Langkah Muslimah Sikapi Dunia Maya, Jangan Sampai Terlena

Internet menawarkan berjuta kemudahan, tetapi juga punya potensi mengerikan. Setiap orang bisa memanfaatkan informasi yang beredar di internet untuk menuntut ilmu kebaikan. Kajian agama bisa disimak tanpa harus meninggalkan rumah, baik berupa artikel yang ditulis langsung oleh beliau-beliau yang mumpuni ilmu agamanya maupun resume yang disusun oleh para peserta kajian. Bahkan kalau lebih sreg mendengarkan atau menyaksikan langsung untuk mengurangi kemungkinan distorsi informasi atau luputnya pencatatan, video ceramah juga banyak beredar. Namun, video tutorial yang mengajarkan kecurangan atau video yang punya konten cenderung asusila juga tak kalah gampang ditemukan.

Dunia maya juga identik dengan cepatnya penyampaian pesan maupun persebaran informasi. Kita mungkin terbantu dengan adanya fasilitas panggilan video yang mempermudah komunikasi dengan keluarga, sanak saudara, kolega, maupun teman yang jauh. Informasi apa pun yang ingin kita peroleh, tinggal kita ketikkan saja kata kuncinya di mesin pencari. Lagi-lagi, manfaat ini juga rentan diikuti dengan mudarat. Berita yang belum tentu kebenarannya juga bisa saja beredar dengan cepat.

Continue reading

Advertisements

Belajar agar Makin Cerdas dan Cantik lewat #BloggerMuslimahMeetUp

Kotak palet kosmetik telah terbuka di hadapan saya. Apron dan headband terpasang sudah. Saya menghela napas panjang. Akhirnya, setelah selama ini saya menghindari ikut kegiatan-kegiatan beauty class, sampai juga pada saat di mana saya tidak mungkin kabur. Bukan kabur karena serem ya, tapi merasa kikuk banget aja, hehehe. Coba, kalau tahapan materi yang diajarkan nggak maju-maju gara-gara saya seorang yang nggak kunjung benar menggerakkan aplikator misalnya, apa nggak malu-maluin? Berasa menghambat peserta lain dan menyusahkan pengajar, gitu. Padahal di sisi lain sebetulnya saya punya keinginan juga untuk bisa berdandan dengan baik dan benar. Dalam kesempatan istimewa, adakalanya kita dituntut untuk tidak tampil polosan ‘kan, ya.

Trus, kok bisa saya akhirnya mendaftarkan diri ikut acara beauty class? Pertama, kegiatan yang saya peroleh informasinya dari Instagram ini tajuk utamanya adalah #BloggerMuslimatMeetUp, dan beauty class bukan satu-satunya agenda. Terus terang yang membuat saya tertarik ikutan adalah nama para pengisi acara, potensi ketemu para blogger muslimah yang selama ini saya amati saja kegiatannya melalui unggahan di dunia maya, plus lokasinya yang dekat dari rumah. Kedua, mengingat pesertanya adalah para muslimah, saya jadi lebih percaya diri. Minimal, nggak bakal dikasih materi make up menyimpang dari syariat. Panitia pun pastinya sudah mengondisikan agar tidak ada lawan jenis berseliweran di lokasi saat kegiatan berlangsung. Berbeda halnya dengan beauty class cuma-cuma di tengah pusat perbelanjaan atau keramaian lainnya.

Lantas, bagaimana kesan-kesan saya setelah betulan memulaskan perona pipi, bedak, dan lipstik? Saya tuliskan belakangan yaa, biar lebih runut ceritanya. Jadi, Meet Up ini bukan sekadar ketemuan biasa, karena peserta juga diajak berpartisipasi aktif dalam Literacy Class dan Beauty Class. Sebagaimana yang tertera di banner publikasi acara, kegiatan diselenggarakan pada hari Ahad tanggal 27 Agustus lalu di lantai 2 Nutrifood Inspiring Center, Apartemen Menteng Square, daerah Matraman, Jakarta Timur. Melihat rundown acara ternyata lumayan padat juga, karena acara dimulai dari pukul 09.00 dan baru usai kira-kira ketika azan Asar berkumandang.

