Cermati Hal-hal Ini Dulu Sebelum Eksis di Medsos

Hari ini Perpustakaan Kementerian Keuangan mengundang mas Iwan Setyawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns yang sudah difilmkan dan pendiri lembaga Provetic, dengan tema Jurus Jitu Eksis di Media Sosial. Berhubung tanggal 17 Mei adalah juga Hari Buku Nasional, mas Iwan mengawali uraiannya dengan menyebutkan bahwa anak muda yang keren sekarang sejatinya adalah anak muda yang berani duduk di kafe sendiri sambil membaca buku seperti buku Pramudya Ananta Toer, bukan yang keluar masuk mall. Di sini, budaya itu masih belum berjalan.

Media sosial secara teknologi digital amat membantu, kita bisa tahu perkembangan terkini di belahan dunia lain saat ini juga. Sehingga lifestyle orang meski terpisah jarak cenderung hampir sama, dengan media sosial saat ini kelas C, D, E bisa tahu tren dan kabar terbaru apa yang sedang terjadi di kota metropolitan, di mana saja dan kapan saja. Ini bisa juga mendorong gaya hidup baru seperti menghitung kalori dengan bantuan teknologi. Di sisi lain, media sosial menampilkan yang indah-indah saja, everyone looks perfect in socmed, bisa bikin kita merasa harus mencapai hal serupa padahal belum tentu sesuai dan mampu. Belum lagi kalau waktu kita terlalu banyak dihabiskan untuk kepo sana-sini yang tidak bermakna.

“Kita kini makin banyak menghabiskan waktu untuk sibuk melihat hidup orang lain, sedangkan hidup kita sendiri terancam terabaikan. Iseng baca komen, bisa jadi malah kebawa emosi seharian yang merusak indahnya hari itu bahkan mengganggu pekerjaan. Lihat judul provokatif saja langsung panas. Lalu terpancing ikut berkomentar dengan hati panas. Ini bahaya. Ada baiknya satu dua hari menjauhkan diri dari gadget,” jelas mas Iwan. Kita ini depending on our mood, kan, ujarnya mengingatkan. Saran mas Iwan, belajarlah menahan, nggak semua harus diekspresikan, jangan jadi orang yang reaktif. Dipikir dulu, dimasukkan dalam hati dulu. Ditambah lagi, orang mudah mencaci di medsos karena tidak tahu emosi yang terlibat seperti apa. Status atau postingan kita bisa membuat kita mendapatkan labelling. Rekam jejak digital kita akan selalu ada, termasuk yang sudah dihapus bisa dipulihkan lagi, jadi sekali lagi pikirkan matang-matang.

Pengaruh kurang baik lainnya, anak muda kini jika tidak dibatasi memang bisa ‘mengerikan’ sekali, karena segalanya bisa diakses di internet. Ini masih ditambah lagi dengan karakter mereka yang bisa dengan mudah jumping around dari satu topik ke topik lain alias tidak harus menyimak sesuatu secara runut layaknya generasi sebelumnya. Sisi bagusnya sih mereka ini multitasking memang, tetapi keterampilan literasi mereka bisa jadi terpengaruh. Attention span orang dulu 12 detik, sekarang cuma 7 detik, jadi anak muda sekarang sulit fokus. Membaca atau lebih tepatnya budaya baca yang baik bisa menjadi salah satu solusi, karena membaca itu membuka keinginan untuk maju, sekaligus meningkatkan kapasitas intelektual jika membaca buku-buku literatur, bukan hanya lintasan postingan di medsos yang cenderung singkat dan banyak pengalih perhatian. Ada baiknya di masyarakat dibuat gerakan untuk membuka hati, membuat membaca menjadi sesuatu yang umum dan menyenangkan, dengan cara yang fun juga (mas Iwan mencontohkan gerakan viral demgan tagar tertentu yang membuat kaum muda beramai-ramai posting foto sedang membaca sambil terlihat keren), bukan sekadar lewat ceramah-ceramah yang monoton dan seremonial.

Baca literatur, baca buku, bisa menjadi jalan menjernihkan dan memperluas pikiran. Orang sekarang termasuk di negara maju jadi lebih shallow. Kekuatan digital makin besar, apalagi generasi sekarang dari lahir sudah melek digital. Dulu orang bikin survei dengan cara isi kuesioner (paper and pen), kemudian lewat komputer, berikutnya sudah berbentuk online survey yang secara otomatis sudah menjalankan tugasnya bahkan tanpa kita sadari. Ya, apa yang kita posting, apa yang kita pernah lihat, yang pernah orang cari bisa dipakai untuk mengarahkan kita. Pernah kan sedang baca artikel bertema tertentu lalu tiba-tiba muncul iklan produk yang ada hubungannya (yang bukan merupakan bagian dari konten utama)? Ada pula yang namanya efek bubble filter karena ada motivated reasoning, orang cenderung hanya mencari berita yang dianggap mendukung atau memberi pembenaran untuk pemikirannya, lalu mem-block atau meng-unfollow orang yang tidak sepandangan. Akibatnya terjadilah bubble filter di mana seseorang hanya melihat atau berinteraksi dengan yang pro dengan pendapatnya.

