Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

Sugar rush atau sugar high biasanya diartikan sebagai kondisi amat aktif atau kelewat bersemangat dalam berkegiatan, biasanya terjadi pada anak-anak, yang dipicu oleh banyaknya konsumsi gula. Sekilas sepertinya hal ini logis, karena kalori yang masuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas, bukan? Gula yang tinggi kalori pun lalu menjadi kambing hitam atas ulah anak-anak yang tampak berlebihan.

Continue reading

Advertisements

Nyaman dan Asyiknya bermain di Playground fx Sudirman

Kami sekeluarga jarang pergi ke mall. Kalau sampai ke mall, biasanya karena ada undangan dari teman (syukuran, perpisahan, atau kopdar komunitas) atau keluarga besar yang mengajak jalan-jalan. Saya dan suami juga nonton berdua sih kadang-kadang. Nah, tahun lalu saya mulai aktif di The Urban Mama (TUM) setelah sebelumnya lebih banyak menjadi pembaca saja. TUM seringkali mengadakan kegiatan semacam seminar, bincang santai atau workshop yang temanya menarik perhatian saya. Jadilah saya mendaftarkan diri, dan ternyata banyak di antara acara tersebut yang diselenggarakan di fx Sudirman.

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke dalam mall ini ya dalam rangka mengikuti acara TUM. Tepatnya untuk acara Pink Class #TUMMeTime yang mengangkat tema All About Kesehatan Kewanitaan. Kegiatannya digelar di food court Eat & Eat, lantai f5, dan saya tiba agak terlalu pagi waktu itu. Jadilah saya berkeliling…dan menemukan playground yang lucu di lantai yang sama! Wah, tahu gitu, tadi ajak anak-anak, ya. Tapi belum tahu juga sih sistem pemakaiannya bagaimana.

Saya mulai mencari tahu informasi tentang tempat bermain anak ini di internet. Ternyata gratis lho, alias tidak dipungut biaya jika mau bermain di situ. Tidak ada karcis masuk ataupun tanda sejenis. Sepertinya sistemnya mandiri ya, jadi tidak ada petugas penjaga juga. Maka orangtua, pengasuh, atau keluarga juga harus tetap mendampingi selama anak-anak main di situ. Kalau sedang ada acara di panggung atrium, dari playground bisa ikut simak juga, entah itu sajian musik ataupun workshop/seminar.

Variasi mainannya cukup banyak, mulai dari ayunan, perosotan, panjat-panjatan, sampai kuda-kudaan. Kondisinya bersih dan rapi. Cocok lah untuk digunakan oleh anak-anak pengunjung mall. Kalau baca-baca sih, konon dulu playground ini berbayar, juga ada sarana permainan lainnya.


Yang bikin tambah nyaman, lokasi toilet dekat juga dengan playground ini. Bersih dan wangi tentunya, dengan petugas kebersihan yang ramah.

Tersedia pula nursery room, dengan dua bilik menyusui dan tempat mengganti popok bayi, dilengkapi produk perawatan bayi yang bebas digunakan. Dulunya nursery room ini adalah toilet anak-anak, makanya wastafel, dispenser sabun, dan pengering tangan di dalamnya juga dirancang rendah.


Nggak sampai bikin kami menyengaja ke situ sekadar buat main atau belanja, sih, soalnya jaraknya lumayan juga dari rumah. Tapi, bersyukur ada fasilitas ini karena jadinya saya bisa mengajak anak-anak bersama ayah atau pengasuh mereka kalau saya sedang ada acara di fx (selain TUM, Orami juga beberapa kali mengadakan seminar yang diistilahkan dengan Arisan). Saya tenang ikut acara, anak-anak juga senang karena ikut jalan-jalan dan bisa main sepuasnya.

