Memahami Gaya Belajar Anak

Materi #4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional
MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR

Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami kita lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, ketika banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.

Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar. Sehingga  anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label “bodoh”.

Zaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik:
Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar.

Dari sisi anak/siswa:
Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA.

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak (Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik (Teaching Styles) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak (Working Styles).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb: Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar* (catatan Leila: kalimat aslinya adalah “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn“, menurut saya terjemahan di materi ini agak tidak pas, sudah ditanyakan ke fasilitator dan katanya akan dibicarakan di tim tetapi belum ada lanjutan lagi).

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.

Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu:
a. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak (Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya (Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu (Art of Discovery and Invention)
d. Meningkatkan akhlak mulia anak-anak (Noble Attitude).

Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! Moment (teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?

Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.

Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak  melalui indra yang kita miliki.
Tiga macam modalitas belajar anak:
☘Auditori: modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Visual: modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktivitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Mari kita pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan bagaimana strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya masing-masing.

📌GAYA BELAJAR VISUAL (Belajar dengan cara melihat)
Lirikan ke atas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual, mata/penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak/dititikberatkan pada peragaan/media, ajak mereka ke objek-objek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.
Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.

📌 Ciri-ciri gaya belajar visual:
🌷Bicara agak cepat
🌷Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
🌷Tidak mudah terganggu oleh keributan
🌷Mengingat yang dilihat daripada yang didengar
🌷Lebih suka membaca dari pada dibacakan
🌷Pembaca cepat dan tekun
🌷Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
🌷Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
🌷Lebih suka musik
🌷Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
📝Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
📝Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
📝Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
📝Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
📝Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

📌GAYA BELAJAR AUDITORI (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan ke kiri/ke kanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya), untuk itu maka ibu/ guru sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.
Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandingkan dengan mendengarkannya.
Anak-anak seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

📌Ciri-ciri gaya belajar auditori:
🌷Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
🌷Penampilan rapi
🌷Mudah terganggu oleh keributan
🌷Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
🌷Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
🌷Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
🌷Biasanya ia pembicara yang fasih
🌷Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
🌷Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
🌷Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visual
🌷Berbicara dalam irama yang terpola
🌷Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara.

📌 Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori:
📝Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
📝Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
📝Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
📝Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
📝Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

📌  GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Lirikan ke bawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktivitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak  yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

📌  Ciri-ciri gaya belajar kinestetik:
🌷Berbicara perlahan
🌷Penampilan rapi
🌷Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
🌷Belajar melalui memanipulasi dan praktek
🌷Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
🌷 Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
🌷Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
🌷Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
🌷Menyukai permainan yang menyibukkan
🌷Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
🌷Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka

🌷Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.

📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
📝Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
📝Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan objek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
📝Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
📝Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

📝 Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik

Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri. Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati perkembangan mereka, maka kita pun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya mengajar kita, dan gaya bekerja kita. Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.

Anak-anak sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya anak-anak bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja dalam kehidupan ini. Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang terbarukan dalam proses belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang terbarukan dalam proses bekerja.

Don’t teach me, I love to learn
Salam Ibu Profesional,

Tim Fasilitator Bunda Sayang

📚Sumber Bacaan:
Gordon Dryden and Jeannette Vos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009
Barbara Prashnig, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang: Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016

===================================================================================================

📝🎻📚🎭🎼🎗🏊🏼🏀🤺🎖🤾🏻‍♀
Resume Kulwap pemateri tamu Bunda Sayang IIP SulSel
🕵🏻‍♀Judul: Gaya Belajar Anak

👩🏻‍🏫Pemateri: Bunda Euis Yuliyanti, M.Psi

🕢Waktu: Minggu, 22 April 2017
Profil Narasumber

Nama: Euis Yulianti, M.Psi, Psikolog

Panggilan : Uli

Status : menikah

Alamat: Panyileukan

Tlf : 082118880048

Pekerjaan: dosen,  konselor pendidikan
Pertanyaan:

1. Bunda Alde

Assalamu’alaykum

Anak saya sangat tertarik dengan hal-hal yang berbentuk simbol, angka dan huruf. Di umur hampir 3 tahun sudah bisa baca huruf dan angka, warna dan bentuk sederhana.  Sekarang mulai tertarik ketika saya sedang ngetik dan minta saya bacakan apa yang saya ketik. Kata-kata dalam buku, brosur, dll yang sering dilihat bisa dibaca seolah-olah sudah bisa membaca padahal belum bisa membaca. Saya yakin anak saya tipe visual, tapi sekali waktu saya surprise ketika tiba-tiba bisa hafal Annaba dari Hafiz Doll yang biasa saya putarkan. Apa anak saya bisa termasuk tipe auditori juga?
2. Bunda Wahyuni

Sudah bisakah anak seumur 1y5m untuk dipahami gaya belajarnya?
Jawaban untuk pertanyaan 1 dan 2

Gaya belajar tidak bisa diputuskan atau ditetapkan ketika anak masih dalam masa eksplorasi, usia 2-3 tahun masa-masa eksplorasi masa rasa ingin tahu yang tinggi. Tipe auditori, visual, kinestetik semuanya masih dalam proses perkembangan. Semua itu bisa muncul pada setiap anak dan bisa berubah karena mudah bosan. Anak seusia itu daya ingatnya tinggi, lebih suka melihat yang menarik dan gerakannya sangat banyak saat belajar. Itu biasa. Kita tidak bisa langsung menentukan tipe belajarnya apa. Nah  yang harus bunda lakukan terus eksplorasi terus latih kemampuan anak. Dan sebenarnya gaya belajar itu bisa saja campuran misalnya gaya belajar visual-auditori, auditori-kinestetik.

Anak usia di bawah 6 tahun masih dalam proses pencarian gaya belajar, nah tugas orang tua mengobservasi tanpa mengintervensi gaya belajarnya.
Tanggapan:

Bunda Alde

Terima kasih jawabannya, Bu Uli. Saya baru tahu kalau di bawah 6 tahun belum bisa ditentukan tipe belajarnya. Selama ini memang saya lebih banyak mengikuti keinginan Alde saat ingin belajar. Jadi saya melihat mood-nya.

3. Pada level kedua SI dikatakan bahwa ketika anak dibatasi untuk menggigit, membanting dsb maka ada dua kemungkinan yang terjadi: pendiam atau hiperaktif. Pertanyaannya sampai di mana tolok ukur membiarkan anak dalam level kedua ini bereksplor. Anak saya saat ini suka memukul-mukul muka saya trus merusak dinding rumah yang memang sudah retak lalu memakannya. Bagaimana menyikapi ini, Bunda, agar tidak tercederai kebutuhan SI nya pada level kedua ini. Terima kasih.
Jawaban:

Untuk sensory integration, betul anak harus bereksplorasi terutama mengeluarkan energi dan emosinya, tetapi bukan berarti kita harus membiarkan. Bayangkan kalau kita membiarkan anak membanting barang atau menggigit apa pun yang dia sukai, itu sama halnya dengan kita tidak mengajarkan kontrol diri. Tetap kita harus menghentikan dengan cara yang dipahami anak. Kasih tahu kalau itu tidak baik, dampaknya seperti apa tentu saja sesuai dengan pola pikir anak. Anak harus bereksplorasi tapi harus ingat anak tidak tahu bahayanya apa kalau orang tua tidak membimbing dan mengontrolnya.
Tanggapan:

Bunda Fia

Bu Uli..jawaban untuk yg no.3..dalam kata lain orangtua harus memberi batasan juga ya. Mana yang boleh mana yang tidak boleh..nah, bagaimana caranya kita bisa mengeksplor anak seluas-luasnya namun anak taat juga terhadap adab.. 🙏
Jawaban:

Betul batasan harus ada, aturan harus ada. Kita tidak melarang anak. Tapi memberikan pemahaman sama anak. Tapi kita harus ingat anak bukan dewasa mini. Cara kita menyampaikan ke anak bukan seperti kita mentransfer apa yang menurut kita tidak baik, tetapi kita masuk dunia anak, misal dengan cerita. Anak itu semakin dilarang semakin penasaran semakin dibiarkan semakin semaunya dia.
Ketika misalnya anak mendorong temannya bukan berarti kita harus langsung mengatakan jangan mendorong, kalau itu  dilakukan maka kita akan mematahkan pembebasan emosi anak akhirnya anak akan memendam dan itu bahaya. Tapi kita harus tanya dulu kenapa menendang, sakit nggak kira-kira kalau ditendang, selain nendang apa lagi yang bisa dilakukan, sambil dipeluk.