Orang masa kini juga makin sulit menentukan pilihan saking banyaknya pilihan yang tersedia di media maupun pasaran. Bagaimana kita bisa mencerdaskan diri kita untuk memilih, itu dia tantangannya. Medsos pun membuat kita cenderung lebih konsumtif. Jadi kita harus bisa mengendalikan diri, harus pintar, jangan sampai terjerumus ikut arus. Kita ini sesungguhnya sedang dikomersialisasi oleh industri, semacam dijerumuskan dengan segala kemudahan termasuk kemudahan belanja. Orang Indonesia masih kagetan dengan lompatan teknologi ini. Inilah yang membuat mas Iwan jarang menerima endorse barang, karena kalau sudah endorse harusnya ya memang pakai barang dan percaya akan barang tersebut, kalau setengah-setengah nanti kan rawan ikut menjerumuskan orang lain.

Mas Iwan sebetulnya dulu tidak suka membaca, baru di masa kuliah di AS ia berubah. Perubahan ini diawali dengan ajakan temannya, Roby Muhamad ke Virgin Union Square. Di sana, mas Iwan cari CD sedangkan temannya cari buku. Temannya mendorong untuk membaca sebuah buku, tadinya mas Iwan menolak karena merasa orang yang baca novel are stupid people, ngapain orang baca sesuatu yang dikarang-karang? Tapi mas Roby terus mendesak, dan malam itu mas Iwan menamatkan The Catcher in the Rye karya JD Salinger yang selamanya mengubah pandangannya terhadap buku, ibaratnya direvolusi untuk membaca. Ia merasa related dengan tokoh Holden di situ. Dari situ mulai membaca buku-buku lain seperti tulisan Dostoyevsky.

Mas Iwan kemudian berkeinginan menuliskan sejarah keluarga yang diawali dengan kegemasan pada generasi muda kerabatnya yang abai akan sejarah perjuangan generasi sebelumnya. Kemudian jadilah buku. Sebetulnya mas Iwan malah sedang berencana ambil kelas untuk jadi guru yoga di India, tetapi kemudian buku yang ditulisnya ternyata lumayan laris di pasaran. Lalu ketika mas Iwan iseng cek twitter (yang awalnya tidak aktif dipakai walaupun punya akunnya) banyak yang mengucapkan terima kasih, dibalas dst, hingga buku dicetak sampai 16x. Dari situ mas Iwan merasakan the power of social media, lalu lebih aktif menggunakan akun medsosnya, dan jadi ingin meriset bagaimana media sosial bekerja (karena latar belakangnya memang dari statistik, dan sempat bekerja di perusahaan besar pengolah data untuk survei). Ini seperti mundur ke zaman dulu, katanya, terjadi pergeseran cara promosi. Dari awalnya orang tahu suatu mengenai suatu produk lewat words of mouth, lalu muncul promosi di media massa yang cenderung searah dan seragam, kini di medsos penjual bisa kirim message yang sesuai dengan audiens masing-masing. Medsos memungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan luwes dengan orang banyak, merancang promosi yang menarik dst. Pemikiran bahkan bisa diciptakan dan digerakkan dari media sosial, jadi banyak dipakai untuk memengaruhi opini. Makanya laku sekali pemakaian medsos di masa pemilu/pilkada untuk kepentingan politik.

Dalam buku 9 Summers 10 Autumns, mas Iwan menceritakan kembali hal-hal yang pernah ia lewati. Menuliskan kisah pribadi dalam buku artinya ada risiko cerita hidup kita diketahui banyak orang, kemudian apa ya bakal laku? Pemikiran tersebut sempat disampaikan oleh mas Iwan pada ibunya, lalu ibunya menjawab, “Orang mau baca mau kagak, hidup kita begini-begini aja. Tapi siapa tahu di luar sana ada satu dua anak supir angkot yang baca juga dan jadi tercerahkan.” Dan ini sungguh-sungguh terjadi ketika ada seorang mahasiswa UI mengirimkan e-mail, menyatakan rasa terima kasih atas inspirasi mas Iwan sehingga satu lagi anak supir angkot yaitu dirinya sendiri bisa berangkat menuntut ilmu ke Amerika.

Menulis juga punya manfaat psikologis, terang mas Iwan. “Ketika beban hidup sudah terlalu berat, rasanya entah mau dibawa ke mana, menulis itu such a release dan berefek healing. Healing dengan pesta-pesta efeknya artifisial dan sementara, sedangkan healing dengan menulis dampak positifnya akan lebih panjang, bahkan bisa jadi menginspirasi orang lain. Biarlah mungkin ada yang menertawakan postingan nan mellow, kan orang lain tidak tahu hidup kita yang sebenarnya.” Tambahnya, menampilkan segala yang terlalu manis malah akan terlihat palsu. Keluarkan saja apa yang membuat kita bahagia. Jangan sampai medsos merusak dignity hidup kita.


Kembali ke topik sesuai tema acara, mas Iwan menyebutkan tips. “Mau terkenal di media sosial? Simpel. Just be stupid, atau lebih jauh lagi go physical. Tapi ini kan merendahkan harga diri ya, tidak elegan. Gunakanlah cara yang positif,” tegas mas Iwan.

Prinsipnya, eksis boleh, tapi itu ada konsekuensinya yaitu orang jadi tahu hidup kita dan kita jadi susah punya privasi. Kecuali kalau tujuan utamanya memang mau dikomersialkan, ada sesuatu yang dijual dari keterbukaan kita. Jadi kalau ditanya tentang trik agar eksis di medsos maka kembalikan ke tujuannya, untuk apa? Sebetulnya lebih bagus living in the moment, nikmati kegiatan yang sedang dilakukan, kalaupun mau posting di medsos lebih untuk tujuan capturing the moment, jadi semacam menyusun album hidup. Ada juga orang-orang yang butuh medsos untuk keep in touch, bikin komunitas, lahan jualan, atau sarana untuk networking. Medsos juga membantu para pemilik kepribadian introvert untuk mengekspresikan diri mereka. Pada umumnya, orang extrovert dianggap lebih stand out dan berkemampuan karena memang lebih luwes menunjukkan apa yang dia bisa. Dengan medsos, orang yang introvert mendapatkan rumah atau tempat untuk mengekspresikan diri. Contohnya mas Iwan sendiri yang aslinya tidak terlalu suka medsos dan cenderung introvert, tetapi medsos membantunya berekspresi.

