Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab, PR bagi Orangtua

Sabtu lalu (2 April 2016) kami sekeluarga berkesempatan datang ke seminar yang diadakan oleh The Urban Mama di Kuningan City. Tema besarnya adalah “Raising Children Who Think for Themselves”. Alhamdulillah nambah wawasan lagi. Sebenarnya ini bukan pertama kali kami mengikuti acara di mana Bu Elly menjadi salah satu pembicara, tapi justru karena itu kami ingin menimba ilmu lebih banyak lagi. Ditambah lagi, saya juga belakangan ini sering mencermati tulisan kang Adhitya Mulya terkait parenting baik dalam blognya maupun ketika diangkat dalam bentuk buku (nonfiksi terbarunya berjudul Parent’s Stories).

Berikut resumenya ya…

Sesi pertama #TUMModernMama bersama Adhitya Mulya, tema “Helicopter Parenting.

IMG_20160402_085620

Helicopter parenting: orangtua hadir terlalu dominan dalam kehidupan anaknya, dan ini bisa berbahaya bagi perkembangan anak.

Bekali anak-anak dengan rules/peraturan sebelum ‘dilepas’ main di playground misalnya, daripada terus-menerus diawasi. Yang sering kita lakukan: anak menemukan masalah/konflik, orangtua menyelesaikan, masalah selesai.

Anak perlu dipersiapkan untuk punya life skills, bukan sekadar kita siapkan semua kebutuhannya. Investasilah untuk membantunya semakin terampil.
Anak juga perlu belajar menghadapi kekalahan dan kesedihan. Jangan sampai anak merasa dirinya selalu benar, hingga ‘menyalahkan dunia’ atas apa yang ia dapatkan. Bahkan sampai di dunia kerja ketika harus berhadapan dengan ketidaknyamanan terkait atasan atau kolega.

Ajari anak menyelesaikan masalah yang ia hadapi (tidak langsung turun tangan/helicopter parenting). Tapi jika sudah terkait kekerasan, kriminal, orangtua waras pastilah perlu turun tangan (bukan helicopter parenting lagi namanya, tapi waras parenting).

Anak butuh konsistensi dalam pengajaran, jadi jika menggunakan jasa ART kita juga perlu ‘invest‘ agar bisa seiring sejalan.

Parents know best? Do we? Really?
Pemahaman terkait values dan akhlak umumnya abadi, nilai-nilai tersebut akan terus terpakai dari dulu hingga sekarang. Untuk hal ini orangtua boleh dominan karena ada faktor pengalaman juga. Namun, ada pula yang kita mungkin tak dapat ikuti, misalnya future challenges terkait bidang pekerjaan. 40% (jenis) pekerjaan yang ada saat ini belum ada 30 tahun yang lalu. Di sinilah kita perlu mempersiapkan anak, bukan menjejalinya dengan doktrin harus kerja ini atau itu.

Terimalah bahwa anak kita tidak sempurna. Dan…kita sebagai orangtua juga tidak sempurna. Kalau ada ‘sesuatu’ yang terjadi, kita perlu evaluasi. Mungkin, memang gaya parenting kita yang kurang pas, ada keterampilan parenting yang harus kita perbaiki.

Sesi kedua #TUMModernMama dengan Bunda Elly Risman, “Kiat Membantu Anak Mandiri”.

Yang hilang yang paling esensial dalam pengasuhan sekarang adalah dialog, mendialogkan dengan anak. Karena kini kita serba tergesa-gesa bahkan menggesa-gesakan diri. Yang juga hilang adalah common sense.

Masalah kemandirian anak: meletakkan barang tidak pada tempatnya, pengaturan waktu antara main, belajar, ibadah, belum mengerjakan tugas rumah…. Ini ada di kuesioner yang dibagikan sebelum sesi kedua dimulai, judulnya masalah, tapi sebetulnya ini tantangan (see…secara common sense kita begitu terburu-buru, padahal usia anak pengisi kuesioner kebanyakan 1-3 tahun).