Tiba di lokasi, setelah registrasi saya mencoba berbaur. Pembawaan saya yang aslinya introvert kerapkali jadi kendala untuk urusan berkenalan seperti ini, tapi syukurlah keramahan para peserta lain mengenyahkan kecanggungan saya. Beberapa nama ternyata sudah cukup familiar bagi saya. Ada yang pernah saya baca blognya atau minimal terlihat tautan update blognya berseliweran di grup-grup blogger (mba Liswanti Pertiwi, Ophi Ziadah, Lita Chan Lai, Shine Fikri, Laura Ariestiyanty (d/h Laura Khalida), dll), saya ikuti akun media sosialnya (mba Amallia Sarah), bahkan saya miliki buku karyanya (mba Anisa Widiyarti yang produktif menulis buku, khususnya buku anak).

Mba Liswanti yang hari itu bertugas menjadi pembawa acara membuka kegiatan dan meminta kami semua memperkenalkan diri secara singkat. Kemudian, mengawali rangkaian materi, uni Novia Syahidah Rais selaku founder BM mengenalkan latar belakang, tujuan, dan kegiatan-kegiatan komunitas Blogger Muslimah.

Sesuai cerita uni Novia, komunitas ini resminya berdiri tanggal 1 Desember 2014. Uni Novia sendiri adalah seorang penulis, beberapa karyanya pernah saya baca di majalah Annida atau dalam bentuk buku seperti Putri Kejawen. Sebagai penulis, uni Novia jelas punya banyak teman yang suka menulis. Melalui komunitas Blogger Muslimah, uni Novia ingin menggerakkan lagi para penulis sekaligus mengingatkan bahwa media penulisan bukan hanya buku (yang pengerjaannya memakan waktu cukup lama). Bukan asal tulis tentunya. Skill menulis perlu terus ditingkatkan, dan ini bisa diupayakan melalui belajar bersama. Blogger Muslimah memfasilitasi sejumlah kegiatan untuk mengasah keterampilan para anggotanya, contohnya melalui edu-visit ke redaksi majalah Ummi.

Salah satu motivasi utama saya untuk mengikuti acara ini adalah kehadiran mba Rahmadiyanti ‘Dee’ Rusdi, yang dulu saya kenal ketika sama-sama memanfaatkan jasa penyedia layanan blog semi-medsos Multiply. Mantan redaktur majalah Annida yang kemudian bekerja di penerbit Noura Books (dulu CEO Lingkar Pena Publishing House, sebelum dilebur dengan lini lain menjadi Noura) ini menyajikan materi seputar penerbitan buku. Kata mba Dee, blogger selaku pemilik konten juga bisa punya peluang menerbitkan buku. Raditya Dika menjadi salah satu contoh suksesnya. Maka penerbit pun bisa mencari blogger atau seleb medsos untuk diterbitkan karyanya atau dibantu membuat buku, karena biasanya mereka sudah punya basis penggemar/pengikut sendiri. Namun, soal hasil belum jaminan juga bahwa buku seorang selebgram pasti akan laris manis di pasaran.

Continue reading

Komunitas Archery Lapangan Banteng, Membidik Target Sehat Jiwa Raga

Kalau yang ini tugas kelompok untuk menulis feature. Karena pada sesi sebelumnya ada yang melontarkan usul komunitas panahan, saya berpikir ide yang ini bisa dieksekusi. Saya memang tidak tergabung dalam komunitas tersebut, tetapi saya sering melihat latihannya di hari-hari tertentu ketika berangkat atau pulang kantor. Mengingat saya juga pernah mencoba panahan, kepengin juga sebetulnya bergabung, tapi waktunya masih belum pas. Lewat tugas ini jadinya malah bisa ‘kenalan’ dengan pendiri komunitas archery yang banyak pesertanya berasal dari pegawai kantor seputaran Lapangan Banteng ini. Alhamdulillah ada facebook fanpage mereka yang mudah diakses dan permintaan wawancara saya lewat inbox fb pun direspon dengan cepat. Syarat mimimal tiga narasumber terpenuhi sudah, berhasil diwawancarai via whatsapp, walaupun narasumber pelatih dari menwa (maksudnya biar sudut pandang orang luarnya lebih ‘dapet’) belum menjawab pertanyaan saya lagi. Belakangan ingat juga kalau teman latihan panahan saya, dr. Ian, mungkin bisa dimintai pandangan dari segi kesehatan, dan alhamdulillah dapat juga pernyataannya. Lagi, tulisan ini juga membuahkan reward cokelat dari pengajar, kali ini untuk sekelompok (cuma satu, sih, hehehe).