Memang media sosial membuat banyak hal jadi ‘terbuka’. Dari postingan di medsos, kita bisa menilai karakter orang, misalnya yang posting foto hitam putih biasanya pribadi yang solitary. Dari tata bahasanya ketahuan apakah orang ini punya manner atau tidak, ketika bertindak selaku buzzer dari hati atau tidak, dst. Orang-orang terkenal biasanya punya strategi tersendiri, termasuk dari sudut pandang pengambilan gambar, gaya komunikasi di medsos, hampir nggak mungkin posting sedang galau tengah malam. Kalau tujuan kita memang untuk seseruan saja, tidak ada pakem yang wajib diikuti memang, tapi jika ingin maju, harus pertimbangkan matang-matang apa yang ingin diposting. Misalnya pertimbangkan dari sisi architype kita. Gunakan fitur analytics, misalnya kapan waktunya viewer paling ramai, tipe-tipe karakter subscriber, lokasi pembaca dll, gunakan untuk menyesuaikan konten.

Di balik ketenaran para blogger dan vlogger yang memukau, perjuangannya luar biasa, lho. Mereka punya totalitas dari awal, termasuk pemilihan alat, pendekatan ke pihak yang tepat. Mengutip ucapan ibu mas Iwan, kebahagiaan akan terasa lebih manis jika dicapai dengan berdarah-darah. Kalau mau eksis, ya bikin ritual. Siapkan content management, misalnya tiap Senin tentang apa, apakah perlu ada admin khusus untuk menanggapi komentar, dst.

Sekarang orang kalau jual sesuatu akan bawa story-nya, misalnya ini resep nenek moyang, warisan, dibawa dari daerah tertentu, dst, jadi bukan jual ingredients. Kalau dibandingkan dengan produk sejenis biasanya satu sama lain pun bisa jadi sesungguhnya mirip-mirip, tapi harus ada yang membuat tampil beda. Ini bisa diterapkan juga di media sosial. Bangun karakter kita, apakah memang representasi dari kehidupan nyata atau ada yang mau ditampilkan. Tidak bisa misalnya hanya sekadar tampilkan produk jualan kita. Jadi idealnya suatu postingan bisa menggerakkan hati maupun pikiran viewer. Dari my story jadi the story of us. Setelahnya baru bangun personality khas yang diinginkan di medsos, apakah mau soft, lucu, serius, bijak, atau apa. Kalau hanya average, nggak akan ke mana-mana. Antar-postingan juga perlu konsisten karakternya. Karakter kita bisa saja dikeluarkan dalam bentuk posting random, atau posting teratur seperti tiga-tiga, terserah, yang penting karakternya kelihatan.

Bagaimana agar medsos kita ‘ramai’? Tujuan interaksi di medsos adalah untuk listening, dua arah, bukan hanya kita yang lempar informasi. Interaksi yang meaningful dan edukatif kebih oke. Jadi dari listening itu kita bisa dapat feedback, dan feedback seburuk apa pun bisa menjadi inspirasi kok. Butuh hati yang lapang memang untuk mendengar komentar di medsos, karena pendapat orang berbeda-beda, kan. Untuk memancing interaksi, ada juga yang namanya social media activation, misalnya dengan menyelenggarakan kuis atau lomba di medsos kita. Kuis yang unik lebih menarik, makin konyol malah bakal ramai biasanya. Syarat kuis yang terlalu panjang berderet malah bikin orang cenderung malas ikutan.

Branding diri di medsos harus menunjukkan juga sisi manusiawi yang menarik dan tidak garing, misalnya dengan memperlihatkan aktivitas pribadi seperti saat sedang melakukan hobi, sehingga tidak selalu memuat laporan acara tertentu (ini malah jadinya membosankan). Viewer perlu relate, melihat bahwa tokoh ini juga membumi dan real, just a human being, mendekati banyak orang tanpa harus pencitraan, sehingga tercipta attachment, dan lebih jauh tokoh dimaksud syukur-syukur bisa menjadi inspirasi. Di sisi lain sosmed itu has to be natural, kalau dipaksa ya nggak enak. Seorang tokoh yang menginspirasi tapi postingannya masih kaku, sayang sebetulnya. Kontennya bisa dibuat lebih kreatif, penyampaian informasi harus indah. Tapi jangan sampai jadi hanya kosmetik saja, misalnya revitalisasi pasar, pembangunan infrastruktur tetap harus jalan dengan baik, bukan cuma indah di postingan. Salah satu strategi brilian adalah langkah para pejabat negara merangkul vlogger untuk mengabarkan tugas atau kegiatan yang sedang dijalani, dengan kemasan yang kreatif. Gebrakan ini membuat informasi yang disajikan jadi lebih seru untuk disimak, karena orang sekarang juga lebih visual jadi desain atau foto yang bagus akan sangat menolong.

