Review Kelas Bunda Sayang IIP Sesi #6: Cerdas Finansial Ibu Berpengaruh pada Anak

Institut Ibu Profesional
Review Materi Sesi 8

CERDAS FINANSIAL IBU BERPENGARUH PADA ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan di kelas Bunda Sayang yang ke-#8 kali ini. Kita sudah melewati 2/3 perjalanan kita.

Sejatinya di materi kali ini kita ditantang untuk menjadi cerdas finansial dengan cara memandu anak-anak (Learning by Teaching).

Maka langkah yang kita ambil adalah memahamkan diri kita terlebih dahulu bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki.

Selanjutnya belajar mengelola uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan.

Kita sedang tumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

Maka kuncinya adalah mulai dari orangtuanya.

Salah satu peran kita sebagai Ibu bukanlah untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan kepada anak dan keluarga kita.

Peran tersebut perlu ilmu.

Hargai dengan baik segala ikhtiar pekerjaan menjemput rezeki, baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal ini membuat penghasilan yang akan diterima akan lebih berharga

Anak-anak harus paham, tidak ada pekerjaan yang hina di muka bumi ini selama untuk menjemput rezeki yang halal.

Habiskan uang di jalan yang benar

Kebiasaan lama kita adalah menyisakan uang agar bisa menabung, investasi dan lain-lain. Namanya menyisakan pasti kecil.

Maka ubah dengan cara merencanakan dengan baik, dan habiskan uang di jalan yang benar.

Contoh:

Cashflow orang yang bermental miskin:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Shopping 57,5
Cicilan hutang 30
Sosial 2,5
——————————–
Sisa 10 baru ditabung

Cashflow orang yang bermental kaya:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Zakat, infaq, sedekah 2,5
Cicilan hutang 30
Investasi 10
Kebutuhan pribadi 57,5
—————————————
Sisa 0

Dua cashflow di atas angkanya sama tapi beda.

Di cashflow orang yang bermental miskin, pengeluaran pertama adalah untuk memenuhi hak diri sendiri dulu, baru hak orang lain (cicilan utang dsb), hak untuk Allah, apabila ingat, dan sisanya baru ditabung atau investasi.

Sedangkan cashflow orang yang bermental kaya, ia sudah siap menghabiskan pendapatannya di jalan yang benar dengan prioritas sbb :
☘Hak Allah terlebih dahulu ditunaikan.
☘Menyelesaikan hak orang lain (mis:cicilan hutang)
☘Menganggarkan untuk investasi
☘Baru memenuhi kebutuhan kita sendiri

Habis tak bersisa.

Pertanyaannya sekarang,

Ingin memiliki anak-anak yang bermental kaya atau bermental miskin?

Mental ini akan menentukan gaya hidup seseorang. Orang yang bermental kaya selalu ingin berbagi, meninggikan kemuliaan dengan tangannya di atas meski pendapatan yang diterima kecil.

Sedangkan orang yang bermental miskin, selalu berharap menerima sesuatu, lebih merelakan tangan di bawah meski pendapatannya besar.

Orang yang bermental miskin membeli sesuatu sesuai “selera” dan membeli di saat “bisa”

Orang yang bermental kaya membeli sesuatu sesuai “fungsi” dan membeli di saat “perlu”.

Sebenarnya,

Biaya hidup itu murah, yang mahal adalah gaya hidup

Selamat berproses, karena cerdas finansial tidak hanya berkaitan dengan cashflow dan rupiah yang kita catat, tapi lebih dari itu, erat kaitannya dengan mendidik mental anak kita dan menanamkan pola gaya hidup yang benar.

Salam Ibu Profesional,

Tim Fasilitator Bunda Sayang Nasional

 

📚Sumber Bacaan :
Ahmad Ghozali, Habiskan Saja Gajimu, Jakarta, 2010

Institut Ibu Profesional, Bunda Produktif, 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s