Teh Kiki Barkiah: Didiklah Anak Sesuai Keunikan Karakternya

Ahad lalu (13/05), Teh Kiki Barkiah berbagi seputar pendidikan anak dilihat dari segi karakter masing-masing di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq, Otista. Dengan status sebagai ibu dari 6 anak (terakhir saya ikut seminar teh Kiki Ramadhan dua tahun yang lalu, teh Kiki rupanya sedang mengandung), tentu teh Kiki cukup kaya akan pengalaman. Bahkan di seminar bertajuk “Mosqueschooling Seminar Parenting Minim Konflik Maxi Manfaat, Mendidik Anak Sesuai Keunikan Karakternya” ini, saya dapati teh Kiki mengungkapkan tentang perkembangan cara pandangnya seiring dengan berjalannya waktu. Artinya, pola asuh bisa saja berubah atau disesuaikan secara fleksibel.

Menurut teh Kiki, pendekatan kita ke anak-anak perlu disesuaikan dengan bahasa cinta mereka. Tidak cukup kita hanya bersemangat untuk mendidik anak menjadi anak yang sholeh. Ada kebutuhan-kebutuhan anak sesuai potensi bawaannya yang harus kita penuhi, termasuk kebutuhan jasmaninya untuk bermain.

Continue reading

Advertisements

Hadapi Gadget Generation, Cermati Triknya

Orangtua masa kini tidak boleh ‘kalah’ pada anak-anak yang dengan cepat mempelajari teknologi terbaru. Demi menjadi teman terbaik bagi anak, juga untuk tetap ‘nyambung’ sekaligus memantau aktivitas anak, orangtua diharapkan mau meng-update pengetahuan. Baik pengetahuan mengenai cara menggunakan teknologi ini maupun ilmu memitigasi risiko yang mungkin muncul. Hal ini berkali-kali ditekankan dalam seminar yang saya ikuti ataupun artikel yang saya baca. Sebagai orangtua dari anak-anak yang juga ‘digital native‘ alias begitu lahir sudah dihadapkan dengan kecanggihan dunia digital, saya pun termasuk yang terkena ‘kewajiban’ itu.

Nah, dalam rangka menambah pengetahuan, Sabtu lalu (12/05) saya mengikuti Parenting ClassGadget Generation Do’s & Don’ts” di Hong Kong Cafe, Sarinah Thamrin. Dalam acara tersebut, dr. Stephanus ‘Ivan’ Nurdin, MedHyp, medical hypnotherapist dari RSIA Budhi Jaya menjelaskan bagaimana menangani generasi yang piawai menggunakan gawai sedari belia ini.

 

Continue reading

Sisi Lain: Yakin Mau Kekepin Anak?

Dulu saya pernah mengutip tulisan Busar alias mba Sarra Risman sbb:

Anak-anak saya layaknya tango yang belum tertutup rapat. Jika dilempar ke luar rumah akan terkontaminasi dengan ‘kuman dan kotoran’ yang kemungkinan ada dan bertabur di luar sana. Dan seperti wafernya, kalau sudah kena kuman, bagaimana membersihkannya? Saya memilih untuk memastikan tango saya terbungkus rapi dulu, karena kalau sudah lewat proses ‘quality control’, mau terlempar ke got pun, isinya tidak terkontaminasi.

Jadi, harus dikekep di rumah? Di mana-mana, proses pembungkusan ya di pabrik yang tertutup laaah. Dengan pekerja yang pakai sarung tangan, masker muka, tutup kepala, mesin yang canggih dan mahal, dan yang mau ‘wisata ke pabrik’ harus by appointment, mengikuti rules pabrik yang ada, gak bisa sembarang masuk saja. Ada dress code dan limited access di sana. Dan tidak setiap proses bisa dilihat oleh semua.

Selengkapnya, sekaligus untuk melihat konteks dan efek dari penerapan prinsip tersebut, bisa dilihat di postingan saya yang ini: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak? Tapi secara keseluruhan sih, busar termasuk yang menganggap bahwa ‘ngekepin’ alias memproteksi anak itu penting, daripada dapat pengaruh buruk dari luar.

