Sisi Lain: Yakin Mau Kekepin Anak?

Dulu saya pernah mengutip tulisan Busar alias mba Sarra Risman sbb:

Anak-anak saya layaknya tango yang belum tertutup rapat. Jika dilempar ke luar rumah akan terkontaminasi dengan ‘kuman dan kotoran’ yang kemungkinan ada dan bertabur di luar sana. Dan seperti wafernya, kalau sudah kena kuman, bagaimana membersihkannya? Saya memilih untuk memastikan tango saya terbungkus rapi dulu, karena kalau sudah lewat proses ‘quality control’, mau terlempar ke got pun, isinya tidak terkontaminasi.

Jadi, harus dikekep di rumah? Di mana-mana, proses pembungkusan ya di pabrik yang tertutup laaah. Dengan pekerja yang pakai sarung tangan, masker muka, tutup kepala, mesin yang canggih dan mahal, dan yang mau ‘wisata ke pabrik’ harus by appointment, mengikuti rules pabrik yang ada, gak bisa sembarang masuk saja. Ada dress code dan limited access di sana. Dan tidak setiap proses bisa dilihat oleh semua.

Selengkapnya, sekaligus untuk melihat konteks dan efek dari penerapan prinsip tersebut, bisa dilihat di postingan saya yang ini: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak? Tapi secara keseluruhan sih, busar termasuk yang menganggap bahwa ‘ngekepin’ alias memproteksi anak itu penting, daripada dapat pengaruh buruk dari luar.

Nah, belakangan saya membaca sejumlah tulisan dari para pakar parenting yang lain. Beliau-beliau ini justru mengingatkan prinsip yang berbeda. Selengkapnya sebagaimana saya kutip di bawah ini:

Continue reading

Advertisements

Ustadz Fauzil Adhim: Meluangkan Waktu Beda dengan Menyisakan Waktu

Sejak sebelum saya menikah, saya suka membaca buku-buku parenting karya Ustadz Fauzil Adhim. Menurut saya, uraian beliau enak dibaca, banyak sudut pandang tentang peran orangtua yang tergolong amat maju untuk masa itu, kala belum terlalu banyak tokoh parenting yang beredar di media sosial. Salah satu tulisan beliau di majalah yang mengangkat kebiasaan menonton televisi juga sempat saya kutip di postingan tentang disimpannya TV di rumah kami.

Setelah sekian kali tahu info kajian Ustadz Fauzil Adhim tetapi tidak kesampaian mengikuti, akhirnya kami bisa menyimak langsung penjelasan beliau di Islamic Center Jakarta Utara, 5 Mei lalu. Sebetulnya ada dua pembicara sih dalam acara bertajuk Mempersiapkan Orang Tua di Era Digital dalam Mendidik Anak Zaman Now ini, tetapi kali ini catatan saya fokuskan pada sesi Ustadz Fauzil.

 

Mendidik anak zaman old dengan zaman now, sama atau berbeda? Menurut Ustadz Fauzil, mungkin ada yang berbeda, tetapi secara mendasar sebetulnya banyak hal yang sama. Sarananya memang yang banyak berubah.

Satu hal yang perlu dipegang, kata Ustadz Fauzil, jangan pernah bilang ke anak bahwa gadget itu jelek, sementara kita masih menggunakan, bahkan mungkin punya banyak. Lalu, sesuatu yang baik juga belum tentu baik untuk dipakai kapan saja. Jangan sampai kita mengingatkan anak misalnya, “Nggak boleh, masih kecil.” Sebab nanti kalau sudah besar apakah berarti boleh main gadget tak kenal waktu? Nanti lama-lama beranggapan juga bahwa melihat video porno itu boleh, asal sudah dewasa. Standar seperti ini harus jelas, disampaikan kepada anak dengan jelas dan dialogis.

Selambat-lambatnya usia 7 tahun, anak sudah harus mumayyiz, mampu membedakan benar salah dan baik buruk dengan akalnya. Secara fisik, mumayyiz ditandai dengan kemampuan istinja’ atau bersih-bersih dengan sempurna setelah berhajat. Pada level ini, anak seharusnya sudah bisa menggunakan akalnya untuk membedakan baik buruk, mana bermanfaat mana berbahaya, juga mengatur prioritas mana yang penting dan kurang penting. Menjadi tugas orangtua untuk mendampingi anak-anaknya agar mereka sebisa mungkin mencapai mumayyiz pada usia 6 atau 7 tahun.

Continue reading

Masjid Ramah Anak atau Ramah Ibadah?

Ramadhan dua tahun yang lalu saya pernah menulis kesukaan Fathia ikut ke masjid. Di situ saya sekilas menyebutkan tulisan Ustadz Bendri Jaisyurrahman tentang Masjid Ramah Anak. Selengkapnya bisa dibaca di sini: Masjid Ramah Anak di Lingkungan Kami. Tulisan tersebut memang bagus untuk meningkatkan kesadaran dan semangat untuk membuat anak-anak nyaman berada di masjid, yang pada akhirnya diharapkan membuat hati anak-anak terpaut pada masjid sejak dini. Nantinya, semoga mereka juga tergerak memakmurkan masjid, mengikuti bahkan mengadakan kegiatan-kegiatan yang kian menumbuhkan kecintaan kerhadap Islam.

