Belajar tentang Pelaksanaan Haji dan Kurban Melalui Buku

Dekat-dekat hari raya Idul Adha begini, rasanya tepat jika kita mengajak anak-anak untuk belajar lebih jauh mengenai pelaksanaan ibadah haji dan kurban. Kedua ibadah ini pelaksanaannya memang terikat oleh waktu, dan puncaknya adalah hari raya Idul Adha yang tahun ini ditetapkan oleh pemerintah RI jatuh pada tanggal 22 Agustus 2018.

Salah satu media yang biasa kami pakai untuk mendampingi anak-anak belajar adalah buku. Tentunya lebih enak kalau menggunakan buku yang memang ditujukan untuk anak-anak, ya, karena materi dan penyampaiannya sudah disesuaikan dengan usia mereka.

Continue reading

Advertisements

Asyik Bermain dan Belajar dengan Kodomo Challenge

Kemarin siang, sebuah paket dari Kodomo Challenge tiba di rumah. Wah, ternyata paket edukasi untuk bulan Juli sudah datang! Padahal bulan Juni-nya kan belum habis, hehehe. Set toko roti lapis yang kami terima ini adalah paket pertama dari paket berlangganan yang akan dikirim setiap bulannya.

Karena Fahira sudah berusia lebih dari dua tahun, jadi saya memilih memesan paket Playgroup yang diperuntukkan bagi anak usia 2 s.d. 3 tahun. Untuk rentang usia ini, Kodomo Challenge menyiapkan paket untuk mengajak anak belajar mandiri dan menanamkan kebiasaan hidup yang baik. Dengan kosa kata yang rata-rata sudah mencapai lebih dari 600 kata, tentu anak usia ini makin jago berekspresi dan mengungkapkan perasaan maupun keingintahuan. Anak juga mulai lebih banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, bukan hanya dengan keluarga inti. Pastinya perlu pendampingan dan stimulasi yang tepat dong ya. Bagi anak berumur 1-2 tahun, ada paket Toddler.

Berhubung Fathia sudah bisa membaca, jadinya dia bisa membimbing adiknya bermain juga. Misalnya dengan membacakan petunjuk permainan.

Continue reading

Teh Kiki Barkiah: Didiklah Anak Sesuai Keunikan Karakternya

Ahad lalu (13/05), Teh Kiki Barkiah berbagi seputar pendidikan anak dilihat dari segi karakter masing-masing di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq, Otista. Dengan status sebagai ibu dari 6 anak (terakhir saya ikut seminar teh Kiki Ramadhan dua tahun yang lalu, teh Kiki rupanya sedang mengandung), tentu teh Kiki cukup kaya akan pengalaman. Bahkan di seminar bertajuk “Mosqueschooling Seminar Parenting Minim Konflik Maxi Manfaat, Mendidik Anak Sesuai Keunikan Karakternya” ini, saya dapati teh Kiki mengungkapkan tentang perkembangan cara pandangnya seiring dengan berjalannya waktu. Artinya, pola asuh bisa saja berubah atau disesuaikan secara fleksibel.

Menurut teh Kiki, pendekatan kita ke anak-anak perlu disesuaikan dengan bahasa cinta mereka. Tidak cukup kita hanya bersemangat untuk mendidik anak menjadi anak yang sholeh. Ada kebutuhan-kebutuhan anak sesuai potensi bawaannya yang harus kita penuhi, termasuk kebutuhan jasmaninya untuk bermain.

Continue reading

Hadapi Gadget Generation, Cermati Triknya

Orangtua masa kini tidak boleh ‘kalah’ pada anak-anak yang dengan cepat mempelajari teknologi terbaru. Demi menjadi teman terbaik bagi anak, juga untuk tetap ‘nyambung’ sekaligus memantau aktivitas anak, orangtua diharapkan mau meng-update pengetahuan. Baik pengetahuan mengenai cara menggunakan teknologi ini maupun ilmu memitigasi risiko yang mungkin muncul. Hal ini berkali-kali ditekankan dalam seminar yang saya ikuti ataupun artikel yang saya baca. Sebagai orangtua dari anak-anak yang juga ‘digital native‘ alias begitu lahir sudah dihadapkan dengan kecanggihan dunia digital, saya pun termasuk yang terkena ‘kewajiban’ itu.

Nah, dalam rangka menambah pengetahuan, Sabtu lalu (12/05) saya mengikuti Parenting ClassGadget Generation Do’s & Don’ts” di Hong Kong Cafe, Sarinah Thamrin. Dalam acara tersebut, dr. Stephanus ‘Ivan’ Nurdin, MedHyp, medical hypnotherapist dari RSIA Budhi Jaya menjelaskan bagaimana menangani generasi yang piawai menggunakan gawai sedari belia ini.

 

Continue reading

Empat Kriteria Mainan Anak Yang Aman Rekomendasi Psikolog

Sebagai orangtua rasanya kita tidak bisa lepas dari yang namanya mainan anak. Coba cek ruang bermain di rumah, deh. Ada mainan anak yang memang kita belikan, ada pula yang merupakan pemberian atau kado. Dari sekian banyak mainan yang ada di rumah, seberapa besar concern kita terhadap keamanannya? Mengingat mainan ini menemani keseharian anak, bahkan untuk bayi seringkali mainan ini masuk ke dalam mulut. Juga dari segi edukasi, apakah mainan yang kita berikan sudah layak?

