Anak Batuk Pilek, Imunisasi Jalan Terus

“Anak saya batuk pilek nih Bun, jadwal imunisasi besok, boleh lanjut atau tunda aja dulu, ya?”

Pertanyaan di atas cukup sering terlontar di grup atau forum ibu-ibu. Cukup bisa dimengerti bahwa ada kekhawatiran mengimunisasi anak saat kondisinya sedang tidak fit. Biasanya sih ortu takut sesudah disuntik vaksin anak atau bayinya jadi demam (sebagai efek atau lebih tepatnya kejadian ikutan pascaimunisasi/KIPI) yang bikin tambah rewel. Atau ada juga yang mendapatkan informasi bahwa vaksinasi saat anak kurang sehat akan berpengaruh pada respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan, semacam jadi tidak optimal bekerjanya. Yang lain menyebutkan bahwa adanya demam sesudah imunisasi bisa membuat rancu apakah demamnya demam KIPI atau karena batuk pilek yang sedang dialami, ini sehubungan dengan tindakan selanjutnya yang perlu diambil.

Baca juga: Jadwal Imunisasi IDAI 2017

Setelah baca sana-sini, diawali dari bacaan di Milis Sehat, saya termasuk yang sering menjawab pertanyaan tadi (kalau ada yang nanya, karena saya aktif di beberapa grup) dengan “batuk pilek bukan penghalang imunisasi”. Fathia dulu mendapatkan suntikan MMR (yang di antaranya mengandung vaksin campak, yang salah satu KIPI yang umum terjadi adalah demam sekitar 8-12 hari pasca-imunisasi) saat sedang batuk pilek, dan alhamdulillah batuk pileknya tidak bertambah parah setelahnya. Dokter keluarga kami malah yang menyarankan waktu itu. Ya, kata kuncinya memang konsultasikan dengan dokter, dengan kita juga berbekal informasi valid dulu tentunya. Beberapa lembaga maupun organisasi resmi sudah mengeluarkan pernyataan seputar bolehnya imunisasi ketika batuk pilek, yaitu:

Continue reading

Demam Lebih dari 3 Hari, Wajibkah Cek Darah?

Beberapa waktu yang lalu, dr. Apin posting tentang tes lab yang seringkali dilakukan oleh para orangtua ketika buah hatinya sudah beberapa hari demam (nanti akan saya kutip di bawah). Yang saya baca sih, beberapa orangtua sudah tahu bahwa ada batasan tiga hari atau 72 jam untuk cek darah ketika ada yang demam, karena kalau sebelum itu maka penyakit seperti demam dengue (lazimnya disebut sebagai demam berdarah) belum terdeteksi keberadaannya, yang akhirnya malah bisa berujung hasil negatif palsu (dianggap bukan padahal iya, baru terlihat setelah fase tertentu). Saya pun pernah ke puskesmas dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan tanpa batuk pilek, oleh dokter di sana saya tetap tidak disarankan cek lab karena menurutnya tidak akan kelihatan juga di hari kedua. Tentu kalau ada tanda kegawatdaruratan seperti tanda awal dehidrasi, sesak napas, kehilangan kesadaran/tidak respon, harus dibawa ke IGD segera ya (dan bukan ke lab dulu). Tapi benarkah kalau sudah lebih dari 3 hari memang sudah harus cek lab?

Lebih lanjut, apakah cek lab itu melulu hanya cek darah? Bagaimana dengan tes pipis atau urin? Tes ini juga sudah sering disarankan di beberapa grup kesehatan anak, tetapi sepertinya tidak terlalu sering dijadikan prosedur. Setidaknya, jarang teman yang cerita anaknya demam bilang diminta tes urin. Tapi pernah seorang sahabat setelah diskusi dengan teman-teman grup mengajukan usul cek urin alih-alih tes darah yang awalnya diminta dokter ketika anaknya demam beberapa hari tanpa batpil, permintaan itu dikabulkan dan ternyata memang bayinya terkena infeksi saluran kemih (ISK).

 

Kalau pengalaman saya pribadi, karena dokter keluarga kami cukup mudah dihubungi untuk konsultasi dan saya sudah sering mengikuti sesi sharing beliau beserta kawan-kawannya (termasuk dr. Arifianto ‘Apin’, Sp.A.), juga alhamdulillah atas izin Allah tidak pernah sampai pada tahap gawat, saya belum pernah sampai cek lab untuk memastikan penyakit anak-anak. Kalaupun cek lab, biasanya malah (disarankan) bukan dalam keadaan demam, yaitu untuk screening zat besi. Tapi paham juga sih kalau orangtua pastinya ingin yang terbaik, makin cepat diketahui penyebab demamnya kan bisa makin cepat juga ditangani dengan tepat dan harapannya lekas sembuh, anak merasa nyaman kembali.

Di sisi lain, beberapa dokter yang aktif mengedukasi masyarakat juga mengingatkan, cek lab itu juga berisiko, baik risiko trauma pada anak, risiko tertular penyakit dari pasien lain di tempat periksa, risiko biaya (kalau menurut pengobatan rasional menurut WHO kan ada juga prinsip tepat biaya, artinya kalau tidak perlu kan sayang juga uangnya–meskipun orangtua pasti nggak akan merasa sayang keluar uang untuk kesehatan keluarga), sampai risiko ‘mengobati hasil lab’ padahal seharusnya yang diobati adalah sesuai klinis pasiennya bukan hanya bagaimana agar angka di lembar hasil berubah.

Berikut tulisan dr. Apin selengkapnya:

Wednesday, December 09, 2015
Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?

Topik ini sepertinya sudah lebih dari sekali saya bahas, dalam thread yang berbeda. Tapi tak apalah, karena masih banyak yang bingung juga. Demam yang didefinisikan sebagai suhu tubuh lebih dari 38 derajat selsius, adalah salah satu penyebab tersering orangtua membawa anaknya ke dokter. Makanya dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebutkan istilah “fever phobia”.

Nah, lalu bagaimana dengan demam yang cenderung suhunya berkisar di atas 39 derajat selsius dan tidak disertai gejala penyerta lain? Tidak ada batuk, pilek, atau diare. Ya, kalau sejak awal demam disertai batuk dan pilek, kita sudah dapat memperkirakan penyakitnya adalah selesma (common cold) dan seharusnya tidak ada kekhawatiran lebih lanjut (ingat, selama tidak disertai tanda kegawatan ya!). Lalu bagaimana dengan demam yang tidak jelas diagnosisnya ini? Perlukah dibawa segera ke dokter? Kapan? Apakah patokannya “tepat 3 hari” alias 72 jam? Dan haruskah segera diperiksakan laboratorium?

Demam dengan suhu > 39 derajat selsius tanpa gejala penyerta yang jelas, berlangsung kurang dari 7 hari, dan terjadi pada anak berusia 3 – 36 bulan disebut juga dengan fever without source (FWS). Ada juga yang menyebutnya fever without focus atau fever with uncertain source. Umumnya bisa dibagi 2, yaitu anak tampak sakit (cenderung lemah/lesu sepanjang waktu) dan masih relatif aktif (ketika demam anak tampak lemas/rewel, tetapi ketika suhu turun anak kembali aktif bermain/beraktivitas). Kondisi pertama tentunya mengharuskan segera ke dokter. Tidak perlu memikirkan dulu perlu/tidaknya pemeriksaan laboratorium, tetapi segera bawa ke dokter untuk memastikan kemungkinan diagnosisnya). Kondisi kedua membuat orangtua seharusnya lebih tenang dalam mengobservasi kondisi anaknya dalam 3 hari, atau bahkan lebih. Hal terpenting yang harus diperhatikan orangtua adalah: pastikan anak tidak dehidrasi atau kekurangan cairan. Ya, peningkatan suhu tubuh meningkatkan risiko penguapan dan terbuangnya cairan tubuh. Makanya semua anak yang demam harus banyak minum. Pastikan anak tidak dehidrasi.