Kemarin, di salah satu grup yang saya ikuti, ada yang meneruskan tulisan Abah Ihsan mengenai hal serupa. Tulisan Abah Ihsan jauh lebih panjang dan menyeluruh, karena juga menyoroti bahwa jangan sampai kenyamanan anak membuat masjid justru menjadi kurang nyaman bagi jamaah dewasa. Tentu bukan berarti serta merta anak yang harus ‘diusir’. Ada solusi yang bisa dikerjakan bersama-sama agar semua bisa sama-sama nyaman. Berikut selengkapnya:

Masjid Ramah Anak atau Ramah Ibadah?

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari @abahihsan
Direktur Auladi Parenting School
Penggagas Program 1821 Kumpul Keluarga

Apakah boleh mengajak anak ke masjid meski mereka belum wajib sholat? Apakah harus didampingi orangtua? Bagaimana pula jika anak ribut di masjid? Bolehkah anak-anak bermain di masjid?

Bagaimana jika ada orang dewasa yang tidak membawa anak lalu tengah khusyu’ ibadah merasa terganggu dengan anak yang ribut di masjid? Apakah orang dewasa yang harus bersabar dan menyesuaikan diri atau anak yang dikondisikan untuk tidak ribut? Haruskah dibiarkan atau sebaiknya diusir dari masjid?

(Peringatan: tulisan ini panjang, agar difahami secara utuh, tidak sepotong-sepotong. Membaca sebagian tulisan ini, akan berakibat tidak baik untuk pencernaan pikiran Anda.)

Continue reading

Sudah Paham Bakat Diri? Saatnya Memandu Bakat Ananda

Dua tahun belakangan ini saya banyak membaca materi terkait fitrah, bakat, dan peran peradaban sesuai dengan bakat kita masing-masing. Ada sejumlah pakar, praktisi, maupun pemerhati yang saya ikuti sesi berbaginya baik secara langsung (seminar offline) maupun melalui webinar dan kulwap, seperti Abah Rama Royani, ustadz Harry Santosa, mas Muhammad Firman, teh Elma Fitria, maupun mbak Andita A. Aryoko. Masih belum paham sepenuhnya, makanya kalau ada kulwap atau sejenisnya yang mengupas hal ini, saya tertarik untuk mengikuti.

Pagi ini saya kembali mengikuti kulwap mbak Andita, kali ini dengan tema Memandu Bakat Ananda. Sebelumnya, sudah ada kulwap Memahami Bakat Diri. Tema ini memang merupakan satu rangkaian pengiring dirilisnya buku Memahami (bakat) Diri Dahulu, Memandu (bakat) Anak Kemudian (MDDMAK) karya mbak Andita, yang resminya akan terbit pada bulan depan.

Berikut materi selengkapnya:

Upaya menemukan peran spesifik peradaban bagi diri kita sendiri saja bisa sangat menguras energi, pikiran, serta waktu. Kita tidak pernah tahu kapan misi hidup tersebut kita temukan. Akan tetapi, selama perjalanan memahami bakat diri dalam upaya tersebut, tentu saja kewajiban sebagai orang tua menjadi hal yang tidak boleh terabaikan.

Memandu Bakat Ananda tidak pernah menjadi kompetensi di sekolah pada umumnya. Padahal, tiap anak spesial dengan keunikannya masing-masing. Maka, peran membersamai ananda hingga bertemu bakatnya sebagai langkah menemukan peran spesifik peradaban ini kembali pada tugas orang tua yang tidak bisa diwakilkan kepada sekolah sekalipun.

Percayalah bahwa raise your child, raise yourselves. Keduanya harus jalan berimbang dengan upaya yang sama-sama maksimal, bukan?

Continue reading

Enaknya PAUD Dulu atau Langsung TK, ya?

Di awal triwulan kedua 2018 kemarin, pertanyaan seperti di atas mulai berseliweran di grup-grup yang saya ikuti. Mau PAUD dulu atau masuk TK sekalian saja, ya? Maklum, banyak sekolah yang sudah membuka pendaftaran bahkan sejak awal tahun. Jadi keputusan juga dianggap perlu diambil dengan segera, mengingat ada risiko kehabisan kuota di sekolah incaran.

Nah, sebetulnya sebelum mempertimbangkan kapan hendak mulai menyekolahkan anak dan di tingkatan apa, ada baiknya kita kupas terlebih dahulu tentang istilah PAUD itu sendiri. Banyak yang masih salah kaprah mengartikan PAUD sebagai jenjang pendidikan sekolah di luar rumah sebelum Taman Kanak-kanak (TK). Sebetulnya, makna dari PAUD itu sendiri lebih luas, lho.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mendefinisikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Continue reading

Segera: Ramadhan Seru bersama Hamzah dan Syifa!

