Jangan Remehkan Keluhan Lupa

“Masih muda, kok sudah pelupa?”

Kadang-kadang, celetukan seperti di atas mudah saja terlontar dalam keseharian kita. Entah kita yang mengomentari teman, atau justru kita yang beroleh pertanyaan bernada ledekan tersebut. Meski tampak sepele, kalau yang dilupakan adalah hal-hal yang cukup penting dan terjadi berulang-ulang, kan bisa merepotkan juga. Apalagi jika ternyata upaya-upaya yang dilakukan sendiri untuk memperkuat daya ingat tidak mendapatkan hasil. Kalau sudah begitu, bukan celaan (meskipun sekadar bercanda) yang dibutuhkan, melainkan bantuan dari ahlinya.

Rabu lalu saya mengikuti seminar awam yang diselenggarakan oleh Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Dalam seminar yang bertempat di  RSCM Kencana ini, pembicaranya adalah para dokter konsultan yang merupakan neurolog atau ahli syaraf. Salah satunya Diatri Nari Lastri, Sp.S (K), yang membawakan materi dengan judul yang saya pakai sebagai judul postingan ini. Ya, keluhan lupa memang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Lupa apa yang hendak dilakukan, apa yang baru dilakukan, di mana meletakkan barang, juga kesulitan mengingat nama orang atau benda merupakan sejumlah keluhan yang kerapkali terdengar. Bahkan, seseorang yang tingkat lupanya sudah cukup parah bisa mengalami disorientasi waktu maupun tempat. Biasanya, yang mengalami penurunan ingatan adalah mereka yang berusia lanjut. Namun memang pada masa sekarang keluhan ini cenderung bergeser ke kelompok umur yang lebih muda.

Continue reading

Advertisements

Menyimak Petuah dari Para Master Menulis (3): Asma Nadia

Suasana sesi terakhir Jumpa Penulis di Taman Ismail Marzuki (15/10) yang sekaligus difungsikan untuk peluncuran buku Bidadari untuk Dewa agak berbeda dengan sesi-sesi sebelumnya yang penuh semangat dan diselingi canda. Ada nada-nada melankolis karena bahasan mengenai jatuh bangun kehidupan pernikahan kang Dewa, konten utama dari novel tersebut. Para peserta jadi ikutan semangat bertanya dan meminta tips, apa yang membuat istri kang Dewa begitu tegar?

Di bagian awal, Mba Asma Nadia menceritakan bahwa ada saja yang datang dan minta kisah hidupnya dituliskan. Mba Asma biasanya akan menanyakan balik, “Yakin, (kisahnya) menarik?” Mba Asma menegaskan, “Saya hanya mau menulis buku yang bagus.” Kisah yang menarik pun belum tentu inspiring, sementara mba Asma ingin pembaca mendapatkan sesuatu dari tulisannya. Jadi, apa yang membuat mba Asma mantap menulis Bidadari untuk Dewa?

Setelah ngobrol dengan kang Dewa dan bidadarinya, mba Asma merasa bahwa di usia 26 tahun ini kang Dewa sudah melalui banyak sekali ujian hidup, paket lengkap pula: harta, tahta, wanita. Dalam proses penulisannya, kang Dewa cukup jujur membuka pengalamannya, karena percaya apa yang diceritakan akan bisa memberi kebaikan. Maka, “Saya nggak punya alasan untuk menolak menulis kisah ini,” sebut mba Asma.

Mba Asma memang menggemari kisah nyata, dan ia pun menyarankan menulis kisah nyata bagi para pemula. Pertama, karena untuk belajar menulis, topik ini bisa jadi bahan latihan yang bagus. Apalagi menuliskan kisah sendiri, kita sudah tahu opening sampai ending-nya. Selain itu, melalui kisah nyata kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang jatuh bangun terpuruk tanpa perlu mengalami sendiri. Untuk novel BuD, mba Asma sampai mengulik mitologi Yunani. Ini juga buku mba Asma pertama yang mencantumkan topik MLM, utang, preorder, dll. Ini dianggapnya tantangan lain.

