Komunitas Archery Lapangan Banteng, Membidik Target Sehat Jiwa Raga

Kalau yang ini tugas kelompok untuk menulis feature. Karena pada sesi sebelumnya ada yang melontarkan usul komunitas panahan, saya berpikir ide yang ini bisa dieksekusi. Saya memang tidak tergabung dalam komunitas tersebut, tetapi saya sering melihat latihannya di hari-hari tertentu ketika berangkat atau pulang kantor. Mengingat saya juga pernah mencoba panahan, kepengin juga sebetulnya bergabung, tapi waktunya masih belum pas. Lewat tugas ini jadinya malah bisa ‘kenalan’ dengan pendiri komunitas archery yang banyak pesertanya berasal dari pegawai kantor seputaran Lapangan Banteng ini. Alhamdulillah ada facebook fanpage mereka yang mudah diakses dan permintaan wawancara saya lewat inbox fb pun direspon dengan cepat. Syarat mimimal tiga narasumber terpenuhi sudah, berhasil diwawancarai via whatsapp, walaupun narasumber pelatih dari menwa (maksudnya biar sudut pandang orang luarnya lebih ‘dapet’) belum menjawab pertanyaan saya lagi. Belakangan ingat juga kalau teman latihan panahan saya, dr. Ian, mungkin bisa dimintai pandangan dari segi kesehatan, dan alhamdulillah dapat juga pernyataannya. Lagi, tulisan ini juga membuahkan reward cokelat dari pengajar, kali ini untuk sekelompok (cuma satu, sih, hehehe).

Komunitas Archery Lapangan Banteng, Membidik Target Sehat Jiwa Raga

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – Anak panah melesat cepat dari busurnya, kemudian menancap di papan sasaran. Secara berkala, sejumlah orang mengecek letak tertancapnya anak panah dan menghitung skor.

Suasana latihan (foto: facebook)

Pemandangan seperti ini acapkali terlihat di lapangan rumput di halaman depan Gedung Jusuf Anwar (atau lebih dikenal dengan nama Gedung eks-MA), kompleks perkantoran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Lapangan Banteng, pada jam krida setiap Jumat pagi. Ya, di sinilah Komunitas Archery Lapangan Banteng mengadakan latihan rutin.

Komunitas para peminat panahan yang berkantor di daerah Lapangan Banteng dan sekitarnya ini berawal dari kebetulan. Sekitar bulan Mei 2016, Dony Febriyanto (30), pelaksana pada Biro Perencanaan dan Keuangan, Sekretariat Jenderal Kemenkeu biasa berlatih panahan di halaman Pusat Sistem Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek) pada hari Sabtu dan Minggu.
Di sana ia bertemu dengan Epri Eko Nuryanto, pegawai Pusintek yang ternyata sama-sama menyukai panahan. Hanya saja model yang digunakan berbeda. Dony menggunakan standard bow, sedangkan Epri memakai model tradisional (horse bow).

“Kemudian kami berdua bersepakat untuk latihan panahan bareng di Jumat pagi, saat jam krida,” kata Dony saat dihubungi (1/8). Jam krida yang dimaksud adalah pukul 06.00 sampai 08.00 setiap hari Jumat, waktu yang dialokasikan secara khusus oleh Kementerian Keuangan untuk pegawai berolahraga.

Continue reading

Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Masih dari Diklat Jurnalistik minngu lalu, tulisan yang ini adalah hasil editan saya dari soft news tulisan teman sekelompok. Alhamdulillah dapat hadiah cokelat lagi dari pengajar untuk tugas penyuntingan ini, hehehe. Jadi kami diminta saling mewawancarai, lalu menyusun tulisan berdasarkan hasil wawancara, dan ditukar silang lagi dengan pasangan lain sekelompok untuk belajar penyuntingan. Ada beberapa hal yang saya rombak dari tulisan asli mas A yang awalnya bertugas mewawancarai mba L, khususnya bagian awal, judul, dan urutan alur cerita. Sejumlah rincian saya tambahkan dari obrolan kami berdua. Atas permintaan mba L, teman sekelompok juga, nama beliau saya samarkan :).

