Art Therapy untuk Bantu Kelola Stres pada Anak, Seperti Apa Sih?

Sabtu (01/04) lalu saya mengikuti 1st Arisan Orami: Managing Your Kid’s Stress with Art Therapy bersama William S Budiman. Iya, Orami (dulu namanya Bilna) yang merupakan salah satu marketplace terbesar di Asia ini punya kegiatan rutin semacam seminar atau workshop untuk para pelanggannya, yang untuk tahun ini pertama kalinya digelar di awal April, bertempat di fx Sudirman.

Saat membuka acara, Mba Rani selaku MC sudah menyebutkan bahwa berdasarkan Studi Carnegie Mellon University, bayi/anak usia semuda 3 tahun bisa lho alami stres lho 😱😱. Kok bisa ya, dan jadi penasaran juga gimana cara mengatasinya. Tapi iya juga sih, kadang rasanya juga mentok menghadapi kakak (5 tahun) kalau sudah ngambek tidak jelas apa maunya. Apa ini sudah termasuk stres awal, ya?

Mba Jessica Farolan @eljez yang menjadi moderator memulai dengan mempresentasikan kegiatan @aethralearningcenter yang berkomitmen memberikan pengetahuan, inspirasi, pengalaman, dan masa depan yang lebih cerah. Misinya adalah agar peserta mengalami pembelajaran yang serius tapi sekaligus dengan cara yang menyenangkan. Pak @WilliamSBudiman yang menjadi pembicara hari itu adalah founder dari Aethra Learning Center yang berdiri tahun 2008.

Pak William S Budiman membuka sajian materinya dengan mengingatkan agar kita khususnya sebagai orangtua jangan menjadikan stres sebagai sesuatu yang menakutkan, jelek, atau bahaya. Jadikan stres justru sebagai jalan untuk menjadi manusia yang lebih berkembang, menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik. Yang penting, stres dikelola dengan tepat.

Yang perlu dipahami juga, hindari membandingkan stres anak dengan orangtua, misalnya dengan meremehkan, “Ah, kamu belajar gitu aja masak stres sih.” Orangtua cenderung menganggap kecil, padahal anak kan kemampuan berpikir dan daya tahan/resiliensinya belum se-berkembang orang dewasa. Biasanya orangtua juga terlambat mengenali stres pada anak, sehingga penanganannya juga ikut terlambat. Bagaimana dong supaya stres anak bisa dideteksi lebih dini?

Pertama, kita harus memahami dulu, stres itu apa sih? Stres bisa didefinisikan sebagai reaksi hati/psikologis maupun fisik/fisiologis yang terjadi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu hal atau kondisi yang dianggap menekan dirinya. Biasanya ini timbul kalau ada perubahan, bahkan meskipun belum tentu perubahan itu perubahan yang buruk. Contoh saja mulai masuk playgroup yang membuat anak harus bertemu orang-orang baru. Hal lain yang bisa memicu stres adalah adanya ancaman, untuk pekerjaan bisa berupa deadline, bagi anak bisa tampil dalam wujud teman yang suka mem-bully atau adanya adik baru. Kemudian hal yang tidak bisa dikontrol seperti kemacetan juga bisa menimbulkan stres.

Gejala stres yang bisa kita amati yaitu:
1. Nggak fokus, sering mendadak lupa apa yang mau dilakukan selanjutnya.
2. Ada perubahan mencolok, misalnya tiba-tiba kehilangan minat terhadap sesuatu yang biasanya disukai, atau tiba-tiba terlihat murung, apalagi jika berlangsung lebih dari sehari.
3. Secara fisik bisa menimbulkan kondisi pegal pada tengkuk dan pundak, sakit maag, sariawan, atau gatal-gatal.
4. Melakukan sesuatu yang jadi pelarian untuk menenangkan diri menghadapi stres, misalnya mendadak suka main game atau justru tidak suka main game, tidur lebih banyak, makan.

Nah, seperti disebutkan di awal, sesungguhnya stres juga punya berbagai manfaat, di antaranya:
1. Stres malah membuat anak lebih tangguh dan tahan banting. Hanya saja, orangtua zaman sekarang terlalu melindungi anak sehingga anak tidak terlatih menghadapi kesulitan. Padahal ini bisa melumpuhkan keterampilan yang penting, dan berisiko saat anak ‘dilepas’ ke masyarakat.
2. Anak bisa lebih kreatif mencari jalan keluar atau pemecahan dari masalah yang membuatnya stres.
3. Stres bisa melatih seseorang memiliki Emotional Quotient lebih tinggi. Dari hasil survei, anak sulung biasanya punya EQ lebih baik karena sering disuruh mengalah dan membantu.
4. A stressful life is a meaningful life. Semua masa yang berkesan dalam hidup kita justru merupakan yang biasanya bikin stres, kan? Entah mencoba olahraga ekstrem, mempersiapkan pernikahan dst.

Setiap orang pasti punya cara berlainan dalam menghadapi stres, secara umum bisa dibagi menjadi dua kelompok besar:
1. Emotional based coping, menurunkan kadar stres dengan mengelola kondisi emosi diri. Contohnya, menyenangkan diri sendiri dengan belanja, dan ini bisa memancing stres baru misalnya gara-gara kesulitan keuangan akibat kebanyakan belanja.
2. Problem based coping, menghilangkan stres dengan mengatasi sumber stres. Ini sepertinya bagus, tapi masalahnya sumber stres kan akan selalu ada terus (berganti-ganti).

