Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Masih dari Diklat Jurnalistik minngu lalu, tulisan yang ini adalah hasil editan saya dari soft news tulisan teman sekelompok. Alhamdulillah dapat hadiah cokelat lagi dari pengajar untuk tugas penyuntingan ini, hehehe. Jadi kami diminta saling mewawancarai, lalu menyusun tulisan berdasarkan hasil wawancara, dan ditukar silang lagi dengan pasangan lain sekelompok untuk belajar penyuntingan. Ada beberapa hal yang saya rombak dari tulisan asli mas A yang awalnya bertugas mewawancarai mba L, khususnya bagian awal, judul, dan urutan alur cerita. Sejumlah rincian saya tambahkan dari obrolan kami berdua. Atas permintaan mba L, teman sekelompok juga, nama beliau saya samarkan :).

Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – L (41) mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan. “Pedas banget,” katanya. “Dulu padahal saya penyuka pedas, lho. Tapi banyak yang  berubah belakangan ini,” sambungnya.

Pegawai Kementerian Keuangan ini memang mengalami perubahan besar dalam hidupnya setahun belakangan. Tepatnya sejak ia didiagnosis menderita kanker nasofaring pertengahan tahun 2016.

Awalnya, L hanya merasakan telinganya berdengung. Namun, seiring waktu berlalu, ia mulai merasakan migrain yang berlangsung lama.

“Pada bulan Ramadhan tahun 2016, saya merasakan telinga saya tidak enak, bergema. Saya kira terkena air, maka saya tunggu sampai seminggu. Kok, enggak hilang juga. Saya ke (dokter spesialis) THT di RS Hermina Depok. Dokter saat itu bilang, “Telinga Ibu bersih, bagus. Cuma pilek yang enggak keluar.””

“Saya kekeuh bilang, “Tapi, saya enggak pilek, Dok.” “Iya, tapi itu pilek, enggak keluar aja. Terapi ya, Bu.”” L mengulangi penjelasan dokter spesialis THT kepadanya.

Akhirnya L menjalani terapi di rumah sakit, bolak-balik sampai lima kali. Karena merasa tidak ada perubahan, L kembali ke dokter. Dokter kemudian merujuknya untuk rontgen telinga.

”Alhamdulillah rontgen telinga baik semuanya. Saya merasa enggak puas, karena dikasih obat sudah, dan kata dokter sehat-sehat saja. Maka saya (mencari) second opinion, pindah rumah sakit dan dokter.

“Dokter yang kedua juga bilang diagnosisnya sama, pilek enggak keluar. Akhirnya diterapi lagi dengan terapi yang berbeda,” tutur ibu dua anak ini.

Namun, telinga L tetap terasa berdengung, bahkan keluhannya bertambah.

“Saya merasakan migrain yang amat sangat dan tidak hilang-hilang,” jelas L. Migrain hanya hilang kalau perempuan asal Betawi ini minum obat sakit kepala merk tertentu, tetapi jika terus mengonsumsi obat yang dijual bebas ia khawatirkan justru menambah masalah.

Puncak sakit migrain dirasakan L pada akhir 2016. Setelah L hampir roboh dikarenakan migrain, Syamsurya (43), suami L, segera membawanya ke RS Hermina Depok.

Meskipun sempat ditolak pihak rumah sakit, Syamsurya bersikeras agar L menjalani tes CT scan karena sumber penyakit istrinya sudah hampir setengah tahun tidak juga ditemukan. Hasil CT scan menunjukkan ada benjolan di area nasofaring L.

L segera menjalani biopsi atau pengambilan sampel jaringan untuk menemukan apakah penyebab benjolan tersebut. Hasil pemeriksaan biopsi menyatakan L terkena kanker nasofaring stadium 2.

Nasofaring adalah area di belakang rongga hidung di antara langit-langit mulut dan tenggorokan.

Karena RS Hermina Depok tidak memiliki peralatan yang memadai, L dirujuk ke rumah sakit lain. Syamsurya memilihkan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk istrinya. Ia mengambil jalur asuransi umum non-BPJS dengan pertimbangan antrean perawatan yang lebih singkat. Dokter di RSCM malah menyatakan stadium kanker nasofaring L sudah lebih lanjut, yaitu stadium 4.