4. Bu Uli..ikut bertanya. Apakah gaya belajar dipengaruhi faktor genetik?
Jawaban:

Sedikt ditentukan faktor genetik, yang paling besar ditentukan oleh eksperimen, mencoba sesuatu yang baru. Lingkungan sangat mendukung pembetukan gaya belajar. Iya, kecenderungannya memang ada, tapi bukan berarti itu sudah menetap. Gaya belajar akan terbentuk di saat anak terus mencari cara belajar yang nyaman. Anak yang biasanya menentukan cara belajar yang nyaman, tugas kita mengarahkan.

5. Bu Uli, katanya anak idealnya diajar membaca dan berhitung saat umur 7 tahun. Bagaimana kalau anak sendiri yang tertarik?
Jawaban:

Iya betul, usia 7 tahun itu usia matang. Kenapa anak TK tidak diharuskan untuk bisa calistung karena belum waktunya. Khawatir menjadi paksaan buat anaknya. Beda kalau anak yang usia 7 tahun ke bawah tapi sudah mau belajar baca, gpp karena anak enjoy. 7 tahun kebawah itu bermain sambil belajar. Anak TK harus diajarkan dasar calistung bukan diajarkan calistung. Kalau anak mau sendiri, itu bonusnya. Tugas kita menumbuhkan kesukaan dan menstimulasi kemampuan anak.

6. Bunda Eli

Anak saya laki-laki usia 9 tahun. Setelah saya amati ternyata gaya belajarnya kinestetik karena tidak bisa diam dan cenderung kreatif. Nah pada saat dirumah Alhamdulillah kami tidak memaksanya, gaya belajar tergantung dia sukanya apa dan kami pelajari bagaimana cara cepat memahamkan pelajarannya. Nah yang jadi masalah di sekolah gaya belajar anak disamaratakan oleh gurunya sehingga saya melihat banyak pelajaran yang tidak terlalu dipahaminya. Apa yang sebaiknya saya lakukan, Mbak?
Jawaban:

Betul bunda guru tidak akan menghiraukan cara belajar anak. Karena kebayang repotnya kalau harus memperhatikan gaya belajar anak satu-persatu. Tapi kalau buat saya yang paling penting, anak bisa mengikuti bisa adaptasi di kelas ketika belajar. Pada dasarnya gaya belajar itu berguna untuk memahami materi. Klo anak bisa memahami materi dengan gaya belajar kinestetik ya sudah tapi di kelas, dia harus adaptif. Bunda harus mengajarkan kesabaran dalam berproses, latih Ananda untuk bisa fokus diri tanpa bergerak.
Tanggapan:

Iyya mbak. Apakah karena kinestetik makanya semua yang dipegang dimasukkan ke mulut mbak?
Jawaban:

Apa yang dimasukkan? Saat apa dia memasukkan sesuatu ke mulut? Bukan karena kinestetik. Nanti diingatkan dulu yah ketika dia menggigit remot atau pulpen, sebelum itu bunda coba ngobrol berdua apa yang dirasakan ketika menggigit pulpen atau yang lain, kalau lagi menyimak trus menggigit sesuatu dampaknya apa.

Coba tanyakan yah bun, sepertinya ini bisa dihentikan. Tanyanya bukan saat dia menggigit, tapi malem aja sambil cerita-cerita. Saat dia tenang.
Tanggapan:

Trus satu lagi…Anak saya termasuk doyan sekali makan… Sepertinya pengen ngunyah terus mulutnya🙈🙊

Apakah ini juga dampak dia anak kinestetik, Mbak?
Jawaban:

Bicaranya banyak nggak? Termasuk yang cerewet nggak? Bisa mengeluarkan apa yang dirasakan atau dipikirkan dengan mudah?

