[Ulasan Film] Duka Sedalam Cinta

Usai menonton film Ketika Mas Gagah Pergi pada awal tahun 2016, ada sepercik rasa kecewa di dada. Habisnya, kok ternyata filmnya bersambung, sih? Kapan lanjutannya tayang juga belum jelas betul. Kan penasaran dengan akhir cerita versi layar lebarnya, apakah akan setia dengan cerpen/novelet atau memberikan ruang untuk penutup yang berbeda. Dengan pengembangan sejumlah karakter orisinal dari cerpen/noveletnya maupun penambahan tokoh-tokoh baru, bisa saja alurnya jadi lain, kan?

Dalam acara Jumpa Penulis beberapa waktu yang lalu, mba Helvy Tiana Rosa selaku penulis Ketika Mas Gagah Pergi menjelaskan salah satu alasan kenapa film pertama dan kedua jadi harus berjarak sebegitu lama: terbentur soal pendanaan. Ya, mba Helvy nekad mengambil peran sebagai produser kedua film tersebut, konon dengan diiringi tangis sang adik, mba Asma Nadia, yang tahu betapa beratnya menembus dunia hiburan Indonesia dengan idealisme macam ini. Biaya pembuatan film ini sendiri dihimpun lewat crowd funding.

Baca juga: Pesan-pesan dari Helvy Tiana Rosa

Penantian cukup panjang itu akhirnya tuntas juga pekan kemarin. Film Duka Sedalam Cinta yang menampilkan sambungan kisah mas Gagah, Gita, Yudhi, serta keluarga dan kawan-kawan mereka naik tayang tanggal 19 Oktober 2017 di sejumlah jaringan sinepleks. Sayang, bioskop yang menyediakan layarnya untuk film ini di Jakarta tidak banyak-banyak amat. Ingin sebetulnya nonton bersama teman-teman seperti waktu itu menyaksikan film pertamanya, atau bergabung dengan sejumlah komunitas yang mengadakan sesi nonton bareng. Namun, belum ketemu waktu yang pas. Daripada nanti nggak jadi-jadi, juga sekaligus mengikuti ajakan mba Helvy untuk menonton di hari-hari awal pemutaran film, saya memantapkan diri memesan tiket sendirian di hari kedua filmnya ditayangkan. Kalaupun nanti ternyata ada teman yang mengajak nonton lagi dan jadwalnya klop, ya nonton lagi saja, pikir saya.

Continue reading

Advertisements

Sindrom Patah Hati, Apa Itu?

Menjelang penayangan perdananya pada pertengahan Desember nanti, awal bulan ini telah dirilis poster dan trailer terbaru film Star Wars: The Last Jedi. Dalam kedua media promosi film Star Wars kedelapan tersebut, tampak sosok Putri/Jenderal Leia Organa Solo (Leia Amidala Skywalker) yang diperankan oleh Carrie Fisher. Penasaran juga bagaimana nanti tim pembuat film mengarahkan jalan cerita sepeninggal Carrie Fisher, mengingat tokoh yang dimainkannya memiliki posisi penting dalam kisah Star Wars sejak trilogi pertamanya mulai dirilis tahun 1977. Ya, Carrie Fisher telah meninggal dunia pada Desember 2016. Penyebab kematiannya sesuai keterangan resmi adalah sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur) dan ‘faktor lainnya’.

Yang mengejutkan, sehari setelah meninggalnya Carrie Fisher, sang ibu yang berusia 84 tahun ‘menyusul’, diduga karena serangan stroke. Ibunda Carrie Fisher adalah aktris senior Debbie Reynolds yang terkenal lewat film Singin’ in The Rain (1952). Sebelum putrinya berpulang, Debbie secara umum berada dalam kondisi kesehatan yang cukup baik. Putra Debbie Reynolds sempat menyebut bahwa pemicu meninggalnya ibu mereka tercinta adalah kondisi tekanan dan kesedihan pasca-kepergian Carrie.