Bukankah makin tinggi suhu meningkatkan risiko kejang demam? Sudah berkali-kali dibahas, jawabannya adalah: tidak. Dehidrasi justru lebih dikhawatirkan dibandingkan kejang pada anak yang demam.

Lalu makin tinggi suhu bukankah menggambarkan makin beratnya penyakit? Lagi-lagi ini sudah pernah dibahas: jawabannya adalah tidak. Bisa saja demamnya tidak terlalu tinggi tetapi anaknya sakit pneumonia atau meningitis yang mengancam jiwa. Sebaliknya, sangat mungkin demamnya tinggi, tapi sakitnya hanya selesma saja.

Apa yang dikhawatirkan dari kondisi pertama (anak yang cenderung lemah sepanjang hari)?
Bagaimanapun juga, penyebab tersering demam pada anak adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya. Tentunya antibiotik sama sekali tidak diperlukan pada infeksi virus. Pada kondisi pertama, beberapa diagnosis penyakit yang paling dikhawatirkan adalah meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang akibat infeksi di jaringan paru). Makanya orangtua harus paham benar apa saja kondisi gawat darurat pada anak. Pada meningitis, terdapat tanda-tanda kekakuan tubuh (iritasi selaput otak), penurunan kesadaran, sampai kejang dan kematian. Sedangkan pada pneumonia, anak terlihat sesak napas, bisa dinilai dari gerakan dinding dada dan napas cuping hidungnya. Segera bawa anak ke dokter.

Kondisi kedua adalah keadaan yang paling sering terjadi, yaitu sakitnya sebenarnya “ringan saja” dan tidak potensial mengancam nyawa. Perlukah anak dibawa ke dokter pada FWS? Ya, untuk memastikan apakah diagnosisnya saat itu.
Kalaupun dokter belum bisa memastikan diagnosis pastinya, maka sebut saja FWS.

Apakah pemeriksaan laboratorium perlu dikerjakan pada FWS yang sudah lebih dari 3 hari? Sebenarnya dokter lah yang menentukan perlu tidaknya. Satu hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah: jangan melulu pemeriksaan darah yang harus dikerjakan. Pemeriksaan air seni alias urinalisis adalah pemeriksaan wajib pada anak FWS. Mengapa? Banyak FWS yang ternyata diagnosisnya adalah infeksi saluran kemih alias ISK. Padahal gejalanya hanya demam saja, dan ditemukan banyak kuman (bakteri) di pemeriksaan urinalisis. Diagnosis ISK jelas adalah infeksi bakteri yang obatnya adalah antibiotik (diberikan setelah sampel untuk kultur urin diperiksa).

Di sini lagi-lagi saya tegaskan bahwa pemeriksaan urin sangatlah penting dan seharusnya rutin dikerjakan. Pemeriksaan ini sama sekali tidak menyakitkan. Bandingkan saja dengan anak yang ditusuk jarum untuk pemeriksaan laboratorium darah.

Apa saja kira-kira penyakit yang sering terjadi pada FWS?
Penyebabnya sangat bervariasi. Yang cukup serjng terjadk dalam pengalaman sehari-hari adalah:
– Common cold. Ya, batuk-pilek bisa saja demamnya setelah masuk hari keempat atau lebih baru muncul batuk-pilek. Ini adalah infeksi virus yang tidak perlu dikhawatirkan. Kecuali di luar dugaan mencetuskan serangan yang menyebabkan sesak napas.
– Roseola alias “tampak” (bukan campak lho yaa…). Ini pun jelas infeksi virus, tetapi anak yang orangtuanya tidak sabaran tidak jarang yang langsung berinisiatif memeriksakan laboratorium darahnya. Ruam-ruam di tubuh baru muncul setelah melewati hari ke-3, bahkan ke-5 demam. Anak tampak jauh lebih aktif sesuah ruam memenuhi seluruh tubuh.
– Demam Dengue atau DBD. Ini yang hampir selalu terlintas di benak orangtua untuk selanjutnya segera memeriksakan sendiri laboratorium darah anaknya. Pelajari ciri-ciri DD dan DBD.
– Infeksi saluran kemih. Ingat, gejala ISK pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Bisa saja anak demam tanpa gejala lain, ternyata sakitnya adalah ISK. Maka jangan lupa mintakan pemeriksaan urin rutin, bahkan kultur urin jika perlu, untuk pasien-pasien semacam ini.
Demam tifoid tidak dipikirkan dalam FWS, karena demamnya berlangsung selama minimal 7 hari.

Continue reading

[Kliping] Seputar Demam Dengue

Buat arsip, sebagian dari akun dr. Arifianto, SP.A.

(Baca juga: https://ceritaleila.wordpress.com/2016/08/11/demam-lebih-dari-3-hari-wajibkah-cek-darah/)

Arifianto Apin
12 October 2014 at 10:27 · Edited ·
Antara Demam Berdarah dan Tipes
Di RS, salah satu aktivitas saya adalah membimbing adik-adik mahasiswa FK YARSI yang menjalani tahap koasistennya (koas). Beberapa hari yang lalu, kami mendiskusikan demam berdarah Dengue (DBD) dan tipes alias demam tifoid dalam bentuk presentasi kasus.
Ada beberapa poin yang saya tekankan sebagai “take home message” dan ingin saya bagikan di sini.
Pertama, nilai trombosit turun tidak hanya terjadi pada DBD dan demam Dengue (DD) saja, tetapi dapat terjadi pada berbagai infeksi virus dan bakteri. Bahkan batuk-pilek alias selesma saja bisa turun trombositnya. Roseola pun cukup sering turun trombositnya. Perhatikan juga nilai hematokrit yang meningkat pada DBD. Jadi perhatikan keduanya.
Kedua, demam tifoid hanya dicurigai bila demamnya minimal 7 hari. Jangan curigai seorang anak mengalami tipes alias demam tifoid bila demamnya baru 3-5 hari.
Lalu, pemeriksaan Widal di Indonesia tidak dapat dijadikan patokan untuk menegakkan diagnosis tifoid, karena kalau saja orang-orang dewasa yang sehat tanpa gejala, ketika diperiksakan Widal-nya bisa jadi mayoritas akan positif. Widal mendeteksi adanya kekebalan tubuh (antibodi) yang dihasilkan ketika seseorang sudah pernah menelan kuman Salmonella penyebab tifoid, tetapi anak-anak yang Widal-nya positif belum tentu sakit.

===============================================================================

Arifianto Apin

2 March at 16:54 · Edited ·

Katanya Demam Berdarah Dengue alias DBD sedang mewabah ya? Bagaimana dengan “tipes” alias demam tifoid? Karena kabarnya ada beberapa yang dirawat akibat DBD dan demam tifoid bersamaan. Mungkinkah?

Ini pertanyaan favorit saya buat para Koas yang sedang menjalankan rotasi di bagian Anak. Apa pasalnya? Beberapa orang bercerita dirinya didiagnosis DBD dan tifoid bersamaan gara-gara: tes Widal!

Banyak orang familiar dengan pemeriksaan laboratorium satu ini. Katanya kalau Widal-nya positif, berarti sakitnya tipes. Ketahuilah bahwa diagnosis demam tifoid dipastikan dengan beberapa hal:

1. Gejala. Ya, namanya saja demam tifoid, jadi yang sedang sakit pasti bergejala demam. Nah, demamnya seperti apa? Ada yang bilang seperti “step ladder”, jadi makin lama hari sakitnya, maka ambang suhunya makin tinggi. Tapi ternyata tidak harus seperti ini. Yang menjadi kata kunci demam tifoid adalah: demamnya mininal 7 hari! Beda kan dengan DBD yang sudah bisa dicurigai sejak demam 2 hari bahkan.