Gaya belajar itu  mempengaruhi pemahaman saat mempelajari, jadi anak bisa lebih memahami materi dengan mudah kalau tau gaya belajarnya tipe apa. Misal ketika anak mau mengingat sesuatu, kalau tipe visual bisa dengan membuat garis warns warni atau stabilo di catatannya, kalau kinestetik menghapal sambil berjalan atau sambil ngomong sendiri.

Nah kalau anak yang doyan makan nggak ada pengaruhnya ke tipe belajar.., tapi nanti memengaruhi energinya menjadi lebih besar itu mendukung tipe kinestetik. Disalurkan aja energinya ke hal-hal yang positif, bantu ibunya misalnya melakukan pekerjaan rumah, itu lebih baik.

Penutup:

Alhamdulillaah..Jazakillaah khairan katsiiran, Bu Uli atas waktu dan ilmu yang disharingkan, semoga menjadi amal jariyah, ilmunya semakin bertambah dan barokah.. Aamiin… 😇
Bu Uli:

Wuaaah👍🏻👍🏻 alhamdulillah, seneng bisa berbagi disini, barakallah. Salam hangat untuk semua bunda-bunda hebat. Semoga bisa semakin mengenali karakter dan “kebutuhan” anaknya. 😘😘
🎼🎭📚🎻🤺🏊🏼🎗🕵🏻‍♀🎖👩🏻‍🏫🤾🏻‍♀

========================================================================================

🥝🥑 Cemilan Rabu 🥑🥝

Materi #4 Memahami Gaya Belajar Anak
📑Fitrah Belajar📜

——————————-
“Anakku malas belajar”

Pernah dapat keluhan ini dari teman-teman sejawat? Atau dari tetangga? Saudara? Atau kita sendirilah yang mengeluhkan hal ini?
Benarkah anak-anak kita malas belajar? Atau jangan-jangan kitalah yang terlalu mengkotak-kotakkan pengertian belajar, sehingga menjadi “duduk diam di meja belajar sambil baca buku atau menulis/menyalin”?

Fitrahnya setiap anak adalah pembelajar sejati, bagaimana tidak?

Setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh, bayi tidak memutuskan merangkak seumur hidupnya, namun ia menuntaskan belajar berjalan dengan gigih, sampai bisa berlari dan melompat. Setiap bayi yang dilahirkan adalah penjelajah yang penuh rasa ingin tahu (discoverer, curiousity) setiap sudut rumah jadi targetnya. Setiap bayi yang lahir juga penuh dengan daya imajinasi kreatif. Lihat saja, di tangan kanak-kanak kita, sangkutan baju jadi pesawat, kursi jadi kuda pacu, awan dicat berwarna ungu, matahari berubah pink (merah muda), dan lain sebagainya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.

Lalu mengapa bisa berubah menjadi enggan atau malas belajar? Jangan-jangan kitalah yang telah mengubur dan menyimpangkan fitrah belajarnya.
Apa saja yang bisa mencerabut fitrah belajar anak-anak kita?
1. Pendidik (orangtua/guru) yang terlalu menyetir proses belajar anak, sehingga daya kreatif anak lumpuh.
2. Pendidik yang terlalu banyak menyarikan materi, anak-anak tidak berkesempatan memaknai dan menemukan asosiasi antara ide-ide, sehingga daya pikirnya tidak terlatih.
3. Buku teks yang digunakan tak mengandung ide-ide menggugah.
4. Dipakainya kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak-anak bukan belajar karena “rasa ingin tahunya”.

Kita tidak bisa memastikan buku mana yang akan menggetarkan jiwa seorang anak; lukisan atau komposisi mana yang akan memantik apresiasi seninya; kunjungan ke tempat historis mana yang akan membangkitkan kesadaran sejarahnya. Setiap anak akan memberi respon secara berbeda-beda sesuai keunikan minat dan kepribadian mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membuka akses selebar-lebarnya untuk mereka pada seberagam mungkin ide yang berharga (Charlotte Mason).

Banyak orang mengira, kemampuan manusia yang utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhan pun, Allah ciptakan mampu beradaptasi. Demikian juga, jika kita menganggap kemampuan utama manusia itu adalah kompetisi, karena sesungguhnya hewan dan jin pun berkompetisi.

Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yang utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasi dan mewariskan pengetahuan sebagai produk dari potensi fitrah belajarnya. Seribu kera bisa dilatih memancing ikan, namun tidak satupun dari mereka mampu menciptakan kail dan mewariskan pada anak-anaknya.

Sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki potensi fitrah belajar. Para orang tua/pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak-anaknya. Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtuanya yang terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatan untuk semakin menjadi dirinya.

sumber bacaan:

Fitrah Based Education, 2016, Harry Santosa, Yayasan Cahaya Mutiara Timur.

💾💾💾💾💾💾💾💾💾💾

🍒🍈Cemilan Rabu 🍒🍈
Materi #4 Memahami Gaya Belajar Anak
🌱 ANAK ADALAH BENIH KEHIDUPAN  🌱

Banyak orangtua mengeluhkan anak tidak mau mengikuti perintah atau malah melakukan hal yang dilarang. Pada prinsipnya, anak bukanlah kertas kosong yang akan pasif menerima semua perintah atau perlakuan dari lingkungan sekitar. Sebaliknya, anak memiliki gambar dan warna sendiri yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Maka pendidikan seharusnya tidak menyamaratakan anak, tetapi memahami keistimewaan anak dan mengembangkannya.

🐥 Motivasi Eksternal & Motivasi Internal 🐣

Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Pink memberikan hasil bahwa dorongan dari luar berupa ganjaran dan hukuman pada anak tidak efektif dalam mendidik anak. Apabila seorang anak diberikan iming-iming saat berhasil dengan satu tantangan, anak memang bisa lebih cepat bertindak, namun dampaknya cepat menghilang dan menimbulkan ketergantungan. Motivasi internal berarti menumbuhkan kesadaran pada diri anak, menghargai anak sebagai benih kehidupan. Hasilnya tidak terlihat langsung karena lebih lambat dalam membentuk perilaku. Namun, motivasi internal ini memberikan dampak yang lebih lama, membangun kemandirian anak dan bisa membantu anak dalam menyelesaikan tugas yang kompleks dan butuh kreativitas.

Anak lahir dengan kecerdasan tertentu yang butuh ditumbuhkembangkan secara optimal. Keberagaman potensi anak perlu dipahami oleh orangtua dan kemudian mendidik anak sesuai dengan potensinya tersebut. Pendidikan yang menumbuhkan meyakini bahwa anak adalah benih kehidupan. Benih yang mempunyai karakteristik tertentu, bukan kertas kosong, anak akan bergerak sendiri, mencari tahu, mengenali, memuaskan rasa ingin tahunya.

Ibarat benih, anak lahir dengan kekuatan menggerakkan akar-akar ke dalam tanah untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Anak akan terus menerus bergerak hingga menemukan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahunya. Anak dengan komposisi kecerdasan visual akan tertarik pada hal-hal yang memuaskan kebutuhan visualnya. Demikian juga anak dengan komposisi kecerdasan lainnya. Komposisi kecerdasan ini akan mengambil peran pada gaya belajar anak.

Apakah seseorang hanya mempunyai kecenderungan salah satu gaya belajar? Belum tentu, bisa saja ia memiliki modalitas belajar perpaduan dari ketiga ciri tersebut. Tugas kita para pendidik (orangtua/guru) adalah memberikan stimulasi dengan ketiga ciri gaya belajar dimaksud.

“Yang penting anak pernah merasakan semua gaya belajar. Secara fitrah dirinya akan belajar mengikuti “suara hati kecil” akan menggunakan gaya yang mana, atau mengkombinasikan banyak gaya bergantung badai yang dihadapi. Ikuti suara hati kecil itu biarkan dia yang bersujud membisikkan ke seluruh bumi dan diamini oleh seluruh penghuni langit.” (Septi Peni Wulandani). 🌏🌏
Sehingga ilmu itu jadi berkah.

Sumber:

Anak Bukan Kertas Kosong, 2015, Bukik Setiawan, Panda Media.
Diskusi ringan di kelas Bunda Sayang Koordinator IIP bersama Ibu Septi Peni Wulandani, Founder Institut Ibu Profesional.

Salam Ibu Profesional,

Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s