Cermati Hal-hal Ini Dulu Sebelum Eksis di Medsos

Hari ini Perpustakaan Kementerian Keuangan mengundang mas Iwan Setyawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns yang sudah difilmkan dan pendiri lembaga Provetic, dengan tema Jurus Jitu Eksis di Media Sosial. Berhubung tanggal 17 Mei adalah juga Hari Buku Nasional, mas Iwan mengawali uraiannya dengan menyebutkan bahwa anak muda yang keren sekarang sejatinya adalah anak muda yang berani duduk di kafe sendiri sambil membaca buku seperti buku Pramudya Ananta Toer, bukan yang keluar masuk mall. Di sini, budaya itu masih belum berjalan.

Media sosial secara teknologi digital amat membantu, kita bisa tahu perkembangan terkini di belahan dunia lain saat ini juga. Sehingga lifestyle orang meski terpisah jarak cenderung hampir sama, dengan media sosial saat ini kelas C, D, E bisa tahu tren dan kabar terbaru apa yang sedang terjadi di kota metropolitan, di mana saja dan kapan saja. Ini bisa juga mendorong gaya hidup baru seperti menghitung kalori dengan bantuan teknologi. Di sisi lain, media sosial menampilkan yang indah-indah saja, everyone looks perfect in socmed, bisa bikin kita merasa harus mencapai hal serupa padahal belum tentu sesuai dan mampu. Belum lagi kalau waktu kita terlalu banyak dihabiskan untuk kepo sana-sini yang tidak bermakna.

“Kita kini makin banyak menghabiskan waktu untuk sibuk melihat hidup orang lain, sedangkan hidup kita sendiri terancam terabaikan. Iseng baca komen, bisa jadi malah kebawa emosi seharian yang merusak indahnya hari itu bahkan mengganggu pekerjaan. Lihat judul provokatif saja langsung panas. Lalu terpancing ikut berkomentar dengan hati panas. Ini bahaya. Ada baiknya satu dua hari menjauhkan diri dari gadget,” jelas mas Iwan. Kita ini depending on our mood, kan, ujarnya mengingatkan. Saran mas Iwan, belajarlah menahan, nggak semua harus diekspresikan, jangan jadi orang yang reaktif. Dipikir dulu, dimasukkan dalam hati dulu. Ditambah lagi, orang mudah mencaci di medsos karena tidak tahu emosi yang terlibat seperti apa. Status atau postingan kita bisa membuat kita mendapatkan labelling. Rekam jejak digital kita akan selalu ada, termasuk yang sudah dihapus bisa dipulihkan lagi, jadi sekali lagi pikirkan matang-matang.

Pengaruh kurang baik lainnya, anak muda kini jika tidak dibatasi memang bisa ‘mengerikan’ sekali, karena segalanya bisa diakses di internet. Ini masih ditambah lagi dengan karakter mereka yang bisa dengan mudah jumping around dari satu topik ke topik lain alias tidak harus menyimak sesuatu secara runut layaknya generasi sebelumnya. Sisi bagusnya sih mereka ini multitasking memang, tetapi keterampilan literasi mereka bisa jadi terpengaruh. Attention span orang dulu 12 detik, sekarang cuma 7 detik, jadi anak muda sekarang sulit fokus. Membaca atau lebih tepatnya budaya baca yang baik bisa menjadi salah satu solusi, karena membaca itu membuka keinginan untuk maju, sekaligus meningkatkan kapasitas intelektual jika membaca buku-buku literatur, bukan hanya lintasan postingan di medsos yang cenderung singkat dan banyak pengalih perhatian. Ada baiknya di masyarakat dibuat gerakan untuk membuka hati, membuat membaca menjadi sesuatu yang umum dan menyenangkan, dengan cara yang fun juga (mas Iwan mencontohkan gerakan viral demgan tagar tertentu yang membuat kaum muda beramai-ramai posting foto sedang membaca sambil terlihat keren), bukan sekadar lewat ceramah-ceramah yang monoton dan seremonial.

Baca literatur, baca buku, bisa menjadi jalan menjernihkan dan memperluas pikiran. Orang sekarang termasuk di negara maju jadi lebih shallow. Kekuatan digital makin besar, apalagi generasi sekarang dari lahir sudah melek digital. Dulu orang bikin survei dengan cara isi kuesioner (paper and pen), kemudian lewat komputer, berikutnya sudah berbentuk online survey yang secara otomatis sudah menjalankan tugasnya bahkan tanpa kita sadari. Ya, apa yang kita posting, apa yang kita pernah lihat, yang pernah orang cari bisa dipakai untuk mengarahkan kita. Pernah kan sedang baca artikel bertema tertentu lalu tiba-tiba muncul iklan produk yang ada hubungannya (yang bukan merupakan bagian dari konten utama)? Ada pula yang namanya efek bubble filter karena ada motivated reasoning, orang cenderung hanya mencari berita yang dianggap mendukung atau memberi pembenaran untuk pemikirannya, lalu mem-block atau meng-unfollow orang yang tidak sepandangan. Akibatnya terjadilah bubble filter di mana seseorang hanya melihat atau berinteraksi dengan yang pro dengan pendapatnya.

