Belajar dari Generasi Z, Mengapa Tidak?

Awal bulan ini, tepatnya tanggal 1 lalu, saya kembali memboyong seisi rumah untuk mengikuti kegiatan wisuda program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) Jakarta Batch 4. Lagi-lagi ‘jadi penyusup’ di acara batch lain, hehehe, seperti yang kami lakukan Mei lalu. Habisnya, sayang sih kalau melewatkan kesempatan belajar dari para pembiacara. Jika pada wisuda batch 3 yang diundang untuk mengisi materi adalah ustadz Harry Santosa, kali ini panitia menghadirkan ketiga putra-putri bu Septi Peni Wulandani (founder IIP) dengan pak Dodik Marianto.

Nurul Syahid Kusuma (Enes), Kusuma Dyah Sekararum (Ara), dan Elan Jihad Muhammad yang masa pendidikannya lebih banyak dijalani dengan metode homeschooling ini bisa dibilang merupakan bagian dari generasi Z. Enes kelahiran tahun 1996, Ara lahir setahun kemudian, sedangkan Elan, satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara ini, lahir tahun 2003. Terakhir saya melihat mereka sekitar dua tahun yang lalu, ketika ada kuliah umum IIP (waktu itu belum jadi anggota) di mana bu Septi sekeluarga menjadi pengisi acara. Menarik melihat perkembangan ketiga anak muda nan cerdas ini. Mereka tampak makin mantap dan fokus dengan proyek sesuai minat masing-masing.

Continue reading

Advertisements

Review Kelas Bunda Sayang IIP Sesi #6: Cerdas Finansial Ibu Berpengaruh pada Anak

Institut Ibu Profesional
Review Materi Sesi 8

CERDAS FINANSIAL IBU BERPENGARUH PADA ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan di kelas Bunda Sayang yang ke-#8 kali ini. Kita sudah melewati 2/3 perjalanan kita.

Sejatinya di materi kali ini kita ditantang untuk menjadi cerdas finansial dengan cara memandu anak-anak (Learning by Teaching).

Maka langkah yang kita ambil adalah memahamkan diri kita terlebih dahulu bahwa uang adalah bagian kecil dari rezeki.

Selanjutnya belajar mengelola uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan.

Kita sedang tumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggung jawab terhadap bagian rezeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

Maka kuncinya adalah mulai dari orangtuanya.

Salah satu peran kita sebagai Ibu bukanlah untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan kepada anak dan keluarga kita.

Peran tersebut perlu ilmu.

Hargai dengan baik segala ikhtiar pekerjaan menjemput rezeki, baik yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal ini membuat penghasilan yang akan diterima akan lebih berharga

Anak-anak harus paham, tidak ada pekerjaan yang hina di muka bumi ini selama untuk menjemput rezeki yang halal.

Habiskan uang di jalan yang benar

Kebiasaan lama kita adalah menyisakan uang agar bisa menabung, investasi dan lain-lain. Namanya menyisakan pasti kecil.

Maka ubah dengan cara merencanakan dengan baik, dan habiskan uang di jalan yang benar.

Contoh:

Cashflow orang yang bermental miskin:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Shopping 57,5
Cicilan hutang 30
Sosial 2,5
——————————–
Sisa 10 baru ditabung

Cashflow orang yang bermental kaya:

Pendapatan 100

Pengeluaran:
Zakat, infaq, sedekah 2,5
Cicilan hutang 30
Investasi 10
Kebutuhan pribadi 57,5
—————————————
Sisa 0