Kemudian ada peserta yang menanyakan pemanfaatan teknologi untuk membaca secara digital. Era sekarang, orang beralih dari buku fisik ke buku digital. Ada toko buku yang tutup, ada media cetak yang berhenti terbit. Transisinya luar biasa. Tapi aroma buku cetak, menurut mas Iwan tidak terkalahkan. Di sisi lain, buku versi digital membantu untuk daerah terpencil yang akses untuk buku fisiknya sulit, misalnya akibat jarak perpustakaan yang jauh. Maka di Indonesia sebetulnya tergusurnya buku cetak oleh buku digital belum menjadi isu, karena membaca itu sendiri saja belum menjadi sesuatu yang menyenangkan buat semua orang.

Menjelang akhir acara hari ini, Mas Iwan menyajikan rangkaian kalimat penutup yang mengena, “Hidup ini sudah susah, kebahagiaan bukan untuk dikejar tapi jalani saja kehidupan, nanti tiba-tiba ketemu kebahagiaan ya syukur.” Lebih jauh lagi, lewat eksis di medsos, empati tentang kehidupan bisa tumbuh. Mas Iwan memandang bahwa lewat medsos kita jadi bisa tahu ada kehidupan orang yang seperti ini dan itu (bukan berarti harus mengejar semua yang tampak indah ya), berikutnya muncul empati, dan pada akhirnya empati tersebut akan membuat kita lebih bersyukur akan kehidupan kita sendiri.

Rasa Nyaman dan Manajemen Jempolan, Langkah Awal untuk Jadi Apa Pun Yang Dimau

Pekan lalu saya mengikuti kegiatan blogger gathering yang diselenggarakan oleh Lactacyd bekerja sama dengan Female Daily Network di Tanamera Coffee, Kebayoran Baru. Mba Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., atau yang lebih akrab dipanggil Mba Nina, psikolog anak dan keluarga, juga Donita, celebrity mom brand ambassador Lactacyd ikut hadir. Kegiatan ini dilaksanakan bukan hanya untuk memperkenalkan varian terbaru Lactacyd yaitu Lactacyd Herbal dengan ekstrak alami susu, daun sirih, dan mawar. Tetapi juga untuk berbagi ilmu dan pengalaman agar wanita dapat tampil penuh percaya diri dan menjadi apa pun yang ia mau. Because women are special, be everything that you want.

Mba Affi Assegaf (Editorial Director FDN), pak Benyamin Wuisan (Category Head Consumer Healthcare PT Sanofi Indonesia -produsen Lactacyd), dan mba Debi Widiani (Brand Manager Consumer Health Care PT Sanofi Indonesia) menyambut para blogger di awal acara. Di antara topik yang disampaikan mba Affi, pak Benyamin, dan mba Debi dalam pembukaan adalah bahwa sebagai wanita pastinya ingin tampil percaya diri dan siap untuk bertemu dengan siapa saja. Salah satu hal yang menunjang percaya diri adalah kebersihan, termasuk kebersihan area V. Jadi memang perlu perhatian khusus, bukan hanya wajah dan kulit (yang umumnya tampak dari luar) yang butuh dirawat. Dan bukan hanya yang sudah menikah ya yang perlu merawat area V, karena setiap wanita berhak mendapatkan kenyamanan yang merupakan buah dari perawatan yang dilakukan. Lactacyd memahami kebutuhan akan hal tersebut dan menyediakan produk yang sudah teruji keamanan serta khasiatnya.

Continue reading

Berbisnis dari Hobi, antara Idealisme dan Materialisme

Saya baru mulai aktif nge-blog lagi sekitar setahun ini. Sambil jalan, saya mengamati bahwa ada beberapa (banyak, malah) yang menjadikan blognya sebagai sarana mendulang keuntungan. Bisa lewat sponsored post, endorse, undangan mengikuti acara tertentu secara cuma-cuma (sedangkan peserta lain harus bayar atau harus punya kriteria tertentu seperti memang pegawai di situ), atau kesempatan lebih dulu menyaksikan sebuah film. Ada juga sih yang memanfaatkan iklan yang dipasang langsung di blog, adakalanya lewat trik search engine optimization (SEO) versi kurang sehat, termasuk sembarangan copy paste tulisan orang lain dan permainan kata, yang berpotensi bikin kesal saat kita sedang menggunakan mesin pencari di internet. Pernah nggak, lagi butuh betul informasi tertentu, eh digiringnya ke tulisan yang nggak jelas maksudnya apa karena kalimatnya muter-muter atau disuruh klik-klik bagian lain dulu, kzl kan.

Makin tingginya penggunaan media sosial juga digunakan untuk mendukung tujuan ini, karena produsen tahu benar bahwa media sosial turut membantu informasi mengenai produknya menjangkau lebih banyak orang. Penggunaan jasa blogger dianggap lebih mencerminkan kedekatan dengan pasar yang mereka sasar, walaupun selebriti yang sering wara-wiri di media massa (bahkan biar kata cuma di infotainment melulu munculnya) masih punya ceruknya tersendiri sebagai key opinion leader atau bahkan brand ambassador.