Tegar Hadapi Kanker, L Terbantu Doa Keluarga

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – L (41) mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan. “Pedas banget,” katanya. “Dulu padahal saya penyuka pedas, lho. Tapi banyak yang  berubah belakangan ini,” sambungnya.

Pegawai Kementerian Keuangan ini memang mengalami perubahan besar dalam hidupnya setahun belakangan. Tepatnya sejak ia didiagnosis menderita kanker nasofaring pertengahan tahun 2016.

Awalnya, L hanya merasakan telinganya berdengung. Namun, seiring waktu berlalu, ia mulai merasakan migrain yang berlangsung lama.

“Pada bulan Ramadhan tahun 2016, saya merasakan telinga saya tidak enak, bergema. Saya kira terkena air, maka saya tunggu sampai seminggu. Kok, enggak hilang juga. Saya ke (dokter spesialis) THT di RS Hermina Depok. Dokter saat itu bilang, “Telinga Ibu bersih, bagus. Cuma pilek yang enggak keluar.””

“Saya kekeuh bilang, “Tapi, saya enggak pilek, Dok.” “Iya, tapi itu pilek, enggak keluar aja. Terapi ya, Bu.”” L mengulangi penjelasan dokter spesialis THT kepadanya.

Continue reading

Cinta Mela untuk Kopi, Menepis Mitos Ketergantungan

Minggu lalu, selama lima hari saya mengikuti Diklat Jurnalistik di BPPK Purnawarman. Banyak cerita seru sebenarnya di situ, tapi sementara diunggah tugas-tugasnya dulu saja, ya. Ini tulisan saya untuk tugas soft news, dan karena dianggap bagus maka dapat buku dari pengajar plus cokelat :).

Cinta Mela untuk Kopi, Menepis Mitos Ketergantungan

Jakarta, 2/8 (Dikjur III) – Bagi sejumlah orang, meminum secangkir kopi di pagi hari merupakan salah satu ritual yang tak boleh dilewatkan. Kafein dalam kopi memang terbukti menjadi penyemangat sebelum memulai aktivitas. Namun, berbeda dengan Meladia S.W. Issak. Pegawai Balai Diklat Keuangan Balikpapan ini adalah seorang pecinta kopi yang tidak menjadikannya bagian dari rutinitas harian.

Bagi perempuan yang akrab disapa Mela ini, menikmati kopi seutuhnya berarti juga menikmati proses penyeduhannya. Saat ditemui di Jakarta kemarin siang, Mela menuturkan bahwa penyeduhan kopi bisa dilakukan dengan beragam metode. Hasilnya tentu juga akan bervariasi, ditambah lagi dengan keragaman biji kopi yang dipakai dan bahan tambahan seperti susu jika diinginkan.

“Enggak, enggak harus setiap hari, kok,” tukas Mela menimpali tentang kebiasaan minum kopinya.

Tidak seperti kebanyakan penyuka kopi yang bisa dibilang ‘kecanduan’ dan merasa ada yang kurang jika tidak minum kopi, Mela justru tidak mewajibkan asupan kopi sebagai bagian dari jadwal sehari-hari.

Penyebabnya, minum kopi bagi Mela identik dengan serangkaian proses yang cukup panjang. Mulai dari menyiapkan biji yang dikehendaki, menakar bahan tambahan, menggiling biji kopi, sampai menyeduh dengan alat yang sesuai.

Continue reading

Generation Gap di Kantor, Generasi Y Yang Terjepit

Tantangan dari sebuah komunitas di Instagram (padahal cuma tahu selintasan sih, boro-boro terlibat secara aktif di situ) beberapa bulan yang lalu membuat saya bersemangat untuk menuliskan suatu cerita singkat. Kebetulan, momennya pas sekali dengan syarat yang diminta, tulisan yang terinspirasi oleh lagu. Saat itu saya sedang suka dengan sebuah lagu dan setelah mencari tahu tentang penjelasan lebih lanjut mengenai lagu itu jadi tertarik menggali lebih dalam, lalu menuliskannya. Hasilnya sih nggak dalam-dalam amat, tapi lumayanlah dapat hadiah buku sebagai salah satu tulisan terbaik bulan itu.

