Sabar, Sejauh Mana Batasnya?

Forum Kajian Muslimah Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan #FKMEdisiApril kali ini (07/04) mengangkat tema Menjadi Pribadi Sabar bersama Ustadzah Tri Handayani, S.Pd.I., M.A.

Ustadzah atau yang akrab dipanggil sebagai ummi Tri Handayani ini dahulu adalah atlet berbagai cabang olahraga yang berprestasi. Kemudian Allah memberi ujian berupa kanker, bukan hanya satu jenis tetapi beberapa. Sekarang beliau aktif sebagai penceramah maupun motivator yang banyak menyampaikan kisah beliau sebagai survivor kanker, selain menjadi dosen di dua perguruan tinggi.

Ummi Tri menegaskan bahwa sabar itu baru bisa dibilang berkualitas ketika dihadapkan pada tantangan, dan levelnya tergantung kadar keimanan seseorang. Orang yang terkena macet di dalam mobil mewah yang nyaman, tingkat sabarnya tidaklah sama dengan yang berdiri di angkutan umum berdesakan saat deadline pekerjaan mengintai.

Benarkah sabar ada batasnya? Dalam QS Ali Imran ayat 200 disebutkan kata sabar lebih dari satu kali: bersabarlah kamu (orang-orang yang beriman) dan kuatkanlah kesabaranmu.

Di masa muda, Ummi Tri adalah pemegang sabuk hitam karate, atlet provinsi Jawa Barat, pernah meraih medali emas dan ikut kejuaraan aikido di Jepang. Anggota paskibra juga, pecinta alam yang sudah naik 9 gunung, juara olimpiade daerah berenang, suka diving. Terbayang kan betapa bugar dan aktifnya, karena pasti memerlukan kekuatan fisik yang prima. Ternyata Allah menguji beliau dari segi jasmani juga. Dengan penyakit yang disandang, Ummi Tri sudah menjalani 7 kali operasi mulai dari nasofaring, trakea, otak stadium 4, ovarium kiri, usus buntu, dinding abdomen kanan yang berhubungan dengan rahim, sampai usus. Pernah juga 16 kali kemoterapi, 38 kali radioterapi, 170 kali fisioterapi. Ada dokter yang pernah memperkirakan bahwa umur Ummi Tri tak lama lagi, tetapi ternyata dokter tersebut malah berpulang lebih dahulu.

Sabar menurut terminologi bahasa adalah menahan dan mencegah diri. Sedangkan sabar menurut terminologi syariat adalah menahan diri untuk tetap mengerjakan sesuatu yang disukai oleh Allah atau menghindarkan diri dari sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Sehingga pegawai misalnya tidak tergoda untuk korupsi, orang yang cantik tidak tergiur menjual pesona ragawinya secara tidak terpuji. Termasuk yang tidak disukai oleh Allah adalah perilaku mengeluh dan memaki, menyalahkan Allah atas kondisi yang dihadapinya.

Sabar bukanlah pasrah atau menyerah, tetapi tetap berusaha untuk bertahan di jalan-Nya dalam kondisi apa pun. Keadaan manusia dipergilirkan sehat dan sakit, yang menikah yang pisah, yang kaya yang miskin, yang melahirkan yang keguguran, usia muda dan tua, masing-masing ada ujiannya sendiri. Orang kaya bisa saja diuji dengan hasrat menghamburkan uang, bukannya mempergunakan untuk ibadah. Ada yang diuji belum dikaruniai buah hati, ada juga yang putus asa karena merasa banyak masalah dengan adanya anak.

Coba diingat, kita lebih sering menyebut Allah ketika sehat atau sakit? Ujian yang sebenarnya adalah tetap ingat Allah di segala kondisi, lapang maupun sempit. Kadang kita sampai perlu diingatkan lewat teguran atau ujian agar tidak terus mendzalimi diri.

Sabar identik dengan kekuatan iman, timbul kareba keyakinan kepada Allah. Seorang dokter dari Jerman yang kagum pernah bertanya, “Ms Tri, what’s your power? Apa yang menjadi kekuatanmu?” Ummi Tri menjawab, “I don’t have power. The power is from my God.” Dokternya bertanya lagi, “Where’s your God?”, dan jawaban Ummi Tri adalah, “Allah is in my heart, my mind, my talking, my God is everywhere.” Kemudian ternyata dokter tersebut menyampaikan keheranannya, mengapa pasien kanker lain tidak seperti itu, ada yang putus asa atau menyalahkan takdir? Tanggapan Ummi Tri adalah, mungkin mereka belum mengenal Allah.

Apa reaksi kita jika merasa sudah sampai pada batas kesabaran? Marah, biasanya. Padahal kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat membuat masalah lain. Kemarahan tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kesia-siaan. Misalnya doa buruk seorang ibu yang sedang emosi bisa lho berdampak pada kehidupan anaknya.

Dengan bersabar, orang akan bisa berpikir tenang, jernih, husnudzon atau berprasangka baik, sehingga mudah mendapat solusi dari berbagai masalah yang dihadapi. Orang yang sabar selalu mengutamakan akal dan hati ketimbang emosi semata, maka hal ini bisa menjauhkan diri dari ketegangan jiwa atau stres.

Jenis-jenis sabar menurut penjelasan dari Ummi Tri yang tulisannya sudah dibukukan bersama ibu Pipiet Senja dengan judul Mengejar Pelangi ini adalah:

1. Sabar dalam ketaatan kepada-Nya.

2. Sabar dalam melawan hawa nafsu. Yang paling berat biasanya adalah 2m: malas dan marah. Maka orang yang dikatakan paling kuat adalah orang yang sabar.

