Empat Kriteria Mainan Anak Yang Aman Rekomendasi Psikolog

Sebagai orangtua rasanya kita tidak bisa lepas dari yang namanya mainan anak. Coba cek ruang bermain di rumah, deh. Ada mainan anak yang memang kita belikan, ada pula yang merupakan pemberian atau kado. Dari sekian banyak mainan yang ada di rumah, seberapa besar concern kita terhadap keamanannya? Mengingat mainan ini menemani keseharian anak, bahkan untuk bayi seringkali mainan ini masuk ke dalam mulut. Juga dari segi edukasi, apakah mainan yang kita berikan sudah layak?

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo menerangkan bagaimana sebetulnya bermain dengan aman itu, dalam talk show yang diadakan oleh Fisher Price Indonesia bekerja sama dengan Kidz Station. Dalam acara yang diselenggarakan di Kidz Station Senayan City Kamis lalu (10/05) ini, mbak Vera menerangkan, sampai dengan usia 5 tahun, mainan itu boleh diberikan serta merta untuk stimulasi perkembangan anak. Sedangkan untuk umur 5 tahun ke atas, mainan itu ‘dalam rangka’, artinya sebagai reward atas hal baik tertentu yang ia lakukan. Atau, anak harus menabung dulu untuk memperolehnya.

 

Mau beli, mau dapat hadiah, jangan lupa pertimbangkan, apakah mainan ini memang baik untuk anak? Nah, menurut mab Vera, mainan yang dipilih untuk anak harus memenuhi kriteria berikut ini:

Continue reading

Advertisements

Sadanis, Deteksi ‘Sederhana’ Kanker Payudara oleh Nakes

Seperti pernah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya, bulan Oktober ditetapkan oleh WHO sebagai Breast Cancer Awareness Month. Sejumlah institusi mengadakan kegiatan berkaitan dengan kepedulian terhadap kanker payudara ini. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pun tak ketinggalan menggelar deteksi dini gratis terhadap kanker payudara maupun kanker leher rahim dengan metode yang cenderung lebih sederhana dan cepat diketahui hasilnya. Seperti biasa, selagi memungkinkan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan.

Dari beberapa poster berhias balon pink cantik (dibentuk menyerupai pink ribbon yang menjadi lambang kepedulian terhadap kanker payudara) yang terpasang di RSCM Kencana, saya mengetahui bahwa setiap tahun ditemukan tujuh juta penderita kanker payudara di dunia, dan lima juta meninggal tiap tahun. Di Indonesia, kanker payudara merupakan peringkat pertama, diikuti kanker leher rahim. Seringkali kanker tersebut ditemukan telah berada pada stadium lanjut, sehingga sudah agak terlambat pula untuk ditangani. Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan cerita dari para survivor atau penyintas kanker payudara. Kedua narasumber dalam acara yang saya ikuti tersebut sepakat bahwa deteksi dini amatlah penting, agar jika terdapat masalah bisa ditangani sesegera mungkin.

Baca juga: Peduli Kanker Payudara Lewat Deteksi Dini

Continue reading

Rekomendasi Menyiasati Lima Fase Pernikahan dari Ustadz Cahyadi Takariawan

Siang ini saya mengikuti Kajian Wonderful Family, atau bisa juga disebut sebagai bedah bukunya, oleh sang penulis yaitu Ustadz Cahyadi Takariawan di Masjid Al Amanah. Selama ini saya hanya menjadi penikmat buku yang beliau tulis, salah satu buku Pak Cah, begitu beliau biasa disapa, menjadi buku pertama yang saya dan suami tamatkan bersama saat menapaki awal rumah tangga. Juga belakangan status dan tulisan beliau di media sosial maupun blog, yang memang banyak berfokus pada kehidupan rumah tangga khususnya relasi suami istri. Baru kali ini saya bisa menyimak uraian dari beliau secara langsung.