Sebagai bahan untuk tulisan tadi, yang hasilnya bisa dibaca di sini, https://semestaliterasicom.wordpress.com/2017/04/04/bersenang-senang-di-paris-dengan-generasi-z/, saya jadi membaca ulang mengenai pembagian generasi yang diberi nama dengan huruf-huruf dari rangkaian alfabet. Di masa ABG saya, saya cukup akrab dengan istilah generasi X, yang bahkan sempat dijadikan judul serial remaja waktu itu. Generasi X, yang biasanya dideskripsikan sebagai generasi kelahiran tahun 1970-an awal sampai 1980, juga kerap dijuluki generasi MTV. MTV atau saluran televisi Music Television seolah jadi panduan gaya hidup di masa itu. Saya sendiri masuk ke generasi setelah generasi Y, karena lahir pada pertengahan dekade ’80-an. Generasi Y sering juga disebut sebagai generasi milenial (millennialls), karena umumnya menyaksikan pergantian milenium di masa ABG atau remaja. Setelahnya menyusul generasi Z, dan konon akan berlanjut lagi ke generasi Alpha.

Continue reading

I Ketut Widiadnyana dan Upaya Pelestarian Songket Jembrana Demi Generasi Mendatang

Kecintaan I Ketut Widiadnyana (42) terhadap songket Jembrana berawal dari kepeduliannya terhadap warisan budaya tradisional tersebut. “Saya masih bisa melihat tenun songket Jembrana sekarang, tetapi bagaimana dengan generasi mendatang? Ada yang memperkirakan bahwa sekitar 20 tahun ke depan songket akan punah, dan memang sudah ada songket daerah lain yang punah, tetapi saya yakin songket Jembrana tidak akan punah dan saya akan terus semangat untuk mengembangkannya,” kata suami dari dr. Luh Wayan Sriadi ini.

Sektor pariwisata daerah Jembrana di mata Ketut kurang hidup dibandingkan dengan daerah lain di Bali, jadi pengembangan songket diproyeksikan dapat ikut menggerakkan perekonomian rakyat di sana. Tenaga kerja pun banyak tersedia, walaupun diakui oleh Ketut sulit mencari generasi muda yang mau menenun. Salah satu alasannya, menenun itu rumit dan perlu kekuatan tangan. “Jadi saya rancang alat untuk membuat songket tanpa sambungan. Biasanya kan songket tradisional 50 meter disambung dengan 50 meter. Dengan menggunakan alat ini kain songket bisa dibuat lebih lebar tanpa sambungan, tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya. Pekerjaan pun menjadi lebih ringan sampai anak kelas 3 SD juga bisa belajar menenun dengan alat tersebut. Alat tenun seperti ini adalah yang pertama untuk di Bali, kalau di Palembang sudah ada beberapa,” ungkap Ketut. Dengan alat baru yang memudahkan dan potensi pemasukan yang lumayan, Ketut berharap agar makin banyak yang tertarik menjadi penenun.


“Impian saya, orang mau bekerja sebagai penenun. Ini kan warisan budaya kita. Kalau hanya berorientasi bisnis, beli saja alat tenun jacquard, selesai. Tapi saya ingin memberdayakan warga juga. Di Jembrana ada 10 kelompok, kelompok saya yaitu Kelompok Tenun Putri Mas terdiri atas sekitar 60 orang yang masing-masing bertugas pada 6 unit yaitu pengembangan motif, penenun, pencelupan alam, pemasaran, perancangan busana, dan simpan pinjam. Penenun banyak yang ibu rumah tangga, ada misi pemberdayaan perempuan di sini,” tutur Ketut. Pekerjaan beratnya, Ketut menggarisbawahi, adalah menanamkan konsep bahwa menenun adalah pekerjaan yang mulia karena membantu melestarikan budaya, juga sekaligus mengasyikkan.

Disebutkan oleh Ketut, songket Jembrana mempunyai tiga segmen pasar. Yang pertama adalah kolektor tenun yang sudah tidak mempermasalahkan soal harga. Kedua ialah para pemakai tenun, mengingat di Bali masih memegang adat istiadat termasuk banyak upacara adat yang tentunya memunculkan kebutuhan akan tenun. Ketiga, pasar fashion. Sejauh ini produk fashion Kelompok Putri Mas masih dalam bentuk standar seperti blazer, semi jas, alas kaki wedges, dompet, clutch bag, dan tas. Ke depannya, lelaki kelahiran 4 Agustus ini ingin bekerja sama dengan desainer yang lebih profesional, agar penggunaan songket Jembrana juga makin luas.

