Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

📚 Resume Kulwap Grup Arsitek Peradaban

🍓 Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

📅 30 Agustus 2017

🍓🍓🍓🍓

 

💕 Materi Kulwap Grup Arsitek Peradaban 💕

Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

Oleh: drg. Deasy Rosalina, MMedSc (curriculum vitae di bawah)

“Kami diajari Maghazi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagaimana kami diajari surah dalam Al-Qur’an.” (Ali bin al-Husain w. 94H – Generasi Tabi’in)

Maghazi adalah salah satu aspek dalam Sirah Nabawiyyah yang terkait dengan peperangan.
Generasi sahabat memandang pelajaran Sirah sama pentingnya seperti pelajaran Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an sebagai sebagai firman Tuhan merupakan konsep dan dasar-dasar petunjuk hidup. Namun untuk masalah yang mendetail tidak diajarkan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, Sirah Nabawiyyah-lah yang mendetailkan apa yang ada di Al-Qur’an. Sebab setiap nilai dalam Al-Qur’an dapat dilihat dari akhlak keseharian Rasulullah.

I.Sirah Nabawiyyah
Sirah Nabawiyyah berarti perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam selama menjalankan tugas kerasulan, yaitu menyampaikan dan mewujudkan risalah Islam di tengah kehidupan manusia.
Memahami Sirah Nabawiyah mencakup; masa pra Islam (Jahiliyah), masa dakwah, dan masa khilafah Nubuwah (Khilafah Rasyidah).
“Mendalami Sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam akan mendorong siapa pun kepada keniscayaan mengakui kebenaran Nabi dan bersaksi bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak memiliki satu pun mukjizat selain sirahnya, maka itu pun sudah cukup.” (Ibn Hazm al-Andalusi w. 456H)

II.Anasir Sirah Nabawiyyah
1.Syama’il: Segala hal yang terkait pribadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam seperti fisik, penampilan, kebiasaan, dll
2.Maghazi: Segala yang yang terkait dengan kegiatan militer seperti perjalanan perang, pertempuran, strategi dan taktik perang, media dan opini, dll
3.Dala’il: Mukjizat dan segala kejadian luar biasa yang membuktikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai Nabi dan utusan Allah
4.Khasha’ish: Segala hal yang terkait dengan keistimewaan yang hanya berlaku bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan tidak berlaku bagi umatnya

III.Keutamaan Mempelajari Sirah Nabawiyyah
1.Langkah awal dalam mencintai Allah dengan mengikuti Rasul-Nya
“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku , niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
[QS. Ali Imran: 31]
Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini turun ketika ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah. Lalu Allah menguji kaum itu dengan apa yang diturunkan dalam ayat ini. Ada sebuah syair Arab yang dikutip Ibnu Katsir, “Masalahnya itu bukan apakah kamu mencintai, tapi apakah kamu dicintai.” Dalam hubungan dengan Allah, pengakuan atau klaim itu tidak penting, yang terpenting adalah apakah Allah mencintai kamu. Allah mencintai kamu ketika kamu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Untuk mencintai Allah kita harus mengikuti Nabi, untuk mengikuti nabi kita harus mengenal dan mengetahui beliau. Kalau tidak mengenal, mana bisa mengikuti?

Continue reading

Advertisements

Lailatur Qadar untuk Para Wanita

Setelah 20 hari berlalu, biasanya yang diburu di bulan Ramadhan adalah Lailatul Qodar. Bagaimana dengan para wanita, yang dalam beberapa hal jelas berbeda dengan para pria? Ustadzah Kingkin Anida Jumat lalu memberi tausiyah terkait hal ini di pengajian Dharma Wanita di kantor.