3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan. Al-Anbiya ayat 35: kebaikan dan keburukan dalam hidup sebagai ujian.

4. Sabar untuk tidak melihat kenikmatan atau rezeki orang lain. Padahal orang itu kalau istilah jawanya sawang sinawang, saling melihat kemudahan atau kenikmatan yang diterima orang lain yang bisa memancing rasa iri, padahal tidak tahu dalamnya seperti apa.

5. Sabar dalam melawan kemunkaran /maksiat (diri, keluarga, dan masyarakat). Kadang, niat memberantas kemunkaran justru berbuah hal-hal yang tambah menguji kesabaran, misalnya dianggap tukang fitnah atau pengganggu ketenteraman.

6. Sabar dalam menunggu ketetapan Allah. Kewajiban kita usaha dan doa yang kuat, bersabarlah tentang kapan dan bagaimana Allah mengabulkan dan memberikan permintaannya.

7. Sabar dalam dakwah dan jihad fi sabilillah. Termasuk dalam mengajak dalam kebaikan, misalnya mengajak taklim.

Orang sabar punya keutamaan, yaitu:

1. Menunjukkan sebenar-benarnya iman dan taqwa (2:177).

2. Allah mencintai orang yang sabar (3:146). Level 1 adalah kenal (belum ada ikatan), level 2 dekat (kadang hanya karena butuh), yang tertinggi yaitu level 3 yaitu cinta. Dicintai suami saja bikin berbunga-bunga, bagaimana kalau dicintai Allah?

3. Kebersamaan Allah dengan orang yang sabar, yaitu dengan diberi kemudahan dan pertolongan dsb. (8:46 dan 2:153).

4. Mendapat pahala dan ampunan tanpa batas (11:11, 36:10, 16:126).

5. Mendapat balasan surga. Mungkin di dunia tidak merasakan kenikmatan, tapi balasannya nanti yang indah-indah di akhirat (25:75, 13:24).

Ujian kesabaran pernah datang saat Ummi Tri dulu menjadi pegawai sebuah pabrik produsen elektronik ternama. Jatuh cinta pada seorang rekan membuatnya menjadi feminin, dari yang awalnya, mengutip istilah beliau, tomboi dan koboi, cenderung kelelakian dan tak gentar menerjang risiko. Namun ternyata si pria sudah punya calon lain, patah hatilah Ummi Tri hingga sempat melampiaskan dengan perbuatan yang merusak sarana kantor. Nasihat dari sang ayah kemudian menyadarkan bahwa setidaknya peristiwa naksir itu ada hikmahnya, yaitu mengembalikan ke fitrah sebagai seorang perempuan.

Lantas Ummi Tri bercerita juga tentang perjalanan menuju pernikahannya. Ta’aruf sudah tiga kali dijalani dengan tiga orang berbeda. Yang pertama dan kedua mundur karena Ummi Tri secara terbuka bilang kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk punya anak. Baru yang ketiga yang mantap menerima dengan kondisi itu, termasuk penampilan fisik yang jelas kurang bersinar karena efek kemoterapi dan operasi-operasi yang menyusul kemudian, seperti kulit yang tak halus, rambut rontok, gigi tak lagi lengkap (makanya beliau di sebagian jamaah dikenal sebagai ‘ustadzah matic‘), kehilangan pendengaran salah satu telinga, penglihatan juga terganggu sampai harus memakai kacamata sekaligus lensa kontak. Namun, masya Allah, ternyata Allah lalu mempercayakan buah hati yang sehat ke Ummi Tri dan suami.

Selain berupaya sabar, kita juga perlu mewaspadai penyakit yang merusak kesabaran:

1. Tergesa-gesa (isti’jaal), ingin yang diharapkan datang secepat mungkin.

2. Memperturutkan marah (al ghadhab), termasuk misalnya walaupun di depan terlihat sabar tapi mengamuk di belakang.

3. Sering melihat kenikmatan orang lain.

4. Bersedih hati dan bersempit dada, nggak pede, misalnya terpikir “Duh, saya mah cuma begini orangnya”.

5. Mudah menyerah atau putus asa.

6. Keliru memahami hakikat bahagia, misalnya meletakkan ukuran pada materi semata.

Kiat menjadi sabar sudah disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

1. Yakinlah bahwa semua yang terjadi, baik atau buruk, adalah kehendak-Nya (67:1, 36:82).

2. Lebih mendekatkan diri pada Allah melalui ibadah dan doa (2:153, 186, 40:60).

3. Banyak dzikir atau mengingat Allah (3:191, 13:28).

4. Tidak memandang rezeki atau kenikmatan orang lain yang bisa menimbulkan iri (20:131).

5. Berada dalam komunitas orang-orang sholih yang selalu mengingatkan kita pada kebaikan (103:1-3, saling mengingatkan bisa diartikan sebagai bersama-sama, orang banyak yang saling menguatkan dalam kebaikan).

Belajar mensyukuri apa yang Allah beri, itulah kunci untuk menjadi sabar. Kesimpulannya, semua manusia tidak pernah lepas dari masalah hidup, tetapi orang beriman tidak pernah takut, sedih, dan menyerah dengan semua itu, karena kuatnya keyakinan pada pertolongan Allah. Keyakinan itulah yang menjadikan mukmin bersikap sabar dan ikhlas menjalani semuanya.

Advertisements

2 thoughts on “Sabar, Sejauh Mana Batasnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s