Komunitas Archery Lapangan Banteng, Membidik Target Sehat Jiwa Raga

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – Anak panah melesat cepat dari busurnya, kemudian menancap di papan sasaran. Secara berkala, sejumlah orang mengecek letak tertancapnya anak panah dan menghitung skor.

Suasana latihan (foto: facebook)

Pemandangan seperti ini acapkali terlihat di lapangan rumput di halaman depan Gedung Jusuf Anwar (atau lebih dikenal dengan nama Gedung eks-MA), kompleks perkantoran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Lapangan Banteng, pada jam krida setiap Jumat pagi. Ya, di sinilah Komunitas Archery Lapangan Banteng mengadakan latihan rutin.

Komunitas para peminat panahan yang berkantor di daerah Lapangan Banteng dan sekitarnya ini berawal dari kebetulan. Sekitar bulan Mei 2016, Dony Febriyanto (30), pelaksana pada Biro Perencanaan dan Keuangan, Sekretariat Jenderal Kemenkeu biasa berlatih panahan di halaman Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek) pada hari Sabtu dan Minggu.
Di sana ia bertemu dengan Epri Eko Nuryanto, pegawai Pusintek yang ternyata sama-sama menyukai panahan. Hanya saja model yang digunakan berbeda. Dony menggunakan standard bow, sedangkan Epri memakai model tradisional (horse bow).

“Kemudian kami berdua bersepakat untuk latihan panahan bareng di Jumat pagi, saat jam krida,” kata Dony saat dihubungi (1/8). Jam krida yang dimaksud adalah pukul 06.00 sampai 08.00 setiap hari Jumat, waktu yang dialokasikan secara khusus oleh Kementerian Keuangan untuk pegawai berolahraga.

Continue reading

Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Masih dari Diklat Jurnalistik minngu lalu, tulisan yang ini adalah hasil editan saya dari soft news tulisan teman sekelompok. Alhamdulillah dapat hadiah cokelat lagi dari pengajar untuk tugas penyuntingan ini, hehehe. Jadi kami diminta saling mewawancarai, lalu menyusun tulisan berdasarkan hasil wawancara, dan ditukar silang lagi dengan pasangan lain sekelompok untuk belajar penyuntingan. Ada beberapa hal yang saya rombak dari tulisan asli mas A yang awalnya bertugas mewawancarai mba L, khususnya bagian awal, judul, dan urutan alur cerita. Sejumlah rincian saya tambahkan dari obrolan kami berdua. Atas permintaan mba L, teman sekelompok juga, nama beliau saya samarkan :).

Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – L (41) mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan. “Pedas banget,” katanya. “Dulu padahal saya penyuka pedas, lho. Tapi banyak yang  berubah belakangan ini,” sambungnya.

Pegawai Kementerian Keuangan ini memang mengalami perubahan besar dalam hidupnya setahun belakangan. Tepatnya sejak ia didiagnosis menderita kanker nasofaring pertengahan tahun 2016.

Awalnya, L hanya merasakan telinganya berdengung. Namun, seiring waktu berlalu, ia mulai merasakan migrain yang berlangsung lama.

“Pada bulan Ramadhan tahun 2016, saya merasakan telinga saya tidak enak, bergema. Saya kira terkena air, maka saya tunggu sampai seminggu. Kok, enggak hilang juga. Saya ke (dokter spesialis) THT di RS Hermina Depok. Dokter saat itu bilang, “Telinga Ibu bersih, bagus. Cuma pilek yang enggak keluar.””