Continue reading

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 13

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 13, 26 September 2017

Semalam anak-anak minta dibacakan buku Masa Kecil Nabi dan Rasul karya kang Ridwan ‘Iwok’ Abqary yang baru tiba. Ternyata dalam kumpulan cerita tersebut ada juga kisah yang terkait dengan kecerdasan finansial, yaitu kisah Nabi Ibrahim. Di situ diceritakan bahwa Nabi Ibrahim semasa kecil membantu ayahnya berjualan patung berhala. Namun karena tidak sesuai dengan kata hatinya, maka alih-alih berpromosi agar orang tertarik membeli, Nabi Ibrahim malah mengucapkan kata-kata yang cenderung membuat orang kehilangan minat. Misalnya bahwa patung ini tidaklah berguna dan tidak pantas disembah. Anak-anak sudah pernah dibacakan cerita lain tentang menyekutukan Allah swt dengan hal lain termasuk patung yang disembah, jadi mereka menanggapi bahwa memang sudah seharusnya orang tidak membeli patung untuk disembah. Diskusi kemudian melebar ke soal membantu orangtua, kemudian juga tentang adab berjualan, termasuk berjualan sesuatu yang membawa mudharat. Tidak lama sih memang, karena saya sedang berusaha mengatur kembali jam tidur mereka. Saya sadar juga bahwa yang saya lakukan masih lebih banyak outside in, bukan inside out seperti yang beberapa kali diingatkan oleh IIP, semoga ke depannya bisa saya perbaiki.

 

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 12

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 12, 25 September 2017

Masih melanjutkan buku yang kemarin, berikut cerita-cerita selanjutnya dalam buku Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana yang saya bacakan untuk anak-anak:

  • Saat Lebaran Tiba, menggambarkan keriaan Idul Fitri di mana anak-anak biasanya memperoleh angpau. Jadi ingat uang angpau anak-anak yang atas perintah ayah mereka didonasikan semua, sih. Ini PR saya dan suami untuk membahas lebih detil terkait hak anak-anak atas uang mereka, seberapa banyak pilihan yang boleh kami ungkapkan untuk mereka (dibelanjakan, disumbangkan?), apakah beberapa hal yang berbau kesenangan lebih baik kami blokir atau tetap diberitahukan sekaligus dengan menyebutkan manfaat vs mudharatnya.
  • Jajanan Juno, kalau yang ini lebih ke penggunaan uang jajan secara bertanggung jawab, bukan hanya soal jumlah melainkan juga dibelanjakan untuk apa (tuh kan, kebawa suasana rapat hari ini yang kebetulan membahas outcome vs penyerapan anggaran, hehehe). Jajanan yang tidak sehat tentu bisa berefek negatif untuk tubuh.
  • Berkah Liburan, ide menyewakan buku ini sudah mampir di kepala saya sejak lama dan diusulkan juga oleh banyak orang terdekat mulai dari orangtua, sanak saudara, sahabat, suami…tapi saya belum kunjung mewujudkannya karena masih sayang :D. Jadilah saat membacakan cerita yang ini saya juga banyak menggambarkan risiko yang mungkin terjadi seperti buku rusak, tidak dikembalikan dst. Harusnya sih bisa lebih memancing masukan dari anak-anak, ya.
  • Belanja Murah, menurut saya pribadi gagasan cerita ini bisa digali lebih jauh lagi (ini kenapa jadi ulasan buku, ya?). Beli grosir memang bisa membuat harga satuan jatuhnya lebih murah, tapi apa betul kita perlu sebanyak itu? Memang disinggung sekilas di bagian akhir, ada ide beli selusin tas yang ditolak oleh tokoh ibu, alias untuk hal yang tidak diperlukan ya tidak usah juga beli grosiran segala demi menghemat. Tapi mungkin bisa juga ditambahkan penjelasan, misalnya selusin penghapus itu bisa untuk dijual kembali, stok kado, belinya patungan dengan teman-teman, untuk disumbangkan dst.
  • Gelang-gelang Viona, menggerakkan jiwa wirausaha anak yang berawal dari hobi. Sejalan dengan apa yang disampaikan selama ini di IIP ya, 4E: enjoy, easy, excellent, earn. Kalau memang sudah suka, biasanya menjalaninya pun semangat dan minim beban, termasuk jika bertemu tantangan.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 11