2. Penyakit tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Kita sudah paham bahwa yang namanya infeksi bakteri butuh antibiotik (DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang tentunya tidak butuh antibiotik). Bakteri Salmonella ini masuk ke tubuh lewat makanan/minuman yang terkontaminasi Salmonella. Dan umumnya makanan pinggir jalan yang higienenya buruk yang berisiko menyebabkan tipes. Siapa yang biasa jajan makanan seperti ini? Anda dan saya tentunya. Hehe. Maksud saya, mungkinkah anak berumur 2 tahun atau lebih muda yang belum pernah jajan makanan seperti ini terkena demam tifoid? Inilah sebabnya tifoid umumnya menginfeksi anak besar usia SD ke atas. Evaluasi ulang bila seorang anak balita sampai didiagnosis tifoid.

3. Lalu bagaimana bisa memastikan diagnosis tifoid berdasarkan pemeriksaan darah? Dengan pemeriksaan Widal? Hmmm…

Jadi pemeriksaan laboratorium yang bertujuan menentukan kuman penyebab penyakit ada 2 cara: secara langsung menemukan kumannya dan yang secara tidak langsung.

Cara pertama adalah dengan pemeriksaan kultur (biakan) baik dari darah, air seni (urin), dan tinja (feses), maupun cairan tubuh lainnya. Jadi kuman dibiakkan dalam suatu media, dan ditunggu hingga beberapa hari untuk mendapatkan hasil apa sebenarnya bakteri penyebab penyakitnya. Inilah yang dilakukan pada kecurigaan demam tifoid, yaitu dengan pemeriksaan kultur darah/tinja/urin untuk mendapatkan si kuman Salmonella typhi. Sayangnya tidak semua RS punya fasilitas ini. Dan harganya juga tidak murah (tapi ditanggung BPJS Kesehatan lho…).

Cara kedua adalah dengan mendeteksi “jejak” keberadaan si kuman, yaitu dengan mengetahui adanya antibodi yang dihasilkan si antigen (kuman). Inilah Prinsip pemeriksaan seperti Widal, Tubex, TORCH, dan IgG-IgM Anti Dengue. Jadi ada risiko yang terdeteksi sebenarnya adalah “jejak” si kuman masa lampau, yang pernah masuk ke tubuh berbulan-bulan lalu. Bukan yang menyebabkan sakit saat ini.

Paham tidak sejauh ini? Mudah-mudahan tidak bingung.

Jadi bisa saja Widal-nya “positif”, tapi sebenarnya tidak sakit tipes! Karena Widal ini menandakan berbulan-bulan lalu ia pernah kemasukan kuman tifoid, dan saat itu ia tidak sampai sakit. Sedangkan saat ini sakitnya bukan tifoid dari gejala-gejala yang ada.

Pelajarannya adalah: selalu berhati-hati dalam menginterpretasi pemeriksaan laboratorium yang menilai keberadaan kuman secara tidak langsung, termasuk Tubex (IgM Anti Salmonella) yang katanya lebih sensitif dan spesifik dari Widal. Pemeriksaan semacam TORCH pun juga.

Saya kadang mengajak kawan-kawan berdialog seperti ini: “dari kita semua yang ada di sini dalam kondisi sehat wal afiat, bila “iseng-iseng” dicek Widal-nya, bisa saja mayoritas “positif”, padahal tidak satu pun yang demam tifoid.” Mengapa? Karena kita semua pernah makan jajanan pinggir jalan yang terkontaminasi Salmonella, tetapi alhamdulillah tidak sakit, karena adanya antibodi yang melawan kuman. Dan “jejak” inilah yang terbaca sebagai Widal positif.

Sebagai kesimpulan, lessons learned-nya adalah:

1. Kembalikan kepada diagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami. Kalau demamnya baru 3 atau 5 hari, ya kemungkinan kecil, bahkan jangan pikirkan dulu, demam tifoid. Berpikir demam tifoid ya kalau demamnya sudah lebih dari 7 hari. Bahkan kalau demam sudah 3 hari tapi jelas ada batuk pilek ya tidak usah juga berpikir DBD dan cek darah, karena diagnosisnya adalah selesma.

2. Setiap pemeriksaan laboratorium pastilah memiliki keterbatasan. Maka selalu kembalikan kepada diagnosis. Dokter tidak mengobati hasil laboratorium, tetapi dokter mengobati pasien.

Semoga bermanfaat

============================================================================

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal di daerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris. Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemis cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitif untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Selengkapnya di blog mba Auditya & dr. Ferry, SP.A

Demam Berdarah = Turun Trombosit/Perdarahan?

===========================================================================

Sementara itu dokter spesialis anak RS Sardjito lainnya dr. Ida Safitri, Sp.A. menambahkan masih ada kesalahan persepsi di kalangan masyarakat bahkan tenaga medis yaitu penurunan jumlah trombosit merupakan penentu derajat keparahan DBD. Padahal yang menentukan derajat keparahan DBD adalah peningkatan kekentalan darah (hematokrit yang meningkat) maupun juga disertai penurunan trombosit.

“Hematokrit naik bisa sebabkan syok. Trombosit turun hanya di fase kritis dan akan normal di fase pemulihan. Sepanjang tak terjadi perdarahan berat tak perlu intervensi medis untuk menaikkan kadar trombosit,” kata Ida.

Sedangkan mengenai obat yang beredar di pasaran yang mengandung angkak, ekstrak jambu biji merah, sari kurma dll sampai saat ini ujar Ida belum ada penelitian atau bukti ilmiah tentang manfaat zat-zat tersebut dalam kaitannya untuk meningkatkan kadar trombosit.

http://m.okezone.com/read/2010/04/07/340/320286/trombosit-bukan-penentu-derajat-keparahan-dbd

=======================================================================

Perjalanan penyakit demam dengue umumnya hanya satu minggu. Setelah itu, pasien akan membaik, asalkan tidak disertai kebocoran pembuluh darah. Jika disertai perdarahan ini disebut DBD (demam berdarah dengue). Dari yang mengalami perdarahan ini, sekitar 30 persennya terkena syok dan 30 persen lagi bersisiko kematian.

Selama ini, anggota keluarga pasien akan merasa sangat khawatir jika kadar trombosit yang sakit dinyatakan turun. Sebetulnya bukan kadar trombosit yang menentukan keselamatan pasien, akan tetapi hematokritlah yang lebih penting diperhatikan.

“Trombosit turun sampai tinggal belasan ribu, kalau hematokrit masih bagus, ya tidak akan meninggal, karena berarti tingkat kebocoran pembuluh darah tidak tinggi,” jelas Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)., M.TropPaed., Ketua Divisi Penyakit Infeksi dan Pediatri Tropis, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Kondisi demamnya juga harus diperhatikan. Penyakit DBD biasanya ditandai demam tinggi selama tiga hari. Namun, bukan hanya demam pada tiga hari pertama itu yang harus diwaspadai. “Masa kritisnya justru di hari keempat dan kelima. Jadi, jangan lengah, jangan merasa sudah aman jika demam terkesan menurun di hari keempat dan kelima,” saran dr. Hingki, sapaan akrabnya.

http://m.tribunnews.com/kesehatan/2013/06/18/bukan-kadar-trombosit-penentu-keselamatan-pasien-demam-berdarah

================================================================================

Banyak kabar yang beredar di masyarakat kalau terkena demam berdarah diberikan jus jambu atau angkak. Namun sebenarnya tidak ada obat untuk demam berdarah, tapi hanya andalkan banyak cairan.

“Demam berdarah tidak ada obatnya, tapi hanya bermain cairan,” ujar Dr. Rita Kusriastuti, MSc., Direktur Pengendalian Penyakit bersumber Binatang (P2B2) Ditjen P2PL Kemenkes RI dalam acara peringatan pelaksanaan ASEAN Dengue Day ke-2 di Amilun Convention Hall, Medan, Jumat (15/6/2012).