Tak terasa sebentar lagi Ramadhan akan berakhir. Ibarat akan ditinggalkan oleh kekasih, kita akan merasa belum lama bersama, sedih dan belum mau berpisah. Maksimalkan ibadah pada 10 hari terakhir, bukan hanya malam ganjil dan Lailatul Qadar. Salah satu caranya adalah dengan i’tikaf atau berdiam diri dengan memperbanyak ibadah yang bisa dilakukan. Lelaki tentu baiknya di masjid, ada pendapat bahkan minimal harus sehari. Wanita juga bisa di masjid jika memungkinkan, tapi tidak ada minimalnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini, persiapkan fisik siang hari untuk malam harinya. Misalkan makanan terbaik, istirahat cukup (sesuai jalan berpikir masing-masing, tidak harus sesuai standar yang dibilang ahli kesehatan). Tambah motivasi pada anggota keluarga: memberi teladan, siapkan reward untuk keluarga yang berangkat i’tikaf (memang baiknya ke masjid karena kalau di rumah hawanya beda, dan banyak yang memperjuangkan hal serupa).


Semakin menjelang akhir Ramadhan, niatkan lebih baik, misal 10 hari khatam lebih banyak, kalau sudah niat akan ada rencana yang lebih tertata, bisa bergantian dengan teman-teman sekelompok. Bisa diseling antata tilawah dengan sedekah, sholat, wirid. Termasuk untuk ibu-ibu yang sudah setengah baya, biarpun usia menjelang senja tapi juga harus punya cita-cita, doakan juga keluarga dekat, keluarga jauh, bangsa dan negara, umat sedunia, bukan hanya diri sendiri. Ikhlaskan maaf pada mereka yang pernah bersalah atau menyakiti kita.

Wanita yang sedang haid tidak boleh i’tikaf bahkan di rumah pun (jika tidak haid, wanita boleh i’tikaf di tempatnya biasa sholat, berdiam di atas sajadah), jadi yang bisa dilakukan antara lain:
1. Bersegera pada ampunan Allah, istighfar sebanyak-banyaknya.
2. Bersedekah, termasuk memberi makanan berbuka puasa dan untuk yang beri’tikaf.
3. Menahan amarah dan memaafkan, misalnya ketika akhirnya jadi harus mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah ketika yang lain bisa i’tikaf, kadang kan tergoda untuk menggerutu.

Ahlul Qur’an akan disertai oleh para malaikat Allah, yang haid bisa berdoa agar Al-Qur’an dikumpulkan di dada.

Ciri-ciri Lailatul Qadar: alam rasanya tenang, matahari cerah bersinar tetapi tidak menyengat. Para penghuni langit turun.

Ketentuan i’tikaf bagi wanita: wudhu, niat (tidak harus dilafalkan nawaitu…), sholat tahiyat masjid, pakaian nyaman syar’i tidak terawang, tidak bau tapi juga tidak berparfum. Kalau mau bawa perlengkapan siapkan juga, misal bantal kecil, agar nyaman dan tidak merepotkan penjaga masjid.

Semoga kita semua bisa berupaya menggapai malam yang lebih baik dari seribu bulan dan berhasil memperolehnya….

Meningkatkan Etos Kerja dengan Spirit Ramadhan

Selama ini membaca saja tulisan-tulisan ustadz Salim di buku maupun internet atau juga menonton video ceramahnya, Rabu lalu salah satu kantor di kompleks perkantoran saya mengundang beliau untuk berceramah. Saya tentu tidak mau ketinggalan menyimak Berikut catatan saya.

Meningkatkan Etos Kerja dengan Spirit Ramadhan

Ustadz Salim A. Fillah, DJKN, 7 Juni 2017


Output yang diharapkan dari berpuasa yaitu:

1. Al Baqarah 183, supaya semua bertaqwa

2. Al Baqarah 185, supaya bersyukur

3. Al Baqarah 185, supaya mendapatkan bimbingan atau petunjuk.

Etos yang diharapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bekerja, berbangsa, bernegara meliputi ketiga hal di atas.

1. Taqwa jika diringkas dalam satu kata singkat mencakup kehati-hatian. Kehati-hatian ini di atas ketaatan karena bukan hanya membedakan halal dan haram, baik dengan buruk, melainkan juga menjaga jarak agar tidak terjatuh pada yang salah dan bermasalah.