Daan yang bikin tambah hepi adalaaah, bulan lalu ketika saya ke sana lagi, ternyata salah satu gerai di dekat playground sudah beralih rupa menjadi mushalla! Jadi, tidak perlu lagi turun ke lantai lain untuk sholat. Kalau baca-baca ada beberapa situs yang menyatakan bahwa di tiap lantai fX ada mushalla, tapi ketika saya ke sini awal tahun, saya diarahkan ke lantai 4. Seorang teman pun sempat bilang ikut senang di lantai 5 sekarang ada mushalla, berarti bukan cuma saya yang merasa mushalla ini baru ada di lantai yang sama dengan eat & eat. Atau dulu pernah ada, lalu ditutup, lalu dibuka lagi? Perlu ngobrol sama orang sana mungkin kalau ke sana lagi :D.

Tempat sholat dan wudhu laki-laki dan perempuan dipisah. Di antara tempat wudhu dan ruang sholat, disediakan cermin yang dikelilingi lampu yang mempermudah kalau mau membenahi jilbab atau berdandan usai sholat.

#ODOPOKT11

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

Cepat Tanggap Atasi Anemia pada Anak

Anemia, khususnya anemia defisiensi besi (ADB) selalu menjadi salah satu topik hangat di grup facebook maupun whatsapp ibu-ibu, khususnya yang memiliki anak bayi atau balita. Jika ada yang curhat anaknya berbadan mungil, biasanya akan ada yang menanggapi dengan saran cek kadar Hb, kalau perlu screening secara keseluruhan. Sebab, anemia diketahui bisa menghambat pertumbuhan. Tapi di sisi lain, ada juga yang beranggapan tes-tes semacam itu cenderung merepotkan, apalagi jika dokter yang memeriksa (dan kadang-kadang berkomentar tentang pertumbuhan yang  tidak pernah merujuk atau menyuruh supaya tes darah untuk mengetahui apakah statusnya anemia atau tidak.

Usai bahasan panjang tentang tes atau tidak, ada pula pro kontra seputar apakah suplemen zat besi perlu diberikan. Ada orangtua yang mengikuti rekomendasi IDAI untuk memberikan suplemen zat besi pada anak sejak bayi tanpa memandang status Hb, ada yang memilih tes dulu agar suplementasinya lebih tepat sasaran, ada juga yang meski sudah jelas-jelas anemia tapi beranggapan bahwa ‘yang alami lebih baik’, alias bertekad mengejar kekurangan zat besi dari makanan sehari-hari.

Jadi, apa sesungguhnya anemia ini, dan apa dampaknya jika anak anemia? Tanggal 16 September lalu saya ikut menyimak penjelasan dari dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A., IBCLC. di RS St. Carolus Salemba, Jakarta Pusat. Tema materi dalam acara yang disponsori oleh Caladine ini adalah Anemia pada Anak dan Dampak Jangka Panjangnya, maka dr. Yohmi mengawali dengan pertanyaan dasar, “Apakah anemia itu?” Untuk bayi/balita berumur 6 bulan sampai 5 tahun, WHO mendefinisikan anemia sebagai kondisi di mana kadar Haemoglobin-nya di bawah 11 g/dl. Sedangkan untuk usia 6 tahun sampai 14 tahun, anemia adalah ketika Hb kurang dari 12 gr/dl. Untuk dewasa, angkanya beda lagi dan dibedakan pula sesuai jenis kelamin maupun kondisi hamil/tidak hamil.

“Haemoglobin adalah suatu zat dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Haemoglobin ini jugalah yang memberikan warna merah dalam sel darah merah,” terang dr. Yohmi.

Continue reading

Langkah-langkah Jitu Atasi Anak Demam

“Demam itu sebenarnya adalah sesuatu yang muncul karena alasan. Tidak mungkin tubuh kita memunculkan sesuatu yang tidak lazim kalau tidak ada alasan,” sebut dr. Apin.

Kalimat di atas bukan untuk pertama kalinya saya dengar atau baca. Dari Milis Sehat, milis tempat dr. Arifianto, Sp.A. dan rekan-rekan termasuk para senior beliau dan para orangtua (non-nakes) yang peduli kesehatan keluarga aktif berbagi, juga dari postingan dr. Apin dan kawan-kawan, saya banyak belajar mengenai hal-hal serupa. Sejumlah sesi Program Edukasi keSehatan Anak untuk orangTua (PESAT) yang diselenggarakan oleh para anggota milis (tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-17 di Jakarta, belum terhitung yang di daerah lain) pun sudah saya ikuti, beberapa di antaranya diisi oleh dr. Apin.

