Kaum Lanjut Usia Bukan Berarti Tak Berdaya

Beberapa waktu yang lalu salah satu komunitas yang saya ikuti mengumumkan rencana untuk mengadakan bakti sosial di Panti Tresna Werdha, sebuah panti jompo di kawasan Jakarta Timur. Tadinya saya kira ini panti jompo yang sama dengan yang pernah saya kunjungi dengan teman-teman milis Cita Cinta sekitar 11 tahun yang lalu, tapi sepertinya berbeda. Mengunjungi panti jompo dan melihat beliau-beliau yang berusia lanjut dengan kondisi masing-masing menurut saya menerbitkan haru. Banyak yang tetap antusias berkegiatan dengan rekan-rekan seusianya, tetapi ada juga yang mungkin tidak se-bersemangat kawan lainnya. Akankah kita kelak diberi kesempatan menjalani masa tua yang bahagia, atau yang lebih dekat lagi dapatkah kita merawat orangtua kita dengan baik dengan tangan sendiri agar beliau tetap merasa nyaman di usia senja?

Baca juga: Indahnya Berbagi dengan Para Kakek dan Nenek di Bulan Ramadhan

Hari ini, 29 Mei ternyata diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional sejak tahun 1996. Tema tahun ini adalah “Hidup Bermartabat di Usia Senja, Lansia Sejahtera”. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2014 menunjukkan penduduk lansia mencapai 20,24 juta jiwa atau 8,03% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kalau kata BKKBN, lansia sebagai golongan yang telah memiliki pengalaman hidup diharapkan bisa membagi pengalaman hidup untuk generasi muda.

Bicara soal lansia, salah satu yang mungkin perlu dicermati adalah pengkategoriannya. Tak lama setelah pindah ke Jakarta sini, saya dibuat takjub oleh pengumuman lewat speaker dari masjid dekat rumah. Kata ibu-ibu yang membacakan pengumuman tersebut, hari itu akan diadakan Posyandu Lansia. Wah, saya baru tahu kalau ada kegiatan Pos Pelayanan Terpadu selain untuk bayi dan anak. Yang lebih membuat saya kaget adalah ketika ibu itu melanjutkan pengumumannya, “Bagi warga RW… yang berusia 45 tahun ke atas, dipersilakan untuk mengikuti kegiatan dimaksud.” Lha, 45 tahun sudah lansia? Kalau ada yang meninggal di usia itu, kebanyakan orang akan menyebut “masih muda padahal”, kan? Beberapa teman dan atasan di kantor dengan usia itu pun masih tampak energik, belum kelihatan tanda-tanda penuaan walaupun kalau ngobrol sudah mulai sebut-sebut soal ‘faktor U’ dan keharusan lebih menjaga pola makan mengingat umur sudah mendekati setengah abad. Bayangan saya tentang lanjut usia ya itu, separo abad ke atas lah setidaknya.

Setelah cek sana-sini, ketemulah bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun. Undang-Undang Nomor 4 tahun 1965 menyatakan bahwa seseorang dapat dinyatakan sebagai orang jompo atau usia lanjut setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. Sedangkan Undang-Undang No 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menyebutkan bahwa batasan umur lansia di Indonesia adalah 60 tahun ke atas. Sumber lain (Depkes 2006?) membagi pengelompokan lansia menjadi: Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan kematangan jiwa (usia 55-59 tahun); Usia lanjut dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai memasuki masa usia lanjut dini (usia 60-64 tahun); serta Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degeneratif (usia >65 tahun).