Dr. Rita menuturkan pertolongan pertama untuk demam berdarah adalah memberikan cairan, mau jus jambu, sari kurma atau angkak yang terpenting memberikan cairan ke dalam tubuh. Lalu pantau pada hari ketiga dan kelima yaitu saat masa kritis.

Hal ini karena pada orang demam berdarah terjadi kebocoran di pembuluh darah sehingga harus diberikan banyak minum untuk mengganti cairan agar trombosit tidak makin turun. Tapi pemberian cairan ini jangan dipaksa hanya sekuatnya saja.

“Pada hari kelima trombosit akan naik sendiri meski hanya minum air putih, karena tubuhnya sudah bisa memperbaiki diri sehingga kadar trombositnya naik. Tapi kalau virusnya ganas maka kebocoran bisa parah dan harus dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.

Dr Rita menjelaskan dalam menangani kasus demam berdarah hanya perlu bermain dengan cairan, saat terjadi kebocoran harus banyak minum, tapi saat kebocorannya sudah selesai maka dalam waktu 2×24 jam asupan cairan harus dikurangi.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk pertolongan pertama terhadap penderita demam berdarah yaitu:
1. Memberikan minum sebanyak mungkin.
2. Kompres agar panasnya turun.
3. Memberikan obat penurun panas.
4. Jika dalam waktu 3 hari demam tidak turun atau malah naik segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas.
5. Jika tidak bisa minum atau muntah terus menerus, kondiai bertambah parah, kesadaran menurun atau hilang maka harus dirawat di rumah sakit.

http://m.detik.com/health/read/2012/06/15/143241/1942274/763/demam-berdarah-tidak-ada-obatnya-hanya-andalkan-cairan

=============================================================================

Meski sama-sama disebabkan oleh infeksi virus dengue, demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah hal yang berbeda. Mengapa? Dan apa penyebab serta bagaimana penanganan serta perawatan orang sakit demam dengue dan demam berdarah dengue?

Dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Leonard Nainggolan, dilansir Kompas, mengatakan meski demam dengue dan DBD sama-sama disebabkan oleh virus dengue, ada perbedaan dasar pada keduanya, yaitu kebocoran plasma. Pada demam dengue gejala hanya berupa demam dan syok namun tidak sampai disertai dengan kebocoran plasma.

Ia menjelaskan, kebocoran plasma merupakan melebarnya celah antar sel di pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya plasma darah keluar dari pembuluh darah. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah.

Meski plasma darah bisa keluar, lanjut dia, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar. Jika plasma darah saja yang keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya.

Dengan kata lain, DBD lebih berbahaya dan memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan dengan demam dengue. Ini karena jika terjadi kebocoran plasma, DBD bisa berisiko kematian. Ini berhubungan dengan pengentalan darah yang tidak normal di dalam tubuh yang berakibat kurangnya pasokan bagi organ-organ penting dalam tubuh.

Dalam kesempatan berbeda, Profesor Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, ada dua pendapat mengenai demam dengue dan DBD itu sendiri. Pendapat pertama, kedua penyakit itu berbeda, namun ada pula yang mengatakan, demam dengue bisa berkembang menjadi DBD jika dibiarkan.

“Namun yang jelas, orang perlu mewaspadai kebocoran pada plasma karena bisa menyebabkan kematian,” kata Sri.

Mengapa mematikan?

Dengan risiko kematian mencapai 0,9%, penyakit demam berdarah jelas bukanlah penyakit yang bisa diremehkan. Apalagi kasus penyakit ini mencapai 140.000 setiap tahunnya.

“Kalikan saja 0,9% dengan 140.000, sudah 1.400 dalam setahun. Sehingga dalam sebulan paling tidak rata-rata ada 100 kematian karena DBD di Indonesia,” kata dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD.

Ia menjelaskan, DBD bisa menyebabkan kematian jika pasien tidak bisa melewati fase kritis dengan baik. Pada fase kritis, virus dengue penyebab DBD mulai beraksi merusak celah antarsel di pembuluh darah.

Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah. Meski plasma darah bisa keluar, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar.

“Jika plasma darah keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya,” tutur dia. Ia menganalogikan dengan cairan gula. Bila satu sendok gula biasa dilarutkan dalam satu gelas air, larutan gula akan lebih pekat bila gula hanya dilarutkan dalam setengah gelas air.

Nah, komplikasi pengentalan darah inilah yang berakibat fatal. Leonard menjelaskan, darah yang lebih kental akan lebih sulit dialirkan ke seluruh tubuh. Lama kelamaan organ-organ tubuh akan kekurangan pasokan oksigen dari darah.

Kurangnya oksigen pada organ akan menganggu fungsinya. Jika dibiarkan, pasien akan mengalami kegagalan multiorgan dan meninggal.

Perawatan Umum

Saat menderita demam berdarah, jus jambu menjadi minuman rutin dikonsumsi pasien. Mitos bahwa jus jambu cepat menurunkan trombosit memang telah mengakar kuat di masyarakat. Tetapi, seperti apakah faktanya? Leonard Nainggolan mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat jus jambu untuk penyembuhan DBD. Namun, untuk meringankan fatalitas dari DBD, pasien perlu banyak minum.

“Namun cairan itu bisa didapat dari mana saja, tidak harus jus jambu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prinsip cairan yang masuk ke dalam tubuh pasien DBD adalah yang mengandung isotonik dan glukosa. Itulah kenapa jus jambu yang umumnya merupakan minuman manis dan mengandung vitamin dan mineral dari buah masuk dalam kriteria minuman yang dibutuhkan oleh pasien DBD.

“Sebaiknya memang bukan air biasa, karena pasien membutuhkan pengganti isotonik dan glukosa yang banyak hilang saat sakit. Itu juga yang direkomendasikan WHO,” kata dia.

Menurut dia, selama pasien tidak mengalami keluhan setelah minum minuman, termasuk jus jambu, maka tidak ada masalah bila pasien meneruskannya. Ia menegaskan, supaya pasien selama sakit minum sebanyak yang ia mampu. Tujuannya untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran pembuluh darah.

Diketahui virus dengue penyebab DBD beraksi dengan merusak celah antarsel di pembuluh darah. Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini.

Perawatan di rumah sakit

Setiap kali terjadi wabah demam berdarah (DB), hampir setiap rumah sakit akan penuh oleh pasien DB yang dirawat inap. Bahkan, di beberapa rumah sakit pemerintah pasien sampai harus dirawat di aula atau selasar karena tidak kebagian tempat tidur.

Meski berisiko mematikan, DB sebenarnya merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa obat. Namun sebelum sembuh, orang yang menderitanya akan melewati masa kritis. Dan pada masa itulah pasien membutuhkan perawatan yang baik untuk menjaga kondisi tubuhnya hingga mampu melewati masa kritis. Perawatan yang baik seringkali diasosiasikan dengan rawat inap di rumah sakit. Namun sebenarnya tidak semua penyakit DB membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Gejala demam berdarah

Leonard Nainggolan mengatakan gejala demam berdarah biasanya mirip dengan gejala penyakit lain. Karena itu jika mengalami gejala demam tinggi secara mendadak selama hampir 7 hari, lesu, tidak ada gejala influenza, dan demam mendadak dibarengi rasa sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, serta nyeri di belakang mata, maka hal permata yang wajib dilakukan adalah membawa pasien ke dokter untuk memastikan diagnosis.

“Namun untuk menentukan selanjutnya apakah pasien harus dirawat inap atau rawat jalan, kuncinya yaitu ada tidaknya kedaruratan. Kedaruratan yang dimaksud adalah syok, kejang, kesadaran menurun, dan pendarahan,” papar dia.

Meski tidak terjadi kedaruratan, ada dua kemungkinan yaitu tetap harus dirawat inap atau rawat jalan. Untuk menentukannya dokter akan melakukan uji Torniquet yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya bintik-bintik merah pada kulit.