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 11, 24 September 2017

Setelah sejak pagi sibuk dengan ‘perayaan’ ultah Fathia (walaupun hanya tumpeng nasi kuning dan puding) dan jalan-jalan ke Taman Suropati, malamnya, saya bacakan buku baru untuk anak-anak. Sengaja saya pilihkan buku berjudul Aku Cerdas Mengelola Uang karya mba Watiek Ideo dan Fitri Restiana. Dalam buku tersebut terdapat 10 judul cerita pendek terkait cara memperoleh, mengelola, maupun membelanjakan uang, disertai dengan ilustrasi menarik. Semuanya menampilkan kisah sehari-hari dalam kehidupan anak-anak terkait, sehingga terasa dekat dan akrab.

Cerita pertama adalah Ria dan Ikan Hias yang mencontohkan bagaimana sesuatu yang diperoleh dari tabungan sendiri akan lebih terasa berharga dan menyenangkan. Sedangkan Buku Tulis Keren mengajak anak-anak mendaur ulang barang yang masih bisa digunakan kembali, alih-alih selalu membeli yang baru. Itu Tidak Terlalu Penting bikin senyum-senyum sendiri karena saya jadi terbayang penolakan serupa yang adakalanya saya ucapkan ke anak-anak saat mereka meminta sesuatu yang tidak mereka perlukan. Judul selanjutnya, Piano dan Suling Impian mengingatkan bahwa ketika sejumlah anak tinggal minta tambahan uang ke orangtua jika ada keperluan sekolah yang tidak terlalu genting, di sisi lain ada juga orangtua yang berupaya mendidik anak dengan menegaskan bahwa uang tambahan bisa diperoleh hanya dengan usaha lebih. Membantu kakak berjualan kue, misalnya. Kegiatan berjualan pernah juga dijalani oleh suami semasa kecil, tepatnya berjualan ayam potong yang disembelih orangtuanya ke guru-guru sekolah.

Nah, belajar membedakan keinginan dengan kebutuhan sudah, diingatkan lagi soal menabung juga sudah, bagaimana dengan berbagi? Cerita kelima yang berjudul Denis Hilang menggarisbawahi bahwa hemat boleh, tapi jangan pelit. Dan berbagi paling dekat tentu untuk keluarga kita sendiri terlebih dahulu, selama memang memungkinkan dan tidak berdampak negatif.

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 10

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 10, 23 September 2017

 Esok hari, Fathia genap berusia 6 tahun. Tentu ia sempat melontarkan keinginan diadakannya pesta perayaan ulang tahun. Tapi karena memang sejak awal kami belum pernah bikin perayaan dengan mengundang tamu, maksimal hanya berbagi makanan untuk tetangga, maka Fathia juga tidak sampai ingin dibuatkan pesta yang meriah. Meski beberapa kali kami pernah menghadiri pesta ulang tahun anak tetangga, tapi rupanya keseruan pesta tersebut tak sampai menjadi acuan baginya. Yang bikin sedih itu malah ketika Fathia menyebutkan keinginan agar eyang utinya datang. Beberapa kali memang eyang utinya kebetulan sedang ada di rumah ketika anak-anak berulang tahun (biasanya karena bertepatan dengan agenda hajatan keluarga besar), jadi kenangan dibuatkan nasi tumpeng dan puding dekoratif nan cantik rupanya begitu melekat. Juga kehadiran beberapa saudara eyang (pakdhe/budhe/om/tante saya) yang menyempatkan mampir tepat pada hari ulang tahun (walaupun kami tidak secara khusus mengundang) sekalian mengunjungi mama yang lagi di Jakarta, ramainya sanak saudara berkunjung membuat Fathia ingin momen tersebut terulang lagi.

