

“Bagus sih dia bawain acaranya, tapi kurang apa ya, kurang memesona gitu deh. Kita maunya yang nonton bisa lebih tertarik lagi, kan?”

Dua kalimat paling atas sih kayaknya khas obrolan ibu-ibu banget ya. Secara tidak langsung, pembicaraan tersebut mengarah ke betapa relatifnya nilai sebuah pesona. Pesona sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan antara lain sebagai daya tarik, daya pikat, sesuatu yang memancing orang terpukau atau terkagum-kagum. Malah, bisa didefinisikan sebagai jampi-jampi atau guna-guna juga. Barangkali karena seseorang yang terpesona bisa seolah terhipnotis untuk melakukan hal-hal yang seperti di luar kendalinya ya, meskipun sama sekali tidak ada ilmu hitam yang terlibat. Kalau guna-guna atau jampi-jampi lazimnya punya target tertentu, demikian pula pesona bisa berbeda-beda efeknya terhadap setiap orang. Sedangkan nilai penampilan fisik saja bisa amat subjektif, apalagi takaran seberapa tergerak lawan bicara atau orang yang melihat, pasti lebih tidak mutlak lagi. Maka tak mengherankan kalau yang tampak memesona bagi sebagian orang justru membuat sekelompok orang lainnya tak habis pikir, apanya yang memesona?

Pesona adakalanya ditonjolkan melalui postingan di media sosial, dan  biasanya dilakukan karena adanya naluri untuk menampilkan yang terbaik. Tak ingin dianggap sengaja mencitrakan diri begini atau begitu, tetapi tanpa disadari kadang kita otomatis memilih foto terbaik untuk diunggah.

Mengingat pengaruhnya yang laksana sihir, pesona juga acapkali dimanfaatkan dalam rangka mencapai tujuan. Lihat saja contoh kalimat terakhir di awal tulisan ini. Pesona memang tak hanya bisa terpancar dari keindahan ragawi, tetapi juga muncul dari gaya bicara atau tingkah laku seseorang. Ada sosok yang secara fisik tidak rupawan (lagi-lagi, ini pun tidak absolut), tetapi lewat permainan katanya bisa membuat pemirsa atau pendengar enggan beranjak dari depan layar atau dari tempat duduk. Pada gilirannya, ketertarikan orang yang melihat bisa memancingnya bertahan menyimak kalimat-kalimat yang disampaikan atau bahkan membeli sesuatu. Inilah mengapa dalam pemilihan presenter, brand ambassador, model, atau sejenisnya oleh si empunya hajat atau produk, ‘menarik’ menjadi salah satu kriteria utama, supaya memesona lebih banyak orang.

Maka, pesona itu bisa jadi pisau bermata dua. Ada yang sadar akan pesona yang dimiliki, lalu menggunakannya untuk hal-hal tidak terpuji. Ada yang memakai pesonanya untuk memikat masyarakat mengikuti gerakan sosial yang ia dukung atau pelopori. Sebagian yang lain ada pula yang mau bersusah payah agar dirinya tampil memesona. Ya, #MemesonaItu bisa jadi bawaan lahir, tapi bisa juga timbul berkat tempaan yang tepat.

Pertanyaannya, haruskah kita semua berusaha agar tampak memesona, atau lebih baik tampil apa adanya dan terserah orang mau menilai apakah kita memesona atau tidak? Jawabannya tergantung dari tujuan kita masing-masing. Beberapa pegiat sosial tanpa perlu secara sengaja mengasah sisi pesonanya, dengan sendirinya mengeluarkan aura penuh pesona karena bahagia menjalani passion-nya yang bisa menolong mereka yang membutuhkan. Seorang pembawa acara atau selebriti, karena tuntutan pekerjaan, sah saja terus belajar dan berlatih agar kadar pesonanya terus meningkat, karena itulah yang dicari oleh pengguna jasanya.

Lantas, apa kabar kita yang ‘orang biasa’? Tampil memukau nampaknya bukanlah suatu kebutuhan sehari-hari, kecuali untuk lapangan pekerjaan tertentu atau di depan orang-orang spesial. Namun, tak ada salahnya mencermati apa saja yang bisa membuat seseorang jadi memesona, misalnya:

  1. Menjaga kebersihan dan kerapian diri. Ketika sedang ‘berdinas’ di dapur atau memperbaiki genteng bocor, memang sulit memenuhi kriteria yang ini. Namun, ketika kondisi memungkinkan, tunjukkan sisi terbaik diri kita. Bukan bermaksud pencitraan, tetapi kita tentu sepakat bahwa kebersihan selain merupakan sebagian dari iman juga bisa menjadi salah satu kunci kesehatan. Tubuh dan busana yang bersih juga mengurangi kemungkinan menguarnya bau-bau tak sedap yang jelas akan menurunkan nilai pesona. Kerapian menunjukkan kepedulian akan keteraturan, sekaligus menghargai lawan bicara. Ini termasuk di depan anggota keluarga sendiri, lho. Sekali lagi, catat, sesuaikan dengan kondisi juga. Jangan sampai karena enggan berkeringat atau ogah baju lecek, urusan rumah tangga jadi terbengkalai.
  2. Pilih kata-kata yang tepat saat berbicara, disertai intonasi dan ekspresi yang sesuai. Tidak semua orang dari sananya sudah punya bakat jadi pujangga atau motivator ulung lewat lisannya, tetapi setidaknya kita perlu paham mana kata sapaan yang tepat berdasarkan usia dan kedudukan, apakah lelucon tertentu pantas atau tidak, bolehkah bertanya sedemikian detil alias kepo saat ada yang sedang berduka, kapan dan kepada siapa boleh mengeluarkan suara manja merdu merayu, atau bagaimana menahan komentar pedas agar tak terlontar spontan untuk menjaga hati banyak orang.
  3. Banyak membaca. Menjadi kutu buku tidak otomatis membuat kita se-memesona Belle, tapi dengan membaca, artinya kita memperluas cakrawala berpikir. Tahu berita-berita terbaru, paham mana yang hoax dan mana yang bukan, mengerti adanya perbedaan karakter antarmanusia, akan membuat kita jadi teman ngobrol yang asyik, dan pesona bisa timbul lewat hal-hal seperti obrolan yang menyenangkan. Lewat membaca juga kita bisa tahu tips untuk menjalani langkah di nomor-nomor sebelumnya. Tak harus jadi kutu buku juga sebenarnya, teknologi informasi yang semakin cepat dan canggih bisa amat membantu dalam hal ini.

Oh ya, tampil memesona itu juga tak melulu soal terlihat indah dalam pandangan orang lain lho, tetapi juga bisa menjadi motivasi agar kita senantiasa memperbaiki diri. Toh pesona itu, selama berada dalam koridor yang benar, akan kembali ke diri kita sendiri. Kalimat yang terjaga dengan apik akan mengurangi kemungkinan salah paham atau ketersinggungan, perawatan kesehatan yang telaten (termasuk berolahraga, makan bergizi seimbang, dan merawat kulit) bisa menolong menjauhkan dari penyakit, dan wawasan yang luas punya potensi membantu saat kita perlu mengambil keputusan. Nah, siap untuk jadi memesona?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s