Totoro dan Serunya Kisah Fantasi Masa Kecil

Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa ada yang hendak menghadirkan film-film Studio Ghibli di bioskop-bioskop dalam negeri. Berita tersebut sempat terlupakan sampai akhirnya sebuah postingan teman di instagram mengingatkan saya. Penasaran, saya pun mencari tahu jadwal festival film-film animasi tersebut. Ternyata, sebagaimana disebutkan di http://worldofghibli.id/#screening, bulan ini adalah giliran My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) diputar. Film-film lainnya secara bergantian ditayangkan setiap pekan pertama di Studio XXI maupun CGV tertentu di beberapa kota sejak April hingga September tahun ini (kecuali Juni, dan kabarnya akan dilanjutkan hingga Maret 2018).

Saya bukan fans berat Studio Ghibli maupun Hayao Miyazaki (co-founder Ghibli yang juga bertindak antara lain selaku sutradara, produser, animator, dan penulis naskah), tetapi saya sempat menikmati film-filmnya di masa kuliah. Gara-garanya, para sepupu saya yang tinggal serumah waktu itu (lebih tepatnya saya yang ikut tinggal di rumah orangtua mereka, pakdhe dan budhe saya) suka film-film Ghibli. Saya tak sempat nonton semuanya sih, yang paling saya ingat saya saksikan sampai selesai adalah Ponyo on The Cliff by The Sea. Penasaran juga jadinya mau nonton My Neighbor Totoro. Jadi, ya, #NontonGhibli-lah saya dengan memesan tiket terlebih dahulu melalui situsnya. Sayangnya begitu sampai di lokasi kemudian, saya sudah tak kebagian kipas lucu Totoro yang sudah habis duluan.

Kakak beradik dalam My Neighbor Totoro kontan mengingatkan saya pada anak-anak, yang kebetulan juga sama-sama perempuan dan jarak usianya mirip. Cara mereka berinteraksi sungguh menggemaskan, bagaimana mereka saling mendukung, bagaimana Mei si adik kadang iseng dan mudah ngambek tapi juga terlihat menjadikan kakaknya sebagai panutan sedangkan Satsuki si kakak begitu mengayomi. Ceritanya sendiri sepintas sederhana, dimulai dari pindahnya ayah Satsuki dan Mei ke sebuah rumah tua agar lebih dekat dengan tempat ibu Satsuki dan Mei sedang dirawat karena sakit. Di sana, Satsuki dan Mei berkenalan dengan makhluk-makhluk unik yang tinggal di sekitar mereka, selain juga berinteraksi dengan tetangga baru (manusia betulan-kenapa juga harus disebutkan begini ya, hehehe) yang amat baik. Mengenai sakit ini tidak disebut jelas sakit apa, tapi situs ini http://www.nausicaa.net/miyazaki/totoro/faq.html menyimpulkan bahwa bisa jadi sang ibu terkena TB. Di situs tersebut juga diterangkan mengenai hal-hal yang mungkin menjadi pertanyaan, misalnya tahun latar belakang kejadian. Dijelaskan pula kenapa ada poster yang beredar dengan ilustrasi seorang anak perempuan berdiri di samping Totoro, rupanya ini konsep awal sebelum diputuskan karakter anak dipecah menjadi dua orang. Karakter fantasi Totoro dan teman-temannya menjadi daya tarik tersendiri dengan keunikan penampilan dan kemampuan ajaib mereka. Seru!

Oh ya, ini lagu favorit saya dari film tersebutThe Huge Tree in the Tsukamori Forest (Tsukamori no Taiju).

 

 

Tontonan di Bulan Desember

Dulu ketika kami masih bertugas di Pangkalpinang, kami jelas tidak bisa nonton film di bioskop karena bioskopnya memang tidak ada. Paling-paling kami nonton kalau kebetulan sedang mudik ke Solo dan ada film menarik. Pada dasarnya kami memang tidak terlalu ‘gila’ film, ada yang bagus dan sempat ya ditonton, kalau nggak ya nggak ngoyo juga (beda, ya, sama zaman masih gadis dulu :D) . Malah karena selera yang agak berbeda, kadang-kadang saya ‘menyeret’ adik untuk menemani nonton di kampung halaman.

Setelah pindah ke Jakarta, di mana bioskop bertebaran, ternyata kami tetap saja sulit meluangkan waktu ke bioskop. Pekerjaan dan terutama berharganya waktu bersama putri kami (karena kami pindah hampir bersamaan dengan perubahan status menjadi orangtua) menjadi alasan. Boro-boro nonton, mengikuti perkembangan film terbaru seperti dulu saja rasanya saya sudah tidak sanggup. Tercatat baru dua kali kami nonton berdua sejak punya anak. Film yang kami tonton adalah Hafalan Sholat Delisa (2011) dan Habibie & Ainun (2012).

Uniknya, justru di bulan Desember di mana pekerjaan kantor lagi sibuk-sibuknya (terutama kantor saya, yang di hari libur pun jadi sering masuk) itulah kami bisa nonton. Entah karena perasaan kepengin jeda sejenak dari rutinitas, atau kebetulan saja ada film yang bikin penasaran. Hal lain yang baru saya sadari belakangan, kedua film tersebut sama-sama dibintangi oleh Reza Rahadian. Bukan, saya bukan fans Reza walau kagum juga akan aktingnya. Murni film atau cerita di balik filmnyalah yang bikin saya mengajak suami nonton. Begitu saya ‘ngeh’ akan persamaan ini, saya langsung mencari tahu Reza Rahadian main film apa akhir tahun 2013. Nah, mungkinkah kami akan nonton Tenggelamnya Kapal van der Wijck Desember nanti? Sepertinya saya harus buru-buru menuntaskan baca bukunya dulu. Payah, ya, saya mengaku pecinta buku tapi belum pernah baca karya Buya HAMKA yang satu ini.

Tenggelamnya3