Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 4

Belum sempat saya siap-siap, kemarin (4/12) Fahira sudah nodong minta didongengi. Malah, permintaannya spesifik, yaitu agar saya mengulangi cerita mainan yang tidak dibereskan hingga bikin tersandung. Ya sudah, saya turuti saja. Fahira pun menurut ketika saya minta ia ikut berperan. 

Suatu hari, tikus bermain-main. Ia suka berpura-pura sedang berjualan, jadi yang ia ‘gelar’ pun banyak, dari dedaunan, ranting kering, sampai batu dan buah-buahan betulan. Main sendiri pun asyik, kok. Tapi rupanya apa yang dia lakukan mengundang kecelakaan. Gajah yang sedang mengantuk tersandung bebatuan yang disusun oleh tikus, dan terluka. Saya menambahkan detil yang dua hari yang lalu tidak ada, yaitu memberikan pertolongan pertama mulai dari membersihkan luka hingga mengobati. Setelah tenang, baru dialog minta maaf dan saran agar hati-hati, tanpa terkesan menyalahkan.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Advertisements

Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 3

Bu Elly Risman sering mengingatkan bahwa memberikan nasihat saja belum cukup untuk membekali anak-anak. Agar lebih mantap tertanam, orangtua bisa melakukan hal lain seperti memberi contoh secara konsisten. Selain itu, bisa juga lewat bermain peran dengan skenario yang mendekati aslinya. 

Kemarin (3/12) saya ingin menyelipkan pesan seputar perlunya waspada di tempat umum. Dengan tangan, saya membentuk tokoh kelinci dan ular. Kelinci ceritanya sedang main agak jauh dari rumah. Karena asyik main, ia baru sadar jika perutnya lapar. Ketika kelinci sedang mengelus-elus perutnya, ia dikejutkan oleh munculnya ular. Bukan 2F namanya kalau tidak bikin jalan cerita sempat belok dulu. Mereka dengan semangat justru mengajukan tokoh ular dengan tangan masing-masing, langsung berakting dengan suara yang dibuat-buat menyeramkan. Maka si kelinci juga jadi sempat langsung kabur melihat begitu banyak ular.

Ketika kami sudah puas tertawa dengan improvisasi dadakan itu, baru deh lanjut lagi. Ular menawarkan makanan untuk kelinci, dan kelinci yang lapar hampir menerima tawaran itu. Namun kelinci tiba-tiba ingat pesan ibunya untuk berhati-hati terhadap tawaran orang yang tak dikenal. Ia memilih menolak dan segera melarikan diri.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 2

Masih belum kunjung menemukan semesta baru yang lebih khusus, lagi-lagi saya memakai latar sehari-hari untuk dongeng kemarin (2/12). Ceritanya tentang tikus (boneka yang lagi jadi favorit yang ini, soalnya) yang bermain di tengah jalan. Bukan jalan permukiman memang, lebih ke jalan setapak di padang rumput. Nah, karena mainannya berserakan di tengah jalan, kelinci yang lewat tersandung mainan itu. Kelinci jatuh dan ternyata luka. Di sini Fahira kembali sibuk menyarankan pertolongan pertama, sedangkan Fathia lebih memilih menunggu dulu jalan cerita berlangsung, baru berkomentar.

Untuk dongeng sebagai respon, saya memanfaatkan gambar yang Fathia bawa pulang dari sekolah. Gambar itu menjelaskan tentang bagian-bagian pohon sesuai tema bulan lalu, tetapi juga dilengkapi dengan ilustrasi lain seperti matahari. Saya bercerita tentang bunga dan matahari yang saling mendambakan bertukar posisi. Bunga cantik dan punya banyak teman, sedangkan matahari tampak menakjubkan dengan banyak manfaat. Dari situ kami menggali lagi tentang keunikan masing-masing diri dan bagaimana mensyukuri peran masing-masing.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Tantangan Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP (Grab Your Imagination) – Hari 1

Tantangan kali ini gampang-gampang susah. Saya mengaku suka menulis, termasuk fiksi, walaupun belakangan ini jarang menulis fiksi. Kalau cerita ke anak-anak pun, lebih sering saya mengandalkan baca buku. Bukan kenapa-kenapa…takut salaaah. Apalagi kalau sudah soal pesan moral, sejarah dst-nya. Pakai buku aja disaring dulu kok, padahal sebelum diterbitkan (kebanyakan, harusnya) sudah melalui proses editing dan pertimbangan penerbit, kan?

Aslinya sih sudah mulai tancap gas praktik mendongeng begitu materi diberikan, alhamdulillah anak-anak kok ya betah melek walaupun saya hari-hari itu sedang lembur melulu. Tapi ya selesai mendongeng, saya ikutan tidur :D, boro-boro mau setor laporan tantangan. Ya sudah, lewat deh beberapa hari tantangan. Semoga bisa konsisten untuk belasan hari ke depan. 

Kemarin (1/12), saya mendongeng dengan tujuan anak-anak ingat untuk minta izin atau laporan dulu ke orangtua kalau hendak bepergian. Tokohnya sih boneka-boneka yang ada di rumah saja, kali ini boneka tikus dan ayam. Mereka pulang sekolah bersama, lalu ayam tertarik main ke rumah tikus karena tikus punya mainan baru. Ternyata ayam betah main di rumah tikus sampai lupa waktu. Ibu tikus muncul, lalu mengabarkan bahwa ibu ayam mencari-cari anaknya yang belum pulang-pulang. Ayam pun sadar kalau dia sudah membuat ibunya khawatir. 