Namun, kendati sudah belajar di sana-sini, keinginan untuk terus belajar membuat saya melangkahkan kaki ke stasiun untuk naik KRL menuju ke Depok pada tanggal 1 Oktober lalu. Tempat yang saya (bersama anak-anak dan pengasuh) tuju adalah Gramedia Depok, tidak jauh dari Stasiun Pondok Cina. Di sanalah diagendakan peluncuran buku Berteman dengan Demam yang ditulis oleh dr. Apin bersama dengan rekan sejawatnya sesama kontributor website Sehat (www.sehat.web.id), dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP. Pastinya bukan sekadar acara seremonial untuk menandai resminya buku tersebut beredar ya, tetapi ada pula sesi berbagi yang diisi oleh dr. Apin.

Kepada para hadirin dalam acara launching buku, dr. Apin mengungkapkan bahwa sejak abad ke-17, demam sudah diketahui sebagai sesuatu yang punya tujuan baik yaitu memusnahkan musuh-musuh (kuman penyakit) yang ada di dalam tubuh kita. Penelitian saat ini sudah membuktikan bahwa memang inilah yang terjadi. Jadi jika kita masih berpikiran sebaliknya, maka kita bisa dibilang ketinggalan 4 abad.

Untuk bisa bilang anak kita demam, biasanya kita melakukan pengukuran suhu. Nah, yang jadi masalah, seringkali pengukuran ini dilakukan secara subjektif, yaitu dengan rabaan tangan. Rabaan ini boleh saja digunakan untuk deteksi awal, tetapi untuk memperoleh suhu yang objektif maka kita harus menggunakan termometer.

Termometer yang bisa digunakan antara lain termometer digital maupun inframerah, sedangkan termometer air raksa sudah tidak disarankan lagi untuk dipakai karena logam berat yang dikandungnya (ada risiko bisa termakan oleh anak, limbahnya pun bisa mengotori tanah). Apa pun pilihan termometer kita, “Yang penting dipakai, ya!” tukas dr. Apin. Sebab adakalanya termometer tidak sempat dipakai karena suhu rabaan sudah cukup membuat orangtua panik, lantas langsung meminumkan obat penurun panas.

Berapa pun suhu anak, ketika sudah dianggap demam dan anak sudah tidak nyaman maka berarti sudah muncul alarm, tanda bahwa ada sesuatu yang tidak lazim yang membuat suhu tubuh naik.  Jadi, “Yang kita cari tahu adalah kenapa anak ini demam, bukan bagaimana harus segera menurunkan,” terang dr. Apin.

Memang, demam cenderung menjadi ‘hantu’ menakutkan bagi para orangtua. Pertama, jelas karena anak biasanya menjadi tidak nyaman dan rewel. Untuk menyamankan anak, orangtua bisa membantu misalnya dengan menyejukkan suhu ruangan. Pakaikan baju yang sesuai, tidak harus diberi baju tebal dan selimut seperti kebiasaan beberapa orangtua. Soal baju ini tergantung juga maunya anak bagaimana (bisa ditanya dulu), bahkan baju tipis bisa lebih membantu. Kompres air hangat (dan bukan dengan air es yang sifat mendinginkannya hanya sementara) juga dapat menolong agar aliran darah lebih lancar dan panas tubuh lebih cepat terbuang ke udara.

Kedua, orangtua khawatir anak akan kejang akibat panas yang terus naik, dan kejang demam (sebagian orang menyebutnya step, dari kata bahasa Belanda stuip) ini identik dengan risiko merusak otak.