Continue reading

Kampanye BrightFuture, Kepedulian untuk Investasi Masa Depan Kita

Jika melihat kondisi saat ini, pernah tidak terbersit di pikiran bahwa masalah di dunia sudah semakin kompleks? Baik di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun di bidang-bidang lainnya. Masalah yang sudah ada di masa sekarang, jika tidak segera ditangani dengan tepat, berpotensi akan terakumulasi ke depannya. Siapa yang nantinya akan menghadapi? Anak-anak kita tentunya, baik anak kandung maupun secara umum generasi berikutnya. Naluri kita sebagai mama pastilah ingin anak-anak menikmati kehidupan yang lebih baik daripada apa yang kita dapatkan saat ini. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Hari Sabtu tanggal 17 Desember 2016 saya mengikuti TUMBloggers Meet Up yang diadakan di D.LAB by SMDV, Jl. Riau, Menteng. Event ini diselenggarakan oleh The Urban Mama bekerja sama dengan Unilever Indonesia dan Blibli.com. Dalam sambutannya di pembukaan acara, teh Ninit Yunita selaku founder The Urban Mama menyampaikan bahwa anak adalah investasi masa depan, sebagai mama pastinya kita ingin anak-anak punya masa depan lebih cerah, dan itu bisa dimulai dari rumah. Jadi, The Urban Mama mendukung kampanye Unilever BrightFuture untuk menciptakan dunia yang lebih sehat dan gembira bagi anak. Nah, apa sih sebetulnya yang dikampanyekan Unilever ini? Mba Fika Rosemary sang penyiar cantik selaku pembawa acara mengajak peserta menyimak penjelasan dari para narasumber yang sudah hadir.

Sambutan dari Teh Ninit, founder TUM

Sambutan dari Teh Ninit, founder TUM

Kampanye BrightFuture merupakan salah satu pengejawantahan Unilever Sustainable Living Plan yang merupakan strategi dalam menumbuhkan bisnis sembari mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari bisnis tersebut serta meningkatkan manfaat sosial positif bagi masyarakat. Masalah gizi buruk, sanitasi, gangguan kesehatan gigi dan mulut, juga terbatasnya sarana untuk bermain anak di luar merupakan sebagian dari problem era ini. Tidak bisa kita menganggap bahwa hal-hal tersebut tidak ada pengaruhnya kepada kita atau keluarga kita. Mba Adisty Nilasari, Media Relations Manager PT Unilever Indonesia, Tbk. menceritakan bahwa kampanye Bright Future sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 2013 dengan tema yang berbeda setiap tahunnya, misalnya program sebelumnya berkaitan dengan sanitasi (cuci tangan pakai sabun) dan penanaman pohon (mengatasi deforestasi). Tahun ini, tema yang diusung adalah “Selamat Tinggal Dunia Lama”.

Continue reading

Being Switchable with Acer: Me, My Job, and My Hobby

menyusun-annual-report

Sebagian tim redaksi Annual Report

Mei lalu, saya dan beberapa orang pegawai lain se-Indonesia yang lolos seleksi pegawai bertalenta di bidang jurnalistik berkesempatan terlibat dalam proyek penulisan annual report organisasi kami. Untuk penyelesaian proyek tersebut, kami sempat dikumpulkan selama sepekan di kantor pusat. Ketika bertemu teman-teman lain untuk pertama kali, terus terang reaksi pertama saya adalah agak minder. Bagaimana tidak, saya paling senior (untuk menggantikan kata ‘tua’ :D) di antara mereka, dengan jarak usia cukup lumayan. Apalagi saat mereka mengeluarkan perangkat masing-masing. Waah, canggih-canggih, pikir saya.

Saya tatap netbook berwarna hitam yang juga sudah ikut duduk manis di depan saya, di meja perpustakaan kantor pusat. Perangkat ini sungguh penuh kenangan. Jadi ceritanya suami saya mendadak dapat SK mutasi ke Jakarta tahun 2011, saat saya sedang hamil anak pertama. Divisinya yang terhitung baru sehingga sarana komputer juga masih terbatas, serta pekerjaan yang menuntut mobilitas membuat suami merasa perlu membawa notebook sendiri, notebook yang jadi milik kami bersama. Sebetulnya saat itu saya juga sedang ada kerjaan menulis yang cukup lumayan dari segi asah pengalaman (karena dibimbing langsung oleh para editor penerbit kenamaan) maupun bayaran (honor terbesar yang pernah saya terima), tapi saya juga tak sampai hati bilang mau ‘menahan’ agar laptop tetap saya gunakan di Pangkalpinang. Kejutan, ternyata suami saya kemudian membelikan Acer Aspire One untuk saya yang dititipkannya lewat rekan lain. Dengan netbook inilah saya menuntaskan beberapa tulisan di kala itu, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan dalam buku atau memenangkan lomba.

Kini, putri pertama kami sudah bukan balita lagi. Episode long distance marriage kami baru saja memasuki babak berikutnya setelah sempat lima tahun bekerja di kota yang sama. Kali ini saya di Jakarta dan suami di Jogja. Netbook itu masih setia menemani saya, termasuk menyimpan memori kegiatan keluarga kecil kami. Setelah putri kedua melewati usia setahun, saya mulai lebih aktif menulis lagi. Mencoba ikutan event ini-itu, lagi-lagi dengan bantuan netbook kesayangan. Kebetulan awal tahun ini saya juga dimutasikan ke kantor dengan job desc baru: membuat beberapa macam laporan dan analisis. Ditembah dengan tugas mengelola website kantor.