Singkat, tapi kenyataannya tidak sebentar juga waktu yang diperlukan. Apalagi ada Fahira yang suka tiba-tiba nyeletuk mengomentari jalan cerita atau justru bertanya, lalu kakaknya protes kenapa ceritanya diinterupsi, dan ini bisa berulang kali terjadi. Asyik sih, ceritanya jadi interaktif gitu, hahaha. Kadang saya juga sengaja memancing anak-anak ikut berpartisipasi, misalnya menebak jalan cerita atau memberi usul tindakan si tokoh.

Untuk tantangan mendongeng berdasarkan pertanyaan atau cerita anak, saya mengeksplorasi cerita Fathia tentang temannya yang biasa membeli bekal makanan ringan di warung depan rumah. Lewat tokoh harimau, kami berdiskusi soal plus minus jajanan yang tersedia di sekitar. Bukan nggak boleh jajan kok, hanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Sepertinya cerita di atas juga masih kurang imajinatif, ya. Kenapa juga harus pakai tokoh binatang, gitu, padahal kan bisa tokohnya anak-anak ‘biasa’. Tapi berhubung sepertinya tokoh binatang lebih menarik bagi anak-anak, jadi ya anggap saja termasuk dongeng ya, karena hewannya jadi berlaku layaknya manusia, kan fiksi jadinya… Memang lebih pasnya kalau pakai ‘universe’ sendiri ya, seperti waktu itu kang Adhitya Mulya pernah berbagi di sesi #TUMNgopiCantik, yang belum kunjung kelar draft blognya saya rapikan T_T. Mumpung ini temanya pas, mau diberesin, ah.
#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Langkah Muslimah Sikapi Dunia Maya, Jangan Sampai Terlena

Internet menawarkan berjuta kemudahan, tetapi juga punya potensi mengerikan. Setiap orang bisa memanfaatkan informasi yang beredar di internet untuk menuntut ilmu kebaikan. Kajian agama bisa disimak tanpa harus meninggalkan rumah, baik berupa artikel yang ditulis langsung oleh beliau-beliau yang mumpuni ilmu agamanya maupun resume yang disusun oleh para peserta kajian. Bahkan kalau lebih sreg mendengarkan atau menyaksikan langsung untuk mengurangi kemungkinan distorsi informasi atau luputnya pencatatan, video ceramah juga banyak beredar. Namun, video tutorial yang mengajarkan kecurangan atau video yang punya konten cenderung asusila juga tak kalah gampang ditemukan.

Dunia maya juga identik dengan cepatnya penyampaian pesan maupun persebaran informasi. Kita mungkin terbantu dengan adanya fasilitas panggilan video yang mempermudah komunikasi dengan keluarga, sanak saudara, kolega, maupun teman yang jauh. Informasi apa pun yang ingin kita peroleh, tinggal kita ketikkan saja kata kuncinya di mesin pencari. Lagi-lagi, manfaat ini juga rentan diikuti dengan mudarat. Berita yang belum tentu kebenarannya juga bisa saja beredar dengan cepat.

Continue reading

Materi dan Cemilan Rabu Level 10 Kelas Bunda Sayang IIP: Membangun Karakter Anak lewat Dongeng

Sejak awal cawu ini, materi Kelas Bunda Sayang diberikan lebih banyak dalam bentuk gambar. Fasilitator akan memancing dan memandu diskusi aktif para peserta. Materi Level 10 ini menarik karena secara spesifik mengangkat judul Membangun Karakter Anak lewat Dongeng.

Salah satu tantangan yang langsung dilemparkan setelah gambar dengan judul tantangan dikirimkan adalah mengalirkan rasa setelah melihat gambar seperti di bawah ini:

Continue reading

Mengulik Fitrah Jasmani bersama dr. Piprim

Kemarin (26/11), saya ikut menyimak materi dalam kajian bulanan Majelis Dhuha Keluarga. Kami belum bisa rutin memang ikutan kajian yang tiap bulannya berfokus pada aspek yang berbeda-beda ini, padahal selalu ada ilmu baru yang bisa diserap dan diterapkan pada keluarga. Kali ini yang diangkat adalah Fitrah Jasmani, dengan narasumber dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A.(K), dokter spesialis jantung anak yang juga Ketua Bidang Organisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pusat dan pendiri Rumah Vaksinasi. Beliau cukup terkenal juga aktif mengedukasi tentang kesehatan di dunia maya.

Disampaikan oleh dr. Piprim, yang membedakan anak dengan orang dewasa adalah adanya konsep pertumbuhan dan perkembangan. Tumbuh adalah bertambah besarnya ukuran atau bertambahnya jumlah sel-sel tubuh, sedangkan berkembang adalah peningkatan kualitatif dari sel-sel tubuh itu.

 

Materi yang disampaikan oleh dr. Piprim banyak yang dinukil dari Buku Membumikan Harapan: Keluarga Islam Idaman tulisan Syaikh Abu Al Hamid Rabee’, ditambah dengan berbagi pengalaman beliau sebagai suami, ayah, maupun dokter anak. Seperti disebutkan oleh dr. Piprim, dalam konsep tumbuh kembang anak dikenal konsep asuh, asih, asah (stimulasi) agar tumbuh kembangnya optimal. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Continue reading