Bintik-bintik merah pada kulit merupakan tanda tubuh mengalami pendarahan akibat virus dengue. Jika sudah terjadi pendarahan, artinya sudah terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang menyebabkan pengentalan darah yang berakibatan fatal.

“Namun kalaupun hasilnya positif, perlu dilihat juga jumlah trombosit pada darah. Jika kurang dari 100.000/ul, maka perlu dirawat inap, namun jika lebih dari 100.000/ul bisa dilakukan rawat jalan,” kata Leonard.

Dengan catatan, lanjut dia, rawat jalan perlu disertai dengan kontrol setiap hari sampai demam reda. Dan selama dilakukan rawat jalan, pasien perlu diberikan cairan sebanyak-banyaknya, semampu yang pasien bisa minum.

Infeksi kedua lebih parah

Setiap mengalami penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh virus, tubuh secara alamiah akan membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut. Antibodi tersebut kemudian akan terus berada di dalam tubuh sehingga ketika virus yang sama menyerang tubuh sudah memiliki kekebalan.

Kendati demikian, konsep tersebut sedikit berbeda untuk penyakit demam berdarah (DB). Sehingga meski tercipta antibodi, tubuh bukannya kebal melainkan merespon virus dengan berlebihan sehingga menimbulkan gejala yang lebih parah daripada yang sebelumnya.

Menurut Leonard Nainggolan, setelah sembuh dari DB seseorang mungkin terkena DB lagi. Alasannya, virus dengue penyebab DB terdiri dari beberapa tipe, yaitu tipe den-1, 2, 3, dan 4.

“Sehingga misalnya pertama DB seseorang terinfeksi virus tipe den-2, suatu saat mungkin ia terkena DB lagi dari virus tipe den-3,” tuturnya.

Ia menerangkan, saat terkena DB dengan virus dengue den-2, maka antibodi yang terbentuk adalah untuk virus tipe tersebut, bukan tipe lainnya. Maka paparan virus tipe lainnya tetap bisa menyebabkan seseorang itu terkena DB kembali. Sayangnya, gejala yang ditimbulkan dari infeksi yang kedua mungkin lebih berat dari yang pertama. Menurut Leonard, ini karena reaksi antibodi yang sudah diciptakan dari infeksi sebelumnya mengenali virus tipe berbeda, namun tidak bisa melawannya.

“Efek sampingnya tidak ringan karena antibodi merespon (virus tipe berbeda) dengan lebih aktif,” ujar dia.

Ia mengatakan, virus dengue terbanyak yang dijumpai di Indonesia adalah virus tipe den-2 dan 3. Meski gejala dari infeksi masing-masing tipe virus tidak ada perbedaan yang signifikan.

Kewaspadaan

Cuaca yang panas dan hujan datang bergantian dengan selang waktu yang cepat merupakan saat penyakit-penyakit biasanya lebih mudah berdatangan, tak terkecuali DB. Leonard Nainggolan menjelaskan, risiko DBD memang meningkat di musim pancaroba. Pasalnya, penyakit ini disebarkan oleh nyamuk yang berkembang biak di air bersih tergenang yang dibiarkan beberapa waktu.

“Kalau musim hujan, meski ada genangan juga namun relatif lebih mudah terganti dengan air hujan yang baru, air lebih mengalir. Berbeda dengan musim pancaroba, setelah hujan tercipta genangan, kemudian panas lagi. Di genangan itulah nyamuk bisa berkembang biak,” tutur dia.

Ia menegaskan setitik genangan air saja sudah bisa menjadi sarana berkembangbiaknya nyamuk. Sehingga untuk mencegah terjadinya kasus DBD, setiap orang perlu menyadari untuk mencegah terjadinya genangan. Cara yang selalu direkomendasikan untuk pencegahan DBD adalah 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur. Leonard menjelaskan, semua tempat yang bisa menampung air, khususnya air yang bening perlu ditutup dan dikuras secara rutin.

Bahkan tempat-tempat yang bukan dikhususkan untuk penampungan air namun bisa terdapat genangan, misalnya wadah pot bunga, dispenser, kaleng bekas, atau ban bekas pun perlu selalu dipantau. Khususnya untuk benda-benda tak terpakai yang berpotensi menyimpan genangan perlu dikubur.

DBD merupakan penyakit infeksi yang dimanifestasikan dengan demam dan pendarahan. DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tipe tertentu. Leonard menjelaskan, nyamuk yang menjadi vektor virus dengue membutuhkan darah untuk mematangkan telur-telurnya. Itulah kenapa nyamuk yang menggigit adalah nyamuk betina.

Nyamuk juga memiliki sifat sulit kenyang, maka cenderung untuk menggigit beberapa orang sekaligus. Inilah kenapa seringkali kasus DBD yang dijumpai di suatu wilayah tidak hanya satu kasus, melainkan beberapa kasus dalam satu waktu.

Sumber: http://simomot.com/2014/06/17/beda-demam-dengue-dan-dbd-penyebab-penanganan-dan-perawatan/ (tapi mending jangan diklik kali ya, iklan beritanya banyak yang saru 😁, nyari sumber lain yg cukup lengkap menyeluruh tapi bahasanya gak teknis banget belum nemu lagi).

Dongeng Antibiotik (dan Antiseptik)

Copas dari Milis Sehat, antara lain untuk menjawab pertanyaan “Haruskah konsumsi antibiotik yang sudah telanjur diminum (kemudian sadar sebetulnya tidak perlu) tetap diteruskan?”. Memang, jika sudah diresepkan dan tepat diagnosis, antibiotik yang diresepkan harus dihabiskan. Namun, sepertinya ada semacam salah kaprah bahwa yang nantinya kebal dengan antibiotik tersebut kelak (jika minum antibiotiknya tidak dihabiskan) adalah orangnya. padahal yang dikhawatirkan kebal adalah bakterinya. Selengkapnya bisa berkunjung ke situs http://react-yop.or.id. Yang dikampanyekan oleh ReACT ini bukanlah anti-antibiotik, melainkan pemakaian antibiotik secara tepat guna, untuk ‘menyelamatkan’ antibiotik itu sendiri.

