Lagi, Menyimak Bahasan Fitrah Anak Bersama Ustadz Harry

Sabtu lalu, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional), Institut Ibu Profesional Jakarta menyelenggarakan Kopdar Akbar sekaligus Wisuda Kelas Matrikulasi IIP Batch #3. Tahun lalu saya tidak kesampaian ikut wisuda ‘angkatan’ saya yaitu batch #2, alhamdulillah masih bisa ikutan yang sekarang.

Kopdar IIP bukan kopdar biasa pastinya. Kopdar ini sekaligus dijadikan sarana untuk menambah ilmu. Kali ini yang diundang untuk berbagi adalah Ustadz Harry Santosa, founder HEbAT (Home Education based on Akhlak and Talent) Community dan penulis buku Fitrah Based Education. Tema materi dari Ustadz Harry adalah Mendidik Fitrah Iman Anak Usia Pra-Aqil Baligh. Berikut catatan saya dari materi yang beliau sampaikan, sebetulnya secara garis besar sama sih dengan workshop atau seminar Fitrah Based Education yang pernah saya ikuti, tapi belum sempat diposting di blog ini.


Jika kita amati akhir-akhir ini, tantangan zaman semakin banyak. IIP menurut Ustadz Harry menjadi embun penyejuk dengan kekuatan ibu-ibu yang bersama bergandengan tangan untuk siap menjadi arsitek peradaban. Salah satu tantangannya adalah mudahnya orang sekarang ikut arus. Anak yang dididik dengan baik sekarang, ke depannya belum tentu terjaga fitrah belajarnya dengan baik. Padahal semua anak terlahir dengan fitrah belajar, semuanya pasti suka belajar. Lihat saja bayi yang pantang menyerah belajar berjalan meskipun berkali-kali jatuh. Namun, mengapa lama-lama belajar menjadi hal yang membosankan, tidak menyenangkan, bahkan yang ditunggu adalah tibanya saat pulang dari tempat belajar atau liburan. Pada dasarnya semua orang suka belajar, kalau terlihat tidak suka belajar bisa jadi objek belajarnya yang tidak relevan atau gaya belajarnya belum cocok.

Kita mendidik anak dalam rangka mengantar anak menuju tugasnya sebagai khalifah, menumbuhkan fitrahnya agar menjadi peran-peran peradaban terbaiknya. Allah sudah berikan misi pada tiap makhluk-Nya, misalnya dinosaurus diwafatkan karena tidak kompatibel lagi dengan manusia. Allah juga ciptakan life system untuk men-support.

Masa dewasa dalam Islam dimulai pada usia 15 tahun, umumnya anak sudah aqil baligh di umur itu, jadi tidak ada istilah remaja, setelah fase anak ya fase dewasa. Di usia itu seharusnya sudah bisa mandiri, kalaupun masih dibiayai orangtua maka jatuhnya jadi sedekah. Sekarang, usia 25 banyak yang masih bingung bakatnya apa, terlalu tergantung pada orangtuanya, karena selama hidupnya hanya jadi robot pembelajar. Bahkan lulusan universitas terbaik pun belum tentu memperbaiki peradaban. Otak cerdas, tetapi gersang jiwanya, tidak menjadi human being. Skripsi bisa jadi merupakan karya pertama dan satu-satunya seumur hidup. Coba kita lihat pendidikan anak usia dini sekarang yang seharusnya mendidik anak sesuai fitrah usianya, tetapi justru didesain menjadi sekolah persiapan untuk memasuki SD.

Usia 15 tahun juga menjadi batas awal untuk memasukkan anak boarding school jika diperlukan. Di bawah 15 tahun sebaiknya anak belum dikirim ke sekolah berasrama atau pesantren, karena fitrah seksualitasnya belum matang.

Untuk fitrah seksualitas ini urutannya adalah sbb: 0-2 tahun dekat ke ibu dalam masa pemberian ASI (sebaiknya diberikan secara langsung dan tidak disambi kegiatan lain, bahkan termasuk ikut kelas online :D); 2-6 tahun dekat ayah dan ibunya; 7-10 tahun dekatkan dengan orangtua yang sejenis agar paham potensi keayahan/kebundaannya, berikan contoh bagaimana misalnya bunda jago masak dan menjahit, ayah ikut rapat-rapat dan kegiatan kemasyarakatan; 11-15 tahun kedekatan ke ayah dan bunda ‘disilang’, jadi anak perempuan didekatkan dengan ayah dan anak laki-laki didekatkan dengan bunda agar memahami karakter dari kaca mata jenis kelamin yang berbeda.