Songket Jembrana masih mempertahankan motif yang sama sejak zaman kerajaan dulu, yaitu banyak menampilkan unsur alam seperti bunga dan hewan dengan dasar folklore. Ini berbeda dengan songket lain misalnya yang berasal dari Karangasem atau Klungkung. Motif songket Jembrana cenderung statis dan tidak rumit sehingga memudahkan untuk dimanfaatkan dari segi fashion, tidak seperti motif rumit yang acapkali menyulitkan saat pemotongan kain untuk pola.

Ketut sadar bahwa untuk bisa ‘dilihat’ harus selalu ada terobosan baru. “Saya punya inovasi yang sudah didaftarkan HAKI-nya yaitu songket dipadukan dengan batik tulis kemudian dicelup malam. Selanjutnya kami juga akan lebih banyak memakai pewarna alami, contohnya dari bahan kunyit, akar mengkudu, daun mangga dan tanaman-tanaman lain yang masih banyak ditemukan di daerah Jembrana. Pewarnaan alami ini juga sekaligus memicu kreativitas, bahan apa yang ada itulah yang dikreasikan untuk desain. Harga jualnya pun lebih tinggi,” terangnya.

Bisnis songket yang ditekuni oleh Ketut bukanlah bisnis warisan orangtua, sehingga tantangan yang dihadapi menurutnya juga lebih banyak. “Saya kontraktor, istri saya dokter, kalau mau mengejar uang daripada susah-susah lebih baik fokus ke profesi masing-masing,” tegas Ketut. Lokasi tempat tinggal yang juga menjadi tempat produksi songket Ketut berada 120 km dari Denpasar, cukup jauh dari pusat kota. “Oleh karenanya kami memanfaatkan teknologi seperti online shop. Workshop juga sedang disiapkan sehingga orang yang datang berbelanja langsung bisa sekaligus melihat prosesnya,” urainya.

Permasalahan berikutnya yang diceritakan oleh Ketut, kalau batik punya kategori batik print, batik cap, batik celup, batik tulis, songket pun sebetulnya ada jenis songket handmade, songket print, dan songket sablon. “Sebetulnya bukan bermaksud menutup rezeki orang lain. Malah menjadi tantangan tersendiri untuk berinovasi, apalagi orang Indonesia fashionable, hp belum rusak sudah beli lagi sehingga perputaran barang juga cepat. Hanya saja, songket yang asal katanya adalah nyungkit (mengait-red) itu kan kekayaan tradisional, jangan disamakan dengan tenun mesin yang pemberdayaan masyarakatnya kurang. Tradisional melawan mesin, jelas tidak bisa disamakan. Tenun tradisional dengan pembuatan manual lebih memakan waktu dan memiliki variasi kesulitan dengan ritme pengerjaan yang berbeda-beda tergantung orangnya. Maksimal per hari hanya 3-7cm songket manual yang dihasilkan, sedangkan dengan mesin bisa bermeter-meter,” Ketut menjelaskan perbandingannya. Kategorisasi produk di online marketplace juga menurutnya perlu dibenahi karena tidak edukatif untuk masyarakat, cenderung menyamaratakan songket tradisional dengan songket buatan mesin. Tantangan lainnya yang sudah mulai teratasi adalah material benang yang masih harus diimpor, misalnya dari India dan Cina.

Ketut punya impian agar songket menjadi Warisan Dunia sebagaimana batik. “Saya ingin melestarikan warisan budaya tradisional dan bukan hanya berhenti di slogan. Terkait cita-cita agar songket menjadi Warisan Dunia yang diakui PBB, seharusnya memang menjadi pekerjaan bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. Dan sebagai orang daerah, yang bisa saya lakukan adalah mengumpulkan data, menemui pejabat terkait untuk meminta dukungan, maupun terus mengedukasi masyarakat mengenai keberadaan dan jenis-jenis songket. Apakah nanti upaya saya disetujui atau tidak, hasilnya nanti seperti apa, yang penting saya sudah berbuat sesuatu. Semoga selain bisa melestarikan warisan budaya, songket juga bisa menggerakkan perekonomian rakyat,” pungkas Ketut.