Orang masa kini juga makin sulit menentukan pilihan saking banyaknya pilihan yang tersedia di media maupun pasaran. Bagaimana kita bisa mencerdaskan diri kita untuk memilih, itu dia tantangannya. Medsos pun membuat kita cenderung lebih konsumtif. Jadi kita harus bisa mengendalikan diri, harus pintar, jangan sampai terjerumus ikut arus. Kita ini sesungguhnya sedang dikomersialisasi oleh industri, semacam dijerumuskan dengan segala kemudahan termasuk kemudahan belanja. Orang Indonesia masih kagetan dengan lompatan teknologi ini. Inilah yang membuat mas Iwan jarang menerima endorse barang, karena kalau sudah endorse harusnya ya memang pakai barang dan percaya akan barang tersebut, kalau setengah-setengah nanti kan rawan ikut menjerumuskan orang lain.

Mas Iwan sebetulnya dulu tidak suka membaca, baru di masa kuliah di AS ia berubah. Perubahan ini diawali dengan ajakan temannya, Roby Muhamad ke Virgin Union Square. Di sana, mas Iwan cari CD sedangkan temannya cari buku. Temannya mendorong untuk membaca sebuah buku, tadinya mas Iwan menolak karena merasa orang yang baca novel are stupid people, ngapain orang baca sesuatu yang dikarang-karang? Tapi mas Roby terus mendesak, dan malam itu mas Iwan menamatkan The Catcher in the Rye karya JD Salinger yang selamanya mengubah pandangannya terhadap buku, ibaratnya direvolusi untuk membaca. Ia merasa related dengan tokoh Holden di situ. Dari situ mulai membaca buku-buku lain seperti tulisan Dostoyevsky.

Mas Iwan kemudian berkeinginan menuliskan sejarah keluarga yang diawali dengan kegemasan pada generasi muda kerabatnya yang abai akan sejarah perjuangan generasi sebelumnya. Kemudian jadilah buku. Sebetulnya mas Iwan malah sedang berencana ambil kelas untuk jadi guru yoga di India, tetapi kemudian buku yang ditulisnya ternyata lumayan laris di pasaran. Lalu ketika mas Iwan iseng cek twitter (yang awalnya tidak aktif dipakai walaupun punya akunnya) banyak yang mengucapkan terima kasih, dibalas dst, hingga buku dicetak sampai 16x. Dari situ mas Iwan merasakan the power of social media, lalu lebih aktif menggunakan akun medsosnya, dan jadi ingin meriset bagaimana media sosial bekerja (karena latar belakangnya memang dari statistik, dan sempat bekerja di perusahaan besar pengolah data untuk survei). Ini seperti mundur ke zaman dulu, katanya, terjadi pergeseran cara promosi. Dari awalnya orang tahu suatu mengenai suatu produk lewat words of mouth, lalu muncul promosi di media massa yang cenderung searah dan seragam, kini di medsos penjual bisa kirim message yang sesuai dengan audiens masing-masing. Medsos memungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan luwes dengan orang banyak, merancang promosi yang menarik dst. Pemikiran bahkan bisa diciptakan dan digerakkan dari media sosial, jadi banyak dipakai untuk memengaruhi opini. Makanya laku sekali pemakaian medsos di masa pemilu/pilkada untuk kepentingan politik.

Dalam buku 9 Summers 10 Autumns, mas Iwan menceritakan kembali hal-hal yang pernah ia lewati. Menuliskan kisah pribadi dalam buku artinya ada risiko cerita hidup kita diketahui banyak orang, kemudian apa ya bakal laku? Pemikiran tersebut sempat disampaikan oleh mas Iwan pada ibunya, lalu ibunya menjawab, “Orang mau baca mau kagak, hidup kita begini-begini aja. Tapi siapa tahu di luar sana ada satu dua anak supir angkot yang baca juga dan jadi tercerahkan.” Dan ini sungguh-sungguh terjadi ketika ada seorang mahasiswa UI mengirimkan e-mail, menyatakan rasa terima kasih atas inspirasi mas Iwan sehingga satu lagi anak supir angkot yaitu dirinya sendiri bisa berangkat menuntut ilmu ke Amerika.