Khususnya di bulan Ramadhan ini kita berhati-hati di segala hal, di rumah, di kantor, di mana saja. Hadits: yang benar jelas, yang buruk jelas, tapi di tengah-tengah ada yang abu-abu. Maka kata kuncinya adalah berhati-hati terhadap yang samar-samar itu, sehingga seseorang yang berhati-hati berarti telah menjaga agama dan kehormatannya. Sebagaimana seseorang yang menggembala kambing perlu mengikat agar tak masuk dan memakan tanaman kebun tetangga. Termasuk dari berhati-hati bisa dalam bentuk menjaga aurat misalnya bagi lelaki, meski dada bukanlah aurat, tetapi Imam Syafii tidak pernah keluar tanpa baju atasan untuk menjaga kehormatan.

Continue reading

Amalan Ketika Sedang Haid di Bulan Ramadhan

Puasa saya Ramadhan ini sudah bolong di awal karena haid. Nah, bulan suci ini sayang kan kalau dilewatkan begitu saja tanpa berupaya menambah amalah? Dalam keadaan haid, apa dong yang bisa dilakukan? Banyak, kok. Punya buku yang khusus membahas hal ini, trus beberapa waktu yang lalu dapat forward-an dari teman yang dapat dari grupnya, versi ringkasnya lah ya, sayang kalau tidak diarsipkan di sini.

SERI FIQIH MUSLIMAH

AMALAN KETIKA WANITA SEDANG HAID

▶ Dalam Islam, wanita yang sedang berhalangan (haid) masih tetap bisa untuk beribadah, selama tidak melanggar aturan syariat.

Allah menegaskan dalam firman-Nya,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.”
(QS. Al-Hijr: 99)

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna Al-Yaqin pada ayat di atas adalah KEMATIAN.

▶ Sekalipun kondisi datang bulan, wanita haid masih bisa melakukan amalan ibadah.

❌ *Amalan Yang Dilarang Dalam Syariat, di Antaranya;*

1⃣ SHALAT
Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita.”
(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79)

2⃣ PUASA
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Said radhiyallahu ‘anhu di atas.

3⃣ THAWAF DI KA’BAH
● Aisyah pernah mengalami haid ketika berhaji. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan kepadanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”
(HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

4⃣ MENYENTUH MUSHAF
● Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh mushaf seluruhnya ataupun hanya sebagian.

● Inilah pendapat para ulama empat madzhab.

Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”
(QS. Al Waqi’ah: 79)

Dalil lainnya adalah sabda Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Continue reading

Persiapan Puasa (Ust. Zaitun Rasmin)

Memenuhi undangan dari teman-teman kantor lama, karena lokasinya juga tidak begitu jauh, saya turut menyimak kajian tarhib Ramadhan di masjid sana yang dilaksanakan setelah sholat Dzuhur berjamaah tamggal 16 Mei. Yang menjadi pengisi kegiatan tersebut adalah Ustadz Zaitun Rasmin. Berikut beberapa catatan saya dari tausiyah beliau.

Ramadhan merupakan bulan ibadah, yang bisa kita lakukan untuk mengisinya meliputi ibadah jasadiyah (sholat, puasa), qalbiyah (lebih banyak berdzikir dan introspeksi, tidak bicara ancaman atau menyakitkan), dan maaliyah (infaq, shadaqah).

Puasa 30 hari bisa ditambah nilainya menjadi lebih dari 30 hari dengan memberi buka kepada orang lain yang berpuasa. Selain berpahala, juga menyenangkan yang menerima. Tidak harus kirim ke yayasan atau sejenisnya, bisa saja dengan tukar menukar makanan buka dengan teman kantor atau berbagi makanan berbuka dengan orang yang ditemui dalam perjalanan pulang kerja.

Continue reading

Sabar, Sejauh Mana Batasnya?

Forum Kajian Muslimah Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan #FKMEdisiApril kali ini (07/04) mengangkat tema Menjadi Pribadi Sabar bersama Ustadzah Tri Handayani, S.Pd.I., M.A.

Ustadzah atau yang akrab dipanggil sebagai ummi Tri Handayani ini dahulu adalah atlet berbagai cabang olahraga yang berprestasi. Kemudian Allah memberi ujian berupa kanker, bukan hanya satu jenis tetapi beberapa. Sekarang beliau aktif sebagai penceramah maupun motivator yang banyak menyampaikan kisah beliau sebagai survivor kanker, selain menjadi dosen di dua perguruan tinggi.