 

(aslinya ditulis untuk media kantor tetapi yang dimuat adalah versi pendek untuk efektivitas halaman)

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Annida-No-2-XVIII-Okt-08

Tulisan saya yang (dengan beberapa perubahan) dimuat di majalah Annida edisi Oktober 2008. Tentu Belitung sudah banyak berubah ya sejak itu, terlebih setelah suksesnya film Laskar Pelangi (saat saya di sana, filmya sedang dalam proses awal syuting). Tetap lumayan buat kenang-kenangan, apalagi belakangan majalah tersebut tidak rutin terbit lagi edisi cetaknya.

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Barangkali, dulu kita hanya mengenal Belitung sebagai salah satu penghasil timah utama di negeri ini. Meledaknya novel karya Andrea Hirata membuat pulau tersebut kemudian dikenal juga dengan julukan lain: Bumi Laskar Pelangi. Penggambaran Andrea tentang masa kecilnya dalam tetralogi (baru tiga yang diterbitkan hingga tulisan ini dibuat) tersebut memang merebut hati banyak orang. Kini Belitung telah jauh berkembang dibandingkan saat Ikal (nama julukan Andrea) dan kawan-kawannya mengecap pendidikan di sebuah SD sederhana. Kepulauan Bangka Belitung sudah menjadi provinsi terpisah dari Sumatra Selatan. Pulau Belitung juga telah terbagi menjadi dua kabupaten yaitu Belitung (atau Belitung Induk, dengan bandara yang terletak di Kecamatan Tanjung Pandan) dan Belitung Timur (di mana terdapat Kecamatan Gantung yang menjadi latar cerita Laskar Pelangi). Tak heran para sineas yang berencana melayarlebarkan novel itu harus berusaha keras menciptakan suasana sekian tahun lampau demi kemiripan tampilan.

Masa kejayaan timah di Bangka Belitung juga bisa dibilang sudah sedikit memudar. Padahal, ingat kan, pekerja PN Timah apalagi para petingginya sempat menjadi kalangan elit dengan fasilitas melimpah. Setelah dieksploitasi sejak abad ke-18, penambangnya kini lebih banyak masyarakat umum yang kerap disebut sebagai penambang timah inkonvensional (TI). Kendati tak menghasilkan sebanyak dulu, pemasukan satu tim penambang masih cukup menarik minat daripada bekerja kantoran. Kru film Laskar Pelangi sampai kebingungan karena tak banyak yang mau jadi figuran, mending cari timah katanya. Praktik ini sebenarnya cenderung ilegal, karena seringkali mengabaikan dampak lingkungan. Kalau teman-teman melintasi langit Bangka Belitung, akan tampak bahwa pulau-pulaunya ‘bopeng’ di sana-sini. Lubang-lubang itulah bekas situs penambangan atau kolong yang ditinggalkan begitu saja, yang bentuknya jadi mirip danau kecil dengan air berwarna kebiruan. Indah, dong? Sama sekali tidak, karena warna itu adalah efek samping dari mekanisme penjagaan suhu situs selama proses penambangan. Efek samping lainnya sudah pasti erosi dan bisa juga pencemaran sumber air bersih.
Kalau mau yang indah-indah, lebih baik menjelajahi pantainya. Sebagian orang mengatakan bahwa kata Belitung atau Belitong dalam dialek aslinya merupakan singkatan dari ‘Bali dipotong’. Namun, wisatawan pengunjung Belitung tampaknya memang belum sebanyak pelancong di Bali. Padahal letak yang tidak jauh dari Jakarta (tak sampai sejam perjalanan udara) dan kealamiannya menjadi nilai lebih. Sebut saja Pantai Tanjung Tinggi yang berpasir putih nan lembut dan bertaburkan bebatuan granit raksasa. Di awal kunjungan, jangan kaget kalau kamu mendadak ‘insyaf’ (sementara, hehehe) dari kenarsisan. Yang ada, kamu akan bertasbih berulang kali sambil berusaha merekamnya dalam ingatan. Beberapa belas menit kemudian, baru deh heboh mengabadikan diri sebagai bukti pernah datang ke sini.