“Saya kekeuh bilang, “Tapi, saya enggak pilek, Dok.” “Iya, tapi itu pilek, enggak keluar aja. Terapi ya, Bu.”” L mengulangi penjelasan dokter spesialis THT kepadanya.

Continue reading

Cinta Mela untuk Kopi, Menepis Mitos Ketergantungan

Minggu lalu, selama lima hari saya mengikuti Diklat Jurnalistik di BPPK Purnawarman. Banyak cerita seru sebenarnya di situ, tapi sementara diunggah tugas-tugasnya dulu saja, ya. Ini tulisan saya untuk tugas soft news, dan karena dianggap bagus maka dapat buku dari pengajar plus cokelat :).

Cinta Mela untuk Kopi, Menepis Mitos Ketergantungan

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – Bagi sejumlah orang, meminum secangkir kopi di pagi hari merupakan salah satu ritual yang tak boleh dilewatkan. Kafein dalam kopi memang terbukti menjadi penyemangat sebelum memulai aktivitas. Namun, berbeda dengan Meladia S.W. Issak. Pegawai Balai Diklat Keuangan Balikpapan ini adalah seorang pecinta kopi yang tidak menjadikannya bagian dari rutinitas harian.

Bagi perempuan yang akrab disapa Mela ini, menikmati kopi seutuhnya berarti juga menikmati proses penyeduhannya. Saat ditemui di Jakarta kemarin siang, Mela menuturkan bahwa penyeduhan kopi bisa dilakukan dengan beragam metode. Hasilnya tentu juga akan bervariasi, ditambah lagi dengan keragaman biji kopi yang dipakai dan bahan tambahan seperti susu jika diinginkan.

“Enggak, enggak harus setiap hari, kok,” tukas Mela menimpali tentang kebiasaan minum kopinya.

Tidak seperti kebanyakan penyuka kopi yang bisa dibilang ‘kecanduan’ dan merasa ada yang kurang jika tidak minum kopi, Mela justru tidak mewajibkan asupan kopi sebagai bagian dari jadwal sehari-hari.

Penyebabnya, minum kopi bagi Mela identik dengan serangkaian proses yang cukup panjang. Mulai dari menyiapkan biji yang dikehendaki, menakar bahan tambahan, menggiling biji kopi, sampai menyeduh dengan alat yang sesuai.

Continue reading

Generation Gap di Kantor, Generasi Y Yang Terjepit

Tantangan dari sebuah komunitas di Instagram (padahal cuma tahu selintasan sih, boro-boro terlibat secara aktif di situ) beberapa bulan yang lalu membuat saya bersemangat untuk menuliskan suatu cerita singkat. Kebetulan, momennya pas sekali dengan syarat yang diminta, tulisan yang terinspirasi oleh lagu. Saat itu saya sedang suka dengan sebuah lagu dan setelah mencari tahu tentang penjelasan lebih lanjut mengenai lagu itu jadi tertarik menggali lebih dalam, lalu menuliskannya. Hasilnya sih nggak dalam-dalam amat, tapi lumayanlah dapat hadiah buku sebagai salah satu tulisan terbaik bulan itu.

Sebagai bahan untuk tulisan tadi, yang hasilnya bisa dibaca di sini, https://semestaliterasicom.wordpress.com/2017/04/04/bersenang-senang-di-paris-dengan-generasi-z/, saya jadi membaca ulang mengenai pembagian generasi yang diberi nama dengan huruf-huruf dari rangkaian alfabet. Di masa ABG saya, saya cukup akrab dengan istilah generasi X, yang bahkan sempat dijadikan judul serial remaja waktu itu. Generasi X, yang biasanya dideskripsikan sebagai generasi kelahiran tahun 1970-an awal sampai 1980, juga kerap dijuluki generasi MTV. MTV atau saluran televisi Music Television seolah jadi panduan gaya hidup di masa itu. Saya sendiri masuk ke generasi setelah generasi Y, karena lahir pada pertengahan dekade ’80-an. Generasi Y sering juga disebut sebagai generasi milenial (millennialls), karena umumnya menyaksikan pergantian milenium di masa ABG atau remaja. Setelahnya menyusul generasi Z, dan konon akan berlanjut lagi ke generasi Alpha.

