Mengulik Fitrah Jasmani bersama dr. Piprim

Kemarin (26/11), saya ikut menyimak materi dalam kajian bulanan Majelis Dhuha Keluarga. Kami belum bisa rutin memang ikutan kajian yang tiap bulannya berfokus pada aspek yang berbeda-beda ini, padahal selalu ada ilmu baru yang bisa diserap dan diterapkan pada keluarga. Kali ini yang diangkat adalah Fitrah Jasmani, dengan narasumber dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A.(K), dokter spesialis jantung anak yang juga Ketua Bidang Organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pusat dan pendiri Rumah Vaksinasi. Beliau cukup terkenal juga aktif mengedukasi tentang kesehatan di dunia maya.

Disampaikan oleh dr. Piprim, yang membedakan anak dengan orang dewasa adalah adanya konsep pertumbuhan dan perkembangan. Tumbuh adalah bertambah besarnya ukuran atau bertambahnya jumlah sel-sel tubuh, sedangkan berkembang adalah peningkatan kualitatif dari sel-sel tubuh itu.

 

Materi yang disampaikan oleh dr. Piprim banyak yang dinukil dari Buku Membumikan Harapan: Keluarga Islam Idaman tulisan Syaikh Abu Al Hamid Rabee’, ditambah dengan berbagi pengalaman beliau sebagai suami, ayah, maupun dokter anak. Seperti disebutkan oleh dr. Piprim, dalam konsep tumbuh kembang anak dikenal konsep asuh, asih, asah (stimulasi) agar tumbuh kembangnya optimal. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Continue reading

Advertisements

Imunisasi Terjangkau dan Praktis, ke Sini Aja!

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar demi kesehatan keluarga, saya mengikuti jadwal Kementerian Kesehatan RI dalam pemberian vaksin. Biasanya saya membawa anak-anak untuk mendapatkan vaksin yang ada dalam jadwal dari Kemenkes ini di puskesmas. Lumayan kan, bisa lebih menghemat biaya, sekaligus berpartisipasi dalam program pemerintah. Selain mematuhi jadwal yang tercantum dalam buku KIA versi Kemenkes, saya juga mengambil imunisasi lainnya untuk anak-anak, mengikuti rekomendasi IDAI. Nah, karena vaksin non-subsidi ini tidak tersedia di puskesmas, maka kami harus memperolehnya dari tempat lain.

Unduh Buku KIA Kemenkes versi 2016 di tautan ini

Hingga usia anak-anak dua bulan, mereka mendapatkan imunisasi di kota tempat mereka lahir alias kampung halaman saya di Sukoharjo, biasanya di RS. Sedangkan setelah kami kembali ke tempat bertugas di Jakarta, anak-anak memperoleh vaksin rekomendasi melalui sejumlah layanan jasa. Sejauh ini justru kami belum pernah ke rumah sakit untuk imunisasi, karena ada pilihan lain yang lebih praktis. Lebih minim risiko infeksi nosokomial (infeksi ‘oleh-oleh’ dari rumah sakit/pasien di sana) pula.

Baca juga: Jadwal Imunisasi IDAI Terbaru

Dulu kami biasa pergi ke Rumah Labeeba alias praktik pribadi dr. Ian (Farian Sakinah) untuk vaksinasi anak-anak (dan saya juga). Namun sayangnya belakangan stok vaksin di sana tidak selalu tersedia, apalagi yang non-subsidi. Kesibukan dokter keluarga kami itu pun semakin bertambah. Jadilah saya mulai mencari-cari alternatif tempat lain untuk imunisasi.

Berikut beberapa jasa imunisasi yang pernah saya gunakan untuk anak-anak:

Continue reading

Batuk Pilek dan Influenza, Serupa tapi Tak Sama

Sudah beberapa pekan ini saya dan orang-orang di sekitar, baik di rumah maupun di kantor, bergantian kena batuk pilek. Komentar yang seringkali terlontar dari teman yang menyapa setelah melihat masker yang saya pakai atau mendengar suara saya jadi serak atau sengau adalah, “Flu, ya?” Gampangnya sih memang jawab saja “Iya”, hehehe. Namun, sebetulnya flu dan batuk pilek adalah penyakit yang berbeda, lho.