Ada referensi di internet yang menyebutkan bahwa definisi lanjut usia menurut Depkes RI (2009) seperti ini: masa lansia awal 46- 55 tahun, masa lansia akhir 56 – 65 tahun, masa manula mulai 65 tahun. Tetapi saya belum berhasil melacak sumber aslinya, apakah ada dalam peraturan atau apa. Yang dikutip di publikasi Infodatin resmi Kemenkes untuk Hari Lanjut Usia Nasional 2016 (saya belum menemukan yang tahun ini) juga masih UU 13/1998 atau dengan kata lain batasnya 60 tahun. Mungkin warga yang berumur 45 tahun sudah mulai diajak bergabung karena merujuk ke definisi lansia awal ya, sekaligus membiasakan agar nanti sudah familiar untuk rajin mengikuti Posyandu Lansia ke depannya. Kalau tidak salah ingat ada juga kader yang menjawab pertanyaan saya mengenai hal ini di facebook, katanya supaya tidak terputus saja untuk program pembinaan kesehatan masyarakat. Kalau ibu-ibu usia produktif kan bisa sekalian dikontrol lewat Posyandu Balita, kemudian yang usianya jelas sudah sepuh ikutan Posyandu Lansia, nah yang usia tengah-tengah seperti 40-45 tahun dikhawatirkan tidak terpantau.

Usia senja identik dengan kondisi kesehatan yang tak lagi prima. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 tahun 2016 tentang Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia Tahun 2016-2019 juga menerangkan bahwa makin bertambah usia, makin besar kemungkinan seseorang mengalami permasalahan fisik, jiwa, spiritual, ekonomi dan sosial. Salah satu permasalahan yang sangat mendasar pada lanjut usia adalah masalah kesehatan akibat proses degeneratif, hal ini ditunjukkan oleh data pola penyakit pada lanjut usia. Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, penyakit terbanyak pada lanjut usia terutama adalah penyakit tidak menular antara lain hipertensi, osteoartritis, masalah gigi-mulut, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan Diabetes Mellitus (DM).

Saya kutip dari twitter Ditjen Kesmas, upaya untuk mempersiapkan masyarakat active aging atau menua yang sukses meliputi hal-hal sebagai berikut:
  1. Diet. Konsumsi makanan rendah kalori, lemak, karbohidrat, produk daging, produk susu. Sebaliknya konsumsi makanan tinggi sayuran (sayur hijau dan akar), kacang-kacangan seperti kedelai, tinggi serat, dan konsumsi sedang produk ikan.
  2. Aktivitas fisik. Seperti aktivitas penguatan otot, peningkatan fleksibilitas & keseimbangan, & aktivitas aerobik.
  3. Cognitive training, seperti membaca, teka-teki silang, catur dll. Latihan kognitif 6jam/minggu dapat menurunkan risiko kejadian demensia.
  4. Vaksinasi dewasa yang diperlukan lansia. Jenis-jenis vaksin dewasa bisa dibaca di postingan saya mengenai Vaksinasi Dewasa.

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 138 ayat (1) menetapkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan. Selanjutnya, ayat (2) menetapkan bahwa Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomis. Salah satu kegiatannya, ya Posyandu Lansia ini.

Dari pengumuman penyelenggaraan Posyandu Lansia di area tempat tinggal saya, pelayanannya sih nggak jauh beda ya dengan Posyandu bayi/balita. Katanya ada penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Ada juga pengukuran tekanan darah, yang tidak ada di Posyandu bayi/balita sependek pengetahuan saya. Hipertensi atau tekanan darah tinggi memang merupakan penyakit terbanyak lansia di Indonesia menurut Riskesdas 2013. Sedangkan untuk layanan lain seperti pengukuran kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat, diberitahukan bahwa ada biaya yang dikenakan alias tidak gratis, yang terhitung murah sekali. Resminya sih Pelayanan Posyandu Lansia menggunakan sistem pelayanan 3 meja, yang meliputi pendaftaran lansia, pengukuran tinggi badan dan penimbangan berat badan; kegiatan pencatatan berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh (IMT) dan pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus; serta kegiatan penyuluhan atau konseling, dan pelayanan pojok gizi. Seperti halnya Posyandu Bayi/Balita, Posyandu Lansia juga punya Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi. Sepertinya juga ada program Pemberian makanan Tambahan (PMT).

Nah, kembali ke pengumuman Posyandu Lansia, beberapa waktu yang lalu saya mendengar pengumuman serupa di tempat lain, tepatnya saat sedang naik angkot. Berbeda dengan yang biasa saya dengar, yang mengumumkan kali ini adalah bapak-bapak. Kalimat yang digunakan lebih santai, cenderung tidak baku, dengan nada yang menyemangati alih-alih memberi imbauan. Menarik juga, menurut saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s