Menanggapi hal ini, dr. Apin menjelaskan bahwa kejang demam pada umumnya tidak berbahaya. Apalagi kejang demam sederhana yang reda sebelum lima menit. “Mayoritas kejang karena demam tidak merusak otak,” tegas dokter yang berpraktik di rumah, Markas Sehat, dan RSUD Pasar Rebo ini. Yang patut mendapat perhatian khusus adalah kejang tanpa demam, atau kejang yang kejadiannya berulang dalam waktu 24 jam.

Yang sesungguhnya lebih wajib diwaspadai dari demam adalah adanya risiko dehidrasi. Maka, menjaga asupan cairan menjadi penting. Cairan ini bisa diberikan oleh orangtua dalam bentuk air putih, kuah sup, jus buah, bahkan es krim. Ya, es krim. Ingat kan, resep dr. Apin yang diunggah ke facebook dan sempat viral beberapa waktu yang lalu, yang memuat es krim sebagai ‘obat’ untuk anak yang sedang sakit? Senada dengan uraian dokter keluarga kami yang juga teman dr. Apin, dr. Apin menggarisbawahi “Sebenarnya (es krim) nggak apa-apa.” Kalau anak happy dengan pemberian es krim favoritnya, justru bisa terbantu untuk lekas pulih.

Meski demikian, dr. Apin paham bahwa kejang khususnya yang terjadi untuk pertama kalinya pada anak tampak menyeramkan. Maka dr. Apin menyarankan untuk mengikuti kata hati termasuk segera menghubungi tenaga medis jika kejang pada anak berkelanjutan. Akan lebih baik sih jika orangtua tidak gampang panik. Termasuk saat berkonsultasi ke dokter pun, orangtua seyogyanya sudah punya bekal memadai.

Bagaimana cara memberdayakan diri agar jadi (orangtua) pasien yang cerdas? Kalau saya sih memilih untuk belajar dari dr. Apin dan kawan-kawan, baik melalui buku-buku mereka, seminar yang mereka isi, diskusi di milis, menonton video edukasi, memantau postingan di media sosial. Memang sih, ada yang bilang bahwa semua dokter kan sudah sekolah sekian lama. Apa susahnya sih tinggal ikuti saja apa pun kata mereka, siapa pun dokter yang kita temui, karena mereka pasti tahu yang terbaik.

Tapi, terus terang saya lebih condong ke gerakan dr. Apin dan rekan-rekan untuk memberdayakan pasien (atau orangtua pasien). Bukan untuk jadi keminter di hadapan dokter, melainkan agar lebih tanggap mengamati gejala dan ketika dokternya mengajak diskusi pun kita jadi lebih mudah memahami. Saat memeriksa, dokter biasanya juga sambil menanyakan gejala-gejala yang terlihat sebelumnya kepada kita yang membersamai anak, bukan? Kapan mulai demam dan sempat turun sendiri suhunya atau tidak, ruam muncul sejak kapan, bagaimana frekuensi pipis anak, sempat ada sariawan atau tidak, sesak napasnya seperti apa, dst. Jika kita sudah paham, pertanyaan tersebut akan lebih mudah kita jawab. Sebaliknya, jika dokter meresepkan sesuatu, dengan bekal pengetahuan, kita bisa memberikan tanggapan seperti adanya alergi obat tertentu, kebiasaan makan anak yang ada hubungan dengan cara minum obat, dst. Pastinya informasi yang kita jadikan bekal juga bukan sembarang asal googling, ya. Bahkan di Milis Sehat, nggak boleh tuh, pakai alasan ‘habisnya kata milis ini kan biasanya begini…’ Kalau kita hendak mengambil suatu keputusan di bidang kesehatan, harusnya kita juga berusaha mencari tahu latar belakangnya secara ilmiah, bukan sekadar katanya-katanya. Biar mantap juga kan, termasuk tidak salah tangkap maksud diskusi di milis. Ada lho yang menganggap ‘aliran’ Rational Use of Medicine yang diterapkan oleh Milis Sehat ini sebagai anti-obat. Padahal bukan seperti itu maksudnya. Penggunaan obat rasional yang antara lain juga dikampanyekan oleh WHO ini bertujuan agar kalaupun perlu pakai obat ya harus tepat dari segi indikasi, jumlah, biaya, dan seterusnya. Bukan berarti pula jadi orangtua yang tega dan cuek, karena justru dari sanalah saya belajar bagaimana memantau tanda kegawatdaruratan.