Saya rangkum dari WebMD, batuk pilek (cold) atau biasa diistilahkan dengan selesma adalah penyakit saluran pernapasan yang lebih ringan jika dibandingkan dengan influenza atau flu. Flu bisa berlangsung hingga berminggu-minggu, dan bisa berujung pada masalah kesehatan serius seperti pneumonia dan menyebabkan penderita harus dirawat inap.

Ada ratusan jenis virus yang bisa mengakibatkan batuk pilek (makanya belum ada vaksin untuk selesma, saking banyak macam virusnya). Batpil biasanya diawali dengan sakit tenggorokan yang hilang setelah sehari dua hari. Gejala yang mengikutinya adalah hidung berair/mengeluarkan ingus/meler, kemudian batuk pada hari keempat atau kelima. Pada orang dewasa, jarang disertai dengan demam sebagaimana yang terjadi pada anak-anak, tetapi bisa saja ada demam ringan.

Biasanya sih di awal-awal ingusnya bening dan encer, lama-lama menjadi lebih kental dan keruh warnanya. Ingus kental dan ‘berwarna’ ini belum tentu merupakan tanda infeksi bakteri, ya (ada yang berpendapat demikian soalnya). Batuk pilek ini biasanya paling menular pada tiga hari pertama, dan memakan waktu hingga lebih kurang seminggu hingga sembuh betul. Bahkan kalau berdasarkan grafik di bawah ini, hidung meler dan batuknya bisa bertahan sampai dua minggu, lho.

Continue reading

Sindrom Patah Hati, Apa Itu?

Menjelang penayangan perdananya pada pertengahan Desember nanti, awal bulan ini telah dirilis poster dan trailer terbaru film Star Wars: The Last Jedi. Dalam kedua media promosi film Star Wars kedelapan tersebut, tampak sosok Putri/Jenderal Leia Organa Solo (Leia Amidala Skywalker) yang diperankan oleh Carrie Fisher. Penasaran juga bagaimana nanti tim pembuat film mengarahkan jalan cerita sepeninggal Carrie Fisher, mengingat tokoh yang dimainkannya memiliki posisi penting dalam kisah Star Wars sejak trilogi pertamanya mulai dirilis tahun 1977. Ya, Carrie Fisher telah meninggal dunia pada Desember 2016. Penyebab kematiannya sesuai keterangan resmi adalah sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur) dan ‘faktor lainnya’.

Yang mengejutkan, sehari setelah meninggalnya Carrie Fisher, sang ibu yang berusia 84 tahun ‘menyusul’, diduga karena serangan stroke. Ibunda Carrie Fisher adalah aktris senior Debbie Reynolds yang terkenal lewat film Singin’ in The Rain (1952). Sebelum putrinya berpulang, Debbie secara umum berada dalam kondisi kesehatan yang cukup baik. Putra Debbie Reynolds sempat menyebut bahwa pemicu meninggalnya ibu mereka tercinta adalah kondisi tekanan dan kesedihan pasca-kepergian Carrie.

Pertanyaannya, apa iya kesedihan bisa segitunya menjadi penyebab meninggalnya seseorang? Bukan patah hati lalu bunuh diri, ya…itu sih lagu Koes Plus (yang sebetulnya mencerminkan sejumlah realita juga). Tahun 2006, para peneliti di Johns Hopkins University School of Medicine menyimpulkan bahwa memang sebutan ‘broken heart‘ untuk kesedihan mendalam akibat luka cinta ada benarnya. Penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine menyatakan bahwa trauma dan guncangan emosional bisa menyebabkan kondisi jantung yang fatal, yang diistilahkan dengan broken heart syndrome alias sindrom patah hati (kesamaan katanya —heart-jantung-hati– jadi agak selip ketika diterjemahkan, tapi intinya seperti itu).