Bayangkan tubuh kita adalah suatu negara yang memiliki pertahanan sipil (bakteri baik/flora alami) dan pertahanan militer (antibodi/imun tubuh). Jika tubuh kemasukan pendatang baru/benda asing/musuh (bisa alergen, virus, cendawan, maupun bakteri), maka bakteri baik kita (pertahanan sipil) yang pertama-tama akan melawan pendatang baru tersebut. Jika pertahanan sipil tidak mampu melawan, maka pertahanan militer (sel darah putih) akan datang ke area tersebut untuk melawan musuh. Jika militer kita tidak sanggup melawan, maka perlu bantuan tentara luar untuk berperang melawan musuh tersebut. Nah, tentara luar inilah yang kita sebut antibiotik. Namun, satu hal yang harus dipahami, tentara luar alias antibiotik tersebut tidak mampu untuk melawan virus maupun alergen. Mengapa? Karena sejatinya tentara luar tersebut hanya bisa mendeteksi dan membunuh makhluk hidup, sedangkan virus maupun alergen bukan merupakan makhluk hidup, sehingga tidak terdeteksi dan tidak terbunuh oleh tentara luar tersebut (seperti rudal dengan sensor panas hanya akan menyerang target tertentu).Apa efeknya jika penyakit karena virus atau alergen diobati dengan antibiotik?
1. Tentara luar tersebut mendeteksi dan membunuh mahluk hidup tanpa pandang bulu. Jika tidak ada penyusup/musuh yang diserang, maka yang jadi korban adalah rakyat sipil kita (flora alami). Akibatnya flora alami jadi berkurang dan pertahanan sipil jadi lemah. Kalau pertahanan sipil melemah, maka akan lebih mudah diserang oleh musuh. Tubuh jadi makin gampang sakit.
2. Jika rakyat sipil kita terus-menerus diserang oleh tentara luar, maka suatu saat akan muncul rakyat sipil yang memberontak (mutasi bakteri dari bakteri baik menjadi bakteri jahat).Apa yang terjadi jika konsumsi antibiotik tidak sesuai/di bawah dosis yang dibutuhkan?
Tidak semua musuh musnah, akan ada bakteri jahat/musuh yang bersembunyi dan menyusun strategi pertahanan yang baru (mutasi).Sedikit tambahan, sebenarnya demam itu berfungsi seperti alarm untuk memanggil tentara kita (sel darah putih) untuk datang ke medan perang. Itu sebabnya demam sebenarnya sangat berguna dan tidak seharusnya dibasmi kecuali sudah benar-benar membuat anak tidak nyaman dan tidak bisa istirahat.
Bayangkan tubuh Anda adalah sebuah negara. Flora alami/bakteri baik dalam tubuh sebagai penduduk sipilnya. Imunitas tubuh sebagai tentaranya. Bakteri jahat sebagai musuhnya. Jika ada musuh menyusup, mereka tidak bisa dengan mudahnya menduduki wilayah tersebut karena sudah ada penduduk sipil yang siap siaga untuk melawan pendatang baru yang mau macam-macam. Jika musuh yang datang cukup banyak dan mulai menginvasi suatu wilayah, maka terjadi demam untuk memanggil si tentara ke wilayah tersebut. Jika tentara Anda dalam kondisi lemah dan tidak dpt memberi perlawanan maksimal, maka perlu bala bantuan/tentara dari luar untuk membantu mengalahkan musuh Anda tersebut. Nah, tentara dari luar inilah yang biasa kita sebut dengan antibiotik. Masalahnya tentara AB ini spesifik untuk membasmi bakteri dan fungi saja. Bukan untuk virus. Dalam kasus antibiotik yg dibutuhkan tidak dihabiskan, kejadiannya si tentara luar ini sudah membantu melawan musuh hingga musuhnya klenger, tapi belum musnah semua. Ada beberapa musuh yang masih bersembunyi dan berlindung. Jika hal itu terjadi 1-2 kali mungkin penduduk sipil kita masih bisa menekan musuh tersebut hingga habis seluruhnya. Namun, dalam hal penggunaan AB sembarangan (sering dilakukan) si musuh yang bersembunyi tersebut akan semakin banyak dan pada akhirnya mereka akan mampu membangun kekuatan yang bisa melawan tentara luar tersebut.Inilah yang disebut resistensi antibiotik. Dalam hal penyakit yang disebabkan oleh virus dan diberi AB kejadiannya si tentara luar tidak menemukan musuh untuk dibasmi, akhirnya mereka memakan/memusnahkan penduduk sipil kita sehingga jika ada musuh benaran yang datang, tidak ada lagi penduduk sipil yang melindungi wilayah tersebut. Makanya tubuh jadi gampang sakit. Efek lain dari penyerangan yang salah sasaran tersebut, penduduk sipil jadi merasa ditekan terus menerus hingga akhirnya terjadi pemberontakan (bakteri baik berubah menjadi bakteri jahat). Itulah akibatnya jika penyakit karena virus diobati terus dengan AB, kita menciptakan pemberontakan dalam negara kita sendiri.

Yang ini dongeng dari dokter Fathia ketika beliau mengadakan acara sharing mengenai kesehatan:

Bayangkan kita hidup bertetangga. Ada tetangga yang selama ini hubungannya baik-baik saja, dalam arti tidak saling mengganggu, tapi nggak akrab-akrab banget juga. Nah, suatu hari tetangga ini tiba-tiba mengancam kita dengan senjata. Makin hari makin jadi. Apa reaksi kita? Kemungkinan besar reaksi spontan pertama kali adalah mempertahankan diri, kalau perlu mempersenjatai diri juga karena ancamannya tidak main-main dan cenderung membahayakan.Inilah yang terjadi jika kita terlalu sering memakai sabun antiseptik. Pemakaian yang tepat guna tentu bermanfaat, tetapi untuk keperluan sehari-hari sebetulnya kita hanya memerlukan sabun biasa. Sabun antiseptik idealnya hanya dipakai di kasus ataupun lingkungan khusus. Sebab walaupun hanya dipakai di kulit, sabun antiseptik tetap bisa memicu resistensi terhadap antibiotik.

Nah, soal apakah antibiotik harus ‘dihabiskan’ ini ternyata juga bisa beda-beda persepsi. Saya baru ‘ngeh’ soal ini ketika ada yang menanyakan mengenai haruskan antibiotik dihabiskan dan yang dimaksud ternyata adalah sebotol antibiotik sirup, haruskah diminum sampai isi botol habis atau mengikuti petunjuk dokter terkait lamanya meminum? Jawabannya ada di sini.

Kapan Antibiotik Harus Dihabiskan dan Tidak Dihabiskan?
Oleh Aditya Eka Prawira
Dikatakan dr. Fransisca Handy, Sp.A., IBCLC, perwakilan dari komunitas Milis Sehat, dalam sebuah talkshow yang diadakan di Social Media Festival 2013, bahwa dalam pemberian antibiotik kepada anak, orangtua harus mengetahui terlebih dulu indikasi apa yang dialami anaknya tersebut. Jika sudah tahu indikasinya, maka orangtua akan paham apakah antibiotik harus dihabiskan atau tidak.Misalnya saja penyakit infeksi saluran kencing. Menurut dr. Fransisca, pada anak yang menderita penyakit ini minimal orangtua memberikan antibiotik selama tujuh hari. Dan biasanya, dokter akan memberikan antibiotik dalam bentuk sirup. Bila dalam empat hari sirup sudah habis, maka harus segera dibeli yang baru lagi.”Sirup itu umumnya cukup untuk empat hari. Karena pemberian antibiotik pada anak yang menderita penyakit infeksi saluran kencing selama tujuh hari, ya orangtua harus membelinya lagi, biar genap tujuh hari. Jika sudah genap tujuh hari antibiotik masih bersisa, biarkan saja,” kata wanita yang juga bertugas di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK-UPH), di fX Sudirman, Jakarta, ditulis Selasa (15/10/2013). Begitu juga bila si anak menderita Pneumonia ringan. Biasanya, antibiotik akan dijadikan tata laksana pada anak yang terserang penyakit ini. Dan umumnya, antibiotik yang diberikan cukup untuk tiga hari saja.”Sirup antibiotik biasanya untuk lima hari. Bila sudah tiga hari, hentikan, jangan sampai habis. Harus sesuai dengan durasi yang dianjurkan oleh dokter,” kata Fransisca.
Pneumonia disebabkan berbagai mikroorganisme, dan penyebab terseringnya adalah bakteri (S.pneumonia, H.influenza, S.aureus, P.aeruginosa, M.tuberculosis, M.kansasii, dsb), namun dapat juga disebabkan oleh jamur (P.carinii, C.neoformans, H.capsulatum, C.immitis, A.fumigatus,dsb), protozoa (toksoplasma) serta virus (CMV, herpes simpleks)http://health.liputan6.com/read/719631/kapan-antibiotik-harus-dihabiskan-dan-tidak-dihabiskan/?related=pbr&channel=h

Referensi lain http://pilkada.kompas.com/jatim/read/2014/03/11/1035338/Dosis.Antibiotik.Tak.Selalu.Harus.Dihabiskan
http://m.detik.com/health/read/2014/03/06/185127/2518008/763/tak-kena-bakteri-tapi-telanjur-minum-antibiotik-apakah-harus-dihabiskan