Continue reading

Menyimak Petuah dari Para Master Menulis (2): Dewa Eka Prayoga

Dewa Eka Prayoga, pembicara pada sesi berikutnya mengaku sebagai pembicara yang paling muda, paling sedikit karyanya (baru 8-9 buku), dan paling sedikit (bahkan mungkin tidak ada) karyanya di toko buku (konvensional) di antara pembicara lain dalam Jumpa Penulis yang bertempat di Taman Ismail Marzuki ini. Buku lelaki asal Sukabumi ini kebanyakan berasal dari pengalaman pribadi, sehingga karyanya juga berupa tulisan nonfiksi. Buku-buku kang Dewa, begitu ia biasa disapa, memang dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan sendiri. Salah satu tujuannya adalah untuk memberdayakan dan menyejahterakan orang-orang di sekitar. Buku kang Dewa memang mahal, tapi keuntungan ke reseller bisa 30-40% dan menurutnya sistem ini bisa membuat bisnis orang lain berkembang.

Dunia kepenulisan bagi kang Dewa adalah hal baru, kendati sejak dulu ia sudah suka membaca. Kemudian di usia dewasa mudanya, rumah orangtua kena longsor, dan kang Dewa terbelit utang cukup besar dari bisnisnya. Dipikir-pikir, menulis buku bisa menjadi jalan keluar. Buku dicetak, terbit, alhamdulillah laku dan ia bisa menutup utang. Di situ kang Dewa belajar tentang kepenulisan, mengingat ia banyak menerima kritik dari para penulis lain karena tulisannya ‘tidak jelas’, hanya berupa rangkuman kata-kata motivasi dari pihak lain.

Berhubung niat awal kang Dewa menulis adalah untuk membereskan utang, jadi setelah bukunya laris, utang tertutup, ya sudah, selesai. Balik ke bisnis lagi. Tahun 2014, ia kembali rugi besar. Tapi kondisi ini justru membuatnya bangkit. Tak hanya doa dan mendekatkan diri pada Allah swt, ia pun berupaya. Jualan ceker dan kerupuk keliling Bandung ia jalani.

Lantas kang Dewa mulai menulis lagi, bahkan ia selesaikan dengan cepat karena memang dalam kondisi nganggur. Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan penulisan satu bab. Hasilnya adalah buku 7 Kesalahan Fatal Pengusaha Pemula, berkaca pada pengalamannya sendiri. Hikmahnya, menurut kang Dewa, bukan berarti harus stres dulu baru bisa menulis, melainkan tuliskan apa yang sedang kita alami (tapi jangan status galau juga). Sebelum terbit, ia membuka preorder buku tersebut, dan peminatnya ternyata banyak. Buku pertama ini dicetak dengan biaya percetakan Rp7.700,00 dan dijual seharga Rp60.000,00.  Terbayang kan, hasilnya lumayan banyak. Dari situ ia makin produktif menulis banyak buku.

Continue reading

Menyimak Petuah dari Para Master Menulis (1): Helvy Tiana Rosa

Ikut pelatihan atau sharing session tentang menulis melulu, apa nggak bosen, sih?

Wah, kalau ditanya seperti itu, saya dengan mantap akan menjawab: tidak. Tentu nggak asal ikutan ya, kadang-kadang kalau sudah pernah dapat materi dari penulis yang sama sebelumnya, saya memang memilih untuk tidak ikut. Apalagi jika ada pilihan event lainnya di waktu yang sama, atau di pekan tersebut saya sudah banyak lembur di kantor sehingga waktu dengan anak-anak tersita. Namun sebetulnya, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari dari para inspirator yang sama pada kesempatan berbeda, termasuk dalam hal ini para penulis.

Bulan lalu, deretan nama dan foto pemateri untuk acara yang namanya cukup simpel ini, Jumpa Penulis, langsung membuat saya antusias begitu menerima terusan publikasinya dari seorang teman. Tere Liye, Helvy Tiana Rosa dan sang adik Asma Nadia, Ahmad Rifa’i Rif’an, founder Kelas Menulis Online (KMO) Tendi Murti, bahkan ada Ippho Santosa dan Dewa Eka Prayoga segala. Nah nah, ngapain nih ada motivator di acara kepenulisan? Harga tiket yang lumayan sempat membuat saya maju mundur, tapi iming-iming yang ditekankan di berbagai media promosinya memang ada benarnya: kapan lagi para penulis keren yang juga terkenal akan misi kebaikannya seperti ini, berkumpul di satu tempat untuk berbagi? Alhamdulillah, sedang ada rezekinya juga.

