(Bukan) Critical Eleven

Novel Critical Eleven yang ditulis oleh Ika Natassa baru saya baca pada awal tahun ini. Agak terlambat sih ya memang. Tak banyak yang saya ketahui tentang isinya sebelum membaca buku tersebut, selain bahwa pengarangnya terkenal suka menulis cerita romantis yang bikin baper. Malah, saya kira angka sebelas pada judulnya merujuk pada sebelas tahun pernikahan dengan segala romantikanya hingga mencapai titik kritis. Ternyata saya salah besar. Yang dimaksud critical eleven di sini adalah sebelas menit kritis pada awal penerbangan, yang dihubungkan dengan permulaan perkenalan kedua tokoh utama dalam novel yang sudah difilmkan ini. Saya aja yang ge-er, gara-gara tahun ini pernikahan saya dan suami memang menginjak tahun kesebelas.

Kami tidak berjumpa untuk pertama kalinya di atas pesawat, tentu saja. Dua belas tahun yang lalu, saya adalah pegawai magang setelah lulus dari sebuah kampus kedinasan milik suatu kementerian, atau sekarang biasanya diistilahkan dengan on job training. Berbeda dengan generasi belakangan ini yang magangnya dijadwalkan berpindah-pindah unit secara bergantian dengan maksud lebih menguasai beragam jenis pekerjaan sebelum ditugaskan definitif sebagai pegawai negeri sipil, saat itu angkatan saya magang selama setahun lebih sedikit di tempat (masing-masing) yang tetap.

Saya baru bertemu lelaki yang kemudian menjadi suami saya ini di bulan kedua atau ketiga magang, sebab sebelumnya ia sedang menjalani diklat prajabatan. Ya, ia adalah kakak tingkat saya di kampus, beda setahun. Banyak teman-temannya yang ternyata saya kenal, tapi saya belum pernah mengenalnya sebelumnya. Kami beda spesialisasi, walaupun mungkin (seharusnya) kami pernah juga berada di satu tempat di waktu yang sama. Tepatnya saat rapat kepanitiaan besar Studi Perdana Memasuki Kampus (Dinamika), semacam program orientasi bagi mahasiswa/i baru. Beda bidang juga sih, saya di Medis sedangkan ia di pendamping kelompok mahasiswa.

Saat saya magang, di ruangan kerja ada lima orang pemuda lajang. Namun entah kenapa, segenap pegawai penghuninya kompak menjodoh-jodohkan saya dengan satu orang. Nyaris tidak ada hari yang luput tanpa ledekan mereka, khususnya ditujukan pada pihak lelaki.

Biasanya saya hanya senyum-senyum saja menanggapi candaan itu. Saya lihat, ia pun tak kalah kalem jika ada yang mencandai. Sosoknya memang dikenal santun dan religius, tapi suka melempar lelucon dan bertingkah konyol juga. Diingat-ingat lagi, kami tidak berkenalan secara formal, hanya selintasan saja dikenalkan oleh pegawai lain, dan kami menindaklanjuti penyebutan nama itu dengan saling menganggukkan kepala. Namun setelah beberapa belas hari berlalu, saya mulai menerima sms-sms darinya. Isinya cukup out of the box, misalnya menanyakan saya hari itu sudah tilawah sampai juz berapa.

Berikutnya kami mulai saling berkirim e-mail, biasanya berupa info-info menarik atau artikel nasihat/tausiyah. Dan karena kedekatan tidak pernah kami tunjukkan secara fisik, maka tak ada rekan, senior, atau atasan di kantor yang menyadari bahwa kami ternyata betulan sedang penjajakan. Saya sendiri sebetulnya hanya menebak-nebak arah percakapan kami ‘dalam diam’ selama ini akan ke mana. Apalagi, saya tidak punya pengalaman berpacaran (entahlah, ada sih yang mendekat, tapi tidak pernah ada yang sampai pada tahap pernyataan cinta ataupun mengajak jalan berdua). Jadi, saya hanya ‘belajar’ dari bacaan-bacaan atau pengalaman teman/saudara, bahwa yang seperti ini ya bisa jadi merupakan sinyal pendekatan. Akankah ia serius? Dilihat dari pembawaannya sih, ia tak main-main, ya. Tapi, apa kira-kira langkah berikutnya?

Suatu siang, saya sedang sibuk mengamplopi surat ketika ada notifikasi sms masuk. Isinya tak langsung ‘nembak’, tapi dibalut dengan pertanyaan akan kesediaan saya mendampingi jika nanti ia dipindahkan ke kantor lain. Mengingat instansi kami memiliki lebih dari 150 kantor vertikal di seluruh Indonesia, kami para pegawai dituntut untuk siap dipindahkan ke mana saja, kapan saja. Terus terang saya tidak ingat lagi seperti apa persisnya jawaban saya, malah yang melekat di ingatan adalah protes yang saya sampaikan melalui sms juga. Hal sepenting ini, disampaikan siang-siang, secara ‘maya’, di kantor?

Tapi toh saya menerima meski belum sempat bertanya lebih jauh tentang latar belakang keluarganya (kami sama-sama perantau dari Jawa Tengah). Saya bahkan tak tahu latar belakang keluarganya seperti apa, berapa jumlah saudaranya. Tentu, saya tidak begitu saja pasrah. Saya sempat mencari ‘testimoni’ tentang karakternya terlebih dahulu dari teman-teman yang sama-sama kami kenal, juga bercerita pada orangtua dan berdiskusi dengan sahabat tepercaya. Berhubung beberapa sanak saudara yang dituakan tinggal di Jakarta, maka calon suami pun harus ‘menghadap’ beliau-beliau ini terlebih dahulu. Lebih kurang dua bulan setelah perkenalan kami, keluarganya datang melamar. Sampai di tahap ini, kami ‘melapor’ pada salah satu atasan, setidaknya supaya ada yang tahu tentang apa yang sedang kami upayakan.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian kami sukses membuat kehebohan di kantor dengan menyebarkan undangan pernikahan yang akan diselenggarakan pada akhir tahun yang sama. Kementar teman-teman kami pada umumnya senada: “Lha, ini beneran jadi, toh?”

First impressions kami tak bikin baper macam kisah bersuanya Ale dan Anya, memang. Tapi semoga bisa menjadi awal untuk perjalanan yang jauh lebih manis hingga akhirnya nanti sama-sama berkumpul di surga-Nya.

 

NB: Kelanjutan cerita kami tak lama setelah menikah bisa dibaca dalam buku Long Distance Love, terbitan Lingkar Pena Publishing House (sekarang Noura Books), 2009.

 

Tulisan ini dibuat untuk tugas Rumbel Menulis IIP Jakarta yang bertema “How I Met My Husband“, sekaligus tetap untuk program ODOP Blogger Muslimah.

#rumbelmenulisiipjakarta
#howimetmyhusband
#lovestory
#tantanganmenulisoktober

#ODOPOKT10

Tulisan ini (juga) diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

Advertisements

6 thoughts on “(Bukan) Critical Eleven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s