Continue reading

Sadanis, Deteksi ‘Sederhana’ Kanker Payudara oleh Nakes

Seperti pernah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya, bulan Oktober ditetapkan oleh WHO sebagai Breast Cancer Awareness Month. Sejumlah institusi mengadakan kegiatan berkaitan dengan kepedulian terhadap kanker payudara ini. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pun tak ketinggalan menggelar deteksi dini gratis terhadap kanker payudara maupun kanker leher rahim dengan metode yang cenderung lebih sederhana dan cepat diketahui hasilnya. Seperti biasa, selagi memungkinkan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan.

Dari beberapa poster berhias balon pink cantik (dibentuk menyerupai pink ribbon yang menjadi lambang kepedulian terhadap kanker payudara) yang terpasang di RSCM Kencana, saya mengetahui bahwa setiap tahun ditemukan tujuh juta penderita kanker payudara di dunia, dan lima juta meninggal tiap tahun. Di Indonesia, kanker payudara merupakan peringkat pertama, diikuti kanker leher rahim. Seringkali kanker tersebut ditemukan telah berada pada stadium lanjut, sehingga sudah agak terlambat pula untuk ditangani. Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan cerita dari para survivor atau penyintas kanker payudara. Kedua narasumber dalam acara yang saya ikuti tersebut sepakat bahwa deteksi dini amatlah penting, agar jika terdapat masalah bisa ditangani sesegera mungkin.

Baca juga: Peduli Kanker Payudara Lewat Deteksi Dini

Continue reading

Jangan Remehkan Keluhan Lupa

“Masih muda, kok sudah pelupa?”

Kadang-kadang, celetukan seperti di atas mudah saja terlontar dalam keseharian kita. Entah kita yang mengomentari teman, atau justru kita yang beroleh pertanyaan bernada ledekan tersebut. Meski tampak sepele, kalau yang dilupakan adalah hal-hal yang cukup penting dan terjadi berulang-ulang, kan bisa merepotkan juga. Apalagi jika ternyata upaya-upaya yang dilakukan sendiri untuk memperkuat daya ingat tidak mendapatkan hasil. Kalau sudah begitu, bukan celaan (meskipun sekadar bercanda) yang dibutuhkan, melainkan bantuan dari ahlinya.

Rabu lalu saya mengikuti seminar awam yang diselenggarakan oleh Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Dalam seminar yang bertempat diĀ  RSCM Kencana ini, pembicaranya adalah para dokter konsultan yang merupakan neurolog atau ahli syaraf. Salah satunya Diatri Nari Lastri, Sp.S (K), yang membawakan materi dengan judul yang saya pakai sebagai judul postingan ini. Ya, keluhan lupa memang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Lupa apa yang hendak dilakukan, apa yang baru dilakukan, di mana meletakkan barang, juga kesulitan mengingat nama orang atau benda merupakan sejumlah keluhan yang kerapkali terdengar. Bahkan, seseorang yang tingkat lupanya sudah cukup parah bisa mengalami disorientasi waktu maupun tempat. Biasanya, yang mengalami penurunan ingatan adalah mereka yang berusia lanjut. Namun memang pada masa sekarang keluhan ini cenderung bergeser ke kelompok umur yang lebih muda.

Continue reading

Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

Sugar rush atau sugar high biasanya diartikan sebagai kondisi amat aktif atau kelewat bersemangat dalam berkegiatan, biasanya terjadi pada anak-anak, yang dipicu oleh banyaknya konsumsi gula. Sekilas sepertinya hal ini logis, karena kalori yang masuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas, bukan? Gula yang tinggi kalori pun lalu menjadi kambing hitam atas ulah anak-anak yang tampak berlebihan.

Continue reading