Berhubung kemarin (15/10) sepagian Fathia ada acara, maka saya baru bisa berangkat ke Teater Besar Taman Ismail Marzuki selepas Dzuhur. Meski tidak bergabung di grup telegram sebagaimana disarankan oleh admin yang menerima pendaftaran saya, tetapi dari grup lain saya sempat mendapatkan info jadwal giliran para penulis untuk tampil. Lumayanlah, pikir saya, harusnya masih kebagian sesi bunda Helvy (karena beliau dosen juga, rasanya sungkan ya menyapa ‘Mba’, hehehe), kang Dewa, dan mba Asma. Bahkan sesampainya di tempat sebetulnya saya masih bisa ikutan sesi mas Ippho (walau cuma ujung-ujungnya), hanya saja miskomunikasi dengan panitia yang berjaga membuat saya tidak bergegas masuk.

Alhamdulillah, kemarin untuk pertama kalinya saya bisa menyaksikan langsung bunda Helvy membacakan puisi beliau. Agak susah memperoleh foto yang bagus, padahal kursi saya tidak di belakang-belakang amat. Jadi, mohon maaf kalau wajah para pembicara jadi samar-samar begitu ya, di foto yang saya sertakan. Usai berpuisi, bunda Helvy menceritakan kenangan hidup semasa kecil. Dulu, beliau dan adiknya, mba Asma Nadia, terbiasa menyimak cerita sang ibunda yang suka menulis catatan harian. Bahkan sang ibunda rela menghemat uang transportasi dalam berdagang sprei keliling agar bisa membelikan buku untuk anak-anaknya, termasuk memohon pinjaman buku dari para pelanggan sprei.

Continue reading

Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

Sugar rush atau sugar high biasanya diartikan sebagai kondisi amat aktif atau kelewat bersemangat dalam berkegiatan, biasanya terjadi pada anak-anak, yang dipicu oleh banyaknya konsumsi gula. Sekilas sepertinya hal ini logis, karena kalori yang masuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas, bukan? Gula yang tinggi kalori pun lalu menjadi kambing hitam atas ulah anak-anak yang tampak berlebihan.

Continue reading

Nyaman dan Asyiknya bermain di Playground fx Sudirman

Kami sekeluarga jarang pergi ke mall. Kalau sampai ke mall, biasanya karena ada undangan dari teman (syukuran, perpisahan, atau kopdar komunitas) atau keluarga besar yang mengajak jalan-jalan. Saya dan suami juga nonton berdua sih kadang-kadang. Nah, tahun lalu saya mulai aktif di The Urban Mama (TUM) setelah sebelumnya lebih banyak menjadi pembaca saja. TUM seringkali mengadakan kegiatan semacam seminar, bincang santai atau workshop yang temanya menarik perhatian saya. Jadilah saya mendaftarkan diri, dan ternyata banyak di antara acara tersebut yang diselenggarakan di fx Sudirman.

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke dalam mall ini ya dalam rangka mengikuti acara TUM. Tepatnya untuk acara Pink Class #TUMMeTime yang mengangkat tema All About Kesehatan Kewanitaan. Kegiatannya digelar di food court Eat & Eat, lantai f5, dan saya tiba agak terlalu pagi waktu itu. Jadilah saya berkeliling…dan menemukan playground yang lucu di lantai yang sama! Wah, tahu gitu, tadi ajak anak-anak, ya. Tapi belum tahu juga sih sistem pemakaiannya bagaimana.

Saya mulai mencari tahu informasi tentang tempat bermain anak ini di internet. Ternyata gratis lho, alias tidak dipungut biaya jika mau bermain di situ. Tidak ada karcis masuk ataupun tanda sejenis. Sepertinya sistemnya mandiri ya, jadi tidak ada petugas penjaga juga. Maka orangtua, pengasuh, atau keluarga juga harus tetap mendampingi selama anak-anak main di situ. Kalau sedang ada acara di panggung atrium, dari playground bisa ikut simak juga, entah itu sajian musik ataupun workshop/seminar.