Jakarta, Saat memberi resep antibiotik, dokter biasanya akan meminta pasien untuk menghabiskan obatnya agar bakteri tak menjadi resisten (kebal obat). Tetapi ketika tidak terinfeksi bakteri dan pasien telanjur minum antibiotik, apakah tetap harus dihabiskan?
“Ibaratnya kita mau ke Restoran Gemoelai tapi nyasar dulu ke arah Blok M. Apakah kita terus lanjut aja sampai Blok M? Kan tidak, ya berhenti dan cari tahu,” jelas dr Purnamawati S Pujianto, SpAK, MMPed, penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dalam acara Diskusi Media ‘Bakteri: Kawan atau Lawan?’ di Restoran Gemoelai, Jl Panglima Polim V No 60, Jakarta, Kamis (6/3/2014).
Berhenti dan mencari tahu juga perlu dilakukan ketika seorang pasien yang tidak terinfeksi bakteri telanjur minum antibiotik. Menurut dr Wati, antibiotik yang sudah telanjur diminum harus segera dihentikan ketika diketahui ternyata penyakit yang diderita pasien bukanlah disebabkan oleh bakteri.
“Kadang-kadang butuh waktu untuk diagnosis, kultur darah (pemeriksaan laboratorium). Ketika diagnosis mengindikasikan bakteri, pasien sementara dikasih antibiotik. Tapi diagnosis kan klinis, jadi begitu hasil kultur darah keluar dan tidak ada bakteri, maka antibiotiknya harus dihentikan,” kata dr Wati.
Bila tubuh tidak terinfeksi bakteri dan terus diberi antibiotik, dampaknya bisa membunuh bakteri-bakteri baik yang berperan dalam sistem tubuh.
Akibatnya, bakteri jahat akan berpesta-pora karena ‘kavling’ yang ditadinya dihuni oleh bakteri baik sudah tak lagi berpenghuni. Tubuh akan lebih mudah sakit, bakteri jahat akan semakin kebal, dan tak lagi mempan dengan antibiotik ketika bakteri jahat benar-benar menyerangnya.
“Kalau kita sayang anak, sayang orang tua, bijaklah menggunakan antibiotik sehingga ketika benar-benar butuh, tidak susah mengobatinya. Menemukan antibiotik baru itu butuh waktu lama, jangan sampai antibiotik punah,” tutup dr Wati.
(mer/vit)

Belakangan saya membaca bahwa yang diduga memicu kekebalan bakteri bukan hanya sabun mandi ternyata. Produk lain seperti cairan pel, sabun cuci, peralatan rumah tangga (setahu saya ada produk penyimpanan makanan yang mengklaim punya manfaat antimikrobial) juga punya potensi serupa. Lebih lengkap antara lain bisa dibaca di sini.

Bulan lalu, muncul pula pernyataan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat sbb, sebagaimana dimuat di Kompas:

WASHINGTON, KOMPAS.com – Penelitian meragukan keampuhan sabun antiseptik membunuh bakteri. Bahkan kandungan zat kimia dalam sabun antiseptik tersebut dinilai berisiko mengganggu hormon dan memicu bakteri yang resisten terhadap obat. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan hasil penelitian yang sudah dilakukan selama 40 tahun atas bahan kimia anti-bakteri yang sering dipakai sebagai komposisi sabun antiseptik dan sabun pembasuh badan, Senin (16/12/2013).Penelitian juga mendapatkan peningkatan risiko yang muncul dari penggunaan bahan kimia untuk sabun itu. Food and Drug Administration (FDA) mengatakan, saat ini mereka sedang meninjau kembali keamanan penggunaan bahan kimia semacam triclosan untuk sabun. Berdasarkan penelitian terbaru, zat-zat kimia itu justru mengganggu kadar hormon pemakainya dan memicu pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap obat. Pernyataan awal FDA adalah mendukung hasil penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan zat antiseptik -kemungkinan terbaiknya- tidak efektif dan -kemungkinan terburuknya- mengancam kesehatan masyarakat. (selengkapnya di sini)

Update September 2016: https://m.tempo.co/read/news/2016/09/03/116801424/fda-larang-sabun-cuci-tangan-anti-bakteri-beredar-di-as
TEMPO.CO, Washington – Badan pengawasan makanan dan obat Amerika Serikat (FDA) menyatakan sabun biasa dan air bersih lebih efektif untuk membunuh kuman daripada produk sabun cuci tangan anti-bakteri.

Atas temuan terbaru itu, FDA melarang 19 bahan kimia yang digunakan dalam sabun cuci tangan yang diklaim produsennya mengandung anti-bakteri. Menurut FDA, produsen sabun cuci tangan anti-bakteri gagal membuktikan bahwa penggunaan bahan-bahan kimia itu aman dan dapat membunuh kuman.

“Kami tidak memiliki bukti ilmiah bahwa mereka lebih baik daripada sabun biasa dan air,” ujar Dr Janet Woodcock, Direktur Utama FDA.

Seperti yang dilansir Independent pada 3 September 2016, aturan itu berlaku untuk setiap sabun atau produk antiseptik yang memiliki satu atau lebih dari 19 bahan kimia, termasuk triclocarbon, yang sering ditemukan di sabun batang, dan triclosan, dalam sabun cair.

Kedua bahan kimia berbahaya tersebut dikatakan dapat mengganggu kadar hormon dan memacu bakteri kebal terhadap obat serta dapat mengganggu perkembangan janin pada ibu hamil. Menurut FDA, triclosan dapat ditemukan di hampir semua sabun cair berlabel “anti-bakteri” atau “anti-mikroba”.

FDA telah memberikan batas waktu hingga akhir tahun ini bagi para produsen sabun untuk mengubah produk mereka atau menarik sabun cuci tangan anti-bakteri dari peredaran. Namun hal itu tak berlaku pada hand sanitizer yang mengandung alkohol dan produk anti-bakteri yang digunakan di rumah sakit atau klinik.

Bahan-bahan kimia tersebut telah lama berada di bawah pengawasan. Seorang juru bicara industri sabun pembersih mengatakan sebagian besar perusahaan saat ini menghentikan penggunaan 19 bahan kimia yang dilarang dari produk mereka.

Profesor Patrick McNamara, yang telah menerbitkan penelitian tentang sabun anti-mikroba, menyambut baik putusan FDA. Menurut dia, penelitian menunjukkan tidak ada manfaat tambahan dari bahan kimia anti-mikroba dalam sabun.

Time Will Heal

Belajar jadi pasien yang rasional, apalagi dalam posisi sebagai orangtua, susah-susah gampang. Godaan sering muncul, apalagi kalau anak terlihat begitu ‘menderita’. Menangis sepanjang malam, tak mau makan, tak mau minum… ortu pun seringkali jadi harus mengorbankan waktu tidur yang bisa berefek ke pekerjaan (di rumah maupun kantor) esok harinya. Belum lagi khawatir menularkan sakit yang sama ke anak-anak yang lain, atau minimal anak yang lain jadi ‘nggak kepegang’ dan malah ikutan rewel. Hal-hal seperti ini ternyata bagi sebagian orang jadi pertimbangan untuk memberikan obat pada anak. Meskipun tahu bahwa sebetulnya bisa sembuh sendiri. Walaupun sudah pernah baca bahwa tatalaksananya memang tidak perlu obat. ‘Tega’? Iya, label seperti itu akan mudah sekali melekat pada ortu yang ‘nggak ngapa-ngapain’ saat anaknya sakit. Padahal, sebetulnya bukan dicuekin juga sih. Tetap dinyamankan, ditawari makan, terutama minum, dan tentunya dilimpahi kasih sayang. Ada pula yang saking takutnya pada obat lalu mengejar penanganan yang ‘alami’, biasanya diidentikkan dengan herbal. Padahal yang alami itu belum tentu aman, dan seringkali sulit diukur berapa dosis yang tepat, dipantau efek sampingnya, dst. Ada pula terapi yang sepertinya aman, minim efek samping, tapi kalau mau betul-betul mengikuti prinsip pengobatan rasional, tetap tidak tepat dari segi biaya, dan tidak disebutkan pula dalam panduan dasar dari WHO misalnya. Ada lho yang sampai titip-titip dicarikan karena di kotanya tidak ada, benar sih kita selalu rela berkorban demi anak termasuk dalam hal biaya, tapi sekali lagi, apakah memang perlu? Lebih banyak manfaatnya untuk mengobati kekhawatiran orangtuanya, sepertinya. Berikut saya kutipkan e-mail dari dr. Purnamawati di milis Sehat:

