Rindu Tersampaikan lewat Lagu

Malam Minggu kemarin kami menghadiri pesta pernikahan sepupu jauh saya di bilangan Kalibata. Seperti umumnya resepsi di kalangan keluarga besar saya, para tamu dihibur dengan alunan gending Jawa, dengan sinden dan gamelan lumayan lengkap pula. Salah satu tembang yang mengalun adalah Yen ing Tawang Ana Lintang. Tembang yang dipopulerkan oleh Waldjinah ini sempat saya masukkan dalam daftar lagu-lagu yang bertema kerinduan. Dulu saya kira liriknya mencerminkan rasa kangen antara sepasang kekasih atau suami istri, tetapi belakangan saya membaca artikel yang penjelasannya berbeda.

Dari sini saya peroleh informasi bahwa sejatinya lagu tersebut digubah oleh pak Andjar Any saat menunggu kelahiran buah hatinya. Bintang, awan, dan bulan yang disebutkan dalam tembang adalah benda-benda langit yang menjadi saksi penantian beliau. Kegundahan yang tertuang adalah karena harap-harap cemas apakah istri maupun bayinya selamat dalam proses persalinan. Ternyata, bayi yang terlahir adalah bayi perempuan. Maka sapaan ‘Nimas‘ dan ‘Cah Ayu’-lah yang digunakan dalam tembang. Sehingga menjadi kurang tepat jika ada biduanita yang mengubah sapaan ‘Nimas‘ dan ‘Cah Ayu‘ dalam syair lagu tersebut dengan sapaan untuk lelaki seperti ‘Kangmas‘ atau ‘Cah Bagus‘.

Dari sumber yang lain, ada tambahan cerita bahwa tembang ini awalnya dibawakan oleh bu Sarbini, kakak bu Waldjinah. Belum diketahui juga apakah tembang tersebut dibuat untuk putri keempat atau kelima pak Andjar Any.

Berikut lirik lagu tersebut selengkapnya, dengan terjemahan dari saya yang maunya berima tapi ternyata gagal juga

Yen ing tawang ana lintang, Cah Ayu
aku ngenteni tekamu
Marang mega ing angkasa,
ingsun takokke pawartamu

(Jikalau ada bintang di langit, wahai Si Jelita
kumenunggu hadirmu
Pada mega di angkasa
kutanyakan beritamu)

Janji-janji aku eling, Cah Ayu
sumedhot rasane ati
Lintanglintang ngiwi-iwi, Nimas
tresnaku sundhul wiyati

(Kuberjanji ‘kan selalu ingat, wahai gadis cantikku
tercekat rasa hatiku
Bintang-bintang seolah menggoda, Adinda
cintaku setinggi langit biru)

Dhek semana janjiku disekseni mega kartika
kairing rasa tresna asih

(Kala itu janjiku disaksikan awan gemintang
teriring rasa cinta kasih)

Yen ing tawang ana lintang, Cah Ayu
rungokna tangising ati
Binarung swarane ratri, nimas
ngenteni mbulan ndadari

(Jikalau ada bintang di langit, wahai Si Jelita
dengarkanlah tangisan hati ini
Tersaput suara-suara malam, Adinda
menunggu rembulan purnama)

Lirik lagunya memang romantis, yaa… Jadi ingat kata-kata ustadz Bendri Jaisyurrahman dalam beberapa ceramah beliau yang sempat saya simak langsung atau baca rangkumannya, bahwa seorang ayah perlu menguasai jurus merebut hati putrinya sendiri. Tujuannya, supaya sang putri kelak tidak mudah takjub dan terbuai saat ada lelaki yang melayangkan rayuan gombal, karena toh kebutuhannya akan hal tersebut, meski dalam bentuk romantisme yang berbeda tentunya, sudah terpenuhi di rumah. Bahkan kalau bisa, buatkanlah lagu untuk anak perempuan :D.

Ayah, jadilah the first love, cinta pertama bagi anak wanitanya. Jika ia jatuh cinta, ingin lelaki yang mirip ayahnya. Jikapun tidak seperti ayahnya, minimal pilihan dari ayahnya.
Meski Song Joong Ki merayunya, ia cuek. Baginya song by daddy dengan lagu “timang-timang anakku sayang” lebih menyentuh hatinya.
Saat David Beckham datang melamarnya, ia tolak. Baginya tukang bekam yang direstui oleh ayahnya, lebih layak jadi suaminya.
Itulah kenapa ayah harus sering-sering menunjukkan cinta kepada anak wanitanya. Bisa secara sikap ataupun kata-kata, “Seandainya cinta seluruh lelaki di dunia ini ditimbang, tidak akan mengalahkan beratnya cinta ayah kepadamu”. Ingat ya! Kita lagi ngomongin cinta. Bukan berat badan ayah.
So, peringatan buat para ayah. Jika tak dekat dengan anak wanitanya, maka siap siap menerima calon mantu yang menyesakkan dada. Dia mudah jatuh cinta kepada sembarang pria. Kita menyebutnya sebagai cabe-cabean. Ingat! Cabe aja kalau berlebihan bisa bikin kita nangis. Apalagi cabe-cabean, hati ayah kan teriris-iris
#ayahhebat #thefirstlove #ajobendri

Sumber: fb Ustadz Bendri

Catatan: foto gamelan diambil dari resepsi pernikahan sepupu lain, berhubung kemarin tidak sempat foto-foto gamelannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s