Jika sebelumnya saya menjadi pengguna sistem terotomatisasi, kali ini saya dihadapkan pada pekerjaan yang sebetulnya merupakan hobi saya yaitu menulis, tetapi dengan tantangan baru yaitu menganalisis secara ilmiah. Artinya, makin sering saya berhubungan dengan aktivitas ketik-mengetik, mengirimkan surel, browsing rilis laporan dari lembaga lain maupun berita ekonomi, dan sejenisnya. Tentunya sudah tersedia fasilitas di kantor, tetapi adakalanya saya perlu menulis atau menyampaikan sesuatu di perjalanan. Sebab pekerjaan ini juga menuntut kami bertemu untuk berkoordinasi dengan banyak pihak ataupun melaksanakan survei di lapangan agar laporan yang tersusun lebih akurat dan bermanfaat. Ponsel pintar cukup membantu di waktu-waktu tertentu, tapi sering saya berharap punya gawai yang lebih bisa diandalkan untuk mendukung beragam aktivitas saya. Netbook kesayangan cukup mungil untuk ditenteng ke sana kemari dan cukup memadai untuk beberapa keperluan, tapi saya mulai browsing juga mengenai laptop lain.

acer-display

Display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440)

Baca di sana-sini, saya menemukan tulisan tentang Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas. Kenapa Acer? Jelas, karena ketangguhan perangkat sebelumnya yang saya miliki sudah menjadi bukti. Kata-kata “tanpa kipas” langsung menarik perhatian saya. Bisa, ya, tidak pakai kipas? Ternyata dengan teknologi LiquidLoop, suhu mesin netbook bisa tetap dingin tanpa kipas. Meminimalisir suara berisik juga, sekaligus mencegah debu masuk ke dalam badan netbook karena tanpa ventilasi, hingga netbook jadi lebih awet. Ukurannya sendiri tipis dengan bobot yang ringan, dengan display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440). Cocok nih dipakai untuk bekerja dengan spreadsheet atau mengutak-atik tampilan website maupun blog. Cocok juga untuk video call dengan suami atau eyang anak-anak yang nun jauh di sana (penting, lho!). Fitur Acer BlueLight Shield mampu melindungi mata pengguna, aset karunia Tuhan yang penting untuk tetap dijaga. Processor-nya sixth-generation Core i5 lho, dengan RAM 8GB, baca di review luar sih katanya bikin kerja sambil buka banyak tab terbuka sekaligus tetap lancar tanpa hang. Problem ngadat seperti itulah yang sering saya alami selama ini, mengingat saya merasa lebih mantap kalau membuka banyak referensi untuk cek dan ricek ketika menulis (biar hasil karya valid dan bisa dipertanggungjawabkan, kan).

acer-switchable

Switchable, bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet

Hal lain yang bikin saya makin antusias adalah adanya kickstand yang bisa dimiringkan hingga 165 derajat supaya lebih nyaman digunakan. Keyboard docking Switch Alpha 12 terkoneksi melalui engsel magnetik, jadi bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet, plus dilengkapi backlit untuk memudahkan pemakaian di tempat minim pencahayaan. Tahu aja nih, ibu-ibu kalau malam kadang masih perlu nulis sesuatu tapi kalau lampu dinyalakan semua si kecil ikut bangun, hehehe. Switchable banget, kan? As switchable as yang saya butuhkan, mengingat aneka keperluan saya yang kadang menuntut ‘gaya’ yang berbeda dalam mengoperasikan netbook.

acer-transfer-data

USB 3.1 Type-C dengan port bolak-balik dan transfer data lebih cepat

Bekerja dengan gawai acapkali juga berarti munculnya keperluan untuk memindahkan data. Nah, Switch Alpha 12 sudah pakai USB 3.1 Type-C, nih, yang port-nya bolak-balik dan transfer data juga bisa lebih cepat yaitu mencapai 5 Gbps (10 kali lebih kencang dibandingkan dengan USB 2.0). Tersedia juga stylus pen (dijual terpisah) untuk membantu presentasi menjadi lebih praktis. Kemudahan-kemudahan itu bisa menghemat waktu juga, demi kelancaran pertukaran peran working mom yang juga butuh me time seperti saya.

acer-1Jelas kan, Acer Switch Alpha 12 ini pas banget untuk saya. Masuk wish list pokoknya, semoga segera ada rezeki untuk mendapatkannya. Kalau sudah dapat, netbook yang lama dikemanakan, dong? Bisa dipakai anak pertama, lah, biar nggak hanya terbiasa dengan layar sentuh :).

acer

Nostalgia MP — Pe-er dari Mba Maya

multiply

Kemarin Mba Maya Siswadi (yang sekarang aktif ngeblog di http://www.advencious.com/ dan http://www.bunda3f.net/) posting di grup Blogger MP, mengajak mengenang masa-masa ngeblog di Multiply dulu. Layanan blogging multiply yang awalnya diperkenalkan ke saya oleh seorang teman di milis pembaca sebuah majalah ini memang dulu menjadi awal mula saya belajar bikin blog. Suasana di Multiply begitu kekeluargaan dengan dukungan konsepnya yang semi jejaring sosial. Jadi berbalas komentar atas suatu postingan menjadi suatu keseruan tersendiri. Perbedaan lokasi, waktu, dan latar belakang tidak menjadi kendala untuk menjalin hubungan pertemanan. Di kesempatan tertentu ada yang membuat program khusus untuk semakin mengeratkan persahabatan, termasuk kegiatan bakti sosial, menulis buku sama-sama dll. Beberapa produsen dan penerbit pun membuka akun di sini, yang menjembatani interaksi dengan pengguna produk mereka. Juga ada penulis-penulis yang menceritakan proses kreatif sebuah karya, berbagi tips menulis dan berhubungan dengan penerbit, yang bikin diri ini bisa banyak belajar.