Di usia sebelum 15 tahun, kalaupun mau agar anak belajar intensif ke ulama atau ahli di bidangnya maka bentuknya adalah dengan ikut tinggal sementara di rumah beliau, bukan sekolah berasrama yang cukup lama. Mendidik anak sendiri, tidak menyerahkan ke sekolah berasrama, sebetulnya juga bagus. Generasi kelahiran 80-an biasanya memang mulai berkurang kepercayaan pada lembaga pendidikan formal yang kaku, tetapi untuk mendidik sendiri katakanlah homeschooling sepenuhnya juga tidak berani. Sebetulnya, ustadz Harry mengingatkan, jangan takut tidak mampu karena ilmu bisa dipelajari, dan yang lebih penting adalah peranan kita untuk menumbuhkan kecintaan.


Fitrah adalah sesuatu yang Allah ‘install’ pada diri kita agar siap menerima Islam dan perintah-perintah-Nya, tugas kita sebagai orangtua adalah membangkitkannya. Bisa dilihat bahwa bayi pada umumnya bangun sebelum waktunya Subuh, sesuai dengan syariat untuk sholat Subuh. Semua anak pada fitrahnya suka bergerak, tetapi orangtuanya yang menahan agar lebih ‘tenang’. Bayi suka makanan alami bukan junk food, jijik pada najis, tetapi seringkali demi kepraktisan orangtua menerapkan gaya hidup yang tidak memupuk fitrahnya tersebut.

Contoh fitrah bakat anak: pendiam, cerewet, kepo, keras kepala, cengeng. Masing-masing ada sisi positifnya kok. Ada saja peran istimewanya kelak, contohnya anak cerewet, kepo, kita anggap nakal, padahal di masa depan dia berpotensi jadi penceramah, anak yang guyub bisa jadi duta besar atau humas, anak keras kepala bisa jadi pemimpin yang tangguh, anak yang moody bisa jadi pujangga atau sastrawan. Hebat bukan selalu berarti bakat ya, bisa jadi anak hebat di satu bidang tapi sesungguhnya tidak bahagia menjalaninya. Terkait bakat dan akhlak, ustadz Harry mencontohkan bahwa menghafal Al-Qur’an itu akhlak, tetapi menjadi hafidz itu bakat. Jadi setiap kita memang wajib berupaya menghafal Al-Qur’an sekuat kemampuan, tapi yang menjadi hafidz perlu bekal bakat khusus.

Untuk menyikapi krisis zaman, Ustadz Harry menyarankan kita mengambil langkah yang bisa dimulai dengan memahami:
Purpose of life. Memahami maksud penciptaan dan kaitan dengan Landscape Peradaban. Start from the end. Mengambil tanggung jawab ummat sebagai tanggung jawab personal.
Autonomy of mission, memilih peran yang tepat (kewajiban/karunia zaman, potensi fitrah yang dibutuhkan kaum dan tempat di mana dia dilahirkan, membaca arah jalan sejarah – realitas sosial, problematika ummat.
Mastery for innovation, cara untuk melakukan peran. Kompetensi. Inovasi: kombinasi rasa berani dan rasa penasaran (tidak perlu kecerdasan), keduanya akan tumbuh ketika anak tumbuh sesuai fitrah yang diberikan oleh Allah swt. Banyak bersyukur atas fitrah anak apa pun itu, fokuslah pada cahaya anak dan ia akan melebar dan kegelapan menjadi tidak relevan. Beberapa poin di sini sejalan dengan materi yang disajikan dalam kuliah Institut Ibu Profesional selama ini.
Relatedness, jadi pada akhirnya kita berserah pada taufiqullah.


Adab: perbuatan yang bermartabat dan berderajat sesuai dengan fitrahnya, jadi sebetulnya tidak bisa disamaratakan. Misalnya adab saat taklim, duduk diam rapi harus dengarkan, ini sebetulnya belum pas untuk anak. Untuk membuat anak nurut, gampang saja, pakai shortcut marahi atau bahkan pakai alat bantu yang bikin kapok, selesai. Tapi tentu ini merusak anak. Gunakan pendekatan fitrah sesuai usia anak. Anak yang cerewet bukan berarti tidak berakhlak, hanya potensinya yang belum tampak.