Sebetulnya, pemakaian kayu putih dll kan tidak ada ya dalam guidelinenya. Kalau ingusnya kental – mungkin membantu. Tetapi kalau ingusnya encer, kan akan keluar dengan sendirinya tanpa harus uap “sepanjang masa”. Saya tidak tahu apakah eucalyptus oil boleh dan aman untuk bayi tetapi yang jelas, kan tidak perlu. Kadang saya pikir, pemakaian breathy, sterimar, NaCl 0.9 persen – sebetulnya juga merupakan salah satu manifestasi bahwa parents di indonesia masih sulit menerima kenyataan bahwa batpil, runny nose, memang tdk ada obatnya – sehingga … Baik dokter dan orangtua (sadar tak sadar) merasa “harus” ada tindakan; harus ada terapi; butuh ada “intervensi”. Mbok biasa2 saja Kalau boleh usul lho ya Wati

Juga komentar dr. Endah yang kemudian terkenal dengan slogan “Time will heal”-nya….

Dear smart parents, Sibuk mencari sesuatu cara untuk ‘do something’ saat anak batuk pilek? Obat katanya gak boleh. Nebulizer kan cuma buat anak asma. Gemes kaaan, kalo gak bisa melakukan sesuatu? Kesannya menelantarkan anak? Aha! Meluncurlah ke apotik beli breathy, beli transpulmin BB – obat batpil gak dibeli tapi tetap aja beli ‘sesuatu’. Gak cukup sampai di situ, masak air mendidih lalu diuapkan ke anak kita. Kesemua itu gak perlu. Hal terpenting dari perlawanan terhadap virus adalah daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh dapat disokong oleh istirahat yang cukup (siapkan fisik untuk menggendong anak yang super rewel ya), makanan (bujuk – dan bukan paksa – anak untuk makan, 1-2 sendok secara berkala sudah lumayan banget), dan yang sangat penting: cairan! Telateni untuk memberi minum pada anak. Bayi ASI perlu disusui lebih sering. Sering lepas-lepas karena mampet? Perah ASInya lalu sendoki. Sisanya? Time will heal. Berkali-kali saya menemukan anak yang mengalami reaksi alergi terhadap balsam. Tersering akibat diberikan bawang. Ortu panik, dikira campak. Padahal dermatitis kontak. Yang menyedihkan, sudah dua kali menemukan kasus anak luka bakar akibat ‘terapi uap’. Yang pertama karena anak tidak bisa diam, meronta, ember berisi air panas tertendang dan airnya menciprati badannya. Kasus kedua, memasang magic jar di kamar tidur supaya mengeluarkan uap air panas, lalu ditinggal tidur. Anaknya sudah bisa turun sendiri, lalu memainkan magic jar tadi, melepuhlah kulit tangan sampai mukanya. Sedih sekali melihatnya. Satu2nya yang aman dan efektif yang perlu diberikan ke anak yang batuk pilek cuma minum yang banyak. Gak perlu ya perintilan2 ‘home treatment‘. Siapkan stok sabar. Observasi tanda2 bahaya. Sisanya, serahkan pada tubuh anak. Sekali lagi, time will heal. Badai pasti berlalu. Maaf jika tidak berkenan, Endah

Serius sekali ya saya nulisnya? Padahal, jujur saja, saya juga masih suka panik. Beli juga balsem bayi transpulmin bb untuk jaga-jaga kalau Fathia batuk-pilek (praktiknya jarang dipakai juga, sih, waduh tambah mubazir dong ya?). Kadang-kadang masih menguapi kamar dengan minyak kayu putih yang diteteskan ke panci berisi air panas (kira-kira ada lah 4 kali sepanjang usia Fathia yang sekarang 2 tahun). Waktu Fathia sariawan, masih sibuk mencari tahu kapankah kira-kira boleh dikasih obat oles, saking nggak tega mendengarnya menangis 10 menit, tidur 10 menit dst tiga malam berturut-turut. Sudah baca teori berulang kali, dijelaskan oleh ahlinya, baca-baca pengalaman orangtua lain, ternyata tetap ada kalanya panik juga. Pernah juga saya ‘panik karena tidak merasa panik’, hahaha. Boleh kan ya dianggap sebagai bagian dari proses belajar? Semoga tidak terlihat seperti pembelaan diri semata, ya :).

Edit April 2015: alhamdulillah ada penguatan lagi dari dr. Arifianto, Sp.A (dokter yang aktif di milis sehat juga)

Arifianto Apin
11 April at 10:44 · 
Semua orangtua pernah mendapatkan anaknya mengalami selesma alias batuk pilek. Mayoritas berakhir dalam waktu yang tidak lama, sekitar semingguan. Tapi sebagian lainnya bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan melampaui angka 1 bulan. Orangtua yang awalnya paham bahwa selesma dibiarkan saja dan akan sembuh dengan sendirinya, tidak perlu minum obat apapun, toh infeksi virus yang ringan, menjadi khawatir. Apalagi kata orang, batuk yang dibiarkan lama bisa jadi “paru-paru basah”, flek, pneumonia, dan bronkitis.

Mulailah mereka membawa anaknya ke dokter. Sebagian khawatir akan kemungkinan TB, sehingga dilakukan foto ronsen dan tes Mantoux. Sebagian lagi curiga alergi atau asma, maka diberikanlah obat-obatan asma dan alergi. Masih tak kunjung sembuh juga. TB bukan, alergi bukan, asma juga tidak. Lalu apa? Infeksi virus ping-pong ternyata. Ya, awalnya si anak sakit, lalu bapak-ibunya tertular, lalu di sekolah teman-temannya juga sakit. Lengkap sudah.

“Ibu mau anaknya sembuh? Gampang Bu. Ibu taruh anaknya di suatu tempat yang tidak ada orang lain yang sakit batuk-pilek juga. Satu minggu aja. Nanti juga insya Allah sembuh sendiri.” Kata dokter sambil tersenyum.

Ujung-ujungnya pasti orangtua bertanya, “Lalu apa obatnya??”
“Sabar,” jawab dokter. “Obatnya adalah: sabar menunggu anak sembuh sendiri. Toh ini infeksi virus ringan yang hilang seiring waktu. Tapi ya harus sabar. Karena banyak orang di sekelilingnya yang sakit serupa dan bolak-balik menularkan.”

Satu lagi. Anak seringkali mengalami demam saat selesma. Suhunya bisa mencapai 40 derajat selsius. Ia menjadi rewel. Sudah diberi obat penurun panas, hanya turun sedikit jadi 38,5. Itupun kalau mau diminum obatnya. Banyak yang langsung muntah saat ia dipaksa orangtuanya minum parasetamol. Makin stres si ayah-ibu. Semalaman tidak tidur. Maunya digendong saja. Ditaruh sebentar di kasur, langsung nangis lagi. Hidungnya mampet. Batuknya grok-grok.

“Jadi saya harus kasih obat apa?” tanya orangtua lagi.
“Anaknya nyaman dan anteng kalau digendong kan?” tanya dokter.
“Iya….”
“Ya itu obatnya: gendong!”

Ya, semalaman menggendong anak tentunya melelahkan. Harus masuk kerja pula pagi-pagi.

Nikmatilah! Tidak akan lama masa-masa ini Anda alami. Anda akan segera merindukannya ketika anak-anak besar