Pantai-pantai lain seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Binga, Penyaeran, Tanjung Kiras, Teluk Gembira, sampai Batu Berlubang juga dihiasi batu-batu sebesar rumah yang membentuk formasi menarik. Salah satu yang paling terkenal adalah tumpukan batu di Pulau Burung (bisa ditebak, kan, bentuknya memang mirip paruh burung) Konon, bebatuan ini adalah pecahan meteor yang jatuh ke bumi.
Pecahan meteorit lain yang juga menjadi ciri khas Belitung adalah batu satam atau billitonite. Batu berwarna hitam mengilap ini tergolong langka, hanya ada di beberapa tempat di dunia dan diberi nama sesuai tempat ditemukannya. Biasanya ditemukan secara tak sengaja ketika sedang menambang timah, dan mengapa di pulau lain di Indonesia yang juga penghasil timah batu ini jarang sekali kelihatan masih menjadi misteri. Ada yang percaya batu satam mengandung kekuatan magis (duh, jatuhnya syirik nggak ya?), misalnya memberikan wibawa atau mengurangi rasa sakit saat melahirkan. Baik diasah sampai licin atau dibiarkan dalam bentuk aslinya yang dipenuhi cekungan dan alur halus, batu ini bernilai tinggi. Coba saja ketik billitonite di mesin pencari internet, akan muncul banyak penawaran perhiasan batu satam bahkan yang berharga selangit di pasaran internasional. Tapi kalau beli di Belitung langsung, masih cukup terjangkau kantong kita-kita, kok.

Jangan hanya puas dengan menikmati pemandangan. Air pantai yang berombak kecil dan landainya pantai mengundang kita untuk menceburkan diri. Kamu yang suka menyelam juga bisa melihat-lihat cantiknya panorama bawah laut. Tentunya tetap lihat-lihat situasi ya, sebab pada bulan-bulan tertentu ombak cukup besar atau sedang banyak ubur-ubur berkeliaran. Kalau ada waktu dan laut sedang bersahabat, kita bisa menyeberang ke pulau-pulau kecil tak jauh dari pantai. Pulau Lengkuas dekat Tanjung Kelayang dengan mercusuarnya yang berdiri sejak tahun 1882 dan masih berfungsi sampai sekarang adalah pilihan tepat.

‘Bosan’ dengan pantai? Ada Gunung Tajam, gunung tertinggi di Belitung yang dihiasi air terjun nan jernih. Awas, kadang ada monyet nakal di sini. Bisa juga main-main ke Kampung Bali, tempat berkumpulnya pendatang dari Pulau Dewata yang dari segi arsitektur dan budaya bikin serasa di Bali betulan. Suasana resort bisa didapatkan di Bukit Berahu. Ada pula dua museum buat yang tertarik pada sejarah. Pertama museum di tengah kota yang dulunya adalah museum geologi rintisan peneliti Belanda yang sekarang dilengkapi juga dengan kebun binatang di halaman belakang. Koleksi hewannya memang terbatas, tapi buaya terbesar di sini sudah jadi bintang film karena tempo hari dipinjam untuk syuting Laskar Pelangi. Satunya lagi museum yang memajang peninggalan kerajaan Badau.
Di Belitung Timur sendiri, tempat-tempat yang diceritakan Andrea Hirata jadi sering didatangi orang. Apalagi selama Mira Lesmana, Riri Riza dkk berada di sana. Meski, bahkan SD Muhammadiyah pun sudah roboh tahun 1991 hingga harus dibuatkan replikanya untuk adegan-adegan film. Toh masih ada kelenteng tempat janjian dengan A Ling, kedai kopi Akiong, sisa-sisa bioskop di mana para cowok ABG itu menyelinap nonton film, gedung-gedung milik PT Timah, dan tentunya rumah para tokohnya. Bisa saja kita ketemu Bu Muslimah yang masih penuh semangat dalam mengajar itu atau para anggota Laskar Pelangi.

Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan beragam upacara seperti Maras Taun (pesta panen), Buang Jong (melarung perahu mini), atau Nirok Nanggok (menombak ikan). Menyesal juga dalam jangka waktu setengah tahun lebih tinggal di sana saya belum sempat melihat satu pun. Ada pula seni dan permainan asli seperti Dulmuluk (teater tradisional), betiong, begambus, dan stambul (musik), begubang dan campak (berbalas pantun), beripat beregong (adu ketangkasan dengan pemukul rotan diiringi musik tradisional), serta lesong panjang. Pengaruh budaya Cina juga cukup terasa, kemeriahan Imlek biasanya dirayakan besar-besaran lengkap dengan pertunjukan barongsai di jalan-jalan utama.

Sedangkan Pantai Tanjung Pendam mungkin ‘penampakannya’ tak semenakjubkan pantai-pantai lain, tapi posisinya di pusat kota Tanjung Pandan membuatnya nyaris selalu ramai terutama pada sore hari. Di saat seperti itu jadi agak sulit mencari tempat di tepian pantai yang sudah dilengkapi dengan banyak bangku, trotoar, aneka sarana permainan anak, kios-kios makanan, dan lapangan voli. Minimal sepekan sekali saya jalan kaki dari kos ke Tanjung Pendam, sekadar bersantai setelah sehari-hari bekerja atau ‘pacaran’ dengan suami kalau dia sedang berkunjung. Pemandangannya bisa berubah tergantung pasang-surutnya. Saat penuh, enaknya duduk mengamati gelombang lautan memantulkan bias-bias cahaya mentari menjelang terbenam ditingkahi aneka warna layar kapal di kejauhan sambil mencelupkan kaki ke air. Jika sedang surut, kita bisa berjalan-jalan hingga jauh ke tengah, walaupun belakangan peringatan akan banyaknya lubang makin gencar diserukan. Sayang, suka banyak anjing berkeliaran.

Pergi ke suatu daerah rasanya tak lengkap kalau belum mencicipi makanan khas setempat. Teman-teman bisa mulai dengan mi Belitung berteman tahu yang disiram kuah kari udang dan ditaburi kerupuk emping plus taoge. Hati-hati, karena banyak tempat makan milik etnis Tionghoa yang juga menyediakan masakan daging babi. Kepiting telur berisiko bikin ketagihan (saya pun suka dititipi kalau ada yang tahu saya akan pergi ke Jakarta atau Bangka). Jangan lupa mencoba gangan alias ‘sup ikan’ berkuah kuning asam pedas serta tumis genjer dan otak-otak. Dampingi dengan segelas es jeruk kunci, hmmm… tentu makin menyegarkan. Harga masakan di rumah-rumah makan pinggir Tanjung Tinggi dijamin bikin kamu terpukau nggak percaya. Murah meriah!
Untuk buah tangan keluarga di rumah, bawakan sambelingkung (abon ikan), dodol agar-agar, madu manis dan pahit, keripik sukun, aneka kerupuk ikan (getas dan kemplang), keritcu (keripik telur cumi), juga kue rintak (kue kering dari sagu dan gula aren). Sebotol tauco, rusip (fermentasi ikan dengan proses mirip tauco), atau terasi (bahkan ada yang berbentuk bubuk) cocok juga sebagai oleh-oleh untuk ibu di rumah. Kalau mau yang awet, perhiasan batu satam, kerajinan tangan dari timah (pewter), peci resam (dari anyaman sejenis rotan), bermacam taplak atau peci dari bahan renda, gantungan kunci, hiasan magnet kulkas, sampai cangkir bergambar pemandangan Belitung bisa jadi alternatif.

Jadi, siap begalor (bergaul, nongkrong) di Belitong?

Meningkatkan Kualitas Diri lewat Bacaan untuk #BahagiadiRumah

Ketika membaca tabloid NOVA beberapa minggu yang lalu, sebidang gambar dengan ilustrasi meriah warna-warni menarik perhatian saya. Wah, ternyata Tabloid NOVA berulang tahun yang ke-28! img_20160531_074532.jpgMasih tuaan saya dong, ya, hahaha. Tahun ini tabloid NOVA mengambil istilah NOVAVERSARY untuk ulang tahunnya.