Continue reading

I Ketut Widiadnyana dan Upaya Pelestarian Songket Jembrana Demi Generasi Mendatang

Kecintaan I Ketut Widiadnyana (42) terhadap songket Jembrana berawal dari kepeduliannya terhadap warisan budaya tradisional tersebut. “Saya masih bisa melihat tenun songket Jembrana sekarang, tetapi bagaimana dengan generasi mendatang? Ada yang memperkirakan bahwa sekitar 20 tahun ke depan songket akan punah, dan memang sudah ada songket daerah lain yang punah, tetapi saya yakin songket Jembrana tidak akan punah dan saya akan terus semangat untuk mengembangkannya,” kata suami dari dr. Luh Wayan Sriadi ini.

Sektor pariwisata daerah Jembrana di mata Ketut kurang hidup dibandingkan dengan daerah lain di Bali, jadi pengembangan songket diproyeksikan dapat ikut menggerakkan perekonomian rakyat di sana. Tenaga kerja pun banyak tersedia, walaupun diakui oleh Ketut sulit mencari generasi muda yang mau menenun. Salah satu alasannya, menenun itu rumit dan perlu kekuatan tangan. “Jadi saya rancang alat untuk membuat songket tanpa sambungan. Biasanya kan songket tradisional 50 meter disambung dengan 50 meter. Dengan menggunakan alat ini kain songket bisa dibuat lebih lebar tanpa sambungan, tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya. Pekerjaan pun menjadi lebih ringan sampai anak kelas 3 SD juga bisa belajar menenun dengan alat tersebut. Alat tenun seperti ini adalah yang pertama untuk di Bali, kalau di Palembang sudah ada beberapa,” ungkap Ketut. Dengan alat baru yang memudahkan dan potensi pemasukan yang lumayan, Ketut berharap agar makin banyak yang tertarik menjadi penenun.


“Impian saya, orang mau bekerja sebagai penenun. Ini kan warisan budaya kita. Kalau hanya berorientasi bisnis, beli saja alat tenun jacquard, selesai. Tapi saya ingin memberdayakan warga juga. Di Jembrana ada 10 kelompok, kelompok saya yaitu Kelompok Tenun Putri Mas terdiri atas sekitar 60 orang yang masing-masing bertugas pada 6 unit yaitu pengembangan motif, penenun, pencelupan alam, pemasaran, perancangan busana, dan simpan pinjam. Penenun banyak yang ibu rumah tangga, ada misi pemberdayaan perempuan di sini,” tutur Ketut. Pekerjaan beratnya, Ketut menggarisbawahi, adalah menanamkan konsep bahwa menenun adalah pekerjaan yang mulia karena membantu melestarikan budaya, juga sekaligus mengasyikkan.

Disebutkan oleh Ketut, songket Jembrana mempunyai tiga segmen pasar. Yang pertama adalah kolektor tenun yang sudah tidak mempermasalahkan soal harga. Kedua ialah para pemakai tenun, mengingat di Bali masih memegang adat istiadat termasuk banyak upacara adat yang tentunya memunculkan kebutuhan akan tenun. Ketiga, pasar fashion. Sejauh ini produk fashion Kelompok Putri Mas masih dalam bentuk standar seperti blazer, semi jas, alas kaki wedges, dompet, clutch bag, dan tas. Ke depannya, lelaki kelahiran 4 Agustus ini ingin bekerja sama dengan desainer yang lebih profesional, agar penggunaan songket Jembrana juga makin luas.