Menulis juga punya manfaat psikologis, terang mas Iwan. “Ketika beban hidup sudah terlalu berat, rasanya entah mau dibawa ke mana, menulis itu such a release dan berefek healing. Healing dengan pesta-pesta efeknya artifisial dan sementara, sedangkan healing dengan menulis dampak positifnya akan lebih panjang, bahkan bisa jadi menginspirasi orang lain. Biarlah mungkin ada yang menertawakan postingan nan mellow, kan orang lain tidak tahu hidup kita yang sebenarnya.” Tambahnya, menampilkan segala yang terlalu manis malah akan terlihat palsu. Keluarkan saja apa yang membuat kita bahagia. Jangan sampai medsos merusak dignity hidup kita.


Kembali ke topik sesuai tema acara, mas Iwan menyebutkan tips. “Mau terkenal di media sosial? Simpel. Just be stupid, atau lebih jauh lagi go physical. Tapi ini kan merendahkan harga diri ya, tidak elegan. Gunakanlah cara yang positif,” tegas mas Iwan.

Prinsipnya, eksis boleh, tapi itu ada konsekuensinya yaitu orang jadi tahu hidup kita dan kita jadi susah punya privasi. Kecuali kalau tujuan utamanya memang mau dikomersialkan, ada sesuatu yang dijual dari keterbukaan kita. Jadi kalau ditanya tentang trik agar eksis di medsos maka kembalikan ke tujuannya, untuk apa? Sebetulnya lebih bagus living in the moment, nikmati kegiatan yang sedang dilakukan, kalaupun mau posting di medsos lebih untuk tujuan capturing the moment, jadi semacam menyusun album hidup. Ada juga orang-orang yang butuh medsos untuk keep in touch, bikin komunitas, lahan jualan, atau sarana untuk networking. Medsos juga membantu para pemilik kepribadian introvert untuk mengekspresikan diri mereka. Pada umumnya, orang extrovert dianggap lebih stand out dan berkemampuan karena memang lebih luwes menunjukkan apa yang dia bisa. Dengan medsos, orang yang introvert mendapatkan rumah atau tempat untuk mengekspresikan diri. Contohnya mas Iwan sendiri yang aslinya tidak terlalu suka medsos dan cenderung introvert, tetapi medsos membantunya berekspresi.

Memang media sosial membuat banyak hal jadi ‘terbuka’. Dari postingan di medsos, kita bisa menilai karakter orang, misalnya yang posting foto hitam putih biasanya pribadi yang solitary. Dari tata bahasanya ketahuan apakah orang ini punya manner atau tidak, ketika bertindak selaku buzzer dari hati atau tidak, dst. Orang-orang terkenal biasanya punya strategi tersendiri, termasuk dari sudut pandang pengambilan gambar, gaya komunikasi di medsos, hampir nggak mungkin posting sedang galau tengah malam. Kalau tujuan kita memang untuk seseruan saja, tidak ada pakem yang wajib diikuti memang, tapi jika ingin maju, harus pertimbangkan matang-matang apa yang ingin diposting. Misalnya pertimbangkan dari sisi architype kita. Gunakan fitur analytics, misalnya kapan waktunya viewer paling ramai, tipe-tipe karakter subscriber, lokasi pembaca dll, gunakan untuk menyesuaikan konten.

Di balik ketenaran para blogger dan vlogger yang memukau, perjuangannya luar biasa, lho. Mereka punya totalitas dari awal, termasuk pemilihan alat, pendekatan ke pihak yang tepat. Mengutip ucapan ibu mas Iwan, kebahagiaan akan terasa lebih manis jika dicapai dengan berdarah-darah. Kalau mau eksis, ya bikin ritual. Siapkan content management, misalnya tiap Senin tentang apa, apakah perlu ada admin khusus untuk menanggapi komentar, dst.

Sekarang orang kalau jual sesuatu akan bawa story-nya, misalnya ini resep nenek moyang, warisan, dibawa dari daerah tertentu, dst, jadi bukan jual ingredients. Kalau dibandingkan dengan produk sejenis biasanya satu sama lain pun bisa jadi sesungguhnya mirip-mirip, tapi harus ada yang membuat tampil beda. Ini bisa diterapkan juga di media sosial. Bangun karakter kita, apakah memang representasi dari kehidupan nyata atau ada yang mau ditampilkan. Tidak bisa misalnya hanya sekadar tampilkan produk jualan kita. Jadi idealnya suatu postingan bisa menggerakkan hati maupun pikiran viewer. Dari my story jadi the story of us. Setelahnya baru bangun personality khas yang diinginkan di medsos, apakah mau soft, lucu, serius, bijak, atau apa. Kalau hanya average, nggak akan ke mana-mana. Antar-postingan juga perlu konsisten karakternya. Karakter kita bisa saja dikeluarkan dalam bentuk posting random, atau posting teratur seperti tiga-tiga, terserah, yang penting karakternya kelihatan.