Sebaiknya kedua macam pendekatan tersebut diterapkan secara seimbang. Jika masalahnya sederhana, problem based coping bisa dilakukan segera. Sedangkan masalah yang rumit memerlukan emotional based coping terlebih dahulu. Anak-anak cenderung lebih rentan, sehingga pendekatan emotional based coping lebih sesuai. Awali pendekatan ini dengan membantu anak mengeluarkan atau menceritakan emosinya. Aktivitas seperti olahraga atau games juga bisa menolong dalam stress management.

Tantangannya adalah, anak-anak zaman sekarang jadwalnya begitu padat. Sekolah, les, kursus, belajar di rumah, belum lagi menyesuaikan waktu dengan orangtua. Di sini perlu ada dealing orangtua untuk menyediakan waktu bermain bersama anak, agar anak bisa mencurahkan emosinya keluar. Kegiatan santai yang memudahkan anak bercerita bisa membantu anak merasa lebih lega.

Art Therapy disebut oleh pak William sebagai salah satu cara jitu mengatasi stres, khususnya pada anak. Lebih bagus lagi sebenarnya jika anak menggambar sendiri dari nol, bukan hanya mewarnai gambar yang sudah jadi/disediakan, meskipun di pasaran kini banyak beredar colouring book yang umumnya diklaim bisa menjadi terapi stres. Gambar yang dibuat anak bisa jadi petunjuk apa sebenarnya yang menggelisahkannya.

Mas Randy, juga dari Aethra Learning Center, menambahkan bahwa art therapy ini menjadi perpaduan antara seni dengan psikologi dengan tujuan mengubah perilaku dan mindset khususnya dengan mengeluarkan emosi. Gambar yang dihasilkan tidak harus indah atau bagus, jadi abaikan sisi estetika, yang penting adalah bagaimana memaknai gambar tersebut. Jadi jangan takut ‘nggak bisa gambar’, ya….
Pada sesi berikutnya kami sebagai peserta mulai praktik dengan menggambar apa saja sepenuh mungkin dalam selembar kertas putih, dengan sistem tim yang terdiri dari empat orang. Kemudian kami diminta menemukan pola dalam gambar yang awalnya cenderung tidak beraturan tersebut.

Berikutnya kami diberi kertas berbentuk bulat untuk dibagi menjadi 8 juring yang disebut dengan pizza emosi. Dalam masing-masing slice, kami disuruh menggambarkan emosi apa yang dialami selama sepekan terakhir, lalu bergantian menceritakannya pada teman-teman sekelompok. Kegiatan ini bisa bermanfaat untuk lebih mengenali diri sendiri, dan efek dari menggambar ini bisa membuat rasa senang muncul. Anak-anak juga cenderung lebih suka aktivitas yang sifatnya motorik dan personal, sehingga bisa digunakan sebagai sarana bagi orangtua untuk bertanya dan anak mulai bercerita. Pengenalan terhadap emosi bisa membantu orangtua mengarahkan anak akan apa yang dihadapi. Kegiatan menggambar terakhir adalah menggambar mandala, medianya kembali berupa kertas putih berbentuk lingkaran, gambarnya bebas tapi ada sesuatu yang digambarkan sebagai pusat di tengah-tengah lingkaran. Gambar mandala ini bisa dianggap sebagai pendinginan dari serangkaian kegiatan yang sudah dilakukan, bahkan bisa bikin ngantuk juga lho saking rileksnya efek yang ditimbulkan.

Pemilihan alat dalam menggambar ternyata ada maknanya, seperti diterangkan oleh mas Randy. Salah satu jenisnya adalah alat gambar liquid yaitu yang bisa sangat bervariasi keluar intensitas warnanya tergantung bagaimana caranya disapukan atau digoreskan. Makin liquid alat yang dipilih, biasanya karakter si pengguna makin emosional dan terbuka. Contoh paling jelas tentunya cat air. Kapur, oil pastel/crayon juga termasuk masih liquid karena bisa tipis bisa tebal hasilnya tergantung pemakainya. Pensil warna dan spidol cenderung lebih rigid sifatnya ketika dipulaskan. Orang yang memilih menggambar pakai spidol biasanya lebih kaku, sistematis, terjadwal, tepat waktu, sulit menghadapi perubahan sehingga mudah stres oleh hal itu.

Perbedaan ini bisa menjadi petunjuk untuk melakukan pendekatan emosional ke anak, apakah bisa digali lewat pertanyaan langsung atau logis tentang apa menurutnya penyebab dari suatu peristiwa, atau lebih enak dengan pertanyaan yang menggali emosi anak, apa yang dia rasakan, bagaimana menurutnya langkah selanjutnya, dst. Gambar yang berurutan atau tersistem, misalnya emoticon semua dalam pizza itu, menandakan si penggambar orangnya lebih rigid dan sistematis. Sedangkan yang dalam satu slice full colour, warnanya campur aduk, maka orangnya lebih fleksibel dan mudah berempati. Ini bukan soal baik buruk, hanya untuk menentukan pendekatan yang tepat. Kalau pendekatan sudah pas, diharapkan stres juga bisa dikelola dengan lebih baik.

1st Arisan Orami 1 April 2017 @ Fx Sudirman Jakarta Selatan.

A post shared by Orami by Bilna (@orami_id) on

Advertisements

6 thoughts on “Art Therapy untuk Bantu Kelola Stres pada Anak, Seperti Apa Sih?

    • Wah, terima kasih sudah mampir, Pak William. Terima kasih sudah berbagi di acara kemarin, mohon maaf jika mungkin ada yang saya salah tangkap dan tuliskan kembali dalam catatan, hehehe.

  1. Luar biasa ibu Leila atas catatannya, sangat lengkap dan detail sekali! Semoga materi yang diberikan dapat menambah pengetahuan dan berguna bagi para smart mom’s ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s