Mandiri: dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Dapat memecahkan masalah sendiri.

IMG_20160402_102512

Karakteristik seorang yang mandiri:
+ Sikap mental baik: mempunyai inisiatif, memiliki keberanian, percaya diri, memiliki rasa tanggung jawab.
+ Menikmati proses, ulet, berani bersaing, yakin bahwa dia mampu menemukan cara tertentu untuk mencapai tujuan, merasa puas atas upayanya.

Kemandirian: need of autonomy (ada kebutuhan dalam dirinya sendiri) dan harus sesuai dengan tugas perkembangan.

Anak harus belajar berlatih:
– Menolong diri sendiri
– Memilih kemungkinan/alternatif
– Membuat keputusan
– Bertindak sesuai kebutuhannya secara mandiri
– Bertanggung jawab terhadap tindakan tersebut.

Gaya pengasuhan: otoriter vs membolehkan vs otoritatif.
Gaya helikopter: terlalu melindungi, selalu turun tangan membantu, ortu tidak tegaan.
Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan oleh orangtua.

Orangtua harus punya writing skill yang baik. Lazy mind yang sudah terbentuk di masyarakat (jadi permisif, terlalu toleran, kontrol sosial tidak berjalan) juga perlu dibenahi. Salah satu dampak lazy mind ini: korupsi di berbagai bidang.

Mengapa anak kita perlu mandiri?
a. Perubahan sangat cepat yang terjadi di masyarakat karena teknologi (Hi-Tech mengharuskan anak mampu melakukan penyesuaian diri terus menerus. Tidak cukup hanya patuh. Anak perlu memiliki karakter utama untuk mengarahkannya pada perilaku mandiri dan bertanggung jawab).
b. Masyarakat lebih beragam (demokrasi dan reformasi masuk rumah, anak2 minta diberlakukan dengan respek, masyarakat semakin terbuka terhadap suku dan bangsa lain, mulai beragam dan berubah).
c. Nasional–>internasional lingkungan semakin berbahaya
d. Perubahan besar dalam keluarga.
Perubahan dalam sistem keluarga:
– Keluarga besar menjadi keluarga batih.
– Ayah mencari uang dan ibu menjaga anak –> berubah total
– Anak tinggal dengan nenek/pembantu/keluarga tiri/TPA.
– Perpisahan.

Keluarga, pernikahan butuh survive. Perjanjian agung/mitsaqan ghalidza yang harus kokoh. Urusan tempat tidur perlu diperhatikan untuk keharmonisan keluarga dan rumah tangga.

Masa ibu bekerja optimal jika: sebelum melahirkan s.d. bungsu 8th.
There’s no superwoman (Sally Conway). Ada pekerjaan, anak, suami, hobi/waktu untuk diri..bagaimana membagi waktunya? Selamatkah anak-anak kita, perkawinan kita?

Anak ditinggal: kelengketan/attachment berkurang (oxytocin/hormon kasih sayang vs. cortisol/hormon kecemasan), separation & stranger anxiety, kemandirian dan tanggung jawab, wellbeing.

Nenek tidak didesain untuk mengasuh cucu: usia/fisik, hormonal, emosi, ‘mau berbekal untuk pulang’. Minta tolong boleh, tapi bukan untuk sehari-hari/jangka panjang.

Ayah tidak boleh kehilangan qowwam-nya.

Hambatan kemandirian: MEMANJAKAN.
Bangunin, setirin, memberi uang tiap saat diminta, membiarkan anak bicara kurang hormat, kontrol penggunaan media lemah, PR-nya adalah urusan mama, makan depan TV, ortu/pembantu yang berbenah, tidak punya tanggung jawab, menyelamatkannya jika bermasalah dengan perilaku buruk.

Belajar beberes, masak itu memang gampang. Tapi kalau ditunda nanti-nanti pembelajarannya, bagaimana pelajaran tanggung jawabnya? Bagaimana perjalanan prosesnya (mis. salah-salah dulu dst.)?