Kenapa tidak membuat pesta untuk ulang tahun anak-anak? Alasan kami mungkin belum bisa seidealis bahwa perayaan ulang tahun itu tidak ada tuntunannya dalam Islam, karena meski memang ingin ke arah sana, tapi masih tebersit rasa ingin ada kenang-kenangan sekadar foto bersama di depan kue/nasi tumpeng saat bilangan angka usia anak-anak bertambah. Alasan berikutnya mungkin cukup jelas ya, untuk menghemat biaya juga. Kalau lagi ada rezekinya ya bagi-bagi makanan untuk tetangga, tapi kadang rasanya malah jadi takut membebani bahwa tetangga jadi harus membalas dengan hadiah, hehehe. Itu sih saya aja kali ya, yang kalau dapat hantaran atau undangan ultah anak tetangga jadi sibuk nyari kado. Sekolah Fathia pun punya aturan tidak ada perayaan ulang tahun di sekolah, selama setahun sekolah juga belum pernah ada undangan ultah teman sekolahnya.

Apa hubungannya dengan tugas Level 8 Kelas Bunda Sayang IIP? Mungkin agak maksa :D, tapi saya rasa urusan perayaan ulang tahun yang bisa menghabiskan dana cukup banyak ini memang perlu dijelaskan juga ke anak-anak. Ada hal-hal lain yang perlu mendapat prioritas lebih. Termasuk ketidakhadiran keluarga besar, ini bukan berarti beliau-beliau tidak mendoakan. Hanya saja memang eyang tidak bisa setiap saat berkunjung menengok para cucu.

Tanpa kemeriahan pesta, bukan berarti hari tersebut tidak spesial, karena pada tanggal istimewa tersebut kami sekeluarga juga sekaligus mengingat kembali dengan penuh rasa syukur, betapa pada tanggal tersebut sekian tahun yang lalu, Allah menghadiahi kami bidadari-bidadari mungil nan cantik. Berubahnya bilangan tahun usia mereka juga sekaligus menjadi pengingat bagi kami bahwa waktu terus berjalan, kami sebagai orang tua harus terus berpacu mengejar ketertinggalan, agar kelak saat dimintai pertanggungjawaban kami cukup siap.
  

Tantangan Level 8 (Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini) Hari 9

Tantangan Level 8 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini, Hari 9, 22 September 2017

Berhadapan dengan media massa artinya siap-siap juga terpapar dengan beraneka iklan yang menggoda. Belum lagi ketika beragam ‘barang lucu’ menjadi konten utama, meskipun mungkin bukan ditujukan untuk menarik perhatian calon pembeli (misalnya tajuknya adalah pilihan editor, bukan iklan atau advertorial), tapi tetap saja mengundang minat. Hari itu saya membeli dua majalah dan anak-anak ikut melihat-lihat isinya. Sampai di halaman rekomendasi mainan anak, nah ini, nih 😁. Begitu banyak ragam mainan yang memang terlihat bakal seru kalau dimiliki. Berhubung harganya juga dicantumkan sekalian, saya jadinya sibuk mencoba menjelaskan, ini harganya dua kali lipat hp bunda lho, yang itu setara dengan belanja susu kakak dua bulan, dst. Fathia sempat protes, masak semuanya mahal? Yaaah, gimana yaaa…memang ‘kebetulan’ yang dimuat harganya lumayan semua. Saya juga sempat menawarkan opsi menjual beberapa mainan yang sudah dimiliki, kalau memang ingin beli yang baru. Memang saya sedang berencana hendak menjual kembali sejumlah barang (yang sejauh ini belum sampai menyentuh ke kategori mainan anak-anak) di rumah, sih. Pilihan ini saya pikir bisa juga diceritakan ke anak, karena adakalanya barang yang bagi kita tidak terpakai ternyata akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Terbukti dari pengamatan saya terhadap beberapa grup atau forum jual beli barang 2nd yang saua ikuti. Ada barang yang mungkin lebih baik disumbangkan, tapi mengambil manfaat finansial dari menjual lagi barang tertentu juga tidak ada salahnya, kan?