Nah, belakangan saya membaca sejumlah tulisan dari para pakar parenting yang lain. Beliau-beliau ini justru mengingatkan prinsip yang berbeda. Selengkapnya sebagaimana saya kutip di bawah ini:

Continue reading

Self Healing Inner Child dalam Pandangan Islam

Materi seputar inner child tak ada habisnya digali. Seringnya tema ini dibahas di grup-grup yang saya ikuti saya anggap sebagai tren positif, sarana belajar khususnya bagi para orang tua yang tidak hendak berhenti meningkatkan kualitas diri sekaligus mutu pengasuhan (walaupun yang masih single atau belum dikaruniai buah hati juga bisa bisa turut menyimak). Seperti pernah saya tuliskan di postingan sebelumnya, meskipun sudah beberapa kali mengikuti kulwap terkait inner child, tapi sudut pandang yang lain dari pemateri yang berbeda tetap bisa memperkaya wawasan. Kali ini saya berkesempatan belajar tentang Self Healing Inner Child dalam Pandangan Islam. Pekan lalu, kajian muslimah di kantor pusat menghadirkan Ustadzah Isra Yeni – Founder dan Penasihat Rumah Surga sekaligus penulis buku The Great Dad, 5 Pilar Ayah Hebat (duet dengan suami beliau) untuk membawakan materi ini.

Continue reading

Resume Pojok Ilmu Ceria: Menerima dan Mengelola Inner Child dalam Diri Ibu

Tanggal 26 yang lalu, saya mengikuti sesi sharing Pojok Ilmu Ceria (PIC) dengan topik “Bagaimana Menerima dan Mengelola Inner Child dalam Diri Ibu?” Inner child seingat saya sudah beberapa kali diangkat sebagai tema kulwap yang saya ikuti atau baca resume-nya, tetapi melihat pendekatan yang tidak selalu sama persis antarpembicara (karena memang penyajinya sejauh ini berbeda-beda) membuat saya tetap tertarik menyimak. Pertanyaan dari para peserta biasanya juga bisa menjadi sumber pembelajaran. Apalagi kali ini peserta juga bisa mengirimkan tulisan tangan untuk dianalisis. Narasumber dalam kegiatan hari itu adalah teh Gina Shabira Permana, SST, CHt, CI, CBHA., ibu satu anak, bidan, praktisi hypnobirthing, terapis, dan grafolog atau analis kepribadian dari tulisan tangan dengan pengalaman di bidang terapi sekitar tujuh tahun menangani kasus khusus perempuan, dan berdomisili di Arcamanik, Bandung.

Sebagai pengantar, peserta diminta menyimak materi terlebih dahulu.

Inner Child 👶👧 adalah sosok anak kecil yang berada di dalam diri kita (Ego Personality). Inner child ada yang baik dan ada juga yang memang negatif atau trauma. Inner child dalam diri kita sebetulnya bisa bertumbuh dewasa sesuai usia dan pengalaman yang kita hadapi, hanya kadangkala ketika inner child negatif yang muncul dan sangat memberikan trauma butuh kesadaran penuh untuk mengenalinya dan kemudian berdamai.

Dalam pernikahan biasanya inner child muncul di satu tahun pertama, sosok kecil suami atau istri tanpa disadari muncul dengan perwujudan seperti:

👉 Istri yang semasa kecil jarang dibersamai oleh orang tuanya dan merasa kesepian sering menginginkan suaminya selalu ada di dekatnya, marah ketika suami memberikan perhatian pada keluarganya, dan ingin perhatian suami hanya kepada istrinya saja, padahal bisa jadi suami sebetulnya sudah sangat baik pada sang istri.

👉 Suami yang semasa kecil diperlakukan keras oleh kedua orang tuanya atau oleh sanak saudaranya tanpa disadari melakukan KDRT pada istrinya.

👉 Anak memecahkan piring atau merusak barang, tanpa disadari kita tiba-tiba memukul atau membentaknya.

Jika dari ketiga kasus yang di atas kemudian ada penyesalan setelah melakukannya, tapi diulang lagi dan lagi, bisa dipastikan itu inner child negatif.

Continue reading

Atasi Remaja Galau Sejak Awal, Praktikkan Tips Berikut Ini

Meskipun tema yang tercantum dalam undangan terbuka seminar Islamic Parenting Hijabersmom Community kali ini, “Life Skills, Saatnya Melepas Anak untuk Terampil dalam Hidup”, lebih ditujukan untuk orangtua yang memiliki anak remaja, tetapi saya rasa tak ada salahnya belajar sedari awal. Apalagi setelah saya mulai menyimak materi, meski kebanyakan contoh yang disebutkan ditujukan untuk anak yang lebih besar, beberapa keterampilan memang sudah bisa mulai diajarkan atau dikenalkan kok kepada anak sejak usia dini.