Belum juga sempat menyusun strategi promosi yang lebih terarah untuk buku Pulang, tiba-tiba mba Agris, kapten Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Jakarta, sudah mengajak untuk ‘berlari’ lagi. Tetap nggak jauh-jauh dari membuat buku tentunya, sesuai nama rumah belajar kami (di Ibu Profesional tiap wilayah ada berbagai rumbel, tergantung minat dan keaktifan anggotanya). Namun, kali ini temanya jauh berbeda.

Buku Pulang, karya perdana Rumbel Menulis yang terbit Februari lalu merupakan antologi cerita pendek dengan benang merah sesuai judulnya, alias bertemakan ‘pulang’. Sedangkan yang hendak digarap kali ini adalah buku aktivitas anak. Wah, ini jenis buku anak yang sangat saya sukai sebenarnya. Saya selalu kagum dan penasaran, kok ada aja ya idenya orang bikin kids activity book begitu.

Alhamdulillah Allah swt berikan kesempatan sehingga saya bisa bergabung dalam tim editor RB Menulis untuk proyek ini, sebagaimana sebelumnya untuk buku Pulang. Tantangannya berbeda sih memang. Untuk antologi Pulang yang diedit adalah sejumlah cerpen, sedangkan untuk buku aktivitas Ramadhan yang awalnya diberi sebutan Jurnal Ramadhan Anak ini kontennya lebih beragam. Isinya ada:

* Aktivitas Ramadhan untuk menemani hari-hari si kecil seperti TTS tentang Rukun Iman, menelusuri maze, menempel stiker, ular tangga, juga membuat prakarya (do-it-yourself/DIY),

* Kisah Penuh Hikmah yang berisi cerita mini (cermin) dengan nilai-nilai Islami,

* Pojok Fakta “Kini Aku Tahu” dan Pengetahuan Dasar Islam yang menambah ilmu serta bisa dimanfaatkan untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai materi terkait. Bisa buat bahan obrolan dengan anak-anak, nih, atau mungkin juga ada pengetahuan baru untuk ortu,

* Tabel Ibadah Ramadhan untuk memantau dan menyemangati anak beribadah. Yang ini ada miripnya ya dengan buku kegiatan zaman sekolah dulu, hehehe.

Continue reading

Tentang Ego dan Hak Milik Anak

Salah satu hal yang masih menjadi PR di keluarga kami adalah soal rebutan, biasanya sih rebutan bacaan atau mainan. Apalagi sesama anak perempuan, kemungkinan baper lebih besar. Tidak mungkin juga kan selalu membelikan dua barang sekaligus hanya agar tidak rebutan? Namun ternyata mempertahankan hak milik, yang kadang menjadi awal mula rebutan, ada manfaatnya, lho. Misalnya, anak jadi belajar batas-batas. Ini punyaku, ini punya dia. Ada hak milik orang lain juga yang harus dihargai, sebagaimana ia boleh mempertahankan miliknya. Tentu ada batasannya, ya. Berikut saya kutipkan penjelasan dari Ustadz Harry Santosa (Fitrah Based Education):

Usia di bawah 7 tahun adalah masa penguatan konsepsi semua aspek fitrah yang Allah karuniakan. Pada fase ini anak-anak sedang puncaknya imajinasi dan abstraksi sementara fitrah mereka sedang tumbuh merekah indah, sehingga perlu full cinta dan full imajinasi, di samping kehati-hatian jangan sampai fitrah ini cidera.

Pada usia ini ego sentris anak juga sedang puncaknya, sehingga akan nampak seolah tidak berakhlak, misalnya tidak mau berbagi, susah mengalah, dstnya. Ego sentris ini hal yang wajar dan harus terpuaskan, jika tidak akan menyebabkan luka ego, kelak di atas 7 tahun jadi anak yang kurang pede, susah mengambil keputusan, gampang di-bully dll atau malah egonya liar menjadi sangat kasar dan suka mem-bully dll.

Intinya, tidak memaksa “on the spot” jika sedang tidak mau berbagi. Dipaksa juga percuma, walaupun akhirnya mau berbagi karena dia malah kemungkinan besar kelak membenci berbagi.

Bukan berarti tidak mengajarkan berbagi, namun tidak memaksa jika sedang tidak mau.
Nanti ketika ego sentrisnya mereda, bacakan kisah indahnya berbagi, atau ajak anak ke pasar membeli hadiah dan makanan lalu pergi ke rumah anak anak yatim untuk berbagi dan makan bersama. Nah, ini jauh lebih berkesan mendalam di jiwa anak daripada memaksanya berbagi. Jangan shortcut atau tergesa ingin anak segera sholeh tanpa memahami tahapan perkembangan fitrahnya karena malah akan melukai fitrahnya.

Sumber: https://ghinaummulathifah.wordpress.com/2017/10/18/tanya-jawab-kulwap-ustadz-harry-santosa/

Continue reading