Pertanyaannya, apa iya kesedihan bisa segitunya menjadi penyebab meninggalnya seseorang? Bukan patah hati lalu bunuh diri, ya…itu sih lagu Koes Plus (yang sebetulnya mencerminkan sejumlah realita juga). Tahun 2006, para peneliti di Johns Hopkins University School of Medicine menyimpulkan bahwa memang sebutan ‘broken heart‘ untuk kesedihan mendalam akibat luka cinta ada benarnya. Penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine menyatakan bahwa trauma dan guncangan emosional bisa menyebabkan kondisi jantung yang fatal, yang diistilahkan dengan broken heart syndrome alias sindrom patah hati (kesamaan katanya —heart-jantung-hati– jadi agak selip ketika diterjemahkan, tapi intinya seperti itu).

Continue reading

Belajar Sejarah (Lagi) lewat Film Toedjoeh Kata

Sabtu lalu saya mengikuti acara di kopdar (walaupun sebenarnya belum ikut komunitasnya) komunitas Indonesia Tanpa JIL (ITJ)-Jakarta sekaligus nobar film Toedjoeh Kata di Rabbani Rawamangun. Alhamdulillah, karena pada kesempatan nobar film yang sama sebelumnya (kalau tidak salah diselenggarakan oleh komunitas yang berbeda) saya sedang ada kegiatan lain. Film doku-drama tersebut mengangkat kisah Ki Bagus Hadikusumo yang mengalami dilema pelik menjelang pengesahan konstitusi negeri kita tercinta ini. Ya, film ini menyoroti terhapusnya tujuh kata dari naskah Piagam Jakarta.

Sebelum nonton bareng dimulai, panitia menghadirkan produser film Toedjoeh Kata, Aanisah Pangrutiningtias dan sang sutradara Bayu Seto untuk menceritakan latar belakang, tujuan, dan suka duka pembuatan film tersebut. Film Toedjoeh Kata berawal dari partisipasi dalam ajang apresiasi seni LSBO PP Muhammadiyah bulan Mei tahun ini. Nisa, Bayu, dan kawan-kawan mereka sesama pegiat komunitas Muhammadiyah Multimedia Kine Klub Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sepakat ingin mengangkat cerita Ki Bagoes Hadikoesoemo yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1944-1953) dan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2015. Kerja keras mereka membuahkan gelar juara 2 pada ajang tersebut.

Continue reading

Totoro dan Serunya Kisah Fantasi Masa Kecil

Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa ada yang hendak menghadirkan film-film Studio Ghibli di bioskop-bioskop dalam negeri. Berita tersebut sempat terlupakan sampai akhirnya sebuah postingan teman di instagram mengingatkan saya. Penasaran, saya pun mencari tahu jadwal festival film-film animasi tersebut. Ternyata, sebagaimana disebutkan di http://worldofghibli.id/#screening, bulan ini adalah giliran My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) diputar. Film-film lainnya secara bergantian ditayangkan setiap pekan pertama di Studio XXI maupun CGV tertentu di beberapa kota sejak April hingga September tahun ini (kecuali Juni, dan kabarnya akan dilanjutkan hingga Maret 2018).

Saya bukan fans berat Studio Ghibli maupun Hayao Miyazaki (co-founder Ghibli yang juga bertindak antara lain selaku sutradara, produser, animator, dan penulis naskah), tetapi saya sempat menikmati film-filmnya di masa kuliah. Gara-garanya, para sepupu saya yang tinggal serumah waktu itu (lebih tepatnya saya yang ikut tinggal di rumah orangtua mereka, pakdhe dan budhe saya) suka film-film Ghibli. Saya tak sempat nonton semuanya sih, yang paling saya ingat saya saksikan sampai selesai adalah Ponyo on The Cliff by The Sea. Penasaran juga jadinya mau nonton My Neighbor Totoro. Jadi, ya, #NontonGhibli-lah saya dengan memesan tiket terlebih dahulu melalui situsnya. Sayangnya begitu sampai di lokasi kemudian, saya sudah tak kebagian kipas lucu Totoro yang sudah habis duluan.