Variasi mainannya cukup banyak, mulai dari ayunan, perosotan, panjat-panjatan, sampai kuda-kudaan. Kondisinya bersih dan rapi. Cocok lah untuk digunakan oleh anak-anak pengunjung mall. Kalau baca-baca sih, konon dulu playground ini berbayar, juga ada sarana permainan lainnya.


Yang bikin tambah nyaman, lokasi toilet dekat juga dengan playground ini. Bersih dan wangi tentunya, dengan petugas kebersihan yang ramah.

Tersedia pula nursery room, dengan dua bilik menyusui dan tempat mengganti popok bayi, dilengkapi produk perawatan bayi yang bebas digunakan. Dulunya nursery room ini adalah toilet anak-anak, makanya wastafel, dispenser sabun, dan pengering tangan di dalamnya juga dirancang rendah.


Nggak sampai bikin kami menyengaja ke situ sekadar buat main atau belanja, sih, soalnya jaraknya lumayan juga dari rumah. Tapi, bersyukur ada fasilitas ini karena jadinya saya bisa mengajak anak-anak bersama ayah atau pengasuh mereka kalau saya sedang ada acara di fx (selain TUM, Orami juga beberapa kali mengadakan seminar yang diistilahkan dengan Arisan). Saya tenang ikut acara, anak-anak juga senang karena ikut jalan-jalan dan bisa main sepuasnya.

Daan yang bikin tambah hepi adalaaah, bulan lalu ketika saya ke sana lagi, ternyata salah satu gerai di dekat playground sudah beralih rupa menjadi mushalla! Jadi, tidak perlu lagi turun ke lantai lain untuk sholat. Kalau baca-baca ada beberapa situs yang menyatakan bahwa di tiap lantai fX ada mushalla, tapi ketika saya ke sini awal tahun, saya diarahkan ke lantai 4. Seorang teman pun sempat bilang ikut senang di lantai 5 sekarang ada mushalla, berarti bukan cuma saya yang merasa mushalla ini baru ada di lantai yang sama dengan eat & eat. Atau dulu pernah ada, lalu ditutup, lalu dibuka lagi? Perlu ngobrol sama orang sana mungkin kalau ke sana lagi :D.

Tempat sholat dan wudhu laki-laki dan perempuan dipisah. Di antara tempat wudhu dan ruang sholat, disediakan cermin yang dikelilingi lampu yang mempermudah kalau mau membenahi jilbab atau berdandan usai sholat.

#ODOPOKT11

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

(Bukan) Critical Eleven

Novel Critical Eleven yang ditulis oleh Ika Natassa baru saya baca pada awal tahun ini. Agak terlambat sih ya memang. Tak banyak yang saya ketahui tentang isinya sebelum membaca buku tersebut, selain bahwa pengarangnya terkenal suka menulis cerita romantis yang bikin baper. Malah, saya kira angka sebelas pada judulnya merujuk pada sebelas tahun pernikahan dengan segala romantikanya hingga mencapai titik kritis. Ternyata saya salah besar. Yang dimaksud critical eleven di sini adalah sebelas menit kritis pada awal penerbangan, yang dihubungkan dengan permulaan perkenalan kedua tokoh utama dalam novel yang sudah difilmkan ini. Saya aja yang ge-er, gara-gara tahun ini pernikahan saya dan suami memang menginjak tahun kesebelas.

Kami tidak berjumpa untuk pertama kalinya di atas pesawat, tentu saja. Dua belas tahun yang lalu, saya adalah pegawai magang setelah lulus dari sebuah kampus kedinasan milik suatu kementerian, atau sekarang biasanya diistilahkan dengan on job training. Berbeda dengan generasi belakangan ini yang magangnya dijadwalkan berpindah-pindah unit secara bergantian dengan maksud lebih menguasai beragam jenis pekerjaan sebelum ditugaskan definitif sebagai pegawai negeri sipil, saat itu angkatan saya magang selama setahun lebih sedikit di tempat (masing-masing) yang tetap.

Continue reading