Anak tidak mengembangkan kualitas dasar untuk zaman modern, ortu dan anak sama-sama frustrasi. Banyak yang harus diselesaikan. Bayangkan bencana yang akan dihadapi.

Berapa price tag anak saya? (Mario Teguh)
Punya barang yang sangaaat mahal, taruhnya pasti dalam rumah.

Yang harus kita lakukan: BERUBAH.

Sasaran Tembak:
– Karakter (beriman, berakhlak mulia, berani dan bersemangat, berpikir kritis, berharga, mandiri dan bertanggung jawab, respek).
– Keterampilan (beribadah yang baik, benar dan anger management, daya juang, memecahkan masalah dan mengambil keputusan, mempertahankan diri, tidak tergantung, bekerja sama/anggota tim).

Faktor penentu kemandirian: kuncinya adalah ortu dan guru.
1. Kesadaran: anak bukan milik kita
2. Merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
3. Menentukan gaya pengasuhan
4. Dual parenting
5. Memahami prinsip-prinsip dan kiat membuat anak mandiri dan bertanggung jawab.
6. Pembiasaan
7. Evaluasi.

Tujuan pengasuhan:
1. Hamba Allah yang bertaqwa
2. Calon suami/istri yang baik
3. Calon ayah/ibu yang baik
4. Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian dalam bidang tertentu sehingga bisa mencari nafkah
5. Pendidik istri dan anak
6. Penanggung jawab keluarga
7. Bermanfaat bagi orang lain atau Pendakwah.

Mandiri sebagai kebutuhan; faktor penggerak kemandirian:
-Dorongan membuat “sesuatu terjadi”
-Keinginan semua manusia untuk merasa MAMPU/cakap dan BISA
-Menunjukkan kemampuan Berpikir, Memilih, dan Mengambil Keputusan (BMM).

8 Langkah membantu anak mandiri:
1. Sadar apa akibatnya kalau anak tidak mandiri
2. Stop memanjakan – minta maaf – jelaskan.
3. Ortu menjadi supervisor kemandirian.
Supervisor Kemandirian:
– Anak butuh mengekspresikan diri.
– Gunakan kalimat bertanya
– Rangsang anak untuk mencoba dan ingin tahu.
– Sediakan kesempatan yang sesuai dengan usia
– Berikan dalam dosis yang besar: cinta yang tulus, dukungan dan dorongan untuk eksplorasi dan mengembangkan rasa ingin tahu itu.
– Biarkan anak yang berpikir, memilih, dan membuat keputusan -BMM
– Izinkan anak mencicipi kecewa
– Ortu siap dengan JPE (jaringan pengaman emosi)
– Ajarkan life skill 
– Kenali usaha dan keberhasilannya.
4. Batasan: kesehatan, keamanan, kesejahteraan diri/jiwa
5. Kenalkan konsekuensi alami dan logis.
Perkenalkan konsekuensi alami yang terjadi secara alami bila kita melakukan sesuatu, dan konsekuensi logis apabila kita tidak ikut campur.
6. Pembiasaan (otak anak memerlukan pengulangan-pengulangan)
7. TEGA (agar anak memiliki kesempatan belajar) — konsisten
8. Evaluasi

Anak bukan milik kita:
– Anak-anakmu bukan pilihanmu, mereka menjadi anak-anakmu bukan karena keinginan mereka, tetapi karena takdir Allah (QS 28:68, QS 42:49-50)
– Karena apa yang Allah takdirkan untukmu, maka itulah amanah yang harus ditunaikan (QS 8:27-28)

Catatan, khususnya untuk para ayah:
– Terima anak apa adanya
– Hargai apa yg mereka usahakan
– Seringlah memuji perbuatannya, bukan orangnya.