Bagaimana agar medsos kita ‘ramai’? Tujuan interaksi di medsos adalah untuk listening, dua arah, bukan hanya kita yang lempar informasi. Interaksi yang meaningful dan edukatif kebih oke. Jadi dari listening itu kita bisa dapat feedback, dan feedback seburuk apa pun bisa menjadi inspirasi kok. Butuh hati yang lapang memang untuk mendengar komentar di medsos, karena pendapat orang berbeda-beda, kan. Untuk memancing interaksi, ada juga yang namanya social media activation, misalnya dengan menyelenggarakan kuis atau lomba di medsos kita. Kuis yang unik lebih menarik, makin konyol malah bakal ramai biasanya. Syarat kuis yang terlalu panjang berderet malah bikin orang cenderung malas ikutan.

Branding diri di medsos harus menunjukkan juga sisi manusiawi yang menarik dan tidak garing, misalnya dengan memperlihatkan aktivitas pribadi seperti saat sedang melakukan hobi, sehingga tidak selalu memuat laporan acara tertentu (ini malah jadinya membosankan). Viewer perlu relate, melihat bahwa tokoh ini juga membumi dan real, just a human being, mendekati banyak orang tanpa harus pencitraan, sehingga tercipta attachment, dan lebih jauh tokoh dimaksud syukur-syukur bisa menjadi inspirasi. Di sisi lain sosmed itu has to be natural, kalau dipaksa ya nggak enak. Seorang tokoh yang menginspirasi tapi postingannya masih kaku, sayang sebetulnya. Kontennya bisa dibuat lebih kreatif, penyampaian informasi harus indah. Tapi jangan sampai jadi hanya kosmetik saja, misalnya revitalisasi pasar, pembangunan infrastruktur tetap harus jalan dengan baik, bukan cuma indah di postingan. Salah satu strategi brilian adalah langkah para pejabat negara merangkul vlogger untuk mengabarkan tugas atau kegiatan yang sedang dijalani, dengan kemasan yang kreatif. Gebrakan ini membuat informasi yang disajikan jadi lebih seru untuk disimak, karena orang sekarang juga lebih visual jadi desain atau foto yang bagus akan sangat menolong.

Kemudian ada peserta yang menanyakan pemanfaatan teknologi untuk membaca secara digital. Era sekarang, orang beralih dari buku fisik ke buku digital. Ada toko buku yang tutup, ada media cetak yang berhenti terbit. Transisinya luar biasa. Tapi aroma buku cetak, menurut mas Iwan tidak terkalahkan. Di sisi lain, buku versi digital membantu untuk daerah terpencil yang akses untuk buku fisiknya sulit, misalnya akibat jarak perpustakaan yang jauh. Maka di Indonesia sebetulnya tergusurnya buku cetak oleh buku digital belum menjadi isu, karena membaca itu sendiri saja belum menjadi sesuatu yang menyenangkan buat semua orang.

Menjelang akhir acara hari ini, Mas Iwan menyajikan rangkaian kalimat penutup yang mengena, “Hidup ini sudah susah, kebahagiaan bukan untuk dikejar tapi jalani saja kehidupan, nanti tiba-tiba ketemu kebahagiaan ya syukur.” Lebih jauh lagi, lewat eksis di medsos, empati tentang kehidupan bisa tumbuh. Mas Iwan memandang bahwa lewat medsos kita jadi bisa tahu ada kehidupan orang yang seperti ini dan itu (bukan berarti harus mengejar semua yang tampak indah ya), berikutnya muncul empati, dan pada akhirnya empati tersebut akan membuat kita lebih bersyukur akan kehidupan kita sendiri.

[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah

Tulisan dari Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, page fb @abahihsanofficial) di bawah ini kemarin lewat di news feed Facebook saya. Saya jadi teringat untuk menghitung hari. Terhitung sampai akhir bulan Juli ini kami telah delapan bulan menyingkirkan televisi. Nggak total banget, sih. Televisi cuma diungsikan ke lantai dua, tempat yang jarang banget dijangkau anak-anak. Beberapa kali kami masih menyempatkan nonton khususnya jika sedang ada liputan atau ulasan bagus yang informasinya kami peroleh sebelumnya. Beberapa kali anak-anak juga kami ajak ke atas (biasanya sambil salah satu di antara kami beberes) dan akhirnya TV dinyalakan, tapi belum tentu dua bulan sekali kami melakukannya. Kami juga masih belum berniat benar-benar mensterilkan anak-anak dari televisi, apalagi di tempat saudara atau tetangga ketika kami berkunjung (salah satu tips ayah Musa sang hafidz Al Qur’an ternyata termasuk meminta kepada tuan rumah untuk mematikan TV jika kebetulan sedang disetel), lebih-lebih lagi di tempat umum (ruang tunggu dan kendaraan umum misalnya).