Bertahan di dunia media cetak di tengah derasnya arus informasi digital masa kini, yang saya tahu sebagai awam, tidaklah mudah. Tabloid NOVA saya rasa merupakan salah satu contoh sukses, bukan hanya dalam menerbitkan edisi cetak, tetapi juga merangkul komunitas lewat acara-acara menarik yang digelar. Ada beragam komunitas dengan benang merah yang sama, yaitu menggerakkan perempuan untuk lebih bahagia lewat berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, berbagi/sosial, berwirausaha, menulis, dan sebagainya. screenshot_2016-05-31-07-56-27.pngBerbagai media sosial juga dioptimalkan manfaatnya untuk meningkatkan keterikatan pembaca maupun memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya. Tak hanya lewat website, tabloid NOVA juga hadir lewat edisi digital yang bisa diunduh agar lebih praktis dibaca di mana dan kapan saja.

Dulu zaman sekolah saya menganggap bahwa tabloid NOVA itu bacaan ibu-ibu, tidak terasa saya sekarang sudah menyandang status ibu-ibu muda juga. Sejak awal saya mengenal tabloid NOVA, tabloid ini saya nilai konsisten menyajikan konten informatif mulai dari masakan, mode, info dunia hiburan, kecantikan, peristiwa terkini yang dikupas tuntas, konsultasi psikologi, wawasan seputar dunia pendidikan, dan seterusnya. Bisa dibilang komplet untuk meng-update diri tiap perempuan. Peningkatan kualitas diri lewat bacaan ini tidak bisa dipandang remeh karena meski ‘hanya’ lewat teks, perempuan bisa melakukan sesuatu yang bermakna.

ss nova resepTidak percaya? Coba tengok resep-resep di dalamnya. Ada resep praktis yang mudah dipraktikkan untuk sehari-hari, ada pula resep yang menantang untuk dicoba di kesempatan istimewa. Mau mode pakaian terbaru berikut padu padan koleksi dasar, ada. Perlu tips berdandan agar tampil prima, tinggal buka juga. Butuh inspirasi penataan rumah terkini, artikel dengan foto yang jelas untuk ditiru pun tersedia. Berita terbaru untuk meningkatkan kewaspadaan, kepedulian, dan menyemangati diri juga sayang dilewatkan. Pembaca bisa bercermin dari rubrik-rubrik psikologi maupun pengembangan diri. screenshot_2016-05-31-07-54-51.pngCermat memantau kesehatan keluarga berawal dari rajin mempelajari artikel terkait dari sumber yang dapat diandalkan seperti tabloid NOVA (psst, dokumentasi yang jempolan di web tabloid NOVA membuat saya mudah menelusuri aneka bahasan kesehatan keluarga dengan rujukan yang tepercaya. Sering juga saya kirimkan link dari web tabloid NOVA ke rekan atau keluarga yang memerlukan.). Pengetahuan yang luas dapat menjadi bekal agar perempuan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mengingat perempuan punya pengaruh besar di keluarganya, kenyamanan yang dirasakan bisa berbuah kebahagiaan bagi seluruh penghuni rumah. Rumah menjadi tempat yang senantiasa dirindukan untuk pulang, bercengrama dalam kehangatannya selalu dinanti-nantikan.

Bicara tentang kebahagiaan, menurut saya #BahagiadiRumah itu sederhana sekaligus mewah, tergantung bagaimana memandangnya. Sederhana karena bisa dimulai dari hal-hal kecil, saat ini juga. Mewah karena momen-momennya…yah, priceless. Rasa syukur juga amat penting. Saya jadi teringat petuah salah satu mantan atasan di kantor, bahwa bahagia itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak perlu menunggu orang lain yang membuat kita bahagia. Dari sudut pandang saya selaku perempuan bekerja, tentu adakalanya kegamangan datang menyapa. Tulisan yang menyatakan nilai plus bagi anak-anak jika ibunya bekerja adalah salah satu yang jadi penyemangat. Tak hanya cukup di-doping semangat, saya juga butuh tips dan panduan seperti dimuat dalam artikel Pesan untuk Ibu Bekerja ini. Tentunya kebahagiaan bukan monopoli ibu bekerja, ibu rumah tangga juga berhak berbahagia dan bisa mewujudkannya di tengah kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Dan sekali lagi, kalau perempuan sudah bahagia, akan lebih mudah baginya untuk menyebarkan energi positif ke seisi rumah.

dsc_5981.jpg