Ummi Tri menegaskan bahwa sabar itu baru bisa dibilang berkualitas ketika dihadapkan pada tantangan, dan levelnya tergantung kadar keimanan seseorang. Orang yang terkena macet di dalam mobil mewah yang nyaman, tingkat sabarnya tidaklah sama dengan yang berdiri di angkutan umum berdesakan saat deadline pekerjaan mengintai.

Benarkah sabar ada batasnya? Dalam QS Ali Imran ayat 200 disebutkan kata sabar lebih dari satu kali: bersabarlah kamu (orang-orang yang beriman) dan kuatkanlah kesabaranmu.

Di masa muda, Ummi Tri adalah pemegang sabuk hitam karate, atlet provinsi Jawa Barat, pernah meraih medali emas dan ikut kejuaraan aikido di Jepang. Anggota paskibra juga, pecinta alam yang sudah naik 9 gunung, juara olimpiade daerah berenang, suka diving. Terbayang kan betapa bugar dan aktifnya, karena pasti memerlukan kekuatan fisik yang prima. Ternyata Allah menguji beliau dari segi jasmani juga. Dengan penyakit yang disandang, Ummi Tri sudah menjalani 7 kali operasi mulai dari nasofaring, trakea, otak stadium 4, ovarium kiri, usus buntu, dinding abdomen kanan yang berhubungan dengan rahim, sampai usus. Pernah juga 16 kali kemoterapi, 38 kali radioterapi, 170 kali fisioterapi. Ada dokter yang pernah memperkirakan bahwa umur Ummi Tri tak lama lagi, tetapi ternyata dokter tersebut malah berpulang lebih dahulu.

Sabar menurut terminologi bahasa adalah menahan dan mencegah diri. Sedangkan sabar menurut terminologi syariat adalah menahan diri untuk tetap mengerjakan sesuatu yang disukai oleh Allah atau menghindarkan diri dari sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Sehingga pegawai misalnya tidak tergoda untuk korupsi, orang yang cantik tidak tergiur menjual pesona ragawinya secara tidak terpuji. Termasuk yang tidak disukai oleh Allah adalah perilaku mengeluh dan memaki, menyalahkan Allah atas kondisi yang dihadapinya.

Continue reading

Semangat Hijrah sang MuslimahPreneur 

Sesi #SEMUSIM2017 setelah istirahat menampilkan teh Febby Febriani (@melodyhijramusic), sekarang seorang ibu, penyanyi, muslim wedding organizer, dan public speaker.

Teh Febby menceritakan bahwa masa lalunya cukup kelam, erat dengan kehidupan malam. Kuliah sih baik-baik saja, orangtua tahunya juga baik, tapi malamnya lepas jilbab dan kerja sebagai waitress dan event organizer di klub malam. Latar belakangnya klise remaja, ingin mencari jati diri dan memperluas pergaulan. Di usia 19-20 tahun teh Febby berpikir juga untuk menjadikan pergaulan tersebut sebagai ladang usaha, dan dijalankan juga, yaitu menjadi ‘mami’ (muncikari). Tidak pernah ingat akan Allah dan ibadah. Belakangan teguran datang dalam bentuk sakit kanker, dan teh Febby yang kondisinya belum kunjung membaik setelah pengobatan malah menyalahkan keadaan, belum sampai pada kesadaran. Bisnis ‘manajer’-nya jalan terus, kemudian merambah bisnis kartu kredit. Teguran berikutnya menyapa, teh Febby ditipu rekannya, uang investasinya dibawa lari hingga harus kehilangan rumah, mobil dll. Di situ pun ia belum terpikir untuk bertobat. Baru ketika bayinya meninggal 8 jam setelah dilahirkan, teh Febby tersadar. Bukan hanya teh Febby, tapi juga suaminya yang sejak sebelum menikah sama-sama berkecimpung di dunia malam. Maka mereka berdua berniat berhijrah dan mulai berusaha dari nol lagi, bahkan minus karena posisinya masih berutang pada bank.

Dari pengalamannya, teh Febby menyimpulkan bahwa muslimahpreneur perlu ingat tiga poin yaitu:

Continue reading