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo menerangkan bagaimana sebetulnya bermain dengan aman itu, dalam talk show yang diadakan oleh Fisher-Price Indonesia bekerja sama dengan Kidz Station. Dalam acara yang diselenggarakan di Kidz Station Senayan City Kamis lalu (10/05) ini, mbak Vera menerangkan, sampai dengan usia 5 tahun, mainan itu boleh diberikan “serta merta” alias begitu saja (tanpa syarat) untuk stimulasi perkembangan anak. Sedangkan untuk umur 5 tahun ke atas, mainan itu “dalam rangka”, artinya sebagai reward atas hal baik tertentu yang ia lakukan. Atau, anak harus menabung dulu untuk memperolehnya.

 

Mau beli, mau dapat hadiah, jangan lupa pertimbangkan, apakah mainan ini memang baik untuk anak? Nah, menurut mab Vera, mainan yang dipilih untuk anak harus memenuhi kriteria berikut ini:

Continue reading

Sisi Lain: Yakin Mau Kekepin Anak?

Dulu saya pernah mengutip tulisan Busar alias mba Sarra Risman sbb:

Anak-anak saya layaknya tango yang belum tertutup rapat. Jika dilempar ke luar rumah akan terkontaminasi dengan ‘kuman dan kotoran’ yang kemungkinan ada dan bertabur di luar sana. Dan seperti wafernya, kalau sudah kena kuman, bagaimana membersihkannya? Saya memilih untuk memastikan tango saya terbungkus rapi dulu, karena kalau sudah lewat proses ‘quality control’, mau terlempar ke got pun, isinya tidak terkontaminasi.

Jadi, harus dikekep di rumah? Di mana-mana, proses pembungkusan ya di pabrik yang tertutup laaah. Dengan pekerja yang pakai sarung tangan, masker muka, tutup kepala, mesin yang canggih dan mahal, dan yang mau ‘wisata ke pabrik’ harus by appointment, mengikuti rules pabrik yang ada, gak bisa sembarang masuk saja. Ada dress code dan limited access di sana. Dan tidak setiap proses bisa dilihat oleh semua.

Selengkapnya, sekaligus untuk melihat konteks dan efek dari penerapan prinsip tersebut, bisa dilihat di postingan saya yang ini: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak? Tapi secara keseluruhan sih, busar termasuk yang menganggap bahwa ‘ngekepin’ alias memproteksi anak itu penting, daripada dapat pengaruh buruk dari luar.

Nah, belakangan saya membaca sejumlah tulisan dari para pakar parenting yang lain. Beliau-beliau ini justru mengingatkan prinsip yang berbeda. Selengkapnya sebagaimana saya kutip di bawah ini:

Continue reading

Ustadz Fauzil Adhim: Meluangkan Waktu Beda dengan Menyisakan Waktu

Sejak sebelum saya menikah, saya suka membaca buku-buku parenting karya Ustadz Fauzil Adhim. Menurut saya, uraian beliau enak dibaca, banyak sudut pandang tentang peran orangtua yang tergolong amat maju untuk masa itu, kala belum terlalu banyak tokoh parenting yang beredar di media sosial. Salah satu tulisan beliau di majalah yang mengangkat kebiasaan menonton televisi juga sempat saya kutip di postingan tentang disimpannya TV di rumah kami.

Setelah sekian kali tahu info kajian Ustadz Fauzil Adhim tetapi tidak kesampaian mengikuti, akhirnya kami bisa menyimak langsung penjelasan beliau di Islamic Center Jakarta Utara, 5 Mei lalu. Sebetulnya ada dua pembicara sih dalam acara bertajuk Mempersiapkan Orang Tua di Era Digital dalam Mendidik Anak Zaman Now ini, tetapi kali ini catatan saya fokuskan pada sesi Ustadz Fauzil.

 

Mendidik anak zaman old dengan zaman now, sama atau berbeda? Menurut Ustadz Fauzil, mungkin ada yang berbeda, tetapi secara mendasar sebetulnya banyak hal yang sama. Sarananya memang yang banyak berubah.

Satu hal yang perlu dipegang, kata Ustadz Fauzil, jangan pernah bilang ke anak bahwa gadget itu jelek, sementara kita masih menggunakan, bahkan mungkin punya banyak. Lalu, sesuatu yang baik juga belum tentu baik untuk dipakai kapan saja. Jangan sampai kita mengingatkan anak misalnya, “Nggak boleh, masih kecil.” Sebab nanti kalau sudah besar apakah berarti boleh main gadget tak kenal waktu? Nanti lama-lama beranggapan juga bahwa melihat video porno itu boleh, asal sudah dewasa. Standar seperti ini harus jelas, disampaikan kepada anak dengan jelas dan dialogis.

Selambat-lambatnya usia 7 tahun, anak sudah harus mumayyiz, mampu membedakan benar salah dan baik buruk dengan akalnya. Secara fisik, mumayyiz ditandai dengan kemampuan istinja’ atau bersih-bersih dengan sempurna setelah berhajat. Pada level ini, anak seharusnya sudah bisa menggunakan akalnya untuk membedakan baik buruk, mana bermanfaat mana berbahaya, juga mengatur prioritas mana yang penting dan kurang penting. Menjadi tugas orangtua untuk mendampingi anak-anaknya agar mereka sebisa mungkin mencapai mumayyiz pada usia 6 atau 7 tahun.

Continue reading