Berbisnis dari Hobi, antara Idealisme dan Materialisme

Saya baru mulai aktif nge-blog lagi sekitar setahun ini. Sambil jalan, saya mengamati bahwa ada beberapa (banyak, malah) yang menjadikan blognya sebagai sarana mendulang keuntungan. Bisa lewat sponsored post, endorse, undangan mengikuti acara tertentu secara cuma-cuma (sedangkan peserta lain harus bayar atau harus punya kriteria tertentu seperti memang pegawai di situ), atau kesempatan lebih dulu menyaksikan sebuah film. Ada juga sih yang memanfaatkan iklan yang dipasang langsung di blog, adakalanya lewat trik search engine optimization (SEO) versi kurang sehat, termasuk sembarangan copy paste tulisan orang lain dan permainan kata, yang berpotensi bikin kesal saat kita sedang menggunakan mesin pencari di internet. Pernah nggak, lagi butuh betul informasi tertentu, eh digiringnya ke tulisan yang nggak jelas maksudnya apa karena kalimatnya muter-muter atau disuruh klik-klik bagian lain dulu, kzl kan.

Makin tingginya penggunaan media sosial juga digunakan untuk mendukung tujuan ini, karena produsen tahu benar bahwa media sosial turut membantu informasi mengenai produknya menjangkau lebih banyak orang. Penggunaan jasa blogger dianggap lebih mencerminkan kedekatan dengan pasar yang mereka sasar, walaupun selebriti yang sering wara-wiri di media massa (bahkan biar kata cuma di infotainment melulu munculnya) masih punya ceruknya tersendiri sebagai key opinion leader atau bahkan brand ambassador.

Bagaimana dengan saya? Saya sih masih seadanya dulu, belum mau mengejar setiap kesempatan yang datang. Capek dan sayang waktunya yang bisa buat main dengan anak-anak, mengingat saya sehari-hari juga bekerja kantoran. Kalau ada tawaran ya alhamdulillah, apalagi kalau acaranya semacam sharing yang bermanfaat untuk menambah ilmu. Malah tanpa embel-embel sponsor pun biasanya saya akan tetap posting cerita setelah ikut kegiatan yang menarik kok *kemudiantarifturun :D. Eh, boro-boro sih pasang tarif tertentu, hehehe, tapi saya juga jadi mengamati sih bahwa ada semacam standar tarif di kalangan para blogger. Jangan merendahkan diri sendiri dengan menyabet job yang jelas-jelas timbal baliknya seperti tidak menghargai kerja keras pergi ke tempat acara, riset kecil-kecilan, mendandani foto, dan menulis dengan baik, begitu kira-kira kesepakatan umumnya.

Kalau menyimak cerita mereka yang sudah jauh lebih senior, hasil dari ngeblog ini bahkan mencukupi untuk diseriusi sebagai sumber mata pencaharian dalam arti meninggalkan pekerjaan utama. Seberani itukah saya? Sepertinya belum dulu, sih. Tapi memang menyenangkan ya kalau dasarnya hobi menulis, lalu dibayar pula untuk tulisannya, baik berupa uang maupun keuntungan lainnya. Apalagi kalau niat banget menjalaninya, misalnya bela-belain event hopping ke beberapa tempat dalam sehari semalam (saya mah bisa encok kalau ngikutin yang begini). Atau tidak banyak mengajukan diri saat ada tawaran tetapi undangan sudah datang dengan sendirinya, karena blogger tersebut sudah cukup punya nama dan ‘massa’, di antaranya ditunjukkan lewat jumlah pengikut di media sosial.

Nah, sekian banyak acara dan kampanye yang diadakan, penyelenggaranya pasti juga beragam. Bisa jadi, tidak semuanya punya visi dan misi yang sama dengan kita selaku diri pribadi maupun keluarga. Terus, bagaimana kalau iming-iming bonus rupiah bikin kita gelisah karena tak sesuai dengan idealisme?

Pertanyaan inilah yang saya sampaikan ketika ada kesempatan bertanya kepada mbak Hanifa Ambadar yang mengawali FDN dari blog pribadi. FDN kini sudah dipercaya mencapatkan dana dari investor, dan bisa membuka lapangan kerja untuk puluhan orang. Lewat chat di forum, saya mem-posting pertanyaan sebagai berikut:

Mba @Hanzky, kalau punya lebih dari satu hobi, bagaimana caranya memilih mana yang lebih sesuai buat kita ‘monetisasi’? Terus, pernah nggak idealisme terkait hobi ternyata berbenturan sama nilai bisnisnya? Kalau pernah, apa yang dilakukan?

Jawaban mba Hanzky adalah:

Lucky you punya beberapa hobi. Mungkin bisa dilihat dari sisi bisnisnya kira-kira mana yang lebih punya peluang untuk menjadi besar? Trus tanya juga ke diri sendiri mana hobi yang lebih untuk kepuasan diri/idealist, mana yang kita bisa lebih fleksibel so it can generate more money? Enaknya punya bisnis sendiri sih we work on our own terms, jadi bisa kok kalo kita nggak mau menjual idealisme. Dari awal harus udah tau banget value yang kita percaya apa aja supaya gampang untuk say yes or say no to certain project. Dan juga mempertahankan idealisme akan lebih gampang kalo memang secara financial-nya kita kuat, jadi bisa kerjain yang sesuai dengan value kita aja.

Kalo di FDN dari awal kita udah tau nggak mau kerja sama dengan susu formula dan itu masih dipertahankan sampai sekarang walaupun budgetnya mereka besar sekali .

Sudut pandang yang menarik, ya, dan jadi pelajaran juga untuk saya.

 

*penggunaan kata materialisme mungkin nggak sepenuhnya tepat, ya, tapi intinya gitu deh, biar berima juga kan judulnya :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s