Menurut Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan marriage and relationship educator & coach sebagaimana dikutip oleh Pak Cah, pada umumnya pasangan suami istri akan menapaki lima tahap dalam berumah tangga. Yang membedakan adalah berapa lama masing-masing menjalaninya. Tahap-tahap tersebut adalah:

1. Fase romantic love, bulan madu dengan suasana serbaindah dan menyenangkan. Kekurangan pasangan mudah sekali dimaklumi dan diterima, seolah tidak ada cacat. Suasana sedemikian happy sehingga di fase ini dunia seolah milik berdua, ke mana-mana maunya berdua. Lebih banyak diekspresikan secara fisik. Sisi negatifnya, fase yang ini ada titik akhirnya. Tidak ada keluarga yang bisa menjalani fase romantic love ini selama-lamanya. Umumnya fase romantic love hanya berlangsung selama 3-5 tahun. Adanya potensi akhir fase ini seringkali tidak disadari oleh pengantin baru, sehingga tidak siap dalam menghadapi benturan di tahap selanjutnya. Situasi romantic love ini juga termasuk keromantisan sebelum menikah, jadi ketika pacarannya lama maka lazimnya fase romantic love setelah pernikahan akan semakin singkat. Bila bisa dioptimalkan, sebetulnya masa romantic love bisa dijadikan landasan agar lebih siap menyongsong fase berikutnya.

Continue reading

Dengan Seulas Senyuman

Apakah kau masih di sana, Sayang? Aku tahu, kala itu kau masih terlampau mungil untuk memberikan tanggapan. Ruhmu bahkan belum lagi ditiupkan. Anggota tubuhmu barangkali juga belumlah lengkap diciptakan. Tak sempat kami ketahui apakah jantungmu sudah sempat menunjukkan denyut kehidupan. Tapi, tak salah kan, jika dalam menanti kehadiranmu kami mulai menyusun aneka persiapan? Merangkaikan sederet nama indah untuk kelak disematkan, membeli seperangkat baju untuk dipakaikan, memesan kain gendongan, mencermati cara pemberian ASI agar hakmu tertunaikan, menumpuk buku-buku cerita berhikmah untuk nantinya dibacakan, meminta doa keselamatan dari mereka yang berkenan khususnya yang dituakan, mengoleksi alat-alat edukatif berupa mainan, mendatangi ahlinya untuk mendapatkan saran kesehatan, menyusun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritismu yang kira-kira bakal dilontarkan, sambil menunggu engkau benar-benar datang. Tak kami hiraukan mitos yang menyebutnya sebagai pantangan. Sebab kami ingin segalanya dalam keadaan baik tatkala kau dihadirkan. 

Apakah kau masih di sana, Sayang? Agustus itu, tujuh tahun silam, begitu muram oleh hujan seharian. Waktu yang kita habiskan bersama untuk berjuang sejak kontraksi hebat itu menyapa sudah mendekati 24 jam, dan pada penghujung hari kita pasrahkan keadaan. Tirai malam yang ditutupkan seolah sekaligus menjadi ucapan salam perpisahan. Entah di hati atau di rahimku ngilu itu lebih kuat kurasakan. Sakitnya cuma mampu tersamarkan oleh ayat-ayat-Nya yang ayahmu lantunkan. Di meja operasi, hanya asma Allah yang sanggup kusebut di sela jerit tertahan, melawan pengaruh bius yang tak sepenuhnya mempan. Ada sesuatu yang hilang, lenyap di tengah deraan rasa sakit dan tangisan. Lantas ketika semuanya usai, rasanya bak disentakkan. Tak sanggup kusebut sanubari atau badan ini yang lebih hampa dan kosong akibat ditinggalkan oleh serpihan kenangan. Karena kau sempat mengisi tubuhku dengan kehangatan, memenuhi pikiranku dan ayahmu dengan keceriaan, juga menghiasi tiap doa yang terpanjatkan pagi siang dan malam.

Continue reading