Tentu bisa dipahami juga bahwa banyak orangtua yang merasa kesulitan belajar soal kesehatan anak. Keterbatasan waktu sering menjadi rintangan. Oleh karenanya, lagi-lagi, saya senang dengan terbitnya buku Berteman dengan Demam ini yang menjadikan orangtua lebih mudah belajar secara menyeluruh dibandingkan dengan membaca sekilas-sekilas status facebook dr. Apin dkk yang kadang juga terhalang kualitas jaringan, pulsa, atau harus mencari-cari dulu, meskipun sarana ini juga sangat bermanfat untuk pengingat atau pemicu belajar lebih jauh. Salah satu buku dr. Apin sebelumnya, Orangtua Cermat Anak Sehat (buku lainnya adalah Pro Kontra Imunisasi) menjadi andalan saya untuk dihadiahkan pada teman-teman khususnya yang sudah menikah, karena menurut saya sangat informatif dan mendidik. Jadi nggak sabar menunggu buku ini sampai di rumah. Iya, saya sudah sempat memesan lewat sistem pre-order secara online, jadi kemarin di Gramedia Depok tidak ikutan beli, hehehe. Agak nyesel juga sih, karena jadinya harus menunda beberapa hari lagi untuk bisa membaca isinya. Semoga bukunya segera tiba, ya.

#ODOPOKT5

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 13

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 13, 26 September 2017

Semalam anak-anak minta dibacakan buku Masa Kecil Nabi dan Rasul karya kang Ridwan ‘Iwok’ Abqary yang baru tiba. Ternyata dalam kumpulan cerita tersebut ada juga kisah yang terkait dengan kecerdasan finansial, yaitu kisah Nabi Ibrahim. Di situ diceritakan bahwa Nabi Ibrahim semasa kecil membantu ayahnya berjualan patung berhala. Namun karena tidak sesuai dengan kata hatinya, maka alih-alih berpromosi agar orang tertarik membeli, Nabi Ibrahim malah mengucapkan kata-kata yang cenderung membuat orang kehilangan minat. Misalnya bahwa patung ini tidaklah berguna dan tidak pantas disembah. Anak-anak sudah pernah dibacakan cerita lain tentang menyekutukan Allah swt dengan hal lain termasuk patung yang disembah, jadi mereka menanggapi bahwa memang sudah seharusnya orang tidak membeli patung untuk disembah. Diskusi kemudian melebar ke soal membantu orangtua, kemudian juga tentang adab berjualan, termasuk berjualan sesuatu yang membawa mudharat. Tidak lama sih memang, karena saya sedang berusaha mengatur kembali jam tidur mereka. Saya sadar juga bahwa yang saya lakukan masih lebih banyak outside in, bukan inside out seperti yang beberapa kali diingatkan oleh IIP, semoga ke depannya bisa saya perbaiki.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 12

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 12, 25 September 2017

Masih melanjutkan buku yang kemarin, berikut cerita-cerita selanjutnya dalam buku Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana yang saya bacakan untuk anak-anak:

  • Saat Lebaran Tiba, menggambarkan keriaan Idul Fitri di mana anak-anak biasanya memperoleh angpau. Jadi ingat uang angpau anak-anak yang atas perintah ayah mereka didonasikan semua, sih. Ini PR saya dan suami untuk membahas lebih detil terkait hak anak-anak atas uang mereka, seberapa banyak pilihan yang boleh kami ungkapkan untuk mereka (dibelanjakan, disumbangkan?), apakah beberapa hal yang berbau kesenangan lebih baik kami blokir atau tetap diberitahukan sekaligus dengan menyebutkan manfaat vs mudharatnya.
  • Jajanan Juno, kalau yang ini lebih ke penggunaan uang jajan secara bertanggung jawab, bukan hanya soal jumlah melainkan juga dibelanjakan untuk apa (tuh kan, kebawa suasana rapat hari ini yang kebetulan membahas outcome vs penyerapan anggaran, hehehe). Jajanan yang tidak sehat tentu bisa berefek negatif untuk tubuh.
  • Berkah Liburan, ide menyewakan buku ini sudah mampir di kepala saya sejak lama dan diusulkan juga oleh banyak orang terdekat mulai dari orangtua, sanak saudara, sahabat, suami…tapi saya belum kunjung mewujudkannya karena masih sayang :D. Jadilah saat membacakan cerita yang ini saya juga banyak menggambarkan risiko yang mungkin terjadi seperti buku rusak, tidak dikembalikan dst. Harusnya sih bisa lebih memancing masukan dari anak-anak, ya.
  • Belanja Murah, menurut saya pribadi gagasan cerita ini bisa digali lebih jauh lagi (ini kenapa jadi ulasan buku, ya?). Beli grosir memang bisa membuat harga satuan jatuhnya lebih murah, tapi apa betul kita perlu sebanyak itu? Memang disinggung sekilas di bagian akhir, ada ide beli selusin tas yang ditolak oleh tokoh ibu, alias untuk hal yang tidak diperlukan ya tidak usah juga beli grosiran segala demi menghemat. Tapi mungkin bisa juga ditambahkan penjelasan, misalnya selusin penghapus itu bisa untuk dijual kembali, stok kado, belinya patungan dengan teman-teman, untuk disumbangkan dst.
  • Gelang-gelang Viona, menggerakkan jiwa wirausaha anak yang berawal dari hobi. Sejalan dengan apa yang disampaikan selama ini di IIP ya, 4E: enjoy, easy, excellent, earn. Kalau memang sudah suka, biasanya menjalaninya pun semangat dan minim beban, termasuk jika bertemu tantangan.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 11

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 11, 24 September 2017

Setelah sejak pagi sibuk dengan ‘perayaan’ ultah Fathia (walaupun hanya tumpeng nasi kuning dan puding) dan jalan-jalan ke Taman Suropati, malamnya, saya bacakan buku baru untuk anak-anak. Sengaja saya pilihkan buku berjudul Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana. Dalam buku tersebut terdapat 10 judul cerita pendek terkait cara memperoleh, mengelola, maupun membelanjakan uang, disertai dengan ilustrasi menarik. Semuanya menampilkan kisah sehari-hari dalam kehidupan anak-anak terkait, sehingga terasa dekat dan akrab.

Cerita pertama adalah Ria dan Ikan Hias yang mencontohkan bagaimana sesuatu yang diperoleh dari tabungan sendiri akan lebih terasa berharga dan menyenangkan. Sedangkan Buku Tulis Keren mengajak anak-anak mendaur ulang barang yang masih bisa digunakan kembali, alih-alih selalu membeli yang baru. Itu Tidak Terlalu Penting bikin senyum-senyum sendiri karena saya jadi terbayang penolakan serupa yang adakalanya saya ucapkan ke anak-anak saat mereka meminta sesuatu yang tidak mereka perlukan. Judul selanjutnya, Piano dan Suling Impian mengingatkan bahwa ketika sejumlah anak tinggal minta tambahan uang ke orangtua jika ada keperluan sekolah yang tidak terlalu genting, di sisi lain ada juga orangtua yang berupaya mendidik anak dengan menegaskan bahwa uang tambahan bisa diperoleh hanya dengan usaha lebih. Membantu kakak berjualan kue, misalnya. Kegiatan berjualan pernah juga dijalani oleh suami semasa kecil, tepatnya berjualan ayam potong yang disembelih orangtuanya ke guru-guru sekolah.

Nah, belajar membedakan keinginan dengan kebutuhan sudah, diingatkan lagi soal menabung juga sudah, bagaimana dengan berbagi? Cerita kelima yang berjudul Denis Hilang menggarisbawahi bahwa hemat boleh, tapi jangan pelit. Dan berbagi paling dekat tentu untuk keluarga kita sendiri terlebih dahulu, selama memang memungkinkan dan tidak berdampak negatif.