Songket Jembrana masih mempertahankan motif yang sama sejak zaman kerajaan dulu, yaitu banyak menampilkan unsur alam seperti bunga dan hewan dengan dasar folklore. Ini berbeda dengan songket lain misalnya yang berasal dari Karangasem atau Klungkung. Motif songket Jembrana cenderung statis dan tidak rumit sehingga memudahkan untuk dimanfaatkan dari segi fashion, tidak seperti motif rumit yang acapkali menyulitkan saat pemotongan kain untuk pola.

Ketut sadar bahwa untuk bisa ‘dilihat’ harus selalu ada terobosan baru. “Saya punya inovasi yang sudah didaftarkan HAKI-nya yaitu songket dipadukan dengan batik tulis kemudian dicelup malam. Selanjutnya kami juga akan lebih banyak memakai pewarna alami, contohnya dari bahan kunyit, akar mengkudu, daun mangga dan tanaman-tanaman lain yang masih banyak ditemukan di daerah Jembrana. Pewarnaan alami ini juga sekaligus memicu kreativitas, bahan apa yang ada itulah yang dikreasikan untuk desain. Harga jualnya pun lebih tinggi,” terangnya.

Bisnis songket yang ditekuni oleh Ketut bukanlah bisnis warisan orangtua, sehingga tantangan yang dihadapi menurutnya juga lebih banyak. “Saya kontraktor, istri saya dokter, kalau mau mengejar uang daripada susah-susah lebih baik fokus ke profesi masing-masing,” tegas Ketut. Lokasi tempat tinggal yang juga menjadi tempat produksi songket Ketut berada 120 km dari Denpasar, cukup jauh dari pusat kota. “Oleh karenanya kami memanfaatkan teknologi seperti online shop. Workshop juga sedang disiapkan sehingga orang yang datang berbelanja langsung bisa sekaligus melihat prosesnya,” urainya.

Permasalahan berikutnya yang diceritakan oleh Ketut, kalau batik punya kategori batik print, batik cap, batik celup, batik tulis, songket pun sebetulnya ada jenis songket handmade, songket print, dan songket sablon. “Sebetulnya bukan bermaksud menutup rezeki orang lain. Malah menjadi tantangan tersendiri untuk berinovasi, apalagi orang Indonesia fashionable, hp belum rusak sudah beli lagi sehingga perputaran barang juga cepat. Hanya saja, songket yang asal katanya adalah nyungkit (mengait-red) itu kan kekayaan tradisional, jangan disamakan dengan tenun mesin yang pemberdayaan masyarakatnya kurang. Tradisional melawan mesin, jelas tidak bisa disamakan. Tenun tradisional dengan pembuatan manual lebih memakan waktu dan memiliki variasi kesulitan dengan ritme pengerjaan yang berbeda-beda tergantung orangnya. Maksimal per hari hanya 3-7cm songket manual yang dihasilkan, sedangkan dengan mesin bisa bermeter-meter,” Ketut menjelaskan perbandingannya. Kategorisasi produk di online marketplace juga menurutnya perlu dibenahi karena tidak edukatif untuk masyarakat, cenderung menyamaratakan songket tradisional dengan songket buatan mesin. Tantangan lainnya yang sudah mulai teratasi adalah material benang yang masih harus diimpor, misalnya dari India dan Cina.

Ketut punya impian agar songket menjadi Warisan Dunia sebagaimana batik. “Saya ingin melestarikan warisan budaya tradisional dan bukan hanya berhenti di slogan. Terkait cita-cita agar songket menjadi Warisan Dunia yang diakui PBB, seharusnya memang menjadi pekerjaan bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. Dan sebagai orang daerah, yang bisa saya lakukan adalah mengumpulkan data, menemui pejabat terkait untuk meminta dukungan, maupun terus mengedukasi masyarakat mengenai keberadaan dan jenis-jenis songket. Apakah nanti upaya saya disetujui atau tidak, hasilnya nanti seperti apa, yang penting saya sudah berbuat sesuatu. Semoga selain bisa melestarikan warisan budaya, songket juga bisa menggerakkan perekonomian rakyat,” pungkas Ketut.

 

(aslinya ditulis untuk media kantor tetapi yang dimuat adalah versi pendek untuk efektivitas halaman)