Mengasuh berdua (dual parenting)
Menjadi orangtua = partnership –> spirit bekerja sama. Ayah penanggung jawab utama.
Diperlukan: niat baik karena-Nya, kejujuran, keterbukaan, harapan yang tinggi akan hubungan yang menyenangkan dan bahagia.

Bersedia mengambil risiko, berani melewati batas
Anak-anak: ingin menemukan campuran indah penglihatan, bunyi, dan kegiatan. Contoh, ini sendok kalau dilempar gimana ya…satu sendok begini kalau dua sendok gimana ya…lama-lama dilemparin semua itu sendok garpu (dan ortunya ngomel deh :p).
Remaja: ingin menemukan campuran indah perasaan, kegiatan, dan risiko.

Pernikahan harus dipelihara. Jangan selalu menjadi ayah dan ibu, harus luangkan waktu untuk menjadi suami dan istri.

Tambahan pesan dari bu Elly: Kalian boleh saja tidak setuju, saya hanya menyampaikan, kalau tidak berkenan ya ibu mohon maaf.

Di akhir sesi, peserta boleh menitipkan pertanyaan lewat selembar kertas. Beberapa yang menarik adalah:
– si balita tidak mau minta maaf dan malah ngambek: dekati. Kita juga kalau marah masih suka diem-dieman, kan?
– penanya adalah ibu tiri, pola asuh anak saat bersama ibu kandungnya di akhir pekan serba-permisif, beda dengan yang diterapkan ayah dan ibu tirinya: minta suami bicara, kalau perlu ibu-ibu ngobrol berdua, jelaskan tujuannya untuk kebaikan.
– mengatur me time: baiknya ibu punya me time minimal sekali dalam sebulan, @2 jam. Titipkan anak pada orang yang bisa dipercaya. Di sini ada cerita menarik dari MC yang mengisahkan bahwa ia dan suami tidak pernah merasa ada yang salah sampai pada suatu hari anak-anak dipegang oleh tantenya saat jalan-jalan, dan mereka berdua jalannya masing-masing. Sampai ditegur oleh saudara, itu kenapa gak digandeng atau gimana gitu? Ternyata kesibukan (suami sedang mengambil S2 double degree yang dikerjakan sepulang kantor, ada asisten RT hanya untuk cuci gosok, istri agak kewalahan dengan dua anak yang selalu minta perhatian.) dan keterbiasaan membuat pasangan berjarak…perlu dibicarakan dan perlu diambil tindakan mis. kencan berdua.
– anak terlalu ‘dewasa’/empati/mandiri misalnya dalam mengasuh adik, ortu juga khawatir: arahkan dan kembangkan.
– jika bepergian dengan anak laki-laki dan ayah tidak ikut, ke toiletnya bagaimana? Mengingat ada kasus-kasus pencabulan di toilet: ajarkan anak berseru, kalau perlu kasih tanda misal lagi cuci tangan teriaklah lagi cuci tangan. Jangan solusinya dengan ke toilet wanita agar bisa ditemani ibunya.
(Nanti ditambah lagi ya kalau ingat..di bagian ini gak nyatat, lagi gendong Fahira yang tertidur soalnya :D).

IMG_20160402_121900 IMG_20160402_115707 IMG_20160402_115240

Oh iya, goodie bag-nya cakep-cakep nih… ada Ikea Frakta lho. Dan enaknya lagi, ada playground seru dari Bambino Piccolo yang bikin anak-anak bisa asyik main sambil ortunya menyimak :).

IMG_20160402_100730 IMG_20160402_161248 IMG_20160402_161049

http://theurbanmama.com/events/tummodernmama-raising-children-who-think-for-themselves.html

Advertisements

3 thoughts on “Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab, PR bagi Orangtua

  1. Pingback: Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak di Lingkungan Rumah? | Leila's Blog

  2. Pingback: Belajar Bijak Memuji Buah Hati dari Adhitya Mulya | Leila's Blog

  3. Pingback: Imunisasi Lewat Vaksinasi, Investasi untuk Generasi Masa Depan | Leila's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s