Sayang, pada 1 Desember 2012 Multiply menutup platform blogging-nya dan berubah sepenuhnya menjadi marketplace. Waktu itu sebenarnya disediakan opsi untuk memindahkan seluruh postingan ke penyedia jasa lain seperti blogspot atau wordpress, tetapi saya masih ragu mengingat keharusan menyetting ulang sebagian postingan ditambah dengan kesibukan pekerjaan pada saat itu. Akhirnya saya hanya sempat menyelamatkan foto-foto dari sana, dengan bantuan adik. Pada bulan Mei 2013 Multiply malah sepenuhnya berhenti beroperasi.

Continue reading

Memulai Blog Lagi

Dulu saya ngeblog di Multiply, penyedia layanan perpaduan antara blogging dan jejaring sosial yang akhirnya ditutup tahun lalu. Saya mulai ngeblog tahun 2006, untuk melampiaskan hobi menulis, juga sebagai sarana untuk mengabadikan memori. Saya dapat banyak teman baru yang asyik, bisa menjaga silaturahim dengan teman lama, juga beroleh beberapa kesempatan menulis di media lewat Multiply ini. Sekitar empat tahun kemudian saya mulai jarang posting. Keterbatasan waktu menjadi alasannya, karena kesibukan kerja semakin bertambah, juga saya kemudian hamil, melahirkan, dan mutasi ke Jakarta yang beban kerjanya lebih ‘wow’. Kebetulan di saat yang hampir bersamaan terjadi gonjang-ganjing di Multiply sendiri yang berujung beralihnya fungsi Multiply menjadi pasar online, sampai akhirnya resmi berhenti beroperasi.

Setelah punya anak, sebetulnya banyak yang ingin saya tulis. Hanya saja, apa nanti pembacanya tidak bosan, ya? Saya juga sempat dihantui ketakutan kalau akan terjadi kasus seperti yang dialami oleh salah satu kontak Multiply saya. Foto-foto keluarga di blognya diambil oleh orang tak bertanggung jawab dan digunakan sebagai kedok. Maksudnya, foto-foto itu diunggah ke akun facebook pribadi orang tersebut untuk mengesankan punya latas belakang yang jelas, sementara akun tersebut lantas digunakan untuk penipuan. Serem, kan? Pemanfaatan data pribadi kita untuk keuntungan atau bahkan sekadar keisengan oknum-oknum jahat seperti ini adalah salah satu risiko mencantumkan hal-hal yang bersifat pribadi di dunia maya. Memang bisa dibatasi sebagai langkah antisipasi, tapi tetap saja kita tidak pernah tahu jalan pikiran orang-orang iseng itu. Saya sendiri pernah mengalami dampak dari tersebarnya data di internet, bahkan akibatnya masih terasa sampai tujuh tahun kemudian… dengan cara yang cukup menyakitkan. Namun, kalau terus-menerus takut, susah juga, ya. Sementara teman-teman lain sudah move on ke blog barunya, ada yang kemudian sudah dapat kesempatan bisnis atau menulis buku dari situ, menang kontes ini-itu, punya dokumentasi yang rapi dan menarik tentang tumbuh kembang anaknya, bisa berbagi pengalaman, pengetahuan atau tips untuk membantu yang lain, saya masih begini-begini saja.

Maka, bismillah, saya membuat akun di wordpress ini. Ternyata memulai lagi ngeblog itu rumit juga, ya. Saya sampai berbulan-bulan membiarkan ‘rumah’ ini ‘lumutan’ karena bingung mau nulis apa. Mau cerita tentang Fathia buat kenang-kenangan kelak, nulis analisis ala mba Lita (http://litamariana.com/) dulu yang jadi role model saya pada suatu ketika, bikin kliping artikel-artikel menarik biar gampang kalau sewaktu-waktu cari atau link aslinya sudah mati (saya terinspirasi oleh https://keluargasehat.wordpress.com/ yang banyak mengumpulkan artikel kesehatan khususnya yang berbasis ilmiah/EBM dan https://sites.google.com/site/duniabermainattaya/ yang memudahkan membaca banyak materi parenting menarik termasuk rangkuman seminar online maupun offline), berbagi tentang bacaan meskipun sekarang saya lagi agak jarang bisa punya waktu untuk baca serius (jadi ingat Goodreads saya yang debuan :D), mencatat resep biar saya lebih rajin masak, nulis-nulis buat ikutan lomba/kontes/giveaway, atau apa?

Terus, mau fokus di satu tema alias masing-masing bahasan ada blognya sendiri, atau dicampur aja daripada nanti bingung mengelolanya? Belum lagi perkara ide tulisan yang suka muncul tiba-tiba, tapi eksekusinya melempem, gara-gara sibuk mikirin harus ada foto ilustrasi yang pas, nunggu sempat mindahin foto dari kamera dulu, belum ketemu tautan rujukan yang sahih, dan seterusnya. Nah, kebetulan sekali, beberapa waktu yang lalu sepupu saya menuliskan tips memulai blog di blog pribadinya. Yah, coba dari dulu, Mbak, kan saya nggak usah kelamaan ragu dan bimbang begini, hihihi. Jadi pengin mengulas nih, langkah-langkah mana yang sudah dan mana yang belum saya lakukan.

