Menyambut Datangnya Sang Tamu Agung

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, selalu terbit penyesalan di hati. Mengapa saya tak memanfaatkan momen bulan penuh ampunan ini dengan sebaik-baiknya? Sungguh banyak waktu yang saya habiskan dengan sia-sia alih-alih menambah amalan baik. Baiklah, mungkin tidak sepenuhnya sia-sia, tetapi tetap saja, ada celah tambahan amal yang saya lewatkan. Ujung-ujungnya saya bertekad agar Ramadan tahun depan harus lebih baik. Dan tentunya berdoa agar masih diberi kesempatan untuk itu.

Sering saya baca seruan untuk menghidupkan bulan-bulan lain laksana Ramadan. Maksudnya, mari memperbanyak ibadah dan menahan hawa nafsu meskipun pahala yang dijanjikan secara eksplisit tidaklah sebanyak untuk bulan Ramadan. Namun, seiring dengan berjalannya bulan demi bulan, semangat ini kembali mengendor. Kesibukan kerja dan urusan rumah menjadi pembelaan diri.

Kini Ramadan 1439 Hijriah sudah di depan mata. Tinggal menunggu penetapan pemerintah untuk memulai ibadah puasa. Sudah sejauh mana persiapan saya?

Continue reading

Advertisements

Indahnya Berbagi dengan Para Nenek dan Kakek di Bulan Ramadhan

Sebuah undangan masuk ke grup whatsapp. Salah satu komunitas yang saya ikuti akan menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama sekaligus berbagi di sebuah panti werdha atau biasa disebut juga dengan panti jompo. Mau tak mau ingatan saya melayang ke sekitar sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu milis sebuah majalah juga menggelar aksi sosial di panti werdha. Saya kira tempatnya sama, tetapi setelah dicek lagi ternyata berbeda, walaupun sama-sama di Jakarta Timur. Masih terbayang keceriaan para opa dan oma di panti werdha dulu ketika beberapa kawan mengajak beliau-beliau semua menyanyi bersama. Usai acara, sempat pula kami berkeliling sekilas, menengok sebagian penghuni yang tidak bisa beranjak keluar dari kamar dan bergabung di aula karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Jika dulu acara bernuansa riang gembira, kali itu, tanggal 11 Juni, ketika saya, suami dan anak-anak tiba di lokasi, suasananya cenderung mellow. Maklum hari sudah beranjak menjelang senja, dan gerimis pun turun. Alih-alih menyanyi bersama, para peserta sedang menyimak tausiyah dari Coach Sulis. Saat kami mulai ikut mendengarkan, Coach sedang membahas sabar dan syukur sebagai penolong. Coach Sulis mengingatkan bahwa pada keadaan tinggal bersama teman-teman sebaya yang sama-sama sudah sepuh, konflik seringkali tidak bisa dihindarkan. Sebagian peserta ikut menanggapi dengan menceritakan pengalaman mereka. Ada yang adu mulut karena giliran ke kamar mandi, ada juga yang terlibat benturan fisik gara-gara ketidaksengajaan.

Continue reading