Kakak beradik dalam My Neighbor Totoro kontan mengingatkan saya pada anak-anak, yang kebetulan juga sama-sama perempuan dan jarak usianya mirip. Cara mereka berinteraksi sungguh menggemaskan, bagaimana mereka saling mendukung, bagaimana Mei si adik kadang iseng dan mudah ngambek tapi juga terlihat menjadikan kakaknya sebagai panutan sedangkan Satsuki si kakak begitu mengayomi. Ceritanya sendiri sepintas sederhana, dimulai dari pindahnya ayah Satsuki dan Mei ke sebuah rumah tua agar lebih dekat dengan tempat ibu Satsuki dan Mei sedang dirawat karena sakit. Di sana, Satsuki dan Mei berkenalan dengan makhluk-makhluk unik yang tinggal di sekitar mereka, selain juga berinteraksi dengan tetangga baru (manusia betulan-kenapa juga harus disebutkan begini ya, hehehe) yang amat baik. Mengenai sakit ini tidak disebut jelas sakit apa, tapi situs ini http://www.nausicaa.net/miyazaki/totoro/faq.html menyimpulkan bahwa bisa jadi sang ibu terkena TB. Di situs tersebut juga diterangkan mengenai hal-hal yang mungkin menjadi pertanyaan, misalnya tahun latar belakang kejadian. Dijelaskan pula kenapa ada poster yang beredar dengan ilustrasi seorang anak perempuan berdiri di samping Totoro, rupanya ini konsep awal sebelum diputuskan karakter anak dipecah menjadi dua orang. Karakter fantasi Totoro dan teman-temannya menjadi daya tarik tersendiri dengan keunikan penampilan dan kemampuan ajaib mereka. Seru!

Oh ya, ini lagu favorit saya dari film tersebutThe Huge Tree in the Tsukamori Forest (Tsukamori no Taiju).

 

 

Tontonan di Bulan Desember

Dulu ketika kami masih bertugas di Pangkalpinang, kami jelas tidak bisa nonton film di bioskop karena bioskopnya memang tidak ada. Paling-paling kami nonton kalau kebetulan sedang mudik ke Solo dan ada film menarik. Pada dasarnya kami memang tidak terlalu ‘gila’ film, ada yang bagus dan sempat ya ditonton, kalau nggak ya nggak ngoyo juga (beda, ya, sama zaman masih gadis dulu :D) . Malah karena selera yang agak berbeda, kadang-kadang saya ‘menyeret’ adik untuk menemani nonton di kampung halaman.

Setelah pindah ke Jakarta, di mana bioskop bertebaran, ternyata kami tetap saja sulit meluangkan waktu ke bioskop. Pekerjaan dan terutama berharganya waktu bersama putri kami (karena kami pindah hampir bersamaan dengan perubahan status menjadi orangtua) menjadi alasan. Boro-boro nonton, mengikuti perkembangan film terbaru seperti dulu saja rasanya saya sudah tidak sanggup. Tercatat baru dua kali kami nonton berdua sejak punya anak. Film yang kami tonton adalah Hafalan Sholat Delisa (2011) dan Habibie & Ainun (2012).

Uniknya, justru di bulan Desember di mana pekerjaan kantor lagi sibuk-sibuknya (terutama kantor saya, yang di hari libur pun jadi sering masuk) itulah kami bisa nonton. Entah karena perasaan kepengin jeda sejenak dari rutinitas, atau kebetulan saja ada film yang bikin penasaran. Hal lain yang baru saya sadari belakangan, kedua film tersebut sama-sama dibintangi oleh Reza Rahadian. Bukan, saya bukan fans Reza walau kagum juga akan aktingnya. Murni film atau cerita di balik filmnyalah yang bikin saya mengajak suami nonton. Begitu saya ‘ngeh’ akan persamaan ini, saya langsung mencari tahu Reza Rahadian main film apa akhir tahun 2013. Nah, mungkinkah kami akan nonton Tenggelamnya Kapal van der Wijck Desember nanti? Sepertinya saya harus buru-buru menuntaskan baca bukunya dulu. Payah, ya, saya mengaku pecinta buku tapi belum pernah baca karya Buya HAMKA yang satu ini.

Tenggelamnya3