  1. Target Pembaca. Tentukan target pembaca utama blog kamu. Laki-laki atau perempuan? Berapa range usianya? Tinggal di mana? Apa hobi dan minatnya? —> Nah, ini saya juga bingung. Dari pengalaman sih, saya suka blog yang bisa memberi manfaat bagi pembaca. Yang kalau kita lagi bingung trus googling lalu merasa ‘aha!’ gitu begitu nemu tulisan yang membantu. Jadinya ya saya mulai dari hal-hal yang menarik minat saya dulu, dan apa yang menarik untuk saya biasanya akan menarik pula bagi…. sesama ibu muda, mungkin, ya?
  2. Nama. Nama blog ini susah-susah-gampang. Kecuali kalau kamu memang mau memakai nama kamu sendiri, coba cari nama blog yang benar-benar merepresentasikan konten blog sekaligus memberi “perasaan” tertentu. Kalau namanya pakai bahasa asing, usahakan jangan yang sulit ya.(….) Kalau sudah ketemu, langsung periksa apakah nama tersebut sudah dipakai orang lain. (…). –> awalnya saya mendaftarkan diri ke wordpress dengan nama diri, tapi kemudian kepengin nama yang lebih anonim, atau lebih mencerminkan isi…. dan berakhir dengan menjatuhkan pilihan ke nama ceritaleila. Sederhana, gampang diingat, terkesan mentok.
  3. Konten. Buat mapping konten blog kamu dengan menulis apa saja topik yang ingin kamu tulis nanti. (…) Membuat mapping seperti ini akan terasa banget manfaatnya saat nanti blog sudah berjalan dan kehabisan ide. Kita tinggal cek mapping yang sudah kita buat, dan biasanya nih baru sadar kalau ternyata kita sudah jarang membahas 2-3 topik tertentu. –> Iya juga, ya…. baiklah, akan mulai dibikin pemetaannya, mengingat saya juga sudah memutuskan blog ini bakalan ‘gado-gado’ isinya, sekalian biar rapi dan mempermudah pencarian (tapi terus terang nggak terpikir lho sebelumnya bahwa akan bisa digunakan juga untuk mencari ide).
  4. Hosting. (…) Berdasarkan pengalaman pribadi, saya lebih suka menggunakan blog hosting yang sudah ada daripada membangun sendiri (self hosted blog). Kenapa? Karena saya sudah nyaman dengan blog hosting tertentu dan saya mau memastikan kalau saya masih tetap bisa menjalankan blog saya meski web developer saya berhalangan. Blog hosting yang sudah ada, seperti WordPress, juga memudahkan saya untuk update melalui mobile. Selain itu, biasanya persiapannya pun jadi lebih singkat. 🙂 –> alhamdulillah, pilihan saya ternyata tidak salah :D.
  5. Survey. Lakukan survey kecil-kecilan. Tanya teman-temanmu yang kamu tahu suka banget browsing blog dan punya minat yang sejalan dengan konten blog kamu. (….) Lebih bagus lagi kalau ada blog lokal yang punya benang merah dengan konten blog-mu. Selain untuk dipelajari, bisa juga buat diajak kolaborasi suatu hari nanti. –> Rasanya belum sejauh ini sih, tapi menarik juga buat dipertimbangkan ke depannya.
  6. Tampilan. Urusan tampilan ini penting sekali, karena sering jadi kunci orang akan tetap tinggal untuk terus membaca blog-mu atau memilih untuk segera keluar. Pikirkan warna-warna apa saja yang akan dominan. Seperti apa penempatan menu dan konten. Kalau bisa sih jangan terlalu sering mengganti tampilan blog supaya pembaca nggak bingung. Lebih baik urusan tampilan ini memakan waktu berminggu-minggu daripada buru-buru diluncurkan tapi dua bulan kemudian sudah ganti layout/scheme lagi. Oya, jangan lupa pikirkan tampilan di mobile, karena saat ini lebih banyak orang mengakses via mobile/tablet daripada PC. Nah, ini (lagi-lagi) kenapa saya lebih memilih blog hosting yang sudah ada daripada membangun dari awal. 🙂 –> Idem, saya juga pengin sih yang cakep-cakep, yang canggih dan rapi juga menunya, tapi sementara ini yang simpel dulu aja deh. Soalnya saya lebih sering mengakses internet dengan ponsel, dan bete kalau ada blog yang ingin dibaca tapi tampilannya jadi berantakan, atau berat loadingnya, atau navigasinya membingungkan untuk tampilan mobile. Dan, tetep ya, pilih warna ungu :D. Harusnya lebih meluangkan waktu untuk personalisasi juga, ya. Biar tambah cakep hehehe.
  7. HOLD IT! Kalau semuanya sudah siap, saatnya mengisi blog, deh. Saran saya, lebih baik isi blog dengan beberapa post dulu baru luncurkan secara resmi, daripada hanya menulis 1 post “hello everyone” kemudian langsung cerita ke banyak orang kalau punya blog baru. 5-7 post sudah cukup untuk memberi gambaran akan seperti apa konten blog kamu selanjutnya. –> Saya juga sampai sekarang menahan diri dari mempublikasikan link blog bahkan di facebook/twitter sendiri. Paling-paling kasih link untuk syarat ikutan lomba :D. Alasannya lebih kurang sama, penginnya sih ada isinya dulu yang cukup memadai, pasang hiasan-hiasan apa kek, ngepel-ngepel dulu, rapiin barang-barang di rak sebelum membuka pintu buat tamu.
  8. Sebarkan. Nah, kalau sudah punya konten yang cukup, sudah mantap sama tampilan dan sisi teknisnya juga sudah beres semua, berarti sudah waktunya blog kamu disebarkan ke teman-teman dan khalayak luas. Caranya bisa macam-macam. Mulai dari yang simpel seperti memberi tahu lewat social media atau e-mail, sampai mengirim paket ke orang-orang tertentu yang kamu rasa cocok dengan blog-mu. Be creative! 😉 —> Siap! Eh, tapi, nanti dulu kali ya, hehehe *mendadak minder*.