Memasang TV berbayar dengan saluran khusus yang diatur bukan pilihan bagi kami, khususnya suami yang dari dulu tidak pernah tertarik. Saya terus terang kadang tergoda juga kalau membaca postingan teman-teman tentang serial atau tayangan lain di TV berlangganan yang sepertinya menarik sekaligus bukan tanpa manfaat, apalagi sempat merasakan tinggal di tempat keluarga yang punya TV kabel. Tetapi pada akhirnya saya mengaminkan pendirian suami karena toh kami jarang punya waktu khusus untuk nonton TV di rumah. Tanpa TV saja koleksi bacaan saya yang segunung itu belum semuanya disentuh. Dulu kami sempat rajin menyalakan televisi sekadar supaya ada suara, supaya tidak sepi (terlebih sebelum punya anak dan ditugaskan di sebuah kota yang tidak begitu besar), tapi lalu saya membaca bahwa ‘background TV‘ pun tetap ada dampak negatif ke anak, selengkapnya bisa dibaca di sini http://www.webmd.com/children/news/20120419/background-tv-may-harm-young-kids-development. Majalah Ayahbunda di fanpage facebooknya juga pernah memposting betapa TV menghambat keterampilan bicara anak (http://content.time.com/time/health/article/0,8599,1902209,00.html — diskusi di komentar fp waktu itu cukup seru untuk didalami dan akan saya bahas di postingan lain).

Berikut tulisan Abah Ihsan, Direktur Auladi Parenting School (terkenal dengan penyelenggaraan PSPA/Sekolah Orangtua-nya), yang menurut saya cukup rinci meberikan alternatif terhadap sanggahan yang sering muncul.

Continue reading

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Annida-No-2-XVIII-Okt-08

Tulisan saya yang (dengan beberapa perubahan) dimuat di majalah Annida edisi Oktober 2008. Tentu Belitung sudah banyak berubah ya sejak itu, terlebih setelah suksesnya film Laskar Pelangi (saat saya di sana, filmya sedang dalam proses awal syuting). Tetap lumayan buat kenang-kenangan, apalagi belakangan majalah tersebut tidak rutin terbit lagi edisi cetaknya.

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Barangkali, dulu kita hanya mengenal Belitung sebagai salah satu penghasil timah utama di negeri ini. Meledaknya novel karya Andrea Hirata membuat pulau tersebut kemudian dikenal juga dengan julukan lain: Bumi Laskar Pelangi. Penggambaran Andrea tentang masa kecilnya dalam tetralogi (baru tiga yang diterbitkan hingga tulisan ini dibuat) tersebut memang merebut hati banyak orang. Kini Belitung telah jauh berkembang dibandingkan saat Ikal (nama julukan Andrea) dan kawan-kawannya mengecap pendidikan di sebuah SD sederhana. Kepulauan Bangka Belitung sudah menjadi provinsi terpisah dari Sumatra Selatan. Pulau Belitung juga telah terbagi menjadi dua kabupaten yaitu Belitung (atau Belitung Induk, dengan bandara yang terletak di Kecamatan Tanjung Pandan) dan Belitung Timur (di mana terdapat Kecamatan Gantung yang menjadi latar cerita Laskar Pelangi). Tak heran para sineas yang berencana melayarlebarkan novel itu harus berusaha keras menciptakan suasana sekian tahun lampau demi kemiripan tampilan.