Citra Layla Joesoef, konselor, psikoterapis dan trainer dari Rumah Parenting Bintaro mengawali sesinya dengan bertanya pada para peserta yang hadir di aula Rabbani Rawamangun hari itu (14/10): Apakah dalam satu minggu terakhir ini remaja Anda kehilangan barang pribadinya, tertinggal tugas sekolahnya, terlewati membereskan kamarnya, atau merasa galau karena dijauhi teman mainnya?

Suatu saat, akan tiba masanya remaja meninggalkan rumah dan menghadapi kehidupan. Maka orangtua harus membentuk kebiasaan baik, tolonglah anak-anak kita dengan mengajari keterampilan hidup (life skills) agar mereka menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

Menurut WHO, life skills adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dan berperilaku positif yang mampu membuat seseorang menyelesaikan tuntutan-tuntutan dan perubahan-perubahan di kehidupan sehari-hari secara efektif. Sedangkan menurut UNICEF, life skills terkait dengan proses pengajaran yang menggunakan pendekatan pada perkembangan perilaku, dirancang sebagai kombinasi knowledge, attitude, dan skill.

Continue reading

Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

📚 Resume Kulwap Grup Arsitek Peradaban

🍓 Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

📅 30 Agustus 2017

🍓🍓🍓🍓

 

💕 Materi Kulwap Grup Arsitek Peradaban 💕

Urgensi Mempelajari Sirah Nabawiyah dalam Pendidikan Anak

Oleh: drg. Deasy Rosalina, MMedSc (curriculum vitae di bawah)

“Kami diajari Maghazi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagaimana kami diajari surah dalam Al-Qur’an.” (Ali bin al-Husain w. 94H – Generasi Tabi’in)

Maghazi adalah salah satu aspek dalam Sirah Nabawiyyah yang terkait dengan peperangan.
Generasi sahabat memandang pelajaran Sirah sama pentingnya seperti pelajaran Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an sebagai sebagai firman Tuhan merupakan konsep dan dasar-dasar petunjuk hidup. Namun untuk masalah yang mendetail tidak diajarkan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, Sirah Nabawiyyah-lah yang mendetailkan apa yang ada di Al-Qur’an. Sebab setiap nilai dalam Al-Qur’an dapat dilihat dari akhlak keseharian Rasulullah.

I.Sirah Nabawiyyah
Sirah Nabawiyyah berarti perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam selama menjalankan tugas kerasulan, yaitu menyampaikan dan mewujudkan risalah Islam di tengah kehidupan manusia.
Memahami Sirah Nabawiyah mencakup; masa pra Islam (Jahiliyah), masa dakwah, dan masa khilafah Nubuwah (Khilafah Rasyidah).
“Mendalami Sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam akan mendorong siapa pun kepada keniscayaan mengakui kebenaran Nabi dan bersaksi bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak memiliki satu pun mukjizat selain sirahnya, maka itu pun sudah cukup.” (Ibn Hazm al-Andalusi w. 456H)

II.Anasir Sirah Nabawiyyah
1.Syama’il: Segala hal yang terkait pribadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam seperti fisik, penampilan, kebiasaan, dll
2.Maghazi: Segala yang yang terkait dengan kegiatan militer seperti perjalanan perang, pertempuran, strategi dan taktik perang, media dan opini, dll
3.Dala’il: Mukjizat dan segala kejadian luar biasa yang membuktikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai Nabi dan utusan Allah
4.Khasha’ish: Segala hal yang terkait dengan keistimewaan yang hanya berlaku bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan tidak berlaku bagi umatnya

III.Keutamaan Mempelajari Sirah Nabawiyyah
1.Langkah awal dalam mencintai Allah dengan mengikuti Rasul-Nya
“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku , niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
[QS. Ali Imran: 31]
Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini turun ketika ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah. Lalu Allah menguji kaum itu dengan apa yang diturunkan dalam ayat ini. Ada sebuah syair Arab yang dikutip Ibnu Katsir, “Masalahnya itu bukan apakah kamu mencintai, tapi apakah kamu dicintai.” Dalam hubungan dengan Allah, pengakuan atau klaim itu tidak penting, yang terpenting adalah apakah Allah mencintai kamu. Allah mencintai kamu ketika kamu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Untuk mencintai Allah kita harus mengikuti Nabi, untuk mengikuti nabi kita harus mengenal dan mengetahui beliau. Kalau tidak mengenal, mana bisa mengikuti?

Continue reading