Setelah vonis dokter, L menjalani pemeriksaan penunjang yang banyak selama hampir sebulan dengan tiga dokter ahli mulai dari onkologi THT, onkologi penyakit dalam, sampai dokter radiologi. Pemeriksaan dilakukan antara lain pada mata, syaraf, gigi, serta tulang. Tujuannya untuk mengetahui apakah kankernya sudah menyebar atau belum.

“Pemeriksaan tulang paling menyakitkan, karena harus diisolasi dan tidak dapat bertemu anak dan suami selama 24 jam,” perempuan yang berdomisili di Depok ini mengenang.

Hampir sepanjang paruh kedua tahun 2016 L habiskan untuk bertemu dokter di dua rumah sakit, serta menjalani pengobatan alternatif seperti bekam, refleksi, dan akupunktur. Berat badannya sampai susut sebanyak total 20 kg.

“Anak-anak saya yang membuat saya kuat menghadapi ini,” kata L kepada wartawan dari Dikjur III ketika diwawancarai mengenai perjalanannya menghadapi kanker.

Dengan mata berkaca-kaca L menegaskan bahwa dukungan dari keluarga, terutama doa dari Ibu, suami, dan anak-anaknya yang masing-masing berusia 11 dan 6 tahun sangat membantunya untuk berusaha sembuh.

“Saya kondisikan anak-anak untuk tahu kondisi kesehatan bundanya, bahwa bundanya membutuhkan pengobatan yang serius dan dalam waktu lama, juga kemungkinan baik dan buruknya,” kisah L.

Hal tersebut ia sampaikan dengan bahasa yang dapat diterima oleh anak-anaknya. L menuturkan bahwa anak-anaknya dapat menerima kabar tersebut dan mendukungnya yang dilakukan melalui ucapan, pelukan, dan doa.

Untuk pengobatan kankernya, L menjalani enam kali kemoterapi yang dilakukan seminggu sekali serta pengobatan radiasi harian selama 33 hari. L bersyukur bahwa tidak ada efek samping seperti rambut rontok dan kulit menghitam, meskipun ia merasakan mual dan lemah saat menjalani terapi.

Beberapa indranya pun terpengaruh, ada yang jadi lebih sensitif seperti indra pengecap yang membuatnya tidak lagi bisa menikmati makanan pedas favoritnya dengan nyaman. Tapi, dokternya mengatakan kepekaan ini harus terus dilatih.

L selesai menjalani terapi pada Mei tahun 2017 dan kembali beraktivitas dengan terus dipantau kesehatannya. Hasil pemeriksaan mendetail untuk melihat gambar organ tubuh atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada Juli 2017 menunjukkan ukuran benjolan di area nasofaring L sudah jauh berkurang. L sekarang kembali bekerja di kantor setelah cuti panjang, sambil menjalani pengobatan oral sampai jadwal pemeriksaan kesehatan selanjutnya.

Ketika ditanyakan mengenai apa faktor penyebab kankernya, L menjawab bahwa sampai saat ini sulit bisa diketahui dengan pasti penyebabnya. “Dokter bertanya apa saya sering makan ikan asin, saya jawab tidak,” terangnya. Di keluarganya juga tidak ada yang merokok. Dugaan yang terdekat adalah dari udara kota yang kotor.

Oleh karena itu, L mengingatkan ada baiknya kita menggunakan masker untuk mencegah terpapar udara kota yang kotor, misalnya saat dalam perjalanan.

L menyatakan dukungan dari keluarga sangatlah penting. Ia bersyukur mendapatkan doa dari keluarga dan teman-temannya.

“Setiap terbangun tengah malam, saya lihat ibu sedang shalat malam mendoakan kesehatan saya. Anak saya yang kedua juga pernah berdoa agar bundanya diangkat penyakitnya dan bisa melihatnya jadi dokter gigi kelak,” penuh haru L menyampaikan contoh dukungan keluarganya. Selama ia berobat, ibunya memang tinggal bersamanya. Ia juga sangat bersyukur memiliki suami yang sangat setia menemani setiap aktivitas dalam perjalanan penyembuhannya dari kanker.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s