Masa kejayaan timah di Bangka Belitung juga bisa dibilang sudah sedikit memudar. Padahal, ingat kan, pekerja PN Timah apalagi para petingginya sempat menjadi kalangan elit dengan fasilitas melimpah. Setelah dieksploitasi sejak abad ke-18, penambangnya kini lebih banyak masyarakat umum yang kerap disebut sebagai penambang timah inkonvensional (TI). Kendati tak menghasilkan sebanyak dulu, pemasukan satu tim penambang masih cukup menarik minat daripada bekerja kantoran. Kru film Laskar Pelangi sampai kebingungan karena tak banyak yang mau jadi figuran, mending cari timah katanya. Praktik ini sebenarnya cenderung ilegal, karena seringkali mengabaikan dampak lingkungan. Kalau teman-teman melintasi langit Bangka Belitung, akan tampak bahwa pulau-pulaunya ‘bopeng’ di sana-sini. Lubang-lubang itulah bekas situs penambangan atau kolong yang ditinggalkan begitu saja, yang bentuknya jadi mirip danau kecil dengan air berwarna kebiruan. Indah, dong? Sama sekali tidak, karena warna itu adalah efek samping dari mekanisme penjagaan suhu situs selama proses penambangan. Efek samping lainnya sudah pasti erosi dan bisa juga pencemaran sumber air bersih.
Kalau mau yang indah-indah, lebih baik menjelajahi pantainya. Sebagian orang mengatakan bahwa kata Belitung atau Belitong dalam dialek aslinya merupakan singkatan dari ‘Bali dipotong’. Namun, wisatawan pengunjung Belitung tampaknya memang belum sebanyak pelancong di Bali. Padahal letak yang tidak jauh dari Jakarta (tak sampai sejam perjalanan udara) dan kealamiannya menjadi nilai lebih. Sebut saja Pantai Tanjung Tinggi yang berpasir putih nan lembut dan bertaburkan bebatuan granit raksasa. Di awal kunjungan, jangan kaget kalau kamu mendadak ‘insyaf’ (sementara, hehehe) dari kenarsisan. Yang ada, kamu akan bertasbih berulang kali sambil berusaha merekamnya dalam ingatan. Beberapa belas menit kemudian, baru deh heboh mengabadikan diri sebagai bukti pernah datang ke sini.

Pantai-pantai lain seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Binga, Penyaeran, Tanjung Kiras, Teluk Gembira, sampai Batu Berlubang juga dihiasi batu-batu sebesar rumah yang membentuk formasi menarik. Salah satu yang paling terkenal adalah tumpukan batu di Pulau Burung (bisa ditebak, kan, bentuknya memang mirip paruh burung) Konon, bebatuan ini adalah pecahan meteor yang jatuh ke bumi.
Pecahan meteorit lain yang juga menjadi ciri khas Belitung adalah batu satam atau billitonite. Batu berwarna hitam mengilap ini tergolong langka, hanya ada di beberapa tempat di dunia dan diberi nama sesuai tempat ditemukannya. Biasanya ditemukan secara tak sengaja ketika sedang menambang timah, dan mengapa di pulau lain di Indonesia yang juga penghasil timah batu ini jarang sekali kelihatan masih menjadi misteri. Ada yang percaya batu satam mengandung kekuatan magis (duh, jatuhnya syirik nggak ya?), misalnya memberikan wibawa atau mengurangi rasa sakit saat melahirkan. Baik diasah sampai licin atau dibiarkan dalam bentuk aslinya yang dipenuhi cekungan dan alur halus, batu ini bernilai tinggi. Coba saja ketik billitonite di mesin pencari internet, akan muncul banyak penawaran perhiasan batu satam bahkan yang berharga selangit di pasaran internasional. Tapi kalau beli di Belitung langsung, masih cukup terjangkau kantong kita-kita, kok.

Jangan hanya puas dengan menikmati pemandangan. Air pantai yang berombak kecil dan landainya pantai mengundang kita untuk menceburkan diri. Kamu yang suka menyelam juga bisa melihat-lihat cantiknya panorama bawah laut. Tentunya tetap lihat-lihat situasi ya, sebab pada bulan-bulan tertentu ombak cukup besar atau sedang banyak ubur-ubur berkeliaran. Kalau ada waktu dan laut sedang bersahabat, kita bisa menyeberang ke pulau-pulau kecil tak jauh dari pantai. Pulau Lengkuas dekat Tanjung Kelayang dengan mercusuarnya yang berdiri sejak tahun 1882 dan masih berfungsi sampai sekarang adalah pilihan tepat.

‘Bosan’ dengan pantai? Ada Gunung Tajam, gunung tertinggi di Belitung yang dihiasi air terjun nan jernih. Awas, kadang ada monyet nakal di sini. Bisa juga main-main ke Kampung Bali, tempat berkumpulnya pendatang dari Pulau Dewata yang dari segi arsitektur dan budaya bikin serasa di Bali betulan. Suasana resort bisa didapatkan di Bukit Berahu. Ada pula dua museum buat yang tertarik pada sejarah. Pertama museum di tengah kota yang dulunya adalah museum geologi rintisan peneliti Belanda yang sekarang dilengkapi juga dengan kebun binatang di halaman belakang. Koleksi hewannya memang terbatas, tapi buaya terbesar di sini sudah jadi bintang film karena tempo hari dipinjam untuk syuting Laskar Pelangi. Satunya lagi museum yang memajang peninggalan kerajaan Badau.
Di Belitung Timur sendiri, tempat-tempat yang diceritakan Andrea Hirata jadi sering didatangi orang. Apalagi selama Mira Lesmana, Riri Riza dkk berada di sana. Meski, bahkan SD Muhammadiyah pun sudah roboh tahun 1991 hingga harus dibuatkan replikanya untuk adegan-adegan film. Toh masih ada kelenteng tempat janjian dengan A Ling, kedai kopi Akiong, sisa-sisa bioskop di mana para cowok ABG itu menyelinap nonton film, gedung-gedung milik PT Timah, dan tentunya rumah para tokohnya. Bisa saja kita ketemu Bu Muslimah yang masih penuh semangat dalam mengajar itu atau para anggota Laskar Pelangi.

Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan beragam upacara seperti Maras Taun (pesta panen), Buang Jong (melarung perahu mini), atau Nirok Nanggok (menombak ikan). Menyesal juga dalam jangka waktu setengah tahun lebih tinggal di sana saya belum sempat melihat satu pun. Ada pula seni dan permainan asli seperti Dulmuluk (teater tradisional), betiong, begambus, dan stambul (musik), begubang dan campak (berbalas pantun), beripat beregong (adu ketangkasan dengan pemukul rotan diiringi musik tradisional), serta lesong panjang. Pengaruh budaya Cina juga cukup terasa, kemeriahan Imlek biasanya dirayakan besar-besaran lengkap dengan pertunjukan barongsai di jalan-jalan utama.

Sedangkan Pantai Tanjung Pendam mungkin ‘penampakannya’ tak semenakjubkan pantai-pantai lain, tapi posisinya di pusat kota Tanjung Pandan membuatnya nyaris selalu ramai terutama pada sore hari. Di saat seperti itu jadi agak sulit mencari tempat di tepian pantai yang sudah dilengkapi dengan banyak bangku, trotoar, aneka sarana permainan anak, kios-kios makanan, dan lapangan voli. Minimal sepekan sekali saya jalan kaki dari kos ke Tanjung Pendam, sekadar bersantai setelah sehari-hari bekerja atau ‘pacaran’ dengan suami kalau dia sedang berkunjung. Pemandangannya bisa berubah tergantung pasang-surutnya. Saat penuh, enaknya duduk mengamati gelombang lautan memantulkan bias-bias cahaya mentari menjelang terbenam ditingkahi aneka warna layar kapal di kejauhan sambil mencelupkan kaki ke air. Jika sedang surut, kita bisa berjalan-jalan hingga jauh ke tengah, walaupun belakangan peringatan akan banyaknya lubang makin gencar diserukan. Sayang, suka banyak anjing berkeliaran.

Pergi ke suatu daerah rasanya tak lengkap kalau belum mencicipi makanan khas setempat. Teman-teman bisa mulai dengan mi Belitung berteman tahu yang disiram kuah kari udang dan ditaburi kerupuk emping plus taoge. Hati-hati, karena banyak tempat makan milik etnis Tionghoa yang juga menyediakan masakan daging babi. Kepiting telur berisiko bikin ketagihan (saya pun suka dititipi kalau ada yang tahu saya akan pergi ke Jakarta atau Bangka). Jangan lupa mencoba gangan alias ‘sup ikan’ berkuah kuning asam pedas serta tumis genjer dan otak-otak. Dampingi dengan segelas es jeruk kunci, hmmm… tentu makin menyegarkan. Harga masakan di rumah-rumah makan pinggir Tanjung Tinggi dijamin bikin kamu terpukau nggak percaya. Murah meriah!
Untuk buah tangan keluarga di rumah, bawakan sambelingkung (abon ikan), dodol agar-agar, madu manis dan pahit, keripik sukun, aneka kerupuk ikan (getas dan kemplang), keritcu (keripik telur cumi), juga kue rintak (kue kering dari sagu dan gula aren). Sebotol tauco, rusip (fermentasi ikan dengan proses mirip tauco), atau terasi (bahkan ada yang berbentuk bubuk) cocok juga sebagai oleh-oleh untuk ibu di rumah. Kalau mau yang awet, perhiasan batu satam, kerajinan tangan dari timah (pewter), peci resam (dari anyaman sejenis rotan), bermacam taplak atau peci dari bahan renda, gantungan kunci, hiasan magnet kulkas, sampai cangkir bergambar pemandangan Belitung bisa jadi alternatif.

Jadi, siap begalor (bergaul, nongkrong) di Belitong?

Meningkatkan Kualitas Diri lewat Bacaan untuk #BahagiadiRumah

Ketika membaca tabloid NOVA beberapa minggu yang lalu, sebidang gambar dengan ilustrasi meriah warna-warni menarik perhatian saya. Wah, ternyata Tabloid NOVA berulang tahun yang ke-28! img_20160531_074532.jpgMasih tuaan saya dong, ya, hahaha. Tahun ini tabloid NOVA mengambil istilah NOVAVERSARY untuk ulang tahunnya.