Sejak awal yang perlu ditanamkan adalah gairah dan kecintaan pada sholat. Disebutkan Allah perintah sholat 7 tahun, tugas orangtua menyiapkan anak agar gembira ketika saat itu datang, hindari jadi ‘bertanduk’ dan menakuti anak mengenai sholat ini. Arahkan ke imaji yang baik-baik, ceritakan tentang surga yang indah dan banyak hal menyenangkan tanpa perlu lebay, kecuali anak bertanya misalnya tentang neraka, itu pun secukupnya saja.

Anak egosentris tidak mau berbagi? Seringkali orangtua malu anak ‘pelit’ dengan yang lain, apalagi kalau orangtua anak lain ini melihat. Padahal egonya juga perlu dijaga, nanti sambil jalan kita ajarkan indahnya berbagi. Anak yang egonya tidak tumbuh dengan baik di 7 tahun pertama, tidak diberi kesempatan belajar memilih atau memutuskan untuk hal-hal tertentu, nantinya akan tumbuh menjadi orang dewasa yang penuh bimbang dan sulit memilih. Kalau mau mengajar berbagi, pakai cara ceritakan kisah indahnya berbagi, ajak langsung berbagi ke yang lebih membutuhkan, bukan dengan memaksa anak berbagi miliknya.


Fitrah Perkembangan:
– Pra latih 0-2 tahun, 3-6 tahun: Mengokohkan dan merawat fitrah sebagai konsepsi fundamental melalui imaji positif dan kecintaan di keluarga.
– Pra aqil baligh 1: 7-10: Menumbuhkan dan menyadarkan fitrah sebagai potensi melalui interaksi dan aktivitas di alam dan lingkungan.
– Pra aqil baligh 2: 11-14 tahun: Menguatkan dan menguji fitrah sebagai eksistensi peran yang dibutuhkan melalui ujian dan tanggung jawab pada kehidupan, zaman, dan problematika sosial.
– Post aqil baligh: 15 tahun: Menyempurnakam fitrah sebagai peran peradaban.

Fase 0-6 tahun adalah fase pengenalan tauhid Rububiyatullah. Pada fase 7-10 tahun, fasenya tauhid Mulkiyah, Allah sebagai pembuat hukum dan kita loyal kepada-Nya, ada perintah sholat. Usia 11-14 tahun, ini fase tauhid Uluhiyah, diuji dalam kehidupan nyata.

Pukulan ketika tidak sholat umur 10 tahun itu tepukan sayang, bukan punishment. Tidak boleh menyakitkan, memalukan, dan membekas. Rasulullah tidak akan pernah menyakiti anak-anak. Di usia 7 tahun itu belum kewajiban, melainkan untuk memahami ketaatan karena fitrahnya sudah cenderung ke fitrah sosial. Usia 7 tahun adalah saatnya anak perlu melaksanakan adab, dan shalat itu adalah adab kepada Allah. Kalau sudah lewat usia 7 dan anak fitrah keimanannya belum terbentuk, termasuk misalnya sholatnya hanya mekanistik ataupun karena takut dimarahi ortu, maka perlu diulang dari awal, bisa dengan cara diingatkan atau bisa pula homestay di tempat orang shalih (bukan diasramakan ya). Ada baiknya anak sejak usia 10 tahun punya pengarah seperti murabbi untuk akhlaknya dan maestro untuk bakatnya.

Sifat jadi potensi, potensi jadi peran. Kalau sudah 7 tahun biasanya sudah lebih terlihat dan menetap. Peran bisa saja berubah, tapi fitrah akan konsisten. Tugas kita mengamati dan mencatat bakat-bakat yang muncul, susun portofolio anak.

Dalam membersamai anak, terapkan 3R:
1. Relevankan aktivitas dengan sifat/fitrahnya.
2. Relation, kedekatan atau cinta yang kuat
3. Reason, temukan dan sampaikan alasan yang kuat mengapa perlu begini atau begitu, libatkan anak khususnya yang sudah 7 tahun ke atas untuk menyusun visi keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s