Bertahan di dunia media cetak di tengah derasnya arus informasi digital masa kini, yang saya tahu sebagai awam, tidaklah mudah. Tabloid NOVA saya rasa merupakan salah satu contoh sukses, bukan hanya dalam menerbitkan edisi cetak, tetapi juga merangkul komunitas lewat acara-acara menarik yang digelar. Ada beragam komunitas dengan benang merah yang sama, yaitu menggerakkan perempuan untuk lebih bahagia lewat berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, berbagi/sosial, berwirausaha, menulis, dan sebagainya. screenshot_2016-05-31-07-56-27.pngBerbagai media sosial juga dioptimalkan manfaatnya untuk meningkatkan keterikatan pembaca maupun memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya. Tak hanya lewat website, tabloid NOVA juga hadir lewat edisi digital yang bisa diunduh agar lebih praktis dibaca di mana dan kapan saja.

Dulu zaman sekolah saya menganggap bahwa tabloid NOVA itu bacaan ibu-ibu, tidak terasa saya sekarang sudah menyandang status ibu-ibu muda juga. Sejak awal saya mengenal tabloid NOVA, tabloid ini saya nilai konsisten menyajikan konten informatif mulai dari masakan, mode, info dunia hiburan, kecantikan, peristiwa terkini yang dikupas tuntas, konsultasi psikologi, wawasan seputar dunia pendidikan, dan seterusnya. Bisa dibilang komplet untuk meng-update diri tiap perempuan. Peningkatan kualitas diri lewat bacaan ini tidak bisa dipandang remeh karena meski ‘hanya’ lewat teks, perempuan bisa melakukan sesuatu yang bermakna.

ss nova resepTidak percaya? Coba tengok resep-resep di dalamnya. Ada resep praktis yang mudah dipraktikkan untuk sehari-hari, ada pula resep yang menantang untuk dicoba di kesempatan istimewa. Mau mode pakaian terbaru berikut padu padan koleksi dasar, ada. Perlu tips berdandan agar tampil prima, tinggal buka juga. Butuh inspirasi penataan rumah terkini, artikel dengan foto yang jelas untuk ditiru pun tersedia. Berita terbaru untuk meningkatkan kewaspadaan, kepedulian, dan menyemangati diri juga sayang dilewatkan. Pembaca bisa bercermin dari rubrik-rubrik psikologi maupun pengembangan diri. screenshot_2016-05-31-07-54-51.pngCermat memantau kesehatan keluarga berawal dari rajin mempelajari artikel terkait dari sumber yang dapat diandalkan seperti tabloid NOVA (psst, dokumentasi yang jempolan di web tabloid NOVA membuat saya mudah menelusuri aneka bahasan kesehatan keluarga dengan rujukan yang tepercaya. Sering juga saya kirimkan link dari web tabloid NOVA ke rekan atau keluarga yang memerlukan.). Pengetahuan yang luas dapat menjadi bekal agar perempuan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mengingat perempuan punya pengaruh besar di keluarganya, kenyamanan yang dirasakan bisa berbuah kebahagiaan bagi seluruh penghuni rumah. Rumah menjadi tempat yang senantiasa dirindukan untuk pulang, bercengrama dalam kehangatannya selalu dinanti-nantikan.

Bicara tentang kebahagiaan, menurut saya #BahagiadiRumah itu sederhana sekaligus mewah, tergantung bagaimana memandangnya. Sederhana karena bisa dimulai dari hal-hal kecil, saat ini juga. Mewah karena momen-momennya…yah, priceless. Rasa syukur juga amat penting. Saya jadi teringat petuah salah satu mantan atasan di kantor, bahwa bahagia itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak perlu menunggu orang lain yang membuat kita bahagia. Dari sudut pandang saya selaku perempuan bekerja, tentu adakalanya kegamangan datang menyapa. Tulisan yang menyatakan nilai plus bagi anak-anak jika ibunya bekerja adalah salah satu yang jadi penyemangat. Tak hanya cukup di-doping semangat, saya juga butuh tips dan panduan seperti dimuat dalam artikel Pesan untuk Ibu Bekerja ini. Tentunya kebahagiaan bukan monopoli ibu bekerja, ibu rumah tangga juga berhak berbahagia dan bisa mewujudkannya di tengah kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Dan sekali lagi, kalau perempuan sudah bahagia, akan lebih mudah baginya untuk menyebarkan energi positif ke seisi rumah.

dsc_5981.jpg